HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Proses pengambilan data untuk penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 6 Oktober 2010 di Pusat Pelayanan Khusus ( Pusyansus ) di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan dengan total sampel sebanyak 233 orang untuk mengetahui Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis di RSUP Haji Adam Malik, Medan tahun 2008 – 2010.
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan ini beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17, Medan, terletak di kelurahan Kemenangan, kecamatan Medan Tuntungan. RSUP H. Adam Malik, Medan merupakan Rumah Sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VIII/1990. Di samping itu, RSUP H. Adam Malik adalah Rumah Sakit Rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Propinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau.
RSUP H. Adam Malik, Medan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan lembaga lainnya dalam menyelanggarakan pendidikan klinik calon dokter dan pendidikan dokter keahlian, calon dokter spesialis serta tenaga kesehatan lainnya.
5.1.2 Deskripsi Karekteristik Responden
Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kesemua pasien HIV dengan Tuberkulosis yang mendapat rawatan di RSUP Haji Adam Malik, Medan dari tahun 2008 – 2010.
5.1.3 Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis
Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis berdasarkan umur, jenis kelamin, tempat tinggal, tahap pendidikan, pekerjaan, faktor risiko dan infeksi opurtunistik lain dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah.
Tabel 5.1 Distribusi penderita berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Persentase ( % )
10-20 tahun 4 1,7 21-50 tahun 225 96,6 51-65 tahun 2 0,9
> 65 tahun 2 0,9
Jumlah 233 100
Dari tabel 5.1 dapat dilihat, kelompok penderita dari golongan umur 21-50 tahun adalah yang tertinggi yaitu sejumlah 225 orang ( 96,6% ) dan yang terendah ialah kelompok penderita dari golongan umur 51-65 tahun dan lebih daripada 65 tahun sejumlah 2 orang ( 0,9% ).
Tabel 5.2 Distribusi penderita berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase ( % )
Laki - Laki 202 86,7 Perempuan 31 13,4
Jumlah 233 100
Dari tabel 5.2 dapat dilihat, penderita laki - laki ialah yang tertinggi sejumlah 202 orang ( 86,7% ).
Tabel 5.3 Distribusi penderita berdasarkan Tempat Tinggal
Kota/Kabupaten Frekuensi Persentase ( % )
Medan 127 54,5 Deli Serdang 18 7,7 Siantar 15 6,4 Karo 14 6,0 Dairi 6 2,6 Aceh 5 2,1 Simalungun 5 2,1 Binjai 5 2,1 Riau 3 1,3 Taput 3 1,3 Tobasa 3 1,3 Langkat 3 1,3 Asahan 3 1,3 Nias 3 1,3 Jakarta 3 1,3 Tidak Diketahui 21 9,0 Jumlah 233 100
Dari tabel 5.3 dapat dilihat, sebaran penderita paling tinggi di Medan yaitu sejumlah 127 orang ( 54,5% ) manakalan Riau, Taput, Tobasa, Langkat, Asahan, Nias dan Jakarta mencatatkan angka terendah sejumlah 3 orang ( 1,3% ).
Tabel 5.4 Distribusi penderita berdasarkan Tahap Pendidikan
Tahap Pendidikan Frekuensi Persentase ( % )
SMU 166 71,2 SMP 36 15,5 SD 9 3,9 Universitas 8 3,4 Akademi 2 0,9 Tidak Diketahui 12 5,2 Jumlah 233 100
Dari tabel 5.4 dapat dilihat, sebaran penderita tertinggi di SMU yaitu sejumlah 166 orang ( 71,2% ) dan terendah di Akademi sejumlah 2 orang ( 0,9% ).
Tabel 5.5 Distribusi penderita berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Persentase ( % )
Bekerja 144 61,8 Tidak Bekerja 81 34,8 Tidak Diketahui 8 3,4
Jumlah 233 100
Dari tabel 5.5 dapat dilihat, sebaran penderita adalah tertinggi untuk bekerja yaitu sejumlah 144 orang ( 61,8% ).
Tabel 5.6 Distribusi penderita Faktor Risiko
Faktor Risiko Frekuensi Persentase ( % )
Heteroseksual 134 57,5 Injecting Drug Users ( IDU ) 71 30,5 Transfusi Darah 9 3,9 Homoseksual 2 0,9 Perinatal 0 0 Tidak Diketahui 17 7,3
Jumlah 233 100
Dari tabel 5.6 dapat dilihat, sebaran penderita adalah tertinggi untuk heteroseksual yaitu sejumlah 134 orang ( 57,5% ) dan terendah untuk homoseksual yaitu sejumlah 2 orang ( 0,9% ).
Tabel 5.7 Distribusi penderita berdasarkan Infeksi Opurtunistik Lain Infeksi Opurtunistik Lain Frekuensi Persentase (%) Keterangan Ada 135 57,9 PCP,Kandidiasis,Diare,Herpes Zoster,CMV,Toxoplasmosis Tidak ada 98 42,1 Jumlah 233 100
Dari tabel 5.7 dapat dilihat, sebaran penderita yang ada infeksi opurtunistik lain adalah tertinggi yaitu sejumlah 135 orang ( 57,9% ).
5.2 Pembahasan
5.2.1 Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis berdasarkan umur, jenis kelamin dan tempat tinggal.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.1, kelompok penderita dari golongan umur 21-50 tahun adalah yang tertinggi yaitu sejumlah 225 orang dan yang terendah ialah dari golongan umur 51-65 tahun ( 2 orang ) dan lebih daripada 65 tahun ( 2 orang ). Kenyataan ini menyokong Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan s/d Juni 2010 oleh Directorate General
CDC & EH, Ministry of Health, Republic of Indonesia. Menurut statistik
penelitian tersebut, golongan umur yang mempunyai insidensi tertinggi ialah dari golongan umur 20-49 tahun dan paling rendah ialah lebih daripada 60 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2, laki-laki mencatat angka lebih tinggi yaitu 202 orang manakala perempuan ialah 31 orang. Beberapa penelitian menunjukkan keputusan yang hampir sama dengan angka laki-laki yang lebih tinggi. Contohnya Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan s/d Juni 2010 oleh Directorate General CDC & EH, Ministry of Health, Republic of
Indonesia. Statistik penelitian tersebut menyatakan bahwa persentase laki-laki
ialah 74,3 % manakala perempuan hanya 25.7%.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.3, Medan mencatat angka kasus tertinggi yaitu 127 orang manakala yang terendah pula ialah Riau, Taput, Tobasa, Langkat, Asahan, Nias dan Jakarta yaitu sejumlah 1 orang di setiap kota/kabupaten. Menurut Candra Syafei, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan mendominasi penderita HIV/AIDS disusuli Deli Serdang, Siantar, Simalungun dan Langkat (WaspadaOnline, 2010). Menurut Sukarni, Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Sumatra Utara, Deli Serdang menduduki rangking kedua teratas setelah Kota
Medan (matanews.com, 2009). Kenyataan-kenyataan ini menyokong hasil penelitian yang didapatkan.
5.2.2 Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis berdasarkan tahap pendidikan dan pekerjaan.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4, sebaran penderita tertinggi bertahap pendidikan SMU yaitu sejumlah 166 orang ( 71,2% ). Menurut Harjoni Desky dalam suatu artikel tentang Peran Strategis Pemuda dalam Mencegah HIV/AIDS, para siswa yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta-Utara (Jakut) sebanyak 248 orang dari 26 SMU, Jakarta-Pusat atau Jakpus (109) di 12 SMU, Jakarta-Barat atau Jakbar (167) di 32 SMU, Jakarta-Timur atau Jaktim (305) di 43 SMU dan Jakarta-Selatan atau Jaksel (186) di 40 SMU (Kompas, 2001). Juga dijelaskan bahwa remaja kini memiliki sikap rasa ingin tahu yang begitu tinggi sehingga mereka tidak segan-segan untuk melakukan hal negatif tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.5, penderita yang bekerja mencatat angka yang lebih tinggi yaitu 144 orang daripada yang tidak bekerja yaitu 81 orang. Berdasarkan suatu sumber, lingkungan kerja sebagian besar berada pada risiko rendah untuk penularan Tuberkulosis. Risiko pajanan terhadap Tuberkulosis sangat rendah di tempat kerja tetapi bagi mereka yang menderita HIV, mereka berada pada tahap risiko yang lebih tinggi (The National AIDS
5.2.3 Karakteristik Pasien HIV dengan Tuberkulosis berdasarkan faktor risiko dan infeksi opurtunistik yang lain.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.6, sebaran penderita adalah tertinggi untuk heteroseksual yaitu sejumlah 134 orang dan terendah untuk homoseksual yaitu sejumlah 2 orang. Kenyataan ini menyokong Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan s/d Juni 2010 oleh Directorate General CDC & EH,
Ministry of Health, Republic of Indonesia. Menurut statistik penelitian tersebut,
angka tertinggi dicatat oleh golongan heteroseksual yaitu 49,2%. Dalam suatu artikel kesehatan, Pengelola Program HIV/AIDS dan IMS Dinkes Bali, Dr.Gde Agus Suryadinata mengatakan heteroseksual masih merupakan faktor risiko yang paling banyak ditemukan dalam penularan HIV dan mengambil bagian sekitar 69% dari faktor risiko yang lain (Bali Post, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7, sebaran penderita yang ada infeksi opurtunistik lain adalah sejumlah 135 orang dan tidak mempunyai infeksi opurtunistik lain sejumlah 98 orang. Dalam suatu artikel tentang Aspek Kesehatan Masyarakat HIV-TB di Indonesia (Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia), Pandu Riono menyatakan bahwa selain Tuberkulosis, juga terdapat infeksi opurtunistik lain yang bisa menyertai seperti Kandidiasis ( 80,8% ),
Pneumocystis carinii Pneumonia ( 13,4% ), Diare ( 27,1% ), Herpes Zoster ( 6,3%
), Cytomegalovirus ( 28,8% ) dan Toxoplasmosis ( 17,3% ).
Selain itu, penelitian ini juga ada kelemahannya. Kelemahannnya mungkin dari data yang diambil karena pasien mungkin menderita Tuberkulosis sebelum didiagnosa HIV/AIDS dan kesingkatan waktu sepanjang durasi proses pengambilan data mungkin menyebabkan adanya sedikit perbedaan jika dibanding dengan penelitian-penelitian lain.