• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

a. Ketuntasan masing-masing siswa dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan: P = Presentase

17

F = Frekuensi yang dicari presentasinya N = Jumlah siswa (Djamarah, : 222)

b. Ketuntasan klasikal dengan rumus sebagai berikut:

Rumus tersebut digunakan untuk mengukur kompetensi siswa secara klasikal. H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, maka disusun sistematika:

Bab I: Pendahuluan

Berisi latar belakang masalah, tujuan penelitian, hipotesis tindakan, manfaat penelitian penjelasan definisi operasional, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: Kajian Pustaka

Berisi peningkatan kompetensi, definisi berhitung, materi penjumlahan dan pengurangan, metode jarimatika, langkah-langkah jarimatika, penerapan metode jarimatika pada materi penjumlahan dan pengurangan.

18

BAB III: Pelaksanaan dan Penelitian

Berisi gambaran situasi umum MI Tarbiyatul Ullum subjek penelitian dan karakteristik objek penelitian serta deskripsi persiklus.

BAB IV: Laporan Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisi deskripsi kondisi awal, hasil penelitian tiap siklus, analisis data dan pembahasan.

BAB V: Penutup

19

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Peningkatan Kompetensi 1. Pengertian Peningkatan

Pengertian peningkatan secara etimologi adalah menaikan derajat taraf dan sebagainya mempertinggi, memperhebat, dan sebagainya, proses cara perbuatan meningkatkan usaha kegiatan dan sebagainya.(http://digilib.sunan- ampel.ac.id/files/disk1/203/jiptiain--safiinimfo-10122-5-babii.pdf) di akses pada tanggal 08 Juni 2013 pukul 13:00.

2. Pengertian Kompetensi

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dan kebiasaan berpikir dan bertindak,

McAshan (1981: 45) mengemukakan bahwa kompetensi: “... is a knowlegde, skills, and abilities or capabilities that a person achives, which become part of his or his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, afective, and psychomotor behavior”. Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.

Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi disamping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam

20

prosedur dan profesi tertentu. Kompetensi diartikan dan dimaknai sebagai perangkat perilaku efektif yang terkait dengan eksplorasi dan infestigasi, menganalisis dan memikirkan, serta memberikan perhatian dan mempersepsi yang mengarahkan seseorang menemukan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efesien. Kompetensi bukanlah suatu titik akhir dari suatu upaya melainkan suatu proses yang berkembang dan belajar sepanjang hayat(lifelong learning proccess) (Mulyasa: 2008, 26).

Sejalan dengan itu, Finch dan Crunkilton (1979: 222) mengartikan kompetensi sebagai sebagai penguasaan terhadap sebagai tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja.

Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar peserta didik yang mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar, dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dan memiliki kontribusi terhadap kompetensi- kompetensi yang telah dipelajari. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektifis, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan mereka terhadap pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap

21

sebagai hasil belajar. Dengan demikian dalam pembelajaran yang dirancang berdasarkan kompetensi, penilaian tidak melakukan berdasarkan pertimbangan yang bersikap subjektif.

Gordon (1988: 109) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut:

a. Pengetahuan yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan belajar, dan sebagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan kebutuhannya.

b. Pemahaman yaitu kedalaman kognitif, dan efektif yang dimiliki oleh individu. Misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi peserta didik, agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien.

c. Kemampuan adalah sesuatu yang dimiliki oleh individuuntuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk memberi untuk memberi kemudahan belajar kepada peserta didik.

d. Nilai adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikilogis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya standar perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain- lain).

22

e. Sikap yaitu perasaan (senang tidak senang, suka tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji, dan lain sebagainya). f. Minat adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.

Misalnya minat untuk mempelajari atau melakukan sesuatu.(Mulyasa: 2004, 37-40)

Sedangkan menurut Lefanscois, kompetensi merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses beajar, stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Apabila individu sukses mempelajari cara melakukan satu pekerjaan yang kompleks dari sebelumnya, maka pada diri individu tersebut pasti sudah terjadi perubahan kompetensi. Perubahan kompetensi tidak akan tampak apabila selanjutnya tidak ada kepentingan atau kesempatan untuk melakukannya.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa kompetensi adalah berlangsung lama yang menyebabkan individu mampu melakukan kinerja tertentu. Kompetensi diartikan oleh Cowell sebagai suatu ketrampilan atau kemahiran yang bersifat aktif. (Ma’mur: 2009, 37-38).

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan peningkatan kompetensi yaitu proses perbuatan untuk meningkatkan potensi, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi tertentu

23

berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan dan diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tertentu.

B. Berhitung Cepat

Muhammad Ali (1996) mengatakan, berhitung cepat adalah “perihal menghitung, membilang penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian”,

sedangkan Nyoman Dantes (1992) mengatakan bahwa “numerik adalah

menghitung dalam matematika”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa berhitung cepat adalah kemampuan tentang perihal hitung menghitung dalam matematika yang mencakup penjumlahan, pengurangan, perkaliam dan pembagian secara cepat, tepat dan sistematis. Kemampuan berhitung cepat juga didukung oleh teorema-teorema, dalil-dalil, sifat-sifat, definisi dan postulat, serta hal-hal lain yang mendukung terjadinya suatu perhitungan yang berlaku secara wajar.

C. Materi Penjumlahan dan Pengurangan

1. Membaca dan menggunakan simbol ( ) ( ) dan ( )

24

Gambar 2.1 Contoh Penggunaan Simbol pada Materi Penjumlahan a.

Dua ditambah satu sama dengan tiga

2 1 = 3

Gambar 2.2 Contoh Penggunaan Simbol pada Pengurangan b.

Tiga di kurangi dua sama dengan satu

3 2 = 1

2. Mengingat fakta dasar penjumlahan dan pengurangan

Gambar 2.3 Contoh Penggunaan Penjumlahan dan Pengurangan

3 3 = 6

25

3. Mengubah kalimat pengurangan ke bentuk penjumlahan 26 – 6 = 20 20 + 6 = 26

Atau 6 + 20 = 26

4. Menjumlah bilangan sampai dengan 500 42 + 3 = 45

12 + 10 =22 D. Metode Jarimatika

1. Pengertian metode jarimatika

Metode berasal dari bahasa yunani, yaitu methodos berasal dari kata

“meta” dan “bodos”. Meta berarti melalui, sedang bodos berarti jalan.

Sehingga, metode berarti jalan yang harus dilalui atau cara untuk melakukan suatu prosedur (Nasution, 1995:2). Adapun dalam bahasa arab, metode bisa bermakna “Minhaj, al- Wasilah, al-Kafiyah, al-Thariqah”. Semua kata ini berarti jalan atau cara yang harus ditempuh (Asnely, 1995:30). Menurut para ahli pendidikan, misalnya Winkel, menyebut metode dengan istilah prosedur didaktik. Sedangkan Abdul Ghofur menggunakan istilah strategi dengan intruksional.

Materi dan metode adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Materi tanpa metodologi dirasa kurang efektif dan metode tanpa materi terasa hampa, karena tidak ada yang diolah dan yang dikembangkan. Dua-duanya penting untuk dipelajari dan dikembangkan, agar pembelajaran

26

berjalan secara efektif dan berkualitas tinggi. Istilah yang hampir sama dengan

“metode” diatas adalah “teori”.

Menurut Winfred F. Hill (2009) teori adalah interprestasi sistematis atas sebuah bidang pengetahhuan. Teori ini mempunyai fungsi.Dalam konteks pembelajaran, biasanya teori mempunyai tiga fungsi yang berbeda-beda, namun saling terkait erat. Pertama, teori pembelajaran adalah pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan, status cara menganalisis, membicarakan, dan meneliti pembelajaran.

Teori pembelajaran menggambarkan sudut pandang penelitian mengenai aspek-aspek pembelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari, variabel-variabel yang independen yang harus dimanipulasi dan variabel- variabel yang harus dikaji, teknik-teknik penelitian yang hendak digunakan serta bahasa apa yang harus digunakan untuk mendeskripsikan temuan- temuannya. Dengan demikian teori berfungsi sebagai petunjuk dan sumber stimulasi bagi penelitian dan pemikiran ilmiah. (Asmani, 2010: 19)

Jarimatika (jari dan aritmatika) adalah metode berhitung dengan menggunakan jari tangan. Meskipun hanya menggunakan jari tangan, tapi dengan metode jarimatika mampu melakukan operasi bilangan KaBuTaKu (Kali, Bagi, Tambah, Kurang) sampai dengan ribuan atau mungkin lebih.

Jarimatika adalah sebuah cara sederhana dan menyenangkan mengajar berhitung dasar kepada anak-anak. Dimulai dengan memahamkan secara benar terlebih dahulu tentang konsep bilangan, lambang bilangan, dan operasi hitung

27

dasar, kemudian mengajarkan cara berhitung dengan jari-jari tangan. Proses diawali, dilakukan dan diakhiri dengan gembira. (Wulandani, 2007: 2).

Metode ini sangat mudah diterima anak. Mempelajarinya pun sangat mengasyikan, karena jarimatika tidak membebani memori otak dan alatnya selalu tersedia bahkan saat ujian karena alatnya adalah jari tangan kita sendiri. Sebuah cara sederhana yangg menyenangkan mengajarkan berhitung dasar kepada anak-anak menurut kaidah-kaidah berikut:

a. Dimulai dengan memahami konsep bilangan, lambang bilangan dan kemudian operasi hitung dasar.

b. Barulah kemudian mengajarkan cara berhitung dengan jari-jari tangan c. Proses diawali, dilakukan dan diakhiri dengan gembira.

2. Kelebihan dan kelemahan

Setiap metode ada kelebihan dan kekurangan dalam penggunaanya, berikut kelebihan dan kekurangan metode jarimatika:

a. Kelebihan jarimatika:

1) Memberika visualisasi proses berhitung 2) Menggembirakan anak saat digunakan 3) Tidak memberatkan memori otak anak

4) Alatnya gratis, selalu dibawa dan tidak dapat disita(Wulandani, 2008:1)

28

b. Kelemahan jarimatika:

1) Karena jumlah jari tangan terbatas maka operasi metematika yang bisa di selesaikan juga terbatas

2) Jika kurang latihan menggunakan jari-jari tangan dalam menghitung penjumlahan dan pengurangan akan agak lambat menghitung dibandingkan dengan menggunakan sempoa.

Padahal seperti halnya keterampilan yang lain, untuk dapat berhitung dengan baik diperlukan suatu proses:

1. Anak perlu untuk memahami bilangan dan proses membilang 2. Kemudian mulai dikenalkan dengan lambang bilangan

3. Setelah itu diajarkan konsep operasi hitung

4. Baru kemudian dikenalkan aneka cara dan metode melakukan penghitungan.

Jarimatika merupakan salah satu cara melakukan operasi hitung. Jika kita melakukan latihan berhitung secara berulang-ulang bersama dengan anak- anak kita tidak perlu khawatir anak kita pasti menguasai keterampilan ini dengan baik.

E. Langkah-langkah jarimatika

Dalam jarimatika, tangan kanan digunakan untuk melambangkan satuan, sedangkan tangan kiri digunakan untuk melambangkan puluhan.

29

Gambar 2.4 Jari Tangan Kanan untuk Melambangkan Satuan.

Keterangan:

a. Angka 1 diwakili oleh jari telunjuk kanan

b. Angka 2 diwakili oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan

c. Angka 3 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengan, dan jari manis tangan kanan.

d. Angka 4 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingkinng tangan kanan

e. Angka 5 diwakili oleh jari jempol tangan kanan.

f. Angka 6 diwakili oleh jari jempol dan jari telunjuk tangan kanan.

g. Angka 7 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk dan jari manis tangan kanan.

h. Angka 8 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk, jari tengan dan jari manis tangan kanan

i. Angka 9 diwakili oleh kelima jari tangan kanan. 2. Penggunaan jari-jari tangan kiri

30

Gambar 2.5 Jari Tangan Kiri Melambangkan Puluhan

Keterangan:

a. Angka 10 diwakili oleh jari telunjuk tangan kiri.

b. Angka 20 diwakili oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri.

c. Angka 30 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri.

d. Angka 40 diwakili oleh jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking tangan kiri.

e. Angka 50 diwakili oleh jari jempol tangan kiri

f. Angka 60 diwakili oleh jari jempol dan jari telunjuk tangan kiri.

g. Angka 70 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri

h. Angka 80 diwakili oleh jari jempol, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis tangan kiri.

31

F. Penerapan metode jarimatika pada materi penjumlahan dan pengurangan. 1. Operasi matematika

a. Operasi penjumlahan Penjumlahan 13+11= 24

1) Tangan kiri dibuka jari telunjuk (10) dan tangan kanan dibuka jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis (3)

2) Tangan kiri dibuka jari tengah (+10) dan tangan kanan dibuka jari kelingking (+1)

3) Hasilnya, tangan kiri terbuka dua jari (20) dan tangan kanan terbuka empat (4) yang dibaca 24

b. Operasi pengurangan Pengurangan 24-12= 12

1) 24 dilambangkan tangan kiri buka jari telunjuk dan jari tengah (20), tangan kanan buka jari kelingking sampai jari telunjuk (4)

2) Dikurang 12: jari kiri: tutup jari tengah (-10), jari kanan: tutup jari kelingking dan jari manis (-2)

3) Hasilnya, jari kiri terbuka hanya jari telunjuk (10) dan jari kanan terbuka hanya jari telunjuk dan jari tengah (2) yang dibaca 12.

32

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

1. Gambaran umum MI Tarbiyatul Ullum, Kec. Pabelan, Kab. Semarang.

Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Ulum merupakan salah satu Madrasah Ibtidaiyah swasta yang berada di Desa Jembrak. Berdiri di atas tanah wakaf dan merupakan gedung milik sendiri.

Sebagai tempat pendidikan agama menurut pengamatan kami maka letaknya sangat mendukung karena jauh dari keramaian sehingga akan lebih mudah untuk menanamkan nilai-nilai agama dan sopan santun dengan didukung keadaan lingkungan masyarakat yang agamis pula.

a. Lokasi penelitian

Tempat penelitian : MI Tarbiyatul Ullum, Kec. Pabelan, Kab. Semarang

Alamat penelitian : Jl. Bastul biri, Kec. Pabelan, Kab. Semarang. 50771

Mata pelajaran : Matematika

Materi pokok : Penjumlahan dan Pengurangan Kelas/ Semester : II/I

33

b. Karakteristik Siswa Kelas II

Siswa kelas II MI Tarbiyatul Ullum berjumlah 20 siswa, terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut:

Tabel 3.1 Kemampuan Akademik Siswa Kelas II di MI Tarbiyatul Ullum

No. Nama L/P Kemampuan Akademik

1 Avrilia Callista L Sedang

2 Khoirul Efendi L Sedang

3 Abdhul Rahman L Bawah

4 Ahmad Syahid L Atas

5 Ahmad Reza D L Sedang

6 Ahmad Setyo W R L Sedang

7 Ahmad Thoha L Bawah

8 Anita Widya Wati P Bawah

9 Elva Dina M P Sedang

10 Erika Husna N P Sedang

11 Fajar Hamida L Bawah

12 Ferdian Wahyu P L Atas

13 Ihwina Naja K N P Atas

14 Khirunnisa P Sedang

15 Mubarok K L Sedang

16 M Duwi S L Bawah

17 M Tholib L Bawah

18 Rifai Setiawan L Bawah

19 Visia Milana P Atas

20 Nabil L Sedang

2. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada mata pelajaran matematika semester I tahun ajaran 2013/2014. Penelitian dilaksanakan dalam beberapa siklus. Penelitian menggunakan jam mata pelajaran matematika sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas II MI Tarbiyatul Ullum, Kec. Pabelan, Kab. Semarang.

34

Waktu pelaksanaan sebagai berikut:

1) Kegiatan siklus I : 22 dan 24 Oktober 2013 2) Kegiatan siklus II : 29 dan 31 Oktober 2013 3) Kegiatan siklus III : 12 dan 14 November 2013

B. Deskripsi Siklus I

1. Perencanaan (Planing)

Dalam tahap ini mencakup kegiatan sebagai berikut:

a. Waktu pelaksanaan tindakan kelas siklus pertama yaitu dilaksanakan pada tanggal 22 dan 24 Oktober 2013

b. Menyiapkan RPP

Menyiapkan RPP disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta perangkat pembelajaran yang akan digunakan pada siklus I. Adapun standar kompetensi dan kompetensi dasar pada siklus ini adalah:

Standar Kompetensi : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

Kompetesi Dasar : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

Indikator Kompetensi :

 Membaca dan menggunakan simbol + (penjumlahan), - (pengurangan), = (sama dengan).

35

c. Penyiapan Perangkat

Perangkat yang disiapkan dalam siklus I meliputi absensi, lembar pengamatan, lembar penilaian dan soal. Absensi digunakan untuk mengetahui kehadiran siswa. Lembar pengamatan disusun dalam melakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian proses kegiatan pembelajaran.

2. Tindakan

Tindakan kelas siklus I berlangsung selama 2 kali tatap muka (4 x 35 menit). Materi yang diajarkan dalam pertemuan ini adalah berhitung cepat penjumlahan dan pengurangan. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode jarimatika. Berikut adalah langkah kegiatan tindakan kelas siklus I.

a. Kegiatan Awal 1) Salam

2) Doa bersama membaca asmaul husna (pembiasaan) 3) Absensi

4) Apersepsi

5) Guru mengingatkan penjumlahan dengan konsep dasar. 6) Siswa mengerjakan Pre Tes

36

b. Kegiatan Inti

1) Sebelum mempelajari jarimatika, siswa terlebih dahulu perlu memahami angka atau bilangan.

Gambar 3.1 Aplikasi penggunaan barang-barang sekitar untuk memahami angka atau bilangan.

1 2 3

2) Kenalkan siswa dengan konsep operasi penjumlahan dan pengurangan.

a) Penjumlahan

Gambar 3.2 Konsep Operasi Penjumlahan + =

37

b) Pengurangan

Gambar 3.3 Konsep Operasi Pengurangan

- =

2 1 1

3) Ajak siswa untuk bernyanyi “suka hati”

4) Kenalkan lambang-lambang yang digunakan di dalam jarimatika. Awali dengan tangan kanan yang menunjukan satuan 1 – 9, dan tangan kiri menunjukan puluhan 10 – 90. 5) Ajak siswa untuk mendemonstrasikan formasi jari tangan yang

menunjukan angka-angka itu. Contoh:

Satu... TU! Empat... TAP! Tujuh... BHEM! Dua... CRESS! Lima... JOSS! Delapan... NYAM! Tiga... CLEP! Enam... DORR! Sembilan... DAA!

38

6) Melakukan operasi tambahan Tambah – Kurang (TaKu) dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri. Contoh:

a) Penjumlahan 2 + 5 = 7

Dibaca: tambah dua BUKA, tambah lima BUKA, oke. Hasilnya adalah 7

b) Pengurangan 4 – 2 = 2

Dibaca: tambah empat BUKA, kurang dua TUTUP, oke. Hasinya adalah 2

7) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum dipahami

8) Siswa mengerjakan Post Tes

c. Kegiatan Akhir

1) Guru bersama siswa membuat kesimpulan hasil pembelajaran 2) Guru bersama siswa membaca hamdalah untuk mengakhiri

pelajaran.

3) Guru mengucapakan salam.

3. Observasi

Pada tahap observing peneliti mengamati jalannya proses belajar mengajar. Aspek yang diamati antara lain: pemahaman siswa terhadap angka lambang bilangan, pengenalan siswa terhadap konsep

39

operasi hitung, pengenalan siswa terhadap lambang bilangan dalam jarimatika, dan siswa dapat menggunakan jarimatika dalam menghitung penjumlahan dan pengurangan.

4. Refleksi

Pengamat mencatat hal-hal yang mendukung dan menghambat proses pelaksanaan pembelajaran matematika melalui metode jarimmatika untuk dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

C. Deskripsi Siklus II

1. Perencanaan (Planing)

Dalam tahap ini mencakup kegiatan sebagai berikut:

a. Waktu pelaksanaan tindakan kelas siklus pertama yaitu dilaksanakan pada tanggal 29 dan 31 Oktober 2013.

b. Menyiapkan RPP

Menyiapkan RPP disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta perangkat pembelajaran yang akan digunakan pada siklus II. Adapun standar kompetensi dan kompetensi dasar pada siklus ini adalah:

Standar Kompetensi : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

Kompetesi Dasar : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

40

Indikator Kompetensi :

 Pengguanaan simbol + (penjumlahan), - (pengurangan), = (sama dengan).

 Mengingat fakta dasar penjumlahan dan pengurangan. c. Penyiapan Perangkat

Perangkat yang disiapkan dalam siklus II meliputi absensi, lembar pengamatan, lembar penilaian dan soal. Absensi digunakan untuk mengetahui kehadiran siswa. Lembar pengamatan disusun dalam melakukan pengamatan terhadap seluruh rangkaian proses kegiatan pembelajaran.

2. Tindakan

Tindakan kelas siklus II berlangsung selama 2 kali tatap muka (4 x 35 menit). Materi yang diajarkan dalam pertemuan ini adalah berhitung cepat penjumlahan dan pengurangan. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode jarimatika. Berikut adalah langkah kegiatan tindakan kelas siklus II.

a. Kegiatan Awal 1) Salam

2) Doa bersama membaca asmaul husna (pembiasaan) 3) Absensi

4) Apersepsi

5) Guru mengingatkan penjumlahan dengan konsep dasar. 6) Siswa mengerjakan Pre Tes

41

b. Kegiatan Inti

1) Sebelum mempelajari jarimatika, guru terlebih dahulu mengingatkan pelajaran yang telah diajarkan.

Kenalkan kembali lambang-lambang yang digunakan dalam jarimatika

 Tangan kanan digunakan untuk satuan1-9. Gambar 3.4 Jari Tangan Kanan untuk Melambangkan Satuan.

 K

emudian tangan kiri yang menunjukan puluhan 10-90 Gambar 3.5 Jari Tangan Kiri Melambangkan Puluhan

2) Ajak anak untuk bergembira, dengan mendemonstrasikan formasi tangan yang menunjukan angka-angka itu.

42

Contoh:

Satu... TU! Empat... TAP! Tujuh... BHEM! Dua... CRES! Lima... JOSS! Delapan... NYAM! Tiga... CLEP! Enam... DORR! Sembilan... DAA! 3) Melakukan operasi Tambah-Kurang (Ta-Ku).

a) Operasi Penambahan dan Pengurangan (1) Penjumlahan

2 + 2 = 4

Dibaca: tambah dua BUKA, tambah dua Buka, oke. Hasilnya adalah 4.

(2) Pengurangan 3 - 1 = 2

Dibaca: Tambah tiga BUKA, kurang satu TUTUP, oke. Hasilnya adalah 2

(3) Campuran 3 + 1 – 2

Dibaca: Tambah tiga BUKA, tambah satu BUKA, Kurang dua TUTUP, oke.

43

b) Cara ini juga berlaku untuk puluhan. (1) Penjumlahan

20 + 10

Dibaca: Tambah dua puluh BUKA, tambah sepuluh BUKA, oke.

Ajarkan anak untuk bermain dengan kedua tangan. (2) Campuran

21 + 13 – 2 Dibaca:

- tambah dua puluh satu(tambah dua puluh buka, tambah satu buka)

- tambah tiga belas (tambah sepuluh buka, tambah tiga buka)

- Kurang dua tutup, oke. - Hasilnya adalah: 32

4) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum dipahami

5) Siswa mengerjakan Post Tes

c. Kegiatan Akhir

1) Guru bersama siswa membuat kesimpulan hasil pembelajaran 2) Guru bersama siswa membaca hamdalah untuk mengakhiri

pelajaran.

44

3. Observasi

Pada tahap observing peneliti mengamati jalannya proses belajar mengajar. Aspek yang diamati antara lain: pemahaman siswa terhadap angka lambang bilangan, pengenalan siswa terhadap konsep operasi hitung, pengenalan siswa terhadap lambang bilangan dalam jarimatika, dan siswa dapat menggunakan jarimatika dalam menghitung penjumlahan dan pengurangan.

4. Refleksi

Pengamat mencatat hal-hal yang mendukung dan menghambat proses pelaksanaan pembelajaran matematika melalui metode jarimmatika untuk dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya

D. Deskripsi Siklus III 1. Perencanaan

Dalam tahap ini mencakup kegiatan sebagai berikut:

a) Waktu pelaksanaan tindakan kelas siklus pertama yaitu dilaksanakan padatanggal 12 dan 14 November 2013.

b) Menyiapkan RPP

Menyiapkan RPP disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta perangkat pembelajaran yang akan digunakan pada siklus III. Adapun standar kompetensi dan kompetensi dasar pada siklus ini adalah:

Standar Kompetensi : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

45

Kompetesi Dasar : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

Indikator Kompetensi :

 Pengguanaan simbol + (penjumlahan), - (pengurangan), =

Dokumen terkait