• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN WAWANCARA Nama Responden :

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. HASIL PENELITIAN

1. Apa yang Dilakukan Subyek I, II dan III ketika Mendapat Perlakuan Keras Secara Fisik?

Berdasarkan wawancaradan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap tiga orang subjek yang mengalami tindak kekerasan diperoleh hasil yang cukup untuk membuktikan bahwa masih banyakkekerasan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Dalam hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan jawaban-jawaban dari masing-masing subyek penelitian, yang dilakukan anak ketika mendapat tindak kekerasan secara fisik, masing-masing dari mereka hanya diam dan tidak melakukan perlawanan secara langsung, mereka hanya diam saat kekerasan tersebut terjadi, sedangkan saat orang tua mereka melakukan kekerasan verbal masing-masing subyek hanya diam dan tidak berani untuk membantah apapun yang dikatakan orang tua mereka, karena apabila mereka melakukan perlawanan maka orang tua mereka akan lebih marah dan terus melakukannya (kekerasan), begitu juga saat orang tua mereka melakukan kekerasan sosial, mereka sebenarnya merasa malu dan merasa tidak dihargai sebagai anak, namun mereka juga tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan tindakan orangtua mereka. Mereka tidak melakukan perlawanan secara langsung atau cenderung diam dan tidak melawan pada waktu orang tua mereka memukul atau memarahi mereka, namun mereka lebih melakukan perlawanan dengan cara menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang baik seperti merokok di sekolah, berkelahi dengan teman, bahkan sampai bunuh diri. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan wawancara berikut:

Subyek Viko: “Iya mbak, ya aku Cuma diem aja pas mama mukul aku, soalnya pas itu banyak temen-temenku, trus pas sampai rumah aku nangis mbak.” W.S1.V.09 Subyek Evan:“Ya aku diem aja mbak kalau bapak lagi

marah-marah, soalnya bapak itu kalau marah pas habis mabuk sama temen-temennya, jadi aku gak berani ngapa-ngapain mbak.W.S2.E.10

Subyek Sita: Saya Cuma bisa diem dan nangis mbak, rasanya kalau pas bapak seperti itu (melakukan tindak kekerasan) saya pengen ikut ibu kandung saya mbak, tapi gak mungkin bisa.” W.S1.S.09

Berdasarkan jawaban dari ketiga subyek penelitian, mereka tidak memiliki keberanian untuk melawan orang tua mereka saat terjadi tindak kekerasan fisik, namun mereka secara tidak sadar melakukan pemberontakan atau perlawanan secara tidak sadar, seperti yang dilakukan oleh subyek Evan dan subyek Sita. Subyek Evan di sekolahnya cenderung melakukan kenakalan remaja seperti merokok, berkelahi dan berkelahi dengan teman, namun saat dikonfirmasi hal ini ia akui bukan akibat dari kekerasan orang tuanya, sedangkan subyek Sita melakukan tindakan-tindakan nekat seperti pergi dari rumah dan melakukan percobaan bunuh diri. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kutipan wawancara berikut:

Subyek Evan: Iya mbak, ya awalnya coba-coba, tapi kok lama-lama keterusan susah berhentinya mbak, apalagi kalau di sekolah banyak temen yang ngajak ngrokok di kamar mandi sekolah.”W.S2.E.07

Subyek Sita: Ya waktu itu saya sudah gak kuat mbak tinggal sama bapak dan ibu tiri, ya puncaknya pas itu mbak, saya iris tangan saya pas nadi (sambil menunjukkan bekasnya).”W.S1.S.07

Namun hal berbeda disampaikan oleh pembantu rumah tangga subyek Viko, namanya adalah Ibu Sum, berdasarkan wawancara dengan pembantu Subyek Viko, ia mengatakan bahwa setelah dipukul atau dimarahi Ibunya Viko sering mengurung diri di kamarnya dan menangis. Pembantunya merasa sedih dengan perlakukan orang tua Viko yang selalu menggunakan kekerasan baik secara Fisik maupun psikis.

Ibu Sum: Iya mbak, pas saya dengar dia menangis dari dalam kamar, kayaknya dia habis dilombok (di kasih cabai pada bibirnya) sama mamahnya. Ya sebaiknya jadi orang tua jangan seperti itu, biar bagaimanapun kan itu anaknya mbak, apalagi si Viko itu pintar anaknya mbak, eman-eman nek dipolo (sayang kalau dipukuli).W.SU.03

2.Apa yang Dilakukan Subyek I, II dan III ketika Mendapat Perlakuan Keras Secara Verbal?

Saat orang tua masing-masing subyek melakukan kekerasan secara Verbal, mereka hanya diam dan mendengarkan apa yang orang tua mereka katakan tanpa berani membantah sedikitpun. Hal ini membuktikan bahwa subyek penelitian ini tidak memiliki hak untuk berbicara atau membela diri.

Subyek Viko:” Ya anyel (jengkel) mbak, wong kok sukane marah-marah, apalagi aku gak salah wi lho mbak, kadang aku Cuma telat mandi aja sampai dibilang goblok gitu mbak.”W.S1.V.15

Subyek Evan :“Ya aku diem aja mbak kalau bapak lagi marah-marah, soalnya bapak itu kalau marah pas habis mabuk sama temen-temennya, jadi aku gak berani ngapa-ngapain mbak.” W.S2.E.09 Subyek Sita : “Saya Cuma bisa diem dan nangis mbak, rasanya

kalau pas bapak seperti itu (melakukan tindak kekerasan) saya pengen ikut ibu kandung saya

mbak, tapi gak mungkin bisa mbak soalnya ibu saya jadi TKW di Malaysia.”W.S3.S.11

3. Apa yang dilakukan Subyek I, II, III ketika mendapatkan perlakuan keras secara sosial?

Dalam penelitian ini subyek penelitian juga mengalami kekerasan secara sosial, mereka kerap dimarahi dan dimaki didepan umum. Mereka tidak dapat melakukan apa-apa ketika orang tua mereka melakukan tindak kekerasan secara sosial. Seperti yang dialami oleh ketiga subyek penelitian, ketika orang tua mereka memepermalukan mereka, atau memarahi mereka di depan umum, mereka hanya bisa diam dan menerima walaupun mereka sebenarnya ingin memberontak. Seperti yang dialami oleh subyek Evan, ia pernah dipermalukan oleh ayahnya dengan dipukul dan dimarahi di sekolahnya dan disaksikan oleh banyak orang, namun saat ia mencoba untuk mengentikan ayahnya ia malah dipukul oleh ayahnya.

Subyek Evan:”Ya aku ngomong sama bapak kalau jangan marah disini mbak, trus bapak malah ngampleng aku mbak.”W.S2.E.15

4. Bagaimana Anak memaknai Pengalaman Dididik Dengan Kekerasan Secara Fisik?

Anak korban kekerasan dalam rumah tangga memiliki persepsi yang relatif sama mengenai cara mendidik yang diterapkan oleh orang tua mereka, mereka merasa telah terbiasa dengan kekerasan yang dilakukan orang tua mereka hal ini karena anak adalah subjek yang lemah dan tidak berdaya dalam struktur keluarga, meskipun pada awalnya mereka merasa takut dan ingin memberontak. Subjek

1(Viko) mengatakan kalau ia tidak setuju dengan cara orang tuanya yang sering menggunakan kekerasan setiap kali menyuruh Viko melakukan sesuatu, hal ini membuatnya merasa jengkel dan ingin marah dan merasa dendam atau memberontak, akan tetapi ia tidak melakukan itu melainkan hanya diam dan memendamnya saja, karena apabila ia melawan atau memberontak ibunya akan lebih marah. Hal ini berkaitan erat dengan pola asuh orang tua Viko yang cenderung bersifat otoriter atau memiliki banyak aturan dan tuntutan namun orang tua kurang peka dengan kebutuhan serta apa yang dirasakan anak. hal ini dapat dilihat berdasarkan kutipan wawancara berikut:

Subjek Viko:” Iya mbak, makasih ya mbak. Ya kalau menurut aku sih orang tua kayak gitu jahat mbak, berarti gak sayang sama anaknya, padahal kan belum tentu salah mbak, aku aja kadang dendam sama mama kalau mama mukul aku mbak, papa juga ikutan marah-marah kalau mama lagi marah.”W.S1.V.27 Senada dengan jawaban Viko, Evan (Subjek 2) tidak setuju dengan pola asuh orang tua yang cenderung sering menggunakan kekerasan sebagai upaya hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh anak. Ia merasa hal tersebut tidak pantas dilakukan oleh orang tua yang seharusnya melindungi dan memberikan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Hal ini dapat dibuktikan berdasarakan kutipan wawancara berikut.

Subjek Evan: “Ya kalau menurut saya sih gak baik lah mbak, mana ada anak yang mau di kamplengi (dipukuli) sama bapak apa ibuknya, kalau bisa ya mbok diomongi baik-baik dulu, masa belum-belum di kampleng mbak, kayak kemarin itu bapak tiba-tiba mukul aku gara-gara bu guru manggil Bapak ke sekolah.”W.S2.E.21

Berdasarkan jawaban dari Sita (subjek 3) ia sangat tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Ia merasa tidak nyaman berada di rumah karena ayahnya lebih memilih mempercayai ibu tirinya, hal ini membuatnya frustasi dan melakukan tindakan nekat seperti percobaan bunuh diri dan pergi dari rumah tanpa berpamitan, hal ini ia lakukan sebagai protes atas perlakuan ayahnya yang melakukan kekerasan terhadap dirinya. Berikut kutipan wawancara subjek Sita.

Subjek Sita:”Iya mbak (sambil tersenyum). kalau menurut saya ya orang tua seperti itu tidak baik mbak, aku aja sedih mbak kalau inget bapak sering mukulin aku, terus ibu tiriku juga suka fitnah aku mbak, apalagi di rumah Bapak aku gak ada yang belain mbak.”W.S3.S.21

Dalam kutipan tersebut juga ia mengatakan bahwa tidak ada yang membelanya atau dengan kata lain memberikan perlindungan terhadap dirinya saat ayahnya melakukan tindak kekerasan. Ia merasa sendiri dan tidak dihargai keberadaannya. Adanya peristiwa perceraian orang tuanya dan kemudian ayahnya menikah lagi sepertinya menjadi salah satu alasan Sita mengalami tindak kekerasan, hal ini dikarenakan ayahnya lebih mempercayai perkataan istrinya daripada penjelasan dari Subjek Sita sehingga sampai terjadi tindak kekerasan tersebut.

5. Bagaimana Anak memaknai Pengalaman Dididik Dengan Kekerasan Secara Verbal?

Anak memiliki hak untuk mendapat perlakuan baik dan menyenangkan dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang menganggap dengan membentak, memarahi secara terus menerus setiap kali anak melakukan kesalahannya. Banyak orang tua

yang tidak menyadari bahwa anak usia remaja sudah mampu merekam memori yang tidak menyenangkan dalam pengalaman hidupnya. Sebagai contoh subyek Viko, ia merasa tidak betah di rumahnya sendiri karena merasa jengkel dan kesal setiap kali di rumah hanya dimarahi ibunya, dan juga subyek Evan, ia merasa kesal dengan ayahnya yang sering marah tanpa sebab, begitu juga dengan subyek Sita, ia merasa tidak betah di rumah karena sering difitnah ibu tirinya. Berikut kutipan jawaban masing-masing subyek:

Subyek Viko: “Ya sedih banget mbak, masak dikit-dikit dibentak, dimarahin, mau apa-apa gak boleh, makanya aku kalau malam minggu lebih seneng tidur dirumah pakde mbak, kalau di rumah pakde aku diperhatiin gak pernah dimarahin mbak.”W.S1.V.17

Subyek Evan: “Ya gitu lah mbak, tapi ya kadang ada jengkelnya juga mbak, lha bapak senengane nesu ra ono sebabe mbak. (marah tidak ada sebabnya) kadang aku gak salah tetep dimarahin sama dipukul mbak”.W.S2.E.13

Subyek Sita: “Iya mbak (sambil tersenyum). kalau menurut saya ya orang tua seperti itu tidak baik mbak, aku aja sedih mbak kalau inget bapak sering mukulin aku, terus ibu tiriku juga suka fitnah aku mbak, apalagi di rumah Bapak aku gak ada yang belain mbak.W.S3.S.21

6. Bagaimana Anak memaknai Pengalaman Dididik Dengan Kekerasan Secara Sosial?

Kekerasan sosial adalah kekerasan yang tidak banyak disadari oleh kebanyakan orang, hal ini karena kekerasan jenis ini tidak terlihat secara langsung. Dalam penelitian ini peneliti menemukan adanya kekerasan sosial yang terjadi pada subyek penelitian. Seperti yang dialami oleh subyek Viko ia merasa sangat malu

ketika ibunya sering memarahinya di depan teman-temannya, dan sering berkata yang tidak sepantasnya dikatakan orang tua kepada anak. Viko merasa sedih dan malu ketika ibunya berbuat demikian. Hal serupa juga dialami oleh subyek Evan, saat itu ayahnya datang ke sekolah untuk mengambil rapor kenaikan kelas, akan tetapi ada nilai Evan yang tidak memenuhi standart sekolah, kemudian ayahnya memaki-makinya di depan Guru dan satpam di sekolahnya, hal ini membuuatnya sangat malu dan sedih serta tidak percaya kalau ayahnya bisa berbuat demikian. Berikut kutipan wawancara subyek:

Subyek Viko: “Ya gimana ya mbak, pasti malu banget, kan mama marahinnya didepan temen-temenku to mbak, jadinya aku malu kalo mama pas lagi galak sama aku apalagi kalau pas ngomel-ngomel gitu mbak, huuuhh sakit kupingku.W.S1.V.10

Subyek Evan: “Iya mbak, ya pernah sih mbak mikir gitu, pengen gentian marah, terus berontak gitu, tapi ya gimana lagi mbak, disyukuri aja wong kenyataane gitu mbak, dijolke yo ra isoh (ditukar juga tidak bisa). 7. Bagaimana cara anak memaknai relasinya dengan orang tuanya.

Dalam penelitian ini penulis mengidentifikasi bahwa hubungan atau relasi anak dengan orang tuanya tidak memiliki kelekatan emosional yang positif. Berdasarkan wawancara dengan subjek Viko ia mengatakan bahwa dirinya lebih nyaman di rumah saudaranya dan ia senang apabila ibunya sedang pergi keluar rumah, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada kelekatan emosional atau relasi baik yang terjalin antara orang tua dan anak.Hal ini dapat dilihat berdasarkan kutipan wawancara berikut:

Subjek Viko:”Ya sedih banget mbak, makanya aku kalau malam minggu lebih seneng tidur dirumah pakde mbak, kalau di rumah pakde aku diperhatiin gak pernah dimarahin mbak.”W.S1.V.17

Berdasarkan jawaban dari subjek Evan ia sepertinya juga tidak memiliki relasi yang baik dengan orang tuanya, hal ini karena ayahnya tidak berusaha memperbaiki pola asuhnya yang cenderung otoriter dan menggunakan kekerasan fisik apabila Evan melakukan kesalahan. Ia merasa benci dan jengkel apabila ayahnya memukulnya didepan umum. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kutipan wawancara sebagai berikut.

Subjek Evan:”Kalau sama Bapak sih gak terlalu baik mbak, kadang suka agak benci sama bapak karena suka mukulin, padahal aku gak salah apa-apa, tapi kalau sama ibu biasa aja mbak.” W.S2.E.22

Sedangkan berdasarkan wawancara dengan subjek Sita, ia sama sekali tidak memiliki relasi yang baik dengan ayahnya ataupun ibu tirinya karena semenjak orang tuanya bercerai dan ayahnya menkah lagi, ia diajak ayahnya untuk tinggal bersamanya, namun ia berkata sikap ayahnya berubah setelah menikah lagi dan memiliki anak dengan istri barunya. Sejak saat itu ia merasa tidak nyaman berada di rumah karena ibu tirinya sering memfitnah dirinya pada ayahnya, terlebih lagi ayahnya lebih mempercayai Ibu tirinya, terkadang ia merasa tidak lagi memiliki orang tua yang menyayanginya. Hal ini dapat dilihat berdasarkan kutipan wawancara berikut.

Subjek Sita:” Ya gak baik mbak hubungannya, apalagi kan ada adek, jadi perhatian mereka cuma buat adeknya saya aja mbak, jujur ya saya kadang ada rasa iri mbak, kadang ada tetangga yang kasian sama saya, pengen nolong saya, tapi bapak saya malah marah-marah mbak, katanya bapak gini :”rasah melu-melu urusane uwong, urusono awakmu dewe, iki ki anakku” (tidak

usah ikut campur urusan orang, ini anak saya)”W.S3.S.22

C. PEMBAHASAN

Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh ketiga subjek dalam penelitian ini merupakan contoh fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Orang tua yang tidak menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh tindakan mereka. Dalam hal ini, orang tua menggunakan kekerasan sebagai upaya atau bentuk pemberian hukuman terhadap anak mereka saat melakukan kesalahan, mereka menganggap dengan menggunakan kekerasan dapat memberikan pelajaran dan dapat membuat si anak menjadi jera sehingga dapat memperbaiki kesalahannya.

Hal tersebut sama halnya dengan penelitian ini, dalam teori pada bab 2 disebutkan bahwa orang tua seringkali menggunakan kekerasan sebagai alasan untuk “Pemberian Hukuman” atas kesalahan yang dilakukan anak mereka, dalam hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini, orang tua subyek cenderung melakukan kekerasan setelah sang anak melakukan kesalahan, baik kesalahan yang ringan maupun berat, Paradigma ini menjadi tolak ukur orang tua yang tidak mengerti pentingnya pola asuh yang benar dan baik.

Pentingnya membangun komunikasi, pola hubungan dan kelekatan emosional yang baik dengan anak membantu orang tua dalam rangka mendidik anak. Seharusnya anak layak mendapat kasih sayang yang tulus dari orang tua mereka, namun karena beberapa faktor seperti faktor ekonomi, pengalaman orang tua di masa lalu yang juga mengalami hal serupa serta orang tua yang kurang

memahami pentingnya menjalin relasi yang baik dengan anak, hak anak tersebut tidak mereka dapatkan dari orang tua mereka.

Kelekatan hubungan antara anak dan orang tua memberi dampak yang positif bagi perkembangan pikologis anak. Kelekatan dicirikan sebagai hubungan imbal balik antara sistem kelekatan anak dan sistem pengasuhan dari orang tua, Penerimaan dan penolakan orang tua membentuk dimensi kehangatan (warmth dimension) dalam pengasuhan, yaitu suatu kualitas afeksi antara orang tua dan anak. perilaku pengasuhan sebagai factor kunci dalam hubungan orangtua-anak yang dibangun sejak usia dini. Pada masa awal kehidupannya anak mengembangkan hubungan emosi yang mendalam dengan orang dewasa yang secara teratur merawatnya. Dimensi kehangatan merupakan suatu rentang kontinum , yang di satu sisi ditandai oleh penerimaan yang mencakup berbagai perasaan dan perilaku yang menunjukkan kehangatan, afeksi, kepedulian, kenyamanan, perhatian, perawatan, dukungan, dan cinta. Adapun sisi yang lain ditandai oleh penolakan yang mencakup ketiadaan atau penarikan berbagai perasaan atau perilaku tersebut (kehangatan, afeksi, dan lain-lain), dan adanya berbagai perasaan atau perilaku yang menyakitkan secara fisik maupun psikologis (seperti tidak menghargai, penelantaran, tak acuh memaki, dan penyiksaan). Menurut Rohner dkk., persepsi anak terhadap penerimaan dan penolakan orang tua atau sosok signifikan yang lain akan memengaruhi perkembangan kepribadian individu dan mekanisme yang dikembangkan dalam menghadapi masalah. Anak yang tidak merasa nyaman tinggal di rumah orang tua mereka, menandakan bahwa terjadi sebuah permasalahan yang harus diselesaikan antara orang tua dan anak. Bagi orang tua

yang tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik, permasalahan ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.

Apabila melihat dari teori diatas, dalam hasil penelitian yang diperoleh jawaban-jawaban dari masing-masing subyek menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kelekatan atau attachment dengan orang tua kandung mereka. Kelekatan dalam hal ini adalah adanya hubungan imbal balik antara anak dan orang tua yang menciptakan suatu kehangatan dalam rumah tangga. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya membangun relasi yang baik dengan anak, serta pola asuh yang mereka terapkan cenderung masih otoriter dan keras, hal ini juga yang menyebabkan anak merasa diabaikan, dibenci, dan merasa ditelantarkan. Sikap dan perilaku orang tua yang demikian memberikan dampak yang buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta psikis mereka. Anak-anak yang mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga perlu mendapat perhatian khusus dari pihak lain, seperti lembaga sosial atau lembaga pemerintahan, dalam hal ini lingkungan tempat tinggal dan anggota keluarga lain juga harusnya ikut berperan untuk meminimalisir tindak kekerasan tersebut. Sebagai contoh, seluruh subyek penelitian dalam penelitian ini, saat terjadi tindak kekerasan tidak ada satu orang pun yang menolong mereka, dapat dibayangkan bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari dengan orang tua yang sering menggunakan kekerasan. Walaupun mereka mengatakan sudah terbiasa dengan tindak kekerasan orang tua mereka, tidak dapat dipungkiri kalau mereka juga menginginkan kehidupan seperti anak-anak yang lain.

Adanya luka bekas penyiksaan, trauma berkepanjangan dan ingatan-ingatan mengenai kekerasan yang mereka terima akan terus mereka ingat sepanjang hayat hidup mereka. Anak-anak yang mengalami kekerasan oleh orang tua mereka sangat rentan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan orang tua mereka kelak jika berkeluarga, oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat membantu untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak.

Kualitas hubungan orang tua-anak merefleksikan tingkatan dalam hal kehangatan (warmth), rasa aman (security), kepercayaan (trust), afeksi positif (positive affect), dan ketanggapan (responssiveness) dalam hubungan mereka. Kehangatan menjadi komponen mendasar dalam hubungan orang tua-anak yang dapat membuat anak merasa dicintai dan mengembangkan rasa percaya diri. Ketika anak mampu mengolah pemikiran dan perasaan mereka dengan baik, maka dinamika psikologis dalam diri mereka pun akan baik pula, oleh karena itu anak yang memiliki emosional yang terkontrol merupakan ciri anak yang dihasilkan dari orang tua yang mementingkan hak dan kebutuhan anak.

Rasa aman merupakan dimensi dalam hubungan yang berkembang karena interaksi yang berulang yang memperlihatkan adanya kesiagaan, kepekaan, dan ketanggapan. Interaksi tersebut mengembangkan kelekatan pada masing-masing pihak yang terlibat dalam hubungan. Rasa aman juga akan mendorong anak untuk berani melakukan eksplorasi yang bermanfaat bagi perkembangan kompetensi. Lingkungan yang memberikan rasa aman bagi anak akan membantu anak untuk lebih berkembang dalam segala hal.Setelah berkembangnya paham dua arah, area penting yang menjadi fokus penelitian adalah kaitan antara interaksi orang tua-

anak dan relasi yang terbentuk. Interaksi dan waktu merupakan dua komponen mendasar bagi relasi orang tua-anak (Hinde, 1976). Yang dimaksudkan dengan interaksi adalah suatu rangkaian peristiwa ketika individu A menunjukkan suatu perilau ke individu B, atau memperlihatkan X kepada B yang meresponsnya dengan Y.

Berdasarkan wawancara dan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap

Dokumen terkait