Bab ini penulis akan menguraikan bagaimana Penerapan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Seberang Taluk Hilir Kecamatan Kuantan Tengah dan Tinjauan ekonomi Islam
terhadap Penerapan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Seberang Taluk Hilir Kecamatan Kuantan Tengah.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan menguraikan kesimpulan dan saran.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Letak Geografi
Desa Seberang Taluk Hilir merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kuantan Tengah yang luas wilayahnya
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Seberang Taluk 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pulau Baru Kopah 3. Sebelah Timur berbatasan dengan PT. Duta Palma
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kuantan/Desa Sawah
Jarak Desa Seberang Taluk Hilir dengan kecamatan adalah 10 km.
sistem perhubungan dengan atau transportasi lancar karena keseluruhan jalan diaspal, sehingga penduduk mudah untuk keluar dari desa ke kecamatan.
Sedangkan jarak antara desa Seberang Taluk Hilir dengan pusat pemerintah Kabupaten adalah 15 km, dari kecamatan ke Kabupaten telah tersedia jalan umum dan sarana angkutan, sehingga tidak ada menyebabkan perhubungan di wilayah ini mengalami kesulitan.
B. Letak Demografis 1. Keadaan Penduduk
Penduduk merupakan unsur yang penting dalam perekonomian dan dalam dunia usaha guna membangun suatu perekonomian dalam upaya meningkatan produksi dan mengembangkan kegiatan usaha ekonomi.
Perubahan dan perkembangan penduduk dikarenakan adanya kelahiran, kematian dan mobilitas penduduk.
15
Adapun penduduk Desa Seberang Taluk Hilir berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2018 berjumlah 972 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 495 jiwa dan perempuan sebanyak 477 jiwa, yang terdiri atas 309 kepala keluarga (KK), mereka sudah dinyatakan sebagai penduduk yang resmi. Dari jumlah di atas penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Untuk itu lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel II.1
Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Laki-laki 495 50.93 %
2 Perempuan 477 49.07 %
Jumlah 972 100
Sumber Data: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir, Tahun 2018
2. Struktur Umum Penduduk
Struktur umum penduduk dapat dikaitkan dengan ketenagakerjaan dan beban tanggungan penduduk usia produktif. Di bawah ini dapat dilihat penduduk menurut kelompok umur di Desa Seberang Taluk Hilir.
Tabel II.2
No Kelompok Umur Jumlah Persentase (%)
Sumber Data: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir
Dari data di atas dapat dipahami bahwa jumlah penduduk Desa Seberang Taluk hilir terbanyak diduduki oleh usia 40-49 tahun yaitu sebanyak (16%) dan penduduk paling sedikit adalah usia 75 tahun ke atas sebanyak (1.65%).
3. Pendidikan Penduduk
Pendidikan merupakan jalan yang harus ditempuh dalam upaya meningkatan sumber daya manusia. Tujuannya tentu dalam mengimbangi dan memenuhi tuntutan-tuntutan pembangunan yang terus berkembang.
Tingkat pendidikan penduduk Desa Seberang Taluk Hilir relatif masih rendah, hal ini ditunjukkan oleh jumlah penduduk pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang lebih besar dibandingkan tingkat pendidikan lainnya. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II.3
Jumlah Tingkat Pendidikan Penduduk
No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Sekolah 87 8.95 %
Sumber: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir 2018
4. Sarana Pendidikan
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah berusaha untuk meningkatkan pendidikan, dengan usaha memperluas kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Pendidikan adalah hal yang menjadi perhatian dan masalah masyarakat. Masalah pendidikan merupakan problem sepanjang waktu bagi orang tua yang mempunyai anak. Peranan pendidikan didalam kehidupan manusia terlebih lagi dalam zaman modern sekarang diakui sebagai kegiatan yang menentukan prestasi dan produktivitas seseorang.
Pendidikan adalah salah satu indikator yang perlu dalam menciptakan sumber daya manusia demi pencapaian pembangunan nasional, untuk melihat sarana pendidikan yang ada di Desa Seberang Taluk Hilir dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II.4
Jumlah Sarana Pendidikan
Jenis Sekolah Jumlah
SD 1
SMP 1
SMA 0
Jumlah 2
Sumber: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir 2018
5. Pekerjaan Penduduk
Pola usaha dari kegiatan penduduk tidak sama pada setiap daerah, usaha dan kegiatan penduduk di Desa Seberang Taluk Hilir lebih banyak mengarah kepada sektor pertanian dan kebanyakan dari penduduk desa ini bekerja sebagai penyadap karet. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II.5
Mata Pencaharian Penduduk
No Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)
Sumber: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir 2018
6. Agama dan Budaya Masyarakat
Agama merupakan salah satu faktor yang dapat membentuk watak dan kepribadian seseorang, untuk itu Negara Republik Indonesia (RI) mewajibkan setiap warganya memeluk satu agama dan mengamalkannya.
Seperti di Desa Seberang Taluk Hilir penduduknya mayoritas beragama islam walaupun ada pendatang yang non Islam. Dapat dilihat dari mesjid yang ada di Desa Seberang Taluk Hilir adalah Masjid Al-Ghani yang sudah cukup nyaman karena dilengkapi pendingin ruangan walaupun kipas angin dan ruangan juga bersih dan nyaman.Lebih jelasnya dapat dilihat
Sumber: Kantor Desa Seberang Taluk Hilir 2018
Masyarakat sangat memegang kebudayaannya ditandai dengan adanya beberapa suku di Desa Seberang Taluk Hilir yang salah satunya suku melayu. Selain pemerintahan desa yang memegang peran penting di Desa Seberang Taluk Hilir juga ada yang namanya ninik mamak.
Nama-nama Peserta Penerima Program Keluarga Harapan (PKH) 1. Atri Yuzana
BAB III LANDASAN TEORI
A. Program Keluarga Harapan (PKH) 1. Pengertian Keluarga Harapan (PKH)
Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program yang memberikan bantuan tunai bersyarat kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang telah ditetapkan sebagai peserta PKH. Agar memperoleh bantuan PKH diwajibkan memenuhi persyaratan dan komitmen yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yaitu pendidikan dan kesehatan.18PKH sendiri memiliki tujuan umum untuk meningkatkan aksebilitas terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial dalam mendukung tercapainya kualitas hidup keluarga miskin.
PKH diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin dalam jangka pendek serta memutuskan rantai kemiskinan dalam jangka panjang, sebab peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan dan terpeliharanya taraf penghidupan masyarakat akan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mampu meningkatkan kualitas diri. 19
Pelaksanaan PKH di Pusat adalah Direktorat Jaminan Sosial Keluarga, Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sedangkan Pelaksana PKH di
18 Kementerian Sosial, Pedoman PKH, (Jakarta,: 2011), h.11
19https://www.researchgate.net, tanggal 18 februari 2019
21
Daerah Kabupaten/Kota terdiri dari: Pengarah, Ketua, Koordinator Kabupaten/Kota, Pendamping dan Operator
2. Dasar Hukum
Program Keluarga Harapan (PKH) dijalankan sebagai pelaksanaan dari
a. Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem Jaminan Sosial Nasional
b. Undang-undang nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial c. Undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas d. Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
Kesejahteraan Sosial
e. Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
f. Inpres nomor 1 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi poin lampiran ke 46 tentang Pelaksanaan Transparansi Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Bersyarat Bagi Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) sebagai Peserta PKH.
g. Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 254/PMK.05/2015 Tentang Belanja Bantuan Sosial pada Kementerian Negara/Lembaga.20
3. Tujuan Program Keluarga Harapan (PKH)
Tujuan umum PKH adalah untuk mengurangi angka dan memutuskan rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya
20Kementerian Sosial, Pedoman PKH, (Jakarta : 2013), h.6
manusia, serta merubah perilaku RTSM yang relatif kurang mendukung peningkatan kesejahteraan. Tujuan tersebut sekaligus sebagai upaya mempercepat pencapaian target Millennium Development Goals (MDGS).
Secara khusus, tujuan PKH terdiri atas:
a. Meningkatkan status soaial ekonomi RTSM.
b. Meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, anak balita dan anak usia 5-7 tahun yang belum masuk sekolah dasar dari RTSM.
c. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi anak-anak RTSM.
d. Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM.21 4. Sasaran Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)
Berdasarkan pedoman umum PKH, sasaran peserta PKH adalah keluarga miskin yang memiliki komponen kesehatan (ibu hamil, nifas, balita, anak prasekolah) dan komponen pendidikan (SD Sederajat, SMP Sederajat, SMA Sederajat) atau anak usia 7-21 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan wajb belajar 12 tahun, penyandang disabilitas berat, dan lanjut usia 70 tahun.
5. Ketentuan Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) a. Bantuan tetap diberikan per tahun
b. Bantuan komponen peserta PKH diberikan kepada maksimal 3 anggota keluarga sesuai kriteria kepesertaan.
21 Kementerian Sosial, Pedoman Umum PKH, (Jakarta: 2011), h.12
c. Bantuan komponen peserta PKH dapat diberikan dengan jumlah nominal terbesar dari komponen kepesertaan.
d. Bantuan komponen kesehatan: komponen kesehatan diberikan kepada maksimal 3 orang anggota keluarga, kehamilan keempat dan berikutnya tidak dihitung sebagai komponen penerima bantuan.
e. Komponen disabilitas: maksimal 3 komponen.
f. Komponen lansia: maksimal 2 orang (bukan suami istri).
6. Hak dan Kewajiban Penerima Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)
Keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) berhak mendapatkan :
a. Bantuan Sosial PKH.
b. Pendampingan PKH.
c. Pelayanan di fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial d. Program bantuan komplementer di bidang kesehatan, pendidikan,
subsidi energi, ekonomi, perumahan dan pemenuhan dasar lainnya.
Kewajiban Keluarga penerima manfaat PKH:
a. Memeriksakan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan bagi ibu hamil dan anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun .
b. Mengikuti kegiatan belajar dengan tingkat kehadiran paling sedikit 85% (delapan puluh lima persen) dari hari belajar efektif bagi anak usia sekolah wajib belajar 12 (dua belas) tahun.
c. Mengikuti kegiatan di bidang kesejahteraan sosial sesuai dengan kebutuhan bagi keluarga yang memiliki komponen lanjut usia mulai dari 60 (enam puluh) tahun atau penyandang disabilitas.22
B. Kriteria atau Syarat Penetapan Program Keluarga Harapan (PKH) Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu situasi yang dihadapi oleh seseorang individu di mana mereka tidak memiliki kecukupan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang nyaman, baik ditinjau dari sisi ekonomi, sosial, psikologis maupun dimensi spiritual. Definisi ini memfokuskan keminskinan pada ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kemiskinan menggambarkan kondisi ketiadaannya dan rendahnya pendapatan, atau secara lebih rinci menggambarkan suatu kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, papan, sandang.
Beberapa definisi menggambarkan kondisi ketiadaan tersebut. Salah satunya adalah definisi kemiskinan yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menjelaskan kemiskinan sebagai ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak.23
Menurut Todaro dan Smith konsep kemiskinan terbagi menjadi dua yang pertama kemiskinan absolut yaitu kemiskinan yang diukur dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, di mana kebutuhan ini dihitung dengan monetary value tertentu sebagai batasannya. Seseorang dikatakan
22 Nirda, “Implementasi Program Keluarga Harapan Tahun 2016 di Kecamatan Kundur Barat Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau , “(Skripsi Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Uin Suska Riau, 2017)
23 Ardito Bhinadi, Penaggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Yogyakarta: Depublish, 2017), Cet Pertama, h. 9
miskin apabila tingkat pendapatan maupun pengeluarannya berada di bawah nilai uang tertentu. Yang kedua kemiskinan absolute atau kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang diukur berdasarkan perbandingan antar kelompok dalam masyarakat, dimana suatu kelompok dianggap relatif lebih miskin dibanding kelompok lainnya.24
Al-ghazali (1980) mendefenisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Ketidakmampuan untuk memenuhi apa yang tidak dibutuhkan bukanlah kemiskinan. Jika barang yang dibutuhkan tersedia dan terjangkau oleh seseorang, maka dia tidak akan diperlakukan sebagai orang miskin. Islam memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu membahayakan akhlak, kelogisan berfikir, keluarga dan juga masyarakat. Islam menganggapnya sebagai musibah dan bencana yang seharusnya memohon perlindungan kepada Allah atas kejahatan yang tersembunyi didalamnya. Jika kemiskinan ini makin merajalela, maka ini akan menjadi kemiskinan yang mampu membuatnya lupa akan Allah dan juga rasa sosialnya kepada sesama.25
Keluarga fakir miskin di Indonesia sangat banyak, dari yang benar-benar miskin sampai kepada yang mengaku miskin agar mendapatkan bantuan. Karena banyaknya masyarakat miskin, maka perlu pengklasifikasian
24 Irfan syauqi beik, Ekonomi Pembangunan Syariah, (Jakarta, Rajawali Pers: 2017), Ed-1, Cet. Ke- 2, h. 68-69
25 Nurul Huda, Ekonomi Pembangunan Islam, (Jakarta, Prenadamedia Group: 2015), h.
23-24
agar bantuan tersebut benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kemiskinan dapat dilihat sebagai keadaan masyarakat dengan tingkat ekonominya masih lemah, dan ditambah dengan kebijakan pemerintah yang umumnya diarahkan untuk memecahkan permasalahan jangka pendek.
Sehingga kebijakan tersebut belum berhasil memecahkan kelompok ekonomi rakyat bawah. Di samping itu juga pengaruh keadaan luar negeri, antara lain dari segi pendanaan pembangunan.
Berdasarkan gambaran diatas, maka di buat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) kriteria penerima PKH dengan kriteria sebagai berikut:
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang 2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester
4. Tidak memliki tempat buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/
air hujan
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah.
8. Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu 9. Hanya membeli pakaian satu stel dalam setahun.
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam satu hari 11. Tidak sanggup membayar biaya berobat di puskesmas/ poliklinik
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000; per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/
tamat SD.
14. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijualn dengan minimal Rp.
500.000; seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah dapat dikatakan rumah tangga miskin. 26
Namun dari kriteria diatas mengandung pro dan kontra terhadap realita yang terjadi di lapangan, kriteria yang telah ditetapkan tidak cocok, seperti pendataan penduduk miskin yang menerima PKH di desa Seberang Taluk Hilir mengeluarkan kebijakan-kebijakan tentang PKH yang telah diberikan oleh pemerintah kabupaten.27
Adapun kriteria yang ditetapkan oleh aparat desa sebagai berikut:
1. Kemampuan kepala keluarga dalam menanggung beban jumlah anggota rumah tangga
2. Jumlah anggota rumah tangga usia produktif
3. Kondisi kepala rumah tangga yang memiliki anak bersekolah.
26https://arsipskpd.batam.go.id, tanggal 11 april 2018.
27Diki, Sekretaris Desa, Wawancara, Seberang Taluk Hilir, 13 Maret 2019
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan kepala desa, faktor penghambat PKH adalah data penerima manfaat PKH belum sesuai sehingga masih banyak masyarakat yang kurang mampu belum mendapatkan bantuan PKH.28
C. Manfaat Program Keluarga Harapan (PKH)
PKH dalam jangka pendek dapat membantu keluarga miskin (KM) mengurangi beban pengeluaran. Pada jangka menengah PKH dapat menciptakan perubahan perilaku peserta dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan sehingga menghasilkan generasi yang lebih sehat dan cerdas.
Dalam jangka panjang PKH dapat memutuskan mata rantai kemiskinan antara generasi melalui peningkatan kualitas kesehatan atau nutrisi, pendidikan dan kapasitas pendapatan anak di masa depan (price effect) dan memberikan kepastian kepada anak akan masa depannya (insurance effect).
D. Mekanisme Penyaluran Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) Dalam mekanisme bantuan pada PKH beragam sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat. Bantuan dana tunai PKH diberikan kepada ibu atau perempuan dewasa (nenek, bibi atau kakak perempuan) dan selanjutnya disebut Pengurus Keluarga dana yang diberikan kepada pengurus keluarga perempuan ini telah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan penerima bantuan.
Sebagai bukti kepesertaan Program PKH, KSM diberikan Kartu Peserta PKH. Uang bantuan dapat diambil oleh pengurus keluarga perempuan
28 Solahudin, Kepala Desa, Wawancara, Seberang Taluk Hilir, 13 Maret 2019
di Kantor Kecamatan yang di salurkan melalui pegawai PT.POS Ke peserta PKH dengan syarat membawa Kartu peserta PKH dan tidak dapat di wakilkan.
Tabel III.1
Jumlah Bantuan Program Harapan (PKH)
No Jumlah bantuan Bantuan Per RTSM
1 Bantuan tetap Rp. 500.000;
2 Bantuan anak usia di bawah 6 (enam) tahun, ibu Hamil/menyusui
Rp. 1.200.000;
3 Bantuan peseta pendidikan setara SD/MI atau sederajat
Rp. 450.000;
4 Bantuan peserta pendidikan setara SMP/MTS atau sederajat
Rp. 750.000;
5 Bantuan peserta pendidikan setara SMA/MA atau sederajat
Rp. 1.000.000;
6 Bantuan penyandang disabilitas berat Rp. 3.600.000;
7 Bantuan lanjut usia 70 tahun keatas Rp. 2.400.000;
8 Bantuan minimum per RTSM Rp. 950.000;
9 Bantuan minimum per RTSM Rp. 3.900.000;
Sumber : Pedoman Umum PKH 2016
Peserta PKH di targetkan akan berjumlah sekitar enam juta keluarga Penerima Manfaat. Penambahan peserta yang signifikan dibarengi juga dengan perubahan terkait Bantuan, Komponen PKH dan pelaksanaan Program PKH tentunya. Berikut perubahan besar Program Keluarga Harapan (PKH):
1. Komponen PKH; untuk komponen PKH dibagi tiga yaitu komponen pendidikan, kesehatan dan komponen kesejahteraan sosial. Komponen pendidikan meliputi anak usia SD, SMP, dan SMA sedangkan Komponen Kesehatan meliputi Bumil, Balita dan Anak prasekolah. Adapun komponen kesejahteraan Sosial adalah Lanjut Usia di atas 70 Tahun dan Disabilitas Berat.
2. Ketentuan Bantuan PKH
a. Bantuan tetap di berikan per tahun
b. Bantuan komponen peserta PKH di berikan kepada maksimal 3 anggota keluarga sesuai kriteria kepesertaan
c. Bantuan komponen pesrta PKH dapat diberikan dengan jumlah nominal terbesar dari komponen kepesertaan
d. Bantuan komponen: komponen kesehatan diberikan kepada maksimal 3 orang anggota keluarga, kehamilan keempat dan berikutnya tidak dihitung sebagai komponen penerima bantuan
e. Komponen Disabilitas: Maksimal 3 Komponen
f. Komponen Lansia: Maksimal 2 orang (bukan suami isteri)
3. Penyandang Disabilitas Berat (PDB): Bantuan PKH di berikan kepada penyandang disabilitas berat dengan ketentuan sebagai berikut: Dalam keluarga yang memiliki komponen kesehatan dan atau komponen pendidikan. Dalam keluarga yang tidak memiliki komponen kesehatan dan atau komponen pendidikan. Penyandang disabilitas berat yang ada di luar keluarga, maka bantuan layanan akan diintervensi oleh program panti.
4. Lanjut usia 70 Tahun ke atas: Bantuan PKH untuk lanjut usia 70 tahun ke atas diberikan baik kepada lansia yang berada dalam keluarga PKH maupun di luar keluarga (terlantar).29
E. Distribusi
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) distribusi adalah penyaluran , pembagian, pengiriman kepada beberapa orang atau ke beberapa tempat. Sedangkan pendistribusian adalah proses, cara mendistribusikan30
29Kementerian Sosial , Pedoman Umum PKH 2016
30 https://kbbi.web.id/distribusi.html
Pemerintah memiliki posisi yang sangat penting dalam menciptakan keadilan distribusi, karena menciptakan kesejahteraan di masyarakat merupakan kewajiban seluruh agen ekonomi. Tidak terkecuali pemerintah sebagai pemegang amanah ALLAH memiliki tugas bersama dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan, Karena salah satu unsur penting dalam menciptakan kesejahteraan ialah mewujudkan pemerintahan yang adil.
Agar kesejahteraan di masyarakat dapat terwujud, pemerintah berperan dalam mencukupi kebutuhan masyarakat, baik dasar/primer, sekunder dan pelengkap. Disebabkan hal tersebut, pemerintah dilarang untuk berhenti pada pemenuhan kebutuhan dan pelayanan primer masyarakat saja, namun harus berusaha untuk mencukupi seluruh kebutuhan.31
Manusia hidup di dunia diberikan tugas dan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Hal ini didukung dengan fitrah manusia yang dianugerahkan dengan berbagaiperbedaan skill dan kemampuan. Perbedaan dan kesenjangan tersebut pada dasarnya merupakan hal yang natural (alami).32
Sebagai agama yang membawa rahmat bagi alam semesta, islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi.
Salah satu tujuannya adalah mewujudkan keadilan dalam pendistribusian harta, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun individu.33
Dalam perekonomian modern saat ini, distribusi merupakan sektor yang terpenting dalam aktivitas perekonomian baik pendistribusian
31Dewan Pengawas Nasional, Ekonomi dan Bisnis Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016), Cet Ke-1, h. 285
32 Irfan syauqi beik, Ekonomi Pembangunan Syariah, (Jakarta, Rajawali Pers: 2017), Ed-1, Cet. Ke- 2, h. 36
33 Idri, Hadis Ekonomi , (Jakarta, Prenadamedia Group, 2015), edisi pertama, h. 127
pendapatan maupun distribusi kekayaan melalui kegiatan-kegiatan ekonomi ataupun kegiatan sosial. Secara bahasa, diatribusi berasal dari bahasa inggris distribution yang berarti penyaluran dan pembagian.34
Ketidakseimbangan distribusi kekayaan adalah hal yang mendasari hampir semua konflik individu maupun sosial. Upaya pencapaian manusia dalam kebahagian, membimbing manusia untuk menerapkan keadilan ekonomi yang dapat menyudahi kesengsaraan di muka bumi ini. Hal tersebut akan sulit dicapai tanpa adanya keyakinan pada prinsip moral dan sekaligus kedisiplinan dalam mengimplementasikan konsep moral tersebut.35
Untuk mencapai kesejahteraan di dalam masyarakat, maka diperlukan kebijakan distribusi secara adil dan merata. Pemerintah dituntut untuk dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya, baik primer, skunder maupun tersier.
Kebijakan distribusi dalam menciptakan keadilan ekonomi akan sulit terwujud jika tidak melibatkan peran institusi yang ada seperti halnya pemerintah dan masyarakat. Oleh sebab itu peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan, karena kebijakan distribusi akan teraplikasi dengan baik ketika kedua institusi yang ada bekerja. Ketika institusi itu bekerja, keadilan akan tercipta dan memberi dampak pada tersebarnya harta secara adil di masyarakat.36
34Ibid, h.128
35 Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Eklusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), Edisi Pertama, h. 120
36 Jurnal Hukum Islam, Vol. 14, No. 2, Desember 2016
F. Program Pengentasan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah pembangunan di berbagai bidang yang dihadapi wilayah-wilayah baik yang sudah maju maupun kurang maju, yang ditandai oleh pengangguran, keterbelakangan dan keterpurukan.
Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatasnya akses kepada prasarana, modal dan kegiatan sosial ekonomi lainnya, sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lain yang mempunyai potensi lebih tinggi. Kemiskinan menghambat tercapainya pembangunan wilayah, pemerataan pembanguan dan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu
Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatasnya akses kepada prasarana, modal dan kegiatan sosial ekonomi lainnya, sehingga tertinggal jauh dari masyarakat lain yang mempunyai potensi lebih tinggi. Kemiskinan menghambat tercapainya pembangunan wilayah, pemerataan pembanguan dan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu