• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan praktek klinik kebidanan yang diselenggarakan oleh Akademi Kebidanan mulai dari persiapan, pelaksanaan serta evaluasi. Peneliti memperkuat data dengan melakukan wawancara dengan bidan yang menjadi tempat lahan praktek bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Pamenang serta penanggungjawab praktek dalam hal ini PUDIR I Akademi Kebidanan Pamenang untuk mendapatkan gambaran mengenai praktek klinik kebidanan yang diselenggarakan oleh Akademi Kebidanan Pamenang dalam upaya pencapaian kompetensi mahasiswa pada asuhan kebidanan ibu bersalin, faktor – faktor yang berperan dalam pencapaian kompetensi pada asuhan kebidanan ibu bersalin, kendala yang dihadapi dalam upaya pencapaian

kompetensi mahasiswa pada asuhan kebidanan ibu bersalin serta gambaran pencapaian kompetensi mahasiswa pada asuhan kebidanan ibu bersalin. Hasil wawancara ini didukung oleh dokumen berupa penilaian kompetensi mahasiswa pada asuhan kebidanan ibu bersalin.

1. Kegiatan Praktek Klinik Kebidanan di Akademi Kebidanan Pamenang Pembelajaran praktek / praktek klinik merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang terintegrasi dalam seluruh program pendidikan khususnya pencapaian tujuan bagi lulusan. Praktek klinik kebidanan yang diselenggarakan oleh Akademi Kebidanan Pamenang berada dibawah tanggungjawab Pudir I sehingga merupakan bagian yang paling banyak mengetahui kegiatan praktek klinik kebidanan mulai tahap persiapan sampai pelaksanaan kegiatan. Pihak yang berkaitan secara langsung dengan kegiatan ini adalah lahan praktek klinik diantaranya adalah bidan yang membimbing mahasiswa secara langsung dalam melakukan pratek klinik kebidanan khususnya dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin. Dari hasil wawancara kepada Pudir I, bidan yang membimbing mahasiswa dalam melaksanakan praktek klinik kebidanan serta mahasiswa, maka penulis mendapatkan bahwa pelaksanaan praktek klinik terdiri dari persiapan yang harus dilalui oleh mahasiswa mulai dari ketika mahasiswa masih berada di institusi yaitu mengikuti mata kuliah asuhan kebidanan ibu bersalin sebagai salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa selain kompetensi yang lain melalui teori, praktek klasikal oleh dosen yang

sumber daya manusia-nya sesuai dengan kriteria, bimbingan mahasiswa secara individu menggunakan phantom serta kewajiban mahasiswa melaksanakan asses Asuhan Persalinan Normal ( APN ) yang diselenggarakan oleh institusi dengan bekerjasama dengan P2KP & IBI. Selain itu melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit yang terkait dengan kegiatan praktek klinik kebidanan . Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, Akademi Kebidanan Pamenang melakukan rapat koordinasi sebelum menyelenggarakan praktek klinik kebidanan yang melibatkan Dinas Kesehatan, IBI, serta lahan praktek terkait yang meliputi Puskesmas, Rumah Bersalin, Bidan praktek Swasta ( BPS ) di wilayah Kediri dan Blitar, serta Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit swasta di wilayah Pare. Rapat koordinasi ini membahas berbagai hal yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan praktek klinik kebidanan secara umum serta mengevalusi praktek klinik kebidanan yang telah dilakukan pada tahun akademik sebelumnya. Institusi pendidikan menyusun buku pedoman praktek yang terdiri dari kompetensi yang harus dicapai mahasiswa, jadwal serta tata tertib yang harus dijalankan oleh mahasiswa. Mahasiswa mengikuti pembekalan yang diselenggarakan di institusi pendidikan dan di Dinas Kesehatan untuk memperoleh penjelasan mengenai kompetensi yang harus diperoleh, jadwal praktek serta tata tertib praktek. Alat penilaian pencapaian kompetensi adalah checklist asuhan persalinan normal dan target kompetensi didokumentasikan dalam buku target kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswa. Mahasiswa wajib

menyerahkan laporan pendahuluan di awal praktek serta membuat dokumentasi asuhan kebidanan setelah melakukan pertolongan persalinan. Pembimbing praktek dari institusi pendidikan memiliki kualifikasi D-IV Kebidanan atau D-III Kebidanan dengan pengalaman klinik minimal 2 tahun. Sedangkan dari lahan praktek memiliki pendidikan D-III Kebidanan atau D-IV Kebidanan dengan pengalaman minimal 2 tahun, sudah mengikuti pelatihan APN atau memiliki jumlah persalinan minimal 15 persalinan tiap bulan. Setelah akhir periode praktek, institusi pendidikan menyelenggarakan presentasi kasus dengan narasumber institusi pendidikan dan pembimbing praktek.

” Sebelum melakukan kegiatan praktek klinik kebidanan, mahasiswa memperoleh mata kuliah asuhan kebidanan II yaitu persalinan yang bertujuan untuk memberikan kemampuan kepada mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam persalinan dengan pendekatan manajemen kebidanan dimana ilmu itu didasari oleh konsep – konsep, sikap dan keterlambatan serta hasil evidence based dengan pokok bahasan yang pertama konsep dasar persalinan, kemudian beberapa faktor yang mempengaruhi persalinan, proses adaptasi psikologi dalam persalinan, kebutuhan dasar pada ibu dalam proses persalinan, asuhan pada setiap kala persalinan, deteksi dini komplikasi persalinan dan cara penanganannya, juga askeb pada bayi segera setelah lahir sampai dengan cara pendokumen asuhan masa persalinan. Pada mata kuliah ini mahasiswa akan memperoleh pembelajaran tentang asuhan kebidanan ibu bersalin dalam asuhan persalinan normal secara klasikal kepada mahasiswa, kemudian akan mempraktekkan asuhan kebidanan ibu bersalin di laboratorium secara individu dengan dosen

pembimbing masing – masing dengan memakai panthom. E…..Dalam pembelajaran, dosen kita pilih sesuai dengan kriteria kita siapkan dosen itu sesuai dengan kriteria dari SDM-nya yaitu dosen dengan pendidikan kebidanan D-4 kemudian dilengkapi dengan pekatihan –pelatihan seperti pelatihan APN-Apabila dalam melakukan pembelajaran dilaboratorium dengan panthom sesuai dengan kompetensi APN mahasiswa dipandang belum mampu maka akan dilakukan pengulangan praktek laboratorium sampai mahasiswa dinyatakan lulus oleh dosen pembimbing di laboratorium. Kemudian Mahasiswa wajib juga mengikuti asses APN yang diadakan di institusi pendidikan yang bekerjasama dengan tim P2KP & IBI ”. ( CHW 1 dengan Institusi Pendidikan )

” Kegiatan Praktek Klinik Kebidanan di Akbid Pamenang, itu kita melakukan dengan dua tempat Praktek Klinik Kebidanan yang kita bekerjasama dengan Rumah sakit juga dengan dinas kesehatan termasuk dengan profesi dalam hal ini IBI. Kalau dengan rumah sakit kita lakukan rapat koordinasi sesuai kompetensi yang ada , kemudian untuk praktek klinik yang menggunakan dinas kesehatan yang kerjasama dengan IBI kita akan letakkan mahasiwa di Bidan Praktek Swasta, kemudian rumah bersalin dan juga puskesmas. Pemilihan Lahan praktek ditentukan dengan mempertimbangkan: yang pertama adalah tempat. Tempat harapan kami untuk pemenuhan kegiatan berarti lahan praktek yang bisa mencapai kompetensi mahasiswa yang pertama bidan pembimbing dalam hal ini lahan praktek itu harus mempunyai minimal pertolongan persalinan 15 pertolongan persalinan dimana tempatnya bu bidannya mempunyai pendidikan minimal D3 atau yang mempunyai sertifikat APN, kemudian yang ke dua kompetensi yang harus dicapai mahasiswa, mahasiswa mempunyai kompetensi asuhan kebidanan pada ibu bersalin itu seharusnya memang dimulai semester 4 untuk praktek klinik di lapangan tetapi dari semester 3 setelah mahasiswa mendapatkan mata kuliah askeb II pada smt 3 mahasiswa mulai sudah kita terjunkan

untuk melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin. Kemudian semester 4 PKK I, PKK II & PKK III. PKK I smt 4, PKK II smt 5 & PKK III smt 6 dimana setiap semester mahasiswa kita bagi dalam jumlah kompetensi yang berbeda yaitu pada semester 4..., 15 kompetensi yang harus diselesaikan untuk melakukan pertolongan persalinan, kemudian pada semester 5...., 15 pertolongan persalinan kemudian semester 6 harapannya adalah sekurangnya 20 ibu bersalin bisa dilakukan asuhan ibu bersalian. kemudian untuk pembimbing lahan praktek tadi sudah kita sampaikan bahwa pembimbing memiliki minimal D-3 kebidanan dengan mungkin ditambah dengan sertifikat APN sehingga mampu melakukan bimbingan mengikuti perkembangan terbaru dalam bidang kebidanan dimana keikutsertaan dalam pelatihan dapat menjadi pertimbangan karena dalam melakukan bimbingan pada mahasiswa dapat mengacu pada langkah- langkah yang terdapat dalam standar persalinan normal dalam hal ini 58 langkah ”.

( CHW 2 dengan institusi pendidikan )

” Melaksanakan bimbingan APN di laboratorium, asses APN, Konseling ke Pembimbing Akademik, Menghitung jumlah target yang belum terpenuhi. ”.

( CHK 2 dengan mahasiswa 1 )

” Telah melalui perkuliahan askeb II, mengikuti asses APN, Menyiapkan segala persyaratan praktek sesuai dengan arahan dari institusi pendidikan antara lain : membuat laporan pendahuluan, menyiapkan format asuhan kebidanan ”.

2. Kompetensi Mahasiswa dalam Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin

Kompetensi mahasiswa dinilai di institusi pendidikan dengan Ujian Tahap II untuk asuhan kebidanan ibu bersalin dengan phantom. Apabila penilaian kurang dari standart maka dilakukan pembimbingan ulang dan melakukan remidiasi kepada mahasiswa. Di praktek klinik kebidanan, kompetensi mahasiswa dalam asuhan kebidanan dilakukan secara nyata kepada pasien dengan checklist oleh pembimbing lahan praktek. Lahan diperkenankan mengembalikan mahasiswa ke institusi pendidikan untuk mendapatkan bimbingan secara intensif apabila terdapat mahasiswa dengan kompetensi yang kurang. Dari hasil wawancara dengan Pudir I Akademi Kebidanan Pamenang, Bidan pembimbing praktek serta dokumen hasil penilaian kompetensi mahasiswa dalam asuhan kebidanan ibu bersalin, terdapat mahasiswa yang pencapaian kompetensinya baik dan ada yang cukup. Sehingga tidak pernah terjadi pengembalian mahasiswa ke institusi karena masih dapat diantisipasi oleh pembimbing klinik dengan melakukan pembimbingan secara intensif yaitu mengharuskan mahasiswa melihat pembimbing lahan praktek mendemonstrasikan secara langsung asuhan persalinan kepada pasien. Standart untuk kompeten adalah mahasiswa yang minimal memperoleh nilai yang baik dalam asuhan kebidanan ibu bersalin. Kompetensi mahasiswa baik karena mahasiswa rajin, pintar, punya motivasi dan tanggung jawab serta pengalaman menghadapi persalinan melalui jumlah target yang didapat dari pertolongan persalinan secara mandiri. Sedangkan kompetensi mahasiswa kurang karena jumlah target kompetensi

masih sedikit, mahasiswa malas serta kurang mandiri. Pada praktek klinik kebidanan II yang dilaksanakan di semester V diperoleh bahwa mahasiswa yng memiliki kompetensi kurang, ternyata masih belum dapat mencapai kompetensi yang baik dalam asuhan kebidanan ibu bersalin.

”Kompetensi mahasiswa tadi sudah dari dari UHAP dan kemudian di lahan praktek. Saat di lahan praktek juga dilakukan dalam bentuk checklist dimana mahasiswa akan tampak mahasiswa kompetensinya bagus, cukup atau kurang, kalaupun nanti ada mahasiswa yang kompetensinya kurang, berarti lahan praktek bisa mengembalikan ke institusi untuk dilakukan bimbingan secara lebih intensif tapi untuk yang cukup biasanya pembimbing lahan akan melakukan bimbingan langsung dengan mahasiswa di tempat praktek ”.

( CHW 3 dengan Institusi Pendidikan )

”Alhamdulillah ... sampai sekarang belum ada pengembalian mahasiswa dari lahan praktek ke pendidikan . Masih bisa diantisipasi oleh pembimbing klinik yang ada ditempat praktek sehingga mahasiswa menjadi kompeten ”.

( CHW 5 dengan Institusi Pendidikan )

”Untuk mahasiswa untuk pencapaian kompetensi bisa kita lihat secara individu mungkin dari mahasiswanya sendiri yang kedua dari pengalaman yang didapat sewaktu praktek jadi kalau mahasiwa banyak menemui kasus dan bisa melakukan sendiri harusnya kompetensinya lebih baik dibandingkan dengan ditempat lahan yang dia jarang menemui ibu bersalin yang ada di tempat ”.

” Kompetensi pada asuhan pada khususnya ibu bersalin oleh karena mahasiswa ada yang pinter, cukupan kurang kira – kira yang ditanyakan untuk yang pinter atau yang kurang ?

Kalau untuk yang kompetensinya bagus dalam hal ketrampilan untuk asuhan persalinan itu ada mahasiswanya , itu memang saya senang karena dia dalam membimbing dalam ketrampilan terutama persalinan memang pinter sekali saya melihatnya mulai dari awal bahwa apa yang sudah kita sampaikan mahasiswa ketrampilan – ketrampilan itu kita nilai. Menilainya kita memang ” ngeculne ” tetapi kita mengawasi istilahnya dari awal biar dia melaksanakan sendiri ternyata mahasiswa tersebut kita awasi dari awal sampai akhir dia adalah mampu sekali, jadi kita senang sekali dengan mahasiswa seperti yang seperti itu sehingga kita nilai lebih dibanding teman – teman yang lain ”.

( CHW 4 dengan BPS 1 )

” Iya ………jadi untuk yang kompetensinya yang dianggap nilainya masih kurang itu memang ada, 1 atau 2 ada. Jadi tehnik saya jadi sama dengan yang tadi sudah saya nilai baik itu. Kita “ ngeculne” ketrampilan , dia melaksanakan sendiri asuhan kebidanan dalam persalinan itu, kita mengawasi mulai dari awal sampai akhir sehingga kita dapat menilai mulai sari awal tadi ternyata sampai akhir, belum sampai akhir, tengah – tengah itu dia sudah kita dapatkan bahwa dia belum begitu mampu sehingga kita tidak meneruskan, tidak meneruskan sampai akhir karena itu masalahnya adalah masalah nyawa, nyawa seseorang. Begitu dapat separoh dia sudah kira – kira tidak mampu langsung kita bimbing langsung jadi kita ajari tidak kita lepas seluruhnya seperti apa yang sudah dilaksanakan oleh mahasiswa yang pinter tadi. Sehingga kita menuntun, banyak menuntunnya dari pada dia melaksanakan sendiri ”. ( CHW 5 dengan BPS 1 )

”Alhamdulillah ... ini yang praktek ditempat saya ...mahasiswa ini anaknya agak rajin ya... sudah kebetulan persalinan pada minggu ini agak banyak kurang lebih dia mendapatkan persalinan 12 – 13 selam 3 minggu terakhir besok. Dia mulai persalinan yang ke empat, insya Allah ... sudah saya untuk mulai menolong sendiri dengan pantauan otomatis ya .... tidak dilepas. Secara kebetulan persalinan jamkesmas dan ibunya kebetulan kooperatif mau ditolong oleh adiknya yang praktek”.

( CHW 4 dengan BPS 2 )

”Kemungkinan karena adiknya rajin dan adiknya sudah semester 5 kan sudah mendekati akhir kompetensinya sudah terpenuhi”.

( CHW 5 dengan BPS 2 )

” Target kompetensi asuhan persalinan pada periode ini dapat 5 tetapi pencapaian kompetensi dalam asuhan persalinan masih belum baik banyak tindakan yang terlewatkan ”.

( CHW 1 dengan BPS 3 )

” Pencapaian target sebanyak 50 tetapi pasien yang didapat pada praktek klinik I di semester 4 hanya 10 orang dan pada PKK semester 5 ini mendapatkan 5 orang pasien. Karena banyak pasien yang dirujuk”. ( CHK 2 dengan Mahasiswa 1 )

” Pencapaian target kompetensi asuhan kebidanan pada ibu bersalin masih belum terpenuhi seluruhnya, namun sudah mendapatkan pencapaian setengah dari target melalui praktek klinik kebidanan pada semester 4”.

3. Faktor – Faktor Yang Berperan Dalam Pencapaian Kompetensi Pada Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin.

Kendala yang ada dalam kegiatan praktek klinik kebidanan akan mempengaruhi pencapaian kompetensi mahasiswa dalam hal ini adalah kompetensi asuhan kebidanan ibu bersalin, diantaranya : Perbedaan Persepsi tentang praktek, jumlah pembimbing belum memadai baik kuantitas & kualitas, perubahan status lahan praktek serta bertambahnya jumlah institusi Diknakes yang mempengaruhi ketersediaan lahan. Dari hasil wawancara dengan Pudir I Akademi Kebidanan Pamenang, observasi secara langsung ke tempat penelitian serta Bidan Pembimbing praktek diperoleh bahwa Institusi Pamenang selalu mengadakan rapat koordinasi sebelum melakukan kegiatan praktek klinik kebidanan sehingga dapat menghindari adanya perbedaan persepsi antara institusi dan lahan praktek dalam kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa dalam praktek klinik kebidanan. Kerjasama yang dilakukan dengan Dinas Kesehatan dan profesi dapat membantu menentukan lahan praktek sehingga saat ini pembimbing lahan praktek memiliki salah satu kriteria yang ditentukan yaitu pendidikan minimal D-3, memiliki sertifikat APN atau melakukan pertolongan persalinan dengan APN, bidan pembimbing yang sesuai standar dengan menjadi bidan Delima serta pemilihan lahan dengan jumlah pasien persalinan yang banyak karena mengingat banyaknya institusi kebidanan di lingkungan Akademi Kebidanan Pamenang sehingga tidak semua

mahasiswa mendapatkan kesempatan memperoleh tempat praktek dengan jumlah persalinan yang sesuai harapan.

”Jadi untuk persyaratan menjadi pembimbing lahan praktek itu saya sudah mengikuti pelatihan APN di surabaya yang dilaksanakan oleh IBI .... IBI- IGO itu. Sudah punya sertifikat saya sehingga saya berhak membimbing baik dilahan praktek dan lingkungan institusi Akbid”. ( CHW 2 BPS 1 )

“Iya …… yang terakhir ini sudah 58 langkah jadi dulu sudah pernah membimbing mulai 60 langkah & yang terakhir dirubah menjadi 58 langkah“.

( CHW 3 BPS 1 )

” Pendidikan terakhir P2B di RSI Surabaya saya pernah mengikuti APN pada tahun 2007 . Ya... APN tahun 2007 masih pakai 60 langkah pada APN 2009 sudah mulai pakai 58 langkah ”.

( CHW 2 BPS 2 )

”Ya... mulai sehingga sudah mulai pakai yang 58 langkah & saya sudah menerapkan untuk IMD”.

( CHW 3 BPS 2 )

4. Kendala yang dihadapi mahasiswa dalam upaya pencapaian kompetensi mahasiswa pada asuhan kebidanan ibu bersalin.

Dalam pelaksanaan praktek klinik kebidanan mahasiswa mengalami kendala bahwa mahasiswa tidak selalu memperoleh kesempatan untuk melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin secara mandiri karena

kemampuannya kurang, pasien tidak selalu bersedia di tolong oleh mahasiswa, komunikasi antara bidan dan mahasiswa kurang serta jumlah persalinan di lahan praktek yang tidak selalu sesuai dengan target yang diharapkan. Cara mengatasi adalah dengan memberikan bimbingan secara lebih intensif, kemudian memberikan kesempatan kembali untuk melakukan asuhan. Untuk jumlah persalinan yang tidak sesuai dengan target, dapat diatasi dengan kerjasama dengan bidan di wilayah terdekat atau menempatkan mahasiswa ditempat yang jumlah persalinannya lebih banyak pada periode praktek berikutnya.

”Kita “ ngeculne” ketrampilan , dia melaksanakan sendiri asuhan kebidanan dalam persalinan itu, kita mengawasi mulai dari awal sampai akhir sehingga kita dapat menilai mulai dari awal tadi ternyata sampai akhir, belum sampai akhir, tengah – tengah itu dia sudah kita dapatkan bahwa dia belum begitu mampu sehingga kita tidak meneruskan, tidak meneruskan sampai akhir karena itu masalahnya adalah masalah nyawa, nyawa seseorang. Begitu dapat separoh dia sudah kira – kira tidak mampu langsung kita bimbing langsung jadi kita ajari tidak kita lepas seluruhnya”.

( CHW 5 BPS 1 )

”Mahasiswa yang memiliki kompetensi yang baik memiliki keaktifan untuk bertanya tentang berbagai hal yang tidak dia mengerti baik mengenai pengetahuan, ketrampilan atau trik – trik dalam melakukan

asuhan persalinan yang tidak ia dapatkan ketika berada di kuliah. Mahasiswa yang memiliki kompetensi kurang cenderung hanya menerima segala sesuatu yang diberikan bidan dan kurang aktif bertanya sehingga pembimbing tidak tahu apa yang kurang dimengerti oleh mahasiswa’.

(CHW 7 dengan BPS 1)

” Pembimbingan saya lakukan dengan memberikan kesempatan melakukan asuhan tetapi dengan pengawasan yang ketat serta mendemonstrasikan secara langsung tindakan pertolongan persalinan karena terdapat tindakan yang tidak dilakukan oleh mahasiswa”.

( CHW 2 dengan BPS 3 )

”Untuk kesempatan melakukan asuhan kebidanan ibu bersalin bisa diperoleh namun tidak selalu pertolongan persalinan dapat dilakukan secara mandiri ”.

( CHW 4 dengan mahasiswa 2 )

”Kesempatan selalu ada karena pembimbing praktek memberikan kesempatan untuk belajar menerapkan asuhan sesuai dengan checklist APN . Meskipun tidak sepenuhnya diserahkan kepada mahasiswa”. (CHW 4 dengan mahasiswa)

” Kesempatan untuk melakukan asuhan kebidanan masih kurang karena pasien tidak selalu bersedia dilayani oleh mahasiswa dan pembimbing praktek yang terkadang tidak selalu bersedia memberi kesempatan dalam memberikan asuhan kebidanan secara mandiri, jumlah pasien tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan sebelumnya serta kurangnya komunikasi antara bidan dengan mahasiswa praktek”.

5. Praktek Klinik Kebidanan dalam Upaya Pencapaian Kompetensi Mahasiswa pada Asuhan kebidanan Ibu Bersalin

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pudir I Akademi Kebidanan Pamenang, Bidan Praktek dan Mahasiswa diperoleh hasil bahwa mahasiswa memperoleh kesempatan untuk dapat menerapkan teori dan pembelajaran praktek laboratorium secara nyata ketika mengikuti praktek klinik kebidanan. Penentuan target kompetensi yang harus diperoleh mahasiswa dalam asuhan kebidanan ibu bersalin sebanyak 50 pasien akan membantu pencapaian kompetensi mahasiswa karena dilakukan dengan bimbingan bidan sehingga mahasiswa tidak hanya memenuhi target yang telah ditetapkan melainkan benar – benar melakukan sesuai dengan komptetensi yang ditetapkan. Terdapat mahasiswa yang memiliki kompetensi yang baik dan mahasiswa yang memiliki kompetensi yang kurang dalam asuhan kebidanan ibu bersalin. Pembimbingan dilakukan oleh bidan kepada mahasiswa yang memiliki pencapaian kompetensi asuhan kebidanan pada ibu bersalin yang tidak sesuai standart dengan mengulang bimbingan sampai mahasiswa dapat menerapkan asuhan sesuai kompetensi yang ditetapkan. Pembimbingan bidan terhadap mahasiswa dengan kompetensi baik adalah dengan memberikan kesempatan untuk mahasiswa memberikan asuhan mandiri dengan pengawasan. Berbagai hal yang menjadi faktor pendukung dalam pencapaian kompetensi pada praktek klinik kebidanan adalah persamaan persepsi bidan dan institusi tentang praktek, pembimbing klinik telah memenuhi syarat baik dalam pendidikan maupun jumlah persalinan di lahan praktek.

”Kita ketahui bahwa dengan melakukan Praktek Klinik Kebidanan maka mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan ibu bersalin selama praktek klinik, dimana merupakan sarana juga untuk mencapai kompetensi. Kompetensi mahasiswa disini di targetkan sebanyak 50 pertolongan

persalinan. Apabila mahasiswa memperoleh kesempatan melakukan asuhan kebidannan ibu bersalin sebanyak 50 persalinan dengan bimbingan bidan maka mahasiswa tidak hanya memperoleh target kompetensi tapi juga benar – benar dapat melakukan asuhan kebidanan sebagai kompetensi mahasiswa dalam asuhan kebidanan ibu bersalin akan tercapai dengan baik”.

( CHW 4 dengan institusi pendidikan )

”Kalau ada pasien lagi ya ... dia diterapkan dulu seperti kemarin, seperti kemarin bisakah dia menyelesaikan ketrampilan yang sudah saya berikan kepada mahasiswa yang kurang tadi, ternyata kl ada salah satu mahasiswa lagi yang tetep caranya seperti kemarin itu, ternyata... ada yang tetap bingung tidak bisa sehingga saya harus merubah ..., merubah cara atau tehnik pembimbingan salah satunya saya suruh melihat saya melaksanakan tindakan itu dengan cermat berdasarkan checklist yang sudah ada sehingga besoknya lagi ada persalinan lagi dia saya suruh menerapkan lagi cara – cara tehnik seperti sebelumnya, dengan cara seperti itu mencocokkan dengan checllist itu berarti yang betul seperti itu, sehingga untuk besoknya dia akan menirukan apa yang menjadi kesalahan dia ”.

( CHW 7 dengan BPS 1 )

”Untuk proses bimbingan pertama memang saya dampingi waktu pertama ada persalinan misalnya waktu pada observasi waktu pembukaan saya suruh untuk VT jadi mulai mengenali pembukaan berapa – berapa sampai pembukaan lengkap. Untuk mengetahui pembukaan 5 – 6 cm saya pantau begitu terus sampai pada kala I sampai II dan III itu ….”.

”Kesempatan selalu ada karena pembimbing praktek memberikan kesempatan untuk belajar menerapkan asuhan sesuai dengan checklist APN ”

( CHW 4 dengan mahasiswa 1 )

”Pembimbingan dimulai dari melihat pertolongan persalinan pada awal praktek semester 3 kemudian membantu pembimbing melakukan asuhan persalinan sampai kemudian dibimbing untuk belajar menolong

Dokumen terkait