Hasil uji kekuatan fleksural pada penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata kekuatan fleksural resin komposit dengan fiber ampas tebu (RK + FAT) dengan empat kelompok perlakuan, yaitu : RK+FAT 20%, RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50%. Nilai rata-rata kekuatan fleksural dari keempat kelompok perlakuan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Nilai rata-rata kekuatan fleksural antara RK+FAT dengan fraksi volume 20%-50%
N No. Spesimen n Kekuatan Fleksural (MPa)
x
± SD 1. RK tanpa fiber 61,900 ± 5.157 2. RK+FAT 20% 6 72,885 ± 3,724 3. RK+FAT 30% 6 47,241 ± 6,438 4. RK+FAT 40% 6 25,396 ± 7,755 5. RK+FAT 50% 6 7,665 ± 5,167Tabel 5.1 menunjukkan adanya perbedaan kekuatan fleksural dari keempat kelompok perlakuan.Kekuatan fleksural RK+FAT20%(72.885 ± 3.724) lebih tinggi Sedangkan RK+FAT 50% (7.665 ± 5.167) lebih rendah dari keempat kelompok lainnya. Perbedaan nilai rata-rata kekuatan fleksural diuji menggunakan analisis one way ANOVA yang bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan yang bermakna antara kelompok spesimen.
Tabel 5.2 Analisis data statistik kekuatan fleksural antara RK+FAT dengan fraksi volume 20%-50%
Analisis data
N No. Spesimen Kekuatan Fleksural (MPa)
x
± SD p 1. RK+FAT 20% 72.885 ± 3.724 2. RK+FAT 30% 47.241 ± 6.438 0,000* 3. RK+FAT 40% 25.396 ± 7.755 4. RK+FAT 50% 7.665 ± 5.167Uji Statistik menggunakan one way ANOVA dengan kemaknaan p<0,05
Tabel 5.2 menunjukkan hasil analisis ANOVA nilai kemaknaan penelitian lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara RK+FAT 20%, RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50%.Hasil uji lanjutan LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar perlakuan. (Tabel 5.3)
Tabel 5.3 Uji Post Hoc LSD kekuatan fleksural antara RK+FAT dengan fraksi volume 20%-50% Perlakuan P RK+FAT 20% RK+FAT 30% .000* RK+FAT 40% .000* RK+FAT 50% .000* RK+FAT 30% RK+FAT 20% .000* RK+FAT 40% .000* RK+FAT 50% .000* RK+FAT 40% RK+FAT 20% .000* RK+FAT 30% .000* RK+FAT 50% .000* RK+FAT 50% RK+FAT 20% .000* RK+FAT 30% .000* RK+FAT 40% .000*
BAB 6 PEMBAHASAN
Kekuatan fleksural merupakan kemampuan suatu restorasi untuk menahan gaya fleksural di rongga mulut. Gaya fleksural yang terjadi yaitu kombinasi dari gaya tarik dan gaya kompresi.2 Kekuatan fleksural resin komposit tanpa fiber adalah 61,9 MPa.57 Nilai kekuatan fleksural tanpa fiber lebih rendah dari RK+FAT 20%, namun lebih tinggi dari RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50% (Tabel 5.1)
Tingginya kekuatan fleksuralRK+FAT 20% dibandingkan tanpa fiber diduga karena ketebalan fiber. Ketebalan fiber ampas tebu yang digunakan pada perlakuan ini mendekati ketebalan fiber sintetik dalam kedokteran gigi sehingga fiber yang digunakan sudah optimal dan meningkatkan kekuatan fleksural. Hal ini serupa dengan penelitian Widya yang menyatakan resin komposit dengan fiber lebih kuat dibandingkan tanpa fiber.58 Selain itu, rasio resin komposit dan fiber ampas tebu yang digunakan pada perlakuan ini juga sudah ideal sehinggadiduga fiber dapat menahan dan menghambat tekanan yang diterima oleh resin komposit sehingga dapat meningkatkan kekuatan fleksural. Hal ini sesuai dengan penelitian Griffith ( cit. Ellakwa 2002) yang menyatakanfiber dapat menghambat retakan pada material brittle karena bersifat kaku dan kuat.59
Gambar 6.1. Spesimen Resin Komposit
Rendahnya kekuatan fleksural RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50% dibandingkan tanpa fiber. Hal ini diduga karena rasio fiber dan komposit yang digunakan pada perlakuan RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50% sudah tidak seimbang antara fiber dan resin sehingga resin tidak mampu mengisi fiber dengan sempurna menyebabkan kekuatan fleksural menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Sujito yang menyatakan penambahan fiber mampu meningkatkan kekuatan fleksural, akan tetapi setelah melampaui nilai optimum maka penambahan fiber cenderung menurunkan kekuatan fleksural dikarenakan resin tidak mampu berkontak rapat dengan fiber.60 hal ini juga sesuai dengan gambaran stereomikroskop pada penelitian ini menunjukkan bahwa RK+FAT 20% resin komposit mengisi fiber dengan sempurna. Sedangkan RK+FAT 30% ,RK+FAT 40% dan RK+FAT 50% resin komposit tidak mengisi fiber dengan sempurna sehingga terdapat ruang kosong yang dapat menurunkan kekuatan fleksural resin komposit.(Gambar 6.2)
Gambar 6.2 Gambaran Stereomikroskop (a) RK+FAT 20% (b) RK+FAT 30% (c) RK+FAT 40% (d) RK+FAT 50%
Pada uji lanjutan LSD (Tabel 5.3) terlihat adanya perbedaan yang bermakna antar perlakuanRK+FAT 20%,RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50% (Gambar 6.3). Hal ini diduga karena perbedaan ketebalan resin komposit dan fiber yang digunakan, pembasahan bahan adhesif, ketebalan resin komposit pada bagian tensile base, polimerisasi yang kurang sempurna dan warna resin komposit.
20 30 40 50 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Fraksi Volume (%) K e k u a ta n F le k s u ra l (M P a )
Gambar 6.3. Grafik kekuatan fleksural resin komposit dan ampas tebu dengan fraksi volume 20%-50%.
Ketebalan resin dan fiber yang digunakan diduga menjadi penyebab adanya perbedaan yang bermakna antar perlakuan.Pada penelitian iniRK+FAT 20% memiliki ketebalan resin komposit yang paling tinggi yaitu 1,6 mm dan ketebalan fiber 0,4 mm kemudian diikuti RK+FAT 30% (1.4 mm+0,6 mm), RK+FAT40%(1,2 mm+0,8 mm) dan RK+AT 50% (1 mm+1 mm). Adanya perbedaan ketebalan resin komposit dan fiber yang digunakan diduga dapat memberikan kekuatan yang berbeda sehingga diasumsikan berat yang berbeda pada setiap spesimen menghasilkan kekuatan fleksural yang berbeda pula. Hal ini berbanding lurus dengan penelitian Diana yang menyatakan persen resin komposit yang sama dapat memberikan kekuatan fleksural yang hampir sama pula.10
Bahan adhesif yang digunakan juga dapat menyebabkan terjadinya perbedaan yang bermakna antar perlakuan RK+FAT 20%,RK+FAT 30%, RK+FAT 40% dan RK+FAT 50%. Hal ini diduga karena semakin tebal fiber yang digunakan maka bahan adhesif tidak mampu membasahi fiber dengan sempurna sehingga mempengaruhi kekuatan fleksural. Hal ini sesuai dengan penelitian Martha yang menyatakan bahwa pembasahan yang tidak sempurna dapat berujung kepada penurunan kekuatan fleksural.2
Selain itu, resin komposit yang semakin tipis pada bagian tensile base juga dapat menyebabkan terjadinya perbedaan yang bermakna. Hal ini diduga disebabkan karena resin komposit yang bersifat brittle sehingga jika pada bagian
tensile base resin komposit semakin tipis makasaat terjadi tekanan pada bagian kompresi, resin komposit pada bagian tensile base akan lebih cepat fraktur sehingga mempengaruhi kekuatan fleksural yang dihasilkan.
Polimerisasi yang tidak sempurna juga bisa menyebabkan terjadinya perbedaan yang bermakna antar perlakuan RK+FAT 20% (0,4 mm) RK+FAT 30% (0,6 mm) RK+FAT 40% (0,8 mm) dan RK+FAT 50% ( 1 mm). Adanya perbedaan ketebalan fiber ampas tebu menyebabkan pada saat resin komposit dipolimerisasi, resin komposit bagian tensile base tidak terpolimerisasi secara sempurna dikarenakan terhalang oleh fiber. Semakin tebal fiber maka resin komposit bagian
tensile base akan semakin jauh dari sinar. Hal ini menyebabkan resin tidak terpolimerisasi secara sempurna dan menyebabkan kekuatan mekanik akan semakin menurun termasuk kekuatan fleksural. Hal ini sesuai dengan penelitian Herrero dkk yang menyatakan polimerisasi yang tidak sempurna pada resin komposit dapat menurunkan kekerasan, kekuatan dan stabilitaas warna.61
Selain itu, warna resin komposit yang dihasilkan juga berbeda-beda antar perlakuan. Semakin tebal fiber yang digunakan maka resin komposit yang dihasilkan semakin gelap. Semakin gelap resin komposit yang dihasilkan seharusnya semakin lama waktu penyinaran tetapi pada penelitian ini semua perlakuan diberikan waktu penyinaran yang sama hal ini dapat menyebabkan intensitas yang diterima pada saat penyinaran rendah seiring dengan ketebalan fiber sehingga berpengaruh terhadap kekerasan danmenyebabkan resin tidak terpolimerisasi dengan sempurna. Hal ini sesuai dengan penelitian Susanto yang menyatakan mutu kekerasan dan kekuatan resin komposit menurun seiring dengan ketebalan bahan pada saat penumpatan yang tidak disertai penambahan lamanya waktu penyinaran.62
BAB 7