BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut ini terdapat beberapa penelitian penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagaimana ditunjukan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
Aspek Rakhmawati (2015) Nasir (2015) Andika (2017) Judul Analisis Potensi Zakat
Entitas pada Bank Umum Syariah (BUS)
Analisis Perhitungan Zakat Perusahaan (Studi Kasus Pada
Analisis Metode Perhitungan Zakat Perusahaan Dagang
27
Di Indonesia Masing-Masing Sektor Perusahaan Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia) Tercatat Di Bursa Efek Indonesia
Penelitian kualitatif Penelitian kualitatif Yuridis Empiris Hasil
Penelitian
Penggunaan metode net asset method akan menghasilkan jumlah zakat yang lebih besar
Perhitungan zakat perusahaan dengan hasil yang paling besar menggunakan metode T.E Gambling dan R.A Karim. Sedangkan hasil perhitungan zakat perusahaan yang paling rendah adalah
metode yang zakat dengan tingkat tetap (fixed rate),
Sumber: (Andika, 2017; Nasir, 2015; Rakhmawati, 2015).
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis lakukan. Kesamaan tersebut dapat terlihat dalam beberapa hal: topic yang digunakan yaitu tentang zakat dan zakat perusahaan dan objek penelitian secara umum yaitu BUS di Indonesia.
Sementara itu, perbedaannya adalah penelitian terdahulu terfokus pada simulasi perhitungan zakat perusahaan oleh suatu instansi/perusahaan berdasarkan metode perhitungan yang telah dirumuskan oleh suatu lembaga.
Sedangkan penelitian yang penulis lakukan terfokus pada penerapan zakat perusahaan yang terjadi pada BUS di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun (2013-2017).
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pemilihan jenis dan pendekatan penelitian ini disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu untuk menjelaskan perkembangan penerapan zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia dari tahun 2013 sampai tahun 2017 dan untuk memberikan analisis atas penerapan zakat perusahaan pada Bank Umum Syariah di Indonesia.
B. Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah
1. Penerapan zakat oleh BUS di Indonesia pada periode 2013 s.d 2017, diantaranya mengenai perkembangan jumlah realisasi zakat perusahaan dan jalur distribusi zakat yang dilaksanakan BUS.
2. Analisis atas perlakuan akuntansi zakat perusahaan oleh BUS di Indonesia.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data penelitian ini adalah data sekunder, dengan menggunakan sumber data dari annual report BUS tahun 2013-2017. Informasi yang akan dianalisis dalam annual report ini yaitu mengenai zakat perusahaan berupa penjelasan mengenai kebijakan perusahaan berkaitan dengan zakat perusahaan dan saluran distribusi zakat perusahaan yang terdapat pada laporan manajemen, tanggung jawab sosial perusahaan dan laporan keuangan.
Populasi penelitian ini adalah Bank Umum Syariah di Indonesia. Berikut adalah informasi mengenai jumlah BUS di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2013 s.d 2017.
Tabel 3.1 Jumlah Bank Umum Syariah Di Indonesia
Tahun 2013 2014 2015 2016 2017
Jumlah BUS 11 12 12 13 13
Sumber : Data diolah penulis
Pada tahun 2013 terdapat 11 BUS di Indonesia, yaitu: PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank Victoria Syariah, PT Bank BRISyariah, PT Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah, PT Bank Panin Dubai Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT BCA Syariah dan PT Maybank Syariah Indonesia (Bank Indonesia, 2013, p.2). Dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2013 s.d 2017 terjadi penambahan BUS yaitu PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah pada tahun 2014 (Otoritas Jasa Keuangan, 2014, p.2) dan PT Bank Aceh Syariah pada tahun 2016 (Otoritas Jasa Keuangan, 2016, p.5).
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka.
Studi pustaka adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teori-teori dari literatur baik berupa jurnal, buku, atau karya tulis yang relevan dengan topik yang dibahas (Widodo, 2017, p.75).
Selain menggunakan studi pustaka, penelitian ini juga menggunakan metode studi lapangan melalui proses dokumentasi. Dokumentasi adalah kegiatan pengumpulan data melalui dokumen yang berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti (Widodo, 2017, p.75). Dokumen yang digunakan adalah annual report BUS tahun 2013-2017.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Mengumpulkan data annual report tahun 2013-2017
31
2. Mengidentifikasi informasi tentang zakat pada annual report BUS tahun 2013-2017. Adapun data yang diidentifikasi adalah sebagai berikut:
a. Penerapan zakat pada BUS di Indonesia tahun 2013 - 2017 1) Sumber dan jumlah dana zakat
2) Perkembangan jumlah realisasi zakat perusahaan 3) Jalur distribusi zakat yang dilaksanakan BUS
b. Analisis perlakuan akuntansi zakat perusahaan pada BUS di Indonesia.
1) Metode perhitungan zakat perusahaan 2) Pengakuan zakat perusahaan
3) Penyajian zakat dalam laporan keuangan
3. Membuat kesimpulan mengenai penerapan zakat pada bank umum syariah di Indonesia.
32
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah Bank Umum Syariah di Indonesia.
Selama kurun waktu lima tahun (2013 s.d 2017) jumlah BUS mengalami peningkatan yaitu dari 11 menjadi 13 BUS. Berikut adalah informasi mengenai 13 BUS di Indonesia.
Tabel 4.1. Bank Umum Syariah di Indonesia
No BUS Menjadi BUS
1 PT Bank Aceh Syariah 2016
2 PT Bank Muamalat Indonesia 1992
3 PT Bank Victoria Syariah 2010
4 PT Bank BRISyariah 2009
5 PT Bank Jabar Banten Syariah 2010
6 PT Bank BNI Syariah 2010
7 PT Bank Syariah Mandiri 1999
8 PT Bank Mega Syariah 2004
9 PT Bank Panin Dubai Syariah 2009
10 PT Bank Syariah Bukopin 2009
11 PT BCA Syariah 2010
12 PT Maybank Syariah Indonesia 2010
13 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah 2014
Sumber : Laporan Tahunan Bank Umum Syariah, 2017
2. Penerapan Zakat BUS Di Indonesia
a. Sumber dan Jumlah Dana Zakat Pada Bank Umum Syariah Sumber zakat yang dikelola BUS berasal dari zakat karyawan, perusahaan, nasabah dan umum. Berikut adalah
33
informasi jumlah dana zakat tersebut selama kurun waktu penelitian.
Tabel 4.2. Jumlah Dana Zakat BUS Tahun 2013 – 2017
Sumber: Laporan Keuangan Bank Umum Syariah, 2013 - 2017
Infak Zakat
Karyawan
Zakat
Perusahaan Sedekah
PT Bank Aceh Syariah- - 4.717 - - PT Bank Muamalat
Indonesia - 26.936 54.981 - - PT Bank Victoria
Syariah - - 907 32 33 PT Bank BRISyariah 20.443 11.820 967 - - PT Bank Jabar Banten
Syariah - 3 942 707 - PT Bank BNI Syariah - 37.337 35.819 - - PT Bank Syariah
Mandiri 49.230 58.706 11.812 -
-PT Bank Mega Syariah- 12.397- - -PT Bank Panin Dubai
Syariah 322 5.099 2.378 -
-PT Bank Syariah
Bukopin - - - -
-PT BCA Syariah - - 207 -
-PT Maybank Syariah
Indonesia - - - -
-PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah
- - - -
-Jumlah 69.995 152.298 112.730 739 33
BUS
2013 – 2017 (Dalam Jutaan Rupiah) Internal
eksternal lain-lain
b. Saluran Distribusi Zakat Bank Umum Syariah 1) Lembaga Pendistribusi Zakat Bank Umum Syariah
Berikut ini adalah informasi mengenai lembaga yang mendistribusikan zakat BUS selama 5 tahun (2013 s.d 2017).
Tabel 4.3. Lembaga Pendistribusi Zakat Bank Umum Syariah
Sumber: Laporan Keuangan Bank Umum Syariah, 2013-2017
2013 2014 2015 2016 2017
1 PT Bank Aceh Syariah - Lembaga Amil Zakat
2
PT Bank Jabar Banten
Syariah Disalurkan sendiri 6 PT Bank BNI Syariah UPZ BNI Syariah 7
PT Bank Panin Dubai Syariah
10
PT Bank Syariah Bukopin
11 PT BCA Syariah Lembaga Amil
Zakat, Fakir
Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah
Lazis NU, Lazis MU, Yayasan An-Nawawi, BAZNAS Baitul Mal Muamalat,
35
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa dalam mendistribusikan zakat, BUS menggunakan beberapa cara, yaitu:
a) Menyalurkan sendiri
b) Bekerja sama dengan lembaga amil zakat yang dibentuk sendiri
c) Bekerja sama dengan BAZNAS atau lembaga amil zakat lainnya.
Kemudian, informasi mengenai jumlah penyaluran zakat oleh BUS dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4. Jumlah Penyaluran Zakat Bank Umum Syariah Di Indonesia
PT Bank Panin
Dubai Syariah - 5.099 2.700 7.799
PT Bank Syariah
Bukopin - - - -
PT BCA Syariah
- 30 148 178
PT Maybank
Syariah Indonesia - - - -
PT Bank Tabungan Pensiunan
Nasional Syariah - - - -
JUMLAH
296.822
62.212 2.850
361.884
Sumber: Laporan Tahunan Bank Umum Syariah. 2013-2017
Dari tabel 4.4. dapat diketahui bahwa dilihat dari sisi jumlah zakat, jumlah dana zakat BUS lebih banyak tersalurkan melalui lembaga sendiri yaitu sebesar Rp 296,8 Milyar atau sebesar 82% dari total zakat yang disalurkan, selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2013 s.d 2017.
2) Sektor distribusi zakat Bank Umum Syariah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BUS mendistribusikan dana zakat infak sedekah sebagai bagian dari pelaksanaan program CSR (Corporate Social Responsibility). Lebih lanjut, program CSR dilaksanakan pada beberapa sektor baik di bidang kesehatan, bantuan bencana, pendidikan, dll. Tabel berikut memberikan informasi mengenai sektor yang menjadi rujukan BUS dalam menjalankan program CSR.
37
Tabel 4.5. Sektor distribusi CSR BUS di Indonesia
Sumber: Laporan Tahunan Bank Umum Syariah, 2013-2017
No Bank Umum Syariah 2013 2014 2015 2016 2017
1 PT Bank Aceh
Syariah Santunan anak yatim
2 PT Bank Muamalat Indonesia
ekonomi, pendidikan, kemanusiaan,
lingkungan
3 PT Bank Victoria Syariah
4 PT Bank BRISyariah Pendidikan, kesehatan
6 PT Bank BNI Syariah
bencana,
10 PT Bank Syariah Bukopin
Pendidikan, sosialKesehatan, pendidikan, kegiatan sosial Peduli Sosial :
12 PT Maybank Syariah Indonesia lingkungan hidup, pengembangan sosial masyarakat,
ketenagakerjaan, keselamatan kerja, tanggung jawab terhadap konsumen
bencana, kemanusiaan, dakwah,
Lingkungan, pengembangan sosial dan kemitraan, ketenagakerjaan, kesehatan dan kesalamatan kerja
Pemberdayaan ekonomi, kgiatan sosial masyarakat, pembangunan mushola,
biaya penerbitan kalender MUI, kegiatan edukasi litersi keuangan dan perbankan
c. Analisis Perlakuan Akuntansi Zakat Perusahaan Pada BUS di Indonesia
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 7 BUS di Indonesia yang menunaikan zakat perusahaan menjadikan laba sebagai basis perhitungan zakatnya. Selanjutnya, tarif zakatnya adalah 2,5% dari basis zakat. Akan tetapi, laba yang menjadi basis zakat tersebut bervariasi pada tiap BUS. Informasi rinci mengenai basis zakat BUS tampak pada tabel 4.6. berikut.
Tabel 4.6. Informasi Penggunaan Laba Sebagai Dasar Pengenaan Zakat Perusahaan
Metode Perhitungan Bank Umum Syariah
2,5% x laba tahun sebelumnya (setelah pajak)
PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank BRISyariah, dan PT Bank Jabar Banten Syariah.
2,5% x laba tahun berjalan (sebelum pajak)
PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah, dan PT Bank Panin Dubai Syariah.
Sumber: Laporan Keuangan Bank Umum Syariah, 2017
B. Pembahasan Hasil Penelitian
a. Penerapan zakat pada BUS di Indonesia
1) Sumber dana zakat pada Bank Umum Syariah
Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dana zakat BUS berasal dari tiga sumber yaitu perusahaan, karyawan dan nasabah. Informasi mengenai sumber dana zakat BUS di Indonesia ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 4.7. Sumber Dana Zakat BUS
No BUS
39
Sumber: Laporan Tahunan Bank Umum Syariah, 2013-2017
Dalam kurun waktu 5 tahun Dari 13 BUS di Indonesia terdapat 10 BUS yang menjalankan pengelolaan zakat. Hanya saja PT Bank Aceh Syariah baru mulai mengelola zakat pada
2) Perkembangan jumlah realisasi zakat perusahaan
Zakat Perusahaan dalam penelitian ini adalah dana zakat yang dibayarkan BUS yang mana dananya diambil dari laba yang dibukukan BUS dengan tarif sebesar 2,5%.
Berdasarkan peninjauan laporan keuangan BUS periode 2013 s.d 2017, terlihat bahwa pembayaran zakat perusahaan oleh BUS berfluktuasi setiap tahunnya, baik dari sisi jumlah BUS yang membayarkan zakat perusahaan maupun jumlah zakat perusahaannya. Informasi mengenai realisasi zakat perusahaan oleh BUS di Indonesia ditunjukan pada tabel berikut.
Tabel 4.8. Jumlah Realisasi Zakat Perusahaan
(Dalam Jutaan Rupiah)
No BUS 2013 2014 2015 2016 2017
1 PT Bank Aceh Syariah - -
2 PT Bank Muamalat
Indonesia 9.735 11.896 1.429 1.862 2.013 3 PT Bank Victoria
Syariah - - - - -
4 PT Bank BRISyariah - 3.239 164 3.066 4.255 5 PT Bank Jabar Banten
Syariah 3 708 - - -
6 PT Bank BNI Syariah 4.538 5.524 7.701 9.329 10.245 7 PT Bank Syariah
Mandiri 22.662 2.815 9.593 11.146 12.489 8 PT Bank Mega Syariah 5.121 598 429 3.775 2.472 9 PT Bank Panin Dubai
Syariah - 2.455 1.933 712 -
10 PT Bank Syariah
Bukopin - - - - -
11 PT BCA Syariah - - - - -
41
12 PT Maybank Syariah
Indonesia - - - - -
13
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah
- - - -
Jumlah 42.059 27.235 21.249 29.890 31.474 Jumlah BUS yang
Menunaikan Zakat Perusahaan
5 7 6 6 5
Sumber: Laporan Keuangan Bank Umum Syariah. 2013-2017
Dari tabel 4.8 di atas dapat diketahui bahwa terdapat 4 BUS yang konsisten membayarkan zakat perusahaannya yaitu PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah dan PT Bank BRISyariah. hanya saja PT Ban BRISyariah baru memulai membayarkan zakat perusahaanya sejak tahun 2014.
Demikian halnya PT Bank Panin Dubai Syariah sejak tahun 2014 juga menunjukan respon yang positif dalam praktik penerapan zakat perusahaan. Hanya saja pada tahun 2017 PT Bank Panin tidak membayarkan zakat perusahaannya karena BUS ini membukukan kerugian.
PT Bank Jabar Banten Syariah membayarkan zakat peusahaan pada tahun 2013 dan 2014. Namun, sejak tahun 2015 hingga tahun 2017 PT Bank Jabar Banten Syariah tidak lagi membayarkan zakat perusahaannya. Walaupun sebenarnya membukukan laba perusahaan tahun 2015.
Dari tabel 4.4. juga dapat diketahui bahwa nilai total realisasi zakat perusahaan oleh BUS berfluktuasi setiap tahunnya. Penambahan jumlah BUS yang menunaikan zakat perusahaan tidak secara langsung mempengaruhi akumulasi jumlah zakat perusahaan seluruh BUS. Faktor yang mungkin
mempengaruhi fluktuasi ini adalah kondisi pada masing-masing BUS. Karena basis perhitungan zakat adalah nilai laba maka jumlah laba/rugi yang dibukukan berpengaruh secara langsung pada nilai zakat perusahaan.
Sementara itu, selama 5 tahun periode penelitian terjadi peningkatan presentase jumlah BUS yang membayarkan zakat perusahaan. Pada tahun 2013 hanya 30% BUS yang membayarkan zakat perusahaan, angka tersebut meningkat menjadi 38,46% pada tahun 2017.
Selama 5 tahun periode penelitian tampak bahwa terdapat 5 BUS yang tidak membayarkan zakat perusahaan yaitu PT Bank Victoria Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT BCA Syariah, PT Maybank Syariah Indonesia dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah. Beberapa hal mungkin menjadi faktor yang menyebabkan BUS tidak menunaikan pembayaran zakatnya. Salah satunya adalah ketiadaan dasar hukum yang mewajibkan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
Standar yang dirumuskan AAOIFI dalam FAS no 9 menyatakan bahwa institusi keuangan syariah terkena kewajiban membayarkan zakat perusahaan apabila salah satu dari 3 kondisi berikut terpenuhi. (1) Terdapat hukum yang mewajibkannya, (2) terdapat dalam anggaran dasar suatu institusi, (3) keputusan pemegang saham suatu institusi (Nadzri, 2009, p.44).
Jika melihat dari 3 kondisi yang disyaratkan oleh AAOIFI tersebut. Maka kemungkinan ketiadaan dasar hukum di Indonesia yang mewajibkan suatu entitas untuk membayarkan zakat perusahaan merupakan faktor utama BUS tidak menunaikan zakat perusahaan.
43
Lebih lanjut hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan dasar bagi sebagian besar BUS di Indonesia dalam membayarkan zakat perusahaan. dari 7 BUS yang membayarkan zakat perusahaan, 5 diantaranya menunjukan informasi bahwa metode perhitungan dan jumlah zakat perusahaan disepakati melalui RUPS. Berikut ini adalah tabel yang menenunjukkan ketersedian informasi zakat perusahaan oleh BUS pada keputusan RUPSnya.
Tabel 4.9. Ketersediaan Informasi Zakat Perusahaan pada RUPS
No Bank Umum Syariah RUPS
1 PT Bank Muamalat Indonesia √
2 PT Bank BRISyariah √
3 PT Bank Jabar Banten Syariah X
4 PT Bank BNI Syariah √
5 PT Bank Syariah Mandiri √
6 PT Bank Mega Syariah X
7 PT Bank Panin Dubai Syariah √
Sumber : Laporan Tahunan Bank Umum Syariah, 2017
PT Bank Jabar Banten Syariah dan PT Bank Mega Syariah tidak memberikan informasi mengenai zakat perusahaan pada keputusan RUPSnya.
3) Jalur distribusi zakat yang dilaksanakan BUS
Dalam kurun waktu 5 tahun (2013 s.d 2017) terdapat 10 BUS yang mendistribusikan zakat. Dalam Laporan keuangannya, BUS memberikan informasi mengenai lembaga dan sektor pendistribusian zakat.
a) Lembaga pendistribusi zakat.
Dalam mendistribusikan zakat, BUS menggunakan tiga alternatif media yaitu lembaga internal yang dibentuk BUS, lembaga eksternal diluar BUS atau tanpa melalui lembaga perantara.
Dalam menyalurkan zakat, beberapa BUS bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), yaitu PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank Victoria Syariah, PT Bank BRISyariah dan PT Bank Mega Syariah.
Informasi lain menunjukkan bahwa pada tahun 2014 Lembaga amil zakat yang dibentuk oleh BNI Syariah yaitu UPZ BNI Syariah berganti nama menjadi Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah. akan tetapi tidak ada keterangan yang memberikan informasi alasan perubahan tersebut. Faktor yang mungkin mendasari perubahan bentuk lembaga zakat tersebut adalah adanya peraturan dari BAZNAS mengenai keharusan UPZ untuk menyetorkan dana kelolaannya kepada BAZNAS.
Peraturan tersebut tertuang pada Keputusan Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional KEP.
013/BP/BAZNAS/V/2012 menyatakan bahwa UPZ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari BAZNAS, segala aktifitasnya dapat berdampak langsung kepada BAZNAS baik aspek citra maupun aspek hukum (Badan Amil Zakat Nasional, 2012, p.1). lebih lanjut, keputusan ini juga menyatakan bahwa salah satu tugas UPZ adalah menerima pembayaran zakat dan menyetorkannya ke BAZNAS sesuai batas waktu yang telah ditentukan (Badan Amil Zakat Nasional, 2012, p.6)
45
b) Sektor distribusi zakat Bank Umum Syariah
Dari penelitian ini diketahui bahwa BUS mendistribusikan dana zakat infak sedekah sebagai bagian dari pelaksanaan program CSR (Corporate Social Responsibility). Lebih lanjut, program CSR dilaksanakan pada beberapa sektor baik di bidang kesehatan, bantuan bencana, pendidikan, dll. Tabel berikut memberikan informasi mengenai sektor yang menjadi rujukan BUS dalam menjalankan program CSR.
Dalam menentukan mustahik, beberapa BUS menjadikan aturan fikih sebagai pedoman utama. Delapan asnaf yang ditetapkan di dalam Al-Qur‟an QS At-Taubah ayat 60 merupakan golongan mustahik yang menjadi sasaran penyaluran zakat PT Bank BRISyariah dan PT Bank Syariah Mandiri. Kedua BUS ini menjelaskan dengan lebih detail mengenai kriteria 8 asnaf penerima zakatnya di dalam laporan tahunannya.
b. Analisis perlakuan akuntansi zakat perusahaan pada BUS di Indonesia
1) Metode perhitungan zakat perusahaan
Metode perhitungan zakat perusahaan yang diterapkan oleh BUS di Indonesia adalah berdasarkan laba, metode perhitungan ini berbeda dengan metode perhitungan zakat perusahaan yang dirumuskan oleh BAZNAS. BAZNAS menggunakan pendapat Abu Ubaid sebagai dasar dalam merumuskan zakat perusahaan.
Perhitungan zakat perusahaan yang disarankan oleh BAZNAS adalah berdasarkan laporan keuangan (neraca) perusahaan, yaitu aset lancar (selain sarana dan prasarana) ditambah keuntungan
dikurangi pembayaran utang dan kewajiban lainnya, lalu dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (Badan Amil Zakat Nasional, n.d.).
Sementara itu, terdapat beberapa standar yang merumuskan metode perhitungan zakat perusahaan yaitu:
a) FAS (Financial Accounting Standards)
FAS adalah standar yang diterbitkan di Bahrain melalui AAOIFI. Dalam menghitung zakat perusahaan, terdapat dua pendekatan yang dirumuskan yaitu menggunakan metode aktiva bersih dan investasi bersih, kemudian tarif zakatnya adalah 2,5% untuk yang menggunakan kalender islam dan lunar dan 2,5775% bagi yang menggunakan kalender masehi (Fakhruddin, 2008, p.150; Bakar, n.d., p.79).
b) TR i-1 (Technical Release)
Tri-1 adalah standar yang dibuat oleh Malaysian Accounting Standard Board (MASB). Standar ini memberikan alternatif perhitungan zakat perusahaan melalui dua metode yaitu adjusted working capital method yaitu berdasarkan aset lancar bersih dan adjusted growth method (Adnan & Bakar, 2009, p.36). kemudian sebagaimana telah ditetapkan oleh Dewan Fatwa Nasional Malaysia, tarif zakat perusahaan adalah 2,5% dari basis zakat (Malaysian Accounting Standar Board, 2006, p.8).
Namun, pada kenyataannya pemerintah Malaysia memberikan kebebasan kepada setiap negara bagian untuk menentukan peraturan tentang zakat perusahaan. oleh karenanya terjadi keberagaman yang sangat besar (Andriani & Mairijani, 2017, p.145)
47
c) Accounting Standard for Zakat (AS-013)
AS-013 adalah standar akuntansi zakat yang ada di negara Arab Saudi. Standar ini merumuskan perhitungan zakat perusahaan berdasarkan kekayaan bersih badan yaitu 2,5 persen dari basis zakat (modal, laba ditahan, cadangan tertentu dan laba bersih tetapi tidak termasuk aset tetap).
Kemudian, untuk persyaratan lainnya yaitu kekayaan harus memenuhi nisab dan kepemilikan lebih dari satu tahun lunar (Haul). Dengan demikian dasar pengenaan zakat sama dengan modal kerja bersih yang disesuaikan (Obaidullah, 2016, p.7).
d) Law No. 46 (2006)
Hukum di Kuwait yaitu yang tercantum pada Law No.
46 (2006) tentang zakat dan kontribusi perusahaan dalam anggaran negara. Dalam peraturan ini zakat dan pajak penghasilan diatur secara bersamaan. Menurut Pasal 1, perusahaan harus membayar 1% dari laba bersih tahunan mereka kepada negara (Obaidullah, 2016, p.7).
Berikut ini adalah rumus menghitung zakat perusahaan yang dirumuskan dalam standar-standar di atas.
Tabel 4.10. Rumus Perhitungan Zakat Perusahaan dari berbagai standar
No Negara Standar Basis Zakat Tarif
1 Bahrain FAS No.9
Metode Aset Bersih = [(Kas dan setara kas + piutang bersih + aktiva yang diperdagangkan +
pembiayaan (mudharabah, musyarakah, salam, istishna) – (Utang lancar + modal investasi tak terbatas
2,5775%
+ penyertaan minoritas + penyertaan pemerintah + endowment + penyertaan lembaga sosial + lembaga nonprofit)]
2 Malaysia TR i-1
Aset Lancar – Liabilitas +/-
Penyesuaian 2,5%
3 Arab Saudi
AS-013 Modal + laba ditahan + cadangan tertentu+ laba bersih - aset tetap
2,5%
Setelah mengetahui rumus perhitungan zakat perusahaan beberapa standar yang terdapat diberbagai negara, penulis membuat ilustrasi perhitungan zakat perusahaan 5 BUS di Indonesia dengan menggunakan standar-standar tersebut. Pada tahun 2017 terdapat 5 BUS di Indonesia yang membayarkan zakat perusahaan yaitu PT Bank Muamalat Indonesia, PT Bank BRISyariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank Mega Syariah.
Tabel 4.11. Ilustrasi Perhitungan Zakat Perusahaan Menggunakan Standar FAS No 9 (Net Asset) (Bahrain)
(Dalam Jutaan Rupiah)
49
Jumlah
Sumber: Data diolah penulis
Dari ilustrasi perhitungan tersebut terlihat bahwa jumlah zakat perusahaan BUS angkanya akan lebih besar menggunakan metode net asset, jika dibandingkan dengan menghitung zakat perusahaan berdasarkan laba.
Tabel 4.12. Ilustrasi Perhitungan Zakat Perusahaan Menggunakan Standar TR i-1 (Adjusted Growth Method)
(Malaysia) 34.516.047 123.019.298
zakat 53.386.949 22.124.111 27.904.861 109.520.229 5.421.277
Tarif 2,5% 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
Sumber: Data diolah penulis
Ilustrasi perhitungan zakat perusahaan menggunakan Adjusted Growth Method akan menghasilkan jumlah zakat yang lebih besar, jika dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan laba.
51
Tabel 4.13. Ilustrasi Perhitungan Zakat Perusahaan Menggunakan Standar AS-013 (Arab Saudi)
(Dalam Jutaan Rupiah)
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan ilustrasi perhitungan zakat perusahaan menggunakan standar AS-013, jumlah zakat BUS akan lebih besar dibandingkan dengan menghitungnya berdasarkan laba.
Tabel 4.14. Ilustrasi Zakat Perusahaan Menggunakan Standar Law No.46 (Kuwait)
Sumber: Data diolah penulis
Ilustrasi perhitungan zakat perusahaan menggunakan standar yang dibuat oleh Kuwait akan menghasilkan jumlah zakat yang lebih sedikit karena tarif zakatnya hanya 1% dari laba bersih.
Tabel 4.15. Ilustrasi Perhitungan Zakat Perusahaan Menggunakan Rumus yang Disarankan oleh BAZNAS
(Dalam Jutaan Rupiah)
Sumber: Data diolah penulis
Ilustrasi perhitungan zakat perusahaan yang disarankan BAZNAS akan menghasilkan jumlah zakat perusahaan yang lebih besar dari pada perhitungan yang menggunakan dasar laba.
Berdasarkan ilustrasi perhitungan zakat perusahaan menggunakan beberapa standar, dapat diketahui bahwa jumlah dana zakat akan lebih besar jika metode perhitungan zakat
Berdasarkan ilustrasi perhitungan zakat perusahaan menggunakan beberapa standar, dapat diketahui bahwa jumlah dana zakat akan lebih besar jika metode perhitungan zakat