A. Uji Seleksi Item dan Reabilitas
Berdasarkan pada perhitungan uji seleksi item skala kepemimpinan transformasional yang terdiri dari 21 item, diperoleh item yang gugur sebanyak 1 item, sehingga ditemukan 20 item valid. Selain itu skala self-efficacy yang terdiri dari 20 item dan diperoleh 3 item yang gugur sehingga ditemukan 17 item yang valid. Untuk menguji reliabilitas digunakan teknik koefisien Alpha Cronbach dengan koefisien Alpha pada skala kepemimpinan transformasional sebesar 0,688 dan reabilitas skala self-efficacy sebesar 0,646 . Hal ini berarti kedua skala tersebut reliabel.
B. Analisis Deskriptif
Kategorisasi pada kedua variabel dibuat berdasarkan nilai tertinggi dan nilai terendah yang diperoleh. Pada variabel self-efficacy nilai tertinggi adalah 4x20 = 80 dan nilai terendah 1x20 = 20 dengan nilai interval (i) sebesar 15. Sedangkan pada variabel kepemimpinan transformasional nilai tertinggi dengan 4x21 = 84 dan nilai terendah 1x21 = 21 dengan interval (i) sebesar 15.7
19 Tabel 1
kategorisasi kepemimpinan transformasional Pimpinan lembaga kemahasiswaan di UKSW
Interval Kategori frekuensi Persentase (%) Mean Sd 68,3 ≤ x < 84 Sangat tinggi 24 26,6 % 63,15 4,63 52,6 ≤ x < 68,3 Tinggi 76 84,4 % 36,9 ≤ x < 52,6 Sedang 0 21,2 ≤ x < 36,9 Rendah 0
Tabel 2 kategorisasi Self-efficacy Pimpinan lembaga kemahasiswaan di UKSW
Interval Kategori frekuensi Persentase (%) Mean Sd
65 ≤ x < 80 Sangat tinggi 22 24,4 % 61,61 3,72 50 ≤ x < 65 Tinggi 68 75,6 % 35 ≤ x < 50 Sedang 0 0 20 ≤ x < 35 Rendah 0 0 C. Uji Normalitas
Pada skala kepemimpinan transformasional diperoleh nilai K-S-Z sebesar 1,059 dengan probabilitas (p) atau signifikansi sebesar 0,062 (p>0,05). Sedangkan, pada skala self-efficacy diperoleh nilai K-S-Z sebesar 1,318 dengan probabilitas (p> 0,05) atau signifikansi sebesar 0,212. Dengan demikian skala kepemimpinan transformasionaldan skala self-efficacy berdistribusi normal.
20 Tabel 3
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
self_efficacy
kepemimpinan_t ransformasional
N 90 90
Normal Parametersa Mean 61.61 63.16
Std. Deviation 3.729 4.640
Most Extreme Differences Absolute .112 .139
Positive .112 .139
Negative -.089 -.070
Kolmogorov-Smirnov Z 1.059 1.318
Asymp. Sig. (2-tailed) .212 .062
a. Test distribution is Normal.
D. Uji Linearitas
Berdasarkan uji lineritas pada kedua variabel X ( Kepemimpinan transormasional) dan Y ( Self-efficacy) didapatkan hasil sebesar 0.181 ( sig >0.05) maka dapat disimpulkan terdapat hubungan linear yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan self-efficacy.
Tabel 4 Uji Linearitas
21 E. Uji Korelasi
Uji korelasi dilakukan dengan teknik pearson product moment karena kedua variabel berskala interval. Tabel 5 Uji Korelasi Correlations kepemimpinan_transformasional self_efficacy kepemimpinan_transformasi onal Pearson Correlation 1 .074 Sig. (2-tailed) .486 N 90 90
self_efficacy Pearson Correlation .074 1
Sig. (2-tailed) .486
N 90 90
Berdasarkan hasil yang terlihat pada tabel 2 di atas, ditemukan siginifikan ( Sig. 2-tailed) sebesar .486 (p > 0,05) yang berarti tidak signifikan. Hubungan variabel kepemimpinan transformasional dengan self-efficacy memiliki koefisieen korelasi sebesar .074 dengan taraf signifikan .486 (p > 0.05) yang menunjukkan tidak ada hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan self-efficacy.
PEMBAHASAAN
Berdasarkan perhitungan korelasi diperoleh nilai koefisien korelasi (r) = 0.74 dengan p sebesar 0.486 > 0,05 maka di ketahui bahwa tidak ada hubungan antara kepemimpinan transformasional dan self-efficacy. Hal ini menunjukan bahwa hipotesis awal penulis yaitu ada hubungan signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan self-efficacy di tolak. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu, pertama para fungsionaris pada umumnya
22 menganggap bahwa gaya kepemimpinan transormasional bukan menjadi hal utama untuk menciptakan serta meningkatkan self-efficacy di lingkungan lembaga kemahasiswaan. Hal itu mungkin disebabkan sebagian besar fungsionaris lembaga kemahasiswaan dalam menjalankan tugas dan fungsi mereka, kurang memperhatikan gaya kepemimpinan yang transformasional sehingga gaya kepemimpinan transformasional tidak berhubugan signifikan dengan self-efficacy mereka. Pernyataan ini didukung oleh hasil penelitian kimberley (2013) yang mengatakan kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh terhadap self-efficacy karena dalam beberapa organisasi kepemimpian transformasional terikat pada budaya organisasi serta kebijakan dalam organisasi. Pada beberapa organisasi, faktor yang memengaruhi self-efficacy adalah pengalaman akan kesuksesan individu tersebut atau juga jam terbang dalam organisasi bukan kepemimpinan transformasional. Hal ini juga mungkin terjadi pada fungsionaris lembaga kemahasiswaan dimana menurut mereka yang sangat memengaruhi self-efficacy mereka adalah sejauh mana pengalaman mereka dalam berorganisasi di lembaga kemahasiswaan sehingga membuat mereka lebih percaya pada kemampuan sendiri.
Hal yang kedua adalah sebagian funsionaris menganggap bahwa diri mereka adalah pekerja yang mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya tanpa menggunakan gaya keemimpinan transformasional sehingga gaya kepemimpinan transformasional tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan self-efficacy fungsionaris lembaga kemahasiswaan terhadap fungsionaris lembaga kemahasiswaan. Hal ini didukung oleh penelitian Desianty (2005) yang mengatakan gaya kepemiminan tidak akan memengaruhi self-efficacy karyawan karena self-efficacy karyawan lebih diengaruhi oleh pengalaman pribadi karyawan itu sendiri.
23
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada perhitungan korelasi pearson, dapat di simpulkan bahwa hipotesis di tolak yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan self-efficacy pada fungsionaris lembaga kemahasiswaan UKSW
2. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan self-efficacy pada fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan UKSW yang dimungkinkan karena faktor yang memengaruhi self-efficacy pada fungsionaris lembaga kemahasiswaan bukanlah gaya kepemimpinan transformasional.
B. Saran
1. Bagi Subjek Penelitian
Bagi teman-teman fungsionaris LK diharapkan dapat menggunakan kesempatan yang ada untuk berlatih meningkatkan self-efficacy dengan cara lebih berani mengunggkapkan segala sesuatu dengan baik dan benar melalui rapat atau pengambilan kebijakan. Selain itu, teman-teman pimpinan diharapkan berani melakukan tugas dan fungsinya dengan lebih yakin atau tidak ragu-ragu.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Pada penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan serta membutuhkan banyak masukan. Sehingga pada penelitian selanjutnya yang tertarik pada topik yang sama perlu melihat lagi kesesuaian antara kedua variabel ( X dan Y) dan subjek yang akan di teliti, selain itu disarankan untuk mengukur self-efficacy dengan melihat faktor-faktor yang lain bukan hanya kepemimpinan
24 transformasional. Peneliti selanjutnya juga disarankan menggunakan metode penilaian 360 derajat dimana subjek menilai dirinya sendiri, subjek dinilai oleh rekan sebaya dan anggota (bawahan).
b. Perlu menambah referensi baik dari segi teori maupun fenomena sekitar. C. Kelebihan Kekurangan Penelitianan
1. Kelebihan
Kelebihan penelitian ini adalah mampu menjawab seberapa jauh hubungan antara gaya kepemimpinan yang ada di lembaga kemahasiswaan dengan self-efficacy fungsionaris lembaga kemahasiswaan.
2. Keterbatasan
Kekurangan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang digunakan bersifat self appraisal dimana fungsionaris menilai diri mereka sendiri sehingga hasilnya subjektif.
25
Daftar Pustaka
Andarika, C (2004). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Self-Regulated dan Self- Efficacy Anggota Organisasi. Skripsi. Semarang : Univeristas Diponegoro.
Abidin, A (2011). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Transaksional Terhadap Self-Efficacy Pada Karyawan .
Bandura, A. 1986. Self Efficacy.The Exercise of acontrol. New York: W.H. Freeman and Company
Bass, B.M. (1985). Leadership and performance beyond expectations. New York: Free Press.
Bass, B.M. (1998). Transformational leadership: Industrial, military, and educational impact. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
Bass, B.M., & Avolio, B.J. (1996). Multifactor Leadership QuestionnaireBass, B. , Avolio J. (1992). MLQ Scale.
Diakses dari
https://www.google.co.id/webhp?sourceid=chrome-instant&ion=1&espv=2&es_th=1&ie=UTF-8#q=mlq%20questionnaire%20pdf&es_th=1
Destianty, S (2005). Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional Terhadap Self-Efficacy Karyawan PT Pos Indonesia (Persero) Semarang
Fred. , Chad. , (2010) Correlation Between Transfrormasional Leadership and Self-Efficacy with EI.
Griffin, . (2002). Kepemimpinan Dalam Organisasi. Edisi ke 5. Jakarta : Indeks
Hermanto, . (2004). Hubungan Self-Eficacy dengan Motivasi Berprestasi Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Bantul. Skripsi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Jeane, . (2010). Perbedaan Tingkat Stres Kerja Pada Organisasi Profit dan Nonprofit di Surabaya.
Jian,T. , Wei M. 2015. Global Esteem Mediates The Effect Of General
Self-Efficacy On Chinese Undergraduates’ General Procrastination. Guangzhou
Medical Journal volume 50.
Jiang, Z. (2013). Emotional Intelligence and Career Decision-Making Self-Efficacy: National and Gender Differences.
Kimberley (2013). Correlation Between Self Efficacy And Perception Of Leadhership Transformational Style With Job Participation On The Employees.
Lilik (2008). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Self-Efficacy Karyawan.
26 Madinna, F. (n.d.) . Teori Organisasi Richard L Daft : Capter 10.
Min, Q. , Bei, H. , Zhang, X. , Li, Y. 2015. Employees’ Psychological Ownership And Self-Efficacy As Mediators Between Performance Apprasial Purpose And Proactive Behavior. Social Behavior And Personality Journal, vol 43, no 7
Nielsen, K. , Munir, F (2009). How Do Transformational Leaders Influence Followers’ Affective Well-Being ? Exploring The Mediating Role Of Self-Efficacy. Journal of Work & Stress Vol. 23, No. 4.
Nobelina, A. 2011. Hubungan Antara Self-Efficacy dan Self- Regulated Learning Terhadap Tingkat Stres Mahasiswa Psikologi Yang Sedang Mengerjakan Skripsi. Skripsi. Salatiga: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana.
Sembiring, J. 2010. Perbedaan Motif Sosial Pada Tenaga Kerja Organisasi Profit dan Organisasi Non Profit. Diakses dari
https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&q=perbedaan+motif+sosial+pada+tenag a+kerja+profit+dan+nonprofit&btnG.
Siswoyo, D. (2007). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Pers.
Soviya (2005). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Komitmen Organisasi PT. POS Indonesia ( PERSERO) Semarang.
Tim Ad Hoc Amandemen KUKM BPMU 2010/2011. 2011. Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Titaley, J. 2013. Pilihan- Pilihan Satya Wacana: Renungan Idealisme UKSW. Salatiga: Satya Wacana University Press.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. 2012. Jakarta: PT. Armas Duta Jaya
Walumba, F. , Hartnell, C. (2011). Understanding Transormational Leadership Employee Perormance Link: The Role Of Relational Identification And Self-Eficacy. Journal of Occupational and Organizational Psychology.
Yildrim, I . 2010. Hubungan antara Self-Efficacy dengan Kepuasan Kerja . Widya Warta No 3 Tahun XXXIV
Yerusalem, M. , Schwarzer, R (2010). MCR/LEARNS Webinar : General Self- Efficacy Zimermman, . 2000. Dampak- Dampak Self-Efficacy. Tesis. Yogyakarta: Fakultas