HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Karaktreistik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah ibu – ibu yang mempunyai anak usia 2 – 3 tahun yang menyekolahkan anaknya di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum, yang berjumlah 45 orang.
a. Karakteristik Responden berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden berdasarkan Umur
No Umur Frekuensi Prosentase (%)
1 25 – 30 tahun 16 35,55
2 31 – 36 tahun 21 46,66
3 >37 tahun 8 17,77
Jumlah 45 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.1 diatas 16 responden (35,55%) berumur 25 – 30 tahun, 21 responden (46,66%) berumur 31 – 36 tahun dan 8 responden berumur lebih dari 37 tahun. Sehingga sebagian besar responden berumur 31 – 36 tahun yaitu sebanyak 21 responden (17,77%)
b. Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Prosentase (%)
1 SD 3 6,66
3 SMA 24 53,33
4 Perguruan Tinggi 8 17,77
Jumlah 45 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui responden yang dengan pendidikan SD terdapat sebanyak 3 responden (6,66%), pendidikan SMP sebanyak 10 responden (22,22%), pendidikan SMA sebanyak 24 responden (53,33%), dan pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 8 responden (17,77%). Responden dalam penelitian ini sebagian besar berpendidikan SMA yaitu sebanyak 24 responden (53,33%).
c. Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi Prosentase (%)
1 Swasta 18 40
2 IRT 17 37,77
3 PNS 10 22,22
Jumlah 45 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel karakteristik pekerjaan responden diatas 18 responden (40%) bekerja dibidang swasta, 17 responden (37,77%) bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga dan 10 responden (22,22%) sebagai Pegawai Negeri Sipil. Jadi pekerjaan responden dalam penelitian ini sebagian besar dibidang Swasta yaitu 18 responden (40%).
Berikut ini tabel hasil analisis Tingkat Pengetahuan Ibu Multipara tentang Sibling Rivalvy di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta. Sebelum menentukan tingkat pengetahuan pada kategori baik, cukup dan kurang maka harus diketahui Mean dan Standar Deviasi (SD)
Tabel 4.4 Mean dan Standar Deviasi
Variabel Penelitian Mean Standar Deviasi (SD) Tingkat Pengetahuan
Ibu Multipara tentang Sibling
Rivalry
25,6 4,7
Sumber : Data Primer
Tabel 4.5 Distribusi Tingkat Pengetahuan Ibu Multipara tentang Sibling Rivalry di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum
Surakarta. No Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase (%) 1 Baik 6 13,34 2 Cukup 33 73,33 3 Kurang 6 13,33 Jumlah 45 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.5 di atas jumlah ibu multipara yang mempunyai pengetahuan baik tentang sibling rivalry berjumlah 6 orang dengan prosentase 13,34 %, sedangkan yang mempunyai pengetahuan cukup berjumlah 33 orang dengan prosentase 73.33%, dan yang mempunyai pengetahuan kurang sejumlah 6 orang dengan prosentase 13,33%.
C. Pembahasan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan suatu penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, penciuman, rasa dan raba, pengecapan, serta pendengaran. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognisi merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2010).
Salah satu pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang ibu multipara yang mempunyai anak balita dengan rentang usia 2-3 tahun adalah pengetahuan tentang sibling rivalry.
Sibling Rivalry dapat diartikan sebagai persaingan antara saudara kandung. Persaingan antara saudara kandung merupakan respon yang normal seorang anak karena merasa ada ancaman gangguan yang mengganggu kestabilan hubungan keluarga dengan kehadiran saudara baru (Ambarwati dan wulandari, 2008).
Sedangkan menurut Marmi (2009), menjelaskan sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki – laki dan peempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua orang anak atau lebih.
Berdasarkan hasil penelitian diatas bahwa tingkat pengetahuan ibu dari murid Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta yanhg berpengetahuan baik sebanyak 6 responden (13,34%), yang
berpengetahuan cukup sebanyak 33 responden (73,33%), dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 6 responden (13,33%).
Menurut Erfandi (2009), ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya pendidikan, pekerjaan, dan umur. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Hurlock, 2009). Berdasarkan peneliatian tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry dari murid Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta dapat dipaparkan bahwa ibu yang mempunyai karakteristik umur 25 – 30 tahun sebanyak 16 responden (35,55%), yang berpengetahuan baik sebanyak 2 responden, cukup sebanyak 11 responden dan kurang sebanyak 3 responden. Umur 31 – 36 tahun sebanyak 21 responden (46,66%), yang berpengetahuan baik sebanyak 4 responden, cukup sebanyak 16 responden dan kurang sebanyak 1 responden. Sedangkan Ibu yang mempunyai karakteristik umur >37 tahun adalah 8 orang (17,77%) dengan pengetahuan cukup sebanyak 6 responden dan kurang sebanyak 2 responden.
Menurut Erfandi (2009), pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi.
Tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry dari murid Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta berdasarkan
karakteristik pendidikan sebanyak 6 responden (6%) tamatan Sekolah Dasar, dengan pengetahuan cukup sebanyak 1 responden dan kurang sebanyak 2 responden. Tamatan Sekolah Menengah Pertama 10 responden (22,22%), yang berpengetahuan cukup sebanyak 6 responden dan kurang sebanyak 4 responden. Tamatan Sekolah Menengah Atas 24 responden (53,33%) yang berpengetahuan cukup sebanyak 24 responden. Dan sebanyak 8 responden (17,77%) adalah tamatan dari Perguruan Tinggi, dengan pengetahuan baik sebanyak 6 responden dan kurang sebanyak 2 responden.
Karakteristik yang lain yaitu pekerjaan responden yang diteliti mulai dari ibu yang bekerja (PNS dan swasta) dan ibu yang tidak bekerja (IRT). Seseorang akan lebih banyak mendapatkan informasi apabila berada dalam lingkungan pekerjaan yang mendukung. Sebanyak 28 responden ibu adalah bekerja (PNS dan swasta), dengan pengetahuan baik sebanyak 6 responden, cukup sebanyak 19 responden dan kurang sebanyak 3 responden. Sedangkan untuk ibu yang tidak bekerja (IRT) sebanyak 17 responden, dengan pengetahuan cukup sebanyak 14 responden dan kurang sebanyak 3 responden.
Berdasarkan definisi bahwa sibling rivalry adalah persaingan antara dua saudara kandung dalam memperebutkan kasih sayang dan perhatian orang tua yang telah dirasakan saat anak usia 3 tahun. Banyak balita yang kembali berperilaku regresi seperti masa kecil dulu antara lain mengompol, memukul adiknya, kembali bergantung pada botol susu,
kemudian berak dalam celana, ingin dimandikan sepeti bayi, meminta disuapi kembali,itu termasuk beberapa contoh balita dalam mendemonstrasikan sibling rivalry. Kejadian tersebut disebabkan karena orang tua terutama ibu kurang memiliki pengetahuan tentang sibling rivalry, kurangnya ibu dalam mendidik anak, terlalu memihak pada salah satu anak, karena pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal, kurangnya waktu berkumpul dengan keluarga karena orang tua terlalu sibuk, sehingga mengakibatkan terjadinya sibling rivalry.
Diharapkan ibu dengan pengetahuan yang tinggi tentang sibling rivalry ini dapat mendidik anaknya, agar dapat mengatisipasi secara dini terjadinya sibling rivalry ini, sehingga dalam keluarga tercipta suansana yang menyenangkan tanpa adanya persaingan antar saudara. Apabila sudah terjadi sibling rivalry maka ibu yang berpengetahuan tentang itu diharapkan bisa mengatasi masalah tersebut. Dengan tidak terjadinya persaingan antar saudara dirumah maka anak dapat melewati perkembangan psykologisnya dengan baik, sehingga tidak tejadi gangguan maupun hambatan yang menjadikan anak tersebut lebih cerdas, sehat, dan kreatif.
D. Ketebatasan
1. Kendala penelitian
Kendala dalam penelitian ini adalah dalam waktu untuk mengumpulkan responden tidak secara bersama – sama, sehingga peneliti harus berkunjung ke lokasi dalam beberapa hari.
2. Kelemahan Penelitian
a. Alat (kuesioner) yang yang dipakai menggunakan jawaban tertutup sehingga responden tidak dapat menguraikan jawaban selain jawaban yang tersedia.
b. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini hanya variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Penelitian ini mengambil judul “Tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta Tahun 2013”. Tingkat pengetahuan responden dapat disimpulkan sebagai berikut :
d. Tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta pada kategori baik sebanyak 6 responden (13,34%).
e. Tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta pada kategori cukup sebanyak 33 responden (73,33%).
f. Tingkat pengetahuan ibu multipara tentang sibling rivalry di Taman Kanak – Kanak Sri Juwita Hanum Surakarta pada kategori kurang sebanyak 6 responden (13,33%).
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Tingkat Pengetahuan Ibu Multipara tentang Sibling Rivalry, maka saran yang dapat penulis diberikan adalah sebagai berikut :
1. Bagi Institusi PAUD
Diharapkan institusi PAUD dapat kerjasama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi tentang sibling rivalry kepada orang tua murid.
2. Bagi Responden
Diharapkan dapat lebih mendalami dan menambah informasinya tentang sibling rivalry agar dapat mengantisipasi terjadinya sibling rivalry.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat dijadikan sebagai literature atau bahan bacaan khususnya tentang sibling rivalry.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengembangkan variabel penelitian, sampel dan kuesioner penelitian.