• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Analisis data hasil tes dilakukan untuk menguji hipotesis “Peningkatan

kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran matematika dengan metode Personalized System of Instruction (PSI) lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode ekspositori”. Sebelum peneliti melakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian, terlebih dahulu akan dianalisis mengenai normalitas dan homogenitas data, baik dari kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Data yang akan dianalisis adalah hasil tes kemampuan komunikasi matematis yaitu pretest, postest, dan indeks gain.

a. Analisis Data Pretes

Peneliti menganalisis data pretes menggunakan program komputer software SPSS v20-32 bit for windows. Berikut hasil perhitungan statistik deskriptif pretest kelas eksperimen dan kontrol.

Tabel 4.1

Deskripsi Statistik Skor Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelompok Mean SMI Std.

Deviasi Minimum Maksimum Pretest Kontrol 17,36 100 6,60 0,00 30,00

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh bahwa standar deviasi kelompok kontrol adalah 6,60, rata-ratanya 17,36, dengan skor minimumnya 0,00 dan maksimum 30,00 sedangkan untuk kelompok eksperimen standar deviasi mencapai 8,65, rata-ratanya 19,5, dengan skor minimumnya 0,00 dan maksimumnya 42,00.

1.Uji Normalitas Data Pretes

Untuk menguji normalitas data pretes, digunakan uji statistik Shapiro-wilk. Dikarenakan data yang digunakan lebih dari 30 buah maka untuk uji normalitas menggunakan uji Sahpiro-wilk. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretes yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis:

Pasangan hipotesis nol dan hipotesis tandingannya adalah: H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

adalah “Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian

statistik dapat dilihat dari Tabel 4.2

Tabel 4.2

Uji Normalitas Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Test of Normality Shapiro-wilk Statistic Df Sig. Nilai_kontrol Nilai_eksperimen 0,965 0,895 42 42 0,221 0,003

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu Kriteria Pengujian:

Berdasarkan hasil pengujian statistik diperoleh signifikansi uji Shapiro-wilk untuk kelompok kontrol adalah 0,221 dan untuk kelompok eksperimen 0,003. Berdasarakan kriteria pengujian maka H0 diterima untuk kelompok kontrol dan H0 ditolak untuk kelompok eksperimen.

Dari hasil pengujian Shapiro-wilk dapat disimpulkan bahwa data pretes kelompok kontrol berdistribusi normal dan data pretes kelompok eksperimen tidak berdistribusi normal. Karena salah satu sampel tidak berdistribusi normal, maka tidak dilakukan uji homogenitas varians. Sehingga pengujian yang dilakukan selanjutnya adalah uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji non-parametrik yaitu uji Mann-Whitney.

2. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Skor Pretes

Uji kesamaan dua rata-rata dalam penelitian ini menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney. Hipotesis dalam pengujian kesamaan dua rata-rata dirumuskan sebagai berikut:

H0: Tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

H1: Terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pasangan hipotesis tersebut bila dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik adalah sebagai berikut:

H0 :

µ

E =

µ

K

H1 :

µ

E

µ

K

Keterangan :

µ

E : rata-rata skor pretest kelas eksperimen

µ

K : rata-rata skor pretest kelas kontrol

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

“Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian statistik

dapat dilihat dalam Tabel 4.3

Tabel 4.3

Uji Kesamaan Dua Rata-rata Mann Whitney Nilai Mann-Whitney U

Wilcoxon W Asymp. Sig. (2-side test)

1.169,000 2.072,000

0,148

Berdasarkan pengujian statistik diperoleh (Sig.) uji Mann-Whitney

sebesar 0,148 ≥ 0,05 artinya H0 diterima. Hal ini berarti, tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen atau dengan kata lain kemampuan awal kedua kelompok adalah sama.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu b. Analisis Data Postest

Penulis menggunakan program komputer software SPSS v20-32 bit for windows untuk memudahkan penulis dalam menganalisis data postest.

Tabel 4.4

Deskripsi Statistik Skor Postest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Kelompok Mean SMI Std.

Deviasi Minimum Maksimum Postest Kontrol 29,60 100 9,52 2,00 48,00

Eksperimen 35,90 100 9,58 20,00 55,00

Berdasarkan Tabel 4.4 diperoleh bahwa standar deviasi kelompok kontrol adalah 9,52, rata-ratanya 29,60, dengan skor minimumnya 2,00 dan maksimum 48,00 sedangkan untuk kelompok eksperimen standar deviasi mencapai 9,58, rata-ratanya 35,90, dengan skor minimumnya 20,00 dan maksimumnya 55,00. Selanjutnya akan diuji normalitas dari kedua kelas penelitian yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.

1. Uji Normalitas Data Postest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Untuk menguji normalitas data postes, digunakan uji statistik Shapiro-wilk. Dikarenakan data yang digunakan lebih dari 30 buah maka untuk uji normalitas menggunakan uji Sahpiro-wilk. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah skor postes yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

Pasangan hipotesis nol dan hipotesis tandingannya adalah: H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

adalah “Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian

statistik dapat dilihat dari tabel 4.5

Tabel 4.5

Uji Normalitas Nilai Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Test of Normality Shapiro-wilk Statistic Df Sig. Nilai_kontrol Nilai_eksperimen 0,976 0,912 42 42 0,523 0,040 Kriteria Pengujian:

Berdasarkan hasil pengujian statistik diperoleh signifikansi uji Shapiro-wilk untuk kelompok kontrol adalah 0,523 dan untuk kelompok eksperimen 0,040. Berdasarakan kriteria pengujian maka H0 diterima untuk kelompok kontrol dan H0 ditolak untuk kelompok eksperimen.

Dari hasil pengujian Shapiro-wilk dapat disimpulkan bahwa data postes kelompok kontrol berdistribusi normal dan data postes kelompok eksperimen tidak berdistribusi normal. Karena salah satu sampel tidak berdistribusi normal, maka tidak dilakukan uji homogenitas varians. Sehingga pengujian yang dilakukan selanjutnya adalah uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji non-parametrik yaitu uji Mann-Whitney.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

2. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Skor Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Uji kesamaan dua rata-rata dalam penelitian ini menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney. Hipotesis dalam pengujian kesamaan dua rata-rata dirumuskan sebagai berikut:

H0: Tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal komunikasi matematis antara siswa yang memperoleh metode Personalized System of Instruction (PSI) dengan siswa yang memperoleh model konvensional

H1: Kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI) lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan model konvensional

Pasangan hipotesis tersebut bila dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik adalah sebagai berikut:

H0 :

µ

E =

µ

K

H1 :

µ

E >

µ

K

Keterangan :

µ

E : rata-rata skor postest kelas eksperimen

µ

K : rata-rata skor postest kelas kontrol

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

“Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian statistik dapat dilihat dalam Tabel 4.6

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu Tabel 4.6

Uji Kesamaan Dua Rata-rata Mann Whitney Nilai Mann-Whitney U

Wilcoxon W Asymp. Sig. (2-side test)

1.189,500 2.092,500

0,006

Dengan menggunakan hasil Tabel 4.6 diperoleh (Sig.) uji Mann-Whitney sebesar 0,006 < 0,05 artinya H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI) lebih baik dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode ekspositori.

.

c. Analisis Nilai Indeks Gain

Kemampuan komunikasi matematis antara siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen setelah pembelajaran sudah diketahui pada analisis postes dengan kesimpulan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa pada kelompok eksperimen berbeda dengan siswa pada kelompok kontrol. Oleh karena itu analisis gain hanya dilakukan untuk mengetahui kualitas peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI) dan metode ekspositori.

Sebelum dianalisis, data gain diubah ke dalam bentuk indeks gain berdasarkan rumus yang telah diketahui. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada kelompok eksperimen

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

dan kelompok kontrol cukup dilihat nilai rata-rata indeks gain pada kedua kelompok tersebut. Dengan menggunakan software SPSS 20.0 for windows, diperoleh:

Tabel 4.7

Nilai Rata-rata Indeks Gain

Mean N Kriteria

Kontrol 0,15 42 Rendah

Eksperimen 0,20 42 Rendah

Pada Tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata indeks gain untuk kelompok kontrol adalah 0,15 dimana berdasarkan Tabel 3.9 termasuk dalam kriteria rendah sedangkan nilai rata-rata indeks gain untuk kelompok eksperimen adalah 0,20 yang berdasarkan Tabel 3.9 termasuk dalam kriteria rendah. Dari hasil Tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa nilai rata indeks gain kelompok eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata indeks gain kelompok kontrol.

1. Uji Normalitas Nilai Indeks Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah nilai indeks gain yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

Hipotesis:

Pasangan hipotesis nol dan hipotesis tandingannya adalah: H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

adalah “Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian

normalitas dapat dilihat dari Tabel 4.8

Tabel 4.8

Uji Normalitas Gain Pretes-Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Test of Normality Shapiro-wilk Statistic Df Sig. Nilai_kontrol Nilai_eksperimen 0,949 0,955 42 42 0,042 0,096 Kriteria Pengujian:

Berdasarkan hasil pengujian statistik diperoleh signifikansi uji Shapiro-wilk untuk kelompok kontrol adalah 0,042 dan untuk kelompok eksperimen 0,096. Berdasarakan kriteria pengujian maka H0 ditolak untuk kelompok kontrol dan H0 diterima untuk kelompok eksperimen.

Dari hasil pengujian Shapiro-wilk dapat disimpulkan bahwa data indeks gain kelompok kontrol berdistribusi tidak normal dan data indeks gain kelompok eksperimen berdistribusi normal. Karena salah satu sampel tidak berdistribusi normal, maka tidak dilakukan uji homogenitas varians. Sehingga pengujian yang dilakukan selanjutnya adalah uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji non-parametrik yaitu uji Mann-Whitney.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

2. Uji Kesamaan Dua Rata-rata Skor Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Uji kesamaan dua rata-rata dalam penelitian ini menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney. Hipotesis dalam pengujian kesamaan dua rata-rata dirumuskan sebagai berikut:

H0: Tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang memperoleh metode Personalized System of Instruction (PSI) dengan siswa yang memperoleh metode ekspositori

H1: Peningkatan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode ekspositori

Pasangan hipotesis tersebut bila dirumuskan dalam bentuk hipotesis statistik adalah sebagai berikut:

H0 :

µ

E =

µ

K

H1 :

µ

E >

µ

K

Keterangan :

µ

E : rata-rata skor gain kelas eksperimen

µ

K : rata-rata skor gain kelas kontrol

Dengan menggunakan taraf signifikansi 5% maka kriteria pengujiannya

“Jika probabilitas (Sig.) ≥ 0,05 maka H0 diterima”. Hasil pengujian statistik dapat dilihat dalam Tabel 4.9

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu Tabel 4.9

Uji Kesamaan Dua Rata-rata Mann Whitney Nilai Mann-Whitney U

Wilcoxon W Asymp. Sig. (2-side test)

1.112,500 2.015,500

0,039

Dengan menggunakan hasil Tabel 4.9 diperoleh (Sig.) uji Mann-Whitney sebesar 0,039 < 0,05 artinya H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode ekspositori.

b. Analisis Ketuntasan Belajar Siswa

Berdasarkan informasi dari pihak sekolah bahwa nilai kkm matematika untuk SMP Negeri 8 Bandung adalah 65,00. Dengan memperhatikan Tabel 4.4 yang menunjukkan nilai maksimum untuk kelas kontrol sebesar 48.00 dan 55,00 untuk kelas eksperimen maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada seorang pun yang belajarnya tuntas.

2) Hasil Analisis terhadap Angket Respon Siswa

Angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan metode Personalized System of Instruction (PSI). Angket respon siswa ini diberikan kepada siswa di kelas eksperimen pada pertemuan terakhir dan diisi oleh 40 orang. Untuk memudahkan pembahasan, analisis angket ini dibagi ke dalam tiga bagian yaitu sebagai berikut:

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu a. Respon Siswa terhadap Matematika

Respon siswa terhadap matematika yang diukur adalah minat siswa terhadap matematika dan kesungguhan dalam belajar matematika. Pernyataan yang menunjukkan minat siswa terhadap matematika dapat dilihat dalam Tabel 4.10

Tabel 4.10

Indikator Angket melalui Minat Siswa terhadap Matematika dan Pembelajarannya

No Aspek yang diukur Respon No Pernyataan 1 Minat siswa terhadap

matematika dan kesungguhan dalam belajar matematika

Positif 1 dan 4 Negatif 11 dan 12

Adapun hasil angket dari respon siswa disajikan pada Tabel 4.11 dibawah ini.

Tabel 4.11

Hasil Angket melalui Minat Siswa terhadap Matematika dan Pembelajarannya

No Pernyataan SS S TS STS

F P F P F P F P

1 Matematika sangat menarik dan saya senang

mempelajarinya

6 15 23 57,5 11 27,5 0 0

4 Matematika

membantu seseorang dalam berpikir dan pengembangan diri 8 20 25 62,5 7 17,5 0 0 11 Pelajaran Matematika sangat menjemukan 2 5 11 27,5 23 57,5 4 10 12 Saya tak pernah

menyukai

matematika karena matematika hanya mempersulit saya

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Berdasarkan hasil pengolahan angket respon siswa pada Tabel 4.11 memperlihatkan bahwa untuk penyataan 1 yang mengungkapkan ketertarikan dan senang terhadap matematika, sebanyak 29 siswa (72,5 %) setuju dan sisanya (27,5 %), pernyataan 4 yang mengungkapkan matematika membantu seorang untuk berpikir sebanyak 33 orang (82,5 %) setuju dan sisanya (17,5 %) tidak setuju. Selanjutnya siswa yang setuju dengan pernyataan 11 yang mengungkapkan bahwa pelajaran matematika menjemukan sebanyak 13 orang (32,5 %) dan sisanya (67,5 %) siswa tidak setuju. Serta pernyataan 12 yang mengungkapkan tidak pernah menyukai pelajaran matematika karena sulit sebanyak 8 orang (20 %) dan sisnya 32 orang (80 %) tidak setuju.

Data diatas diperoleh rata-rata skor untuk keempat pernyataan mengenai matematika dan pembelajarannya adalah 4,29 yang menunjukkan bahwa respon siswa terhadap matematika dan pembelajarannya adalah positif.

b. Respon Siswa terhadap Pembelajaran dengan Metode Pesrosnalized System of Instruction (PSI)

Respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan metode Personalized System of Intsruction (PSI) diperoleh melalui 10 pernyataan. Pernyataan ini terdiri dari dua kelompok pernyataan yaitu lima pernyataan positif, yakni nomor 3, 5, 7, 14, 16 dan lima pernyataan negatif yakni nomor 2, 6, 8, 13, 15.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu Tabel 4.12

Indikator Angket Siswa terhadap Pembelajaran melalui Metode Personalized Systme of Instruction (PSI)

No Aspek yang diukur Respon Nomor pernyataan 2

Respon siswa terhadap pembelajaran melalui metode

Personalized System of

Instruction (PSI)

Positif 3, 5, 7, 14, 16 Negatif 2, 6, 8, 13, 15

Adapun hasil angket dari respon siswa disajikan pada Tabel 4.13 di bawah:

Tabel 4.13

Hasil Angket Siswa terhadap Pembelajaran melalui Metode Personalized System of Instruction (PSI)

No Pernyataan SS S TS STS

F P F P F P F P

2

Tidak terdapat perbedaan positif dalam cara saya

belajar dan

berinteraksi dengan sumber belajar sejak saya mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan metode PSI 2 5 7 17,5 24 60 7 17,5 3

Saya merasa senang dapat

membantu/dibantu teman sekelas dalam rangkaian kegiatan pembelajaran matematika dengan metode PSI 7 17,5 23 57,5 6 15 4 10 5 Panduan pembelajaran perlu digunakan dalam pembelajaran matematika untuk materi-materi selanjutnya 6 15 22 55 7 17,5 5 12,5 6 Pertanyaan arahan 4 10 11 27,5 21 52,5 4 10

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu pada panduan pembelajaran tidak membantu saya dalam memahami komunikasi matematis yang dipelajari 7 Kegiatan proctoring perlu diadakan juga untuk mata pelajaran lain

9 22,5 27 67,5 4 10 0 0

8

Setelah mengikuti kegiatan proctoring saya tetap tidak memahami konsep

3 7,5 7 17,5 24 60 6 15

13

Saya lebih senang membaca buku pelajaran matematika daripada harus membaca panduan pembelajaran 4 10 6 15 23 57,5 7 17,5 14 Panduan pembelajaran sangat membantu saya untuk mempersiapkan diri sebelum belajar di kelas 8 20 23 57,5 7 17,5 2 5 15 Saya enggan mengikuti proctoring dan lebih memilih untuk belajar mandiri

1 2,5 3 7,5 27 67,5 9 22,5

16

Kegiatan proctoring dapat memotivasi saya untuk bertanya banyak hal yang tidak saya pahami

9 22,5 24 60 6 15 1 2,5

Berdasarkan hasil pengolahan data angket, diperoleh dari kelompok pernyataan bersifat positif, respon terhadap pernyataan nomor 3 bahwa siswa merasa senang dapat membantu/dibantu siswa sekelas dalam pembelajaran PSI, sebanyak 30 orang (75 %) setuju dan sisanya sebanyak 10 orang (25 %)

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

menyatakan tidak setuju. Respon siswa terhadap pernyataan nomor 5 yang menyatakan bahwa panduan pembelajaran perlu digunakan untuk materi-materi selanjutnya, sebanyak 28 org (70 %) menyatakan setuju dan sisanya 12 orang (30 %) menyatakan tidak setuju. Pernyataan nomor 7 yang menyatakan bahwa kegiatan proctoring perlu diadakan untuk mata pelajaran lain sebanyak 36 orang (90 %) setuju dan sisanya 4 orang (10 %) menyatakan tidak setuju. Pernyataan nomor 14 yang mengungkapkan bahwa panduan pembelajaran sangat membantu persiapan belajar di kelas sebanyak 31 orang (77,5 %) menyatakan setuju dan sisanya 9 orang (22,5 %) menyatakan tidak setuju, selanjutnya untuk pernyataan no 16 yang mengungkapkan kegiatan proctoring dapat memotivasi untuk bertanya banyak hal sebanyak 33 orang (82,5 %) menyatakan setuju dan sisanya 7 orang (17,5 %) menyatakan tidak setuju.

Berdasarkan hasil angket untuk kelompok pernyataan bersifat negatif, respon terhadap pernyataan nomor 2 yang mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan positif dalam cara belajar setelah mendapatkan pembelajaran dengan metode PSI, sebanyak 9 orang (22,5 %) menyatakan setuju dan 31 orang (77,5 %) menyatakn tidak setuju. Respon siswa terhadap pernyataan nomor 6 yang menyatakan bahwa pertanyaan arahan pada panduan pembelajaran tidak membantu dalam memahami komunikasi matematis, sebanyak 15 orang (37,5 %) menyatakan setuju dan 35 orang (87,5 %) menyatakan tidak setuju. Pernyataan nomor 8 yang mengungkapkan bahwa setelah mengikuti kegiatan proctoring tetap tidak memahami konsep yang diajarkan, sebanyak 10 orang (25 %) menyatakan setuju dan 30 orang (75 %) menyatakan tidak setuju.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pernyataan nomor 13 yang mengungkapkan bahwa lebih senang membaca buku pelajaran daripada panduan pembelajaran, sebanyak 10 orang (25 %) menyatakan setuju dan 30 orang (75 %) menyatakan tidak setuju. Selanjutnya untuk pernyataan nomor 15 yang mengungkapkan bahwa enggan mengikuti proctoring, sebanyak 4 orang (10 %) menyatakan setuju dan 36 orang (90 %) menyatakan tidak setuju.

Berdasarkan data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok pernyataan bersifat positif dan negatif, yaitu respon siswa terhadap pembelajaran melalui metode PSI dalam pembelajaran matematika setelah dirata-ratakan hasilnya adalah 3,72. Hasil ini menunjukkan respon siswa terhadap pembelajaran melalui Metode Personalized System of Instructuon (PSI) tergolong tinggi atau cenderung positif.

c. Respon Siswa terhadap Komunikasi Matematis

Respon siswa yang diukur adalah kemampuan komunikasi matematis siswa. Pernyataan yang menunjukkan respon siswa terhadap komunikasi matematis dapat dilihat pada Tabel 4.14 di bawah ini:

Tabel 4.14

Indikator Respon Siswa terhadap Komunikasi Matematis No Aspek yang diukur Respon Nomor Pernyataan 3 Sikap siswa terhadap komunikasi

matematis

Positif 9

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Adapun hasil angket dari hasil respon siswa disajikan pada Tabel 4.15 di bawah:

Tabel 4.15

Hasil Angket Siswa terhadap Komunikasi Matematis

No Pernyataan SS S TS STS F P F P F P F P 9 Pembelajaran yang baru diikuti menimbulkan keberanian dalam mengemukakan pendapat, ide, atau gagasan.

4 10 21 52,5 11 27,5 4 10

10

Dalam kelompok saya

lebih senang

berdiskusi hal lain daripada berdiskusi tentang matematika

0 0 4 10 27 67,5 9 22,5

Berdasarkan hasil pengolahan angket diperoleh data bahwa respon siswa terhadap pernyataan nomor 9 bahwa pembeajaran yang diikuti menimbulkan keberanian dalam mengemukakan pendapat , sebanyak 25 orang (62,5 %) menyatakan setuju dan 15 orang (37,5 %) menyatakan tidak setuju. Sikap siswa terhadap pernyataan nomor 10 bahwa dalam kelompok lebih senang berdiskusi yang lain daripada berdiskusi matematika, sebanyak 14 orang (35%) setuju dan 26 orang (65 %) menyatakan tidak setuju.

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap komunikasi matematis apabila dirata-ratakan adalah 3,64. Hal ini menunjukkan respon siswa terhadap komunikasi matematis tergolong tinggi atau cenderung positif.

Agi Nugraha , 2013

Pembelajaran Matematika Melalui Metode Personalized System Of Instruction (PSI) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

3) Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran melaui Metode

Personalized System of Instruction (PSI)

Secara umum pelaksanaan pembelajaran matematika melalui Metode Personalized System of Instruction (PSI) berjalan dengan baik. Tahapan-tahapan yang dilalui yaitu Tahapan-tahapan pendahuluan, aktivitas inti, dan penutup.

Dokumen terkait