BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil
52
perantara, kosa kata, bertanya, menjawab pertanyaan, mendengarkan dan memahami kata.
Pemilihan materi pembelajaran ini berdasarkan rekomendasi dari pengajar yang sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di tempat terapi. Untuk menguji validitas panduan pembelajaran peneliti menggunakan expert judgments (ahli) untuk mengoreksi isi dari panduan pembelajaran tersebut. Alat tes yang digunakan adalah lembar observasi interaksi sosial dengan menggunakan teknik behavior tallying yang terdiri dari 7 indikator.
Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan statistika deskriptif sederhana (Sunanto, 2005) yang dianalisis melalui analisis visual pada arah perubahan dalam kondisi maupun antar kondisi dan menggunakan analisis grafik. Pada analisis data dengan metode analisis visual tersebut akan melalui beberapa komponen, yaitu banyaknya skor pada setiap kondisi, tingkat stabilitas, perubahan level data, dan arah perubahan dalam satu kondisi atau antar kondisi yang nantinya akan dibuat satu per satu grafik dan dianalisis sendiri-sendiri dengan analisis dalam kondisi maupun antar kondisi.
C. Hasil
Teknik statistika yang digunakan pada penelitian single case experimental design adalah dengan melakukan analisis data menggunakan analisis grafik yang sebelumnya di analisis dengan beberapa komponen yakni analisis dalam kondisi dan antar kondisi, sehingga diperoleh beberapa output data (terlampir). Berikut adalah rangkuman dari analisis data yang sudah
53
terorganisir. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang disertai dengan penjelasan.
1. Kontak Mata
a. Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
Grafik 2 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Aspek Kontak Mata
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya mendatar, kondisi treatment (B) arah trendnya menaik, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya menaik. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 T a rg et P er ila k u Sesi/Hari Kontak Mata Kontak Mata
54
Tabel7 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Kontak Mata
Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator kontak mata untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment (B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator kontak mata untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%, kondisi treatment (B) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 67% , dan kondisi
post-test (A2) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test (A1) menunjukkan arah mendatar,
treatment (B) menunjukkan arah menaik, dan post-test (A2) menunjukkan arah menaik. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 2 – 2, treatment (B) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 2 - 7, dan
KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (=) (+) (+) 3. Kecenderungan
Stabilitas Stabil 100% (Tidak Stabil) Variabel 67% Variabel (Tidak Stabil) 33% 4. Jejak Data (=) (+) (+)
5. Level Stabilitas dan
Rentang Stabil 2 - 2 Tidak Stabil 2 - 7 Tidak Stabil 2 - 4 6. Perubahan Level (2 – 2) 0 (=) (5 – 2) +3 (+) (4 – 3) +1 (+)
55
post-test (A2) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 2 – 4. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubahan, treatment (B) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik.
b. Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
Tabel 8 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Kontak Mata
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (+) (=) (+) (+)
(+) (+)
3. Perubahan Stabilitas Variabel ke
Stabil Variabel ke Variabel 4. Perubahan Level (2 – 2) 0 (=) (5 – 3) 2 (+) 5. Persentase Overlap 16% 0%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah menaik ke mendatar yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke
treatment (B) adalah variabel ke stabil, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) adalah variabel ke variabel. Perubahan level antara kondisi
56
test (A1) ke treatment (B) menunjukkan (=) yang berarti ada perubahan karena membaik, sedangkan perubahan level antara kondisi treatment
(B) ke post-test (A2) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan. Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 16%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 0% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment
terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh treatment applied behavior analysis berpengaruh baik terahadap indikator kontak mata pada anak autis.
2. Kontak Melalui Perantara a. Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
Grafik 3 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Kontak Melalui Perantara
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya mendatar,
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et Pe rila ku Sesi/Hari
Kontak Melalui Perantara
Kontak Perantara
57
kondisi treatment (B) arah trendnya mendatar, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya mendatar.
Tabel 9 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Kontak Melalui Perantara
Kondisi Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (=) (=) (=) 3. Kecenderungan
Stabilitas Stabil 100% Stabil 100% Stabil 100% 4. Jejak Data
(=) (=) (=)
5. Level Stabilitas dan
Rentang Stabil 0 - 0 Stabil 0 - 0 Stabil 0 - 0 6. Perubahan Level (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator kontak melalui perantara untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi
treatment (B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator kontak melalui perantara untuk masing-masing kondisi adalah
pre-test (A1) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%, kondisi treatment (B) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test (A1) menunjukkan arah mendatar,
treatment (B) menunjukkan arah mendatar, dan post-test (A2) menunjukkan arah mendatar. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 – 0, treatment (B) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 - 0, dan post-test (A2)
58
menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 – 0. Level perubahan
pre-test (A1) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubahan,
treatment (B) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubaha, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubahan.
b. Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
Tabel 10 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Kontak Melalui Perantara
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (=) (=) (=) (=)
(=) (=)
3. Perubahan Stabilitas Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil 4. Perubahan Level (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) 5. Persentase Overlap 100% 100%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah mendatar ke mendatar yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang stabil atau tidak ada perubahan, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) mendatar ke mendatar yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang stabil atau tidak ada perubahan. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke treatment (B) adalah stabil ke stabil, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) adalah
59
stabil ke stabil. Perubahan level antara kondisi pre-test (A1) ke treatment
(B) menunjukkan (=) yang berarti tidak ada perubahan karena bernilai (0), sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke post-test
(A2) menunjukkan (=) yang berarti tidak ada perubahan karena bernilai (0). Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 100%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 100% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh
treatment terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh
treatment applied behavior analysis tidak berpengaruh baik terahadap indikator kontak melalui perantara pada anak autis karena bernilai (0). 3. Kosa Kata
a. Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2)
Grafik 4 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Kosa Kata
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et Pe rila ku Sesi/Hari
60
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya menaik, kondisi treatment (B) arah trendnya menaik, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya menaik.
Tabel 11 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Kosa Kata
KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (+) (+) (+) 3. Kecenderungan
Stabilitas (Tidak Stabil) Variabel 33% Variabel (Tidak Stabil) 33% Variabel (Tidak Stabil) 33% 4. Jejak Data (+) (+) (+) 5. Level Stabilitas
dan Rentang Tidak Stabil 5 - 7 Tidak Stabil 3 - 9 Tidak Stabil 5 - 9 6. Perubahan Level (7 – 5) 2 (+) (9 – 3) 6 (+) (9 – 5) 4 (+)
Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator kontak mata untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment (B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator kosa kata untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%, kondisi treatment (B) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test (A1) menunjukkan arah menaik, treatment (B) menunjukkan arah menaik, dan post-test (A2)
61
menunjukkan arah menaik. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 5 – 7,
treatment (B) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 3 - 9, dan post-test (A2) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 5 – 9. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, treatment (B) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, dan
post-test (A2) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik.
b. Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
Tabel 12 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Kosa Kata
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (+) (+) (+) (+)
(+) (+)
3. Perubahan Stabilitas Variabel ke
Variabel Variabel ke Variabel 4. Perubahan Level (7 – 3) 4 (+) (9 – 5) 4 (+) 5. Persentase Overlap 16% 33%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif, sedangkan treatment (B) ke
62
test (A2) menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke
treatment (B) adalah variabel ke variabel, sedangkan treatment (B) ke
post-test (A2) adalah variabel ke variabel. Perubahan level antara kondisi
pre-test (A1) ke treatment (B) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan, sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke
post-test (A2) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan. Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 16%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 33% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh treatment applied behavior analysis berpengaruh baik terahadap indikator kosa kata pada anak autis.
4. Bertanya
a) Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
63
Grafik 5 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Bertanya
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya mendatar, kondisi treatment (B) arah trendnya mendatar, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya mendatar.
Tabel 13 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Bertanya KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (=) (=) (=)
3. Kecenderungan Stabilitas Stabil
100% Stabil 100% Stabil 100% 4. Jejak Data
(=) (=) (=)
5. Level Stabilitas dan
Rentang Stabil 0 - 0 Stabil 0 - 0 Stabil 0 - 0 6. Perubahan Level (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et Pe rila ku Sesi/Hari
Bertanya
Bertanya
64
Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator bertanya untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment (B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator bertanya untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%, kondisi treatment (B) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu
pre-test (A1) menunjukkan arah mendatar, treatment (B) menunjukkan arah mendatar, dan post-test (A2) menunjukkan arah mendatar. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 – 0, treatment (B) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 - 0, dan post-test (A2) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 0 – 0. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubahan, treatment (B) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubaha, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (=) yang berarti tidak ada perubahan.
b) Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
65
Tabel 14 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Bertanya
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (=) (=) (=) (=)
(=) (=)
3. Perubahan Stabilitas Stabil ke Stabil Stabil ke Stabil 4. Perubahan Level (0 – 0) 0 (=) (0 – 0) 0 (=) 5. Persentase Overlap 0% 0%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah mendatar ke mendatar yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang stabil atau tidak ada perubahan, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) mendatar ke mendatar yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang stabil atau tidak ada perubahan. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke treatment (B) adalah stabil ke stabil, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) adalah stabil ke stabil. Perubahan level antara kondisi pre-test (A1) ke treatment
(B) menunjukkan (=) yang berarti tidak ada perubahan karena bernilai (0), sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke post-test
(A2) menunjukkan (=) yang berarti tidak ada perubahan karena bernilai (0). Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 0%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 0% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment
66
applied behavior analysis tidak berpengaruh baik terahadap indikator bertanya pada anak autis karena bernilai (0).
5. Menjawab Pertanyaan a) Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
Grafik 6 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Menjawab Pertanyaan
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya menaik, kondisi treatment (B) arah trendnya menaik, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya menaik. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et P er ila ku Sesi/Hari
Menjawab
Menjawab
67
Tabel 15 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Menjawab Pertanyaan
KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (+) (+) (+) 3. Kecenderungan
Stabilitas (Tidak Stabil) Variabel 33% Variabel (Tidak Stabil) 67% Variabel (Tidak Stabil) 67% 4. Jejak Data (+) (+) (+) 5. Level Stabilitas
dan Rentang Tidak Stabil 3 - 6 Tidak Stabil 3 - 6 Tidak Stabil 5 - 6 6. Perubahan Level (6 – 3) 3 (+) (6 – 3) 3 (+) (6 – 5) 1 (+)
Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator menjawab pertanyaan untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment
(B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator kosa kata untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%, kondisi
treatment (B) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 67% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 67%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test
(A1) menunjukkan arah menaik, treatment (B) menunjukkan arah menaik, dan post-test (A2) menunjukkan arah menaik. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil)
68
dengan rentang 4 – 6, treatment (B) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 3 - 8, dan post-test (A2) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 6 – 7. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, treatment (B) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik.
b) Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
Tabel 16 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Menjawab Pertanyaan
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (+) (+) (+) (+)
(+) (+)
3. Perubahan Stabilitas Variabel ke
Variabel Variabel ke Variabel 4. Perubahan Level (6 – 3) 3 (+) (6 – 5) 1 (+) 5. Persentase Overlap 33% 0%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan
69
kecenderungan yang positif. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke
treatment (B) adalah variabel ke variabel, sedangkan treatment (B) ke
post-test (A2) adalah variabel ke variabel. Perubahan level antara kondisi
pre-test (A1) ke treatment (B) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan, sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke
post-test (A2) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan. Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 33%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 0% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh treatment applied behavior analysis berpengaruh baik terhadap indikator menjawab pertanyaan pada anak autis.
6. Memahami Kata
a) Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
70
Grafik 7 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Memahami Kata
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya menaik, kondisi treatment (B) arah trendnya menaik, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya menaik.
Tabel 17 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Memahami Kata
KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (+) (+) (+) 3. Kecenderungan
Stabilitas (Tidak Stabil) Variabel 33% Variabel (Tidak Stabil) 17% Variabel (Tidak Stabil) 33% 4. Jejak Data (+) (+) (+) 5. Level Stabilitas
dan Rentang Tidak Stabil 4 - 6 Tidak Stabil 3 - 8 Tidak Stabil 6 - 7 6. Perubahan Level (6 – 4) 2 (+) (8 – 3) 5 (+) (7 – 6) 1 (+) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et P er ila ku Sesi/Hari Memahami Kata Memahami Kata
71
Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator menjawab pertanyaan untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment
(B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator kosa kata untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%, kondisi
treatment (B) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test
(A1) menunjukkan arah menaik, treatment (B) menunjukkan arah menaik, dan post-test (A2) menunjukkan arah menaik. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 4 – 6, treatment (B) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 3 - 8, dan post-test (A2) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 6 – 7. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, treatment (B) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik.
b) Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
72
Tabel 18 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Memahami Kata
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (+) (+) (+) (+)
(+) (+)
3. Perubahan Stabilitas Variabel ke
Variabel Variabel ke Variabel 4. Perubahan Level (6 – 3) 3 (+) (8 – 6) 2 (+) 5. Persentase Overlap 16% 0%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1) ke
treatment (B) adalah variabel ke variabel, sedangkan treatment (B) ke
post-test (A2) adalah variabel ke variabel. Perubahan level antara kondisi
pre-test (A1) ke treatment (B) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan, sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke
post-test (A2) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan. Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 16%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 0% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh treatment terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh treatment applied
73
behavior analysis berpengaruh baik terhadap indikator memahami kata pada anak autis.
7. Mendengarkan
a) Analisis Dalam Kondisi
Adalah menganalisis perubahan data dalam satu kondisi, yaitu kondisi pre-test (A1), kondisi treatment (B) dan kondisi post-test (A2).
Grafik 8 Analisis Metode Belah Dua (Split-Middle)
Pada Indikator Mendengarkan
Garis merah menunjukkan kecenderungan arah dari setiap kondisi pada penelitian ini yaitu kondisi pre-test (A1) arah trendnya menaik, kondisi treatment (B) arah trendnya menaik, dan pada kondisi post-test
(A2) arah trendnya mendatar. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Ta rg et Pe rila ku Sesi/Hari Mendengarkan Mendengarkan
74
Tabel 19 Rangkuman Hasil Analisis Visual Dalam Kondisi Indikator Mendengarkan KONDISI Baseline A1 TreatmentB BaselineA2 1. Panjang Kondisi 3 6 3 2. Estimasi Kecenderungan Arah (+) (+) (+) 3. Kecenderungan
Stabilitas Variabel (Tidak Stabil) 33% Variabel (Tidak Stabil) 50% Variabel (Tidak Stabil) 67% 4. Jejak Data (+) (+) (+)
5. Level Stabilitas dan
Rentang Tidak Stabil 6 - 8 Tidak Stabil 4 - 9 Stabil 6 - 8 6. Perubahan Level (8 – 6) 2 (+) (9 – 4) 5 (+) (8 – 6) 2 (+) Dari penelitian ini, panjang kondisi indikator mendengarkan untuk masing-masing kondisi adalah 3 sesi pre-test (A1), 6 sesi treatment (B), dan 3 sesi post-test (A2). Kecenderungan stabilitas indikator mendengarkan untuk masing-masing kondisi adalah pre-test (A1) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 33%, kondisi treatment (B) menunjukkan hasil yang variabel (tidak stabil) dengan persentase 50% , dan kondisi post-test (A2) menunjukkan hasil yang stabil dengan persentase 100%. Garis pada estimasi kecenderungan arah dan jejak data memiliki arti yang sama yaitu pre-test (A1) menunjukkan arah menaik, treatment (B) menunjukkan arah menaik, dan post-test (A2) menunjukkan arah mendatar. Level stabilitas dan rentang pre-test (A1) menunjukkan data yang variabel (tidak stabil) dengan rentang 6 – 8, treatment (B) menunjukkan data yang variabel
75
(tidak stabil) dengan rentang 4 - 9, dan post-test (A2) menunjukkan data yang stabil dengan rentang 8 – 8. Level perubahan pre-test (A1) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik,
treatment (B) menunjukkan tanda (+) yang berarti ada perubahan yang membaik, dan post-test (A2) menunjukkan tanda (=) yang berarti ada perubahan yang membaik.
b) Analisis Antar Kondisi
Analisis antar kondisi adalah untuk menganalisis perubahan antar kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisis.
Tabel 20 Rangkuman Hasil Analisis Visual Antar Kondisi Indikator Mendengarkan
Kondisi B/A1
(2:1) B/A2 (2:1)
1. Jumlah Variabel 1 1
2. Perubahan Arah dan
Efeknya (+) (+) (+) (+)
(+) (+)
3. Perubahan Stabilitas Variabel ke
Variabel Variabel ke Variabel 4. Perubahan Level (8 – 4) 4 (+) (9 – 6) 3 (+) 5. Persentase Overlap 33% 67%
Jumlah variabel dalam penelitian ini adalah 1 yaitu perkembangan interaksi sosial anak autis. Perubahan kecenderungan arah pre-test (A1) ke treatment (B) adalah menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif, sedangkan treatment (B) ke
post-test (A2) menaik ke menaik yang berarti menunjukkan perubahan kecenderungan yang positif. Perubahan stabilitas kondisi pre-test (A1)
76
ke treatment (B) adalah variabel ke variabel, sedangkan treatment (B) ke post-test (A2) adalah variabel ke variabel. Perubahan level antara kondisi pre-test (A1) ke treatment (B) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan, sedangkan perubahan level antara kondisi treatment (B) ke
post-test (A2) menunjukkan (+) yang berarti ada perubahan yang membaik. Persentase data overlap pre-test (A1) ke treatment (B) 33%, sedangkan persentase data overlap treatment (B) ke post-test (A2) 67% dan semakin kecil persentase overlap, maka semakin baik pengaruh
treatment terhadap target behavior. Kesimpulannya adalah pengaruh
treatment applied behavior analysis berpengaruh baik terhadap indikator mendengarkan pada anak autis.