• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Hasil penelitian diuraikan dalam beberapa analisis yaitu analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk mengetahui karakteristik responden yang ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentasi yang terdiri dari usia, jenis kelamin dan pendidikan. Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi efektivitas kompres dingin terhadap intensitas nyeri pada pasien fraktur.

Penelitian ini dilakukan terhadap 70 responden yaitu pasien fraktur yang menerima program intervensi kompres dingin di ruang rawat inap RB 3 RSUP Haji Adam Malik Medan. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 September 2019 sampai dengan 21 Oktober 2019. Responden dibagi kedalam dua kelompok yaitu 35 responden sebagai kelompok intervensi yang menerima intervensi kompres dingin dan 35 responden sebagai kelompok kontrol yang menerima intervensi keperawatan standar rumah sakit.

Hasil Analisis Univariat

Karakteristik Responden

Gambaran karakteristik responden berdasarkan hasil penelitian di RSUP H. Adam Malik Medan sejumlah 70 responden dengan masing-masing kelompok terdiri dari 35 responden dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Karakteristik Demografi Responden pada Kelompok Intervensi dan Kontrol (n=35)

Karakteristik

Tabel 4.1 menunjukkan distribusi karakteristik responden menurut usia pada kelompok intervensi yang paling banyak yaitu usia 17-25 tahun sebesar 31,4%,begitu juga pada kelompok kontrol yang paling banyak adalah responden berusia 26-35 tahun sebesar 48,6%. Distribusi responden menurut jenis kelamin pada kelompok intervensi yang paling banyak yaitu laki-laki sebesar 82,9%, begitu juga pada kelompok kontrol yang paling banyak yaitu laki-laki sebesar 54,3%. Distribusi responden menurut pendidikan pada kelompok intervensi yang paling banyak yaitu SMA sebesar 77,1%, begitu juga pada kelompok kontrol yang paling banyak adalah responden pada tingkat pendidikan SMA sebesar 88,6%.

Distribusi responden menurut pekerjaan pada kelompok intervensi yang paling

banyak yaitu tidak bekerja sebesar 80,0%, namun pada kelompok kontrol responden yang paling banyak yaitu yang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai swasta sebesar 60,0%.

Intensitas Nyeri Pasien Fraktur

Gambaran intensitas nyeri pasien fraktur pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebelum dan setelah intervensi berupa kompres dingin dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Intensitas Nyeri Pasien Fraktur pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Setelah diberikan Kompres Dingin

Berdasarkan Tabel 4.2 distribusi frekuensi dan persentase pasien fraktur terhadap intensitas nyeri pada kelompok intervensi sebelum diberikan intervensi kompres dingin mayoritas nyeri sedang dengan intensitas nyeri 4-6 sebanyak 34 responden (97,1%). sedangkan pada kelompok kontrol sebelum diberikan intervensi keperawatan sesuai standar rumah sakit mayoritas nyeri juga sedang dengan intensitas nyeri antara 4-6 sebanyak 33 responden (94,3%). Sementara distribusi responden sesudah diberikan intervensi kompres dingin mayoritas nyeri ringan dengan intensitas nyeri 1-3 sebanyak 33 responden (94,3%) dan responden

yang memiliki intensitas nyeri sedang 4-6 sebanyak 2 responden (5,7%), sedangkan pada kelompok kontrol sesudah diberikan intervensi keperawatan sesuai standar rumah sakit mayoritas nyeri sedang dengan intensitas nyeri 4-6 sebanyak 28 responden (80,4%) dan dengan intensitas nyeri ringan 1-3 sebanyak 7 responden (19,6%).

Rata-rata intensitas nyeri pasien fraktur pada kelompok intervensi sebelum diberikan kompres dingin adalah 5,60 (SD=0,553), nilai intensitas nyeri pasien fraktur minimum adalah 5 dan nilai intensitas nyeri pasien fraktur maksimum adalah 7. Sedangkan pada kelompok kontrol sebelum diberikan program intervensi keperawatan berbasis standar rumah sakit adalah 5,54 (SD=0,610), nilai intensitas nyeri pasien fraktur minimum adalah 5 dan nilai pemulihan pasien fraktur maksimum adalah 7.

Rata-rata intensitas nyeri pasien fraktur pada kelompok intervensi setelah diberikan kompres dingin adalah 2,94 (SD=0,416), nilai intensitas nyeri pasien fraktur minimum adalah 2 dan nilai intensitas nyeri pasien fraktur maksimum adalah 4. Sedangkan pada kelompok kontrol setelah diberikan program intervensi keperawatan berbasis standar rumah sakit adalah 3,91 (SD=0,562), nilai intensitas nyeri pasien fraktur minimum adalah 3 dan nilai pemulihan pasien fraktur maksimum adalah 5.

Berdasarkan Tabel 4.2 juga menunjukkan bahwa sebelum pemberian kompres dingin mayoritas responden pada kelompok intervensi berada di kategori nyeri sedang dengan intensitas nyeri 4-6 sebanyak 34 responden (97,1%) dan yang memiliki intensitas nyeri berat 7-10 sebanyak 1 responden (2,9%), namun setelah pemberian kompres dingin mayoritas responden berada di kategori nyeri

ringan yaitu dengan intensitas nyeri 1-3 sebanyak 33 responden (94,3%) dan yang memiliki intensitas nyeri masih sedang sebanyak 2 respnden (5,7%). Sebaliknya sebelum diberikan intervensi sesuai standart rumah sakit mayoritas responden pada kelompok kontrol berada di kategori nyeri sedang dengan intensitas nyeri 4-6 sebanyak 33 responden (94,2%) dan intensitas nyeri berat 7-10 sebanyak 2 responden (5,8%), namun setelah diberikan intervensi sesuai standart rumah sakit mayoritas responden masih berada di kategori nyeri sedang yaitu intensitas nyeri 4-6 sebanyak 28 responden (80,4%) dan yang memiliki intensitas nyeri menjadi ringan sebanyak 7 responden (19,6%).

Hasil Analisis Bivariat

Perbedaan Intensitas Nyeri Sebelum Dan Sesudah Dilakukan Kompres Dingin Pada Kelompok Intervensi Pasien Pasca Operasi Fraktur.

Pada data penelitian setelah dilakukan uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov didapatkan data tidak terdistribusi normal dan data berskala ukur kategorik sehingga analisis data menggunakan uji non parametrik. Uji yang digunakan yaitu Wilcoxon Signed Rank Test, yang bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas nyeri pasien fraktur variabel terikat sebelum dan setelah intervensi berupa kompres dingin dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan 4.4 Tabel 4.3. Gambaran intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres

dingin pada kelompok intervensi pasien pasca operasi fraktur.

Nyeri Kelompok intervensi Z p value

Mean SD

Diperoleh nilai signifikasi sebelum dan sesudah dilakukan kompres dingin terhadap intensitas nyeri pada kelompok intervensi pasien pasca operasi fraktur sebesar α = 0,001 (p < 0,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompres dingin berpengaruh terhadap intensitas nyeri pada pasien pasca operasi fraktur.

Tabel 4.4. Gambaran intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit pada kelompok kontrol pasien pasca operasi fraktur.

Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Wilcoxon Signed Rank diperoleh nilai signifikasi p value pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah dilakukan manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit terhadap intensitas nyeri pasien pasca operasi fraktur sebesar p value = 0,982 (p > 0,05).

Dengan demikian tidak terdapat perbedaan sebelum dan sesudah diberikan manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit terhadap intensitas nyeri pada pasien pasca operasi fraktur.

Perbedaaan Selisih Intensitas Nyeri Pasien Fraktur Kelompok Intervensi Dengan Kelompok Kontrol

Tabel 4.5 Perbedaaan selisih Intensitas Nyeri Pasien Fraktur Kelompok Intervensi Dengan Kelompok Kontrol (N=70)

Variable Kelompok

Perbedaan selisih intensitas nyeri kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dalam table 4.5 dapat dilihat dengan membandingkan selisih nilai intensitas nyeri kelompok kontrol yang hanya mendapatkan intervensi sesuai standar rumah sakit terhadap kelompok intervensi yang mendapatkan intervensi kompres dingin yang diuji mengunakan Mann Whitney U.

Terdapat perbedaan selisih intensitas nyeri sebelum dan sesudah kompres dingin dibandingkan dengan selisih intensitas nyeri sebelum dan sesudah manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit. Hasil dari uji Mann Whitney Test diperoleh nilai p = 0.001 yang mengalami perubahan nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompres dingin efektif mengurangi intensitas nyeri pasien pasca operasi fraktur.

BAB 5 PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, penulis akan menguraikan interpretasi dan pembahasan hasil penelitian serta menganalisa pengaruh kompres dingin terhadap intensitas nyeri pada pasien fraktur di RSUP H. Adam Malik Medan. Fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah penjelasan tentang hasil penelitian antara lain: Mengidentifikasi intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres dingin pada kelompok intervensi pasien pasca operasi fraktur, mengidentifikasi intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit pada kelompok kontrol pasien pasca operasi fraktur, menguji perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres dingin pada kelompok intervensi dengan manajemen nyeri sesuai standar rumah sakit pada kelompok kontrol pasien pasca operasi fraktur.

Karakteristik Responden Usia

Hasil penelitian jika dilihat dari usia menunjukkan bahwa responden yang mengalami fraktur bervariasi antara usia remaja akhir sampai dengan usia manula, yaitu berkisar antara 17 sampai dengan 65 tahun. Pada penelitian ini responden yang paling banyak ditemukan adalah yang berusia remaja akhir dan dewasa awal yaitu berkisar 17 sampai dengan 35 tahun. Penelitian Liang & Chikritzhs (2016) menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur berada pada rentang usia 18 sampai dengan usia 40 tahun. Hal ini dikarenakan secara keseluruhan resiko terjadinya fraktur akan terus meningkat sehubungan dengan bertambahnya usia responden.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Brown & Caesar (2006) yang menyatakan bahwa resiko mengalami fraktur berada pada rentang usia 20 sampai dengan 30 tahun. Hasil Riskesdas (2018) juga mendapatkan data bahwa usia 15 sampai dengan 34 tahun adalah usia terbanyak yang mengalami fraktur alat gerak yaitu sebesar 82,5 %. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan aktivitas yang dapat menyebabkan cedera dan menyebabkan perubahan pada kondisi kesehatan responden yang mengalami fraktur. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan data yang didapat dari sekian banyak kasus fraktur di indonesia, dimana fraktur pada ekstremitas terjadi akibat kecelakaan memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 45.987 (46,2%). Dari 45.987 orang dengan kasus fraktur ekstremitas diakibatkan karena kecelakaan (Riskesdas, 2018).

Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden baik dari kelompok intervensi maupun kelompok kontrol adalah laki-laki dimana kelompok intervensi sebanyak 29 (82,90%) responden dan kelompok kontrol sebanyak 19 (54,30%) responden. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wang (2013) yang menyatakan bahwa pasien yang mengalami fraktur lebih banyak pada laki-laki dari pada perempuan. Singer (2011) juga menyimpulkan dalam penelitiannya tentang demografi fraktur pada 15.000 pasien di Scotlandia, bahwa ada 3 puncak dari distribusi fraktur: pertama pada laki - laki usia produktif, kedua pada usia dewasa di kedua belah gender, ketiga pada wanita di usia diatas 40 tahun.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penjelasan dari Riskesdas (2018) yang menyebutkan bahwa data yang didapat adalah jenis kelamin laki-laki lebih

beresiko terhadap fraktur pada alat gerak yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yaitu sebanyak 80,9% dari seluruh penduduk di Indonesia.

Pendidikan

Jika dilihat dari pendidikan terakhir responden, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden pada kelompok intervensi memiliki jenjang pendidikan SMA sebanyak 27 (46,6%) responden. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas responden dengan jenjang pendidikan SMA sebanyak 31 (53,4%) responden. Penelitian Lemone, Burke, & Bauldoff (2016) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memahami dan mengikuti petunjuk agar dapat hidup sehat, apabila seseorang buta huruf akan mempengaruhi informasi baik tertulis maupun lisan tentang menjaga perilaku hidup sehat dan teratur. Menurut Notoadmodjo (2010) menyatakan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi perilaku hidup seseorang terhadap pola hidup sehari-harinya, secara umum apabila semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang makan akan semakin mudah dan cepat untuk mendapatkan atau memperoleh sumber informasi yang dapat merubah perilaku dan tingkat kesehatannya.

Pekerjaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dari kelompok intervensi adalah tidak bekerja, dimana kelompok intervensi sebanyak 28 (80,0%) responden dan kelompok kontrol mayoritas respondennya adalah pegawai swasta sebanyak 21 (60,0%) responden. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Putra (2010) yang menyatakan bahwa mayoritas responden bekerja sebagai wiraswasta.

Hal ini tidak mempengaruhi terjadinya fraktur karena pekerjaan apapun dapat menyebabkan seseorang mengalami fraktur.

Hasil Penelitian lain yang dilakukan Mock (2005) yang menyatakan bahwa responden yang bekerja memiliki kegiatan atau mobilisasi yang tinggi di luar rumah sedangkan responden yang tidak bekerja akan tidak berisiko terhadap kejadian fraktur karena responden yang tidak bekerja hanya melakukan kegiatan dirumah dan tidak beraktivitas diluar tempat tinggal, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang didapat dimana pasien yang tidak bekerja lebih banyak mengalami fraktur pada kekompok intervensi namun hasil penelitian ini sesuai pada responden kelompok kontrol yang mendapatkan responden paling banyak adalah pasien yang bekerja sebagai wiraswasta.

Nyeri Pada Pasien Fraktur Sebelum Diberikan Intervensi

Data yang berhubungan dengan deskripsi nilai intensitas nyeri sebelum dilakukan intervensi pada pasien fraktur ditunjukkan pada Tabel 4.2 bahwa intensitas nyeri sebelum diberikan intervensi berada dalam kategori nyeri sedang yaitu intensitas nyeri 4-6 sebanyak 34 (97,1 % ) pada kelompok intervensi dan 33 responden (94,2%) pada kelompok kontrol dan kategori nyeri berat dengan intensitas nyeri 7-10 sebanyak 1 (2,9 %) responden pada kelompok intervensi dan 2 responden (5,8%) pada kelompok kontrol. Jadi intensitas nyeri pasien fraktur sebelum dilakukan intervensi kompres dingin pada penelitian ini mayoritas berada dalam kategori intensitas nyeri sedang-berat yaitu intensitas nyeri >4.

Intervensi bedah merupakan pilihan utama untuk mengatasi fraktur sehingga pasien mengalami nyeri yang hebat setelah operasi meliputi tingkat nyeri mulai dari intensitas sedang hingga berat. Nyeri merupakan faktor negatif yang

mempengaruhi pemulihan pada pasien pascaoperasi. Trauma pascaoperasi menyebabkan aktifnya nosiseptor perifer dan visceral untuk menginduksi sensitisasi nyeri saraf sensorik pusat dan meningkatkan konduksi saraf sensorik perifer. Pada saat yang sama, kerusakan jaringan yang disebabkan oleh trauma pascaoperasi lebih lanjut dapat menyebabkan generasi dan agregasi mediator inflamasi sehingga nyeri semakin bertambah (Gong, 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh (Ling Yu, Chen & Lu Mei Chun, 2017) telah menunjukkan bahwa mekanisme terapi dingin dapat meningkatkan ambang nyeri termasuk penurunan konduksi saraf, penurunan kejang otot, dan pencegahan edema setelah cedera.Efek analgesik dari terapy dingin dapat dijelaskan dengan teori gate kontrol bahwa aplikasi dingin mengaktifkan neuron inhibisi yang mencegah neuron nosiseptif naik utnuk mengirimkan sinyal rasa nyeri ke otak, dengan demikian kompres dingin dapat menutup pintu gerbang nyeri.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa data pendukung yang didapatkan dari hasil pengukuran intensitas nyeri dimana mayoritas responden (97,1%) berada pada kategori intensitas nyeri sedang, responden dengan intensitas nyeri berat (2,9%), sementararesponden dengan intensitas nyeri ringan tidak ada.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Pierik (2015) yang mengatakan pasien fraktur datang ke rumah sakit dengan keluhan utama nyeri dan tidak menerima manajemen nyeri analgesik yang memadai sehingga lebih dari dua pertiga dari pasien fraktur masih memiliki nyeri sedang sampai berat.

Peranan kompres dingin pada pasien fraktur sangat penting, artinya pemakaian kompres dingin yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan pasien fraktur.

Nyeri Pada Pasien Fraktur Setelah Diberikan Intervensi

Data yang berhubungan dengan deskripsi nilai intensitas nyeri setelah dilakukan intervensi pada pasien fraktur ditunjukkan pada Tabel 4.2 bahwa nilai intensitas nyeri pada pasien fraktur setelah diberikan kompres dingin mayoritas nyeri pasien fraktur menurun menjadi nyeri ringan 1-3 terdapat 33 (94,3%) responden dan yang masih mengalami nyeri sedang 4-6 terdapat 2 (5,7%) responden, Sebaliknya pada kelompok kontrol intensitas nyeri pasien fraktur mayoritas masih dengan kategori sedang 4-6 sebanyak 28 responden (80,4%) dan yang mengalami penurunan intensitas nyeri ringan 1-3 hanya 7 responden (19,6%). Setelah diberikan intervensi pemberian kompres dingin jumlah responden pada kategori nyeri sedang dan berat berkurang dan meningkat pada kategori nyeri ringan. Hasil analisis Uji Wilcoxon Signed Rank pada kelompok intervensi didapat p value = 0,001 (p< 0,05) sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan nilai intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pemberian kompres dingin yang artinya tindakan atau intervensi yang dilakukan mempunyai pengaruh pada penurunan intensitas nyeri responden.

Setelah diberikan intervensi berupa pemberian kompres dingin yang diletakkan diatas daerah fraktur. Kompres dingin dilakukan selama 30 menit dengan menggunakan cold pack yang telah dibekukan didalam lemari es dengan suhu <18oC dan diberikan kepada responden setelah 4-5 jam pasien menerima analgesik. Setelah 15 menit pantau daerah yang diberikan kompres dingin untuk melihat adanya peradangan atau kemerahan pada kulit yang dapat mengakibatkan kerusakan saraf pada permukaan kulit disekitar kompres dingin. Selama 3 hari mayoritas responden mengalami penurunan skor ketika dinilai menggunakan

instrument NRS (Numeric Rating Scale), artinya mayoritas responden mengalami penurunan intensitas nyeri setelah pemberian intervensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan E Blok (2010) yang melaporkan dalam hasil penelitiannya bahwa kompres dingin yang ditekan sangat bermanfaat dalam pengurangan intensitas nyeri (p = 0,01). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Liying Pan (2015) yang menemukan skor intensitas nyeri pada kedua kelompok mendapatkan hasil yang signifikan berbeda pada hari pertama, kedua dan ketiga setelah pasien di operasi ( p = 0,05) sehingga benar bahwa kompres dingin memiliki fungsi analgesik yang dapat mengurangi rasa nyeri.

Walaupun mayoritas responden mengalami penuruan skala intensitas nyeri menjadi ringan, namun peneliti juga menemukan responden yang masih mengalami perubahan skala intensitas nyeri sedang. Hal ini mengingat ada banyak faktor psikologis yang mempengaruhi intensitas nyeri antara lain adalah kecemasan, gaya koping dan cultural yang dapat membedakan intensitas nyeri seseorang (Potter & Perry 2010).

Hasil penelitian telah menggambarkan bahwa pemberian kompres dingin pada pasien fraktur menunjukkan pengaruh yang positif untuk menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan oleh pasien fraktur sehingga pasien lebih merasa nyaman. Penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Kozier & Erb (2009) bahwa stimulasi kutaneus dapat memberikan terapi kompres dingin pada tubuh yang bertujuan untuk meredakan nyeri dengan memperlambat kecepatan konduksi saraf dan menghambat impuls saraf. Penelitian Saini (2015) juga sejalan dengan hasil penelitian ini yang telah mengatakan kompres dingin dengan cara merendam tangan yang fraktur ke dalam air dingin dengan suhu air 12 °C selama 5-10 menit

dapat mengurangi nyeri dengan cara membatasi rasa nyeri karena es memiliki efek analgesik sehingga dapat mengurangi intensitas nyeri pada cedera akut seperti fraktur.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan sebagai berikut: peneliti hanya melakukan kompres dingin pada pasien pasca operasi fraktur bagian ekstremitas yang dirawat diruang bedah pada hari ke 2 saja.

Implikasi Penelitian

Implikasi Terhadap Pendidikan Keperawatan

Pemberian kompres dingin dalam penelitian ini merupakan evidence based practice dan pengaplikasiannya juga mudah untuk dilakukan. Namun masih perlu diperhatikan lagi faktor-faktor yang juga dapat mempengaruhi intensitas nyeri pasien fraktur.

Implikasi terhadap Pelayanan Keperawatan

Pemberian kompres dingin dapat diaplikasikan saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien fraktur. Dengan mengaplikasikan kompres dingin diatas daerah fraktur dapat mengurangi intensitas nyeri yang dialami pasien.

Penelitian terdahulu juga melaporkan bahwa dengan pemberian kompres dingin mendapatkan hasil yang baik untuk mengatasi masalah nyeri pada muskuloskeletal, sehingga dapat diberikan juga pada pasien lain yang mengalami cedera pada tulang. Pemberian kompres dingin dapat digunakan sebagai terapi

komplementer disamping penggunaan terapi farmakologi untuk membantu mengatasi masalah nyeri yang dialami pasien.

Implikasi Terhadap Penelitian Keperawatan

Pemberian kompres dingin memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien fraktur. Penelitian ini memberikan perspektif baru tentang intervensi keperawatan melalui pendekatan terapi komplementer pada pasien yang mengalami nyeri.

Intervensi dengan pemberian kompres dingin ini diambil dari praktik berbasis bukti sehingga dapat diterapkan di seluruh aspek area keperawatan.

BAB 6

Dokumen terkait