• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini dijelaskan mengenai hasil dari penelitian yang telah dilakukan dan diolah untuk mengetahui tentang prosedur pemberian Kredit Modal Kerja (KMK) yang disalurkan oleh PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng serta perkembangan Kredit Modal Kerja (KMK) PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng dalam 5 (lima) tahun.

1. Prosedur Penyaluran Kredit Modal Kerja (KMK)

PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng menyalurkan kredit berpedoman pada prosedur dan azas-azas pemberian kredit yang sehat sesuai ketentuan yang berlaku, yaitu :

a. Tata cara pemohon terdiri dari :

1) Syarat-syarat pemohon (debitur) yaitu WNI, usaha berjalan baik atau bagi usaha yang masih akan dilakukan harus mempunyai rencana usaha yang jelas, ada izin usaha/sedang dalam penyelesaian dalam hal untuk usaha tersebut menurut ketentuan pemerintah yang berlaku harus ada izin usaha dari instansi yang berwenang. Tidak sedang menikmati kredit bank lain, tidak termasuk Pegawai Negeri/ABRI atau istrinya yang dilarang berusaha menurut PP No. 6/1974. Dalam hal ini tidak terkena larangan berusaha harus ada izin tertulis dari pejabat

yang berwenang sebagaimana yang diatur dan ditetapkan dalam peraturan tersebut, serta tidak termasuk daftar hitam/daftar kredit macet menurut catatan bank.

2) Cara memohon kredit yaitu, permohonan diajukan kepada kantor cabang pelaksana. Pemohon (debiture) mengisi daftar isian yang formulirnya tersedia pada kantor cabang, memberikan keterangan yang lengkap dan benar mengenai keadaan keuangan dan usaha.

b. Tata cara pengelohan permohonan kredit, meliputi :

Penilaian pendahuluan atas permohonan pemohon meliputi : 1) Penilaian apakah pemohon mememnuhi syarat atau tidak,

pemohon dapat dipercaya atau tidak. Memenuhi persyaratan atau tidak, memiliki data lengkap, tidak termasuk daftar hitam/kredit rangkap/kredit, usaha pemohon termasuk yang dapat dibiayai bank pelaksana yang bersangkutan.

2) Penilaian/analisa permohonan pemohon (debiture) yaitu penilaian untuk menghadapi resiko kredit dan analisa permohonan. Penilaian untuk menghadapi resiko kredit meliputi yaitu menyangkut itikad baik pemohon untuk mempergunakannya sesuai dengan tujuannya, pada waktunya akan melunasinya beserta bunganya. Kemampuan pemohon dan usahanya untuk melunasinya beserta bunga tepat waktu dan menilai pula pakah pemohon mempekerjakan orang yang

berpengalaman dan terampil untuk melaksanakan, mengurus dan mengembangkan usaha yang dibiayai.

3) Penilaian atas modal yaaitu berapa besarnya modal/kekayaan pemohon, kondisi yaitu menyangkut keadaan usaha saat ini dan prospeknya, jaminan yaitu jamina pokok (barang-barang yang dibiayai) dan jaminan tambahan (bukan barang-barang yang dibiayai dengan kredit seperti tanah, bangunan dan kendaraan). Analisa permohonan meliputi :

a) Manajemen (kemampuan mengolah perusahaan yang dibiayai).

b) Pemasaran (kelancaran pemasaran barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan).

c) Produksi (kelancaran produksi perusahaan) dan

d) Aspek keuangan (kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang memadai sehingga dapat membayar kredit dan bunganya).

c. Pemberitahuan keputusan penolakan atau persetujuan kredit terhadap permohonan kredit yang tidak disetujui, diberiatahukan secara tertulis disertai dengan penjelasan mengenai alasan penolakannya. Sedangkan jika permohonan disetujui bank pelaksana menyampaikan surat keputusan kredit dan syaratnya dalam rangkap dua. Apabila pemohon menyetujui syarat-syarat tersebut maka pemohon mengembalikan tembusan surat

keputusan tersebut kepada pihak bank pelaksanaannya setelah ditandatangani di atas materai Rp.6000,- sebagai tanda persetujuan pemohon. Selanjutnya, pemohon datang ke bank untuk menyelesaikan segala sesuatu yang menyangkut administrasi daripada pelaksana pemberi kredit (kreditur). Sebagaimana yang di syaratkan dalam SK termasuk menandatangani perjanjian kredit (PK). Kewajiban pemohon adalah memenuhi perjanjian yang ditentukan bank selanjutnya. Dan kewajiban bank menyerahkan sejumlah pinjaman yang disepakati dalam permohonan kredit. 2. Jenis dan Perkembangan Penyaluran Kredit

Jenis yang disalurkan oleh PT Bank Sulselbar terdiri dari : a. Kredit investasi (KI).

b. Kredit modal kerja (KMK).

Pihak Manajemen PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng merinci tiap-tiap modal kredit yang di salurkan. Ini menunjukkan bahwa dari jenis kredit tersebut Kredit Modal Kerja (KMK) menunjukkan posisi yang meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan Kredit Investasi (KI) menunjukkan posisi turun naik. Dengan demikian meskipun nilai penyalurannya Kredit Modal Kerja (KMK) relatif kecil dibanding dengan Kredit Investasi, hal ini terjadi karna mayoritas penduduk di wilayah kerja PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng mempunyai usaha dagang yang rata-rata menggunakan usaha dagangannya khususnya usaha di sektor informal.

Tabel 5.1

Jenis kredit PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng Tahun 2010 – 2014 Tahun Jenis Kredit Kredit Investasi (KI) Kredit Modal Kerja (KMK) 2010 1.461.879.878 3.060.985.448 2011 2.111.659.777 4.934.014.458 2012 2.985.376.109 5.184.328.757 2013 3.156.785.283 6.200.250.854 2014 3.996.785.503 7.171.463.611 Jumlah 13.712.486.550 26.551.043.128 Sumber : PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng

Berdasarkan pada tabel 5.1 mengenai jenis kredit PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng Tahun 2010-2014, dapat dilihat bahwa total dana jenis kredit investasi (KI) pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar Rp. 13.712.486.550 sedangkan untuk dana jenis kredit modal kerja (KMK) pada tahun 2010 sampai tahun 2014 sebesar Rp. 26.551.043.128.

Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa dana Kredit Modal Kerja (KMK) pada PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng jauh lebih banyak daripada dana kredit investasi (KI).

Tabel 5.2

Jumlah KMK dan Kredit yang disalurkan PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng Tahun 2010 – 2014

Tahun Jumlah KMK (Rp) Kredit yang disalurkan (Rp) 2010 3.060.985.448 2.522.775.326 2011 4.934.014.458 3.045.674.235 2012 5.184.328.757 3.997.709.866 2013 6.200.250.854 5.757.036.137 2014 7.171.463.611 5.990.134.558 Jumlah 26.551.043.128 21.313.330.122 Sumber : PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng

Berdasarkan pada tabel 5.2 mengenai jumlah KMK dan kredit yang disalurkan PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng Tahun 2010 –

2014 dapat dilihat bahwa pada tahun 2010 jumlah KMK sebesar Rp. 3.060.985.448 yang disalurkan sebesar Rp. 2.522.775.326, pada

tahun 2011 jumlah KMK sebesar Rp. 4.934.014.458 yang disalurkan

sebesar Rp. 3.045.674.235, pada tahun 2012 jumlah KMK sebesar Rp. 5.184.328.757 yang disalurkan sebesar Rp. 3.997.709.866, pada

tahun 2013 jumlah KMK sebesar Rp. 6.200.250.854 yang disalurkan sebesar Rp. 5.757.036.137, pada 2014 jumlah KMK sebesar Rp. 7.171.463.611 yang disalurkan sebesar Rp. 5.990.134.558.

Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa penyaluran Kredit Modal Kerja (KMK) pada tahun 2010-2014 mengalami peningkatan pada setiap tahunnya.

Adapun penyebab penyaluran KMK dari tahun 2010-2014 tidak terealisasi dengan baik karena disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng dan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pencairan dana Kredit Modal Kerja (KMK) tersebut.

3. Pengaruh Jumlah Kredit yang disalurkan Terhadap Kredit Modal Kerja (KMK)

Dalam kehidupan perekonomian khususnya dalam bidang usaha hampir tidak ada perusahaan yang tidak menikmati kredit. Bank melaksanakan kredit sebagai inti usahanya karena dengan kredit berarti memberikan bantuan permodalan agar usaha berjalan lancar dan meraih kemajuan. Setiap usaha-usaha seperti sektor industri, perdagangan, pertanian atau perhubungan, besar atau kecil memerlukan kredit yang berfungsi sebagai faktor produksi sehingga melalui bantuan kredit bank usaha akan semakin besar dan berkembang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penyaluran kredit mempunyai pengaruh terhadap kredit modal kerja. Untuk membuktikan hal tersebut, maka dapat dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana.

Tabel 5.3

Tabel Penolong untuk Menghitung Persamaan Regresi dan Korelasi

Tahun KMK (X) Kredit yang disalurkan (Y) XY X2 Y2 2010 3.060 2.522 7.717.320 9.363.600 6.360.484 2011 4.934 3.045 15.024.030 24.344.356 9.272.025 2012 5.184 3.997 20.720.448 26.873.856 15.976.009 2013 6.200 5.757 35.693.400 38.440.000 33.143.049 2014 7.171 5.990 42.954.290 51.423.241 35.880.100 26.549 21.311 122.109.488 150.445.053 100.631.667 Sumber: PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng (data diolah)

Berdasarkan tabel diatas, maka perhitungan regresinya adalah sebagai berikut: Dik. n = 5 ∑ ∑ ∑ ∑ ∑

Berdasarkan pada hasil perhitungan diatas, maka persamaan regresi yang diperoleh yaitu:

Y= 4,01 + 0,036 X

Persamaan regresi diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a = 4,01 menunjukkan bahwa jika Kredit Modal Kerja (KMK) konstan atau X = 0, maka kredit yang disalurkan sebesar

4,01.

b = 0,036 menunjukkan bahwa setiap Kredit Modal Kerja (KMK) akan mendorong kredit yang disalurkan sebesar 0,036.

4. Perkembangan Kredit Modal Kerja (KMK) PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng dalam 5 (lima) Tahun

Setiap tahunnya perkembangan Kredit Modal Kerja (KMK) tidak dapat dipastikan. Adakalanya naik dan menurun. Adapun perkembangan kredit modal kerja (KMK) di PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng dalam 5 (lima) tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.4

Perkembangan Kredit Modal Kerja (KMK) PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng Tahun 2010 – 2014

Tahun Jumlah KMK (Rp) Kredit yang disalurkan (Rp) Perkembangan Kenaikan (Rp) Persentase (%) 2010 3.060.985.448 2.522.775.326 - - 2011 4.934.014.458 3.045.674.235 522.898.909 20,73 2012 5.184.328.757 3.997.709.866 952.035.631 31,26 2013 6.200.250.854 5.757.036.137 1.759.326.271 44,01 2014 7.171.463.611 5.990.134.558 233.098.421 4,05 Jumlah 26.551.043.128 21.313.330.122 3.467.359.232 100,05 Rata-rata 5.310.208.626 4.262.666.024 866.839.808 25,01 Sumber: PT. Bank Sulselbar Cabang Bantaeng (data diolah)

Berdasarkan pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa perkembangan kredit modal kerja (KMK) pada tahun 2011 sebesar Rp. 522.898.909 (20,73%), pada tahun 2012 sebesar Rp. 952.035.631 (31,26%) atau mengalami peningkatan dari tahun 2011, pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.759.326.271 (44,01%) atau lebih meningkat dari tahun 2012 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 233.098.421 (4,05%) mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kredit modal kerja (KMK) pada 2011, 2012 dan 2013 mengalami

peningkatan. Akan tetapi, pada tahun 2014 kredit modal kerja (KMK) mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Dokumen terkait