Analisis Perbedaan Jumlah Produksi Usahatani Padi Sawah Di Dua Daerah Penelitian
Jumlah produksi usahatani padi sawah diukur dalam satuan Kg, besarnya
produksi yang dihasilkan untuk setiap petani sangat bervariasi antara Desa Kolam dan
Desa Wonosari. Besar kecilnya produksi yang dihasilkan di pengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain penggunaan input produksi, lingkungan, luas lahan, tingkat
kesuburan tanah, dan perlakuan petani dalam mengusahakan komoditi tersebut. Total
rata-rata jumlah produksi di dua daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 13 di
bawah ini :
Tabel 13. Total Rata-Rata Jumlah Produksi Usahatani Padi Sawah Di Desa Kolam Dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam Desa Wonosari Perbedaan
Jumlah Produksi (Kg) 5.991,66 6.411,66 420
Sumber : Data diolah dari lampiran 21 dan 22
Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah produksi masing-masing desa terdapat
perbedaan, tetapi perbedaannya tidak begitu jauh. Jumlah produksi rata-rata Desa
Kolam adalah sebesar 5.991,66 Kg/Ha, sedangkan jumlah produksi rata-rata di Desa
Wonosari adalah sebesar 6.411,66 Kg/Ha. Maka ada perbedaan jumlah produksi pada
usahatani padi sawah di Desa Kolam dan Desa Wonosari, perbedaan ini juga
disebabkan oleh hasil produksi yang diperoleh petani dan luas lahan yang
juga sangat mempengaruhi produksi padi sawah yang akan dihasilkan. Jika
penggunaan sarana produksi (bibit, pupuk, dan obat-obatan) tidak sesuai dengan
dosis/ takaran kebutuhan tanaman padi sawah maka hasilnya juga kurang maksimal.
Oleh karena itu, untuk memperoleh produksi yang maksimal petani harus
menggunakan sarana produksi sesuai kebutuhkan tanaman padi sawah agar hasil
tidak mengecewakan.
Untuk melihat apakah perbedaan jumlah produksi tersebut nyata atau tidak nyata
maka dilakukan uji statistik. Hasil analisis uji beda rata-rata jumlah produksi
usahatani padi sawah dapat dilihat dibawah ini :
Tabel 14. Hasil Analisis Perbedaan Jumlah Produksi Rata-Rata Usahatani Padi Sawah Di Desa Kolam Dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam Desa Wonosari t-hitung t-tabel
Jumlah Produksi (Kg)
5.991,66 6.411,66 -.523 1,761
Keterangan = t hitung (Desa Kolam dan Wonosari) < t-tabel, tolak H1 terima H0
Sumber : Data diolah dari lampiran 21, 22 dan 23
Berdasarkan hasil analisis uji beda rata-rata diperoleh t-hitung sebesar
-.523 yang lebih kecil dari t-tabel 1,761 (α = 5%). Sehingga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam jumlah produksi usahatani padi sawah di Desa
Kolam dan Desa Wonosari. Tabel 14 memperlihatkan bahwa rata-rata jumlah
produksi per hektar Desa Kolam lebih kecil dibandingkan Desa Wonosari. Tetapi dari
hasil pengujian beda rata-rata memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyata dalam
demikian hipotesis 1 yang menyatakan ada perbedaan jumlah produksi usahatani padi
sawah di dua daerah penelitian ditolak.
Analisis Perbedaan Total Biaya Produksi Usahatani Padi Sawah Di Dua Daerah Penelitian
Total biaya produksi usahatani padi sawah adalah semua pengeluaran yang
berkaitan dengan usahatani padi sawah. Biaya produksi disini meliputi biaya input
(bibit, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja), biaya penyusutan alat-alat pertanian, biaya
lain-lain (PBB dan iuran P3A). Jadi total biaya produksi merupakan keseluruhan
biaya usahatani, termasuk biaya tetap (Penyusutan, PBB, iuran P3A) maupun biaya
tidak tetap seperti sarana produksi (bibit, pupuk, obat-obatan). Adapun sarana
produksi usahatani padi sawah dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 15. Jumlah Sarana Produksi Usahatani Padi Sawah di Desa Kolam dan Desa Wonosari
Uraian Desa kolam Desa wonosari
1. Bibit (Kg) 37,00 34,13 2. Pupuk (Kg) Urea 83,33 90,66 ZA 43,20 83,00 NPK 62,73 90,66 3. Obat-obatan (Botol) Spontan 1,66 1,66 Bestok 1,66 1,66 Decis 1,00 1,00
Tenaga Kerja (HKO) 31,822 29,083
Sumber : Data diolah dari lampiran 3-10
Dari tabel 15 dapat dilihat jumlah masing-masing sarana produksi yang
digunakan di kedua desa. Pemakaian bibit di Desa Kolam untuk usahatani padi
Untuk pemakaian pupuk digunakan pupuk Urea, ZA dan NPK sebagai pupuk
utama, banyaknya dosis atau jumlah pupuk ini sesuai dengan kebutuhan tanaman itu
sendiri. Untuk penggunaan pupuk di Desa Kolam sebesar 83,33 Kg/Ha untuk urea,
43,20 Kg/Ha untuk ZA dan 62,73 Kg/Ha untuk NPK, sedangkan penggunaan pupuk
di Desa Wonosari sebesar 90,66 Kg/ha untuk urea, 83,00 kg/ha untuk ZA dan 90,66
Kg/Ha untuk NPK.
Obat-obatan yang digunakan di kedua desa untuk usahatani padi sawah
diantaranya adalah Spontan, Bestok dan Decis, Banyaknya obat-obatan yang
digunakan di keduan desa adalah sama yaitu sebesar 1,66 Btl/Ha untuk spontan, 1,66
btl/ha untuk bestok dan 1,00 Btl/Ha untuk decis.
Sarana produksi yang terakhir adalah tenaga kerja dan merupakan sarana
produksi yang terpenting. Tenaga kerja dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tenaga
kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Lahan petani ini terletak secara
berkumpul pada satu daerah sehingga kebanyakan petani yang rumahnya tidak dekat
dengan sawahnya. Petani kebanyakan menggunakan tenaga kerja luar, karena ada
petani yang juga memiliki lahan yang lain yang ditanami dengan sayuran dan ada
juga petani yang pekerjaan sampingannya sebagai peternak dan lain sebagainya
sehingga lahan terkadang dikerjakan oleh orang lain. Pada usahatani padi sawah ini
banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga, dan banyaknya penggunaan tenaga
kerja adalah pada saat pengolahan lahan dan pemanenan. Pada saat pengolahan lahan
ada beberapa tahap yang harus dilakukan sampai lahan siap tanam, sedangkan pada
saat pemanenan dibutuhkan tenaga kerja yang banyak supaya proses pemanenan
pemanenan yang terlambat akan mengakibatkan banyak gabah yang rontok karena
terlalu masak, dan dapat mengakibatkan kualitas gabah menurun.
Adapun banyaknya tenaga kerja yang digunakan di Desa Kolam adalah
sebanyak 31,822 HKO/Ha sedangkan di Desa Wonosari sebesar 29,083 HKO/Ha.
Setelah melihat perbandingan sarana produksi masing-masing desa, maka
total biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani Desa Kolam dan Desa
Wonosari dapat dilihat pada tabel 16 dibawah ini :
Tabel 16. Total Biaya Produkai Rata-rata Usahatani Padi Sawah di Desa Kolam dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam
(Rp) Desa Wonosari (Rp) Tenaga kerja 2.915.333 3.526.600 Input produksi 793.266,67 1.129.333 Penyusutan 82.540 89.393 Biaya lain-lain 105.000 120.000 Total biaya 3.906.440 4.730.326
Sumber : Data diolah dari lampiran 19 dan 20
Dari tabel diatas dapat dilihat biaya-biaya yang digunakan selama proses
usatahani padi sawah di Desa Kolam dan Desa Wonosari dan dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1. Tenaga kerja
Upah tenaga kerja untuk usahatani padi sawah di Desa Kolam dan Desa
Wonosari adalah sama untuk setiap kegiatan ataupun tahapan pekerjaan yaitu Rp.
40.000/HKO untuk wanita dan Rp. 50.000/HKO untuk pria. Besarnya biaya tenaga
Sedangkan biaya rata-rata tenaga kerja di Desa Wonosari adalah sebesar Rp.
3.526.600/Ha. Biaya tenaga kerja yang paling besar dikeluarkan petani dalam
usahatani padi sawah ini adalah pada saat pengolahan lahan dan pemanenan, hal ini
disebabkan pada saat pengolahan lahan pemilik lahan tidak membayar upah kepada
pekerja per orang akan tetapi menggunakan sistem borongan, yang dimaksud
borongan disini yaitu berapapun jumlah tenaga kerja dan lamanya pekerjaan itu
disiapkan tidak berpengaruh terhadap upah, karena upah dihitung dari berapa jumlah
luas lahan yang dimiliki petani dikalikan dengan upah/rantenya, dimana di Desa
Kolam dan Desa Wonosari membayar upah untuk pengolahan lahan sebesar Rp.
40.000/rante. Hampir rata-rata petani di kedua Desa menggunakan sistem borongan
untuk pengolahan lahan dan pemanenan, dikarenakan pada pengolahan lahan sistem
borongan lebih efektif, tidak memakan waktu yang lama dan petani terima bersih
lahan untuk siap tanam.
Untuk proses pemanenan di Desa Kolam dan Desa Wonosari juga sama dengan
pengolahan lahan yaitu upahnya menggunakan sistem borongan yaitu sebesar Rp.
80.000/rante. Karena pemanenan merupakan tahap akhir dari penanaman padi sawah
petani membutuhkan tenaga kerja yang banyak sehingga sistem borongan juga
merupakan cara yang baik untuk memanen agar panen yang dilakukan tidak
memakan waktu yang lama sehingga tidak mengurangi kualitas yang dihasilkan.
2. Input Produksi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, input produksi yang digunakan pada
biaya rata-rata input produksi di Desa Kolam adalah sebesar Rp.793.266,67/Ha,
sedangkan di Desa Wonosari adalah sebesar Rp. 1.129.333/Ha. Biaya input produksi
paling besar adalah pada bibit, harga bibit yang biasa digunakan petani di Desa kolam
dan Desa Wonosari pada umumnya sama yaitu sebesar Rp. 5.000/Kg dan banyaknya
bibit yang digunakan tergantung berapa luas lahan yang dimiliki petani, rata-rata
petani mengeluarkan biaya untuk bibit sebesar Rp. 250.000/Ha. Di Desa Kolam
banyak juga petani yang menggunakan bibit tidak sesuai ukuran untuk luas lahannya
sehingga produksi yang dihasilkan pun tidak maksimal dan itu mengakibatkan pada
pendapatan yang diperoleh petani. Harga pupuk rata-rata di kedua Desa berkisar
antara Rp. 2.000/Kg untuk pupuk urea, Rp. 2.000/Kg untuk pupuk ZA dan Rp.
3.000/Kg untuk pupuk NPK. Penggunaan pupuk juga harus sesuai dosis yang
ditentukan, sehingga produksi yang dihasilkan juga baik. Karena jika kelebihan dan
kekurangan dalam menggunakan pupuk juga tidak baik tanaman padi sawah.
Sedangkan untuk obat-obatan relatif mahal, sehingga ada petani yang
mengurangi dosis penggunaan obat-obatan tersebut sehingga petani mempunyai tugas
ekstra dalam menjaga lahan agar tidak terkena penyakit untuk mengurangi biaya yang
besar. Penggunaan obat-obatan ini hanya berkisar 1-2 botol saja tiap petani itu juga
tergantung luas lahan dan kebutuhan tanaman padi itu sendiri, karena ada juga yang
tanamannya tidak begitu terganggu oleh hama maka penggunaan obat-obatan pun
bisa lebih hemat. Harga obat-obatan di kedua Desa berkisar antar Rp. 35.000/botol
untuk Spontan, Rp. 41.000/botol untuk bestok, dan Rp. 45.000/botol untuk decis.
Diantara semua jenis obat-obatan yang digunakan petani untuk usahatani padi sawah
semua petani menggunakannya tetapi hanya 1 botol saja. Sarana produksi ini
biasanya dapat dibeli petani dari kios-kios yang ada di Desa yang kiosnya itu sendiri
milik salah satu petani juga dan ada juga yang mendapatkan subsisdi dari pemerintah
dengan harga yang lebih murah.
3. Penyusutan
Biaya penyusutan merupakan biaya pengeluaran yang dibebabkan kepada
alat-alat pertanian yang digunakan petani dalam suatu proses produksi. Nilai depresiasi
(penyusutan) tergantung nilai pembelian awal, umur ekonomis dan nilai sisa pada
saat alat tersebut sudah tidak ekonomis. Alat-alat yang digunakan pada usahatani padi
sawah diantaranya adalah cangkul, sabit dan sprayer. Biaya penyusutan rata-rata
peralatan usahatani padi sawah di Desa Kolam adalah sebesar Rp. 82.540/Ha,
sedangkan biaya penyusutan rata-rata di Desa Wonosari adalah sebesar Rp.
89.393/Ha. Harga untuk alat-alat pertanian ini tidak begitu beragam karena hampir
semua harga yang dibeli petani sama di kedua Desa, Cangkul harganya sebesar Rp.
50.000- Rp. 60.000, untuk sabit Rp. 25.000, dan untuk srayer Rp. 200.000- Rp.
250.000. Biaya yang paling besar untuk peralatan pertanian di kedua Desa adalah
harga beli alat semprot (sprayer) yaitu berkisar antara Rp. 200.000-250.000 Rata-rata
petani memiliki 1 sprayer, hal ini dikarenakan harganya yang mahal, sehingga masih
ada petani yang tidak memiliki alat ini.
4. Biaya Lain-lain
Biaya lain-lain merupakan biaya tambahan yang dibebankan dalam usahatani
padi sawah diluar biaya input produksi dan biaya penyusutan. Sehingga biaya ini
(biaya-biaya) selama kegiatan usahatani padi sawah berlangsung. Yang termasuk dalam
biaya lain-lain adalah biaya PBB dan iuran P3A, biaya PBB di Desa Kolam sebesar
Rp. 35.000/Ha, sedangkan di Desa Wonosari adalah sebesar Rp. 40.000/Ha. Biaya
lainnya adalah biaya iuran P3A yaitu sebesar Rp. 70.000/Ha di Desa Kolam,
sedangkan di Desa Wonosari adalah sebesar Rp. 80.000/Ha. Adapun rata-rata biaya
lain-lain per ha yang harus dikeluarkan petani di Desa Kolam adalah sebesar
Rp.105.000/Ha, sedangkan biaya lain-lain di Desa Wonosari adalah sebesar
Rp.120.000/Ha.
Untuk melihat apakah perbedaan tersebut nyata atau tidak nyata maka dilakukan
uji statistik. Hasil analisis uji beda rata-rata total biaya produksi usahatani padi sawah
dapat dilihat dibawah ini :
Tabel 17. Hasil Analisis Perbedaan Biaya Produksi Rata-Rata Usahatani Padi Sawah Di Desa Kolam Dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam Desa Wonosari t-hitung t-tabel
Biaya Produksi (Rp) 3.906.440 4.730.326 -1.566 1,761
Keterangan = t hitung (Desa Kolam dan Wonosari) < t-tabel, tolak H1 terima H0
Sumber : Data diolah dari lampiran 21, 22 dan 23
Berdasarkan hasil analisis uji beda rata-rata diperoleh t-hitung sebesar -1.566
yang lebih kecil dari t-tabel 1,761 (α = 5%). Sehingga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam penggunaan biaya produksi usahatani padi sawah di
Desa Kolam dan Desa Wonosari. Tabel 17 memperlihatkan bahwa rata-rata
penggunaan biaya produksi per hektar Desa Kolam lebih kecil dibandingkan Desa
perbedaan yang nyata dalam penggunaan biaya produksi di dua daerah penelitian
dikarenakan t-hitung < t-tabel. Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan ada
perbedaan biaya produksi usahatani padi sawah di dua daerah penelitian ditolak. Hal
ini dikarenakan adanya beberapa kesamaan dalam input produksi dan biaya-biaya
input produksi di dua daerah penelitian.
Analisis Perbedaan Pendapatan Bersih Usahatani Padi Sawah Di Dua Daerah Penelitian
Pendapatan bersih usahatani padi sawah adalah penerimaan dikurangi dengan
total biaya produksi. Penerimaan yang diterima oleh petani dalam penelitian ini
merupakan penerimaan yang berasal dari usahatani padi sawah, tidak termasuk
penerimaan yang berasal dari kegiatan usahatani lain dan kegiatan non usahatani padi
sawah. Pendapatan usahatani ini akan diketahui setelah penerimaan diketahui.
Penerimaan adalah produksi (Kg) dikalikan dengan harga (Rp).
Penerimaan dan pendapatan bersih rata-rata padi sawah per hektar di Desa
Kolam dan Desa Wonosari dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 18. Penerimaan dan Pendapatan Rata-Rata Usahatani Padi Sawah Di Desa Kolam Dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam Desa Wonosari Perbedaan
1. Produksi (Kg) 5.991,66 6.411,66 420
2. Harga (Rp) 3.140 3.346,66 206
3. Penerimaan (Rp) 18.525.000 21.386.800 2.861.800 4. Biaya Produksi (Rp) 3.906.440 4.730.326 823.886 5. Pendapatan (Rp) 14.618.560 16.638.506 2.019.946
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa penerimaan petani padi sawah di Desa
Kolam adalah sebesar Rp. 18.525.000/ha, sedangkan penerimaan di Desa Wonosari
sebesar Rp. 21.386.800/ha, maka terlihat ada perbedaan penerimaan petani di Desa
Kolam dan Desa Wonosari, perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan produksi per
hektar yang dihasilkan dan perbedaan harga jual di dua daerah penelitian. Pendapatan
rata-rata petani di Desa Kolam sebesar Rp. 14.618.560/ha, sedangkan pendapatan
rata-rata di Desa Wonosari sebesar Rp. 16.638.506/ha. Dapat dilihat bahwa
pendapatan rata-rata di Desa Wonosari lebih besar daripada Desa Kolam hal ini
disebabkan karena produksi yang dihasilkan Desa Wonosari lebih besar
dibandingakan Desa Kolam dan harga jual di desa Wonosari lebih tinggi
dibandingkan dengan Desa Kolam sehingga itu berpengaruh terhadap pendapatan
petani di kedua desa.
Untuk melihat apakah perbedaan tersebut nyata atau tidak nyata maka
dilakukan uji statistik. Hasil analisis uji beda rata-rata pendapatan bersih usahatani
padi sawah dapat dilihat dibawah ini :
Tabel 19. Hasil Analisis Perbedaan Pendapatansi Rata-Rata Usahatani Padi Sawah Di Desa Kolam Dan Desa Wonosari
Uraian Desa Kolam Desa Wonosari t-hitung t-tabel
Pendapatan (Rp)
14.618.560 16.638.506 -1.057 1,761
Keterangan = t hitung (desa kolam dan desa wonosari) < t-tabel, tolak H1 terima H0
Sumber : Data diolah dari lampiran 21, 22 dan 24
Berdasarkan hasil analisis uji beda rata-rata diperoleh t-hitung sebesar -1.057
perbedaan yang nyata antara pendapatan bersih usahatani padi sawah di Desa Kolam
dan Desa Wonosari. Tabel 19 memperlihatkan bahwa rata-rata pendapatan bersih per
hektar Desa Kolam lebih kecil dibandingkan Desa Wonosari. Tetapi dari hasil
pengujian beda rata-rata memperlihatkan tidak ada perbedaan yang nyata dalam
pendapatan bersih di dua daerah penelitian dikarenakan t-hitung < t-tabel. Dengan
demikian hipotesis 3 yang menyatakan ada perbedaan pendapatan bersih usahatani
padi sawah di dua daerah penelitian ditolak. Hal ini dikarenakan pendapatan bersih di
dua daerah penelitian tidak jauh berbeda. Perbedaan pendapatan di kedua daerah
penelitian ini dapat membuktikan bahwa kesejahteraan petanipun berbeda di kedua
Desa. Dari penelitian yang sudah peneliti jalani bahwa Desa Wonosari terlihat lebih
maju dibandingkan Desa Kolam. Hal ini juga dapat dilihat dari berbedanya