• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Lagu Cakkelle Nassabari banyak menggunakan kata-kata kiasan sebagai simbol dalam menyampaikan tujuannya. Lagu Cakkelle Nassabari melambangkan berbagai macam hal yang ada dikehidupan orang Soppeng pada zaman dahulu.

Untuk lebih memahaminya dapat dilihat dalam uraian yang menyangkut tentang simbol yang terdapat dalam lagu Cakkele Nassabari. Sehingga dalam lirik lagu tersebut penulis menggunakan delapan prinsip Semiotika menurut Ferdinan De Sauusure untuk mengkajinya antara lain yaiitu:

a. Langue

Dalam lagu Cakkelle Nassabari penulis menemukan lima prinsip semiotika diantaranya yaitu:

1. “Nawelaina Sewo sibawa Gattareng” berarti dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa ada sebuah perkampungan yakni Kampung Sewo dan Gattareng. Dapat dilihat dari konteks kalimatnya terdapat sebuah norma karena telah ditetapkan dan tidak dapat diubah.

2. “Tau Sewoe riaseng Soppeng Riaja” yang berarti Orang Sewo disebut orang Soppeng Riaja, dalam kutipan tersebut telah dijelaskan ada aturan dahulu bahwa orang Sewoe merupakan orang Soppeng Riaja.

3. “Tau Gattarengnge iana riaseng tau Soppeng Rilau” yang berarti Masyarakat Gattareng biasa disebut masyarakat Soppeng Rilau. Dalam

kutipan tersebut telah ada dan tidak dapat diubah lagi dan berfungsi sebagai alat komunikasi verbal.

4. “Na iruntuna tau tudang riasena batue” yang artinya ditemukannya sosok manusia yang duduk diatas batu. Dalam kutipan tersebut berarti pada waktu itu ada sosok misterius yang tiba-tiba ada diatas batu.

5. “Tau manurungnge ri Sekkanyili” yang artinya salah satu tempat di Soppeng. Dalam kutipan tersebut terdapat aturan dari segala ungkapan yakni ada sebuah tempat di Soppeg yang dinamakan Latemmamala.

b. Parole

Dalam lagu Cakkelle Nassabari penulis menemukan 2 prinsip semiotika Saussure diantaranya yaitu:

1. “Mabbanua” berarti masyarakat, dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa Orang Soppeng pada saat itu telah berangkat ke suatu tempat untuk menyaksikan sesuatu. Dapat dilihat dari konteks kalimat” berangkatlah masyarakat Soppeng” Sehingga penulis berpendapat bahwa prinsip yang digunakan yaitu prinsip parole karena merupakan contoh kalimat sebuah tindakan.

2. “Latemmamala ri lamumpatue” dilantiklah Raja Latemmamala di Soppeng.

Kalimat tesebut merupakan prinsip parole karena dalam pengungkapannya bersifat individu atau bersifat pribadi yang muncul dari pilihan penutur, dari kata Raja Latemmamala di Soppeng. Parole adalah latemmamala yang merupakan suatu tempat.

36

c. Dyadid

Dalam lagu Cakkelle Nassabari, penulis menemukan lima syair yang termasuk dalam prinsip Dyadid diantaranya:

1. Pitu tau majjuja rilalengna wanuae artinya ada tujuh orang yang berada dalam sebuah perkampungan, dalam kalimat tersebut terdapat simbol

“Majjuja” yang artinya “berada” dlam komponen tanda Dyadid merupakan sebuah penanda sedangkan petandanya yaitu perkampungan. Sehingga gabungan dari dua hal penanda dan petanda ditempatkan dalam satu tersebut penulis menggunakan prinsip Dyadid karena terdapat dapat dilihat konteks kalimat “nakenna tikka tana” yang berarti terdpat kata tanah sehingga penekanan Saussure terdapat terletak pada penanda “tanah”, itu termasuk dalam dyadid, sedangkan petandanya yaitu gambar Tanah dan Petandanya yaitu sebuah tanah. Sehingga tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan.

3. Na iruntuna tau tudang riyasena batue yang artinya adanya sosok yang ditemukan duduk di atas batu. Kata “batu” merupakan prinsip dyadid. Dari

hasil penelitian penulis dapat menjelaskan bahwa kalimat “Na iruntuna tau tudang riyasena batue” merupakan sebuah contoh prinsip dyadid karena pada kata Batu sudah sangat menandakan bahwa itu merupakan sebuah penanda (signifier), dilihat pula dari penekanan yang terletak pada kata “batu” tersebut dengan ini pemahaman Semiotika Saussure dapat pula kita lihat pada, Penanda itu sendiri yaitu batu sedangkan petandanya adalah gambar batu.

4. Cakkelle Nassabari artinya yaitu burung kakak tua menjadi alasan. Dari contoh konteks kalimat tersebut menggunakan prinsip Dyadid atau yang biasa kita ketahui yaitu komponen tanda alasannya terdapat pada kata

“Cakkelle” sudah merupakan sebuah komponen petanda, cakkelle yang artinya burung kakak tua, sehingga dilihat dari penekanannya Saussure terletak pada komponen tersebut, sebagai Penandanya yaitu burung kakak tua sedangkan petandanyanya yaitu gambar kakak tua itu sendiri.

5. Ritengngana Reppunge cumpa dua cakkelle yang artinya ditengah sawah muncul dua burung kakak tua. Kalimat tersebut terdapat kata “Reppungnge”

atau biasa disebut ditengah sawah, dilihat dari kata sawah, sehingga penekanan Saussure terletak pada komponen tersebut. Itulah sebuah contoh penanda yaitu kata Sawah, sedangkan petandanya adalah gambar sebuah sawah. Itulah penjelasan dyadid keduanya saling berkaitan dan tidak pernah bisa dilepas oleh ruang lingkup tanda.

d. Triadyd

Dalam lagu Cakkelle Nassabari, penulis menemukan satu syair yang termasuk dalam prinsip Tryadid diantaranya:

38

Tau manurungnge ri sekkanyili yang artinya ditemukannya seseorang di suatu tempat merupakan prinsip triadid alasannya karena dari kata “risekkanyili”

atau biasa disebut sebagai sebuah tempat. Pada kata itu yakni “suatu tempat”

tidak bisa dipisahan dalam sebuah kampung, karena dilihat dari tanda, penanda dan petandanya ditempatkan dalam satu lingkaran. Penandanya yaitu kata manusia sedangkan petandanya yaitu gambar manusia itu sendiri. Sehingga keduanya merupakan sebuah tanda dalam prinsip Triadid.

e. Singkronik

Dalam lagu Cakkelle Nassabri, penulis menemukan tiga syair yang termasuk dalam prinsip Tryadid diantaranya:

1. Na iruntuna tau tudang riyasena batue juga termasuk prinsip Singkronik dapat dilihat dari kalimat yang artinya yaitu ditemukannya seseorang yang duduk diatas batu. Membuktikan bahwa orang terdahulu menganggap jika ada seseorang yang duduk diatas batu yaitu seorang yang mi. Namun pasa saat ini sudah biasa ketika kita melihat orang yang duduk diatas batu. penulis berpendapat dari hasil penelitian dari contoh tersbeut karena, duduk diatas batu. Saussure juga berpendapat bahwa, prinsip singkronik juga dapat kita lihat dari bahasanya.

2. Wanuae dari kata “Wanuae” yang artinya Sebuah perkampungan. Jika dikaitkan dalam prinsip Semiotika Sikronik yaitu berkaitan dengan prinsip sinkronik karena dapat dilihat dengan cara perkembangan dari masa ke masa.

Orang dahulu masyarakat menganggap bahwa Kampung itu tidak modern dan masih sangat kurang penduduknya namun sekarang sudah banyak sebuah

kampung yang masyarakatnya lebih padat dan telah memiliki barang-barang breandid atau bermerek. Adapun prinsip Singkroniknya ia hanya hanya berpusat pada satu ha; saja yaitu sebuah kampung.

3. Pitu taung majjuja rilalenna wanuae yang artinya selama tujuh tahun kampung itu mengalami kekeringan dari kalimat tersebut merupakan suatu prinsip Sinkronik karena di dalamnya terdapat sejarah atau ruang tetapi terbatas dalam waktu.

4. mappasitudang tomatoa yang artinya mengumpulkan orang-orang yang berkompeten untuk bermusyawarah tentang suatu hal. Dalam kalimat tersebut terdapat kata mappasitudang atau bermusyawarah, merupakan prinsip Singkronik dan diakronik orang terdahulu mengaggap ketika masyarakat sedang bermusyawarah tentu ada hal-hal yang penting namun sekarang bermusyawah tidak hanya membahas seseuatu. Tetapi bisa saja orang hanya duduk dua orang sudah dikatakan sedang bermusyawarah. Sehinga itu merupakan sesuatu yang sinkronik.

f. Diakronik

Dalam lagu Cakkelle Nassabri, penulis menemukan dua syair yang termasuk dalam prinsip Diakronik diantaranya:

1. Macinnong atinna tudang ri tudangengna yang artinya hatinya bersih ketika ia menduduki sebuah jabatan. Dari kalimat tersebut dapat penulis pahami bahwa prinsip yang digunakan yaitu singkronik, karena kata “ri tudangenna” dapat diartikan tempat duduk dapat pula diartikan sebagai jabatan sehingga pada zaman dahulu orang menganggap bahwa jika seorang duduk di tempat mewah

40

irtu berarti seseorang itu adalah seorang pemimpin tetapi pada saat ini tidak selamanya pemimpin bisa saja orang biasa.

2. Nairuntuna tau tudang riyasena batue yang artinya pada waktu itu ditemukan ada seseorang yang duduk diatas batu. Dari contoh kalimat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa itu menunjukkan sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi.

g. Sintagmatik

Dalam lagu cakkele Nassabari, penulis menemukan tiga syair yang termasuk dalam prinsip Sintagmatik yaitu:

1. Akkuraganna Arung Bila yang artinya usaha dari seorang raja Bila. Kalimat tersebut merupakan prinsip Sintagmatik, kalimatnya yaitu Usaha dari seorang Raja Bila, jika kalimatnya diubah maka artinya berubah pula. Seperti “raja Bila seorang dari usaha”, unsur-unsur linearnya yaitu usaha, seorang, seorang, raja, Bila.sementara prinsip paradigmatiknya yaitu kata asosiatif diatas yaitu Raja merupakan contoh dari kata lainnya yaitu Penguasa, orang nomor satu, orang terpandang.

2. Dua tanranna maraja tanae artinya dua tanda kampung itu sejahtera.

Menggunakan prinsip sintagmatik dilihat dari kata dua tanda kampung itu sejahtera. Konteks sintagmatiknya yaitu unsur-unsur linear dua tanda, kampung, itu, sejahtera. Jika susunan tersebut berubah maka berubah pula artinya seperti sejahtera itu kampung tanda dua. Sehingga memiliki sintagmatik dengan arti yang lain pula. Adapu relasi Paradigmatiknya dilihat dari kata kampung

merupakan contoh dari salah satu kata lainnya yaoitu sebuah desa, tempat menetap dan lain sebagainya.

3. Tau mapparentana maccai na malempu yang artinya orang yang memrintah pintar dan jujur. Dalam kalimat tersebut merupakan prinsip Sintagmatik dan Paradigmatik karena pada kalimat orang yang memerintah pintar dan jujur.

Unsur-unsur linearnya yaitu orang, memerintah, pintar, dan, jujur. Jika urutan katanya diubah maka artinya juga ikut berubah seperti jujur dan pintar memerintah orang sehingga memiliki arti yang lain pula.

h. Paradigmatik

Dalam lagu Cakkelle Nassabari, penulis menemukan satu syair yang termasuk prinsip paradigmatik.

Ri petangngari yang artinya (dan terpandang). Dari kata tersebut dapat dilihat kata terpandang merupakan prinsip dari paradigmatik, penulis mengambil sebagai contoh paradigmatik karena dilihat prinsip paradigmatik merupakan relasi asosiatif dari itu pula kata terpandang merupakan kata yang termasuk contoh dari kata lainnya yaitu berwibawa dan terhormat.

B. Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas hasil analisis data, pada bagian sebelumnya yang terdiri atas, langue, parole, dyadid dan tryadid, singkronik dan diakronik, sintagmatik dan paradigmatik.

Langue adalah norma, aturan dari segala pengungkapan yang sifatnya independen dari ujaran individu Saussure (1996:6). Berdasarkan penjelasan

42

tersebut ditemukan lima data. Pada hasil analis data tersebut menunjukkan fungsi langue karena data tersebut menduduki fungsi langue sebagai alat komunikasi verbal.

Hasil analisis data yang kedua yaitu parole, parole merupakan keseluruhan yang diujarkan oleh orang-orang, termasuk konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur. Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan dua data. Kedua data tersebut menunjukkan fungsi parole karena kedua data tersebut menduduki fungsi pengungkapan bersifat individu.

Analisis data yang ketiga yaitu dyadid, dyadid merupakan sebuah penanda dan petanda, yang ditempatkan dalam sebuah lingkaran yang dibatasi oleh garis, memperlihatkan bahwa kedua komponen tersebut tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan lima data.

Analisis data yang keempat yaitu tryadid, tryadid merupakan konsep sebuah tentang tanda, dan penanda merupakan citra akustik dari tanda tersebut.

Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan satu data, data tersebut menunjukkan fungsi Tryadid karena data tersebut menduduki fungsi konsep tentang sebuah tanda.

Analisis data yang kelima yaitu singkronik, singkronik merupakan prinsip saussure yang dapat diteliti dan dapat kita lihat dari bahasanya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, ditemukan empat data, keempat data tersebut menunjukkan fungsi singkronik karena keempat data tersebut menduduki fungsi kata dari bahasanya.

Hasil analisis data yang keenam yaitu diakronik, diakronik merupakan penelitian tanda dengan cara melihat perkembangannya dari masa ke masa.

Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan dua data. Kedua data tersebut menunjukkan fungsi diakronik karena data tersebut menduduki penelitian tanda dengan cara melihat perkembangannya.

Analisis data yang ketujuh yaitu sintagmatik, sintagmatik merupakan relasi antar komponen, dalam struktur yang sama. Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan tiga data. Data tersebut menunjukkan fungsi singtagmatik karena data tersebut menduduki relasi antar komponen dan memiliki struktur yang sama.

Analisis data yang kedelapan yaitu paradigmatik, paradigmatik merupakan relasi asosiatif, atau biasa disebut kata yang mewakili. Berdasarkan penjelasan tersebut ditemukan satu data, data tersebut menunjukkan fungsi kata yang mewakili.

44

BAB V KESEIMPULAN

A. Simpulan

Uraian tentang masalah makna simbolik yang terdapat dalam lagu

“Cakkelle Nassabari” suatu tinjauan semiotik saussure dengan delapan prinsip, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut :

1. Lagu Cakkelle Nassabari telah dikenal oleh warga Soppeng namun hanya sedikit yang memahami arti dari lagu tersebut, secara umum menggunakan kata-kata dan kalimat yang mengandung banyak tanda tanya bagi para pendengarnya. Sebagai contoh “na iruntuna tau tudang riyasena batue”

yaitu ditemukannya seseorang yang berbaju indah yang duduk di atas batu.

2. Makna Simbolik yang terkandung dalam lagu cakkelle Nassabari yaitu:

lagu Cakkelle Nassabari merupakan sebuah lagu yang sangat bersejarah yang didalamnya menceritakan berbagai macm peristiwa, ditemukannya seseorang yang berbaju indah, ditemukannya burung kakak tua atau biasa disebut Cakkelle. Pada peristiwa itu pula warga Soppeng menemukan solusi atas permasalahan yang melandanya pada waktu itu. Dari peristiw itu pula warga Soppeng semakin bersatu untuk melakukan perubahan agar mereka tetap bertahan hidup dari kekeringan. Dalam lagu Cakkelle Nassabari juga menceritakan bahwa seorang pemimpin itu akan bertahan

lama jika memiliki sifat yang jujur dan amanah.

3. Makna lagu Cakkelle Nassabari selain membahas tentang sejarah didalamnya juga membahas tentang pemerintahan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, penulis memberikan beberapa hal saran dalam menganalisis makna simbolik lagu Cakkelle Nassabari menggunakan suatu tinjauan analisis Semiotika Saussure yaitu:

1. Membahas masalah makna simbolik lagu Cakkelle Nassabri sangat diperlukan kefokusan dan ketelitian dan data yang benar-benar jelas karena dalam lagu tersebut memiliki masalah yang sulit untuk dipecahkan termasuk bagi penulis.dalam memahami makna lagu Cakkelle Nassabri juga perlu pemahaman yang tinggi dan pengertian terhadap lagu Cakkelle Nassabari kemudian diartika kedalam bahasa indonesia.

2. Jika ingin melanjutkan penelitian ini, pembaca sebaiknya mendalami dan mempelajari makna simbol yang terdapat pada lagu Cakkelle tersebut dari segi teori maupun contoh yang telah ada agar memahami, dan menelaah dengan baik.

46

LAMPIRAN A.

Lampiran 1

Cakkelle Nassabari

Noni mabbanua tauwe risoppeng artinya Turunlah masyarakat Soppeng Tau Sewoeriaseng Soppeng riaja

Tau Gattarengnge iana riaseng tau sopeng rilau Pitu tau majjuja rilalenna wanuae

Mate taneng-tanengnge nakenna tikka tana Ritengngana reppungnge cumpa dua cakkelle Cakkelle Nassabari

Na iruntuna tau tudang riyasena batue Tau manurungnge risekkanyili

Akkuraganna arung Bila Mappasitudang tomatoa

Rilantini Latemmamala rilampumpatue Dua tanranna maraja tanae

Tau mapparentana maccai namalempu Tau manurungnge risekkanyili

Macinnong atinna, tudang ritudangenna

Nennia ri petangngari

B.

Lampiran 2

Data dari transliterasi lagu

Diantara kampung Sewo dan Gattareng Masyarakat Sewo yaitu Soppeng Riaja Masyarakat Gattareng disebut Soppeng Rilau

Tujuh orang yang berada dalam sebuah perkampungan Tanaman-tanaman yang mati

Karena musim kemarau

Di ntengah sawah muncullah dua burung kakak tua Burung kakak tua menjadi alasan

Ditemukannya seseorang yang duduk diatas batu Tiba-tiba muncul sosok orang

Usaha seorang Raja Bila

Untuk mengumpulkan orang-orang yang berkompeten untuk bermusyawarah Dilantiklah Raja Latemmamala di Soppeng

Ada dua tanda pemerintah yang kokoh

Pemerintah yang kokoh memiliki sifat pintar dan jujur

48

Orang yang ditemukan disebuah tempat (Latemmamala) Memiliki sifat yang baik di dalam jabatannya

Dan terpandang

C.

Lampiran 3

Dokumen terkait