CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran CTL membantu siswa untuk membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Pendekatan CTL mempunyai tujuh komponen, yaitu konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutama, dkk. (2015) pembelajaran dengan menerapkan tujuh komponen pendekatan CTL dalam aspek motivasi siswa untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif meningkat dari 44,44% menjadi 75,00%, dalam aspek keterlibatan siswa dalam memberikan pertanyaan meningkat dari 13,89%
menjadi 66,67%, dan dalam aspek keterlibatan siswa untuk memecahkan masalah meningkat dari 19,44% menjadi 72,22%. Data tersebut menunjukkan bahwa
Gambar 2.2. Segitiga Siku-siku
commit to user
pembelajaran dengan menerapkan tujuh komponen pendekatan CTL dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika yang berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa.
Perangkat pembelajaran membantu guru dan siswa untuk mempermudah dan memperlancar proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu RPP, LKS, dan THB. Dengan adanya RPP, LKS, dan THB dengan pendekatan CTL, diharapkan dapat mempermudah dan memperlancar proses pembelajaran, serta dapat membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Awofala, et al., (2012) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa kelas eksperimen yang diberikan pembelajaran dengan kooperatif yaitu dengan belajar berkolompok menghasilkan nilai akhir yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang diberikan pembelajaran secara individu. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa yang belajar berkelompok lebih tinggi daripada kemampuan siswa yang belajar secara individu. Di dalam penelitian ini, diharapkan komponen cooperative di dalam CTL mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Sutama, dkk. (2013) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual matematika dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari empat indikator, yaitu menyatakan ide matematika dengan berbicara, menggambarkan ide dalam model matematika, menuliskan ide matematika dalam bentuk visual, dan menjelaskan konsep matematika.
Di dalam pendekatan CTL terdapat komponen kontruktivisme, belajar tidak hanya sekedar menghafal dan megingat pengetahuan yang dimiliki, belajar merupakan suatu proses yang mendorong siswa untuk aktif dalam membangun pengetahuannya. Nartani, dkk. (2015) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan komunikasi matematika siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran kontekstual karena melalui pembelajaran kontekstual siswa mampu membangun konsep, ide, pengetahuan, dan gambaran nyata dengan kalimat matematika. Indikator peningkatan kemampuan komunikasi matematika ini dilihat dari siswa dapat menyatakan ide melalui kalimat matematika, siswa siswa dapat
commit to user
berdiskusi secara aktif mengenai hal-hal yang berkaitan dengan matematika, siswa dapat merumuskan definisi dan menggeneralisasikannya, dan siswa dapat menyatakan rumus dari definisi matematika dengan menggunakan kalimat sendiri.
Dengan adanya kemampuan-kemampuan tersebut, diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri, tidak hanya sekedar menghafal rumus, tetapi juga mengembangkan pengetahuannya untuk meningkatkan kemampuan matematikanya.
Ali (2012) dalam penelitiannya yang mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis kontekstual untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada materi bangun ruang prisma dan limas menyatakan bahwa perangkat pembelajaran yang dihasilkan telah memiliki potensial efek terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penelitian sebelumnya juga dilakukan oleh Rif’an, dkk. (2013) yang mengembangkan perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual setting kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada sub pokok bahasan persegi panjang dan persegi kelas VII SMP. Pada hasil penelitiannya, siswa termotivasi dalam pembelajaran karena dalam prosesnya siswa diajak untuk menemukan sendiri materi yang akan dipelajarinya.
Selain itu, siswa tidak mudah merasa bosan pada saat pembelajaran, hal ini dikarenakan dalam proses pembelajaran siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Supriyono, dkk. (2014) yang mengembangkan perangkat pembelajaran matematika model student facilitator and explaining setting CTL pada sub pokok bahasan prisma dan limas kelas VIII Semester Genap. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa salah satu materi matematika yang berhubungan dengan kehidupan nyata adalah Geometri. Sedangkan teorema Pythagoras merupakan sub materi dari Geometri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil teorema Pythagoras untuk dikembangkan perangkat pembelajarannya dengan pendekatan CTL. Peneliti merancang perangkat pembelajaran berdasarkan penelitian-penelitian tersebut. Penelitian-penelitian tersebut menjadi referensi penulis dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif yang nantinya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
commit to user C. Kerangka Berpikir
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal yang memegang peran penting. Pada kenyataan, banyak orang yang kurang puas dengan sistem pembelajaran yang lama yang berpusat pada guru. Sistem pembelajaran yang lama lebih menekankan pada keaktifan guru sehingga pada dasarnya siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Akibatnya hasil yang dicapai siswa dalam pelajaran matematika kurang optimal.
Untuk meningkatkan keaktifan siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, salah satunya yaitu CTL. Pendekatan CTL membantu siswa untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan CTL, siswa diharapkan mampu memahami materi dengan baik sehingga dapat mendorong siswa untuk mengkaitkan antara materi yang dipelajari dengan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, dibutuhkan suatu perangkat pembelajaran supaya pembelajaran dengan pendekatan CTL bisa terlaksan dengan baik. Perangkat pembelajaran yang dibutuhkan yaitu RPP, LKS, dan THB. RPP membantu guru agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan sistematis, LKS membantu siswa supaya lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran, dan THB untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di SMP Negeri di Madiun menunjukkan bahwa masih terdapat banyak masalah dalam pembelajaran matematika, diantaranya RPP yang dibuat menggunakan pembelajaran kooperatif, tetapi jika pembelajaran kooperatif diterapkan maka membutuhkan waktu yang banyak dan materi yang disampaikan cukup banyak sehingga pada kenyataannya dalam proses pembelajaran guru menggunakan pembelajaran konvensional karena lebih menghemat waktu. LKS yang digunakan belum mampu membangun pengetahuan siswa, permasalahan dalam LKS kurang mendorong siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki untuk menyelesaikan
permasalahan-commit to user
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Soal pada tes hasil belajar belum mencakup indikator yang ingin dicapai.
Materi teorema Pythagoras pada kurikulum KTSP dipelajari siswa di semester ganjil. Dari segi materi, materi teorema Pythagoras bisa diajarkan dengan pendekatan CTL karena banyak permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang penyelsaiannya dengan menggunakan teorema Pythagoras. Materi ini juga pernah dipelajari siswa pada saat Sekolah Dasar sehingga merupakan materi lanjutan. Dari segi waktu, materi ini dipelajari siswa di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama di semester ganjil.
Fakta menunjukkan, data nilai rerata Ulangan Harian kelas VIII SMP N 2 Dolopo pada materi teorema Pythagoras tiga tahun berturut-turut masih rendah dengan persentase ketuntasan klasikal dibawah 50%. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016 di SMP Negeri 2 Dolopo belum ada yang menggunakan pembelajaran Kontekstual.
Berdasarkan uraian-uraian yang telah disampaikan sebelumnya, diperlukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran dengan pendekatan CTL pada materi teorema Pythagoras. Pembelajaran matematika pada materi teorema Pythagoras dengan pembelajaran konvensional menghasilkan nilai rata-rata yang kurang optimal. Oleh karena itu, pembelajaran melalui perangkat pembelajaran dengan pendekatan CTL yang menekankan keaktifan siswa dan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa diharapkan dapat membuat prestasi belajar siswa menjadi lebih baik.
Perangkat pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan model pengembangan Plomp. Model pengembangan Plomp terdiri atas fase investigasi awal (preliminary investigation), fase desain (design), fase realisasi/konstruksi (realization/ construction), fase tes evaluasi dan revisi (tes evaluation and revision), serta fase implementasi (implementation). Perangkat pembelajaran layak digunakan apabila memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran dikatakan valid menurut ahli/validator. Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika secara teori, praktisi menyatakan bahwa perangkat pembelajaran tersebut dapat digunakan dengan revisi kecil atau tanpa revisi dan
commit to user
secara teori perangkat pembelajaran tersebut memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Perangkat pembelajaran dikatakan efektif jika perangkat pembelajaran yang dikembangkan mencapai indikator-indikator efektivitas pembelajaran, yaitu aktivitas peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran, keterlaksanaan sintaks pembelajaran, respon peserta didik terhadap pembelajaran, dan hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan penelitian yang relevan dalalm penelitian ini, menunjukkan bahwa kemampuan siswa yang belajar berkelompok lebih tinggi daripada kemampuan siswa yang belajar secara individu, pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa, perangkat pembelajaran berbasis kontekstual memiliki potensial efek terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa, dan melalui pembelajaran kontekstual siswa termotivasi dalam pembelajaran karena dalam prosesnya siswa diajak untuk menemukan sendiri materi yang akan dipelajarinya. Dari penelitian-penelitian tersebut, mengindikasikan bahwa pembelajaran CTL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada matematika dan untuk membuat proses pembelajaran matematika lebih mudah, peneliti memberikan solusi dengan mengembangkan perangkat pembelajaran dengan pendekatan CTL.
D. Hipotesis
Berdasarkan uraian pada kerangka berpikir disusunlah hipotesis bahwa:
1. Pembelajaran dengan pendekatan CTL yang dikembangkan oleh peneliti memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif sehingga layak digunakan dalam pembelajaran.
2. Pembelajaran dengan perangkat pembelajaran pendekatan CTL menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran dengan perangkat pembelajaran pendekatan konvensional.