MENGUNGKAP PENGHUNIAN PULAU NUSA PENIDA SEBAGAI JALUR MIGRASI KE WALLACEA
II. HASIL PENELITIAN
2.3. Hasil Penelitian (Survei)
Kecuali ekskavasi kotak galian diatas dilakukan pula survei dibeberapa Gua/Ceruk di kecamatan Nusa Penida yaitu:
1. Desa Pejukutan yaitu Song Sahang, Song Medayu dan Song Petung. 2. Desa Tanglad yaitu Song Tukad Teduh 1 dan Song Tukad Teduh 2. 3. Desa Suana yaitu Song Paon, Song Merarik dan Song Padang See.
Beberapa gua yang disurvei berpotensi sebagai Situs Arkeologi (Gua hunian pada masa lalu) berdasarkan dari morfologi gua, ketersediaan ruang, akses cahaya dan juga keberadaan sedimen di dalam gua tersebut. Gua hasil survei yang memiliki potensi dapat dilakukan penelitian lebih lanjut adalah Song Merarik di Desa Suana. Berdasarkan dari hasil Test Pit (ekskavasi dengan ukuran 1 x 1 meter) diperoleh data berupa artefak, ekofak dan juga fitur.
III. PEMBAHASAN
Dari data arkeologi yang ditemukan di situs Song Gede dan Song Merarit selain artefak juga ditemukan ekofak seperti tulang dari berbagai jenis binatang dan cangkang kerang yang juga mungkin dimanfaatkan sebagai salah satu sumber makanan. Song Gede sebagai tempat hunian pada masa prasejarah sangat penting dalam mengungkap mengenai pola kehidupan manusia masa lampau. Situs Song Gede dapat mengungkap strategi dalam pemenuhan kebutuhan, terutama dalam hal
8 makanan dengan adanya deposit limbah sisa makanan maupun peralatan yang digunakan. Sisa makanan dapat mengungkap pola tingkah laku dan strategi yang digunakan untuk memperolehnya, seperti tulang binatang mamalia besar yang mengindikasikan pola perburuan, maupun sisa makanan berupa cangkang kerang yang bias diperoleh dengan memungut (foraging).
Sisa fauna yang termasuk Filum Vertebrata yang ditemukan hanya terdiri dari 4 kelas, yaitu Pisces, Reptilia, Aves dan Mammalia. Sedangkan kelas Amphibia belum ditemukan. Sisa fauna dari kelas pisces terdiri atas rahang atas (maxilla), rahang bawah (mandibular), ruas tulang belakang (vertebrae) dan tajuk duri (prosessus vertebrae), serta gigi lepas. Sisa fauna dari kelas reptilian terdiri atas ruas tulang belakang yang berasal dari ordo ophidian (ular) dari famili varanidae (biawak). Sisa fauna dari kelas aves terdiri atas fragmen tulang paha (femur) dan tulang belikat (scapula).
Sisa fauna dari kelas mamalia terdiri atas sisa fauna dari ordo carnivore (pemakan daging) Famili viveridae (musang-musangan) dan Famili canidae. Bagian dari viveridae yang bias diidentifikasi terdiri atas fragmen rahang bawah, fragmen tulang lengan (humerus), gigi taring (canine) dan geraham (molar), sedangkan sisa fauna dari famili canidae dapat dikenali dari gigi taring. Selain kedua famili tersebut diatas ditemukan juga sisa dari famili suidae yang dapat dikenali dari tulang belikat (scapula), pada kotak U6T6 terdapat fragmen cranium dari macaca.sp.
Situs Song Gede merupakan situs gua hunian yang secara intensif dihuni oleh manusia. Pada masa prasejarah, khususnya ketika manusia memanfaatkan gua alam sebagai tempat tinggal, manusia hidup berkelompok dan merupakan kumpulan dari keluarga. Pada tingkatan awal perkembangan manusia, kumpulan dari manusia tersebut disebut juga dengan band. Band adalah komunitas pemburu yang berskala kecil yang umumnya krang dari 100 orang, yang berpindah dari setiap musim untuk memanfaatkan sumber-sumber makanan liar. Pada umumnya dimasa Paleolitik pendukung suatu situs merupakan kategori bands. Skala komunitas berupa band diperoleh dari pola pemukiman, karena salah satu pendekatan yang digunakan arkeologi mengenai studi organisasi social adalah berdasarkan pemukiman atau tentang pola pemukiman. Sehingga dalam pembahasan, manusia pendukung Song Gede disini diasumsikan sebagai kelompok yang menghuni situs Song Gede dalam
9 jangka waktu tertentu dan melakukan berbagai aktivitas dalam rangka untuk melangsungkan kehidupan.
Manusia pendukung situs Song Gede belum ditemukan rangkanya, namun dari hasil temuan tersebut pernah dilakukan analisis pertanggalan C.14 pada kotak II, Spit 6 yang konteksnya dengan kapak beliung menghasilkan angka tahun 3800 ± 25 BP (Suastika 2007, 66).
Selain itu analisis pertanggalan yang telah dilakukan dengan pertanggalan pada masa 6750 ± 35 BP, pada Spit 29 kotak VI. Pertanggalan lainnya yang telah dilakukan menghasilkan angka tahun cukup tua yaitu 8.800 BP (Hidayah, 2017). Hasil pertanggalan dari situs Song Gede yang paling tua berasal dari masa Holosen awal, dan tidak menutup kemungkinan telah dihuni jauh sebelum masa itu, maka Situs Song Gede berpotensi sebagai salah satu situs yang dapat mengungkap kehidupan masa Pleistosen atau Holosen awal di Indonesia. Hal tersebut penting untuk mengetahui proses dan jalur migrasi manusia modern di Indonesia khususnya dari wilayah Paparan Sunda ke Wilayah Wallacea.
Situs gua menjadi salah satu situs yang dijadikan sumber dalam rekonstruksi masa lalu. Karena situs gua merupakan situs yang banyak memberikan data tentang rekonstruksi sejarah budaya dan proses budaya masa lalu terutama masa Pleistosen hingga masa Holosen. Dengan kondisi yang tertutup oleh langit-langit gua, maka data arkeologi terdeposit lebih aman dari proses transformasi baik dari alam maupun manusia. Selain itu lapisan budaya yang terbentuk lebih mudah untuk diamati karena pembentukannya yang cenderung lebih lambat dan tidak terganggu oleh proses deposit dari alam yang lebih cepat seperti alam terbuka.
Pemanfaatan gua alam sebagai tempt tinggal dan sumber daya alam disekitar gua merupakan tema yang banyak diteliti oleh arkeolog, dan telah menghasilkan laporan ataupun artikel mengenai kehidupan hunian di gua. Manusia pada masa lampau memanfaatkan sumber daya alam disekitarnya untuk dikonsumsi, seperti yang berasal dari tanaman yang biasanya diperoleh dari jenis kacang-kacangan, biji-bijian, umbi-umbian maupun buah-buahan (Heekern 1972, 80). Sumber bahan makanan yang berasal dari binatang biasanya diperoleh dengan cara perburuan binatang, menangkap ikan, mencari kerang, siput serta hewan air lainnya yang bias dikonsumsi.
10 Sebagai bentuk adaptasi, manusia memanfaatkan sumber daya alam untuk keberlangsungan hidupnya dalam usaha memanfaatkan sumber daya alam itu, manusia membuat peralatan dan cara-cara untuk mempermudah kegiatan tersebut, yang merupakan bentuk dari teknologi. Dengan kelebihan yang dimiliki, maka manusia membuat alat untuk mempermudah mencari makanan, dengan berbahan baku seperti batu, kayu, tulang dan kerang. Dengan peralatan yang dibuat, manusi berburu binatang dan mengumpulkan makanan yang berada di sekitar lingkungan mereka (Soejono dkk 1984, 2).
Lebih khusus mengenai teknik pencarian pangan pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut dilakukan dengan berbagai cara diantaranya yaitu berburu (hunting), mengumpulkan (collecting), memungut (foraging), dan meramu (gathering) (Bawono 2008, 27-28). Hal ini masih dapat kita temui di suku-suku di Indonesia yang masih mengandalkan keberlangsungan hidupnya dari berburu dan mengumpulkan makanan.
IV. PENUTUP
Situs Song Gede Nusa Penida merupakan situs yang potensial untuk meneliti tentang kehidupan masa prasejarah khususnya masa ketika penghunian gua dilakukan manusia yaitu masa paleolitik dan mesolitik. Hasil data arkeologi yang ditemukan di Song Gede dapat merepresentasikan aktifitas manusia yang melakukan adaptasi dengan lingkungannya, dan memanfaatkan sumberdaya alam di sekitr lingkungan mereka untuk bertahan hidup, khususnya ditunjukkan dengan temuan sisa fauna berupa fragmen tulang. Banyaknya temuan fragmen tulang binatang yang sangat signifikan dapat memberikan keyakinan bahwa manusia telah menghuni Song Gede pada masa lampau.
Penelitian di Situs Song Gede Nusa Penida penting untuk dilanjutkan dan dijadikan sebagai salah satu situs dengan penelitian jangka panjang. Pada penelitian tahun ini telah dibuktikan bahwa masih terdapat sisa-sisa kehidupan masa lampau walaupun posisinya dibawah blok batugamping yang selama ini diasumsikan sebagai dasar Gua. Kedepan diperlukan ahli paleontology untuk mengidentifikasi temuan tulang, selain itu untuk mengetahui kronologi penghunian di Song Gede Nusa Penida, diperlukan dating absolut dari sampel yang diambil dari data arkeologi yang di temukan.
11 V. DAFTAR PUSTAKA
Bawono, Rochtri Agung. 2008. “Pola Subsistensi Manusia Penghuni gua prasejarah di Kawasan Perbukitan Jimbaran dan Sekitarnya”. Laporan Penelitian. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Gede, Dewa Kompiang. 2011. Situs Gua Gede, Dusun Pendem, Desa Pejukutan, Nusa Penida, Bali. Laporan Penelitian Arkeologi No.10. Balai Arkeologi Denpasar.
Heekeren, H.R.Van. 1972. Stone Age of Indonesia. Tha Hague Martinus Nijhoff. Hidayah, Ati Rati, 2017. Pemanfaatan Kerang dan Tumbuah di Situs Gua Gede
Pulau Nusa Penida, Bali. Tesis, Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Reitz, Elizabeth.J. and Elizabeth S. Wing. 2008. Zooarchaeology. Cambridge University Press.
Soejono, R.P. et al. 1984. “Sejarah Nasional Indonesia 1”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Steward, Julian H. 1955.Theory of Cultural Change.University of Illionis. USA. Suastika, I Made, 2008. Ekskavasi Situs Gua Gede, Nusa Penida, Kabupaten
Klungkung. Laporan Penelitian Arkeologi No 2. Denpasar: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Arkeologi Denpasar.
PENELUSURAN KRONOLOGI SEJARAH SITUS PURA GELANG AGUNG BANJAR