• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

a. Identitas Subjek

Nama : Y

Usia : 34 tahun

Alamat : Segoroyoso, Pleret, Bantul Jenis Kelamin : Perempuan

b. Hasil Wawancara

Subjek menilai dirinya mengalami perubahan fisik sehingga sekarang mengalami kesulitan untuk bepergian atau mobilitas karenamembutuhkan alat bantu. (Ft : 3-5)

Jelas tersiksa ya! Dulu bisa ke mana-mana sendiri sekarang pakai bantuan ga bisa sendiri gitu.

Subjek menilai tubuh dan penampilannya semakin menghambat aktivitasnya sehingga merasa terganggu dan risih (Ft : 7-12)

penampilan menurut saya mengganggu karena aktivitas ke mana-mana pakai kursi roda ini sedikit terhambat gitulah, untuk mau ke mana-mana kita harus jalannya sudah rata itu udah berani. mungkin agak risih.

Penilaian subjek terhadap kondisi kaki, subjek mengalami rasa sakit di bagian kakinya bahkan subjek menangis jika tidak mampu menahan rasa sakitnya. Subjek melakukan terapi sendiri dengan digerak-gerakkan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan (Ft : 15-25)

Kaki memang terasa sakit teruskan, panas, gringingen, sakit kalo sudah mulai kumat bisanya cuma nangis.

kadang saya gerak-gerakin kaki, model diterapi sendiri. Diem, paling tahu-tahu air mata keluar gitu, paling-paling megang-megang bantal nahan sakit, ngremes gitu.

Penilaian subjek terhadap benda dan harta yang dimiliki adalah subjek merasa kebutuhan tidak berubah, hanya mengganti kebutuhan yang paling penting untuk mendukung kemandiriannya. Subjek juga merasa kemandirian penting sehingga dapat membantunya dalam memenuhi kebutuhannya karena apabila tergantung orang lain pemenuhan kebutuhan seringkali tidak sesuai (Fh : 38-54)

Sebetule kebutuhan itu ga bisa berubah ya? Dari dulu sampai sekarang juga pengen. Hanya karena mungkin keterbatasan ga

bisa ke mana-mana sendiri. itu cuma nyuruh orang suka ga pas sama kemauan kita, kadang juga jengkel. kalo motor karena dulu saya juga punya motor, karena emang saya kerja dulu, karena saya begini, saya pikir belum butuh sekali, saya ganti yang saya bener-bener akhire yang saya bisa mandiri, kayak mesin cuci, untuk yang ngliwet, biar bisa akses tanpa butuh bantuan orang seminimal mungkin untuk mempermudahkan saya mobilisasi aktivitas.

Penilaian terhadap ketidakmampuan dan keterbatasan fisiknya adalah subjek merasa menjadi tidak mampu beraktivitas seperti sebelum

mengalami paraplegia. Hal tersebut mempengaruhi secara emosional sehingga subjek memiliki perasaan marah, jengkel, putus asa, ingin

bunuh diri, dan merasa tidak berguna (Ft : 57-63)

jelas emosi, marah, biasanya, aku itu marketing. marketing itu khan mobilingnya bisa dibilang besar, setelah begini, ya pernah juga trauma, mangkel, pernah putus asa mau bunuh diri, pernah aku punya pikiran kayak gitu, karena merasa ga berguna

Penilaian subjek terhadap emosinya adalah adanya perasaan sedih. Subjek akan menangis bila merasa sendiri atau teringat situasi atau aktivitas sebelum mengalami paraplegia, seperti jalan-jalan. Hal ini memicu timbulnya perasaan jengkel atau marah, trauma, bahkan pernah ingin bunuh diri (Ee: 59-61, 64-76)

setelah begini, ya pernah juga trauma, mangkel, trus pernah putus asa mau bunuh diri, pernah aku punya pikiran kayak gitu. aku lagi sendiri, ga ada teman, atau apa, itu suka emosi, suka bayangi, makanya sekarang saya jarang nonton tv, kalo liat tv pada jalan, saya males, karena mangkel gitu. umpamanya cerita tentang malioboro. biyen aku kesana-sana trus ke obyek wisata. maka kalo tv ku males, maka kalo tv

yang tak pilih biasanya berita, apa film-film, tapi emang aku jarang nonton tv semenjak ini.

Penilaian subjek terhadap perasaannya dianggap stabil karena memiliki motivator dan kontrol dalam figur seorang anaknya. Subjek merasa kasihan kepada anaknya bila perasaannya labil. Penilaian orang lain juga mengatakan bahwa subjek stabil (Ee : 78-84)

kalo saya bisa dibilang stabil soale punya motivasi, anak. Kalo aku susah terus, nanti anakku piye? Kalo aku diliat dari orang-orang yang pada ngomong, stabil.

Penilaian subjek untuk menjadi kemandirian bahwa dirinya belum sepenuhnya bisa mandiri untuk hal-hal tertentu, tetapi subjek berusaha untuk mampu mandiri agar tidak membebani orang lain (e : 87-100)

Mandiri secara full belumlah, masih perlu bantu bantuan juga kayake, tapi memang aku berusaha mandiri untuk diri aku sebisa mungkin caranya, tidak terlalu membebani orang gitulah, kayak mencuci baju sudah bisa sendiri, mencuci piring sudah bisa sendiri, masak, masak nasi, mandi sudah bisa sendiri tapi untuk transfer saya masih butuh bantuan. Keluar pun karena akses belum bagus, jalanannya masih belum rata, masih perlu bantuan juga

Subjek memiliki perasaan merasa cemas terhadap masa depannya karena status subjek yang singel parent sehingga khawatir tidak mempunyai cukup penghasilan untuk membiayai pendidikan anak. Meskipun saat ini subjek telah berusaha untuk memperoleh penghasilan dengan membuat kerajinan, yang pernah diajarkan oleh LSM seperti dompet atau boneka, tetapi subjek memiliki kecemasan

sebab belum memperoleh pasar yang pasti terhadap produk-produk kerajinannya tersebut walaupun sudah menghubungi pihak-pihak tertentu yang memungkinkan. Subjek merasa terkurangi bebannya jika sudah mendapatkan pasar untuk kerajinannya. (Ec : 111-141)

karena saya singel parent, nanti kedepannya anak saya membutuhkan lebih banyak lagi biaya. emang saya kerja, tapi hasilnya cuma untuk makan, untuk nanti anakku bagaimana yang tak pikir, apa aku bisa menyekolahkan anakku sampai tinggi, minimal SMA, bisa ga?

sampai sekarang ini masih berjuang di pekerjaanku itu PMI memberikan kegiatan kerajinan, aku sudah menggebu-gebu pengen sekali, tiba-tiba mereka marketnya belum ada gimana ya? Aduh trus mundur lagi aku. jadi masih masih masih maju mundur, pengen maju tapi kalo kayak aku gimana caranya cari market? kemarin aku juga berusaha cari market, jadi aku telpon temenku kantor, sampai sekarang ga ada kabar. Aku di sini juga berusaha gitu untuk kontak. kerajinannya seperti itu boneka-boneka, tas, dompet.

Subjek menilai bahwa dirinya masih merasa sangat trauma terhadap gempa, terutama jika ada kondisi yang mirip dengan gempa seperti truk berat lewat. Subjek biasanya akan merasa detak jantung bertambah kencang dan terdiam. Namun demikian subjek akan berzikir untuk mengurangi rasa takut kemudian akan minum jika sudah tenang (Ee : 143-52)

trauma masih aja mas, apalagi ada lindu atau ada gempa, aku dengar suara truk lewat aja masih ketakutan. ini biasanya deg-degan, karena aku muslim biasanya zikir, gitu aja trus agak enakkan baru minum

Penilaian subjek terhadap kesedihan dan kecemasan yang dialami yakni subjek merasa punya kesedihan dan kecemasan akibat kondisi kelumpuhan yang dialaminya. Subjek berusaha mengantisipasi perasaan tersebut dengan menjalin relasi dengan teman-teman melalui

handphone agar tidak kesepian dan membaca komik (Ee:154–166) Kesedihan, kecemasan antisipasinya mungkin sekarang jaman modern ada telpon, sms, ngonteks yang lain-lain.

ketimbang ininya ga punya omongan gitu lho ga ngomong pake mulut tapi ngomong pake [ketawa] sama aja khan? paling-paling suka baca-baca buku atau komik-komik

Pengalaman subjek terhadap perasaan rendah diri dan putus asa yakni subjek merasa sebelum masuk ke Pusat Rehabilitasi Yakkum memiliki perasaan rendah diri dan putus asa hingga ingin bunuh diri. Tetapi setelah dirawat di Pusat Rehabilitasi Yakkum, subjek merasa tidak sendirian sebagai korban gempa yang mengalami paraplegia

dan merasa lebih percaya diri dan pasrah dengan kondisinya. (Ee : 168-188)

sebelum masuk Yakkum aku putus asa, gini gini [mengeluh, putus asa]. Setelah masuk Yakkum aku merasa ga ndeweni

[merasa sendiri], banyak yang begitu juga. mereka dari keterampilannya biasa gitu, kenapa aku pake gitu...setelah dari Yakkum aku merasa timbul percaya diri...

ya pikiran (bunuh diri), tapi waktu itu ngeliat pisau udah mau ngambil udah mau tak gini gitu lho [memperagakan memotong urat nadi], mungkin karena setannya belum dateng aja kali, kemudian anakku dateng “ibu!” kemudian aku denger dia bilang ibu itu ya ampun kok ya aku.

kalo diri yo wis ngene yo ngene [sudah begini ya begini] udah

arep piye meneh[mau bagaimana lagi]? Hanya bedanya dulu

mlaku [jalan] sekarang nglinding [menggelinding] ngono wae

[begitu aja]

Kesiapan subjek untuk kembali ke masyarakat, subjek merasa siap karena subjek merasa masyarakat dapat menerima dirinya (Sk:191-193)

sepertinya saya siap

syukur, masyarakat pada nerima

Penilaian subjek terhadap masyarakat bahwa masyarakat dianggap dapat menerima diri kondisinya yang sekarang (Sk : 193)

soale saya syukur syukur sih masyarakat pada nerima

Subjek menganggap ligkungannya kurang mendukung untuk pengguna kursi roda sehingga menghambat aktivitasnya, misal jalan yang kurang rata. (Sn: 8-10)

Karena aktivitas kemana-mana pakai kursi roda ini khan sedikit terhambat, kalo jalannya udah ga rata udah ga berani Subjek menilai masyarakat menerima dirinya. Subjek merasa

masyarakat mendukungnya dan memberi semangat bagi kesembuhannya, bahkan perhatian yang diberikan dianggap lebih

banyak dibanding sebelum subjek mengalami paraplegia (Sk :197-218)

kayake mereka malah mendukung, men-support, kasihan,” mereka pasti ngomong begitu “mbak yuni semangat ya”,

memberi semangat “ pokoke mbak pasti sembuh “. ngga ada yang ngomong ngenyek [mengejek]

Pokoke mereka mendukung kok. Kalo masalah sosial aku baik-baik aja

sebelum kayak gini aku ga seberapa ini, tapi sekarang mereka tambah keliatan sayang

Pandangan subjek terhadap lawan jenis yakni subjek merasa masih mempunyai perasaan yang sama (suka) terhadap lawan jenis, walaupun terkadang membuat subjek merasa rendah diri jika lawan jenis sudah mengajak ke jenjang yang lebih serius karena subjek merasa akan menjadi beban bagi pasangannya. Subjek sekarang ingin menjalin relasi dengan lawan jenis sebatas sebagai teman saja,kalau pun ingin hubungan yang lebih serius maka subjek ingin pasangannya bisa menerima kondisinya (Sl: 223-250)

Mungkin kalo perasaan hati masih sama. Maksude kalo aku seneng sama si A ya pengennya dia deket ma aku. Tapi di sisi lain, seumpamanya dia yang mau lebih jauh, aku mikir, aku tu perempuan, hak kodratnya ngurus, apa bisa aku kalo diajak serius. Aku setengah mikir apa bisa? seumpama nanti aku hamil kepiye [bagaimana]? Ngurus bayi khan ga gampang kadang bikin down [menyerah]...

sebatas friend [teman] gitu aja, tapi mungkin yang tak pingini dia mau menerima keadaanku

Subjek merasa memiliki hubungan yang baik dengan keluarga. Meskipun saudara subjek yang kesemuanya laki-laki kurang perhatian tetapi menurut subjek laki-laki memang kurang peduli dan saudaranya sudah punya keluarga sendiri-sendiri. Selain itu sikap saudaranya tersebut sudah sudah terjadi sebelum subjek mengalami kelumpuhan

sehingga bagi subjek tidak masalah. Subjek merasa bahwa dirinya yang harus beradaptasi dengan kondisinya. (Sk :258-281)

Baik tapi aku khan bertiga bersudara, aku cewek sendiri, tahu sendiri cowok-cowok agak kurang peduli, cuek. apalagi mereka udah berkeluarga, mereka mikirin keluarga sendiri to? Aku sedihnya mereka ga pernah peduli sama aku, kalo aku ga minta tolong. Mbok liat adiknya ga bisa keluar ke mana jalan, mbok pleserannya dibikini? Kalo aku ga nih eh {mengeluh] ga. malah yang sering memperhatikan aku justru orang lain. mungkin aku harus lebih kuat tegar, iki pikirono dewe, lha kuwi piye carane

Hubungan dengan teman sependeritaan, menurut subjek baik sehingga dapat saling dukung dan berbagi pengalaman. Subjek merasa senang sekali karena adanya kesempatan untuk bertemu teman sependeritaan yang difasilitasi oleh LSM (Sp : 283-297)

Baik, saling dukung. PMI setiap jumat 2 minggu sekali kita kumpul, seneng banget kalo dikumpulkan gitu. kita bisa cerita pengalaman kita , “ piye nek sikile lagi loro, wah aku ngene ngene ngene” gitu “wah aku mesti nangis...wis tak gebuki bojoku” cerita-cerita gitu enake didengerin. Apa yang dirasa paraplegi, dipunya paraplegi to? Jadi ada yang sakit,

gringingen, ada yang spastic, ada yang gitu to? ada yang cerita ngompolan, ngisingan. jadi kalo kita ngumpul kayak ada semacam konferensi [tertawa] “piye ngonmu? Piye udah bisa ereksi?

Subjek menilai hubungan dengan dengan orang yang tidak menderita paraplegi membuat subjek merasa terdukung dan memberi semangat bagi kesembuhan subjek. Mereka pun menjadi lebih memperhatikan subjek daripada sebelum mengalami kelumpuhan (Sk :197-218)

kayake mereka malah mendukung, men-support kasihan. “mbak yuni semangat ya? Gini gini” mereka pasti ngomong begitu, memberi semangat “pokoke mbak pasti sembuh. ngga ada yang ngomong ngenyek [mengejek]. Pokoke mereka mendukung Kalo masalah sosial aku baik-baik aja. sebelum aku kayak gini ga seberapa ini, tapi sekarang mereka tambah keliatan saying.

Pengalaman menjalankan aktivitas agama masih dilakukan subjek dengan baik. Subjek masih melaksanakan sholat dan membaca Al Quran, walaupun sekarang aktivitas keagamaan banyak dilakukan di rumah dan tidak terlalu dipaksakan sesuai dengan kondisi tubuh. Misal subjek tetap puasa jika merasa mampu melakukannya (Ma : 300-312)

aktivitas agama masih sholat, baca quran, puasa. tapi karena lagi sakit ga usah puasa dulu. kalo dulu aku khan

pengajian ikut ke mana-mana, sholat di mushola, ngaji di depan guru. kalo sekarang terbatas, sendiri, sholat, ngaji di rumah. pengajian ya denger kalo ada yang lagi di masjid pake pengeras suara

Penilaian terhadap nilai-nilai hidup yang dianut yakni bahwa subjek memiliki motto berjiwa besar dan pantang menyerah. Subjek selalu mengingat jika merasa tidak berdaya. Motto tersebut membantu subjek untuk mencari solusi apabila muncul masalah. Jika solusi tidak ditemukan subjek akan berdiam diri dan membaca buku atau mendengarkan radio, bahkan akan menangis (Mi : 319-336)

motto dari dulu berfikir berjiwa besar, pantang menyerah. kalo aku nglokro ga harus sampai down, cari solusi. lagi sedih,

bunek, temenku banyak sms kalo lagi pas ga ketemu nggondok

diem, paling baca buku, denger radio

Penilaian subjek terhadap Tuhan adalah bahwa subjek pernah menyalahkan Tuhan dengan membandingkan orang lain terhadap dirinya. Akan tetapi subjek merasa yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana terhadap dirinya, sehingga subjek mencoba sabar terhadap pengalaman-pengalaman yang tidak enak yang harus dihadapinya. Subjek tidak terlalu menyalahkan Tuhan, buktinya subjek masih meminta kesembuhan padaNya walaupun sampai sekarang belum diberikan (Ma : 341-370)

aku juga pernah ngomong sama kyai, apa salahku sampai dihukum seberat ini, suami meninggal, rumahku berantakan, aku kayak begini. Apa boleh aku menilai Tuhan itu tidak adil? mereka berkelakukan ga baik ga papa, rejekinya malah bertambah, gimana to? Trus aku diomongi, “berpikir positif itu ujian dari Tuhan, nanti liat saja selanjutnya akan diganti dua kali lipat”.

c. Hasil Observasi 1) Aspek Fisik

Observer 1 : secara fisik subjek terlihat memilliki berat tubuh lebih atau gemuk sehingga subjek sangat berat untuk bergerak, tetapi subjek selalu berusaha untuk duduk. Subjek juga belum lancar untuk melakukan transfer, seperti dari kusi roda ke toilet,

sehingga membutuhkan bantuan orang lain. Subjek lebih banyak diatas tempat tidur.

Observer 2 : Subjek tampak sedang tiduran di tempat tidur. Ekspresi wajah subjek terlihat cerah. Subjek jarang mengeluhkan kondisi fisiknya. Subjek terlihat jarang keluar dari kamar. Barang yang ada di sekitar tempat tidur: kursi roda, hasil kerajinan, telepon seluler/handphone, Al Quran

2) Aspek Psikis

Observer 1 : Subjek tampak senang ketika peneliti datang. Subjek kemudian menanyakan kabar orang yang pernah datang bersama peneliti. Subjek juga bercerita tentang gosip-gosip korban gempa lainnya dan tampak bahagia.

Observer 2 : Subjek tampak tenang, cenderung ceria dan sering bercanda. Subjek tampak menceritakan kondisinya dan pengalaman mengalami gempa dengan terbuka.

3) Aspek Sosial

Observer 1 : Subjek tampak akrab dengan tetangga yang sesekali membantu di rumahnya, misal menanyakan apakah sudah makan siang, meminta untuk makan dahulu. Kamar mandi cukup akses untuk subjek. Letak rumah berdekatan dengan tetangga.

Observer 2 : Subjek tinggal berdua bersama ibunya,sedang anaknya tinggal di rumah adiknya. Subjek jarang sekali keluar rumah. Subjek terlihat sering berkomunikasi dengan teman-temannya dengan menggunakan handphone dan bahkan berupaya untuk mencari nafkah dengan bantuan handphone tersebut. Lingkungan cenderung kurang akses untuk pengguna kursi roda karena banyak turunan tajam yang membahayakan di depan rumah.

4) Aspek Moral

Observer 1: subjek menghentikan perbincangan dengan peneliti dan meminta diri untuk bersholat,walaupun hanya di atas tempat tidur, sambil duduk.

Observer 2 : Subjek terlihat taat beribadah (sholat) sesuai waktunya. Bahkan subjek juga terlihat tekun mendalami agama, dimana di samping tempat tidurnya terlihat kitab suci Al Quran yang dibacanya tiap hari.

d. Kesimpulan Tes Grafis

1) Fisik : secara fisik, subjek memiliki dorongan yang kuat dalam motorik akan tetapi subjek memiliki konflik di daerah kaki

sehingga subjek menjadi tergantung, merasa tidak mampu ingin selalu ditolong atau dibantu.

2) Emosi : subjek memiliki perasaan yang dapat menentramkan diri, ambisi kuat namun demikian subjek masih memiliki trauma, hal ini yang membuat subjek cenderung mudah tersinggung. Subjek secara emosional merasa tidak aman, depresi, tidak stabil. subjek tidak mau mengakui kenyataan, kurang afeksional, butuh perhatian dan butuh tergantung. Ini diwujudkan subjek dalam bentuk erotis oral

3) Relasi Sosial : subjek mudah menyesuaikan diri, optimis dan respek terhadap lingkungan hal ini mungkin disebabkan karena subjek tidak memiliki kecemasan, percaya diri dan cenderung ekstrovet. Pergaulan subjek bagus karena memiliki ketajaman dalam pengamatan, mau bekerja keras, mau berkorban untuk orang lain walaupun terkesan memaksakan diri dan tidak efisien. Subjek tidak ada hambatan dalam hubungan sosial dan memiliki adaptasi cukup baik, akan tetapi subjek menekankan masa lalu dan ke dalam sehingga pikiran kacau suka menyerang. Hal ini yang menyebabkan subjek menutup diri, menolak ketergantungan, menekankan permusuhan , konflik dengan orang lain dan menolak berhubungan sosial subjek memiliki peranan

yang besar dalam hidupnya, hal ini menyebabkan subjek cenderung dominan, namun demikian subjek kurang berani mengaktualisasikan diri dan tergantung. Akibatnya perhatian subjek lebih pada diluar keluarganya. Dalam keluarga, persepsi terhadap ibu dan pelindung baik, namun subjek kurang diterima oleh ibu. Sedangkan figur ayah menunjukkan figur otoriter, menguasai, galak, kurang memberi kesempatan pada subjek, namun demikian subjek merasa lebih dekat dengan ayah

4) Kognitif : subjek memiliki keteraturan proses berpikir dan kontak sesuai dengan realitas teoritis statis sehingga dorongan berprestasi kurang. Subjek kurang bisa menerima kritik dan pendapat orang lain karena masih kurang matang.

e. Dinamika Tiap Aspek pada Subjek 1) Fisik

Secara umum, subjek memiliki gambaran yang negatif terutama tentang tersiksanya subjek karena perubahan fisik yang dialaminya, terganggu dan risih dengan penampilan yang baru, dan subjek pernah putus asa dengan perubahan fisiknya. Namun demikian, subjek cukup memandang positif barang dan benda-benda yang dimilikinya, walaupun subjek tetap memiliki prioritas

terhadap kebutuhannya sendiri. Sisi positif, subjek tampak semangat dan berusaha sendiri untuk melayani diri, walaupun subjek juga kurang mampu secara fisik untuk melakukan hal-hal tertentu seperti transfer.

2) Psikis

Subjek masih memiliki gambaran negatif tentang dirinya, dimana subjek masih merasa sedih sehingga sering terwujud dalam perilaku menangis dan marah. Subjek pun merasa bahwa dirinya masih belum cukup mandiri. Pengalaman gempa membuat subjekmenjai trauma, terutama dengan suara yang mengagetkan. Subjek juga merasa cemas terhadap masa depannya, dimana subjek cemas tidak mampu membiayai pendidikan anak karena perannya sebagai singel parent. Sedangkan gambaran positif tentang diri subjek yaitu bahwa kondisi emosi dinilai cukup stabil.Hal ini karena subjek memiliki anak yang berperan sebagai motivator dan fungsi kontrol emosi subjek. Subjek juga memandang dirinya tidak lagi merasa rendah diri dan putus asa setelah adanya pengalaman memperoleh perawatan dan bertemu dengan sesama penderita paraplegia akibat gempa.

3) Sosial

Subjek memiliki pandangan negatif menyangkut hubungan dengan lawan jenis. Subjek kadang kala memiliki perasaan rendah diri karena adanya ketakutan akan menjadi beban orang yang ingin menjalin hubungan dengannya. Namun secara umum subjek memiliki gambaran positif terhadap keluarga dan masyarakat. Subjek menilai hubungan dengan keluarga tetap terjalin baik, meskipun saudaranya dirasa kurang perhatian tetapi dianggap lumrah karena subjek menilai perilaku tersebut sudah ada sejak subjek belum mengalami paraplegia. Hubungan dengan masyarakat, terutama yang bukan penderita paraplegia juga terjalin baik, bahkan subjek menilai mereka lebih memberi perhatian. Hubungan dengan sesama penderita paraplegia juga dipandang penting karena dapat berperan untuk saling memberi dukungan dan penguatan.

4) Moral

Subjek memiliki pandangan positif terhadap nilai dan prinsip hidupnya. Subjek memiliki motto hidup berjiwa besar dan pantang menyerah yang memberinya kekuatan. Subjek juga memandang bahwa musibah yang dialaminya merupakan bagian dari rencana Tuhan sehingga Tuhan tidak perlu disalahkan. Hal

ini terwujud dalam perilaku subjek yang tetap menjalankan aktivitas agama (sholat) walaupun dilakukan di rumah.

2. SUBJEK II

a. Identitas Subjek

Nama : SP

Usia : 41 th

Alamat : Kotesan, Prambanan Jenis Kelamin : Laki-laki

b. Hasil Wawancara

Penilaian subjek terhadap perubahan kondisi fisik bahwa subjek

Dokumen terkait