HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Faktor pengontrol gerakan tanah
Pembahasan mengenai faktor pengontrol terjadinya gerakan tanah terdiri dari data geologi antara lain morfologi, jenis litologi, dan struktur geologi yang bekerja pada daerah penelitian.
a. Litologi
Litologi daerah penelitian terdiri atas satuan granit. Satuan granit ini termasuk batuan intrusi tertua di daerah penelitian yang berumur Miosen Akhir (Apandi dkk, 1997), dan merupakan bagian dari pada kontinen Sulawesi yang mengintrusi batuan alas batuan metamorf sekis dan granulit.
Batuan beku granit ini diperkirakan merupakan batuan dasar gunungapi purba Limboto – Gorontalo, hal ini ditunjukkan oleh kehadiran fragmen-fragmen granit dalam breksi vulkanik di daerah sekitar pelabuhan Gorontalo.
Secara fisik batuan granit di lokasi penelitian menunjukan kenampakan lapangan berwarna terang, segar berwarna abu-abu keputihan, lapuk berwarna putih kecoklatan, tekstur faneroporfiritik, ortoklas sebagai mineral fenokris (Foto 4.6)
Foto 4.6. Singkapan batuan granit pada lokasi penelitian
b. Morfologi
Morfologi daerah penelitian memiliki kemiringan lereng 65 -80 derajat dengan beda tinggi antara 6 – 15 meter. Morfologi ini termasuk dalam satuan bentangalam perbukitan tersayat tajam. Kenampakan di lapangan menunjukan sebagian blok-blok batuan berpotensi bergerak ke bawah dengan jatuh bebas (Foto 4.7). Ciri-ciri gerakan tanah seperti ini termasuk dalam jenis gerakan tanah rock falls (Karnawati, 2005).
c. Struktur Geologi
Kondisi geologi penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi penelitian ini yakni di jumpainya kekar pada litologi granit sebagai penciri adanya pengaruh struktur geologi yang bekerja. Adapun data pengukuran kekar di lapangan disajikan pada (tabel 4.1).
Foto 4.7. Lereng terjal dengan kemiringan 60 – 70 derajat
No Strike Dip Spasi Isian Bukaan Panjang
1 41 49 8 cm - 3 cm 20 cm
2 300 68 12 cm - 2 cm 18 cm
3 50 63 - 1 cm 40 cm
4 300 70 5 cm - 1 cm 42 cm
5 49 71 - 1 cm 16 cm
6 309 71 8 cm - 1 cm 17 cm
7 45 75 - 2 cm 15 cm
8 310 68 11 cm - 4 cm 38 cm
9 48 65 - 2 cm 30 cm
10 305 72 - 2 cm 25 cm
11 46 57 10 cm - 1 cm 27 cm
12 307 71 - 3 cm 15 cm
13 42 62 13 cm - 3 cm 39 cm
14 318 69 - 3 cm 23 cm
15 45 60 6 cm - 3 cm 16 cm
16 312 71 15 cm - 2 cm 12 cm
17 44 67 10 cm - 2 cm 17 cm
18 329 78 10 cm - 1 cm 16 cm
19 47 61 4 cm - 1 cm 20 cm
20 323 76 - 5 cm 30 cm
21 48 70 - 1 cm 15 cm
22 330 72 12 cm - 1 cm 20 cm
23 45 60 - 1 cm 28 cm
24 336 68 - 3 cm 17 cm
25 40 55 8 cm - 3 cm 20 cm
26 340 73 - 3 cm 18 cm
27 38 70 8 cm - 2 cm 30 cm
28 334 76 - 3 cm 25 cm
29 34 55 10 cm - 1 cm 10 cm
30 337 74 1 cm 54 cm
31 31 63 6 cm 3 cm 15 cm
32 348 72 10 cm 2 cm 20 cm
33 55 70 3 cm 16 cm
34 345 73 5 cm 1 cm 20 cm
35 51 78 3 cm 27 cm
36 341 67 8 cm 1 cm 35 cm
37 60 73 5 cm - 2 cm 30 cm
38 343 65 10 cm - 1 cm 65 cm
39 58 77 10 cm - 5 cm 40 cm
40 348 66 11 cm - 4 cm 55 cm
41 56 62 - 1 cm 52 cm
42 344 70 9 cm - 5 cm 20 cm
43 70 66 - 3 cm 50 cm
44 345 70 7 cm - 3 cm 50 cm
45 75 68 - 1 cm 27 cm
46 350 73 6 cm - 2 cm 24 cm
Tabel 4.1 . Data kekar pada Daerah Leato
Gambar 4.2. Diagram kipas dengan arah tegasan maksimum N 15oE dan arah tegasan minimum N 75oE.
INTERVAL
KELAS FREKUENSI INTERVAL
KELAS FREKUENSI
( N…o E) TURUS JUMLAH ( N…o W) TURUS JUMLAH
0 – 10 - 0 0 – 10 - 0
11 – 20 - 0 11 – 20 IIIII IIIII 10
21 – 30 - 0 21 – 30 IIII 4
31 – 40 IIII 4 31 – 40 III 3
41 – 50 IIIII IIIII II 12 41 – 50 II 2
51 – 60 IIII 4 51 – 60 IIII 4
61 – 70 II 2 61 – 70 II 2
71 – 80 III 3 71 – 80 - 0
81 – 90 - 0 81 – 90 - 0
Tabel 4.2 . Frekuensi kekar Daerah Leato
Hasil pengukuran kekar di lapangan, dapat ditentukan nilai RQD (rock quality designation) dari batuan. Parameter perhitungan RQD batuan yakni dilihat dari jumlah kekar/meter pada batuan yang terkekarkan.
Jumlah kekar/meter yang di ukur di lapangan tersebut kemudian dimasukkan kedalam rumus RQD menurut (Hudson, 1979) = 100 (0.1 l + 1) e- 0.1 l.
Hasil perhitungan RQD pada stasiun ini adalah jumlah kekar yakni 20 kekar/meter, berdasarkan perhitungan RQD batuan maka, nilai RQD pada ,lokasi ini adalah 40,60%, dengan demikian kualitas batuan pada stasiun ini tergolong sedang.
Dalam pengamatan kekar pada batuan granit digunakan beberapa parameter pengamatan. Parameter dalam pengamatan kekar di lapangan meliputi karakteristik bidang lemah pada sistem kekar seperti strike, spasi kekar, isian kekar, dan bukaan kekar. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
- Strike; Kekar yang arahnya searah dengan kemiringan lereng sangat mudah mengalami longsor dibandingkan dengan arah kekar yang tegak lurus dengan kemiringan lereng. Dari hasil pengukuran kekar di lokasi pengamatan diperoleh data kekar yakni strike kekar relatif searah dengan kemiringan lereng sehingga mudah mengalami longsor.
- Spasi kekar adalah jarak antara kekar yang satu dengan kekar lain yang sejajar. Semakin besar nilai spasi pada kekar, maka akan
semakin kuat ketahanan batuannya begitupun sebaliknya. Hubungan skala kekuatan batuan dengan spasi kekar dapat dilihat pada tabel berikut:
Hasil pengukuran spasi kekar pada stasiun ini yakni diperoleh jarak (5-10)cm , jika dihubungkan pada tabel 4.3 diatas maka termasuk dalam skala lemah, dengan demikian spasi kekar pada lokasi pengamatan sangat mendukung terjadinya longsor.
- Isian kekar; Kekar yang terisi oleh mineral lain dengan yang tidak memiliki isian akan berbeda kualitas batuannya. Kekar yang memiliki isian kualitas batuannya akan semakin kuat, sedangkan kekar yang tidak memiliki isian kualitas batuannya sangat lemah.
Hasil pengamatan kekar dilapangan diperoleh data kekar pada lokasi pengamatan tidak dijumpai adanya isian kekar, ini menunjukkan kondisi batuannya sangat lemah sehingga mudah mengalami longsor.
- Bukaan kekar; Kekar yang memiliki bidang bukaan, batuannya lebih lemah dibanding kekar yang tidak memiliki bukaan. Hasil pengamatan dilapangan diperoleh data kekar dijumpai adanya bukaan kekar rata-rata bidang bukaan kekar yakni 1mm-3 cm.
SKALA KEKUATAN SPASI KEKAR (CM)
Sangat kuat >300
Kuat 300-100
Sedang 100-30
Lemah 30-5
Sangat lemah <5
Tabel 4.3. Hubungan skala kekuatan batuan dengan spasi kekar, (Ritter 1986 )
Jenis kekar yang terdapat di daerah penelitian umumnya termasuk kekar terbuka. Pelapukan dan infiltrasi air tanah berjalan dengan cepat menyebabkan rawannya terjadi gerakan tanah pada lereng relatif terjal.
Kerapatan kekar cukup tinggi mencapai 20 kekar/meter (Foto 4. 8)
Foto 4.8. Struktur kekar terbuka pada batuan granit di daerah pelabuhan Gorontalo.
2. Analisis Laboratorium
Di lapangan selain pelapukan fisik (mekanis) juga ditemukan pelapukan kimiawi terhadap batuan granit. Hasil analisa laboratorium dengan menggunakan analisa XRD dan SEM pada granit yang telah mengalami pelapukan diperoleh kandungan mineral lempung berupa Zeolit, Albit, Kuarsa, Aluminium oksida, Potassium dioksida (Tabel 4.4).
Berdasarkan hasil analisis SEM terlihat bahwa batuan granit yang telah mengalami pelapukan terlihat mengalami pelapukan pada bagian tepinya (Foto 4.9).
Tabel 4.4. Hasil analisa XRD pada granit yang telah mengalami pelapukan (nomor sampel GR/RN/18).
Foto 4.9. Hasil SEM pada granit yang telah mengalami pelapukan (nomor sampel GR/RN/18).
Berbeda halnya dengan hasil analisa XRD dan SEM pada granit yang telah mengalami pelapukan, Hasil analisa XRD dan SEM untuk granit yang belum mengalami pelapukan tidak diperoleh adanya mineral lempung pada batuan granit (Tabel 4.5) (Foto 4.10)
Tabel 4.5. Hasil analisa XRD pada granit yang tidak mengalami pelapukan (Nomor sampel GR/RN/002).
Foto 4.10. Hasil SEM pada granit yang tidak mengalami pelapukan (Nomor sampel GR/RN/002).
C. Pembahasan
Daerah Leato merupakan daerah perbukitan yang didominasi oleh batuan granit. Batuan granit ini dapat ditemukan pada sepanjang jalan
menuju pelabuhan Gorontalo dalam bentuk singkapan dengan kemiringan lereng 65 – 80 derajat. Saat musim hujan terjadi, sebagian dari batuan granit jatuh dalam ukuran bongkah di jalan dan menyebabkan terputusnya jalur transportasi Gorontalo-Kotamobagu.
Satuan granit ini termasuk batuan intrusi tertua di daerah penelitian yang berumur Miosen Akhir (Apandi dkk, 1997) dan merupakan bagian dari pada kontinen Sulawesi yang mengintrusi batuan alas batuan metamorf sekis dan granulit. Batuan beku granit ini diperkirakan merupakan batuan dasar gunungapi purba Limboto – Gorontalo, hal ini ditunjukkan oleh kehadiran fragmen-fragmen granit dalam breksi vulkanik di daerah sekitar pelabuhan Gorontalo.
Secara geologi, lokasi penelitian merupakan daerah yang dilewati oleh sesar geser Leato. Hal inilah yang menyebabkan pada batuan granit banyak ditemukan kekar. Kekar adalah struktur rekahan yang terbentuk pada batuan dengan tidak atau sedikit sekali mengalami pergeseran (Billings, 1986). Jenis kekar yang terdapat di daerah penelitian umumnya termasuk kekar terbuka dengan bukaan antara 1 – 3 cm dengan kerapatan kekar mencapai 20 kekar/meter.
Kekar pada batuan sering menjadi saluran air masuk ke dalam lereng. Banyaknya kandungan feldspar dalam batuan beku menyebabkan batuan menjadi lebih mudah lapuk karena mineral feldspar (plagioklas) adalah mineral yang tidak resisten terhadap pelapukan. Air yang masuk perlahan kedalam batuan akan melapukkan bagian pinggir batuan
sehingga membentuk pelapukan mengulit bawang atau lebih dikenal dengan istilah spheroidal weathering (Foto 4.11)
Foto.4.11.Kenampakan spheroidal weathering akibat pelapukan fisik dan kimiawi di jalan pelabuhan gorontalo
Dari hasil analisis XRD pada granit yang telah mengalami pelapukan diperoleh mineral zeolite. Menurut Fisher (1984) mineral zeolite kurang reaktif atau kurang peka terhadap rangsangan air tanah untuk berubah volume atau pemicu gerakan tanah, bahkan mineral zeolit yang di kandung tanah dapat menetralisir sifat-sifat kimia tanah, sehingga tekstur tanah dapat normal/stabil. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diasumsikan bahwa keterdapat zeolite pada granite yang telah lapuk bukanlah pemicu dari terjadinya gerakan tanah.
Meskipun litologi di Daerah Leato adalah granit yang cenderung lebih masif dan stabil, pada musim penghujan pada daerah ini sering terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah yang terjadi di Daerah Leato lebih sering terjadi pada saat musim hujan. Pada saat kemarau, lereng-lereng terjal di sepanjang jalan di Daerah Leato cenderung stabil dan tidak berpotensi mengalami gerakan tanah (Foto 4.12)
Foto 4.12. Gerakan tanah yang setiap saat bisa jatuh dan mengganggu pemakaian jalan dan pelabuhan
Gerakan tanah di Daerah Leato dipicu oleh tekanan air yang masuk melalui kekar pada batuan yang telah mengalami pelapukan (spheroidal weathering). Kekar ini merupakan bidang dengan kuat geser lemah, sehingga jika semakin banyak air yang masuk melewati kekar, tekanan air juga akan semakin meningkat dan akan sangat mudah menyebabkan batuan terlepas membentuk bongkah batuan. Saat terjadi hujan maka air
ini akan masuk melalui kekar dan menalir diantara bongkah batuan.
Dengan ditunjang kondisi lereng yang terjal serta gaya gravitasi maka aliran air ini dapat menyebabkan bongkah batuan akan jatuh ke lembah membentuk gerakan tanah jatuhan batuan (rock falls)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan terkait dengan analisis sifat dan karakteristik batuan granit serta potensi gerakan tanah di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo dapat ditarik kesimpulan antara lain :
1. Daerah Leato termasuk dalam morfologi perbukitan tersayat tajam dengan kelerengan antara 600 sampai dengan 800. Pada batuan granit banyak ditemukan kekar-kekar dengan kerapatan hingga 20 kekar/meter, bukaan kekar mencapai 3 cm, serta adanya pelapukan mengulit bawang.
2. Faktor pengontrol utama gerakan tanah di daerah Leato adalah struktur geologi berupa banyak ditemukannya kekar-kekar. Kekar-kekar ini akan terisi oleh air saat hujan sebagai faktor pemicu gerakan tanah.
3. Material yang mengalami longsor pada daerah penelitian sebagian besar merupakan bongkah batuan yang jatuh kearah lembah, dengan ini dapat disimpulkan bahwa jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi penelitian adalah gerakan tanah tipe jatuhan batuan atau rock falls.
4. Gerakan tanah yang terjadi pada batuan granit di daerah Leato dipicu oleh tekanan air yang masuk ke dalam kekar-kekar batuan.
Selain menyebabkan terjadinya pelapukan batuan, masuknya air
pada kekar-kekar saat musim hujan menyebabkan tingginya tekanan air yang menyebabkan batuan terlepas membentuk bongkahan batuan. Dengan ditunjang oleh kondisi morfologi yang terjal serta gaya gravitasi, air yang mengalir diantara bongkahan batuan ini kemudian menyebabkan terjadinya bencana gerakan tanah jatuhan batuan (rock fall).