Data penelitian ini diambil pada tanggal 5 Februari 2015 di SMA Kristen Satya Wacana di Salatiga kelas X.BB dengan jumlah 30 pelajar, kelas X.MIA.1 dengan jumlah 27 pelajar, kelas X.MIA.3 dengan jumlah 28 pelajar, kelas X.IS.1 dengan jumlah 27 pelajar, kelas XI.BB dengan jumlah 22 pelajar, kelas XI.MIA.3 dengan jumlah 29 pelajar dan kelas XI.IS.2 dengan jumlah 26 pelajar. Jadi jumlah responden yang diberi angket penelitian ini adalah 189 orang.
Alat pengambil data yang digunakan adalah Skala Kecerdasan Emosional sebanyak 33 aitem dan Skala Perilaku Prososial sebanyak 23 aitem. Sebelum meminta
17
subjek untuk mengisi skala, peneliti memberitahukan petunjuk pengisian skala tersebut. Selama pengisian skala, peneliti menunggu subjek sampai selesai. Setelah subjek sudah selesai mengisi skala, peneliti mengumpulkan hasil skala yang telah diisi.
Data dalam penelitian ini dianalisis statistik dengan menggunakan program SPSS
17.0 for Windows. Sebelum dianalisis data disortir yang tidak memenuhi syarat dikeluarkan dari data seperti usia subjek kurang dari 15 tahun atau lebih besar dari 18 tahun. Hasilnya menghasilkan 172 data subjek yang memenuhi syarat dijadikan sampel penelitian untuk dianalisis.
Deskripsi Statistik Penelitian
Analisis data deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis. Berdasarkan skor yang didapat, maka diperoleh gambaran umum mengenai hubungan antara regulasi diri dengan kecenderungan adiksi game online pada remaja. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh mean empirik, mean hipotetik sebagai berikut :
Tabel 1
Gambaran umum Skor Variabel-variabel penelitian
Variabel Statistik Hipotetik Empirik
Kecerdasan emosi Skor minimal 31 82 Skor maksimal 155 138 Mean 93 115,98 Standart Deviation 15,5 12,83 Perilaku prososial Skor minimal 23 57 Skor maksimal 115 113 Mean 69 81,82 Standart Deviation 11,5 13,41
18 Deskripsi variabel Kecerdasan Emosional
Berdasarkan nilai mean dan standard deviasi disusunlah kategorisasi subjek penelitian untuk tiap variabel. Tujuan dari kategorisasi adalah untuk menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2007:107).
Tabel 2
Kategorisasi variabel Kecerdasan Emosi
Kategori Jenjang Jumlah
subjek Bobot Sangat Rendah ≤ 62 22 12,79% Rendah 62 < X ≤ 77,5 18 10,47% Sedang 77,5 < X ≤108,5 50 29,07% Tinggi 108,5< X ≤124 82 47,67% Sangat Tinggi X > 124 0 0% Total 100%
Berdasarkan kategorisasi kecerdasan emosi dapat dilihat bahwa Me = 115,98; Mh = 93 dan SDh = 15,5 artinya kecerdasan emosi yang dimiliki remaja di SMA Kristen Satya Wacana dalam kategori tinggi dan yang lainnya tersebar dalam level sedang sebanyak 29,07%, level rendah sebanyak 10,47% dan level sangat rendah 12,79%.
Deskripsi variable Perilaku Prososial
Hasil analisis distribusi frekuensi subjek untuk variabel Perilaku Prososial dipaparkan dalam Tabel 3.
19 Tabel 3
Kategorisasi variabel Perilaku Prososial
Kategori Jenjang Jumlah
subjek Bobot Sangat Rendah ≤ 46 12 6,98% Rendah 46 < X ≤ 57,5 24 13,95% Sedang 57,5 < X ≤80,5 53 30,81% Tinggi 80,5< X ≤92 69 40,12% Sangat Tinggi X > 92 14 8,14% Total 100%
Berdasarkan kategorisasi perilaku prososial dapat dilihat bahwa Me = 81,82; Mh = 69 dan SDh = 11,5 artinya perilaku prososial yang dimiliki remaja di SMA Kristen Satya Wacana dalam kategori tinggi dan yang lainnya tersebar dalam level sedang sebanyak 30,81%, level rendah sebanyak 13,95% dan level sangat rendah 6,98%, level sangat tinggi 8,14%
Hasil Uji Asumsi
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan metode analisis
Korelasi Product Moment dari Pearson. Sebelum menguji kebenaran hipotesis penelitian ini dilakukan uji asumsi sebagaimana dipersyaratkan dalam menggunaan statistik parametrik yaitu Korelasi Product Moment. Uji asumsi yang dimaksud adalah uji normalitas dan uji linearitas.
Uji Normalitas
Data tiap variabel penelitian ini diuji dengan menggunakan program uji normalitas sebaran. Perhitungan normalitas sebaran dilakukan dengan menggunakan teknik analisis
20
Tabel 4. Uji normalitas Variabel Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kecerdasan Emosional Perilaku Prososial
N 172 172 Normal Parameters(a,b) Mean 115,9767 81,8198 Std. Deviation 12,82813 13,40538 Most Extreme Differences Absolute 0,100 0,099 Positive 0,048 0,095 Negative -0,100 -0,099 Kolmogorov-Smirnov Z 1,311 1,297
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,064 0,069
a Test distribution is Normal. b Calculated from data.
Sumber : Data primer diolah, 2015
Uji normalitas pada variabel Kecerdasan Emosional menghasilkan koefisien K-SZ sebesar 1,311 dengan p = 0,064 ( p>0,05). Uji normalitas pada variabel Perilaku Prososial menghasilkan koefisien K-SZ sebesar 1,297 dengan p = 0,069 (p>0,05). Berdasarkan uji normalitas tersebut dapat disimpulkan bahwa distribusi dari kedua variabel tersebut adalah tersebar secara normal.
Uji Linearitas
Tujuan dari uji linearitas untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel penelitian. Hubungan yang linear menggambarkan bahwa perubahan pada satu variabel cenderung diikuti oleh perubahan pada variabel lain dengan membentuk garis linear. Hasil pengujian statistik Anova Linearity dengan program SPSS 17.0 dipaparkan pada tabel Anova berikut ini.
21
Tabel 5. Uji Linearitas Variabel Kecerdasan Emosional terhadap Perilaku Prososial ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Kecerdasan Emosional* Perilaku Prososial Between Groups (Combined) 11646,315 49 237,680 1,520 0,034 Linearity 6683,798 1 6683,798 42,730 0,000 Deviation from Linearity 4962,517 48 103,386 0,661 0,948 Within Groups 19083,098 122 156,419 Total 30729,413 171
Sumber : Data primer diolah, 2015
Uji linearitas variabel Kecerdasan Emosional terhadap variabel Perilaku Prososial menghasilkan nilai F penyimpangan linearitas sebesar 0,661 dengan nilai signifikansi = 0,948 (α > 0,05 atau p > 0,05)) pada deviation from linearity sehingga dapat dibuktikan bahwa pada taraf kepercayaan 95% persebaran variabel Kecerdasan Emosional terhadap variabel Perilaku Prososial tidak terjadi penyimpangan secara signifikan terhadap sebaran linearitas.
Hasil Uji Hipotesis dan Interpretasi
Hasil analisis Korelasi Product Moment dari Pearson dengan program SPSS 17.0 antara variabel Kecerdasan Emosional dan variabel Perilaku Prososial menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0,466 pada taraf signifikansi 0,000 (p < 0,05) sebagaimana tampak pada tabel 6.
22
Tabel 6. Korelasi Variabel Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial Correlations
Kecerdasan Emosional Perilaku Prososial
Kecerdasan Emosional Pearson Correlation 1 0,466** Sig. (2-tailed) . 0,000 N 172 172 Perilaku Prososial Pearson Correlation 0,466** 1 Sig. (2-tailed) 0,000 . N 172 172 ** Correlation is significant at the 0,01 level (2-tailed).
Sumber : Data primer diolah, 2015
Berdasarkan hasil analisis korelasi pada tabel 6 tersebut, terbukti secara statistik bahwa terdapat hubungan korelasional yang positif dan signifikan antara variabel Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial pada remaja, sebagaimana ditunjukkan dengan hasil koefisien korelasi rxy = 0,466 pada signifikansi = 0,000 (p < 0,05). Ini berarti hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif dan signifikan antara Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Prososial pada Remaja diterima.
Dengan diterimanya Hipotesis tersebut bermakna semakin tinggi skor Kecerdasan Emosional yang dimiliki remaja maka semakin tinggi pula kecenderungan skor Perilaku Prososialnya. Demikian juga sebaliknya semakin rendah skor Kecerdasan Emosional yang dimiliki remaja maka semakin rendah pula kecenderungan skor Perilaku Prososialnya. Ini berarti hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang diajukan sebelumnya.
Untuk melihat seberapa besar sumbangan efektif variabel Kecerdasan Emosional terhadap kecenderungan mempengaruhi Perilaku Prososial dapat dilihat dari koefisien determinan dari hasil analisis Regresi dengan program SPSS 17.0 yang ditunjukkan nilai
23
R Square sebesar 0,218. Ini berarti Kecerdasan Emosional memberikan sumbangan efektif terhadap kecenderungan Perilaku Prososial sebesar 21,8%, dan sisanya 78,2% ditentukan oleh faktor-faktor lain.
Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada hubungan korelasional yang positif dan signifikan antara Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial pada remaja, sebagaimana ditunjukkan dengan hasil koefisien korelasi rxy = 0,466; dan signifikansi = 0,000 (p < 0,05). Hubungan korelasional positif dan signifikan ini berarti semakin tinggi Kecerdasan Emosional yang dimiliki remaja maka semakin tinggi pula kecenderungan Perilaku Prososial. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah Kecerdasan Emosional yang dimiliki remaja maka semakin rendah pula kecenderungan Perilaku Prososial. Hasil penelitian ini berarti sesuai dengan hipotesis penelitian yang diajukan sebelumnya.
Berdasarkan tingkat signifikansi yang dimiliki untuk uji dua sisi yaitu nilai signifikansi = 0,000 (p < 0,01) berarti ada hubungan korelasi positif antara Kecerdasan Emosional terhadap kecenderungan Perilaku Prososial pada remaja adalah sangat signifikan. Dengan kata lain, tingkat kepercayaan dari kesimpulan berdasarkan hasil penelitian ini bahwa ada hubungan korelasi positif antara Kecerdasan Emosional terhadap kecenderungan Perilaku Prososial pada remaja 99% adalah benar dan dapat dipercaya.
Hal ini menunjukkan bukti secara statistik bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Hasil penelitian Asih dan Pratiwi (2010) menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi dan empati sangat mempengaruhi perilaku prososial seseorang. Seseorang yang secara emosional cerdas akan cepat dapat
24
mengenali emosi yang sedang dialaminya, dan dengan segera dapat mengelola emosi yang muncul (Mathews dkk, 2002). Potensi tersebut akan berdampak pada kemampuan menyelesaikan permasalahan dengan baik dan memaksimalkan kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan. Sedangkan tidak adanya kompetensi tersebut dapat menyebabkan kekacauan dalam kejiwaan yang dapat berupa depresi (Smith dan Blackwood, 2004). Ketidakmampuan mengelola emosi akan menyebabkan seseorang jatuh pada keadaan emosi negatif, hal ini terkait erat dengan peningkatan derajat depresi (Verstraeten, 2008).
Husada (2013) menyimpulkan bahwa seorang remaja dapat berperilaku sosial karena dirinya memiliki kecerdasan emosi yang tinggi di samping faktor pola pengasuhan orangtua yang demokratis. Hasil penelitian Rufaida (2009) menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara tingkat kecerdasan emosi dengan perilaku prososial. Seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik dapat mengendalikan emosinya. Emosi yang terkendali menyebabkan orang mampu berfikir secara lebih baik, melihat persoalan secara objektif (Walgito, 2004). Juga hasil penelitian Haryati (2013) menunjukkan bahwa seseorang yang matang emosinya dan memiliki religiusitas yang baik akan menunjukkan perilaku prososial yang tinggi.
Hal ini juga sejalan dengan teori Bradberry dan Luc (2006) yang menyatakan bahwa seseorang dengan kecerdasan emosional tinggi akan membentuk kompetensi seseorang dalam menyadari emosi yang dimilikinya, sehingga mampu mengelola emosinya dan mampu mengelola konflik antar personal. Kemampuan tersebut berdampak pada kemampuan menyelesaikan permasalahan dengan baik dan memaksimalkan kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan.
25
Salovey (2007) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Hurlock (1999) juga mengatakan bahwa kecerdasan emosi sebagai tidak meledaknya emosi di hadapan oranng lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Kecerdasan emosi menurut Salovey (2007) memiliki lima aspek yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Kecerdasan emosi pada remaja di penelitian ini tergolong tinggi yang ditunjukkan dengan distribusi subjek cenderung berkategorisasi Tinggi Ini berarti remaja di SMA Kristen Satya Wacana Salatiga ini rata-rata memiliki kemampuan kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial yang cukup baik.
Perilaku prososial pada remaja juga tergolong tinggi, hal ini dapat dilihat dengan distribusi subjek cenderung berkategorisasi Tinggi ini berarti remaja memiliki keinginan menolong orang lain yang cukup tinggi. Eisenberg dan Wang (dikutip Santrock, 2007) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan memiliki perilaku prososial bila dirinya memiliki kepedulian terhadap keadaan dan hak orang lain, perhatian dan empati pada orang lain serta berbuat sesuatu yang memberikan manfaat bagi orang lain. Perilaku prososial dapat memberikan pengaruh bagaimana individu melakukan interaksi sosial
Hasil penelitian ini memberi harapan baru bagi para orang tua yang memiliki anak remaja bahwa mayoritas para remaja ternyata berperilaku prososial meningkat, dalam arti mereka melakukan berbagai bentuk perencanaan atau tindakan untuk
26
menolong orang lain tanpa memperdulikan motif-motif si penolong (Sears, 1991). Mayoritas mereka (Sarwono, 2002) bertingkah laku positif yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik/psikis orang lain menjadi lebih baik yang dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain. Hasil ini sekaligus membuktikan ketidakbenaran adanya fenomena yang menyatakan menurunnya perilaku prososial pada remaja saat ini banyak terlihat dari rendahnya perilaku tolong menolong pada remaja.