• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis

Dalam dokumen PENGARUH COMPUTER ANXIETY (Halaman 29-37)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Hasil Penelitian Terdahulu dan Penurunan Hipotesis

Beberapa penelitian mengenai pengaruh computer anxiety terhadap keahlian menggunakan komputer antara lain telah dilakukan oleh Heinssen et al. (1987), Igbaria dan Parasuraman (1989), Rifa dan Gudono (1999), Indriantoro (2000), Sudaryono dan Astuti (2006), Tjandra (2007), serta Setyomurni dan Wijaya (2009).

Heinssen et al. (1987) melakukan penelitian terhadap mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa dengan computer anxiety yang lebih tinggi mempunyai kepercayaan terhadap kemampuan diri dan hasil kinerja yang lebih rendah daripada mahasiswa yang mempunyai computer anxiety lebih rendah. Apabila semua tugas dilaksanakan,

subyek dengan tingkat computer anxiety yang lebih tinggi memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas.

Igbaria dan Parasuraman (1989) dalam penelitiannya menemukan bahwa kecenderungan seseorang menjadi susah, khawatir, atau ketakutan terhadap komputer (computer anxiety) di masa sekarang dan di masa yang akan datang mempunyai pengaruh terhadap sikap pemakai mengenai TI. Oleh karena itu sikap negatif pemakai mengakibatkan rendahnya tingkat keahlian dalam penggunaan komputer. Tingginya computer anxiety mempunyai pengaruh negatif terhadap keahlian individu yang bersangkutan dalam menggunakan komputer.

Rifa dan Gudono (1999) melakukan penelitian terhadap 164 karyawan perusahaan perbankan mengenai penagruh faktor demografi dan personality terhadap keahlian dalam End User Computing (EUC). Faktor personality dalam penelitian tersebut adalah computer anxiety, math anxiety, dan computer attitudes. Penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa variabel computer anxiety (fear dan anticipation) mempunyai hubungan yang signifikan dengan keahlian End User Computing.

Indriantoro (2000) juga melakukan penelitian mengenai pengaruh computer anxiety terhadap keahlian dosen dalam menggunakan komputer. Sampel dalam penelitian tersebut adalah 54 dosen PTN dan PTS di Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemakai komputer yang memiliki tingkat computer anxiety yang tinggi akan menunjukkan tingkat keahlian yang lebih rendah daripada pemakai komputer yang memiliki tingkat computer anxiety yang rendah.

Sudaryono dan Astuti (2006) melakukan penelitian terhadap karyawan bagian akuntansi pada perusahaan tekstil di Surakarta. Sampel yang diambil dalam penelitian tersebut adalah 125 karyawan perusahaan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif computer anxiety terhadap keahlian dalam menggunakan komputer.

Tjandra (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh computer anxiety terhadap keahlian pemakai komputer. Sampel yang diambil adalah 239 mahasiswa AA YKPN. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa computer anxiety berpengaruh secara negatif signifikan terhadap keahlian pemakai komputer.

Selanjutnya Setyomurni dan Wijaya (2009) menggunakan sampel 137 mahasiswa STIE YKPN untuk meneliti pengaruh computer anxiety terhadap keahlian pemakai komputer. Hasil penelitiannya senada dengan peneliti-peneliti sebelumnya, yaitu terdapat pengaruh negatif signifikan computer anxiety terhadap keahlian pemakai komputer.

Penelitian ini menitikberatkan pada aspek perilaku pemakai secara individual yang diproksikan dengan tingkat computer anxiety dan pengaruhnya terhadap kinerja individual yang diproksikan dengan keahlian pemakai dalam menggunakan komputer. Semakin tinggi computer anxiety mempunyai pengaruh negatif terhadap keahlian individu yang bersangkutan dalam menggunakan komputer.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis satu yang dapat diturunkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1: Computer anxiety berpengaruh secara negatif terhadap computer

2. Hubungan computer anxiety dengan tingkat penerimaan teknologi.

Penelitian mengenai pengaruh tingkat penerimaan teknologi antara lain dilakukan oleh Rifa dan Gudono (1999), Syam (1999), serta Wijaya (2005). Rifa dan Gudono (1999) dalam penelitiannya mengenai pengaruh faktor demografi dan personality terhadap keahlian dalam End User Computing menyatakan bahwa karyawan yang lebih tua mempunyai lebih sedikit pengetahuan dan pelatihan komputer dibanding dengan karyawan yang lebih muda. Oleh karena itu mereka mempunyai sikap yang kurang baik terhadap mikrokomputer.

Syam (1999) dalam penelitiannya menyatakan bahwa aspek perilaku dan kemampuan pengaplikasian TI menjadi faktor penentu bagi kompleksitas TI tersebut. Semakin konstruktif perilaku dan semakin tinggi keahlian pengguna TI akan menyebabkan kompleksitas TI berdampak positif bagi strategi dan kelangsungan bisnis perusahaan.

Selanjutnya Wijaya (2005) melakukan penelitian mengenai penerimaan teknologi internet pada pegawai negeri di DIY dan penerimaan teknologi internet pada mahasiswa UKDW (Wijaya, 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi dapat diterima dengan baik oleh penggunanya karena dirasakan memberikan kemudahan dan kegunaan dalam membantu penggunanya dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Penerimaan yang baik ini tidak hanya terbatas pada penggunaan sekali atau dua kali saja, namun telah menjadi sebuah kebiasaan (habit) pada para penggunanya untuk selalu menggunakan teknologi ini sebagai salah satu gaya hidupnya. Semakin tinggi tingkat penerimaan teknologi seorang

individu maka kemampuan menggunakan komputernya cenderung lebih tinggi dibandingkan individu yang tingkat penerimaan teknologinya lebih rendah.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dua yang dapat diturunkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H2: Tingkat penerimaan teknologi berpengaruh secara positif terhadap

computer self-efficacy.

3. Perbedaan gender.

Beberapa penelitian mengenai perbedaan gender yang mempengaruhi keahlian dalam memakai komputer antara lain dilakukan oleh Rifa dan Gudono (1999), Trisnaningsih (2004), Rustiana (2004), Tjandra (2007), serta Setyomurni dan Wijaya (2009).

Rifa dan Gudono (1999) dalam penelitiannya mengatakan bahwa pria cenderung mempunyai keahlian komputer yang lebih baik daripada wanita dalam pekerjaannya. Harrison dan Rainer (1992) dalam Rifa dan Gudono (1999) menemukan bahwa personil EUC pria mempunyai keahlian komputer yang lebih tinggi daripada wanita. Disamping itu juga terdapat hasil penelitian yang mengatakan bahwa wanita menghadapi banyak masalah kesehatan sehubungan dengan penggunaan komputer (Alter, 1996 dalam Rifa dan Gudono, 1999). Lebih jauh Alter mengutip bahwa suatu penelitian yang menggunakan sampel kecil menemukan hasil bahwa wanita hamil yang menghabiskan waktu selama 20 jam atau lebih perminggu untuk bekerja pada Video Display Terminals (VDTs) akan menderita keguguran dua kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja pada VDTs selama tiga bulan pertama masa kehamilan.

Trisnaningsih (2004) dalam penelitiannya mengenai perbedaan gender menyatakan adanya pandangan umum bahwa laki-laki itu lebih berorientasi pada pekerjaan, obyektif, independen, agresif, dan pada umumnya mempunyai kemampuan lebih dibandingkan wanita dalam pertanggungjawaban manajerial. Wanita di lain pihak dipandang lebih pasif, lembut, orientasi pada pertimbangan, lebih sensitif, dan lebih rendah posisinya pada pertanggungjawaban dalam organisasi dibandingkan laki-laki.

Rustiana (2004) menyatakan bahwa CSE mahasiswa akuntansi pria lebih baik daripada CSE mahasiswa akuntansi wanita. Secara teoritis, perbedaan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan sosialisasi gender. Perbedaan sosialisasi gender menyatakan bahwa pria dan wanita membawa perbedaan nilai dan perlakuan dalam pekerjaannya. Perbedaan ini disebabkan karena pria dan wanita mengembangkan bidang peminatan, keputusan, dan praktis yang berbeda (Betz dan Shepard, 1989 dalam Rustiana, 2004). Pria akan melakukan apa saja untuk mencapai kesuksesan, termasuk untuk bertindak secara kreatif dan inovatif. Sebaliknya wanita, dalam melakukan tugas-tugasnya lebih mementingkan aspek harmonisasi dan kurang menunjukkan aspek kreatif dan inovatif.

Tjandra (2007) menyatakan bahwa perbedaan gender telah menyebabkan berbagai ketidakadilan baik bagi pria maupun wanita. Ketidakadilan gender tersebut dapat berwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan, misalnya marginalisasi, proses pemiskinan ekonomi, subordinasi pengambilan keputusan, stereotyping dan diskriminasi, kekerasan, bekerja untuk waktu yang lebih lama dan

wanita memikul peran ganda. Peran ganda tersebut terdiri dari peran publik (berkarir di luar rumah tangga) dan peran domestik (sebagai ibu rumah tangga). Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Setyomurni dan Wijaya (2009) menyatakan bahwa wanita cenderung lebih cemas dalam bekerja karena takut akan penilaian orang lain. Kecenderungan wanita untuk menjadi cemas dengan keterbatasan yang dimiliki disebut dengan istilah fear of success (Horner, 1974 dalam Setyomurni dan Wijaya, 2009).

Namun ada juga penelitian yang berhasil menemukan bahwa wanita mempunyai attitude yang positif dan menunjukkan level computer anxiety yang rendah dibanding pria (Siann et al., 1990 dalam Rustiana, 2004). Peneliti yang lain menemukan tidak ada perbedaan antra pria dan wanita dalam hal CSE.

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut variabel gender bisa memperlemah atau memperkuat pengaruh computer anxiety terhadap computer self-efficacy, hal ini didasarkan pada pengujian bahwa seorang wanita mempunyai computer anxiety yang lebih tinggi dibandingkan computer anxiety yang dimiliki pria. Dengan demikian, hipotesis tiga yang diturunkan dalam penelitian ini adalah:

H3: Gender memoderasi pengaruh computer anxiety terhadap computer

self-efficacy.

4. Locus of control.

Locus of control merupakan keyakinan individu bahwa individu bisa mempengaruhi kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kehidupannya. Menurut Rotter (1966) locus of control terdiri dari dua bagian, yaitu internal locus of control dan external locus of control.

Internal locus of control adalah individu yang meyakini bahwa apa yang terjadi selalu berada dalam kontrolnya dan selalu mengambil peran serta tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan. Mereka mengendalikan apa yang terjadi pada diri mereka. Kaum internal lebih aktif mencari informasi sebelum mengambil keputusan, serta lebih termotivasi untuk berprestasi dan melakukan upaya yang lebih besar untuk mengendalikan lingkungan mereka.

External locus of control adalah individu yang meyakini bahwa kejadian dalam hidupnya berada di luar kontrolnya. Mereka melihat bahwa apa yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti misalnya kemujuran dan peluang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa internal locus of control mempengaruhi kinerja (Frucot dan Shearon, 1991 dalam Setyomurni dan Wijaya, 2009).

Locus of control merupakan bagian dari sikap individu dalam merespon sesuatu. Menurut Bandura (1986) dalam Setyomurni dan Wijaya (2009) kecemasan terbentuk dari respon individu terhadap suatu penugasan individu terhadap masalah yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan variabel locus of control sebagai variabel moderasi dalam memperlemah atau memperkuat pengaruh computer anxiety terhadap CSE novice accountant, hal ini didasarkan pada pengujian apabila internal locus of control berperan dalam diri individu, kecemasan yang dialami individu dapat diminimalisasi sehingga kemampuan individu dalam menggunakan komputer akan meningkat, namun apabila yang berperan adalah external locus of control maka kecemasan akan meningkat sehingga menyebabkan tidak maksimalnya penggunaan komputer oleh seorang individu.

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis empat yang dapat diturunkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H4: Locus of control memoderasi pengaruh computer anxiety terhadap

computer self-efficacy.

C. MODEL PENELITIAN

GAMBAR 2.1.

Pengaruh Computer Anxiety dan Tingkat Penerimaan Teknologi Terhadap Computer Self-Efficacy: Gender dan Locus of Control

Sebagai Variabel Moderating

LOCUS OF CONTROL GENDER COMPUTER ANXIETY TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI COMPUTER SELF-EFFICACY

Dalam dokumen PENGARUH COMPUTER ANXIETY (Halaman 29-37)

Dokumen terkait