PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
C. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Subjek Penelitian a. Jenis Kelamin Subjek dalam
penelitian ini terdiri dari 46 subjek pria dengan presentase 54,76% dan 38 subjek
wanita dengan
presentase 45,24%.
Dapat dilihat
rinciannya pada tabel berikut ini : Tabel 2. Distribusi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%) 1. Pria 46 54,76 2. Wanita 38 45,24 b. Usia Subjek dalam
penelitian ini terdiri dari 14 subjek yang
berusia 15 tahun dengan presentase 16,66%, 64 subjek yang berusia 16 tahun dengan presentase 76,19% dan 6 subjek yang berusia 17 tahun dengan presentase 7,15%. Dapat dilihat rinciannya pada tabel berikut ini :
Tabel 3. Distribusi Subjek Berdasarkan Usia
No. Usia Jumlah Presentase
(%) 1. 15 tahun 14 16,66 2. 16 tahun 64 76,19 3. 17 tahun 6 7,15 c. Kelas Subjek dalam
penelitian ini terdiri dari 30 subjek dari kelas XI IPA dengan presentase 35,71% dan 54 subjek untuk
kelas XI IPS dengan presentase 64,29%.
Dapat dilihat
rinciannya pada tabel berikut ini :
Tabel 4. Distribusi Subjek Berdasarkan Kelas
No. Kelas Jumlah Presentase
(%) 1. XI IPA 30 35,71 2. XI IPS 54 64,29
2. Hasil Pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Jenis Kelamin, Usia dan Kelas. a. Hasil Pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Jenis Kelamin Tabel 5. Hasil pengukuran Mean Skala
Kecemasan dengan Jenis Kelamin No. Jenis Kelamin Jumlah Kecemasan 1. Pria 46 2. Wanita 38 Berdasarkan data di atas, diketahui
bahwa mean
kecemasan pada pria lebih tinggi dari pada wanita, hal ini ditunjukkan dengan skor76,63 untuk pria dan 75,55 untuk wanita. b. Hasil Pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Usia Tabel 6. Hasil pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Usia Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa mean kecemasan yang
tertinggi terletak pada usia 17 tahun dengan skor 85,67, kemudian di susul oleh usia 15 tahun dengan skor 85,43 dan yang terendah terletak pada usia 16 tahun dengan skor 81,44 c. Hasil Pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Kelas Tabel 7. Hasil pengukuran Mean Skala Kecemasan dengan Kelas
No. Kelas Jumlah Mean Skala No. Usia Jumlah Mean
Skala Kecemasan 1. 15 tahun 14 85,43 2. 16 tahun 64 81,44 3. 17 tahun 6 85,67
Kecemasan 1. XI IPA 30 2. XI IPS 54 Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa mean kecemasan yang
tertinggi berada pada kelas XI IPS dengan skor 77,96 dan yang terendah berada pada kelas XI IPA dengan skor 72,87.
3. Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Skala Kecemasan a. Uji Validitas Menurut Azwar (2008) validitas item dapat dianggap memuaskan apabila koefisien validitasnya sebesar ≥ 0,3. Berdasarkan hasil uji coba pada skala
kecemasan yang
berjumlah 60 item dihasilkan 36 item yang valid. Validitas item dalam penelitian ini untuk skala kecemasan bergerak dari 0,301 sampai
dengan 0,538.
Distribusi item yang valid dapat di lihat dari tabel berikut ini :
Tabel 8. Distribusi item valid Skala Kecemasan No. Komponen Nomor Item Favorabel 1. Komponen Psikologis 1,2,3,4,5,6,7, 8,9,10 2. Komponen Fisiologis 11,12,13,14*,15*,16, 17*,18*,19,20*
3. Komponen Sosial 21*,22,23,24,25*, 26*,27*,28,29*,30* Total Keterangan : *item yang tidak valid
b. Uji Realibilitas
Uji realibilitas dilakukan bertujuan
untuk mengetahui konsistensi alat ukur.
Teknik yang
digunakan untuk mendapatkan
konsistensi dari alat ukur yaitu teknik Alpha Cronbach. Dalam penelitian ini, batas koefisien reliabilitas yang digunakan adalah ≥ 0,7. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Azwar (2008)
Hasil uji realibiltas
untuk skala
kecemasan, di peroleh nilai realibitas sebesar 0,824. Hal ini terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel 9. Realibilitas Skala Kecemasan Reliability Statistics
4. Hasil Uji Normalitas dan Linearitas / Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Untuk melihat sebaran skor dalam uji normalitas dari skala kecemasan dapat dilihat pada uji Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan hasil uji normalitas pada skala kecemasan diketahui nilai statistiknya sebesar 0,91 dengan signifikansi sebesar
Cronbach's Alpha N of Items
0,084 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan distribusi skor skala
kecemasan pada
subjek penelitian adalah normal. tetapi prestasi akademik matematika nilai statistiknya 0,198 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) yang berarti tidak normal.
Distribusi skor skala kecemasan terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Skala Kecemasan T ests of Normality Kolmogorov-Smirnov(a) Statistic df Sig. .091 84 .084 Prestasi Akademik .198 84 .000 a Lilliefors Significance Correction b. Uji Linieritas Tabel 11. Hasil Uji Linieritas
Skala Kecemasan dan Prestasi Akademik Matematika ANOVAb 96.932 1 96.932 4.204 .044a 1890.628 82 23.056 1987.560 83 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), Skala Kecemasan a.
Dependent Variable: Prestasi Akademik Matematika b.
Berdasarkan hasil uji linieritas diperoleh signifikansi sebesar
0,044 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara skala kecemasan dengan prestasi akademik yaitu linier.
5. Analisis Data / Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil uji normalitas dan linieritas diketahui bahwa bahwa skala kecemasan normal tetapi prestasi akademik matematika tidak normal, sedangkan linieritasnya adalah linier. Oleh karena itu, untuk analisis korelasi
dapat menggunakan
analisis statistik parametrik dengan teknik korelasi product moment Pearson.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson (1-tailed) diketahui nilai
koefisien korelasi sebesar r = - 0,221 dengan taraf signifikansi sebesar 0,022 (p < 0,05). Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 12. Uji Hipotesis Correlations 1 -.221* .022 84 84 -.221* 1 .022 84 84 Pearson Correlation Sig. (1-tailed) N Pearson Correlation Sig. (1-tailed) N Skala Kecemasan Prestasi Akademik Matematika Skala Kecemasan Prestasi Akademik Matematika
Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed). *.
Hasil tersebut
menunjukkan bahwa
hipotesis penelitian ini diterima, artinya terdapat hubungan negatif yang
signifikan antara
kecemasan dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika dengan prestasi akademik matematika pada remaja, dimana semakin tinggi tingkat kecemasan remaja
dalam menghadapi mata pelajaran matematika maka semakin rendah
prestasi akademik
matematika pada remaja.
6. Hasil Perhitungan Mean Empirik dan Mean Hipotetik
Hasil perhitungan dari perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik antara
kecemasan dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika dan
prestasi akademik
matematika terlihat bahwa kecemasan siswa dalam menghadapi mata pelajaran matematika berada pada kategori sedang. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 13. Hasil Perhitungan Mean Empirik dan Mean Hipotetik Skala
Kecemasan Variabel Mean Empirik Mean Hipotetik Standar Deviasi Skala Kecemasan 76.14 90 18 Dibawah ini merupakan deskripsi untuk lebih mengetahui gambaran kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika dengan klasifikasi sangat rendah, rendah, sedang,
tinggi dan sangat tinggi yang dapat diketahui dengan cara perhitungan sebagai berikut:
Jumlah aitem yang valid pada skala kecemasan sebanyak 36
item dengan
menggunakan kategori nilai dari 1 sampai dengan 4. Ini berarti nilai skala terkecil berjumlah 1 dan yang terbesar berjumlah 4. Jarak minimum adalah nilai terkecil dikalikan dengan jumlah item yang valid (1 x 36 = 36) dan jarak maksimum adalah nilai terbesar dikalikan dengan jumlah item yang valid (4 x 36 = 144). Untuk mendapatkan nilai jarak sebaran yaitu dengan cara
mengurangi jarak
maksimum dengan jarak minimum (144 – 36 = 108).
Standar Deviasi (δ) didapatkan dengan cara
membagi nilai jarak sebaran dengan 6 atau nilai jarak sebaran : 6 = (108 : 6 = 18), nilai 6 ini didapat dari kurva distribusi normal yang terbagi atas 6 wilayah, 3 daerah positif (+) dan 3 daerah negatif (-). Setelah mendapatkan nilai standar deviasi (δ) kemudian langsung mencari nilai Mean Hipotetik (µ) dengan cara mengalihkan nilai tengah skala dengan cara mengalikan nilai tengah skala dengan jumlah item yang valid (2.5 x 36 = 90). Nilai 2.5 didapatkan dari nilai tengah dari kategori nilai minimum (1) sampai dengan kategori nilai maksimum (4).
Berikut ini adalah pengelompokkan skala
kecemasan yang
diperoleh dengan cara menghitung :
Sangat Rendah = ME < MH – 2SD = ME < 90 -2 (18) = ME < 54 Rendah = MH – 2SD ≤ ME < MH - 1SD = 90 – 36 ≤ ME < 90 – 18 = 54 ≤ ME < 72 Rata-rata = MH – 1SD ≤ ME < MH + 1SD = 90 – 18 ≤ ME < 90 + 18 = 72 ≤ ME < 108 Tinggi = MH + 1SD ≤ ME < MH + 2SD = 90 + 18 ≤ ME < 90 + 36 = 108 ≤ ME < 126 Sangat Tinggi = ME ≥ MH + 2SD = ME ≥ 90 + 36 = ME ≥ 126 Tabel 14. Pengelompokkan Skala Kecemasan (Azwar, 2008) : Keterangan : 1. ME : Mean Empirik ME < MH – 2SD = ME < 54 (Sangat Rendah) MH – 2SD ≤ ME < MH - 1SD = 54 ≤ ME < 72 (Rendah) MH – 1SD ≤ ME < MH + 1SD = 72 ≤ ME < 108 (Rata-rata) MH + 1SD ≤ ME < MH + 2SD = 108 ≤ ME < 126 (Tinggi) ME ≥ MH + 2SD = ME ≥ 126 (Sangat Tinggi)
2. MH : Mean Hipotetik 3. SD : Standar Deviasi Dibawah ini merupakan penggolongan subjek penelitian yang digambarkan pada kurva berikut : Gambar 1. Kurva Distribusi Normal Kecemasan dalam menghadapi Mata Pelajaran Matematika. Berdasarkan kurva distribusi normal diatas diketahui bahwa rata-rata kecemasan remaja dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika berada pada taraf sedang atau rata-rata.
D. Pembahasan
Penelitian ini
bertujuan untuk menguji hipotesis yang berbunyi terdapat hubungan yang negatif antara kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika dengan prestasi akademik matematika pada remaja.
Berdasarkan hasil
pengujian hipotesis pada penelitian ini, hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara
kecemasan dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika dengan prestasi akademik -2S D -1S D M H +1 SD +2 SD 54 72 90 10 8 12 6 Sangat Rendah Renda h Sedan g Tingg i Sangat Tinggi 76,1 4
matematika pada remaja, dimana semakin tinggi tingkat kecemasan remaja dalam menghadapi mata pelajaran matematika maka semakin rendah
prestasi akademik
matematika pada remaja. Menurut Nawangsari (2000) kecemasan adalah suatu kondisi yang tidak menyenangkan meliputi rasa takut, rasa tegang, khawatir, bingung, tidak suka yang sifatnya subjektif dan timbul karena adanya perasaan tidak aman terhadap bahaya yang diduga akan terjadi. Kecemasan bisa terjadi dalam berbagai macam kondisi, ketika kecemasan ini terjadi pada saat individu sedang
menghadapi mata
pelajaran matematika maka secara jelas individu tersebut akan memiliki perasaan tidak aman saat menghadapi
mata pelajaran
matematika.
Hal ini terlihat dalam penelitian ini, dimana hasil mean empirik skala
kcemasan dalam
penelitian ini yaitu 76,14 berada pada posisi
rata-rata. Hasil ini
menunjukkan bahwa
terdapat kecemasan yang dialami oleh siswa dan siswi kelas XI di Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 1 Babelan Bekasi saat menghadapi
mata pelajaran
matematika.
Kecemasan siswa dan siswi dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika
dipengaruhi oleh
beberapa faktor.
Berdasarkan gabungan dari pendapat Jersild dari Ahli Konstitusi (ahli yang meneliti tentang sifat alamiah yang dimiliki oleh setiap individu), Freud dari Ahli
Psikoanalisis, Calvin S. Hall dari Ahli Kultural dan Mowrer dari Ahli Teori Belajar (dalam Soeharjono, 1988) faktor
yang mempengaruhi
remaja menjadi cemas yaitu faktor Mikrokosmos (keadaan diri individu) seperti keadaan biologi individu seperti : jenis kelamin, dan dapat pula
dipengaruhi oleh
perkembangan individu yang dapat dilihat dari usia individu dan faktor Makrokosmos (keadaan lingkungan) seperti lingkungan kelas.
Hal ini terlihat dari hasil data yang diperoleh dalam penelitian ini, berdasarkan hasil data
yang didapatkan
kecemasan dapat
dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan kelas. Andi (2007) mengatakan bahwa dalam belajar matematika diperlukan rasa ingin tahu, perhatian,
dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Menurut Tapia
(1996) kecemasan
terhadap pelajaran matematika berhubungan dengan jenis kelamin, dimana faktor yang mempengaruhi
kecemasan adalah rasa percaya diri, minat terhadap pelajaran matematika dan motivasi. Tapia menerangkan lebih lanjut bahwa rasa percaya diri, minat terhadap pelajaran matematika dan motivasi pada pria lebih rendah dibandingkan dengan wanita sehingga pria lebih cemas dalam pelajaran matematika.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut dari hasil penelitian Nawangsari (2001), diperoleh data bahwa siswa pria lebih
matematika dibandingkan siswa wanita.
Hal di atas juga terlihat pada hasil penelitian ini di mana jenis kelamin subjek pria lebih tinggi tingkat kecemasannya
dibandingkan dengan subjek wanita ini terlihat
dari skor mean
kecemasan 76,63 pada pria dan 75,55 pada wanita.
Berdasarkan
pengamatan yang
dilakukan oleh Riyanto (2009), di mana kelas IPS lebih banyak mengalami
kesulitan dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika jika dibandingkan dengan kelas IPA karena untuk
memahami mata
pelajaran matematika dibutuhkan pemahaman yang mendalam dan latihan yang berulang kali untuk memperoleh hasil yang baik, sedangkan
materi yang banyak diberikan di kelas IPS adalah materi yang menggunakan metode menghafal. Hal ini lah yang menyebabkan kelas IPS lebih cemas bila dibandingkan dengan kelas IPA. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini terhadap
pengelompokkan kelas di mana diperoleh hasil mean kecemasan yang tertinggi berada pada kelas XI IPS dengan skor 77,96, yang berarti bahwa dalam menghadapi mata pelajaran matematika siswa kelas XI IPS lebih cemas jika dibandingkan dengan siswa XI IPA.
Selanjutnya berdasarkan
pengelompokkan usia, terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pearson (dalam Soeharjono, 1988) pada 100 orang anak yang berusia 5 – 18 tahun,
ternyata anak yang berusia diatas 12 tahun lebih menunjukkan rasa cemas akan di caci maki atau dibuat malu karena tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik dan benar disamping itu dipengaruhi pula oleh jumlah terkecil dari subjek yang menduduki suatu kelompok usia atau jumlah terkecil dari keberadaan subjek yang menduduki kelompok usia tertentu.
Hasil penelitian diatas terlihat pula dalam penelitian ini di mana diperoleh hasil mean kecemasan yang tertinggi terletak pada usia 17 tahun dengan jumlah 6 subjek diperoleh skor mean 85,67, kemudian di susul oleh usia 15 tahun dengan jumlah 14 subjek diperoleh skor mean 85,43 dan yang terendah terletak pada usia 16 tahun dengan jumlah 64
subjek skor mean 81,44. hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa
kecemasan subjek dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika dapat terlihat dari banyaknya jumlah subjek. Di mana semakin banyak subjek yang berada dalam suatu populasi maka semakin rendah tingkat kecemasannya.
Bila kecemasan
dalam menghadapi
matematika terjadi dalam satu kurun waktu tertentu atau satu semester secara tidak langsung akan mempengaruhi prestasi akademik matematika siswa dan siswi tersebut.
Hal ini terlihat pada data yang dihasilkan dalam penelitian ini, dimana ada korelasi negatif antara kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika dengan prestasi akademik matematika pada remaja
dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = - 0.221 dengan signifikansi sebesar 0,022 (p < 0,05), yang artinya semakin tinggi tingkat kecemasan siswa dalam menghadapi
mata pelajaran
matematika maka
semakin rendah prestasi akademik matematika siswa dan sebaliknya semakin rendah tingkat kecemasan siswa dalam
menghadapi mata
pelajaran matematika maka akan semakin tinggi
prestasi akademik
matematika yang
dihasilkan oleh siswa. Hasil penelitian ini ternyata sama dengan
penelitian yang
dikemukakan oleh
Nawangsari (2000), di mana ada korelasi negatif antara skor kecemasan terhadap matematika dengan prestasi akademik pada siswa SLTP di Surabaya. Hal ini
menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat
kecemasan siswa
terghadap pelajaran
matematika maka
semakin rendah prestasi akademik yang dihasilkan oleh siswa. begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat kecemasan siswa terhadap pelajaran
matematika maka
semakin tinggi prestasi akademik yang dihasilkan
BAB V PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengumpulan data dan hasil analisis data yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang negatif antara kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika dengan prestasi
akademik matematika pada siswa dan siswi kelas XI di Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 1 Babelan Bekasi.
Berdasarkan data tambahan diperoleh hasil bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan siswa dalam menghadapi mata pelajaran matematika adalah jenis kelamin, usia dan kelas. Di mana siswa pria cenderung lebih cemas dalam menghadapi mata pealajaran matematika dibandingkan dengan siswa wanita. Selain itu diperoleh pula data bahwa usia 17 tahun jauh lebih cemas dibandingkan, selanjutnya disusul usia 15 tahun dan 16 tahun. hal ini terlihat dari jumlah subjek pada usia tertentu, di mana jumlah subjek yang menduduki usia 17 tahun lebih sedikit atau berjumlah 6 subjek, kemudian di susul oleh usia 15 tahun yang
berjumlah 14 subjek dan pada usia 16 tahun sejumlah 64 subjek. Bukan hanya usia namun kelas pun menunjukkan data bahwa kelas XI IPS cenderung lebih cemas dalam menghadapi mata pelajaran matematika dibandingkan dengan kelas XI IPA.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan peneliti
mempunyai beberapa saran yang dapat diberikan sebagai berikut :
d. Berdasarkan hasil data yang diperoleh
terlihat bahwa
kecemasan siswa dan
siswi dalam
menghadapi mata pelajaran matematika berada pada kategori rata-rata atau sedang. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa dan siswi di Sekolah
Menengah Umum Negeri (SMUN) 1
Babelan Bekasi
mengalami
kecemasan cemas saat menghadapi mata pelajaran matematika. Untuk mengurangi kecemasan dalam menghadapi mata pelajaran matematika peneliti menyarankan kepada siswa dan
siswi sebelum
menghadapi mata pelajaran matematika diharapkan siswa dan siswi dapat lebih giat lagi untuk berlatih mengerjakan tugas-tugas matematika, soal-soal matematika dan memperdalam kembali materi yang telah diajarkan oleh guru matematika. Hal ini bertujuan untuk membantu siswa dan
siswi agar
mengurangi
kecemasan dalam
menghadapi mata pelajaran matematika. Bila kecemasan itu
berkurang maka
secara tidak langsung prestasi akademik matematika siswa dan siswi akan meningkat.
Sehubungan
penelitian ini, peneliti menyarankan kepada para peneliti selanjutnya agar
dapat menggunakan
populasi yang lebih luas lagi bukan hanya siswa dan siswi dari SMUN
(Sekolah Menengah
Umum Negeri) mungkin
dengan mengambil
sampel dari siswa yang berasal dari SMUS
(Sekolah Menengah
Umum Swasta) untuk melihat apakah siswa dari
SMUS (Sekolah
Menengah Umum
Swasta) juga mengalami
kecemasan dalam
menghadapi mata
yang secara langsung
akan mempengaruhi
prestasi akademik
matematikanya. Selain itu untuk pengembangan teori psikologi pendidikan
diharapkan untuk
penelitian selanjutnya dapat melihat kecemasan-kecemasan lain yang terjadi di luar mata pelajaran matematika, di mana mata pelajaran tersebut sering pula dialami oleh siswa dan siswi selain kecemasan
menghadapi mata
pelajaran matematika.
Misalnya: cemas
menghadapi pelajaran kimia, bahasa inggris ataupun pelajaran lainnya. DAFTAR PUSTAKA
Andi. (2007). Program akademik
matematika. Diperoleh dari:
http://smpacot.stbellarminus=jkt.net/i ndex.php?option=com_content&task= view&id=20&Itemid=34
Alsa, A. (1984). Usia mental, jenis kelamin dan prestasi belajar matematika. Jurnal Psikologi
Pendidikan, 12, 1, 22-29.
Arjuna. (1999). Kaitan antara pembelajaran
matematika realistik dengan pengertian siswa. Diperoleh dari
http://www.ex.ac.uk/telematics/T3/ma ths/actar01.htm.
Azwar, S. (1996). Tes prestasi : Fungsi dan
pengembangan pengukuran prestasi belajar (edisi ke 2). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2008). Penyusunan skala
psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Christantie, J.I & Hartanti. (1997). Hubungan antara persepsi terhadap jurusan A-1, A-2, A-3 dan motif berprestasi dengan prestasi belajar.
Jurnal Psikologi Pendidikan : Anima. 12, 47, 1997.
Dacey, J.S. (2000). Your anxious child :
How parents and teachers can relieve anxiety in children. San
Fransisco: Jossey-Bass Publishers. Hartanti & Judith E.D. (1997). Hubungan
antara konsep diri dan kecemasan menghadapi masa depan dengan penyesuaian sosial anak-anak Madura. Jurnal Psikologi Pendidikan :
Anima. 12, 46, 2007.
Nawangsari, N. A. F. (2000). Kecemasan siswa pada bidang matematika di SLTP Surabaya (Laporan penelitian
universitas airlangga). Surabaya :
Universitas Airlangga.
Nawangsari, N. A. F. (2001). Pengaruh self-efficacy dan expectancy-value
terhadap kecemasan menghadapi pelajaran matematika. Jurnal
Psikologi Pendidikan: Insan media psikologi, 3,2, 2001, 75-88.
Papalia, Olds & Fielman. (2004). Human
development. New York: Mc Graw Hill
Inc.
Riyanti, B.P.Dwi, Hendro Prabowo dan Ira Puspitawati. (1996). Psikologi umum
1. Depok: Universitas Gunadarma.
Riduwan. (2008). Metode dan teknik
menyusun tesis. Bandung : Alfabeta
Bandung.
Riyanto, G. (2009). Aku IPA maka Aku
Ada. Diperoleh dari :
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/12/ humaniora/3526503. Htm.
Santrock, J.W. (2003). Adolescence:
perkembangan remaja (6th.ed).
Jakarta: Erlangga.
Setyono, A. (2005). Mathemagics : cara
jenius belajar matematika. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Soehardjono, L & Endang W.G. (1988).
Kecemasan pada anak dan remaja.
Majalah anima : Media Psikologi Indonesia.
Suryabrata, S. (1998). Psikologi
pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Thompson, T & Dale L. D. (2007). Poor performance in mathematics: is there a basis for a self-worth explanation for women. Journal Educational
Psychology. 27, 3, 2007.
Tapia. M. (1996). The relationship of
math anxiety and gender of math.
Diperoleh
dari:http://translate.google.co.id/tran slate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://www.rapidintellect.com/ AEQweb/5may2690l4.htm
Wahyuningsih, A.S. (2004). Hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas 2 SMU lab school Jakarta Timur (Skripsi;
Tidak diterbitkan). Jakarta :
Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Yoeanto, N.H. (2002). “Hubungan
kemampuan memecahkan soal cerita matematika dengan tingkat kreativitas siswa sekolah menengah umum”. Jurnal Psikologi Pendidikan :
Insan. 4,2, 2002, 63-72.
Zeidner, M. (1998). Test anxiety: The
state of the art. New York : Kluwer