• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Penelitian

1. Uji Asumsi

Uji Asumsi dibutuhkan untuk mengetahui teknik uji hipotesis yang akan digunakan untuk melakukan analisis data.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk memastikan bahwa data yang digunakan dalam penelitian memiliki distribusi normal. Metode uji normalitas dalam penelitian ini adalah dengan teknik Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan IBM SPSS 22 Statistic. Teknik uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov dipilih peneliti dengan alasan teknik ini lebih akurat digunakan apabila subjek di atas dari 50

orang. Apabila signifikansi yang diperoleh lebih dari 0.05 maka sampel yang digunakan dalam populasi memiliki distribusi normal (Noor, 2013).

Tabel 14.

Hasil Uji Normalitas

Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. AQ .080 218 .002 CONTROL .173 218 .000 ORIGIN .144 218 .000 OWNERSHIP .132 218 .000 REACH .165 218 .000 ENDURANCE .128 218 .000 EMPLOY .072 218 .007

a. Lilliefors Significance Correction

Hasil uji normalitas menujukkan bahwa variabel AQ memiliki nilai signifikansi sebesar 0,002. Selanjutnya pada variabel AQ terdapat dimensi Control, Origin, Ownership, Reach, Endurance yang seluruh dimensinya memperoleh nilai signifikansi sebesar 0.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebaran data pada dimensi-dimensi tersebut tidak normal. Variabel Employability memiliki nilai signifikansi sebesar 0.007. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebaran data variabel Employability tidak terdistribusi dengan normal karena tidak lebih dari 0,05.

Gambar 1. Kurva Variabel AQ

Gambar 1 menunjukkan distribusi data variabel AQ. Pada gambar tersebut tampak bahwa persebaran data tidak normal. Persebaran data tidak sesuai dengan kurva distribusi nomal.

Gambar 2. Kurva Distribusi Dimensi Control

Histogram yang tampak pada gambar 2 menunjukkan bahwa persebaran data dari dimensi Control tidak terdistribusi secara normal.

Hal tersebut tampak dari terlalu banyaknya data pada rentang skor 20 hingga skor 24 dan melewati kurva normal.

Gambar 3. Kurva Distribusi Dimensi Origin

Distribusi data dari dimensi Origin ditunjukkan pada gambar 4. Berdasarkan gambar tersebut, tampak bahwa histogram tidak sesuai dengan kurva distribusi normal. Hal ini mengindikasikan bahwa distribusi normal pada data dimensi Origin tidak normal.

Gambar 4: Kurva Distribusi Dimensi Ownership

Persebaran data dimensi Ownership tidak mengikuti kurva distribusi normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa distribusi data dimensi Ownership tidak normal.

Gambar 5. Kurva Distribusi Dimensi Reach

Gambar 5 menunjukkan distribusi data variabel Reach. Pada gambar tersebut tampak bahwa persebaran data tidak normal. Persebaran data tidak sesuai dengan kurva distribusi nomal.

Gambar 6. Kurva Distribusi Dimensi Endurance

Pada gambar 6, histogram tampak tidak mengikuti garis kurva distribusi normal. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebaran data dimensi Endurance tidak normal.

Gambar 7. Kurva Variabel Employability

Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat bahwa persebaran data variabel Employability tidak mengikuti garis kurva distribusi normal. Hal

tersebut menunjukkan bahwa data variabel tersebut tidak terdistribusi secara normal.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah hubungan antar variabel mengikuti garis yang lurus atau linear. Apabila hubungan antar variabel tidak linear maka dalam cenderung terjadi underestimasi kekuatan hubungan antara kedua variabel (Santoso, 2010). Uji linearitas akan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22. Data dapat dikatakan linear apabila memenuhi syarat p < 0.05.

a. Adversity Quotient (AQ) dan Employability

Berikut ini adalah hasil Uji Linearitas variabel Adversity Quotient (AQ) dan Employability

Tabel 15.

Hasil Uji Linearitas antara AQ dan Employability

F Sig. EMPLOY * AQ Between Groups (Combined) 5.403 .000 Linearity 214.547 .000 Deviation from Linearity 1.045 .407

Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang

linear antara Employability dan AQ karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05.

Berikut adalah Scatter Plot hasil Uji Linearitas antara AQ dan

Employability:

Gambar 8. Scatter Plot Uji Linearitas AQ dan Employability

Berdasarkan Gambar 8, tampak bahwa data antara variabel AQ dan variabel Employability mengumpul pada garis lurus. Hal tersebut mengindikasikan bahwa data dalam penelitian memiliki hubungan linear.

b. Dimensi Control dan variabel Employability

Berikut ini adalah hasil uji linearitas antara variabel Employability dan dimensi Control dari AQ:

Tabel 16.

Hasil Uji Linearitas antara dimensi Control dan Employabiity

F Sig. EMPLOY * CONTROL Between Groups (Combined) 8.920 .000 Linearity 77.611 .000 Deviation from Linearity 4.341 .000

Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara dimesi Control dan Employability karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05. Berikut adalah scatter plot dari dimensi Control dan Employability.

Gambar 9: Scatter Plot Uji Linearitas dimensi Control dan

Employability

Berdasarkan scatter plot dalam gambar 9, tampak bahwa data antara dimensi Control dan variabel Employability berkumpul

mendekati garis linear. Hal tersebut menunjukan bahwa hubungan antara dimensi Control dan Employability bersifat linear.

c. Dimensi Origin dan Variabel Employability

Berikut ini adalah hasil uji linearitas antara dimensi Control dari AQ dan variabel Employability:

Tabel 17.

Hasil Uji Linearitas antara dimensi Origin dan Employability

F Sig. EMPLOY * ORIGIN Between Groups (Combined) 8.516 .000 Linearity 101.583 .000 Deviation from Linearity .760 .691

Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara dimesi Origin dan Employability karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05. Di bawah ini merupakan scatter

Gambar 10. Scatter Plot Uji Linearitas dimensi Origin dan

Employability

Berdasarkan scatter plot di atas, tampak bahwa data berkumpul garis linear. Hal tersebut menunjukkan bahwa data penelitian pada dimensi origin dan variabel employability linear.

d. Dimensi Ownership dan Variabel Employability

Pada tabel 25 di bawah ini, disajikan hasil uji linearitas antara dimensi Ownership dan variabel Employability:

Tabel 18.

Hasil Uji Linearitas Antara dimensi Ownership dan Employability

F Sig. EMPLOY * OWNERS HIP Between Groups (Combined) 13.252 .000 Linearity 178.554 .000 Deviation from Linearity .537 .900

Pada tabel 24, hasil uji linearitas menunjukkan bahwa nilai siginifikansi sebesar 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara dimensi ownership dan variabel employability linear karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05. Berikut ini terdapat scatter plot yang menjelaskan hubungan linear antara dimensi ownership dan. variabel employability

Gambar 11. Scatter plot uji Linearitas dimensi Ownership dan

Employability

Berdasarkan scatter plot dalam gambar 10, tampak bahwa persebaran data antara dimensi ownership dan variabel employability tidak terlalu menyebar dan mengikuti garis lurus. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara dimensi ownership dan

e. Dimensi Reach dan Variabel Employability

Berikut ini adalah hasil Uji Linearitas dimensi Reach dan variabel

Employability yang disajikan dalam tabel 25 berikut:

Tabel 19.

Hasil Uji Linearitas Antara Dimensi Reach dan Employability

F Sig. EMPLOY * REACH Between Groups (Combined) 3.645 .000 Linearity 29.823 .000 Deviation from Linearity 1.775 .044

Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara dimesi Reach dan Employability karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05. Berikut adalah scatter plot dari dimensi Reach dan Employability.

Gambar 12. Scatter Plot uji linearitas antara dimensi Reach dan

Employability

Scatter plot dalam gambar 11 menunjukkan bahwa terdapat

hubungan linear antara data dimensi Reach dan data variabel

Employability. Hal tersebut tampak dari persebaran data yang

mendekati garis linear.

f. Dimensi Endurance dan Variabel Employability

Hasil uji linearitas antara dimensi Endurance dan variabel

Employability tersaji dalam tabel 26 berikut ini:

Tabel 20.

Hasil Uji Linearitas Antara Employability dan dimensi Endurance

F Sig. EMPLOY * ENDURANCE Between Groups (Combined) 14.985 .000 Linearity 170.799 .000 Deviation from Linearity .820 .620

Data pada Tabel 27 menunjukkan bahwa dimensi Endurance dan

Employability memiliki hubungan yang linear. Hal tersebut tampak

dari nilai signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,005. Untuk memperkuat data tersebut, di bawa ini disajikan scatter plot dari dimensi Endurance dan variabel Employability:

Gambar 13. Scatter Plot Uji Linearitas Employability dan dimensi

Control

Berdasarkan scatter plot antara dimensi Endurance dan

Employability, ditemukan bahwa data antara keduanya memiliki

hubungan yang bersifat linear. Hal tersebut terindikasi dari persebaran data yang cenderung terkumpul pada garis linear.

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini apabila data berdistribusi normal adalah dengan menggunakan korelasi

Product-Moment Pearson untuk melihat hubungan antara Adversity Quotient

(AQ) dan Employability. Apabila data tidak berdistribusi normal maka uji hipotesis masih dapat menggunakan Spearman Rho Correlation.

Distribusi data dalam penelitian ini bersifat tidak normal. Maka dari itu, peneliti akan menggunakan teknik Spearman Rho Correlation

untuk melihat hubungan antara AQ dan Employability pada mahasiswa tingkat akhir. Kriteria koefisien korelasi (Siregar, 2013) pada penelitian ini dapat dilihati di tabel 26:

Tabel 21:

Kriteria Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Kategori

0,00 – 0,199 Sangat Lemah 0,20 – 0,399 Lemah 0,40 – 0,599 Korelasi Cukup

0,6 – 0,799 Korelasi kuat 0,8 – 1 Korelasi sangat kuat

Berikut ini hasil tabel dari uji korelasi antara AQ dengan

Employability:

Tabel 22.

Korelasi AQ dan Employability

Correlations EMPLOY AQ Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .695 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 AQ Correlation Coefficient .695 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Berdasarkan hasil analisis, korelasi koefisien r = 0,695 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,01) dan menggunakan one-tailed test. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat

hubungan positif dengan kategori kuat antara Adversity Quotient (AQ) dan Employability. Artinya, semakin tinggi AQ seorang individu, maka akan semakin tinggi pula Employability yang dimilikinya. Maka dari itu, hipotesis penelitian diterima.

Tabel 23.

Korelasi dimensi Control dan Employability

Correlations EMPLOY CONTROL Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .594 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 CONTROL Correlation Coefficient .594 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Hasil korelasi Employability dan dimensi Control menunjukkan bahwa r = 0.594 dengan signifikansi sebesat 0.000 (p < 0.01) dengan pengujian one-tailed test. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dengan kategori cukup antara dimensi Control dan

Employability. Artinya, semakin tinggi dimensi Control pada individu,

maka akan semakin tinggi juga Employability yang dimiliki individu tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis penelitian diterima.

Tabel 24.

Korelasi dimensi Origin dan Employability

Correlations EMPLOY ORIGIN Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .544 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 ORIGIN Correlation Coefficient .544 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Tabel 31 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dengan kategori cukup antara dimensi Origin dan Employability. Hal ini terindikasi dari hasil uji korelasi one-tailed test yang menunjukkan hasil r = 0,544 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,01). Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi dimensi Origin pada individu maka akan semakin tinggi juga Employability-nya, dengan demikian hipotesis penelitian diterima.

Tabel 25.

Korelasi dimensi Ownership dan Employability

Correlations EMPLOY OWNERSHIP Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .668 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 OWNER SHIP Correlation Coefficient .668 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

Berdasarkan hasil penelitian,, koefisien korelasi r = 0,668 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,01) dengan pengujian one-tailed test. Hasil tersebut menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan kategori kuat antara dimensi Owneship dan

Employability. Artinya, semakin kuat dimensi Ownership yang dimiliki

seseorang, maka akan semakin kuat juga Employability-nya. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima.

Tabel 26.

Korelasi dimensi Reach dan Employability

Correlations EMPLOY REACH Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .357 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 REACH Correlation Coefficient .357 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Berdasarkan hasil yang telah ditampilkan pada tabel 32, ditemukan bahwa koefisien korelasi r = 0,357 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,01) yang diuji dengan one-tailed test. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan dengan kategori rendah antara dimensi Reach dan Employability. Artinya, semakin

tinggi nilai individu pada dimensi Reach maka akan semakin tinggi juga nilai Employability. Maka dari itu hipotesis penelitian diterima.

Tabel 27.

Korelasi dimensi Endurance dan Employability

Correlations EMPLOY ENDURANCE Spearman's rho EMPLOY Correlation Coefficient 1.000 .648 ** Sig. (1-tailed) . .000 N 218 218 ENDURANCE Correlation Coefficient .648 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 218 218

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Hasil korelasi dimensi Endurance dan Employability menunjukkan bahwa koefisien korelasi r = 0.648 dengan signifikansi sebesat 0.000 (p < 0.01) yang diuji dengan one-tailed test. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dengan kategori kuat antara dimensi

Endurance dan Employability. Artinya, semakin tinggi dimensi Endurance pada individu, maka akan semakin tinggi juga Employability

yang dimiliki individu tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian diterima.

Dokumen terkait