• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Subjek Penelitian

Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan eksperimen pada mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah Akuntansi Manajemen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Seluruh subjek berjumlah 120 orang dibagi ke dalam delapan kelompok dengan kondisi yang berbeda sesuai dengan skenario peneliti. Adapun profil partisipan yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini ditujukan dalam Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2

17 partisipan telah menempuh kuliah selama 2 tahun 8 bulan terhitung awal masuk tahun ajaran September 2016, yaitu sebanyak 2 subjek sedang menempuh semester 4, 117 subjek sedang menempuh semester 5 dan 1 subjek sedang menempuh semester 8 periode tahun ajaran 2015-2016. Terhitung sebanyak 26 subjek (33%) memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dalam range 2,01-2,99;

63 subjek (52,5%) dengan range IPK 3,00-3,49; dan 31 orang (25,38%) memiliki IPK ≥ 3.50.

Pengecekan Manipulasi

Subjek diminta untuk menyusun rekomendasi anggaran yang sebelumnya telah mengetahui actual cost dan total dana tersedia atas masing-masing proyek.

Selisih antara total dana tersedia dengan actual cost adalah 10 satuan yang diwakilkan dengan nominal milyar rupiah. Setiap selisih antara rekomendasi anggaran yang disusun oleh subjek dengan actual cost menunjukkan nominal atas anggaran yang kendur (slack). Pengecekan manipulasi atau manipulation check dalam konsep kejujuran maupun tekanan ketaatan memiliki rata-rata teoritis sebesar 55, menyimpulkan bahwa apabila subjek dalam kondisi tekanan ketaatan tinggi maka akan memberikan score melebihi 55 terhadap penilaian akan tekanan dari atasan yang bersifat negatif, sebaliknya apabila dalam kondisi tekanan ketaatan rendah maka subjek akan memberikan score dibawah 55.

Sementara dalam konsep kejujuran, subjek yang bertindak jujur akan memberikan keputusan rekomendasi anggaran mendekati actual cost. Subjek diminta untuk memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mengenai keputusan rekomendasi anggaran apakah sesuai dengan actual cost dengan skala 10 untuk mewakili tidak sesuai actual cost hingga skala 100 yang mewakili sesuai dengan actual cost. Sehingga disimpulkan bahwa subjek dalam kondisi yang didorong untuk berperilaku jujur dengan pendekatan kewenangan akhir dimiliki oleh atasan (terdapat kemungkinan untuk terjadinya penolakan anggaran) dan komunikasi anggaran dilakukan dengan adanya penegasan faktual akan memberikan score atas penilaian pembuatan rekomendasi anggaran sesuai dengan actual cost yaitu diatas 55.

18

Tabel 3 menunjukkan subjek yang mendapatkan kondisi penugasan penyusunan rekomendasi anggaran berdasarkan komunikasi anggaran dengan penegasan faktual akan memberikan rekomendasi mendekati actual cost dengan range 30-100 menghasilkan rata-rata sebesar 67 melebihi rata-rata teoritis yaitu 55. Sementara subjek yang menyusun anggaran tanpa adanya penegasan faktual memberikan keputusan anggaran yang dibawah rata-rata teoritis dengan range 20-80 yaitu 49. Dalam konteks perlakuan kewenangan akhir anggaran, subjek yang menerima penugasan akuntansi manajemen untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan kewenangan akhir dimiliki oleh atasan menunjukan rekomendasi anggaran mendekati actual cost dengan range 30-100 menghasilkan rata-rata sebesar 62,34 melebihi rata-rata teoritis yaitu 55. Sedangkan dalam perlakuan yang berbeda arah dimana kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh bawahan, subjek memberikan penilaian atas kesesuaian anggaran terhadap actual cost dibawah rata-rata teoritis yaitu sebesar 54,17 dengan range penilaian antara 20-80.

Perlakuan tekanan ketaatan yang diterima oleh subjek dipresentasikan dengan perintah yang tidak sesuai dengan keyakinan subjek sebagai akuntan manajemen. Dalam perlakuan tekanan ketaatan yang tinggi, atasan meminta subjek untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan memanfaatkan seluruh total dana yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meski pada kenyataannya kontraktor mampu menyelesaikan proyek tersebut sesuai actual cost. Hasil pengujian manipulasi menunjukkan bahwa subjek yang menerima

19 perlakuan tekanan ketaatan tinggi memberikan penilaian dengan range 50-100 dengan rerata 73,17. Hasil ini melebihi rata-rata teoritis sebesar 55 dan mendekati skala 100 menyimpulkan bahwa subjek yang menerima perlakuan tekanan ketaatan tinggi memberikan penilaian bahwa perintah yang diberikan oleh atasan memberikan tekanan yang negatif (mendorong untuk mengikuti perintah meski tidak sesuai dengan keyakinannya) dalam menyusun rekomendasi anggaran.

Sebaliknya, subjek dalam kondisi tekanan ketaatan rendah tidak diberikan perintah yang tidak sesuai keyakinannya. Sehingga subjek dalam kondisi ini memberikan penilaian atas perintah tersebut tidak melebihi rerata teoritis yaitu sebesar 30 dengan range 10-70.

Berdasarkan hasil pengecekan manipulasi dapat disimpulkan bahwa seluruh partisipan telah menerima manipulasi perlakuan yang sesuai atas tekanan ketaatan maupun kompleksitas tugas. Berdasarkan hasil pengecekan manipulasi, maka dapat dilanjutkan untuk melakukan pengujian berikutnya.

Pengujian Randomisasi

Sebelum melakukan pengujian terhadap hipotesis, dilakukan pengujian randomisasi atas demografi atas profil partisipan menggunakan Uji One Way Anova. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah faktor demografi mempengaruhi pengambilan keputusan.

20 Tabel 4

Hasil Uji One Way Anova

Mean Square Sig. Keterangan Jenis Kelamin:

Between Groups 0,178 0,673 Tidak Berpengaruh Within Groups 0,211

Usia:

Between Groups 0,259 0,833 Tidak Berpengaruh Within Groups 0,368

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):

Between Groups 0,661 0,080 Tidak Berpengaruh Within Groups 0,433

Semester:

Between Groups 0,017 0,884 Tidak Berpengaruh Within Groups 0,027

Sumber: Data Primer Diolah, 2016

Berdasarkan empat indikator yang telah ditentukan, keempat faktor demografi tidak memenuhi nilai significancy (sig.) lebih kecil dari alpha (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa keempat indikator tersebut tidak mempengaruhi keputusan penciptaan keputusan kekenduran anggaran atas rekomendasi anggaran yang diberikan oleh akuntan manajemen. Pengujian randomisasi dengan demikian dikatakan efektif karena hanya perlakuan (treatment) yang mempengaruhi keputusan kekenduran anggaran yang diciptakan oleh subjek.

Uji Hipotesis 1a

Dampak Komunikasi Anggaran dalam Hubungan Kejujuran dan Kekenduran Anggaran

Hipotesis satu bagian pertama (H1a) menyatakan ketika bawahan memiliki kewenangan akhir atas anggaran, kekenduran anggaran akan lebih rendah ketika komunikasi anggaran mengharuskan bawahan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan adanya penegasan faktual dibandingkan dengan tanpa adanya penegasan faktual. Pengujian dilakukan dengan Independent-Sample T-test

21 dengan dua populasi independen yang menerima perlakuan berbeda, yaitu: 1) Grup 2 dan grup 6 yang menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan perlakuan komunikasi anggaran dengan penegasan faktual dan kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh bawahan; dan 2) Grup 4 dan grup 8 menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan perlakuan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh bawahan.

Subjek diminta untuk menyusun rekomendasi anggaran atas proyek pembangunan jalan tol Salatiga – Solo yang akan dikirimkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai pihak penerima jasa. Tiga penugasan proyek yang berbeda masing-masing memiliki total selisih 10 milyar dihitung dari total dana tersedia oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dikurangi total anggaran aktual (actual cost) bagi setiap proyek. Dalam kondisi ini subjek diperhadapkan untuk menyusun rekomendasi anggaran yang akan dikirimkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah apakah sesuai atau lebih dari actual cost. Jika subjek memberikan keputusan kekenduran anggaran mendekati angka 0 milyar, maka keputusan tersebut merupakan kekenduran anggaran yang rendah dan mendekati actual cost. Sementara subjek yang memberikan keputusan anggaran mendekati angka 10 milyar, maka keputusan tersebut merupakan kekenduran anggaran yang tinggi dan tidak sesuai dengan actual cost. Hasil atas pengujian ini diharapkan mampu memberikan bukti empiris bahwa kejujuran berperan sebagai kontrol intrinsik dan memberikan dampak incremental dalam penciptaan anggaran yang kendur.

Kewenangan Akhir Bawahan & Penegasan Faktual 4,3113 1,58011

-4,478 0,000 Kewenangan Akhir Bawahan & Tanpa Penegasan Faktual 6,0223 1,37254

Sumber: Data Primer Diolah, 2016

Tabel 5 menyajikan mean (diwakilkan dengan angka milyar) keputusan kekenduran anggaran yang diciptakan oleh subjek dalam penugasan penyusunan rekomendasi anggaran yang mendapat perlakuan komunikasi anggaran dengan

22 adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir ada pada bawahan adalah sebesar 4,3113. Subjek yang berada dalam kondisi tersebut cenderung untuk menyusun rekomendasi anggaran yang mendekati actual cost, sehingga kekenduran yang diciptakan menjadi rendah mendekati angka 0. Hasil yang berbeda ditunjukan pada perlakuan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir pada bawahan, kekenduran anggaran yang diciptakan adalah 6,0223. Dalam perlakuan ini subjek menyusun rekomendasi anggaran dengan menaikan beban produksi dalam rekomendasi anggaran mendekati total selisih antara total dana tersedia dengan actual cost yaitu 10 milyar. Subjek cenderung memanfaatkan total dana tersedia meski informasi yang diketahuinya mengenai anggaran aktual dibawah total dana tersedia.

Hasil pengujian statistik mengintepretasikan nilai sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05), sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan secara statistik atau signifikan pada probailitas 5%. Hasil pengujian tersebut merepresentasikan bahwa penyusunan rekomendasi anggaran yang disusun oleh subjek dalam kondisi komunikasi anggaran dengan adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir pada bawahan cenderung menyusun rekomendasi anggaran yang kesesuaiannya mendekati actual cost, sebaliknya subjek dalam penugasan rekomendasi anggaran dengan kondisi komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir pada bawahan menyusun rekomendasi anggarannya jauh melebihi actual cost bahkan mendekati nominal total dana yang tersedia. Selanjutnya selisih antara rekomendasi anggaran yang disusun oleh subjek dengan actual cost adalah anggaran yang kendur (budgetary slack). Oleh karena itu ketika kewenangan akhir dimiliki oleh bawahan, kejujuran akan memiliki dampak inkremental yang signifikan dalam menurunkan kemungkinan terciptanya anggaran yang kendur.

Hasil pengujian H1a sejalan dengan penelitian terdahulu (Rankin et al.

2008; Dewi dan Nahartyo 2013) yang mengemukakan bahwa bawahan akan diperhadapkan dalam dilema etis untuk menyajikan atau menyimpan informasi pribadi atas anggaran yang dimilikinya kepada atasan dalam penugasan penyusunan rekomendasi anggaran. Meski kewenangan akhir dalam penugasan

23 penganggaran dimiliki oleh bawahan sehingga meniadakan kemungkinan jika anggaran tersebut akan ditolak, ketik bawahan diminta untuk menyusun anggaran dengan adanya penegasan faktual maka bawahan membingkai penugasan ini sebagai penyampaian informasi kepada atasan. Sebaliknya sesuai dengan teori pembingkaian keputusan (decision framing theory) ketika bawahan diharuskan menyusun rekomendasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual, maka bawahan membingkai penugasan ini sebagai media alokasi keuntungan (Anthony dan Govindarajan 1994). Desain penelitian ini memfasilitasi untuk menguji investigasi dampak inkremental kejujuran dalam keputusan kekenduran anggaran, sesuai hasil yang tersaji disimpulkan bahwa komunikasi anggaran memiliki dampak inkremental dalam keputusan kekenduran anggaran ketika bawahan memiliki kewenangan akhir dalam anggaran.

Uji Hipotesis 1b

Dampak Kewenangan Akhir Anggaran dalam Hubungan Kejujuran dan Kekenduran Anggaran

Hipotesis 1b pada penelitian ini menyatakan ketika bawahan diminta untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual, kekenduran anggaran akan lebih rendah ketika kewenangan akhir dimiliki oleh atasan dibanding ketika kewenangan akhir dimiliki oleh bawahan. Pengujian dilakukan dengan Uji Independent-Sample T-test dengan dua populasi independen yang menerima perlakuan berbeda, yaitu 1) Grup 3 dan grup 7 menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh atasan; 2) Grup 4 dan grup 8 menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual dan kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh bawahan.

Tabel 6

Tanpa Penegasan Faktual & Kewenangan Akhir Atasan 5,1997 1,41556

-2,285 0,026 Tanpa Penegasan Faktual & Kewenangan Akhir Bawahan 6,0223 1,37254

Sumber: Data Primer Diolah, 2016

24 Hasil rerata keputusan kekenduran anggaran oleh subjek dalam dua perlakuan berbeda tersaji dalam Tabel 6. Subjek yang mendapat perlakuan kewenangan akhir dimiliki oleh atasan dan dalam penugasan penyusunan rekomendasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual adalah sebesar 5,1997. Hasil menunjukkan yang berada dalam kondisi tersebut cenderung untuk menyusun rekomendasi anggaran yang mendekati actual cost apabila dibandingkan dengan subjek yang mendapat perlakuan kewenangan akhir anggaran dimiliki oleh bawahan dan rekomendasi yang disusun tanpa adanya penegasan faktual (6,0223).

Dalam perlakuan ini subjek menyusun rekomendasi anggaran dengan menaikan beban produksi dalam rekomendasi anggaran lebih besar dari grup kontrol dengan keputusan mendekati total selisih antara total dana tersedia dengan actual cost yaitu 10 milyar.

Hasil pengujian statistik mengintepretasikan nilai sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means adalah sebesar 0,026 lebih kecil dari alpha (0,05), sehingga disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara grup kontrol (perlakuan kewenangan akhir milik atasan dan komunikasi anggaran tanpa penegasan faktual) dan grup eksperimen (perlakuan kewenangan akhir milik bawahan dan komunikasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual).

Hasil pengujian tersebut merepresentasikan bahwa penyusunan rekomendasi anggaran tanpa adanya penegasan faktual yang disusun oleh subjek dalam kondisi kewenangan akhir atas anggaran dimiliki oleh atasan cenderung menyusun rekomendasi anggaran yang kesesuaiannya mendekati actual cost, hal ini dimotivasi dengan adanya kemungkinan penolakan yang diberikan oleh atasan apabila rekomendasi anggaran yang diberikan oleh bawahan tidak sesuai dengan actual cost. Sehingga bawahan akan cenderung berhati-hati dalam menyusun rekomendasi anggaran, karena apabila anggaran tersebut ditolak oleh atasan maka bawahan terancam akan tidak dapat menjalankan kontrak sama sekali (Douthit dan Stevens 2015). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian serupa milik Rankin et al. (2008) yang menyimpulkan bahwa ketika komunikasi anggaran tidak dapat mendorong perilaku bawahan dalam bertindak jujur dikarenakan penugasan penganggaran tidak menggunakan komunikasi dengan penegasan faktual, otoritas

25 atasan dapat berperan sebagai kontrol formal untuk mengurangi penciptaan anggaran yang kendur secara signifikan .

Sebaliknya subjek dalam penugasan rekomendasi anggaran dengan kondisi kewenangan akhir anggaran dimiliki oleh dirinya sendiri cenderung dan tidak ada perintah untuk menyusun anggaran dengan adanya penegasan faktual, maka bawahan menyusun rekomendasi anggarannya jauh melebihi actual cost bahkan mendekati nominal total dana yang tersedia. Subjek akan memanfaatkan kewenangan yang ada pada dirinya untuk mengatur segala pendanaan termasuk alokasi keuntungan antara dirinya dengan atasan berdasarkan anggaran yang telah disusunnya dalam proyek ini. Selain itu tidak adanya kontrol ekstrinsik yang menekan bawahan untuk menyajikan kejujuran dalam menyusun anggaran memotivasi individu untuk menyusun anggaran untuk tidak sesuai dengan actual cost (motivational crowding theory).

Uji Hipotesis 2

Hubungan Tekanan Ketaatan dengan Keputusan Kekenduran Anggaran Hipotesis 2 pada penelitian ini menyatakan dalam tekanan ketaatan rendah, kekenduran anggaran yang ditentukan subjek akan lebih rendah dibanding kekenduran anggaran dalam tekanan ketaatan tinggi. Pengujian uji beda menggunakan Independent-Sample T-test dengan dua populasi yang independen yang menerima perlakuan berbeda, yaitu 1) Grup 1, grup 2, grup 3 dan grup 4 yang menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran dengan mendapatkan tekanan ketaatan yang muncul dari pihak berotoritas lebih tinggi; 2) Grup 5, grup 6, grup 7 dan grup 8 yang menerima penugasan untuk menyusun rekomendasi anggaran tanpa mendapatkan tekanan ketaatan yang muncul dari pihak berotoritas lebih tinggi.

Tekanan Ketaatan Rendah 3,4280 1,37545

-11,885 0,000 Tekanan Ketaatan Tinggi 6,0940 1,06163

Sumber: Data Primer Diolah, 2016

26 Tabel 7 menyajikan mean (diwakilkan dengan angka milyar) kekenduran anggaran yang diciptakan oleh subjek penelitian dalam menyusun rekomendasi anggaran dengan perlakuan tekanan ketaatan rendah dari pihak berotoritas lebih tinggi adalah sebesar 3,4280. Subjek yang berada dalam kondisi tersebut cenderung untuk menyusun rekomendasi anggaran yang mendekati actual cost, sehingga kekenduran yang diciptakan menjadi rendah mendekati angka 0. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada subjek yang mendapat penugasan penyusunan rekomendasi anggaran dengan perlakuan tekanan ketaatan tinggi untuk menaati perintah yang tidak sesuai dengan keyakinannya dan memperhadapkan bawahan dalam dilema etis adalah sebesar 6,0940. Dalam perlakuan ini subjek menyusun rekomendasi anggaran dengan menaikan beban produksi dalam rekomendasi anggaran mendekati total selisih antara total dana tersedia dengan actual cost yaitu 10 milyar yang kemudian akan digunakan untuk kepentingan pribadi atasan dan bawahan tanpa diketahui oleh klien.

Hasil pengujian statistic dengan menunjukkan nilai sig. (2-tailed) equal variances assumed dalam t-test for Equality of Means adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari alpha (0,05), sehingga disimpulkan bahwa tekanan ketaatan berpengaruh signifikan terhadap keputusan kekenduran anggaran. Hasil pengujian tersebut merepresentasikan bahwa rekomendasi anggaran yang disusun oleh bawahan tanpa adanya tekanan ketaatan dari atasan memungkinkan bawahan untuk menyusun anggaran mendekati actual cost. Dalam sisi yang berlawanan, ketika bawahan mendapatkan perintah yang tidak sesuai dengan keyakinannya maka bawahan akan diperhadapkan dengan sebuah dilema etis untuk menaati perintah atasan atau tidak. Ketika bawahan mengikuti perintah atasan meski dia meyakini bahwa tindakan tersebut bukanlah tindakan yang sesuai dengan norma dan etika, maka dapat dikatakan bahwa bawahan telah berperilaku dysfunctional akibat dari tekanan yang begitu tinggi dari atasan (DeZoort dan Lord 1994).

Hasil uji hipotesis ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya (Davis et al. 2006; Grediani dan Sugiri 2010) yang memberikan bukti empiris bahwa tekanan ketaatan yang datang dari pihak berotoritas lebih tinggi akan memengaruhi akuntan manajemen dalam menciptakan anggaran yang kendur dalam rekomendasi anggaran yang dibuatnya. Akuntan manajemen akan

27 berperilaku menyimpang dengan memberikan keputusan kekenduran anggaran jauh melebihi actual cost dikarenakan mengikuti perintah dari atasan meski tindakan tersebut tidak sesuai dengan keyakinannya. Hal ini sesuai dengan riset milik Baird dan Zelin (2009) yang memberikan bukti empiris bahwa tekanan ketaatan memengaruhi adanya tindakan curang (fraud), dengan kata lain perintah atasan yang memengaruhi bawahan untuk menyusun anggaran yang kendur untuk memenuhi kepentingan pribadi adalah merupakan tindakan yang mengandung kecurangan (fraud). Selain itu akuntan manajemen diperhadapkan dengan konsekuensi terhadap sanksi yang diterima apabila menentang perintah atasan bahkan kehilangan pekerjaannya yang kemudian dijadikan alasan bawahan untuk taat terhadap perintah atasan meski tidak sesuai dengan keyakinannya (Milgram 1974; Davis et al. 2006).

PENUTUP

Dokumen terkait