• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Objek penelitian adalah perusahaan Plastik dan Kemasan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.penentuan sampel yang digunakan yaitu

purposive sampling maka, di dapat 7 perusahaan yang memenuhi kriteria dan di

jadikan sampel pada penelitian ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil sari sumber www.idx.co.id. Penelitian ini melihat apakah Current Ratio

(CR), Debt to Assets Ratio (DAR), dan Total Assets Turnover (TATO)

berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.

a. Pertumbuhan Laba

Variabel terikat (Y) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Laba. Pertumbuhan Laba merupakan bagian dari ikhtisar keuangan yang memiliki banyak kegunaan dalam berbagai konteks, laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, penentuan kebijakan pemabayaran depiden, pedoman investasi, dan pengambilan keputusan. Pertumbuhan laba juga merupakan trend naik turunnya laba perusahaan selama beberapa periode yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Perusahaan dengan laba bertumbuh dapat memperkuat hubungan antara besarnya atau ukuran perusahaan dengan tingkatan laba yang diperoleh. Dimana perusahaan dengan laba bertumbuh akan memberikan aktiva yang besar sehingga akan memberikan peluang lebih besar didalam menghasilkan profitabilitasnya.

Perusahaan yang bertumbuh adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan margin, laba, dan penjualan yang tinggi. Perusahan yang memiliki laba yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan telah baik.

Tabel IV.1

Data Pertumbuhan Laba (Dalam Rupiah)

sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI)

Berdasarkan tabel diatas pertumbuhan laba perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017. Jika dilihat dari rata-rata keseluruhan, perusahaan yang paling rendah pertumbuhan labanya adalah TRST sebesar -0,726 dan perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba paling besar adalah BRNA sebesar 4,658.

Berdasarkan data pertumbuhan laba yang diperoleh perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2013 sampai tahun 2016 mengalami penaikan yaiti pada tahun 2013 sebesar 0,284 dan pada tahun 2016 sebesar 3,105 namun pada tahun 2017 mengalami penurunan yaitu sebesar 1,209. Dengan demikian Pertumbuhan Laba pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Kode 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata AKPI 1,364 -0,814 -0,203 0,895 -0,734 0,102 APLI -0,552 4,331 -0,815 12,541 -1,041 2,893 BRNA -0,642 1,796 6,276 -1,022 16,884 4,658 IGAR -0,213 0,567 -0,038 0,398 -0,023 0,138 TALF -0,084 0,502 -0,369 10,159 -0,955 1,851 TRST 2,429 -0,829 2,257 -1,049 -6,44 -0,726 YPAS -0,311 -2,436 0,155 -0,186 0,775 -0,401 rata- rata 0,284 0,445 1,038 3,105 1,209 1,216

b. Current Ratio

Variabel (x1) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio likuiditas dengan alat ukur yaitu Current Ratio (CR). Rasio Likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek yang telah jatuh tempo dengan cara membandingkan antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Berikut ini adalah hasil perhitungan

Current Rasio (CR) Pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia periode 2013-2017.

Tabel IV.2

Current Rasio (CR) Perusahaan Pelastik dan Kemasan Di Bursa Efek

Indonesia Periode 2013-2017

Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI)

Dari data di atas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Current Ratio (CR) pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017 mengalami fluktuasi atau kenaikan dan penurunan setiap tahunnya. Jika dilihat dari rata-rata keseluruhan, perusahaan yang paling rendah nilai Current Ratio (CR) adalah YPAS sebesar 1,131 dan perusahaan yang memiliki nilai Current Ratio (CR) paling besar adalah IGAR sebesar 4,972.

Jika dilihat dari rata-rata pertahun nilai Current Ratio (CR) pada tahun 2014 mengalami peningkatan yaitu menjadi sebesar 2,213 dimana pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2013 sebesar 2,110 namun pada tahun 2015 sampai

Kode 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata AKPI 1,359 1,132 1,031 1,129 1,043 1,139 APLI 1,841 2,879 1,178 1,495 1,717 1,822 BRNA 0,812 1,047 1,141 1,387 1,099 1,097 IGAR 3,454 4,121 4,961 5,822 6,502 4,972 TALF 4,983 3,693 4,376 2,923 2,751 3,745 TRST 1,143 1,238 1,308 1,297 1,229 1,243 YPAS 1,176 1,383 1,225 0,974 0,895 1,131 rata- rata 2,110 2,213 2,174 2,147 2,177 2,164

2017 mengalami penurunan menjadi sebesar 2,174, 2,147 dan 2,177. Dengan demikian semakin tinggi nilai Current Ratio (CR) maka akan semakin baik posisi pemberi pinjaman. Dari pandang kreditor, suatu rasio yang lebih tinggi tampaknya memberikan perlindungan terhadap kemungkinan kerugian drastis bila terjadi likuiditas perusahaan. Namun nilai Current Ratio (CR) yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar yang akan berpengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar menghasilakan return yang lebih rendah dibandingkan dengan aktiva tetap.

c. Debt to Assets Ratio

Variabel bebas (x2) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio solvabilitas dengan alat ukur yaitu Debt to Assets Ratio (DAR). Rasio Solvabilitas merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Berikut ini adalah hasil perhitungan Debt

to Assets Ratio (DAR) pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.

Tabel IV.3

Debt to Assets Rasio (DAR) Perusahaan Pelastik dan Kemasan Di Bursa Efek

Indonesia Periode 2013-2017

Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI)

Dari data di atas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Debt to Assets Ratio (DAR) pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek

Kode 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata AKPI 0,506 0,535 0,342 0,295 0,35 0,406 APLI 0,227 0,114 0,223 0,151 0,185 0,180 BRNA 0,5 0,416 0,281 0,268 0,333 0,360 IGAR 0,246 0,21 0,163 0,142 0,195 0,191 TALF 0,148 0,19 0,161 0,126 0,139 0,153 TRST 0,476 0,46 0,417 0,413 0,407 0,435 YPAS 0,722 0,495 0,461 0,493 0,581 0,550 rata- rata 0,404 0,346 0,293 0,270 0,313 0,325

Indonesia periode 2013-2017 mengalami fluktuasi atau kenaikan dan penurunan setiap tahunnya. Jika dilihat dari rata-rata keseluruhan, perusahaan yang paling rendah nilai Debt to Assets Ratio (DAR) adalah TALF sebesar 0,153 dan perusahaan yang memiliki nilai Debt to Assets Ratio (DAR) paling besar adalah YPAS sebesar 0,550.

Jika dilihat dari rata-rata pertahun nilai Debt to Assets Ratio (DAR) pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 mengalami penurunan, dimana pada tahun 2013 nilai Debt to Assets Ratio (DAR) yaitu sebesar 0,404 hingga tahun 2016 nilai Debt to Assets Ratio (DAR) menjadi 0,270, dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan sedikit pada nilai Debt to Assets Ratio (DAR) yaitu sebesar 0,313. hal ini menunjukkan tidak baiknya menanam saham di dalam perusahaan karena lebih besar hutang dari pada aset.

d. Total Assets Turnover (TATO)

Variabel bebas (x3) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio aktivitas dengan alat ukur yaitu Total Assets Turnover (TATO). Rasio Aktivitas merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan atau menggunakaan sumber daya yang dimiliki. Berikut ini adalah hasil perhitungan Total Assets Turnover (TATO) pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.

Tabel IV.4

Total Assets Rasio (TATO) Perusahaan Pelastik dan Kemasan Di Bursa Efek

Indonesia Periode 2013-2017

Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI)

Dari data di atas dapat dilihat bahwa rata-rata nilai Total Assets Turnover (TATO) pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017 mengalami fluktuasi atau kenaikan dan penurunan setiap tahunnya. Jika dilihat dari rata-rata keseluruhan, perusahaan yang paling rendah nilai Total Assets Turnover (TATO) adalah TRST sebesar 0,703 dan perusahaan yang memiliki nilai Total Assets Turnover (TATO) paling besar adalah IGAR sebesar 2,025.

Jika dilihat dari rata-rata pertahun nilai Total Assets Turnover (TATO) pada tahun 2013 sebesar 1,029 dan mengalami peningkatan pada tahun 2014 menjadi sebesar 1,197 dan mengalami penurunan pada tahun 2015 dan 2016 menjadi sebesar 0,940 namun mengalami peningkatan kembali pada tahun 2017 menjadi sebesar 1,031. Kode 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata AKPI 0,798 0,874 0,7 0,783 0,752 0,781 APLI 0,927 1,077 0,845 1,017 0,959 0,965 BRNA 0,854 0,944 0,702 0,655 0,667 0,764 IGAR 2,045 2,109 1,738 1,804 2,431 2,025 TALF 1,24 1,293 1,097 0,646 0,702 0,996 TRST 0,623 0,769 0,732 0,684 0,707 0,703 YPAS 0,716 1,315 0,994 0,993 0,997 1,003 rata- rata 1,029 1,197 0,973 0,940 1,031 1,034

2) Analisis Data

a. Uji Persyaratan (Asumsi Klasik)

Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda sehingga dalam penelitian ini perlu dilakukan uji asumsi klasik. Hal ini disebabkan karena dalam analisis korelasi berganda perlu dihindari penyimpangan asumsi klasik, supaya tidak timbul masalah dalam penggunaan analisis korelasi berganda.Pengujian asumsi klasik berguna untuk mengetahui apakah data yang digunakan telah memenuhi ketentuan dalam model regresi. Pengujian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan pengujian heteroskedastisitas.

Berikut ini pengujian untuk menentukan apakah uji asumsi klasik tersebut terpenuhi atau tidak:

1) Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2016, hal. 154) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji normalitas yang digunakan untuk penelitian ini yaitu dengan :

a) Uji normal P-P Plot of Regression Standardized Residual.

Digunakan untuk melihat model regresi normalatau tidaknya dengan syarat, yaitu apabila data mengikuti garis dan menyebar disekitar garis diagonal tersebut.

(1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau garis histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

(2) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak mennjukan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Berdasarkan transformasi data, peneliti melakukan uji normalitas dengan hasil berikut:

Gambar IV-2 Uji Normalitas Sumber : Hasil Program SPSS 21

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar mengikuti garis diagonal. Oleh karena itu uji normalitas data dengan menggunakan P-P Plot Of regression Standardizer Residual diatas, dapat dinyatakan bahwa data tersbut berdistribusi normal dan sudah memenuhi asumsi normalitas.

b) Uji Kolmogrov Smirnov

Uji Kolmogrov Smirnov ini bertujuan agar dalam penelitian ini dapat mengetahui berdistrinormal atau tidaknya antara variabel independen dengan variabel dependen ataupun keduanya. Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji apakah residual berdistribusi adalah uji stasistik non parametik

kolmogrov smirnov (k-s) dengan memenuhi hipotesis:

Ho = Data residual berdistribusi normal Ha = Data residual tidak berdistribusi normal

Adapun data tabel hasil penguji kolmogrov smirnov adalah sebagai berikut:

Tabel IV.6

Hasil Uji Kolmogrov Smirnov (k-s) One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardiz ed Residual

N 35

Normal Parametersa,b

Mean ,0000000 Std. Deviation 3,98691839 Most Extreme Differences Absolute ,175 Positive ,175 Negative -,109 Kolmogorov-Smirnov Z 1,036

Asymp. Sig. (2-tailed) ,233

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber : Hasil Program SPSS 21

Dari pengelolaan data pada tabel diatas diperoleg besanya nilai Kolmogrov

Smirnov (k-s) adalah 0,436 dan signifikasi pada 0,991. Dari nilai tersebut dapat

disimpulkan bahwa Asyimp.sig(2-tailed) lebih besar dari 0,05, sehingga variabel telah terdistribusi normal.

2) Uji Multikolinieritas

Menurut Ghozali (2016, hal. 103) uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya koreksi antara variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolineritas dapat dilihat dari nilai tolerence dan variance infaltion factor (VIF). Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai vif tinggi (karena VIF = 1/tolerance). Nilau cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolineritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Hasil uji Multikolineritas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel IV.7 Uji Multikolineritas

Sumber : Hasil Program SPSS 21 (data diolah, 2019)

Berdasarkan tabel diatas, hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa nilai VIF dan nilai tolerance untuk masing-masing variabel sebagai berikut :

a) Nilai tolerance Current Ratio sebesar 0,222 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 4,512 < 10 maka Current Ratio dinyatakan bebas dari multikolinieritas.

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Lower Bound Tolerance VIF Constant 7,745 3,077 2,517 ,017 1,469 CR -,742 ,963 -,273 -,770 ,447 -2,706 ,222 4,512 DAR -12,092 6,285 -,445 -1,924 ,064 -24,910 ,521 1,918 TATO -,962 2,717 -,103 -,354 ,726 -6,503 ,330 3,030 a. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba

b) Nilai tolerance Debt to Assets Ratio sebesar 0,521 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,918 < 10 maka Debt to Assets Ratio dinyatakan bebas dari multikolinieritas.

c) Nilai tolerance Total Assets Turnover sebesar 0,330 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 3,030 < 10 maka Total Assets Turnover dinyatakan bebas dari multikolinieritas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi gejala multikolinieritas antara variabel independen (bebas).

3) Uji Heterokedasitas

Uji heterokedasitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi tidaksamaan varians dari residu satu pengamatan yang lain. Untuk mengetahui apakah terjadi atau tidak terjadi heterokedasitas dalam model regresi penelitian. Metode informal dalam pengujian heterokedasitas yaitu metode grafik Scatterplot. Dasar pengambilan keputusan adalah : tidak ada pola yang jelas. Titik-titik (poin-poin) menyebar dibawah dan diatas angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedasitas. Dasar analisis heterokedasitas adalah sebagai berikut:

a) Jika ada pola tertentu, seperti titik yang membentuk pola yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heterokedasitas.

b) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak heterokedasitas.

Gambar IV.3 Grafik Scatterplot Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan gambar grafik Scatterplot diatas dapat diketahui bahwa “tidak terjadi heterokedasitas” pada model regresi. Sebab, tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat dikatakan uji heterokedasitas terpenuhi.

b. Regresi Linier Berganda

Regresi adalah suatu metode untuk menentukan hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel-variabel yang lain. Untuk mengetahui hubungan variabel Rasio Keuangan (current rasio, Debt to Assets Rasio, Return

on Assets, Total Assets Turnover) terhadap pertumbuhan laba digunakan regresi

linier bergandabertujuan untuk memprediksi perubahan nilai variabel terikat akibat pengaruh variabel bebas dengan rumus:

Dimana:

Y = Perubahan laba periode t X1 = Current Ratio (CR)

X2 = Debt to Assets Ratio (DAR) X3 = Total Assets Turnover (TAT0)

Β1 β2 β3 = Koefisien Regresi a = Konstanta

Tabel IV.5

Hasil Regresi Linier Berganda

Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan tabel di atas, maka persamaan regresi linier berganda yang dapat diformulasikan adalah sebagai berikut:

Y = 7,745 – 0, 742X1 – 12,092X2 - 0,962X3

Keterangan

1) Nilai “a” = 7,745 menunjukkan bahwa apabila variabel independen yang terdiri dari Current Ratio (X1), Debt to Assets Ratio (X2), dan Total Assets

Turnover (X3) dalam keadaan konstan atau tidak mengalami perubahan (sama dengan nol), maka Pertumbuhan Laba (Y) adalah sebesar 7,745

2) Nilai koefisien regresi X1 = – 0,742 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Current Ratio (X1) mengalami kenaikan 1% maka

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7,745 3,077 2,517 ,017 CR -,742 ,963 -,273 -,770 ,447 DAR -12,092 6,285 -,445 -1,924 ,064 TATO -,962 2,717 -,103 -,354 ,726

Pertumbuhan Laba (Y) akan mengalami penurunan sebesar – 0,742 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain darinmodel regresi adalah tetap. 3) Nilai koefisien regresi X2 = – 12,092 artinya jika variabel independen lain

nilainya tetap dan Debt to Assets Ratio (X2) mengalami kenaikan 1% maka Pertumbuhan Laba (Y) akan mengalami penurunan sebesar – 12,092, dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain darinmodel regresi adalah tetap. 4) Nilai koefisien regresi X1 = - 0,962 artinya jika variabel independen lain

nilainya tetap dan Total Assets Turnover (X3) mengalami kenaikan 1% maka Pertumbuhan Laba (Y) akan mengalami penurunan sebesar - 0,962, dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain darinmodel regresi adalah tetap. Berdasarkan persamaan regresi diatas dapat dilihat bahwa apabila koefisien bernilai negatif artinya terjadi hubungan positif antara (X) dan (Y) begitu juga sebaliknya jika nilai koefisien bernilai negatif maka terjadi hubungan negatif antara (X) dan (Y).

c. Pengujian Hipotesis

1) Uji t (Uji Signifikan Persial)

Uji statistik t dilakukan untuk menguji apakah variabel bebas (X) secara individual mempunyai hubungan yang signifikan atau tidak terhadap variabel terikat (Y). Untuk penyederhanaan uji statistik t penulis menggunakan pengelolaan data SPSS 12:00 maka dapat diperoleh hasil uji t sebagai berikut:

Tabel IV.8 Hasil Uji t

Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Untuk kriteria Uji t dicari pada tangkat α = 0,05 dengan drajat kebebasan (df) n-k atau 35-3 = 32 (n adalah jumlah kasus dan k adalah jumlah variabel independen), hasil diperoleh ttabel sebesar 2,035.

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa

a) Pengaruh Current Rasio (CR) terhadap Pertumbuhan Laba

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah Current Ratio (CR) secara individual mempunyai yang signifikan atau tidak terhadap Pertumbuhan Laba. dari hasil pengelolaan data SPSS for windows versi 21, maka dapat diperoleh hasil uji t sebagai berikut:

Thitung = -0,770 Ttabel = 2,035

Dari kriteria pengambilan keputusan :

Ho diterima jika : -2,035 ≤ Thitung ≤ 2,035, pada α = 0,05 Ha diterima jika : 1. Thitung ≥ 0,770

2. -Thitung ≤ -0,770 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta Constant 7,745 3,077 2,517 ,017 CR -,742 ,963 -,273 -,770 ,447 DAR -12,092 6,285 -,445 -1,924 ,064 TATO -,962 2,717 -,103 -,354 ,726

-2,035 -0,770 0 0,770 2,035

Gambar IV.4 Kriteria Pengujian Hipotesis Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan hasil pengujian secara persial pengaruh Pertumbuhan Laba terhadap Current Ratio diperoleh -0,770 ≤ -2,035. Dan mempunyai angka signigfikan 0,447 ≥ 0,05. Berdasarkan hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa Ho di terima, hal ini menunjukkan bahwa secara persial Current Rasio memiliki hubungan negatif dan ada pengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Artinya meningkatnya Pertumbuhan Laba maka diikuti dengan menurunnya

Current Ratio pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia.

b) Pengaruh Debt to Assets Ratio (DAR) terhadap Pertumbuhan Laba.

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah Current Ratio (CR) secara individual mempunyai yang signifikan atau tidak terhadap Pertumbuhan Laba. dari hasil pengelolaan data SPSS for windows versi 21, maka dapat diperoleh hasil uji t sebagai berikut:

Thitung = -1,924 Ttabel = 2,035

Dari kriteria pengambilan keputusan :

Ha diterima jika : 1. Thitung ≥ 1,924 2. -Thitung ≤ -1,924

-2,035 -1,924 0 1,924 2,035

Gambar IV.5 Kriteria Pengujian Hipotesis Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan hasil pengujian secara persial pengaruh Pertumbuhan Laba terhadap Debt to Assets Ratio diperoleh -1,924 ≤ -2,035. Dan mempunyai angka signigfikan 0,064 ≥ 0,05. Berdasarkan hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa Ho di terima, hal ini menunjukkan secara persial Debt to Assets Rasio memiliki hubungan negatif dan ada pengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Artinya meningkatnya Pertumbuhan Laba maka diikuti dengan menurunnya Debt

to Assets Ratio pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa

Efek Indinesia.

c) Pengaruh Total Assets Turnover (TATO) terhadap Pertumbuhan Laba.

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah Current Ratio (CR) secara individual mempunyai yang signifikan atau tidak terhadap Pertumbuhan Laba. dari hasil pengelolaan data SPSS for windows versi 21, maka dapat diperoleh hasil uji t sebagai berikut:

Thitung = -0,354 Ttabel = 2,035

Ho diterima jika : -2,035 ≤ Thitung ≤ 2,035 , pada α = 0,05 Ha diterima jika : 1. Thitung ≥ 0,354

2. -Thitung ≤ -0,354

-2,035 -0,354 0 0,354 2,035

Gambar IV.6 Kriteria Pengujian Hipotesis Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan hasil pengujian secara persial pengaruh Pertumbuhan Laba terhadap Total Assets Turnover diperoleh -0,354≤ -2,035. Dan mempunyai angka signigfikan 0,726 ≥ 0,05. Berdasarkan hasil tersebut didapat kesimpulan bahwa Ho di terima, hal ini menunjukkan secara persial Total Assets Turnover memiliki hubungan negatif dan ada pengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

d. Uji F (Uji Signifikan Simultan)

Uji F atau juga dengan uji signifan serentak dimaksudkan untuk melihat kemampuan menyeluruh dari variabel bebas yaitu Current ratio (X1), Debt to

Assets Ratio (X2), dan Total Assets Turnover (X3) untuk dapat mampu menjelaskan tingkah laku atau keragaman Pertumbuhan Laba (Y). Uji F juga dimaksud untuk mengetahui apakah semua variabel memiliki koefisien regresi sama dengan nol. Berikut ini hasil statistik pengujiannya:

Tabel IV.9 Uji Signifikasi F

Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Untuk kreteria uji F dilakukan pada tingkat α = 0,05 dengan nilai f untuk Ftabel = n – k – 1 = 35 – 3 – 1 = 31 adalah 2,90

Kriteria pengujian :

a. Tolak Ho apabila Fhitung < 1,623 atau – Fhitung > -1,623 b. Terima Ha apabila Fhitung < 1,623 atau – Fhitung > -1,623

Gambar IV.7 Kriteria Pengujian Hipotesis Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Berdasarkan hasil uji F pada tabel diatas di dapat nilai Fhitung sebesar 1,623 dengan signifikan 0,204. Nilai Fhitung (1,623) < Ftabel (2,90) dan nilai signifikan (0,204) > dari nilai probabilitas (0,05). Dari hasil perhitungan SPSS diatas menunjukkan bahwa Ha di terima dan Ho di tolak, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara Current ratio (X1), Debt to Assets Ratio (X2), dan Total

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 84,884 3 28,295 1,623 ,204b Residual 540,448 31 17,434

Total 625,331 34

a. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba b. Predictors: (Constant), TATO, DAR, CR

0 1,623 2,90

Assets Turnover (X3) secara bersama-sama terhadap Pertumbuhan Laba pada

perusahaan Plastik dan Kemasan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

e. Koefisian Determinasi (R-Square)

Koefisian Determinasi (R2) berfungsi untuk melihat sejauh mana keseluruhan variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Nilai koefisien determinasi 0 dan 1. Apabila angka koefisien determinasi semakin kuat, yang berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Sedangkan nilai koefisien determinasi (adjusted R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel-variabel dependen adalah terbatas.

Untuk memepermudah peneliti dalam pengelolaan penganalisisan data, peneliti menggunakan program komputer yaitu Statistikal Program For Social Science (SPSS).

Tabel IV.10

Uji Koefisien Determinasi

Sumber : Hasil penelitian SPSS 21

Semakin tinggi nilai R-Square maka semakin baik bagi model regresi, karena berarti kemampuan variabel bebas untuk menjelaskan variabel terikatnya juga semakin besar. Nilai yang didapat memlalui uji determinasi, yaitu sebagai berikut :

Model Summary

b

Mode

l

R R

Square

Adjusted R

Square

Std. Error of

the Estimate

1 ,368

a

,136 ,052 4,17538

a. Predictors: (Constant), TATO, DAR, CR

b. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba

D = R2 x 100% = 0,136 x 100% = 13,6%

Berdasarkan uji koefisien determinan pada tabel diatas, niali R-Square diatas diketahui bernilai 13,6%. Artinya menunjukkan bahwa sekitar 13,6% variabel Pertumbuhan Laba yang di jelaskan oleh Current ratio (X1), Debt to Assets Ratio (X2), dan Total Assets Turnover (X3). Atau dapat dikatakn bahwa

kontribusi Current ratio (X1), Debt to Assets Ratio (X2), dan Total Assets Turnover (X3) terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan Plastik dan Kemasan yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017 adalah sebesar 13,6% di pengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Dokumen terkait