• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kondisi geografis dan iklim kabupaten Bone

GAMBAR 4.1

PETA WILAYAH KABUPATEN BONE

Secara astronomis, Kabupaten Bone terletak pada posisi 4013‟ dan 5006‟

Lintang Selatan, serta 119042‟ dan 120040‟ bujur Timur. Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Bone memiliki batas-batas: Utara - Kabupaten Wajo, Selatan - Kabupaten Sinjai, Barat - Kabupaten Maros, dan Timur - Teluk Bone. Kabupaten Bone adalah salah satu kabupaten di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan yang berjarak 174 km dari Kota Makassar. wilayah Kabupaten Bone adalah 4.559 km2 dengan luas wilayah terluas berada di Kecamatan Bontocani dan luas wilayah terkecil berada di Kecamatan Tanete Riattang.

Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), dataran di Kabupaten Bone terdiri dari: 0 m - 100 m = 39,88 %, 101 m - 500 m = 45,09

%, 501 m -1000 m = 12,70 %, 1.001 m keatas = 2,34 %. Bone merupakan kabupaten terluas ketiga yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah kecamatan sebanyak 27 kecamatan. Pada tahun 2014, tercatat 194 sungai mengalir di Kabupaten Bone dan telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Sungai yang terpanjang adalah Sungai Walanae yang berhulu di Kecamatan Bontocani, mengalir melalui Kabupaten Soppeng hingga Danau Tempe di Kabupaten Wajo, kemudian mengalir lagi masuk ke Bone hingga bermuara di Teluk Bone. Panjang sungai tersebut mencapai 60 km khusus di wilayah Kabupaten Bone.

Ketinggian Tempat daerah Kabupaten Bone terletak pada ketinggian yang bervariasi mulai dari 0 meter (tepi pantai) hingga lebih dari 1000 meter dari permukaan laut. Ketinggian daerah digolongkan sebagai berikut :

Tabel 4.1

KETINGGIAN DAERAH DI KABUPATEN BONE

No. Ketinggian

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab.Bone 2018

38

Selain wilayah tersebut,terdapat juga wilayah peralihan, yaitu Kecamatan Bontocani dan Kecamatan Libureng yang sebagian mengikuti wilayah Barat dan sebagian lagi mengikuti wilayah timur. Jumlah curah hujan bulanan di Wilayah Bone bervariasi dengan rata-rata tahunan sebesar 201,25 mm.

Curah hujan tertinggi terjadi di bulan Juni yaitu 638 mm dengan banyaknya hari hujan sebanyak 23 hari. Bagian Timur Kabupaten Bone bertopografi pesisir menjadikan Bone mempunyai garis pantai sepanjang 138 km dari arah selatan ke utara. Bagian barat dan selatan terdapat pegunungan dan perbukitan yang celah-celahnya terdapat aliran sungai.

Jenis Tanah yang ada di Kabupaten Bone terdiri dari tanah Aluvial Gleyhumus, Litosol, Regosol, Mediteran, dan Renzina. Jenis tanah didominasi oleh tanah mediteran seluas 67,6% dari total wilayahkemudian Renzina 9,59%, dan Litosol 9%. Penyebaran jenis tanahnya yaitu sepanjang Pantai Timur Teluk Bone ditemukan tanah Aluvial. Kemiringan Lereng keadaan permukaan lahan bervariasi, mulai dari landai, bergelombang hingga curam.

Daerah landai dijumpai sepanjang pantai dan bagian utara, sementara di bagian Barat dan Selatan umumnya bergelombang hingga curam dengan rincian yaitu, kemiringan lereng 0-2% (datar) : 164.602 Ha (36,1%), kemiringan lereng 0-15% (landai dan sedikit bergelombang) : 91.519 Ha (20,07%), kemiringan lereng 15-40% (bergelombang) : 12.399 Ha (24,65%), kemiringan lereng >40% (curam) : 12.399 Ha (24,65%).

Wilayah Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembaban udara berkisar antara 79% - 88% dengan temperatur berkisar 25,10C – 27,60C. Wilayah Kabupaten Bone terbagi menjadi dua tipe hujan: tipe hujan Monsoon dan tipe hujan lokal. Tipe hujan Monsoon memiliki

curah hujan tertinggi saat bertiup angin monsun Asia yaitu bulan Januari dan Februari. Tipe ini mencakup wilayah Kabupaten Bone bagian barat. Tipe kedua memiliki kriteria pola hujan terbalik dengan pola monsoon, yaitu curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Mei-Juni. Tipe ini mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Bone.

Tabel 4.2

RATA-RATA SUHU DAN KELEMBABAN UDARA MENURUT BULAN DI KABUPATEN BONE 2018

Bulan Suhu Udara

Temperature

Kelembaban Udara Humidity (%)

Januari 27,6 80

Februari 26,2 83

Maret 26,3 83

April 26,4 82

Mei 25,6 85

Juni 25,2 88

Juli 25,1 87

Agustus 25,3 84

September 25,9 81

Oktober 27,1 79

November 26,6 81

Desember 27,0 82

Sumber : BMKG Kabupaten Bone 2017

40

2. Jumlah desa/kelurahan kabupaten Bone

Menurut Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 (hasil amandemen kedua), yaitu pada Bab VI tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 18, Ayat 1, dinyatakan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang."

Kecamatan adalah wilayah administratif yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah kabupaten atau kota.Kecamatan dipimpin oleh seorang camat, masing-masing merupakan pegawai negeri sipil serta bertanggung jawab kepada bupati atau walikota yang melingkupi batas-batas wilayahnya. Setiap kecamatan terdiri dari beberapa kelurahan/desa atau nama lain. Tingkatan di bawah kecamatan adalah Kelurahan atau desa.

Kelurahan dipimpin oleh seorang lurah, sedangkan Desa dipimpin oleh seorang kepala desa.

Tabel 4.3

JUMLAH DESA/KELURAHAN MENURUT KECAMATAN DI KABUPATEN BONE TAHUN 2018

No Kecamatan Desa Kelurahan

1 Bontocani 10 1

2 Kahu 19 1

3 Kajuara 17 1

4 Salomekko 7 1

5 Tonra 11 -

6 Patimpeng 10 -

Lanjutan Tabel 4.3

No. Kecamatan Desa Kelurahan

7 Libureng 18 2

8 Mare 17 1

9 Sibulue 19 1

10 Cina 11 1

11 Barebbo 17 1

12 Ponre 9 -

13 Lappariaja 9 -

14 Lamuru 11 1

15 Tellu Limpoe 11 -

16 Bengo 9 -

17 Ulaweng 14 1

18 Palakka 15 -

19 Awangpone 17 1

20 Tellu Siattinge 15 2

21 Amali 14 1

22 Ajangale 12 2

23 Dua Boccoe 21 1

24 Cenrana 15 1

25 Tanete Riattang Barat - 8

26 Tanete Riattang - 8

27 Tanete Riattang Timur - 8

Jumlah 328 44

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab.Bone 2018

42

Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa Kabupaten Bone terdiri dari 27 kecamatan, 328 desa dan 44 kelurahan pada tahun 2018. Adapun jumlah desa dan kelurahan yang ada di kabupaten Bone memiliki jumlah yang berbeda-beda disetiap kecamatan.

3. Jumlah penduduk kabupaten Bone

Sumber utama data kependudukan adalah sensus penduduk yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Sensus penduduk telah dilaksanakan sebanyak enam kali sejak Indonesia merdeka, yaitu tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010. Di dalam sensus penduduk, pencacahan dilakukan terhadap seluruh penduduk yang berdomisili di wilayah teritorial Indonesia termasuk warga negara asing kecuali anggota korps diplomatic negara sahabat beserta keluarganya.

Metode pengumpulan data dalam sensus dilakukan dengan wawancara antara petugas sensus dengan responden dan juga melalui e-census.

Pencatatan penduduk menggunakan konsep usual residence, yaitu konsep di mana penduduk biasa bertempat tinggal. Bagi penduduk yang bertempat tinggal tetap dicacah di mana mereka biasa tinggal, sedangkan untuk penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap dicacah di tempat di mana mereka ditemukan petugas sensus pada malam „Hari Sensus‟. Termasuk penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap adalah tuna wisma, awak kapal berbendera Indonesia, penghuni perahu/rumah apung, masyarakat terpencil/terasing, dan pengungsi.

Bagi mereka yang mempunyai tempat tinggal tetap dan sedang bepergian ke luar wilayah lebih dari enam bulan, tidak dicacah di tempat tinggalnya, tetapi dicacah di tempat tujuannya. Untuk tahun yang tidak dilaksanakan

sensus penduduk, data kependudukan diperoleh dari hasil proyeksi penduduk. Proyeksi penduduk merupakan suatu perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi dari komponen-komponen perubahan penduduk, yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi.

Rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara penduduk lakilaki dan penduduk perempuan pada suatu wilayah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki untuk 100 penduduk perempuan.

Tabel 4.4

JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN DI KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2018

Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah

2009 338.407.000 373.341.000 711.784.000 2010 341.614.000 376.068.000 717.682.000 2011 345.394.000 379.511.000 724.905.000 2012 347.203.000 382.313.000 729.516.000 2013 349.717.000 384.402.000 734.119.000 2014 352.081.000 386.432.000 738.515.000 2015 354.502.000 388.410.000 742.912.000 2016 356.691.000 390.282.000 746.977.000 2017 358.889.000 392.137.000 751.062.000 2018 422.818.000 441.236.000 863.654.000 Sumber : Disdukcapil Kabupaten Bone (dalam angka)2018

44

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di kabupaten Bone mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya. Jumlah penduduk biasanya dipengaruhi oleh tingkat kelahiran, kematian dan migrasi.

4. Potensi Pariwisata Kabupaten Bone

Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini, seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia. Definisi yang lebih lengkap,turis adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan dll.

Peraturan daerah kabupaten bone nomor 5 tahun 2003 tentang retribusi izin operasional usaha kepariwisataan dengan rahmat tuhan yang maha esa bupati bone, Menimbang : a. bahwa untuk terwujudnya daya guna dan hasil guna dibidang kepariwisataan sebagai sumber PAD yang potensial, maka perlu diadakan penyesuaian baik pengelolaan maupun tarif Retribusi; b.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatas, maka perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Bone tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Izin Operasional Usaha Kepariwisatan.

Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang

didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tahun 2013-2018, memiliki misi mengembangkan dan menguatkan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal dan kelestarian lingkungan. Dengan tujuan meningkatkan investasi, pengembangan industri, koperasi UMKM, perdagangan dan pariwisata untuk mengurangi pengangguran.

Pembangunan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan peran pariwisata dalam kegiatan ekonomi yang dapat menciptakan lapangan kerja serta kesempatan berusaha dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta penerima devisa. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui pengembangan dan pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan nasional. Di Sulawesi Selatan yang juga merupakan salah satu daerah tujuan wisata di wilayah Indonesia secara khusus di Kabupaten Bone terdapat banyak obyek wisata yang sangat potensial dan tentu sangat berpengaruh dalam kinerja perekonomian Kabupaten Bone. Kabupaten Bone merupakan tujuan wisata yang cukup diminati oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Ada beberapa objek wisata yang terdapat di kabupaten Bone adalah sebagai berikut :

Tabel 4.5

OBJEK WISATA DI KABUPATEN BONE

No. Wisata Budaya Wisata Alam Wisata Kuliner

1 Bola Soba‟ Tanjung

Pallette

Ratu Lingga Resto n Café

2 Museum Saoraja Desa Garencing

RC Teras

46

9 Pattaneng Punga Bendungan Salomekko

Lapangan Merdeka

10 Taman Bunga Puncak Lima Jari

Latanete

Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Bone 2018

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan beberapa objek wisata yang terdapat di kabupaten Bone termasuk wisata budaya, wisata alam dan wisata kuliner. Sektor pariwisata yang sangat potensial memberikan kontribusi atau devisa terhadap perekonomian, besarnya kontribusi tersebut ditentukan oleh besarnya jumlah wisatawan yang berkunjung, wisatawan sendiri terdiri atas wisatawan lokal, domestik dan mancanegara. Wisatawan lokal adalah wisatawan yang berkunjung ke lokasi objek wisata yang ada di daerahnya sendiri, wisatawan domestik adalah wisatawan yang datang dari luar daerah, sedangkan wisatawan mancanegara adalah wisatawan yang berasal dari luar negara atau yang sering disebut wisatawan asing. Semakin banyak wisatawan maka akan semakin besar penerimaan daerah. Hal ini bisa dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.6

JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN DI KABUPATEN BONE TAHUN 2013-2017

Tahun

Wisatawan

Jumlah Lokal Domestik Mancanegara

2013 54 181 36 069 871 91 121

2014 85 246 35 672 475 121 393

2015 80 382 30 116 584 111 082

2016 91 800 31 200 500 123 500

2017 96 140 31 200 460 127 800

Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Bone 2018

Dari tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Keberhasilan dalam bidang kepariwisataan dicerminkan dengan banyaknya kunjungan wisatawan ke Bone dari tahun ke tahun. Kabupaten Bone merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi dengan berbagai jenis wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu objek wisata yang paling populer di kabupaten Bone adalah wisata Tanjung Pallette.

Tanjung yang berhadapan langsung dengan teluk Bone tersebut, telah tertata rapi dilengkapi dengan panorama alam yang memukau. Tak seperti pantai pada umumnya yang menawarkan keindahan pasir putih. Namun tempat wisata ini memiliki khas tersendiri. Tumbuhan rindang diatas bukit karang serta tebing yang dihiasi akar pohon, memberikan suatu nuansa yang berbeda.

48

Dibalik keindahan pemandangan yang dimilikinya, menurut cerita rakyat yang turun temurun, Tanjung Palette Bone sejatinya adalah tempat mallabu tau, yang dalam bahasa Bugis berarti tempat menenggelamkan orang. Pada masa kerajaan Bone, Tanjung Palette ini menjadi lokasi untuk menenggelamkan orang-orang yang melakukan pelanggaran yang berat yaitu melakukan perselingkuhan. Mereka yang telah berkeluarga namun berselingkuh akan diikat bersama lalu dibuang di sana.

Obyek wisata di Kabupaten Bone mempunyai potensi dalam peningkatan pendapatan daerah, maka dari itu perlu pengelolaan, pembenahan dan perhatian khusus terutama pada sarana prasarana penunjang pariwisata agar potensi pariwisata dapat terus dikembangkan dan semakin maju.

5. Perekonomian kabupaten Bone

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah Pasal 1 angka 18 bahwa

“Pendapatan asli daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Pendapatan Asli Daerah bertujuan memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.

PAD terdiri dari hasil pajak, retribusi daerah, pendapatan dari dinas-dinas, BUMN dan lain-lain, yang dikalkulasikan dalam bentuk ribuan rupiah setiap tahunnya. PAD sebagai salah satu sumber penerimaan daerah mencerminkan tingkat kemandirian daerah. Semakin besar PAD,

mengindikasikan bahwa sebuah daerah mampu melaksanakan desentralisasi fiskal dan ketergantungan terhadap pemerintah pusat berkurang.

Pada tahun 2017 PAD Kabupaten Bone mencapai 280,48 miliar rupiah meningkat 55,70 persen dari tahun 2016 Kontribusi PAD terhadap APBD pada tahun 2017 lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 Pada tahun 2017 kontribusi PAD terhadap APBD mencapai 12,74 persen sedangkan tahun 2016 sebesar 8,82 persen Penyumbang PAD adalah pajak daerah 15,95 persen, retribusi daerah 4,54 persen, bagian laba usaha daerah 2,40 persen dan lain-lain pendapatan asli daerah yang mencapai 77,11 persen. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.7

REALISASI PENDAPATAN PEMERINTAH KABUPATEN BONE MENURUT JENIS PENDAPATAN TAHUN 2016-2017

Jenis Pendapatan 2016 2017

Pendapatan Asli Daerah

4. Lain-lain PAD yang sah

180.148.967.473,17 2. Bagi hasil bukan pajak 3. Dana alokasi umum Pendapatan Transfer 202.773.125.000,00 306.700.190.600,00

50

3. Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah

Jumlah 2.042.521.543.425,17 2.201.699.676.660,46 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah 2018

Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan sumber-sumber pendapatan daerah. Sebagaimana diketahui bahwa dalam penyelenggaraan rumah tangga daerah, selalu membutuhkan biaya yang cukup besar karena itu untuk mencukupi keperluan penyelenggaraan rumah tangga daerah bersangkutan,

maka dibutuhkan pembiayaan sebagaimana tertuang dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah pada setiap daerah.

Pendapatan asli daerah (PAD) adalah pungutan yang dilakukan berdasarkan pendapatan daerah. Untuk mengetahui sejauh mana pemerintah Kabupaten Bone dalam mengelola sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut, dan perkembangan di dalam menunjang pelaksanaan pembangunan serta jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Bone. berikut ini data tentang perkembangan realisasi Pendapatan Asli Daerah sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2018.

Tabel 4.8

PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2018

Tahun Pendapatan Asli Daerah (Rp)

Kontribusi (%)

2009 39.201.846.144,42 -

2010 34.842.143.749,72 -11,12%

2011 33.780.847.477,28 -3,04%

2012 52.347.658.040,42 54,96%

2013 85.874.602.728,88 64,04%

2014 155.427.196.665,96 80,99%

2015 159.777.772.085,62 2,79%

2016 180.148.967.473,17 12,74%

2017 280.478.099.485,46 55,69%

2018 214.246.216.580,41 -23,61%

Sumber : BPS Kabupaten Bone 2018 (Data Diolah)

52

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir yakni tahun 2009 sampai tahun 2018, pendapatan asli daerah menunjukkan pergerakan yang fluktuatif hal ini disebabkan karena kurang efektifnya realisasi sumber Pendapatan Asli Daerah di kabupaten Bone seperti penarikan retribusi yang belum optimal, namun demikian kontribusi PAD dari tahun ke tahun menunjukkan angka yang cukup baik meskipun pada tahun 2018 mengalami penurunan sebanyak 23,61%, kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap tingkat kemandirian kabupaten Bone sehingga diperlukan berbagai kebijakan pengembangan dan peningkatan kemandirian daerah agar target dan realisasi dapat dipenuhi.

Retribusi dilaksanakan berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah, selanjutnya untuk pelaksanaannya di masing-masing daerah, pungutan retribusi daerah dijabarkan dalam bentuk peraturan daerah yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan. Dalam retribusi yang dijadikan alternatif bagi pemerintah adalah penggunaan jasa oleh masyarakat.

Dimana tingkat penggunaan jasa sendiri dapat dikatakan jumlah penggunaan jasa yang dijadikan dasar alokasi beban biaya yang dipikul oleh pemerintah daerah untuk penyelenggaraan jasa bersangkutan. Untuk itu, dalam penetapan besarnya tarif retribusi yang harus dibayar oleh orang pribadi ataupun badan yaitu tingkat perkalian jumlah penggunaan jasa dan tarif retribusi.

Maka disimpulkan bahwa besarnya tarif yang digunakan adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya

retribusi yang terutang. Retribusi objek wisata merupakan sumber penerimaan objek pariwisata yang berasal dari retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi tempat khusus parkir, retribusi tempat penginapan retribusi tempat rekreasi dan olahraga, penyelaman dasar laut dan pendapatan lain-lain yang sah yang berasal dari obyek pariwisata tersebut. Secara umum yang dimaksud dengan retribusi adalah pungutan daerah atas segala pembayaran jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah untuk kepentingan orang banyak. Berikut ini pada tabel 4.9 untuk mengetahui seberapa besar retribusi objek wisata kabupaten Bone.

Tabel 4.9

RETRIBUSI OBJEK WISATA KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2018

Tahun Retribusi Objek Wisata (Rp)

Kontribusi (%)

2009 310.041.440.00 -

2010 291.128.912.00 -6,10%

2011 284.439.000.00 -2,29%

2012 212.884.000.00 -25,15%

2013 234.554.000.00 10,17%

2014 239.854.000.00 2,25%

2015 226.432.000.00 -5,59%

2016 227.611.000.00 0,52%

2017 297.800.000.00 30,83%

2018 764.351.000.00 156,66%

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah 2018 (Data Diolah)

54

Retribusi objek wisata di kabupaten Bone mengalami perubahan yang beragam dimana pada tiga tahun terakhir yakni tahun 2010 sampai tahun 2012 dan pada tahun 2012 penurunan bahkan mencapai 25,15% dari tahun 2011. Namun kemudian pada tiga tahun terakhir yakni tahun 2016 sampai tahun 2018 retribusi objek wisata naik dari angka 227.611.000,00 pada tahun 2016 menjadi 764.351.000,00 pada tahun 2018 atau peningkatan dari 0,52%

dari tahun 2016 menjadi 156,66% pada tahun 2018.

6. Analisis Kontribusi Retribusi Objek Wisata Terhadap PAD

Hasil penelitian penggambaran tentang hasil yang diperoleh dalam kuantitatif. Dalam penelitian ini juga termasuk data yang diperoleh yaitu retribusi objek wisata dan Pendapatan Asli daerah (PAD) Kabupaten Bone, Hasil Analisis Kontribusi Retribusi Objek Wisata dibagi dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bone dari tahun 2009 sampai tahun 2018 dengan hasil olahan sebagai berikut:

Kontribusi

=

2015 =

HASIL ANALISIS KONTRIBUSI RETRIBUSI OBJEK WISATA TERHADAP PAD DI KABUPATEN BONE TAHUN 2009-2018

Tahun Retribusi Objek Wisata (Rp)

Pendapatan Asli Daerah (Rp)

Kontribusi (%)

2009 310.041.440.00 39.201.846.144.42 0,79

2010 291.128.912.00 34.842.143.749.72 0,83

2011 284.439.000.00 33.780.847.477.28 0,84

2012 212.884.000.00 52.347.658.040.42 0,40

2013 234.554.000.00 85.874.602.728.88 0,27

2014 239.854.000.00 155.427.196.665.96 0,15 2015 226.432.000.00 159.777.772.085.62 0,14 2016 277.611.000.00 180.148.967.473.17 0,12 2017 297.800.000.00 280.478.099.485.46 0,10 2018 764.351.000.00 214.246.216.580.41 0,35 Sumber : BPS kabupaten Bone 2018 (Data Diolah)

56

Dokumen terkait