• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan membahas hasil penelitian yang berisi tentang: proses pengembangan buku mewarnai “25 TON” dalam konteks pendidikan konservasi untuk siswa kelas III (tiga) SD Negeri No 078457 Fulolo, deskripsi kualitas buku mewarnai “25 TON” untuk membantu persepsi siswa kelas III (tiga) SD Negeri No 078457 Fulolo pentingnya merawat dan melestarikan tanaman obat, dan pembahasan berkaitan dengan hasil penelitian. Peneliti akan menguraikan hasil penelitian dan pembahasan tersebut sebagai berikut:

4.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini peneliti menjelaskan mengenai enam tahapan yang dilakukan menurut Sugiyono. Hasil penelitian meliputi: potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain dan uji coba produk.

4.1.1 Potensi dan Masalah

Kabupaten Nias Barat terkenal dengan kekayaan alam berupa tanaman obat. Keberadaan tanaman obat memiliki dampak positif terhadap masyarakat. Masyarakat dapat memanfaatkan tanaman obat sebagai bahan pengobatan ketika menderita sakit yang sudah berlangsung turun temurun. Jenis tanaman obat dengan bentuk dan ukuran yang berbeda menjadi potensi yang disoroti oleh peneliti.

Peneliti sebagai warga masyarakat di Kabupaten Nias Barat, melihat bahwa minimnya kesadaran masyarakat daerah mengenai pentingnya

mengkonservasi tanaman obat dikarenakan minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakan mengenai tanaman obat tradisional itu sendiri. Minimnya pengetahuan dan pemahaman tersebut merupakan akibat dari kurangnya sosialisasi pengenalan dan kegunaan tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional.

4.1.2 Pengumpulan Data

4.1.2.1 Data Kuesioner Pra Penelitian untuk Siswa

Peneliti memperkuat hasil pengamatan dengan menyusun kuesioner pra penelitian mengenai jenis-jenis tanaman obat, manfaat tanaman obat bagi masyarakat, pentingnya melestarikan tanaman obat, keadaan tanaman obat di lingkungan masyarakat, upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengkonservasi tanaman obat dan sarana yang diperlukan untuk menyadarkan masyarakat pentingnya mengkonservasi tanaman obat. Kuesioner dibagikan kepada 25 siswa kelas III (tiga) dan 13 guru SD Negeri No. 078457 Fulolo. Kuesioner analisis kebutuhan ini dimaksudkan untuk mengetahui kebutuhan terhadap buku mewarnai.

Kuesioner dibagikan kepada 25 siswa kelas III. Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada siswa yang sebelumnya instrumen kuesioner telah divalidasi oleh dosen ahli. Kuesioner berisi 12 pertanyaan yang berhubungan tentang kebutuhan siswa akan adanya buku mewanai sebagai alat bantu untuk lebih mudah dalam mempelajari, peduli, dan mau melestarikan tanaman obat.

Hasil kuesioner yang peneliti dapatkan dari siswa yaitu 100% siswa menyatakan mengetahui bahwa di lingkungan tempat tinggalnya terdapat jenis-jenis tanaman obat, 100% siswa menyatakan mengetahui bahwa

masyarakat jarang menggunakan obat-obatan tradisional, selanjutnya 100% siswa menyatakan bahwa di lingkungannya tanaman obat tidak dipelihara dengan baik, dan 100% siswa memerlukan buku mewarnai untuk membantu mereka mengenal, sadar, dan mau melestarikan tanaman obat.

Tabel 4.1 Data Presentase Kuesioner Pra Penelitian untuk Siswa

No Pernyataan

Jawaban Siswa

Presentase Ya Tidak Ya Tidak 1 Saya tahu bahwa terdapat

tanaman di lingkungan tempat tinggal saya yang dapat dijadikan obat.

25 0 100% 0%

2 Saya mengetahui bahwa kumis kucing di lingkungan tempat tinggal saya memiliki manfaat utama sebagai obat-obatan.

25 0 100% 0%

3 Saya mengetahui bahwa kumis kucing bermanfaat bagi kesehatan.

25 0 100% 0%

4 Saya mengetahui manfaat lain dari kumis kucing selain dijadikan obat adalah dapat dijadikan sebagai hiasan di pekarangan rumah.

25 0 100% 0%

5 Saya jarang melihat orang menanam kumis kucing.

25 0 100% 0%

6 Saya mengetahui bahwa masyarakat jarang menggunakan obat-obatan tradisional.

25 0 100% 0%

7 Di lingkungan sekitar tempat tinggal saya, tanaman obat tidak dipelihara dengan baik.

25 0 100% 0%

8 Saya mengetahui bahwa salah satu cara memelihara tanaman obat adalah dengan cara merawatnya dengan baik.

25 0 100% 0%

9 Saya telah diajarkan mengenai cara memelihara tanaman obat.

25 0 100% 0%

10 Saya perlu mengingatkan teman-teman saya akan pentingnya pemeliharaan tanaman obat.

25 0 100% 0%

No Pernyataan

Jawaban Siswa

Presentase Ya Tidak Ya Tidak cara menjaga kelestarian tanaman

obat adalah dengan cara menanam tanaman obat itu sendiri.

12 Saya memerlukan buku mewarnai untuk membantu saya mengenal, sadar, dan mau melestarikan tanaman obat.

25 0 100% 0%

Tabel 4.2 Hasil Rekapan Kuesioner Pra Penelitian untuk Siswa

No Pernyataan Presentase

1 Siswa menyatakan mengetahui bahwa di lingkungan tempat tinggalnya terdapat jenis-jenis tanaman obat.

100% 6 Saya mengetahui bahwa masyarakat jarang

menggunakan obat-obatan tradisional.

100% 7 Siswa menyatakan bahwa di lingkungannya tanaman

obat tidak dipelihara dengan baik.

100%

12

Siswa memerlukan buku mewarnai untuk membantu mereka mengenal, sadar, dan mau melestarikan tanaman obat.

100%

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan siswa di atas, peneliti memilih 4 item yaitu item nomor 1,6,7, dan 12 sebagai acuan untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam membuat produk berupa buku mewarnai “25 TON”. Buku mewarnai ini, diharapkan dapat membantu siswa mengenal, menyadari, dan mau melestarikan tanaman obat.

4.1.2.2 Data Kuesioner Para Penelitian untuk Guru

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan guru di SDN No. 078457 Fulolo pada bulan Desember 2015 bahwa Bapak dan Ibu guru mengetahui jenis-jenis tanaman obat. Mereka pun menyebutkan jenis-jenis obat yang diketahuinya antara lain, cocor bebek, kumis kucing, kembang sepatu dan masih banyak jenis tanaman obat lainnya. Diantara Bapak dan Ibu guru bahkan ada yang

memiliki tanaman seperti pacar air, jahe, kunyit. Menurut penjelasan mereka bahwa tanaman ini pernah mereka gunakan pada saat mereka sakit. Tanaman pacar air dapat mengobati infeksi ginjal, dan tanaman kunyit dapat mengobati batuk.

Bapak dan Ibu guru juga mengetahui bahwa manfaat lain tanaman obat selain dijadikan bahan pengobatan, tanaman obat dapat dijadikan sebagai tanaman hias di pekarangan dan juga dapat dijadikan sayur, pewangi dan pewarna makanan. Selain itu misalnya tanaman pacar air dapat dijadikan sebagai kutek dan juga untuk menghindari ular agar tidak masuk di rumah.

Dari hasil analisis kebutuhan guru di SDN No. 078457 Fulolo, tanaman obat di lingkungan Kabupaten Nias Barat kurang diperhatikan atau kurang terpelihara dengan baik. Hal ini disebabkan minimnya pemahaman masyarakat mengenal jenis-jenis tanaman obat, dan masih banyak yang kurang paham dengan kegunaannya. Selanjutnya, Bapak dan Ibu guru menyatakan bahwa cara memanfaatkan tanaman obat yaitu dengan mengolahnya menjadi obat tradisional atau pengobatan yang alami. Masyarakat perlu melestarikan tanaman obat karena cenderung tanaman obat ini alamiah tidak mengandung bahan kimia dan mudah didapat dan juga tidak memerlukan biaya pada saat kita membutuhkannya.

Menurut Bapak dan Ibu guru di SDN No. 078457 Fulolo, salah satu cara menyadarkan masyarakat di lingkungan pentingnya melesarikan tanaman obat yaitu memulai dari diri sendiri, kemudian mengadakan sosialisasi kepada masyarakat itu sendiri.

Menurut Bapak dan Ibu guru usaha yang perlu dilakukan masyarakat adalah menanami kembali tanaman obat di halaman rumah, di kebun dan menyiramnya pada pagi hari dan sore hari, memotong atau membersihkan daun rusak, atau mengadakan lomba penanaman tanaman “Toga” (Tanaman Obat tradisional). Bapak dan Ibu guru di SDN No. 078457 Fulolo, menyatakan bahwa siswa perlu mengetahui tanaman obat agar mereka terbiasa sejak dini untuk melestarikannya dan sekaligus menggunakannya ketika dibutuhkan, sehingga pengetahuan yang mereka dapatkan sejak dini akan menjadi bekal dan menjadi pembelajaran ketika mereka menjadi dewasa.

Satu orang guru di SDN 078457 Fulolo, menyatakan bahwa ada pelajaran yang pernah mereka ajarkan memuat pengetahuan tentang tanaman obat yaitu melalui pembelajaran IPA, yaitu anak-anak diajarkan untuk mengetahui beberapa jenis tanaman dan fungsinya, sedangkan satu orang guru menyatakan bahwa tidak ada mata pelajaran yang mereka ajarkan memuat pengetahuan tentang tanaman obat.

Bapak dan Ibu guru SDN No. 078457 Fulolo mengajarkan tanaman obat pada anak dengan cara meminta anak-anak mencari atau membawa salah satu jenis tanaman yang ada di lingkungan mereka. Mereka memperkenalkan jenis tanaman tersebut dan manfaatnya, mengajarkan cara menanamnya, dan memberikan pemahaman bahwa tanaman obat perlu dirawat dan dilestarikan. Selanjutnya, Bapak dan Ibu guru SDN No. 078457 Fulolo menyatakan bahwa tidak pernah mendapat penyuluhan mengenai cara memelihara atau melestarikan tanaman obat.

Lebih lanjut Bapak dan Ibu guru SDN No. 078457 Fulolo menyatakan bahwa buku mewarnai yang bertemakan tanaman obat sangat membantu anak-anak untuk memudahkan mereka mengetahui jenis dan manfaat tanaman obat dan merawat serta melestarikannya sekaligus meningkatkan potensi mewarnai mereka. Buku mewarnai yang bertemakan tanaman obat akan menjadi sumber pengetahuan bagi anak-anak dalam menyadarkan mereka untuk melestarikan tanaman obat.

4.1.3 Desain Produk

Pembuatan produk berupa buku mewarnai dilakukan berdasarkan data analisis kebutuhan. Pembuatan buku mewarnai ini dibuat untuk siswa kelas III sekolah dasar. Peneliti mencari materi, buku serta referensi tentang tanaman obat untuk memperkaya ide dan pengetahuan. Buku mewarnai yang dikembangkan oleh peneliti gambarnya digambar secara manual, setelah itu discan dan dibuat dengan program komputer yaitu dengan menggunakan Microsoft publisher 2010 untuk isi, sedangkan untuk sampul peneliti mendesainnya menggunakan Adobe Photoshop CS3.

Selain itu, peneliti menambahkan animasi berupa gambar kartun pada isi buku sehingga terlihat menarik dan bervasiasi. Peneliti menggambar sendiri (manual) dengan tujuan agar tidak terjadi plagiarisme terhadap gambar-gambar yang sudah di publikasikan sebelumnya sekaligus untuk melatih motorik kasar dan halus ketika menggambar sendiri. Selanjutnya, peneliti menggambar secara manual dengan tujuan menanamkan pada siswa sejak dini karakter bekerja keras mengerjakan sesuatu dengan usaha sendiri

bagaimanapun hasilnya, agar siswa dapat mengetahui bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan.

Peneliti mendesain buku mewarnai yang berjudul “25 TON” (25 Tanaman Obat Nias). Buku mewarnai tersebut terdiri dari 25 gambar tanaman obat tradisional yang biasa digunakan masyarakat di Kabupaten Nias Barat. Gambar tersebut diberi keterangan berupa deskripsi singkat, penyakit yang dapat diobati oleh tanaman tersebut, dan nama tanaman tersebut dalam bahasa Latin, Indonesia, dan bahasa lokal (bahasa Nias). Peneliti mencantumkan nama tanaman dengan menggunakan bahasa Nias dengan tujuan agar siswa lebih cepat mengingat dan memahami apa yang diajarakan serta merasa dihargai sebagai orang Nias yang memiliki bahasa daerah tersendiri. Berikut desain 25 gambar dalam buku mewarnai “25 TON” (25 Tanaman Obat Nias) yang di desain peneliti secara manual.

Sarang semut Kunyit

Turi

Tapak dara Gambar 4.1: Sketsa Awal

Kembang Sepatu Kumis Kucing

Sarang semut

Kunyit

Turi Tapak dara

Selanjutnya komponen buku mewarnai yang dibuat oleh peneliti adalah sampul depan dan belakang, kata pengantar, petunjuk penggunaan buku, daftar isi, daftar pustaka, dan biodata peneliti.

Gambar 4.3 Sampul Depan dan Sampul Belakang Buku Mewarnai

4.1.4 Validasi Desain

Buku mewarnai yang telah dirancang peneliti, divalidasi oleh 2 dosen ahli yaitu ahli bahasa dan ahli farmasi, untuk mengetahui skor item-item pada setiap aspeknya. Aspek yang dinilai dari buku mewarnai tersebut adalah sebagai berikut aspek bahasa, format penulisan, isi buku kepustakaan. Berdasarkan hasil validasi dari ahli bahasa menyatakan bahwa produk berupa buku mewarnai sangat layak digunakan/diujicobakan dengan memperoleh skor 4,5. Selanjutnya, produk yang dikembangkan peneliti, mendapatkan skor 4,25 dari hasil validasi ahli farmasi menyatakan bahwa produk berupa buku mewarnai sangat layak untuk diujicobakan.

Tabel 4.3 Presentase Kelayakan Hasil Validasi Produk oleh Ahli Bahasa Presentase Skor Klasifikasi kelayakan

91% 4,5 Produk sangat layak

Tabel 4.4 Presentase Kelayakan Hasil Validasi Produk oleh Ahli Farmasi Peresentase Skor Klasifikasi Kelayakan

85% 4,25 Produk sangat layak

Hasil penilaian dari dua validator menunjukkan nilai 91% dari hasil penilaian ahli bahasa, dan 85% hasil hasil dari ahli farmasi. Berdasarkan tabel kelayakan tersebut di atas, maka buku mewarnai yang dikembangkan peneliti layak diujicobakan.

4.1.5 Revisi Desain

Peneliti melakukan revisi sesuai saran dan komentar validator yaitu: pertama memperbaiki cara penulisan nama tanaman dalam bahasa latin, kedua menambahkan pendidikan yang ditempuh peneliti pada biodata.

(1) Sebelum Revisi (1) Sesudah Revisi

(3) Sebelum revisi (3) Setelah revisi

(4) Sebelum revisi (4) Setelah revisi

Gambar 4.5 Perubahan sebelum dan setelah revisi buku mewarnai Pada saat melakukan validasi, ada beberapa masukan dari para validator yang harus diperbaiki oleh peneliti. Terdapat beberapa cara penulisan nama tanaman dalam bahasa latin yang salah atau tidak sesuai, seperti pada gambar sarang semut, cocor bebek, iler, dan masih banyak gambar tanaman lainnya yang perlu diperbaiki, di sini peneliti hanya

mencantumkan beberapa gambar untuk melihat hasil gambar yang telah digambar oleh peneliti sebelum dan sesudah revisi. Selain itu pada bagian biodata penulis, validator memberikan masukan yaitu mencantumkan pendidikan yang ditempuh oleh penulis seperti yang terlihat pada beberapa gambar di atas ini.

4.1.6 Uji Coba Produk

Uji coba produk dilakukan setelah merevisi produk sesuai dengan saran dan komentar para ahli. Uji coba produk peneliti lakukan secara tidak langsung di SDN No.078457 Fulolo pada tanggal 17 Februari 2016. Alasan peneliti tidak langsung terjun di lapangan untuk melakukan penelitian karena tempat dan jarak sangat jauh dan biaya yang dibutuhkan juga sangat banyak. Oleh karena itu, peneliti meminta bantuan kepada salah seorang guru di SDN No.078457 Fulolo untuk mengujicobakan produk yang telah dibuat oleh peneliti. Untuk memudahkan beliau dalam mengujicobakan produk tersebut, peneliti menguraikan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada saat uji coba produk. Adapun langkah-langkah kegiatan tersebut sebagai berikut:

Tabel 4.5 Langkah-langkah Kegiatan Pelaksanaan Uji Coba Produk

No Kegiatan Keterangan

1 Perkenalan Guru memperkenalkan buku mewarnai kepada siswa

2 Tanya jawab Guru melakukan tanya jawab kepada siswa mengenai tanaman obat yang siswa ketahui.

3 Pembagian buku mewarnai

Guru membagikan buku mewarnai kepada siswa secara berkelompok.

4 Kegiatan siswa a. Guru mengajak siswa melihat, mengamati gambar tanaman yang terdapat pada buku mewarnai.

b. Guru mengajak siswa membaca nama, deskripsi, dan manfaat dari tanaman yang terdapat pada buku mewarnai.

No Kegiatan Keterangan

c. Guru meminta siswa mewarnai gambar yang belum diwarnai oleh peneliti, dan menulid kembali nama tanaman tersebut. 5 Penjelasan Guru menjelaskan kembali buku mewarnai tentang

tanaman obat dan mengajak siswa untuk memelihara dan melestarikan tanaman obat yang terdapat di sekitar lingkungannya.

6 Pengisian kuesioner

Siswa diminta mengisi kuesioner persepsi siswa terhadap kualitas produk berupa buku mewarnai tentant tanaman obat.

4.1.6.1 Uji Coba Produk pada Tanggal 17 Februari 2016 di SDN No.078457 Fulolo

Peneliti melakukan uji coba buku mewarnai pada tanggal 17 Februari 2016 di desa Fulolo Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias Barat. Uji coba produk dilakukan pada siswa kelas III SDN No.078457 Fulolo dengan jumlah siswa sebanyak 25 yaitu siswa laki-laki berjumlah 15 orang, dan siswa perempuan berjumlah 10 orang. Pada kegiatan uji coba produk ini, dipimpin oleh salah seorang guru di SDN No.078457 Fulolo bernama Agusman Lahagu. Langkah-langkah uji coba tersebut adalah Bapak Agusman memperkenalkan kepada siswa buku mewarnai beserta gambar-gambar yang terdapat pada buku dan menjelaskan tentang deskripsi singkat tanaman tersebut, menjelaskan penyakit apa saja yang dapat diobati oleh tanaman tersebut, dan juga menjelaskan nama tanaman tersebut dalam bahasa Latin, Indonesia, dan bahasa daerah.

Selanjutnya, Bapak Agusman melakukan kegiatan tanya jawab mengenai tanaman obat yang diketahui siswa yang ada di lingkungan siswa. Setelah itu, Bapak Agusman membagikan siswa menjadi lima kelompok. Setiap kelompok mendapatkan satu buku mewarnai yang dibuat oleh peneliti.

Setelah itu, Bapak Agusman meminta siswa membaca kembali dan mengamati gambar tanaman yang ada pada buku tersebut. Setelah kegiatan membaca dan mengamati gambar selesai, Bapak Agusman membagikan gambar yang belum diwarnai kepada siswa untuk diwarnai. Anak-anak diberi kebebasan untuk mewarnai sesuai kreativitasnya sendiri dalam hal memilih untuk berimajinasi lewat gambar yang mereka warnai. Kegiatan diakhiri dengan membagikan kuesioner persepsi siswa terhadap kualitas buku mewarnai tentang tanaman obat. Siswa mengisi kuesioner persepsi terhadap kualitas buku mewarnai tanaman obat sesuai dengan pendapat mereka masing-masing.

Gambar 4.6 Kegiatan Pelaksanaan Uji Coba Produk 4.1.6.2 Deskripsi Kualitas Buku Mewarnai

Deskripsi kualitas buku mewarnai “25 TON(25 Tanaman Obat Nias)” didapatkan setelah mengolah hasil kuesioner persepsi siswa terhadap kualitas buku. Kuesioner persepsi siswa terhadap kualitas buku dibagikan setelah dilakukan uji coba kepada 25 siswa. Adapun hasil olah data yang didapat peneliti di SDN No.078457 Fulolo Kabupaten Nias Barat adalah sebagai berikut:

Hasil persepsi siswa terhadap kualaitas buku mewarnai adalah 4,81 jika mengikuti skala Likert menurut Masidjo (1995: 153) maka rerata skor dikategorikan sangat baik atau sangat layak.

Dari hasil analisis instrumen persepsi siswa terhadap kualitas buku mewarnai yang dikembangkan peneliti “25 TON” adalah 4,81. Hasil perhitungan ini, menggunakan skala likert menurut Widoyoko (2012:112) maka rerata skor mencapai 4,81 dapat dikategorikan sangat baik. Peneliti mengambil 4 item dari pernyataan yang terdapat dalam kuesioner penelitian untuk mengetahui tingkat presepsi siswa terhadap kualitas buku mewarnai yang dikembangkan peneliti. Peneliti melakukan rekapan dengan 4 item penting terhadap kualitas buku mewarnai. Adapun hasil rekapan tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7 Presentase Persepsi Siswa terhadap Kualitas Produk

No Pernyataan Presentase

4 Buku mewarnai “25 TON” membuat siswa ikut terlibat untuk memelihara, merawat dan

melestarikan tanaman obat 70,6%

5 Buku mewarnai “25 TON” memberikan informasi yang jelas mengenai manfaat

tanaman obat 80,2%

11 Dengan adanya buku mewarnai “25 TON” dapat membuat siswa mengenal jenis-jenis

tanaman obat 80,13%

12

Saya bangga sebagai masyarakat di Kabupaten Nias Barat yang memiliki kekayaan alam berupa tanaman obat seperti yang terdapat pada buku mewarnai “25 TON”.

80,13%

Dari hasil rekapan di atas, dapat diketahui bahwa presentase jawaban diperoleh dari nilai jumlah skor yang didapat siswa dari respon mereka tentang instrumen persepsi siswa terhadap kualitas buku mewarnai dibagi

jumlah skor maksimal, kemudian dikali 100%. Maka hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel presentase di atas.

Berdasarkan hasil validasi buku mewarnai “25 TON” yang dikembangkan peneliti dari dua dosen ahli yaitu dosen bahasa dengan memperoleh skor 4,5 dan dosen IPA memperoleh skor 4,25 maka produk berupa buku mewarnai dinyatakan layak diuji cobakan. Uji coba dilakukan pada tanggal 17 Februari 2016 di SDN No.078457 Fulolo Kabupaten Nias Barat. Hasil persepsi siswa di SDN No.078457 Fulolo setelah uji coba adalah 70,6% buku mewarnai “25 TON” membuat siswa ikut terlibat untuk memelihara, merawat, dan melestarikan tanaman obat, 80,2% siswa bangga sebagai warga masyarakat yang memiliki kekayaan alam berupa tanaman obat seperti yang terdapat pada buku mewarnai “25 TON”, dan 80,13% tersedianya buku mewarnai “25 TON” dapat membuat siswa mengenal jenis-jenis tanaman obat.

Dokumen terkait