• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Sebelumnya

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain yang dapat dipakai sebagai bahan masukan serta bahan pengkajian yang terkait dengan Kepemimpinan, telah dilakukan oleh :

1. Hernowo Narmodo dalam penelitianya yang berjudul Pengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Wonogiri. Dari uji vliditas dan reliabilitas, baik variable terikat maupun variable bebas menunjukan bahwa daftar kuesioner yang disampaikan kepada responden telah memenuhi persyaratan. Motivasi dan Disiplin mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Badan Kepegawaian Daerah Wonogiri. Disiplin mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja pegawai disbanding dengan motivasi. Motivasi dan Disiplin dapat menjelaskan variasi variable kinerja pegawai sebesar 56,6%, sedangkan 43,3% dijelaskan oleh variable lain di liar model.

2. Subowo (2005) dalam penelitanya yang berjudul Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Fisik dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan di PT. Pertamina (PERSERO) Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat, Cirebon. Dalam suatu perusahaan atau organisasi, kepemimpinan merupakan suatu faktor penting. Faktor kepemimpinan dapat memberi pengaruh yang berarti terhadap kinerja karyawan, karena pimpinan yang merencanakan, menginformasikan, membuat dan mengevaluasi berbagai keputusan yang harus di laksanakan oleh organisasi atau perusahaan tersebut. Susilo Martoyo (1998; hal.30) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan faktor yang penting bagi sumber-sumber dan alat-alat suatu perusahaan atau organisasi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap, gaya, dan perilaku pimpinan sangat berpengaruh terhadap karyawan yang di pimpinnya bahkan turut berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

2.2. Landasan Teori 2.2.1. Kinerja Karyawan

2.2.1.1. Pengertian Kinerja Karyawan

Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau presati yang sesungguhnay dicapai seseorang). Kinerja adalah hasil kerja seorang pegawai / karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya standart target, sasaran, atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama. Jika pegawai tidak melakukan pekerjaannya, maka suatu organisasi akan mengalami kegagalan. Perilaku manusia, tingkat, dan kualitas kerja ditentukan oleh sejumlah variabel perseorangan dan lingkungan (Laurensius, 2006:16). Menurut Mangkunegara (2006:67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.

Menurut As’ad dalam Agustina (2002) mengemukakan bahwa kinerja seseorang merupakan ukuran sejauhmana keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas pekerjaanya.

Menurut Tika (2006:121) mengemukakan bahwa ada 4 huruf (Empat) unsur-unsur yang. Terdapat dalam kinerja adalah hasil-hasil fungsi pekerjaan,

faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi karyawan, pencapaian tujuan organisasi, dam periode waktu tertentu.

Menurut Simanjuntak Payaman (2005:1) dalam bukunya Manajemen Dan Evaluasi Kinerja memberikan gambaran bahwa kinerja suatu organisasi atau perusahaan adalah akumulasi kinerja semua individu yang bekerja didalamnya. Dengan kata lain, upaya peningkatan kinerja organisasi dilakukan melalui peningkatan kinerja masing-masing individu.

2.2.1.2. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan : 1) Faktor Kemampuan

Secara psikologi, kemampuan karyawan terdiri dari kemampuan dalam hal kepintaran dan juga kemampuan dalam hal keahlian. Artinya karyawan yang memiliki keahlian diatas rata – rata dengan pendidikan sehari – hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh sebab itu, karyawan perlu ditempatkan pada pekerjaan sesuai dengn keahliannya.

2) Faktor Motivasi

Motivasi terbentuk dari sikap seorang karywan dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi pengerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (Mangkunegara, 2000:67).

2.2.1.3. Unsur – unsur Penilaian Kinerja Karyawan

Menurut Hasibuan (2002:56), kinerja pegawai dapat dikatakan baik atau dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu:

1. Kesetiaan

Kinerja dapat diukur dari kesetiaan karyawan terhadap tugas dan tanggung jawabnya dalam organisasi.

2. Prestasi Kerja

Hasil prestasi kerja karyawan, baik kualitas maupun kuantitas dalam menjadi tolok ukur kinerja.

3. Kedisplinan

Kedisiplinan pegawai dalam mematuhi peraturan – peraturan yang ada dan melaksanakan instruksi yang diberikan kepadanya dalam mencari tolok ukur kinerja.

4. Kreativitas

Kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitas dan mengeluarkan potensi yang dimiliki dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga bekerja lebih berdaya guna dan berhasil guna.

5. Kerja sama

Diukur dari kesediaan karyawan dalam berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain sehingga hasil pekerjaannya akan semakin baik. 6. Kecakapan

Kecakapan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya juga menjadi tolok ukur dalam meningkatkan kinerja. 7. Tanggung Jawab

Kinerja pegawai juga dapat diukur dari kesediaan karyawan dalam mempertanggung jawabkan pekerjaan dan hasil kerjanya.

2.2.1.4. Indikator Kinerja Karyawan

Cascio (1995) “Performance refers to an emloyee accomplishment of assigned task” artinya kinerja merupakan prestasi karyawan dari tugas-tugas yang di tetapkan

Menurut Subowo (2005) menyatakan bahwa indikator kinerja karyawan adalah sebagai berikut:

a. Kualitas Kerja. b. Kuantitas Kerja. c. Pengetahuan.

d. Keandalan. e. Kerjasama. 2.2.2. Kepemimpinan

2.2.2.1. Pengertian Kepemimpinan

Menurut Dubrin (2005:3) mengemukakan bahwa kepemimpinan itu adalah uapaya untuk mempengaruhi banyak orang melaui komunikasi untuk mencapai tujuan, cara mempengaruhi orang dengan petunjuk atau perintah, tindakan yang menyebabkan orang lain bertindak atau merespon dan menimbulkan perubahan positif, kekuatan dinamis penting yang memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan, kemampuan untuk menciptakan rasa percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan organisasi dapat tercapai.

Nimran (2004:64) mengemukakan bahwa kepemimpinan atau leader-ship adalah merupakan suatu proses mempengaruhi periaku orang lain agar dapat berperilaku seperti yang di kehendaki.

Anorage et al. (1995) dalam Tika (2006;64) mengemukakan bahwa ada sembilan peranan kepemimpinan seseorang dalam organisasi yaitu pemimpin sebagai perencana, pemimpin sebagai pembuat kebijakan, pemimpin sebagai ahli, pemimpin sebagai pelaksana, pemimpin sebagai pengendali, pemimpin sebagai pemberi hadiah atau hukuman, pemimpin

sebagai teladan dan lambang atau simbol, pemimpin sebagai tempat menimpakan segala kesalahan, dan pemimpin sebagai pengganti peran anggota lain.

2.2.2.2. Manfaat Kepemimpinan 1. Bagi individu.

Penelitian tentang sebab dan sumber kepuasan kerja memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup individu.

2. Bagi industri/organisasi

Penelitian mengenai kepuasan kerja dilakukan dalam rangka usaha peningkatan produksi dan pengurangan biaya melalui perbaikan sikap dan tingkah laku para karyawannya.

3. Bagi masyarakat

Dengan adanya pemahaman tentang kepuasan kerja sehingga karyawan dapat meningkatkan kinerja mereka yang pada akhirnya masyarakat akan menikmati hasil kapasitas maksimum dari sebuah organisasi.

2.2.2.3. Indikator Kepemimpinan

Kepemimpinan menurut (Ivancevich, 2001) adalah seorang pemimpin harus menyatukan berbagai keahlian, pengalaman, kepribadian, dan motivasi

setiap infividu yang di pimpinya. Menurut Subowo (2005) menyatakan bahwa indikator kepemimpinan adalah sebagai berikut :

a. Tingkat kualitas komunikasi antara pimpinan dengan bawahan.

b. Tinggi rendahnya tingkat kepercayaan yang diberikan oleh pimipinan kepada bawahannya dalam bentuk pendelegasian.

c. Kemampuan pimpinan dalam merangsang para bawahanya untuk berkerja secara optimal.

d. Kemampuan pimpinan dalam merangsang para bawahanya untuk meningkatkan kreatifitas karyawan.

e. Pengetahuan pimpinan tentang pekerjaan yang dilakukan baik secara teori maupun praktek di lapangan.

f. Keteladanan yang diperlihatkan oleh pimpinan kepada bawahan. 2.2.3. Disiplin Kerja

2.2.3.1. Pengertian Disiplin Kerja

Pengertian Disiplin Kerja Menurut pendapat Nitisemito (2002:199), Kedisiplinan adalah suatu sikap tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik tertulis maupun tidak tertulis. Menurut pendapat Handoko (2004:208), Disiplin adalah kegiatan manajemen untuk menjalankan

standar-standar organisasional. Dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan disiplin kerja adalah suatu usaha dari manajemen organisasi perusahaan untuk menerapkan atau menjalankan peraturan ataupun ketentuan yang harus dipatuhi oleh setiap karyawan tanpa terkecuali.

2.2.3.2. Jenis-Jenis Disiplin Kerja

Menurut Mangkunegara (2001) disiplin kerja ada 2 macam :

a. Disiplin Preventif merupakan suatu upaya untuk menggerakan pegawai mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan-aturan yang telah digariskan oleh perusahaan.

b. Disiplin Korektif merupakan suatu upaya menggerakan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan.

2.2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tegak tidaknya suatu disiplin kerja dalam suatu perusahaan. Menurut Saydam (2006:202), faktor-faktor tersebut antara lain:

a. Besar kecilnya pemberian kompensasi

b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan

f. Ada tidaknya perhatian kepada pada karyawan

g. Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin 2.2.3.4. Hal-Hal Yang Menunjang Kedisiplinan

Menurut Nitisemito (2002:123) ada beberapa hal yang dapat menunjang keberhasilan dalam pendisiplinan karyawan yaitu:

a. Ancaman

Dalam rangka menegakkan kedisiplinan kadang kala perlu adanya ancaman meskipun ancaman yang diberikan tidak bertujuan untuk menghukum, tetapi lebih bertujuan untuk mendidik supaya bertingkah laku sesuai dengan yang kita harapkan.

b. Kesejahteraan

Untuk menegakkan kedisiplinan maka tidak cukup dengan ancaman saja, tetapi perlu kesejahteraan yang cukup yaitu besarnya upah yang mereka terima, sehingga minimal mereka dapat hidup secara layak.

c. Ketegasan

Jangan sampai kita membiarkan suatu pelanggaran yang kita ketahui tanpa tindakan atau membiarkan pelanggaran tersebut berlarut-larut tanpa tindakan yang tegas.

d. Partisipasi

Dengan jalan memasukkan unsur partisipasi maka para karyawan akan merasa bahwa peraturan tentang ancaman hukuman adalah hasil persetujuan bersama.

e. Tujuan dan Kemampuan

Agar kedisiplinan dapat dilaksanakan dalam praktek, maka kedisiplinan hendaknya dapat menunjang tujuan perusahaan serta sesuai dengan kemampuan dari karyawan.

f. Keteladanan Pimpinan

Mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menegakkan kedisiplinan sehingga keteladanan pimpinan harus diperhatikan.

2.2.3.5. Indikator Disiplin Kerja

Menurut Heidrachman dan Husnan (2002:15) mengungkapkan bahwa

disiplin kerja adalah setiap perseorangan dan juga kelompok yang menjamin adanya

kepatuhan terhadap perintah dan berinisiatif untuk melakukan suatu tindakan yang

diperlukan seandainya ada perintah. Indikator disiplin kerja Abdurrahmat Fathoni (2006:173) adalah sebagai berikut :

b. Teladan pimpinan. c. Keadilan. d. Waskat. e. Sanksi hukuman. f. Ketegasan. g. Hubungan kemanusian. h. Balas jasa.

2.2.4. Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan

Ida Ayu Brahmasari (2008) menyatakan bahwa variable kepemimpinan mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja perusahaan, artinya kepemimpinan merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi banyak orang melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan oraganisasi diharapkan dapat menimbulkan perubahan positif berupa kekuatan dinamis yang dapat mengkoordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah di terapkan sesuai dengan koridor kedua pihak dan sesuai dengan jabatan yang dimiliki. Penelitian yang dilakukan oleh Subowo (2005) menyatakan bahwa kepemimpinan berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja karyawan. Selain itu perlu juga untuk menambah variabel yang lain sehingga hasil penelitian yang serupa akan memberikan informasi ilmiah yang lebih lengkap, mendalam dan teruji.

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatan kepemimpinan yang di berikan atasan terhadap bawahanya akan memberikan peningkatan yang berarti bagi kinerja karyawan dalam proses produksi di dalam perusahaan, dan begitu juga sebaliknya.

2.2.5. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan

Disiplin kerja berarti kesediaan untuk mematuhi peraturan / ketentuan yang berlaku dalam lingkungan organisasi kerja masing-masing, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja karyawan. Adanya kesediaan diharapkan pekerjaan akan dilaksanakan seefektif mungkin, bilamana kedisiplinan tidak dilaksanakan maka kemungkinan tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat dicapai secara efektif dan efisien (Nitisemito, 2002:200). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya semangat kerja dan disiplin kerja serta kesungguhan dalam bekerja, maka diharapkan dapat meningkatkan kinerja karyawan. Sehingga dalam penelitian ini disiplin mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja karyawan.

Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa setiap peningkatan disiplin pada karyawan terhadap suatu peraturan maka akan memberikan peningkatan yang berarti bagi kinerja karyawan dalam melaksanakan pekerjaan, dan begitu juga sebaliknya.

Dokumen terkait