• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tentang Pelayanan dan Pengelolaan Administrasi

Perkara di Pengadilan Agama Sungguminasa.

Ketua Mahkamah Agung (MA) dalam beberapa pertemuan seringkali memberikan arahan maupun instruksi-instruksi menyangkut banyak hal terutama menyangkut hal kinerja badan peradilan yang telah satu atap, yang tentu seiring perkembangan denga dunia secara global. Sementara itu, Program prioritas yang dicanangkan oleh Ditjen Badilag terdiri dari: (1) penyelesaian perkara; (2)manajemen kepegawaian; (3) pengelolaan website; (4) meja informasi; (5) pelayanan publik; (6) Implementasi SIADPA; (7) Justice for the poor yang meliputi fasilitas prodeo, sidang keliling, dan pos bantuan hukum; dan (8) pengawasan.49

Sementara itu di dalam pengelolaan administrasi perkara adalah sebuah peroses dimana para pihak yang akan berperkara diruang lingkup pengadilan agama dapat diberikan pelayanan yang layak serta jelas disetiap prosedurnya, sesuai amanat

49

Tim PA. Sungguminasa, Laporan tahunan 2013 PA. Sungguminasa, (Sungguminasa: PA. Sungguminasa, 2013), h. 1.

Undang-Undang Peradilan Agama, dengan tujuan mencari kepuasan pada setiap putusan perkara yang telah diajukan kepada pengadilan agama setempat, Administrasi Peradilan Agama adalah : “Suatu proses penyelenggaraan oleh aparatur Pengadilan Agama secara teratur dan diatur guna melakukan perencanaan, pelaksanaan dan Pengawasan untuk mencapai tujuan pokok yang telah ditetapkan semula” Proses meliputi (6) enam hal : Menghimpun, Mencatat, Mengolah, Menggandakan, Mengirim, dan Menyimpan.

Setelah mengartikan administrasi perkara maka tujuan administrasi perkara yakni bisa memberikan fasilitas yang memadai kepada setiap pihak yang akan berperkara di Pengdilan Agama Sungguminasa, terkait hal tersebut maka sebagai gambaran umum terkait pengadilan agama sungguminasa yakni:

a. Prosedur Pelayanan Administrasi Perkara Pengadilan Agama Sungguminasa. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas bahwa tertib administrasi perkara adalah bagiaan dari Court Of Law yang mutlak harus dilaksanakan oleh semua aparat peradilan agama dalam rangka mewujudkan Peradi1an yang mandiri sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini dapat terlaksana apabila aparat peradilan agama memahami pengertian administrasi secara luas.

Dalam kepustakaan banyak dikenal pengertian administrasi yang banyak ditulis oleh para pakar, tetapi yang dimaksud administrasi dalam tulisan ini adalah suatu proses penyelenggaraan oleh seorang administratur secara teratur dan diatur guna melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan untuk mencapai tujuan pokok yang telah ditetapkan semula. Yang dimaksud dengan proses adalah kegiatan

yang 14 Pola Bindalmin dilaksanakan secara beruntun dan susul menyusul, artinya selesai yang satu harus diikuti dengan pekerjaan yang lain sampai titik akhir.50

Proses itu sendiri meliputi enam hal yaitu : menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim dan penyimpan. Sedangkan yang di maksud dengan diatur adalah seluruh kegiatan itu harus disusun dan disesuaikan satu sarna lainnya supaya terdapat keharmonisan dan kesinambungan tugas. Adapun yang di maksud dengan teratur adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang di laksanakan secara terus menerus dan terarah sehingga tidak terjadi tumpang tindih (overlap) dalam melaksanakan tugas, sehingga akan mencapai penyelesaian tugas pokok secara maksimal.51

Kemampuan aparat peradilan dalam mehami pengertian administrasi secara luas akan memudahkan terselenggaranya tata tertib administrasi perkara yang pada akhirnya akan mewujudkan Peradilan yang mandiri

Sesuai dengan ketentuan pasal 2 Undang-undang No. 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok Pengadilan yaitu menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya. Yang melaksanakan tugas-tugas administrasi dalam rangka mencapai tugas-tugas pokok tersebut adalah Panitera. Ketentuan ini di sebutkand alam pasal 27 Undang-undang No.2 tahun 1986 tentang

50

Abdul Manan, dan Ahmad Kamil, Penerapan dan Pelaksanaan Pola Pembinaan dan Pengendalian Administrasi Kepaniteraan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi , h. 14.

51

Abdul Manan, dan Ahmad Kamil, Penerapan dan Pelaksanaan Pola Pembinaan dan Pengendalian Administrasi Kepaniteraan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi , h. 13.

Peradilan Umum dan pasal 26 Undang-undang No.7 tahun 1989 tentang Pengadilan Agama.

Beberapa pendapat pelaksana tugas di Pengadilan Agama Sungguminasa Terkait Administrasi Perkara Peradilan Agama:

Dr. Muktaruddin Bahrum, S.Hi., M.Hi.

Admiistrasi Perkara Peradilan Agama yakni merupakan pencatatan yang tertulis mulai masuknya perkara hingga perkara tersebut terlaksana dan sampai perkara tersebut putus serta berkekuatan hukum.52

Tadjudin Maslan SH.

Administrasi Perkara Peradilan Agama adalah sebuah proses hukum yang berlangsung dimulai dari meja informasi kemudian diarahkan ke (meja I) untuk mendaftarkan perkaranya baik perkaranya tersebut berupa perkara Permohonan maupun Gugatan, Kemudian dilanjutkan ke (meja II) untuk diregister, sampai putusan perkara di (meja III).53

Prosedur pelayanan administrasi perkara di Pengadilan Agama Sungguminasa yakni sebuah prosedur yang telah mengikuti pola administrasi perkara yang telah di amanatkan oleh undang-undang sebagai dasar proses administrasi perkara, seperti meliputi pelayanan perkara melalui penerimaan perkara yang diawali dari meja satu (I) terus berlanjut ke meja dua (II) sampai tahap putusan Perkara di meja (III). Terkait prosedur pelayanan pada Pengadilan Agama Sungguminasa adalah sebagai berikut:

52

Muctaruhdin Bahrum, Hakim Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 07 Januari 2015.

53

Tadjudin Maslan, Wakil Panitera Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 05 Januari 2015.

Meja I54

1. Petugas Meja I menerima Gugatan atau permohonan

a. Dokumen yang diperlukan kepada petugas petugas Meja I adalah:

1) Surat gugatan atau surat permohonan yang ditujukan kepada ketua pengadilan agama yang berwenang.

2) Surat kuasa khusus (dalam hal penggugat atau pemohon menguasakan kepada pihak lain).

3) Fotokopi kartu anggota advokat yang berlaku bagi yang menggunakan jasa advokat.

4) Bagi kuasa insidentil harus ada surat keterangan tentang hubungan keluarga dari kepala desa / lurah / atau surat izin khusus dari atasan bagi PNS dan aggota TNI Polri (Surat Edaran Tuada Ulditum MARI Nomor MA/Kumdil/88 10/1987.

5) Salinan putusan (untuk permohonan eksekusi).

6) Salinan surat-surat yang dibuat di luar negeri harus disahkan oleh Kedutaan atau Perwakilan Indonesia di negara tersebut dan harus dan harus di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh pnerjemah yang disumpah bila negara tersebut tidak ada kedutaan/perwakila RI, yang ada hanya Kamar Dagang. dapat disahkan oleh Kamar Dagang.

54

PTA Makassar, Pedoman Kerja Hakim Panitera dan Jurusita Sewilayah Pengadilan Tiggi Agama Makassar (Edisi Revisi; Makassar: PTA Makassar, 2011), h. 16.

b. Petugas meja I menaksir panjar biaya perkara dengan acuan Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama tentang Panjar Biaya.

c. Dalam penaksiran panjar biaya perlu di pertimbangkan hal-hal sebagai berikut. 1) Jumlah pihak-pihak yang berperkara.

2) Jarak tempat tinggal dan kodisi daerah tempat tinggal pihak berperkara. 3) Dalam perkara cerai talak harus di perhitungkan jumlah biaya pemanggilan

para pihak untuk sidang ikrar.

4) Biaya pemanggilan para pihak untuk menghadiri peroses mediasi terlebih dahulu dibebankan kepada pihak penggugat melalui uang panjar biaya perkara.

5) Termasuk komponen biaya yang ditaksir adalah PNBP untuk biaya pendaftaran dan hak redaksi, sedangkan biaya PNBP diluar biaya pendaftaran dan hak redaksi karena bersifat insidentil ditaksir tersendiri.

d. Setelah mentaksir biaya perkara petugas meja I membuata Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM).

e. Petugas meja I mengembalikan berkas kepada penggugat/pemohon untuk diteruskan kepada pemegang kas.

2. Pemegang Kas

a. Penggugat atau pemohon membayar panjar uang biaya perkara yang tercantum dalam SKUM ke Bank

b. Pemegag kas menerima bukti setor ke Bank dan penggugat/pemohon dan membukukannya dalm buku jurnal keuangan perkara dan buku induk keuangan perkara.

c. Pemegangkas membubuhkan cap tanda lunas dan memberi nomor pada SKUM. d. Nomor urut perkara adalah nomor urut pada Buku Jurnal Keuangan Perkara. e. Pemegang kas menyerahkan berkas perkara kepada penggugat/pemohon agar di

daftarkan kepada petugas Meja II.

f. Untuk gugatan/permohoan yang di dalamnya di mohonkan berperkara secara prodeo (cuma-cuma), maka pada SKUM yang ditulis adalah Rp.00.00 (nol rupiah).

Meja II55

1. Petugas Meja II menerima surat gugatan/permohonan dari calon penggugat/pemohon dalam rangkap sebanyak jumlah tergugat/termohon ditambah 4 (empat) rangkap untuk keperluan majelis hakim dan mediator. 2. Menerima tindasan pertama SKUM dan Surat Tanda Setor (STS) dari calon

penggugat/pemohon.

3. Mendaftar surat gugatan/permohonan dalam daftar perkara (register) yang bersangkutan serta memberi nomor register pada surat gugatan/permohonan. 4. Menyerahkan kembali satu rangkap surat gugatan/permohonan yang telah

diberi nomor register kepada penggugat/pemohon.

55

PTA Makassar, Pedoman Kerja Hakim Panitera dan Jurusita Sewilayah Pengadilan Tiggi Agama Makassar, h. 17.

5. Memasukkan asli surat gugatan/permohonan dalam sebuah map khusus dengan melampirkan tindasan pertama SKUM dan STS serta surat-surat yang berhubungan dengan gugatan/permohonan di sampaikan kepada wakil panitera untuk selanjutnya di sampaikan kepada Ketua Pengadilan Agama melalui panitera untuk di buatkan Penetapan Majelais Hakim (PMH).

Meja III56

1. Menerima berkas perkara yang telah diminut dari majelis hakim dan mengarsipkannya.

2. Menyerahkan salinan putusan/penetapan pengadilan agama kepada pihak berperkara dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak putusan di ucapkan (pasal 6 A ayat (2) UU No. 5 tahun 2009 perubahan kedua atas UU no. 7 Tahun 1989). Dan megirimkan salinan putusan kepada PPN KUA Kecamatan tempat pernikahan serta tempat tinggal pihak berperkara., setelah putusan berkekuatan hukum tetap (BHT). (Pasal 84 ayat (1, 2, dan 3) UU No 50 Tahun 2009 perubahan kedua atas UU no. 7 Tahun 1989).

b. Prosedur Pengelolaan Administrasi Perkara Pengadilan Agama Sungguminasa Sesuai dengan pernyataan yang telah di kemukakan oleh pak Tadjudin Maslan SH. Wakil Ketua Panitera Pengadilan Agama Sungguminasa, bahwa Administrasi Perkara Peradilan Agama adalah sebuah proses hukum yang berlangsung dimulai dari

56

PTA Makassar, Pedoman Kerja Hakim Panitera dan Jurusita Sewilayah Pengadilan Tiggi Agama Makassar, h. 18.

meja informasi kemudian diarahkan ke (meja I) untuk mendaftarkan perkaranya baik perkaranya tersebut berupa perkara Permohonan maupun Gugatan, Kemudian di lanjutkan ke (meja II) untuk diregister, sampai putusan perkara di (meja III).57 Kemudian beberapa pemaparan terkait dengan proses pengelolaan administrasi perkara di Pengadilan Agama Sungguminasa beliau menyatakan bahwa:

Semua proses pelaksaan yang terdapat pada meja I meja II dan sampai meja III, adalah sama secara menyeluruh pada lembaga peradilan agama yang terdapat di Indonesia, namun penerapannya saja yang berbeda-beda disetiap daerah.58

Terkait pengelolaan administrasi perkara di PA. Sungguminasa Panitera/Sekertaris PA. Sungguminasa berkata demikian:

Hasbi SH.

Pengeolaan Administrasi yang kami terapkan di Pengadilan Agama Sungguminasa merupakan pengelolaan yang memang telah ditetapkan oleh PTA Makassar sesuai dengan pola pelaksanaan admnistrai perkara pada Pedoman Kerja Hakim Panitera dan Jurusita Sewilayah Pengadilan Tiggi Agama Makassar (Edisi Revisi; Makassar: PTA Makassar, 2011).59

Mengenai dasar pelaksanaan tugas pengelolaan Administrasi perkara di pengadilan Agama Sungguminasa, bahwasanya administrasi perkara Pengadilan agama tersebut telah mengikuti proses yang telah di amanatkan oleh undang-undang Peradilan Agama, serta Pedoman Kerja Hakim Panitera dan Jurusita Sewilayah Pengadilan Tiggi Agama Makassar (Edisi Revisi; Makassar: PTA Makassar, 2011). yang

57

Tadjudin Maslan, Wakil Panitera Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 05 Januari 2015.

58

Tadjudin Maslan, Wakil Panitera Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 05 Januari 2015.

59

Hasbi, Panitera/Sekertaris Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 13 Januari 2015.

dimana prosedur penerimaan perkara yang terdapat pada pengadilan Agama Sungguminasa yakni melalui tahapan meja administrasi kemudian di lanjutkan ke meja I, Meja II sampai tahap Putusan yang terdapat pada meja III.

Selain itu, Pengadian Agama Sungguminasa ini pada umumnya para pihak pencari keadilan diberikan bantuan dalam menyusun gugatan dikarenakan masyarakat dalam wilayah hukumnya, relative banyak yang tidak paham mengenai cara membuat surat gugatan.60

Prosedur pendaftaran Perkara pada Pengadilan Agama Sungguminasa:61

1) Pihak berperkara datang ke Pengadilan Agama dengan membawa surat gugatan atau permohonan.

2) Pihak berperkara menghadap petugas meja pertama dan menyerahkan surat gugatan atau permohonan, minimal 2 (dua) rangkap. Untuk surat gugatan ditambah sejumlah tergugat.

3) petugas meja pertama (dapat) memberikan penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan dan menaksir panjar biaya perkara yang kemudian ditulis dalam Surat Kuasa untuk membayar (SKUM). Besarnya panjar biaya perkara diperkirakan harus telah mencukupi untuk menyelesaikan perkara tersebut didasarkan pada pasal 182 ayat (1) HIR atau

60

Lihat Skripsi Muh. Taufik Al Hidayah, Peranan Sistem Informasi Administras Perkara Pengadilan Agama (SIADPA) Dalam Peningkatan Kemampuan Hakim Membuat Putusan (studi Kasus di Pengadilan Agama Sungguminasa) (Makassar: Fak, Syariah dan Hukum UIN Alauddin, 2014), h. 57.

61

PA. Sungguminasa, Prosedur Pendaftaran Perkara, (30 April 2014) http://www.pa-sungguminasa.go.id/index.php/profil-pengadilan/9-berita, (06 Januari 2015).

pasal 90 Undangn undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2006 Tentang perubahan atas undang –undang nomor : 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

catatan :

a) Bagi yang tidak mampu dapat diijinkan berperkara secara prodeo (Cuma Cuma). Ketidak mampuan tersebut dibuktikan dengan melampirkan surat keterangan dari Lurah atau Kepala Desa setempat yang dilegalisir oleh camat.

b) Bagi yang tidak mampu maka panjar biaya perkara ditaksir Rp.00.00 dan ditulis dalam surat kuasa untuk membayar (SKUM). Didasarkan pasal 237-245 HIR. c) Dalam tingkat pertama, para pihak yang tidak mampu atau berperkara secara

prodeo. Perkara secara prodeo ini di tulis dalam surat gugatan atau permohonan disebutkan alasan penggugat atau pemohon untuk berperkara secara prodeo dan dalam petitumnya.

4) Petugas Meja Pertama menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada pihak berperkara disertai dengan Surat Kuasa Untuk membayar (SKUM) dalam rangkap 3 (tiga).

5) Pihak berperkara menyerahkan kepada pemegang kas (KASIR) surat gugatan atau permohonan tersebut dan surat kuasa untuk membayar (SKUM).

6) Pemegang kas menandatangani Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) membubuhkan nomor urut perkara dan tanggal penerimaan perkara dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dan dalam surat gugatan atau permohonan.

7) Pemegang kas meyerahkan asli Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) kepada pihak berperkara sebagai dasar penyetoran panjar biaya perkara ke bank..

8) Pihak berperkara datang ke loket layanan bank dan mengisi slip penyetoran panjar biaya perkara. Pengisian data dalam slip bank tersebut sesuai dengan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM). Seperti nomor urut dan besarnya biaya penyetoran. Kemudian pihak berperkara menyerahkan slip bank yang telah diisi dan menyetorkan uang sebesar yang tertera dalam slip bank tersebut.

9) Setelah pihak berperkara menerima slip bank yang telah divalidasi dari petugas layanan bank. Pihak berperkara menunjukkan slip bank tersebut dan menyerahkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) kepada pemegang kas. 10)Pemegang kas setelah meneliti slip bank kemudian menyerahkan kembali

kepada pihak berperkara. Pemegang kas kemudian memberi tanda lunas dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dan menyerahkan kembali kepada fihak berperkara asli dan tindasan pertama Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) serta surat gugatan atau permohonan yang bersangkutan.

11)Pihak Berperkara menyerahkan kepada meja kedua surat gugatan atau permohonan sebanyak jumlah tergugat ditambah 2 (dua) rangkap serta tindasan pertama Surat Kuasa Untuk membayar (SKUM)

12)Petugas Meja Kedua mendaftar/mencatat surat gugatan atau permohonan dalam register bersangkutan serta memberi nomor register pada surat gugatan atau permohonan tersebut yang diambil dari nomor pendaftaran yang diberikan oleh pemegang kas.

13)Petugas Meja Kedua menyerahkan Kembali 1(Datu) rangkap surat gugatan atau permohonan yang telah diberi nomor register kepada pihak berperkara. 14)Pendaftaran selesai, pihak-pihak berperkara akan dipanggil oleh

jurusita/jurusita pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah ditetapkan Susunan Majelis Hakim (PMH) dan hari sidang pemeriksaan perkaranya (PHS).

Setelah melihat dari pernyataan pak Tadjudin diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan Administrasi Perkara yang terdapat pada Pegadilan Agama Sungguminasa telah mengikuti aturan Undang-Undang Peradilan Agama. begitu pula pada aturan yang berlaku pada proses pendaftaran perkaranya.

2. Keluhan-keluhan Para Pihak Terhadap Pelayanan dan Pengelolaan

Administrasi Perkara di Agama Sungguminasa

Kemampuan aparat peradilan dalam mehami pengertian administrasi secara luas akan memudahkan terselenggaranya tata tertib administrasi perkara yang pada akhirnya akan mewujudkan peradilan yang mandiri.62 Sesuai dengan ketentuan pasal 2 Undang-undang No. 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengadilan

62

R. Jaya Rahmat, Adminisasi Peradilan, Dalam Sosialisasi Administrasi Peradilan (areabeku.blogspot.com 2009), http://areabeku.blogspot.com/2009/08/administrasi-peradilan.html (06 Januari 2015).

yaitu menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya. Yang melaksanakan tugas-tugas administrasi dalam rangka mencapai tugas-tugas pokok tersebut adalah panitera. Ketentuan ini disebutkand alam pasal 27 undang No.2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum dan pasal 26 Undang-undang No.7 tahun tentang Pengadilan Agama.

Pelaksanaan adiministrai perkara di pengadilan Agama Sungguminasa yakni merupakan sebuah proses yang dimana telah diatur dalam ketentuan administrasi perkara yang tertuang didalam undang-undang Peradilan Agama, yang dimana tugas pokok tersebut dilaksanakan oleh Panitera. (Pasal 26 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo UU Nomor 3 Tahun 2006 jo. UU Nomor 50 Tahun 2009). Namun terkait hal tersebut disini peneliti hanya berfokus pada penelitian yang terkait pelaksanaan pada meja I sampai meja III yang dimana pelaksanaanya sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, namun terkait pelayanan yang terdapat bisa saja tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang dimana pelayanan administrasi perkara harus aman nyaman serta tertib.

Proses pelaksanaan administrasi perkara pada pengadilan agama sungguminasa yakni menerima perkara pada meja I yang dimana sebagai pintu awal dari pelaksanaan administrasi perkara yang terdapat pada Pengadilan Agama Sungguminasa, didalam administrasi perkara pada (meja I) ini terdapat beberapa proses diantaranya berupa penerimaan perkara baik itu perkara Permohonan maupun perkara Gugatan. Nah setelah perkara tersebut tercatat maka petugas pada Pengadilan Agama Sungguminasa akan memberikan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) berupa bukti untuk pembayaran perkara, kemudian pembayaran perkara akan dibayar lansung ke bank Muamalat dengan tujuan untuk register perkara, setelah perkaranya dibayar maka perkaranya sudah dapat diregister. Proses register perkara pada pengadilan agama sungguminasa terdapat di meja II, terkait meja II bukan halnya meregister perkara saja namun di meja II ini pula akan banyak hal yang akan ditetapkan pada proses kelanjutan

perkara bagi para pihak-pihak berperkara, seperti mencatat segala keadaan perkara, penetapan majelis hakim oleh ketua pengadilan, panitera menunjuk panitera pengganti untuk mendampingi Majelis Hakim, panitera memanggil Juru Sita/Juru Sita Pengganti, jurusita memanggil pihak-pihak berperkara, panitera mencatat segala jalannya persidangan dari sidang pertama sampai akhir. Meja III melaksanakan administrasi yang sudah tidak berjalan namun sudah putus dan berkekutan hukum, berupa putusan perkara yang di arsipkan.63

Dari uraian diatas maka disinilah kita dapat melihat beberapa keluhan serta tanggapan para pihak tehadap pelayanan dan pelaksanaan administrasi perkara di Pegadilan Agama Sungguminasa:

Meja I

1. H. Abdullah Dg. Lawa: Seharusnya pelayanan pada meja I diberlakukan nomor antrian agar pihak-pihak yang berperkara tidak berdesakan untuk mendaftarkan perkaranya, supaya pelaksanaan administrasi perkara pada tahap awal terutama pada meja I bisa berjalan dengan baik.64

2. Sitti Sainab: Kalau bisa pelayanan di Pengadilan Agama ini lebih ditingkatkan lagi, agar para pihak yang berperkara tidak merasa bosan dikarenakan lamanya menunggu.65

3. Nur Aisyah: Kalau saya liat pelayanan di pengadilan ini mesti ada pelayanan yang memang bisa memfasilitasi bagi pihak-pihak berperkara, karena saya liat dari tadi saya disini, para pihak berperkara kebanyakan berdesakan untuk mendaftarkan perkaranya.66

Masalah keluhan pada pembayaran administrasi perkara di Pengadilan Agama Sungguminasa, disini peneliti tidak menemukan hal tersebut. Seperti apa yang telah

63

Tadjudin Maslan, Wakil Panitera Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 05 Januari 2015.

64

Abdullah Dg Lawa, Pihak Berperkara di Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 12 Januari 2015.

65

Siti Sainab, Pihak Berperkara di Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 08 Januari 2015.

66

Nur Aisyah, Pihak Berperkara di Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 12 Januari 2015.

di ugkapkan oleh salah satu petugas sekaligus panitera penggati di Pengadilan Agama Sungguminasa:

Mukarramah SH.

Kalau terkait keluhan para pihak tentang pembayaran administrasi disini kami belum pernah menemukan hal tersebut karena pada saat pendaftaran perkara hal yang berupa pembayan terutama masalah keuangan untuk pembayaran perkara memang sudah dijelaskan lebih dahulu, begitu pula terkait besaran biaya untuk pembayaran perkara, tergantung dari berapa jauh jarak tempuh tempat pemohon/pengugat bertempat tinggal.67

Melihat beberapa pernyataan diatas terkait dengan fasilitas yang ada pada Pengadilan Agama Sungguminasa, sebenarnya hal tersebut memang sudah pernah menuai keritikan sesuai apa yang diungkapkan oleh Pak Muctaruddin salah satu Hakim dari Pengadilan Sungguminasa:

Iya seharusya di Pengadilan Agama Sungguminasa ini mestinya memang harus memiliki nomor antrian, agar di Pengadilan Agama Sungguminasa ini khususnya, bisa melayani para pihak yang berperkara dengan baik. Namun melihat hal tersebut di Pengadilan Agama Sunggumnasa tidak serta merta bisa memberikan hal tersebut. Karena itu semua mesti ada juga aggarannya, terutama pembelian mesin untuk nomor antrian, ya meskipun demikin kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik.68

Begitu pula pernyataan yang diungkapkan oleh salah satu pegawai honorer Pengadilan Agama Sungguminasa:

Bakhtiar.

Terkait kendala serta keluhan yang memang banyak menuai keritikan yakni memang semestinya harus diadakannya nomor antrian pada pengadilan ini,

67

Mukarramah, Panitera Pengganti Pengadilan Agama sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 12 Januari 2015.

68

Muctaruhdin Bahrum, Hakim Pengadilan Agama Sungguminasa, Wawancara, Sungguminasa, 07 Januari 2015.

tetapi meskipun demikian kami selaku petugas Pengadilan Agama Sungguminasa tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik agar para pihak yang berperkara bisa merasa nyaman dalam pelayanan perkaranya.69

Namun dari berbagai keritikan diatas salah satu pihak yang sekaligus sebagai kuasa hukum pihak yg berperkara di pengadilan Agama Sungguminasa juga menyatakan:

Zamhari Shar SH.

menurut saya jika melihat pelayanan pada pengadilan Agama Sungguminasa ini sebenarnya sudah baik, bagi mereka yang merasa kurang nyaman saya rasa

Dokumen terkait