• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti memilih narasumber yang sesuai dengan fokus penelitian sebagai sumber data penelitian. Adapun nama yang termasuk dalam narasumber penelitian ini adalah sebagai berikut:

Daftar Nama Narasumber

No. Nama Keterangan

1. S Tokoh Agama

2. N Warga

3. N W Warga

4. E Warga

Berdasarkan beberapa narasumber di atas, didapatkan hasil temuan wawancara sesuai dengan pedoman wawancara sebagai berikut:

Menurut penuturan S selaku Tokoh Agama

“Metode yang biasa digunakan oleh para tokoh agama di Dusun Tegalrejo dalam pengajian termasuk saya sendiri ialah “bi al-hikmah”

yaitu saya memahami terlebih dahulu materi dakwah yang akan saya sampaikan seperti saya memahami kitab atau hadits yang akan saya

terangkan, kemudian saya terapkan metode yang kedua ialah “bi al-lisan” yakni menjelaskan atau menerangkan kepada jama’ah makna

dari isi kitab atau hadits yang sudah saya pahami tersebut kepada

jama’ah”.(S, Wawancara 13 Agustus 2017, 13.11 Wib).

Dalam wawancara dengan S, beliau menjelaskan bahwa dalam penyampaian dakwah di Dusun Tegalrejo terdapat beberapa metode yang digunakan ialah bi al-hikmah, bi al-lisan dan bi al-mujadalah. Akan tetapi yang lebih sering digunakan hanya dua metode yaitu bi al-hikmahdan bi al-lisan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tokoh agama di Dusun Tegalrejo menggunakan ceramah dalam penyampaian dakwah.

Metode lain yang juga digunakan oleh tokoh agama di Dusun Tegalrejo tersebut ialah metode tanya jawab akan tetapi yang sering digunakan hanya metode ceramah.

Materi yang biasa digunakan oleh penceramah ialah segala hal yang terdapat di dalam kitab yang kemudian dikaji terlebih dahulu oleh penceramah

kemudian disampaikan kepada jama’ah. Dalam berceramah seorang ustadz

terlebih dahulu memilih materi yang akan disampaikan sesuai dengan objek

dakwah yakni jama’ah, sehingga materi disesuaikan dengan siapa yang akan

maka pendakwah juga harus menyesuaikan penyampaiannya kepada jama’ah

yang sudah dewasa, begitu juga sebaliknya.

Terdapat faktor pendukung dan penghambat pendakwah saat menyampaikan ceramah di Dusun Tegalrejo Kecamatan Karanggede, yakni sebagai berikut:

1. Metode Ceramah adalah metode yang paling mudah untuk dilakukan

dikarenakan jama’ah hanya mendengarkan saja sedangkan ustadz yang

aktif untuk memberikan pengajaran dalam pengajian.

2. Metode Ceramah dirasa dapat menyampaikan isi pengajian dengan baik karena dapat secara langsung menceritakan kisah-kisah atau penyampaikan kandungan makna dalam suatu ayat Al Quran maupun Hadits.

Sedangkan dari beberapa faktor pendukung di atas, seorang pendakwah juga merasa terhambat dalam menyampaikan pengajian dengan metode ceramah. Faktor penghambat seorang pendakwah menyampaikan ceramah pada masyarakat Dusun Tegalrejo ialah yang pertamamasyarakat Dusun Tegalrejo masih terlalu awam dengan yang namanya ilmu agama, masyarakat masih memikirkan duniawinya saja. Kedua, kondisi perekonomian pada masyarakat Dusun Tegalrejo yang mayoritas bekerja sebagai petani, yang mana setiap pagi berangkat ke ladang kemudian sore hari baru tiba di rumah, sehingga kondisi tubuh mereka sudah tidak fit atau tidak

fresh lagi apabila mengikuti pengajian maka yang dirasakan hanya lelah dan materi pengajian tidak dapat disaring atau dipahami.

Cara mengatasi penghambat dalam metode ceramah yang digunakan oleh tokoh agama Dusun Tegalrejo ialah melalui pendekatan personal yakni seorang pendakwah merangkul masyarakat melalui cara yang baik, dengan bahasa yang komunikatif atau mudah dipahami dan dicerna oleh masyarakat untuk mengenal lebih dalam tentang ilmu agama. Selain itu pendakwah mengajak para pendakwah lain serta beberapa masyarakat untuk bermusyawarah untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang berkaitan dengan norma, tingkah laku atau aqidah sesuai dengan ilmu agama.

Di sisi lain, peneliti juga melakukan wawancara dengan warga untuk memperkuat argumen dari pendakwah yang sudah diwawancarai. Peneliti mewawancarai beberapa warga dengan pedoman wawancara sebagai berikut:

Pertama, peneliti menanyakan tentang seberapa aktif warga mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian di Dusun Tegalrejo.

Menurut penuturan N

“saya aktif mengikuti kegiatan pengajian-pengajian di Dusun

Tegalrejo ini, biasanya kalau pengajian itu pas acara arisan Ibu-Ibu di Dusun ini namun harinya tidak pasti.”(N, 24 Agustus 2017, 18.32 Wib).

Tidak jauh berbeda dari pendapat N, penuturan N W sebagai seorang pemudi yang baru saja berkeluarga, dia mengatakan bahwa

“iya, saya aktif mengikuti pengajian-pengajian di dusun ini. Dari sejak

saya masih muda sampai sekarang saya masih aktif.” (N W, 24

Agustus 2017, 14.00 Wib).

Berbeda pendapat dengan N dan N W, E menuturkan bahwasaya,

“saya aktif mengikuti pengajian jika saya berada di rumah, namun

tergantung kalau saya sedang bekerja apalagi saya adalah seorang buruh bangunan yang bekerjanya tidak kenal waktu, pulang saja tidak

pasti jam berapa apalagi mengikuti pengajian.” (E, 24 Agustus 2017,

15.46 Wib).

Menurut penuturan ketiga narasumber di atas mempunyai pendapat yang hampir sama akan tetapi dalam pelaksanaanya yang berbeda. Dari

pendapat N di atas, menuturkan bahwa N adalah salah satu jama’ah pengajian

yang aktif atau yang sering mengikuti pengajian akan tetapi lebih condong kepada pengajian-pengajian yang dilakukan oleh masyarakat dusun Tegalrejo khususnya ibu-ibu sekaligus melaksanakan kegiatan arisan, itu pun tidak ditentukan jadwal pelaksanaanya.

Pendapat kedua dari seorang warga Dusun Tegalrejo yakni N W, menurut penuturannya N adalah seseorang yang aktif atau sering mengikuti pengajian-pengajian dalam bentuk apapun, didasarkan dengan seringnya mengikuti pengajian dari waktu muda sampai kini sudah berkeluarga.

Pendapat ketiga dari seorang warga yang bekerja sebagai buruh bangunan bernama E yang menuturkan bahwa keaktifannya dalam mengikuti

pengajian dikatakan aktif dalam artian setiap ada pengajian selalu ikut serta akan tetapi karena mempunyai kendala pekerjaan yang menjadikannya pasif. E mengatakan aktif dikarenakan kemauan untuk mengikuti atau berpartisipasi dalam pengajian itu ada, hanya terhambat oleh beberapa kendala yang dialami.

Kedua, peneliti menanyakan bagaimana seorang pendakwah dalam menyampaikan pengajian tersebut.

Menurut penuturan N

“merasuk sekali, lucu dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

InsyaAllah. Walaupun saya paham dengan materi yang disampaikan tapi tidak semua saya bisa langsung menerapkannya pada kehidupan sehari-hari, mungkin hanya setengah dari penyampaian materi pengajian yang saya terapkan karena paham saja terkadang dalam pelaksanaanya yang susah atau perlu bimbingan dari seorang

pendakwah.”(N, 24 Agustus 2017, 18.32 Wib).

Berbeda dengan penuturan NW

“kalau menurut saya bagus, akan tetapi terkadang materi yang

disampaikan ada yang berat. Jadi untuk yang belum mengerti tentang agama secara luas akan sulit dalam pemahamannya dan juga penerapannya. Kalau tentang paham atau tidaknya saya dalam pengajian yang disampaikan, saya lebih cenderung setengah-setengah jadi ada setengah dari isi pengajian itu saya paham sedangkan setengahnya lagi belum saya pahami. Untuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, saya sudah menerapkan tentang isi pengajian tersebut akan tetapi hanya hal yang saya pahami saja, sedangkan hal-hal yang belum saya pahami belum saya laksanakan atau terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya.”(N, 24 Agustus 2017, 14.00 Wib). Sedangkan menurut E

“menurut saya di saat saya mengikuti pengajian, materi yang

disampaikan simple. simple yang saya maksud di sini ialah mudah dipahami dikarenakan materi yang disampaikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dusun Tegalrejo. Karena pak kyai mengaitkan isi pengajian dengan keseharian masyarakat, maka saya mudah paham dan dapat saya terapkan, untuk maksimal tidaknya hal yang saya laksanakan saya tidak tahu, yang penting saya melakukan dulu, kalau belum maksimal ya saya tetap minta bimbingan oleh pak

kyai.”(N, 24 Agustus 2017, 15.46 Wib).

Menurut pertanyaan kedua dari peneliti, masing-masing narasumber memberikan keterangan yang berbeda-beda dalam tingkat pemahaman mengenai isi atau kandungan yang disampaikan dalam pengajian. Tingkat pemahaman dapat diukur melalui seberapa paham seseorang mengenai materi atau isi dari materi pengajian, kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikannya berubah menjadi lebih baik.

Ketiga, peneliti menanyakan tentang kelemahan penyampaian dakwah oleh pendakwah, warga berbeda pendapat mengenai hal ini. Pendapat tersebut ialah sebagai berikut:

Menurut penuturan N

“ustadz kadang menyampaikannya kurang keras, apalagi ditambah

dengan suasana yang tidak mendukung seperti jama’ah yang

kebanyakan dari Ibu-Ibu yang sering ngobrol sendiri ditambah lagi dengan Ibu-Ibu yang membawa anak kecil ketika pengajian. Jadi suara

pendakwah juga tidak begitu terdengar pada jama’ah seperti saya ini.”

(N, 24 Agustus 2017, 18.32 Wib). Lain hal dengan penuturan N W

“kalau menurut saya, kekurangan materi yang disampaikan kadang

berat walaupun tidak banyak, sulit masyarakat untuk memahami.” (N,

Berbeda dengan pendapat N dan N W, E menuturkan bahwa,

“kalau dari segi kekurangan manurut saya ya cuma di masalah waktu

saja, kadang ceramah yang disampaikan terlalu panjang durasinya jadi kadang intinya sudah disampaikan tapi dijabarkan lagi lebih luas, dan terkadang juga ceramah yang disampaikan terlalu pendek durasinya, jadi secara singkat padat langsung kepada inti, seperti tidak dibahas lebih mendalam, itu saja menurut saya, kalau dari sisi lain saya rasa

cukup.”(N, 24 Agustus 2017, 15.46 Wib).

Menurut penuturan narasumber dari pertanyaan ketiga dari peneliti menyatakan bahwa ada beberapa keluhan yang disampaikan mengenai penyampaian ceramah. Keluhan tersebut berbeda-beda menurut ketiga

narasumber, yang pertama ialah masalah penyampaian da’i yang kurang keras

dimungkinkan karena kurangnya fasilitas yang mendukung jalannya ceramah, yang kedua ialah materi ceramah yang disampaikan terlalu berat dan yang

ketiga ialah alokasi waktu yang digunakan oleh da’i tidak stabil.

Dari segi penerapan, beberapa narasumber yang sudah diwawancarai hampir semua menerapkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun tidak maksimal, ada yang menerapakan hal-hal yang dipahami saja dan ada yang menerapkan sekedar menerapkan sesuai dengan apa yang dipahami namun tidak begitu yakin bahwa hal yang diterapkan tersebut sudah benar atau belum.

Keempat, peneliti menanyakan kepada narasumber yakni 3 orang warga dusun Tegalsari bagaimana cara yang diinginkan agar ceramah yang

Menurut penuturan N

“menurut saya agar ceramah itu berjalan baik maka pendakwah harus

melentangkan suaranya lagi agar tidak kalah dengan suara ibu-ibu atau anak-anak.”(N, 24 Agustus 2017, 18.32 Wib).

Berbeda dengan pentuturan N, N W berpendapat

“kalau keinginan saya agar ceramah bisa berjalan baik dan diterima

masyarakat maka seorang penceramah harus menyampaikan materi dihubungkan dengan sejarah atau tindakan yang dilakukan Rasulullah atau sahabat dalam kehidupan sehari-hari jadi masyarakat bisa meneladani Nabi SAW, dan saya rasa masyarakat juga mudahpaham.”

(N, 24 Agustus 2017, 14.00 Wib).

Lain halnya dengan pendapat N dan N W, E mengatakan

“kalau menurut saya agar masyarakat bisa cepat dalam memahami

ceramah semua materi dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari

masyarakat dusun Tegalrejo.”(N, 24 Agustus 2017, 15.46 Wib).

Menurut pendapat narasumber mengenai pertanyaan peneliti yakni

cara yang diinginkan agar seorang da’i dapat menyampaikan ceramah dengan baik ialah seorang da’i harus memperbaiki metode ceramah yang digunakan

BAB IV ANALISIS DATA

A. Bagaimana Penerapan Metode Ceramah dalam Penyampaian Dakwah di Dusun Tegalrejo Desa Tegalsari Kecamatan Karanggede

Cara berdakwah menurut ajaran agama Islam sesuai dengan panutan dari ayat Al Qur’an maupun Al Hadits yakni dalam surah Al Anam ayat 107-108 yang mengandung isi bahwa dalam berdakwah itu tidak boleh menghina, memaki, mengejek, dan lain sebaginya yang bersifat menjatuhkan agama lain dan manusia diwajibkan untuk saling menghargai satu sama lain terutama kepada orang lain yang berbeda keyakinan.

Al Qur’an Surah An Nahl ayat ke 125 yang menerangkan bahwa berdakwah harus menggunakan cara-cara yang baik. Al Qur’anSurah Yasin ayat 17mengandung isi bahwa dalam menyampaikan dakwah bahwa bahasa yang digunakan ialah bahasa yang baik, jelas serta mudah dipahami oleh orang lain atau orang yang mendengarkan dakwah.

Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 256 menerangkan bahwa seorang muslim berkewajiban menyampaikan dakwah kepada orang lain dengan tidak adanya paksaan kepada orang lain untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh muslim yang berdakwah tersebut.

Menurut Quran Surah Yasin ayat ke 17 memberikan keterangan bahwa setelah seorang muslim berdakwah kepada sekumpulan umat yang ilmu agamanya kurang namun sekumpulan umat tersebut tidak menghiraukan maka

seorang muslim yang berdakwah tersebut tidak boleh mengotot atau memaksakan kehendak.

Al Qur’an Surah Al A’raf ayat ke- 199 memberi penjelasan bahwa seorang pendakwah diperintahkan Allah untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh akan tetapi dijelaskan pula pada surah Adh-Dhariyat ayat ke 50 sampai 56 bahwa seorang pendakwah tetap memberikan peringatan walaupun tidak dipedulikan oleh orang-orang yang kurang ilmunya, sehingga seorang pendakwah harus perlahan-lahan dan tetap sabar membimbing orang-orang yang mengacuhkannya agar lama kelamaan orang-orang tersebut menjadi sadar setelah diberi asupan nasihat serta peringatan-peringatan dari Allah SWT tentang adzab di neraka bagi orang-orang yang tidak beriman kepadaNya.

Ceramah merupakan sebuah metode dalam penyampaian dakwah berbentuk interaksi melalui penerangan, penjelasan maupun penuturan oleh seorang yang lebih tinggi ilmunya (‘alim) kepada orang lain yang dirasa ilmunya kurang. Ceramah yang disampaikan berisi nasihat-nasihat, kisah-kisah, dan cara-cara sebagai acuan atau pedoman hidup manusia yang didasarkan dengan ayat-ayat dari Al Quran maupun Hadits.

Setiap da’i mempunyai karakter dan ciri khas masing-masing dalam

menyampaikan dakwah. Strategi dan metode yang digunakan pun juga berbeda,

dikarenakan seorang da’i wajib membuat kesan yang menarik terhadap jama’ah dan membangun komunikasi yang baik terhadap jama’ah.

Berdasarkan temuan data dan hasil wawancara yang telah dipaparkan pada bab 3 mengenai penggunaan metode dalam penyampaian dakwah yang

disampaikan oleh para tokoh agama di dusun Tegalrejo salah satunya ialah metode ceramah. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada salah seorang tokoh agama di dusun Tegalrejo, ada beberapa metode yang disampaikan yakni

metode dakwah bil lisan yakni seorang da’i menyampaikan materi pengajian

secara lisan, terbuka misalnya ceramah, bil hikmah yakni mempelajari isi atau kandungan yang terdapat dalam suatu ayat Al Quran maupun Hadits yang kemudian disampaikan kepada jamaah pengajian dan metode bil mujadalah yakni debat atau berargumentasi. Akan tetapi yang sering digunakan adalah metode bil

hikmah dan bil lisan jadi seorang da’i memperlajari suatu kitab atau hadits yang

berisi tentang pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kemudian disampaikan secara lisan atau yang bisa disebut dengan ceramah.

Kedua metode ini sering digunakan oleh para tokoh agama dusun Tegalrejo secara serentak karena dirasa lebih mudah disampaikan. Metode ceramah yang digunakan ini disampaikan dalam setiap dakwah yang diadakan di dusun Tegalrejo seperti pengajian rutinan ibu-ibu dan bapak-bapak pada setiap malam Jumat atau Kamis malam walaupun hanya sekedar ceramah sisipan. Metode ceramah yang disampaikan dalam dakwah para tokoh agama juga di hari-hari besar Islam seperti ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, maupun pada hari Jumat setelah dilaksanakannya sholat Jumat berjamaah.

Materi ceramah yang disampaikan oleh para tokoh agama juga disesuaikan dengan siapa jamaah yang mendengarkan ceramah. Materi ceramah harus berisi hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan ilmu pengetahuan, karena

tantangan hidup. Materi dalam ceramah juga berisi hal-hal yang mempunyai faedah atau manfaat yang lebih banyak daripada madharatnya atau hal-hal yang mempunyai pengaruh yang negatif. Materi dalam ceramah disesuaikan serta dikaitkan dengan ayat-ayat pada al Quran maupun al Hadits agar seorang da’i

mempunyai dasar ketika menyampaikan dakwah.

Penggunaan metode ceramah dalam menyampaikan serangkaian dakwah oleh para tokoh agama di dusun Tegalrejo ini sudah puluhan tahun berlangsung dan ratusan kali digunakan pada setiap kegiatan-kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan pengajian.

B. Efektivfitas Metode Ceramah dalam Penyampaian Dakwahdi Dusun Tegalrejo Desa Tegalsari Kecamatan Karanggede

Menganalisis tingkat ke-efektivan metode ceramah yang digunakan oleh

para da’i atau tokoh agama di dusun Tegalrejo, dilihat berdasarkan hasil

wawancara dengan berbagai narasumber dalam penelitian ini. Menurut tokoh agama bernama bapak Sriyanto, beliau menerangkan bahwa metode ceramah yang digunakan tersebut sudah berjalan dengan baik, akan tetapi masih saja ada hambatan-hambatan atau kendala yang beliau alami ketika dakwah berlangsung. Walaupun menurut beliau metode ceramah merupakan metode yang paling tepat digunakan di dusun Tegalrejo, akan tetapi dalam pelaksanaanya tidak begitu sesuai dengan keinginan yang diharapkan.beliaujuga menerangkan bahwa beliau pernah mondok di desa Bringin yaitu pondok poncol, disitulah beliau belajar

tentang agama islam dan bagaiman cara berdakwah, beliau juga mengatakan pengalaman berdakwahnya di dusun tegalrejo sudah selama 20 tahun.

Melalui penuturan berbagai narasumber yang tidak lain adalah warga dusun Tegalrejo yang mengikuti berbagai bentuk kegiatan pengajian di dusun tersebut. Pendapat dari beberapa narasumber menerangkan bahwa metode

ceramah yang digunakan oleh ustadz atau da’i di dusun Tegalrejo tersebut

berjalan dengan baik meskipun ada banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut didasarkan pada berbagai faktor seperti materi, penggunaan waktu, sumber daya manusianya yang benar-benar awam dengan ilmu agama dan lain sebagainya.

Dari penuturan berbagai narasumber, dapat dikemukakan bahwa setelah mengikuti pengajian dengan metode ceramah yang sudah digunakan, kesemuanya mempunyai jawaban yang sama yakni menerapkan hal-hal yang dipahami saja dalam kehidupan sehari-hari. Jadi kurang adanya ketertarikan masyarakat untuk mempelajari lebih mendalam tentang materi dakwah yang disampaikan. Hal yang menyebabkan kurangnya ketertarikan bukan hanya karena metode yang digunakan, akan tetapi dari masyarakatnya sendiri yang terlalu awam dengan ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama, jadi tingkat pendidikan juga mampu memengaruhi tertarik atau tidaknya seseorang dengan ilmu pengetahuan maupun ilmu agama.

Terlalu awam dengan ilmu pengetahuan maupun ilmu agama ini sering terjadi tidak hanya pada beberapa orang saja, akan tetapi lebih dari ribuan orang di dunia. Karena kurangnya bekal dan pemikiran tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan, sehingga manusia terkadang hanya memikirkan hal-hal yang dirasa mudah untuk dilakukan.

Untuk mengetahui tingkat ke-efektiv-an atau keberhasilan suatu metode ceramah dapat dilihat berdasarkan beberapa hal yakni yang pertama pada isi atau

kandungan materi ceramah yang disampaikan oleh da’i atau ustadz, bagaimana seorang da’i memilih serta memilah topik yang baik digunakan atau disampaikan

pada saat menyampaikan dakwah kepada jamaah pengajian, bagaimana seorang

da’i dapat menyesuaikan materi yang disampaikan pada kelompok jamaah

pengajian yang mana berdasarkan umur dan tingkat pendidikan, materi yang seperti apa yang disampaikan kepada jamaah dewasa, dan materi yang seperti apa pula yang disampaikan kepada kelompok pengajian anak-anak, bagaimana

seorang da’i dapat memberikan nasihat-nasihat yang bermanfaat bagi jamaah

sehingga dapat memberikan kesan yang mendalam bagi yang memperhatikan.

Yang kedua pada teknik serta strategi penyampaian dakwah oleh tokoh agama, bagaimana seorang tokoh agama mampu membuat suasana pengajian menjadi menyenangkan serta membuat jamaah semakin tertarik dengan apa yang

akan disampaikan oleh da’i tersebut, yang ketiga ialah bagaimana isi atau

kandungan dalam materi ceramah dapat dipahami oleh jamaah serta diamalkan atau dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seorang da’i dapat

membujuk jamaah untuk melakukan hal-hal yang tadinya belum sesuai dengan syariat agama kemudian melaksanakannya sesuai dengan tata cara atau aturan agama berlandaskan dengan Al Quran dan Al Hadits.

Setelah ketiga ukuran tersebut ada dalam urutan kegiatan dakwah, maka metode yang digunakan dalam penyampaian dakwah tersebut dapat dikatakan efektiv atau berhasil.

Berdasarkan hasil data penelitian maka tingkat ke-efektiv-an atau keberhasilan metode ceramah yang digunakan dalam penyampaian dakwah oleh para tokoh agama di dusun Tegalrejo ini dapat dikatakan kurang efektiv.Walaupun da’i sudah berpengalaman berdakwah selama 20 tahun, akan tetapi tidak didukungan pertama mad’u, contohnya mad’u yang terlalu awam,

tidak mau tahu tentang agama, kedua adalah materi dakwahnya masih menggunakan metode lama,ketigasarana prasarana yang kurang memadai, maka

feed back kepada masyarakat tidak maksimal. Jadi tingkat efektifitas atau keberhasilan di dusun tegalrejo kurang efektif, karena antara pendukung dan penghambat, lebih besar penghambat daripada pendukungnya.

C. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan Metode Ceramahdi Dusun Tegalrejo Desa Tegalsari Kecamatan Karanggede

Berdasarkan paparan hasil wawancara, disebutkan beberapa faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat dalam pelaksanaan metode ceramah

dalam penyampaian dakwah para tokoh agama di dusun Tegalrejo, desa Tegalsari, kecamatan Karanggede.

Yang pertama ialah faktor-faktor yang mendukung para tokoh agama menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan dakwah tentang berbagai ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama, beberapa faktor tersebut ialah ketika

seorang da’i atau ustadz menggunakan metode ceramah, maka langkah awalnya

Dokumen terkait