BAB II LANDASAN TEOR
C. Kredit
9. Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam penelitiannya, dengan menggunakan regresi jalur menunjukkan perolehan angka inflasi sebesar -1,494. Sehingga dapat dikatakan bahwasanya tingkat inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap posisi kredit modal kerja. Sedangkan pada suku bunga SBI diperoleh angka sebesar 5,427% sehingga dapat dikatakan bahwa suku bunga SBI mempunyai pengaruh terhadap posisi kredit modal kerja dan hubungan suku bunga kredit modal kerja terhadap posisi kredit modal kerja mempunyai angka yang signifikan sebesar -10,910. Sementara secara simultan/ secara bersamaan, tingkat inflasi, DPK, suku bunga kredit modal kerja mempunyai nilai 0,000 yang artinya secara simultan ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap posisi kredit modal kerja.
2. Menurut Putu Oktavia
Dari hasil perhitungan, diperoleh hasil t-hitung untuk 1 sebesar 3,776 sementara t-tabel pada tingkat kepercayaan 5% adalah sebesar 1,753,dengan kata lain t-hitung > t-tabel. Artinya, variabel independen (pertumbuhan jumlah uang beredar) memengaruhi variabel dependen (tingkat inflasi) secara signifikan.
Koefisien determinasi (R2). R2 menjelaskan seberapa besar persentasi
total variasi variabel dependen yang dijelaskan oleh model, semakin besar R2 semakin besar pengaruh model dalam menjelaskan variabel dependen. Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1. Suatu R2 sebesar 1 berarti ada
kecocokan sempurna, sedangkan yang bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.
Dari hasil perhitungan diperoleh R2 sebesar 0,456. Artinya, variabel
pertumbuhan jumlah uang beredar menjelaskan terjadinya perubahan tingkat inflasi sebesar 45,6%. Sementara sisanya, yaitu 54,4%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model ini.
Secara teoretis, tingkat inflasi dipengaruhi oleh jumlah uang beredar. Dalam teori kuantitas uang, ditunjukkan bahwa jika jumlah uang beredar meningkat, maka akibatnya dapat dilihat dari ketiga variabel lainnya: harga harus naik, kuantitas output harus naik, atau kecepatan perputaran uang harus turun. saat Bank Sentral mengubah jumlah uang beredar (M) dan menyebabkan perubahan proporsional terhadap nilai output nominal (PY), perubahan tersebut akan tercermin dalam tingkat harga (P). Karena tingkat inflasi ditunjukkan oleh perubahan persentase dalam tingkat harga, maka meningkatnya jumlah uang beredar akan menyebabkan inflasi.
3. Menurut Ni Nyoman Aryaningsih
Perhitungan analisis regresi linier berganda secara parsial diperoleh nilai koefisien regresi suku bunga terhadap permintaan kredit sebesar 0,659 (65,9%) ini berarti suku bunga berpengaruh terhadap permintaan kredit sebesar 65, 9% sisanya sekitar 34,1% dipengaruhi oleh variabel lain. Namun dari uji t, diperoleh hitung lebih kecil dari t table, sehingga suku bunga tidak berpengaruh secara parsial terhadap permintaan kredit.
Kedua, perhitungan analisis regresi linier berganda secara parsial diperoleh nilai koefisien regresi inflasi terhadap permintaan kredit sebesar 0,475 (47,5%). Sisanya sekitar 52,5% permintaan kredit dipengaruhi oleh variabel lain. Dari hasil perhitungan dengan uji t variabel inflasi secara partial tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan kredit.
Ketiga, perhitungan analisis regresi linier berganda secara parsial diperoleh nilai koefisien pengaruh penghasilan terhadap permintaan kredit sebesar 0,739 (73,9%). Ini berarti penghasilan berpengaruh sebesar 73,9% Sisanya sekitar 26,1% dipengaruhi oleh variabel lain. Dari hasil perhitungan dengan uji t, variabel pendapatan berpengaruh secara parsial terhadap permintaan kredit.
Keempat, perhitungan uji statistika regresi linier berganda secara simultan menunjukan suku bunga, inflasi, dan pendapatan secara simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan kredit. Hasil ini ditunjukan oleh perolehan F hitung 2,443 lebih kecil dari F tabel sebesar 2,82.
4. Menurut Luciana Spica Almilia dan Anton Wahyu Utomo
Dalam penelitiannya tentang tingkat suku bunga deposito menyimpan bahwa faktor internal ternyata paling berpengaruh terhadap tingkat suku bunga deposito berjangka yang artinya bahwa kinerja perbankan itu sendiri lebih mempengaruhi dalam penetapan suku bunga deposito dibandingkan dengan faktor eksternal yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini. Hal ini dapat dilihat bahwa kinerja bank yang diproduksi dari rasio ROA
dan LDR ternyata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan tingkat suku bunga deposito berjangka 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan dibandingkan dengan faktor eksternal yaitu tingkat inflasi yang hanya mampu mempengaruhi secara signifikan pada tingkat suku bunga deposito berjangka 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan Bank Umum di Indonesia selama periode yang ditentukan dalam peneitian.
5. Menurut Rian Wahyudi
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analisis Hipotesis yang digunakan yaitu analisis korelasi sederhana, analisis koefisien determinasi, dan analisis regresi sederhana. Dari hasil penelitian didapat bahwa jumlah dana pihak ketiga diperoleh kenaikan sebesar Rp3.545.056.106,- atau meningkat sebesar 34,04% dari bulan sebelumnya. Sedangkan jumlah kredit yang diberikan mencapai pada angka tertinggi dimana jumlah pemberian kredit meningkat sebesar 11,74% atau naik sebesar Rp 4.726.667.184 dari bulan sebelumnya. Hasil analisis korelasi sederhana menunjukan bahwa adanya hubungan yang sangat kuat dan positif antara jumlah dana pihak ketiga dengan pemberian kredit karena memiliki koefisien korelasi sebesar 0,8929789 sedangkan nilai koefisien determinasi adalah sebesar 79,74%, berarti kontribusi peningkatan jumlah dana pihak ketiga menyebabkan peningkatan pemberian kredit sebesar 79,74% dan sisanya berasal dari faktor lain diluar dana pihak ketiga. Hasil analisis regresi sederhana menunjukan persamaan regresi, yaitu Y = 27404686,92 + 0,3035097X. Dana pihak ketiga memiliki pengaruh
signifikan terhadap pemberian kredit, hal ini didasarkan atas hasil uji signifikansi persamaan regresi dimana t hitung sebesar 9,305612 > t tabel sebesar 2,074
6. Menurut Ardi Purnama
Penelitian mengenai pengaruh giro, tabungan dan deposito terhadap kredit menunjukkan bahwa dari hasil pengujian secara bersama-sama/ simultan dengan menggunakan uji signifikansi simultan (uji statistik F), terhadap hipotesis 1 (satu) menyatakan bahwa seluruh variabel independent secara bersama-sama/simultan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel dependent. Dengan signifikasi sebesar 0,0000 maka dapat dikatakan pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent adalah sangat signifikan karena jauh lebih kecil dari 1% atau 0,01. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggabungan Jumlah Giro, Tabungan, dan Simpanan Berjangka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Jumlah Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Keadaan ini menunjukkan bahwa penggabungan variabel Jumlah Giro, Tabungan, dan Simpanan Berjangka sangat relevan digunakan sebagai prediksi dalam pengelolaan penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.
Nilai derajat hubungan R atau koefisien kolerasi simultan (R) sebesar 0,9878 menunjukkan hubungan antara variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependent) sangat kuat karena diatas 0,80. Sedangkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9757 menunjukkan kontribusi dan
variabel-variabel independent dalam menerangkan variabel dependent-nya sebesar 97,57%. Dapat disimpulkan bahwa kontribusi Jumlah Giro, Tabungan, dan Simpanan Berjangka dalam menjelaskan variasi penyaluran Kredit Yang Diberikan sebesar 97,57% dan 2.43% sisanya adalah Koefisien Non Determinasi yaitu prosentase pengaruh faktor lain terhadap variabel terikat (dependent) dengan kata lain 2.43% penyaluran Kredit Yang Diberikan dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.
Pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) yang besar menunjukkan penggabungan variabel-variabel Jumlah Giro, Tabungan, dan Simpanan Berjangka, sangat relevan digunakan sebagai prediksi dalam mengelola penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. di masa yang akan datang.
Namun dari hasil pengujian secara parsial/individual dengan menggunakan uji signifikansi Individual (Uji statistik t), terhadap hipotesis 2 (dua) menyatakan bahwa variabel independent X1 secara parsial/
individual memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap variabel dependent. Dengan signifikasi sebesar 0,1687 maka dapat dikatakan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah tidak signifikan karena jauh lebih besar dari 5% atau 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Jumlah Giro tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Jumlah Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Keadaan ini menunjukkan bahwa variabel Jumlah Giro tidak relevan digunakan sebagai prediksi dalam pengelolaan
penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.
Selain itu nilai derajat hubungan r atau koefisien kolerasi simultan untuk variabel X1 sebesar 0,1998 menunjukkan hubungan antara variabel bebas
(independent) dan variabel terikat (dependent) sangat lemah karena dibawah 0,20. Pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) yang tidak signifikan menunjukkan variabel Jumlah Giro tidak relevan digunakan sebagai prediksi dalam mengelola penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. di masa yang akan datang.
Hal tersebut dimungkinkan terjadi dikarenakan Giro merupakan jenis simpanan berskala besar yang tidak memiliki batas pengambilan. Sehingga dana yang berhasil dihimpun oleh pihak bank berupa Giro ditempatkan pada aktiva lain yang lebih memiliki likuditas yang tinggi. Hal ini bertolak belakang dengan dugaan semula bahwa variabel Jumlah Giro berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.
Sedangkan dari hasil pengujian secara parsial/individual dengan menggunakan uji signifikansi individual (Uji statistik t), terhadap hipotesis 3 (tiga) menyatakan bahwa variabel independent X2 secara parsial/
individual memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel dependen. Dengan signifikasi sebesar 0,0000, maka dapat dikatakan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah sangat
signifikan karena jauh lebih kecil dari 1% atau 0,01. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Jumlah Tabungan memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap Jumlah Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Keadaan ini menunjukkan bahwa variabel Jumlah Tabungan sangat relevan digunakan sebagai prediksi dalam pengelolaan penyaluran Kredit yang diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.
Nilai derajat hubungan r atau koefisien kolerasi simultan untuk variabel X2 sebesar 0,8756 menunjukkan hubungan antara variabel bebas
(independent) dan variabel terikat (dependent) sangat kuat karena diatas 0,80. Pengaruh variabel bebas bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) yang sangat signifikan menunjukkan bahwa variabel Jumlah Tabungan sangat relevan digunakan sebagai prediksi dalam mengelola penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. di masa yang akan datang.
Begitu pula dengan hasil pengujian secara parsial/ individual dengan menggunakan uji signifikansi Individual (Uji statistik t), terhadap hipotesis 4 (empat), menyatakan bahwa variabel independen X3 secara parsial/
individual memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel dependen. Dengan signifikasi sebesar 0,0397, maka dapat dikatakan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah signifikan karena lebih kecil dari 5% atau 0,05 dan lebih besar dari 1% atau 0,01. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Jumlah Simpanan Berjangka
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Jumlah Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Keadaan ini menunjukkan bahwa variabel Jumlah Simpanan Berjangka relevan digunakan sebagai prediksi dalam pengelolaan penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.
Nilai derajat hubungan r atau koefisien kolerasi simultan untuk variabel X3 sebesar 0,2948 menunjukkan hubungan antara variabel bebas
(independent) dan variabel terikat (dependent) adalah lemah karena diatas 0,20 dan dibawah 0,40. Pengaruh variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) yang signifikan menunjukkan variabel Jumlah Simpanan Berjangka sangat relevan digunakan sebagai prediksi dalam mengelola penyaluran Kredit Yang Diberikan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk di masa yang akan datang.