• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilakukan di 3 puskesmas Kabupaten Batubara bulan Juni 2015 dengan populasi target anak usia 1 sampai 14 tahun dengan riwayat kontak penderita TB dewasa. Pada lokasi tersebut diperiksa 74 anak diperoleh 4 anak dengan gizi buruk, 2 anak perempuan sedang menstruasi, 6 anak dengan kecacingan, 1 anak rutin mendapat multivitamin, 1 anak sudah mendapat OAT, dan 3 anak menolak dilakukan uji tuberkulin cara Mantoux.

Setelah 72 jam paska penyuntikan dilakukan penilaian uji tuberkulin cara Mantoux didapatkan 26 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux positif dan 31 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux negatif. Selanjutnya 7 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux negatif menolak dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan profil besi. Profil penelitian dapat dilihat pada gambar 6 seperti dibawah ini.

Gambar 6. Profil penelitian

Jumlah subyek pada penelitian 50 anak terdiri dari kelompok anak dengan infeksi M.tuberculosis (n=26) dan tanpa infeksi M.tuberculosis (n=24).

Sebanyak 14 anak usia 1 sampai 6 tahun, 16 jenis kelamin laki-laki, 14 anak dengan pekerjaan ayah sebagai nelayan, 20 anak dengan ibu tidak bekerja,

74 anak dengan riwayat kontak penderita TB dewasa

- 4 anak dengan gizi buruk

- 2 anak perempuan sedang menstruasi - 6 anak dengan kecacingan

- 1 anak rutin mendapat multivitamin - 1 anak sudah mendapat OAT

- 3 anak menolak dilakukan uji tuberkulin cara Mantoux

Uji tuberkulin cara Mantoux dilakukan pada 57 anak : - 26 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux positif - 31 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux negatif

7 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux negatif menolak pengambilan darah lengkap dan profil besi

Pemeriksaan darah lengkap dan profil besi pada 50 anak : - 26 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux positif - 24 anak dengan uji tuberkulin cara Mantoux negatif

penghasilan keluarga sebanyak 1 sampai 2 juta per bulan, 18 anak dengan dengan status nutrisi gizi kurang pada kelompok anak dengan infeksi M.tuberculosis. Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian

Kelompok

Karakteristik Infeksi M.tuberculosis tanpa infeksi M.tuberculosis

(n=26) (n=24)

Tabel 2. menunjukkan profil besi anak dengan riwayat kontak didapatkan 13 anak dengan Hb menurun, 23 anak dengan feritin serum normal, 20 anak dengan besi serum menurun, 23 anak dengan TIBC normal, 16 anak dengan saturasi transferin menurun pada kelompok anak infeksi M.tuberculosis.

Tabel 2. Profil besi anak dengan riwayat kontak

Kelompok

Profil besi Infeksi M.tuberculosis Tanpa infeksi M.tuberculosis

(n=26) (n=24)

Tabel 3 menunjukkan profil besi anak dengan infeksi dan tanpa infeksi M.tuberculosis pada riwayat kontak terdapat perbedaan bermakna pada Hb (p=0.013), besi serum (p=0.013), saturasi transferin (p=0.022)

Tabel 3. Beda rerata profil besi anak dengan infeksi dan tanpa infeksi

*menunjukkan perbedaan bermakna p<0.05; Nilai p dihitung dengan uji t independen

Tabel 4. menunjukkan jenis anemia pada anak dengan riwayat kontak.

Pada anak dengan infeksi M.tuberculosis dijumpai ADB 2 anak, anemia penyakit kronik dan ADB dengan 6 anak, anemia diluar definisi operasional pada 5 anak dengan kadar besi serum menurun, feritin serum, TIBC serum dan saturasi transferin normal pada 3 anak, anemia dengan kadar besi, TIBC dan feritin serum normal, saturasi transferin meningkat pada 2 anak. Anak tanpa infeksi M.tuberculosis dijumpai anemia penyakit kronik dan ADB pada 3 anak dan diluar definisi operasional 1 anak dengan besi serum menurunferitin serum, TIBC serum dan saturasi transferin normal.

Tabel 4. Jenis anemia pada anak dengan riwayat kontak

Kelompok

Anemia Infeksi M.tuberculosis Tanpa infeksi M.tuberculosis

(n=26) (n=24)

ADB 2 0

Anemia penyakit kronik 0 0

Anemia penyakit kronik dan ADB 6 3

Diluar definisi operasional 5 1

BAB 5 PEMBAHASAN

Data Indonesia secara nasional menunjukkan jumlah seluruh kasus TB anak dari tujuh Rumah sakit Pusat Pendidikan di Indonesia selama lima tahun dari tahun 1988 sampai 2002 pada penderita TB dengan kelompok usia 12 sampai 60 bulan dengan 42.9%. Pada penelitian kami usia anak 1 sampai 6 tahun dengan infeksi M.tuberculosis sebanyak 14 anak. Respons imun terhadap bakteri belum berkembang sempurna sebelum anak berusia 2 tahun karena berhubungan dengan maturitas IgM dan IgA. Kadar IgM serum naik dengan cepat pada sekitar enam hari sesudah lahir dan berlanjut sampai kadar dewasa dicapai sedangkan IgA serum makin lama makin meningkat selama awal masa kanak-kanak, kadar dewasa dicapai dan dipertahankan sampai usia 10 atau 11 tahun.6

Hasil penelitian menyebutkan sebanyak 16 jenis kelamin laki-laki dari 26 anak dengan infeksi M.tuberculosis. Hal ini sesuai dengan penelitian di Greenland tahun 2011 dengan populasi anak sekolah didapatkan 50.8% jenis kelamin laki-laki dengan infeksi M.tuberculosis.41 Penelitian di Gambia tahun 2003 menyebutkan prevalensi uji tuberkulin positif pada anak laki-laki dan perempuan tidak berbeda sampai adolesen dan setelah itu lebih tinggi pada anak laki-laki. Hal ini diduga akibat peran sosial dan aktivitas sehingga lebih terpajan pada lingkungan atau karena bawaan lebih rentan atau karena faktor

predisposisi terhadap respons hipersensitivitas tipe lambat.42 Penelitian ini tidak membagi jenis kelamin sesuai usia.

Pekerjaan ayah pada kelompok anak dengan infeksi M.tuberculosis terbanyak adalah nelayan dan ibu tidak bekerja. Hal ini berkaitan dengan lokasi penelitian di pantai yang mayoritas pekerjaan ayah nelayan dan kemungkinan kontak penderita TB dewasa adalah ibu.

Status nutrisi anak dengan infeksi M. tuberculosis pada umumnya gizi kurang dan ini sesuai dengan penelitian di Surabaya tahun 2011.7 Salah satu faktor resiko infeksi TB anak adalah keadaan malnutrisi yang mempengaruhi fungsi imun. Sitokin termasuk diantaranya TNF-, IL-4, IL-1 bertanggung jawab terhadap penurunan berat badan. Pada penelitian ini gizi buruk merupakan kriteria eksklusi.29

Anemia dijumpai 13 anak pada kelompok infeksi M. tuberculosis dan terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Respons imun yang muncul karena reaksi infeksi dan inflamasi menyebabkan dilepasnya sitokin Pelepasan sitokin menyebabkan pengalihan besi pada cadangan besi di RES sehingga terjadi perubahan homeostasis besi yang mengganggu kemampuan tubuh dalam mengabsorbsi dan menggunakan besi, proliferasi sel progenitor eritroid, produksi eritropoietin, serta mempengaruhi masa hidup eritrosit, dimana semua proses ini menyebabkan anemia.5,33

Hasil penelitian tidak terdapat perbedaan rerata kadar feritin serum pada kedua kelompok meskipun feritin serum lebih tinggi pada infeksi M. tuberculosis dan ini sesuai dengan penelitian di Semarang tahun 2010.6 Status besi pejamu yang diubah oleh infeksi M.tuberculosis dengan penurunan besi dalam serum dan konsentrasi feritin yang normal cenderung meningkat. Keadaan ini menunjukkan cadangan besi yang dapat segera digunakan sehingga penurunan ketersediaan besi merupakan mekanisme pertahanan pejamu terhadap bakteri patogen.22

Terdapat perbedaan rerata kadar besi serum pada kedua kelompok dengan kadar besi serum menurun pada anak dengan infeksi M.tuberculosis.

Penelitian di Surabaya tahun 2011 juga melaporkan kadar besi serum yang menurun pada kelompok anak yang sakit.7 Pejamu akan menanggapi infeksi dengan mengubah status besi internal dimana makrofag yang merupakan sel utama akan menyerap bakteri serta monosit dan akan menelan bakteri yang menyerang sehingga makrofag akan mempertahankan besi dan penyerapan besi menurun yang menghasilkan keadaan hipoferemi.18,36

Kadar TIBC serum pada kelompok infeksi M.tuberculosis lebih tinggi walaupun dari hasil penelitian tidak dijumpai perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Penelitian di Iran tahun 2012 disebutkan adanya peningkatan TIBC pada kelompok sakit. Hal ini disebabkan penyebab anemia dapat disebabkan karena proses infeksi, defisiensi besi maupun keduanya.4

Penelitian ini melaporkan terdapat perbedaan rerata saturasi transferin pada kedua kelompok dengan saturasi transferin menurun pada kelompok infeksi M. tuberculosis dan keadaan ini sesuai dengan penelitian di Surabaya tahun 2011.7 Penelitian di Jakarta tahun 2011 melaporkan 51% saturasi transferin yang menurun pada anak anemia dengan TB.11 Saturasi transferin merupakan suatu nilai yang menggambarkan suplai besi ke eritroid sumsum tulang dan merupakan penilaian terbaik untuk mengetahui pertukaran besi antara plasma dan cadangan besi dalam tubuh. Bila saturasi transferin kurang dari 16% menunjukkan suplai besi yang tidak adekuat untuk mendukung eritropoesis.13 Hasil penelitian didapatkan rerata saturasi transferin 16.3% pada kelompok infeksi M. tuberculosis.

Pada penelitian ini dijumpai proporsi anemia 50% pada anak dengan infeksi M.tuberculosis terdiri dari ADB 2 anak, anemia penyakit kronik dan ADB pada 6 anak, anemia diluar definisi operasional pada 5 anak dengan kadar besi serum menurun, feritin serum, TIBC serum dan saturasi transferin normal pada 3 anak, anemia dengan kadar besi, TIBC dan feritin serum normal, saturasi transferin meningkat pada 2 anak. Proporsi anemia anak tanpa infeksi M.tuberculosis 12.5% yaitu 3 dari 4 anak anemia penyakit kronik dan ADB serta diluar definisi operasional 1 dari 3 anak dengan besi serum menurun feritin serum, TIBC serum dan saturasi transferin normal. Penelitian di Semarang tahun 2010 menyebutkan 22.7% kemungkinan terjadinya ADB pada subyek dengan anemia.6 Penelitian di Jakarta tahun 2011 melaporkan

9% dengan anemia penyakit kronik dan ADB.11 Penelitian di Surabaya tahun 2011 didapatkan hanya 2% anak dengan kontak TBC dewasa yang anemia dengan status besi umumnya normal.7 Pada penelitian ini kemungkinan dipengaruhi oleh status nutrisi dengan gizi kurang pada 24 dari 50 anak dengan riwayat kontak, status besi sebelum kontak dengan penderita TB dewasa juga tidak diketahui. Riwayat penyakit anemia lain yang tidak diketahui oleh penderita dan keluarga sehingga perlu pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut. Kekurangan dari penelitian ini tidak diketahui status nutrisi dan profi besi pada anak sebelum kontak dengan penderita TB dewasa.

BAB 6

Dokumen terkait