• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.2 WELLWORK AND COMPLETION DEPARTEMENT (WW&C)

5.3.3 Hasil Penelitian untuk Task Spesific Risk Assessment Not Performed

A. Potensi Kecelakaan Tinggi yang Tidak Teridentifikasi

( High Potential Was Not Identified)

Pada event ini akan dibahas dalam event ini adalah tidak teridentifikasinya potensi kecelakaan besar pada pekerjaan.

1. Tidak Diwajibkannya Analisis Pekerjaan (Task Analysis Not Required)

Event ini akan membahas apakah perusahaan mewajibkan pelaksanaan pre-job analysis pada setiap pekerjaan. Berdasarkan hasil analisis dokumen, JSA merupakan salah satu persyaratan HES yang harus dilaksanakan pada operasi wellwork. Hal ini tertulis dalam buku OEMS Wellwork and Completion Tahun 2010. JSA harus dipersiapkan dan diulas sebelum pekerjaan dimulai. JSA Hazid (Hazard Identification)

harus digunakan dalam pelaksanaan analisis. SOP dan JSA dibahas bersamaan dalam bentuk pre job meeting. Pre job meeting harus dilakukan setiap akan melakukan pekerjaan. JSA wajib dilakukan secara tertulis.

Informan kunci juga memberikan informasi yang serupa, bahwa pre job meeting

wajib dilakukan sebelum bekerja, untuk memastikan pegawai yang terlibat dalam pekerjaan membahas SOP dan JSA. Hal ini telah menjadi komitmen setiap pegawai yang berada di bawah Wellwork and Completion Team. Komitmen ini tertuang dalam

Safety Commitment 2011.

Bentuk pre-job analysis dalam penelitian ini adalah job safety analysis (JSA). Berdasarkan hasil analisis dokumen dan wawancara dengan informan kunci, diketahui

bahwa perusahaan mengharuskan pelaksanaan dan pengulasan JSA sebelum pekerjaan dimulai.

2. Analisis Pekerjaan (Task Analysis LTA)

Pada event ini akan dibahas mengenai ketepatan pelaksanaan pre-job analysis

jika perusahaan telah mewajibkan pelaksanaan pre-job analysis. Ketepatan pre-job analysis ditinjau dari pengidentifikasian hazard pada tiap langkah pekerjaan. Berdasarkan hasil analisis formulir JSA ditemukan bahwa pekerjaan tidak dibagi menjadi beberapa langkah. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.4 dan 5.6. Karena pekerjaan tidak dibagi dalam beberapa langkah, maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan JSA di lokasi kerja rig belum tepat.

3. Analisis Pekerjaan yang Tidak Dibuat (Task Analysis Not Made)

Jika perusahaan mewajibkan pre-job analysis, maka event ini akan membahas kegagalan pre-job analysis pada sebuah pekerjaan. Terdapat empat event pada lapis bawah event Task Analysis Not Made yang harus dipertimbangkan sebagai penyebab kegagalan pre-job analysis, yaitu:

e. Keahlian (Authority LTA)

Event ini mencurigai bahwa kegagalan pre-job analysis disebabkan oleh ketidakahlian analis menganalisis sebuah pekerjaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama, yaitu Bapak C dan D diketahui bahwa kru pekerjanya sudah ahli melakukan analisis JSA sebelum pekerjaan dimulai. Bapak D menambahkan bahwa

kemampuan kru pekerja tersebut karena mereka sudah dibekali dengan training- training.

“.. sudah bisalah.. sudah mampu semua bikin JSA..” (Bapak C)

“Oh dah paham-paham kali… sebelum kerja kan ada berbagai training.”

(Bapak D)

Bapak WD sebagai informan kunci memberikan informasi bahwa para pekerja memang ahli melakukan pekerjaaan di rig, namun mereka belum ahli untuk mengidentifikasi hazard di lokasi kerja. Menurut Bapak WD, rata-rata pekerja yang mengalami accident adalah pekerja yang sudah memiliki pengalaman tiga sampai empat tahun. Para pekerja yang berpengalaman tersebut dapat dikatakan sudah mahir melakukan pekerjaan, namun belum mahir untuk menetukan hazard walaupun mereka telah mendapatkan training.

Berdasarkan hasil analisis formulir JSA, dapat dinilai keahlian pekerja melaksanakan JSA. Dari tiga formulir JSA yang dianalisis ditemukan ketidaktepatan dalam formulir tersebut. Baik pada pembagian langkah kerja, identifikasi hazard,

maupun penentuan tindakan mitigasinya. Ketidaktepatan ini menunjukkan bahwa pekerja belum ahli melakukan analisis keselamatan kerja.

f. Anggaran (Budget LTA)

Event ini mencurigai bahwa kegagalan pre-job analysis disebabkan kurangnya dana yang dianggarkan untuk pelaksanaan pre-job analysis. Berdasarkan hasil

wawancara dengan informan kunci, anggaran untuk pelaksanaan JSA tidak dianggarkan secara spesifik karena termasuk dalam anggaran program safety. Untuk masing-masing rig, dianggarkan 400 USD/ hari yang sudah termasuk kedalam ODR (Operation Daily Rate). Bapak WD menyatakan bahwa anggaran ini cukup untuk memenuhi kebutuhan

paper work, salah satunya membuat form JSA yang menjadi tanggung jawab masing- masing business partner.

g. Waktu (Time LTA)

Event ini mencurigai bahwa kegagalan pre-job analysis disebabkan masalah pada waktu pelaksanaannya. Berdasarkan hasi wawancara dengan Bapak A diketahui bahwa JSA dibuat saat tail gate meeting dan memakan waktu sekitar 30 menit. Dalam tail gate meeting didiskusikan pekerjaan dan hazard yang ada di pekerjaan selama 12 jam untuk hari itu. Jika ditemukan adanya hazard baru, maka para pengawas dan pekerja berkumpul lagi untuk mendiskusikannya. Bapak B dan C memberikan informasi yang sama bahwa mereka melaksanakan JSA saat tail gate meeting yang memakan waktu sekitar 30 menit. Bapak B memberikan tambahan informasi, ia mengatakan bahwa sulit untuk melaksanakan JSA setiap pekerjaan akan dimulai, karena pekerjaan di rig sangat banyak dan berurutan satu sama lain. Menurutnya, jika harus melaksanakan meeting

setiap pekerjaan dimulai akan menghabiskan banyak waktu. Jika memang ditemukan

hazard baru, maka mereka akan berkumpul untuk membahasnya.

Bapak D memberikan informasi yang berbeda dengan informan utama lainnya. Ia mengatakan bahwa para kru pekerja selalu melakukan pre job meeting atau analisis

JSA sebelum pekerjaan dimulai. Pre job meeting dilakukan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Namun, saat pre job meeting mereka tidak langsung menuliskannya di dalam kertas. Alasannya karena akan memakan banyak waktu untuk menulis di formulir, sementara pekerjaan yang harus mereka selesaikan cukup banyak.

Para informan pendukung, memberikan informasi yang sama bahwa pelaksanaan JSA dilakukan saat tail gate meeting. Tail gate meeting berlangsung sekitar tiga puluh menit. Bapak AC memberikan informasi tambahan bahwa dalam tail gate meeting

dibicarakan JSA untuk semua pekerjaan selama 12 jam, dan mereka baru akan berkumpul lagi dalam bentuk pre jobmeeting jika ditemukan adanya hazard baru.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tail gate meeting yang dilakukan hanya berkisar sekitar 10 menit. Sedangkan pre job meeting dilakukan saat company service datang membantu pekerjaan di rig dalam waktu kurang dari 10 menit. Hasil pengamatan lapangan ini berbeda dengan informasi para pekerja.

Dalam OEMS Wellwork and Completion (2010), diatur bahwa persiapan dan ulasan JSA dilaksanakan saat pre job meeting. Informasi para informan mengenai pelaksanaan JSA saat tail gate meeting, menunjukkan perbedaan dengan ketentuan perusahaan. Hal ini juga terbukti dalam pengamatan lapangan, bahwa pre job meeting

jarang dilakukan. Pengawas dan kru kerja lebih sering melaksanakan pekerjaan saat tail gate meeting.

h. Keputusan Pengawas (Supervisor Judgement LTA)

Event ini mencurigai bahwa kegagalan pre-job analysis disebabkan oleh ketidatepatan pengawas mengambil keputusan dalam pelaksanaan pre-job analysis. Ketidaktepatan pengawas dalam penelitian ini, terbukti dari hasil pengamatan lapangan. Diketahui bahwa banyak pekerjaan yang dimulai tanpa pre jobmeeting dan pembahasan SOP/JSA. Ditemukan juga pekerjaan yang dianalisis JSA oleh clerk, bukan dianalisis oleh pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan. Dari tiga formulir JSA yang dianalisis, ditemukan ketidaktepatan pada setiap langkah pelaksanaannya, baik pada pembagian langkah kerja, pengidentifikasian hazard, dan penentuan tindakan mitigasinya. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawas tidak tegas dalam mengawasi pelaksanaan JSA di lokasi kerja.

Ada satu kondisi yang pernah dihadapi peneliti ketika mengikuti kegiatan di rig yaitu keheranan pekerja dari business partner lain saat WSM memintanya untuk memberikan formulir JSA. Pekerja tersebut tampak terheran-heran dan mengatakan bahwa WSM tidak biasa meminta formulir JSA kepadanya. Pekerja tersebut lalu pergi dan kembali lagi membawa SOP pekerjaan, bukan JSA yang diinginkan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa para pengawas tidak tegas mengawasi pelaksanaan JSA di lokasi kerja rig. Hal ini akan membuat pekerja beranggapan bahwa JSA tidak terlalu penting.

B. Potensi Kecelakaan Rendah (Low Potential)

Event membahas tentang identifikasi hazard pada pekerjaan yang memiliki potensi hazard yang rendah. Dari hasil wawancara dengan informan kunci diketahui, bahwa ada beberapa pekerjaan yang memiliki potensi kecelakaan kecil. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang dilakukan petugas access control, signal man, dan clerk. Petugas

access control bertugas untuk memastikan bahwa hanya orang yang berhak saja yang dapat masuk ke lokasi rig. Petugas signal man bertugas memandu mobil kecil untuk parkir di lokasi pekerjaan, dan clerk bertugas untuk mengurus administrasi dan surat- surat di lokasi kerja.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan pada pekerjaan yang langsung berhubungan dengan wellwork dan initial completion. Karena pekerjaan

wellwork dan initial completion merupakan pekerjaan high risk, maka cabang ini tidak dianalisis lebih lanjut. Tidak ditemukan pekerjaan wellwork dan initial completion yang memiliki potensi kecelakaan rendah.

5.3.4 Hasil Penelitian untuk Task Spesific Risk Asessment LTA

Pada event ini akan dibahas tentang ketepatan penilaian risiko dan penentuan tingkat risiko suatu pekerjaan.

A. Analisis Risiko Pekerjaan (Task Spesifik Risk Analysis LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang kualitas analisis risiko yang sudah dilakukan. Ada dua event yang harus dipertimbangkan untuk mengetahui kualitas penilaian risiko, yaitu:

2. Pengetahuan (Knowledge LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan untuk menilai risiko pekerjaan. Terdapat dua event yang mempengaruhi pengetahuan yaitu masukan dari para pekerja dan sistem teknik informasi.

c. Masukan dari Para Pekerja (Use of Worker’s Suggestions and Inputs)

Pada event ini akan dibahas tentang pengetahuan didapat dari masukan para pekerja. Masukan dari para pekerja ini dapat dijadikan informasi untuk penilaian risiko. Dari hasil wawancara dengan kedua WSM, diketahui informasi bahwa pekerja dilibatkan dalam tail gate meeting pagi. Menurut Bapak A, JSA dilakukan sekalian dengan tail gate meeting. Meeting akan memakan waktu sekitar 30 menit. Para kru kerja diajak berunding mengenai pekerjaan yang akan mereka lakukan 12 jam pada hari itu. Kemudian pekerja memberikan masukan mengenai hazard yang ada di pekerjaan mereka dan cara menanganinya. Jika dalam rentang waktu 12 jam ada hazard yang berbeda mereka akan melakukan

meeting lagi untuk membahas hazard tersebut.

Bapak B memberi informasi yang sama dengan Bapak A bahwa para pengawas dan kru melaksanakan tail gate meeting. Namun ia sendiri jarang mengikuti tail gate meeting pagi karena harus mengikuti meeting dengan WSM

lain di pagi hari. Ia menyerahkan kepada tool pusher untuk memimpin tail gate meeting bersama para kru pekerja. Dalam tail gate meeting satu sama lain peserta

meeting mengeluarkan pendapatnya.

Bapak C selaku tool pusher memberikan informasi bahwa pekerja dilibatkan dalam tail gate meeting. Sebelum melaksanakan tail gate meeting, clerk

membuat JSA pekerjaan dan kru pekerja melaksanakan assessment. Saat tail gate meeting, JSA yang dibuat oleh clerk akan disempurnakan berdasarkan masukan dari para pekerja yang sudah melakukan assessment. Bapak D sebagai driller

memberikan informasi yang serupa bahwa pekerja dilibatkan dalam pelaksanaan JSA di lokasi kerja.

Para pekerja yang menjadi informan pendukung memberikan informasi yang sama bahwa mereka terlibat dalam pelaksanan tail gate meeting.

“ Kami diajak berdiskusi.. terus diminta pendapatnya.. apa aja hazard.. satu-satu bergilir seperti itu.” (Bapak AA)

“Karena dah biasa, dah terbayang kayak mana bahaya kerja di rig ni.. pas diskusi biasanya ikut.. kalau ada yang punya pendapat.. ndak papa disampaikan pas tail gate meeting.” (Bapak AB)

“Pas tail gate meeting kalau ada yang mau kasih masukan, ya ngomong aja pas diskusi tu… lagian kalau kita kasih informasi bahaya kan buat kepentingan semua…biar semua tau biar semua hati-hati.” (Bapak AC)

“Nah saat tail gate meeting.. saat nya sharing.. kalau ada info disampaikan disini.. informasi pekerjaan, bahaya, saling mengingatkan supaya semua bisa kerja selamat”

(Bapak AD)

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, pekerja selalu dilibatkan baik dalam pelaksanaan tail gatemeeting maupun pelaksanaan pre jobmeeting. Para pekerja yang memiliki informasi mengenai pekerjaaan atau hazard mau menyampaikan informasi tersebut dalam meeting. Tail gate meeting selalu dilakukan pagi hari sebelum bekerja. Namun, pre job meeting tidak selalu dilakukan, kecuali saat

company service membantu pekerjaan rig.

d. Sistem Teknik Informasi (Technical Information System LTA)

Pada event ini akan dibahas mengenai teknik informasi yang dapat mendukung pelaksanaan JSA di lokasi kerja. Karena keterbatasan waktu dan data yang diperlukan dalam penelitian, cabang ini tidak dianalisis lebih lanjut. 2. Pelaksanaan (Execution LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas analisis risiko. Hal-hal tersbut adalah:

f. Waktu (Time LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang waktu untuk melaksanakan analisis risiko. Berdasarkan hasil wawancara, Bapak A menyatakan bahwa JSA dibuat saat tail gate meeting dan memakan waktu sekitar 30 menit. Dalam tail gate meeting didiskusikan pekerjaan dan hazard yang ada di pekerjaan selama 12 jam

untuk hari itu. Jika ditemukan adanya hazard baru, maka para pengawas dan pekerja berkumpul lagi untuk mendiskusikannya.

Bapak B memberi informasi yang sama. JSA dilaksanakan dalam tail gate meeting dengan kisaran waktu sekitar 30 menit. Bapak B mengatakan bahwa sulit untuk melaksanakan JSA setiap pekerjaan akan dimulai, karena pekerjaan di rig sangat banyak dan berurutan satu sama lain. Menurutnya, jika harus melaksanakan meeting setiap pekerjaan dimulai akan menghabiskan banyak waktu. Jika memang ditemukan hazard baru, maka mereka akan berkumpul untuk membahasnya,

Mengenai pelaksanaan JSA, Bapak C menyampaikan bahwa JSA dilakukan saat tail gate meeting dan memakan waktu selama 30 menit. Bapak D memberikan informasi yang berbeda dengan Bapak A dan C, namun serupa dengan Bapak B. Ia mengatakan bahwa mereka melakukan pre job meeting

untuk menganalisis JSA. Pre job meeting dilakukan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Namun, saat pre job meeting mereka tidak langsung menuliskannya di dalam kertas. Alasannya karena akan memakan banyak waktu untuk menulis di formulir, sementara pekerjaan yang harus mereka selesaikan cukup banyak. Hasil diskusi dalam pre job meeting baru disampaikan kepada

clerk dan clerklah yang menuliskannya.

Keempat pekerja sebagai informan pendukung memberikan informasi yang sama, bahwa analisis JSA dilakukan saat tail gate meeting, akan memakan

waktu sekitar 30 menit. Pekerja AA menambahkan informasi bahwa pre job meeting baru dilaksanakan jika pekerja menemukan keberadaan hazard baru saat bekerja. Pekerja yang terkait dengan pekerjaan itu baru akan berdiskusi dan melakukan pre jobmeeting untuk melakukan analisis JSA. Jika tidak ada hazard

baru, maka tidak akan dilakukan pre jobmeeting, cukup tail gate meeting di pagi hari.

“Sekalian pekerjaan 12 jam dibikin JSA pas tail gate meeting..” (Bapak AA) “Pre job meeting tu kalau ada bahaya yang beda aja.. pekerja yang terkait biasanya diskusi tu.” (Bapak AA)

“ Iya.. JSA pas tail gate meeting tu.” (Bapak AB)

“Biasanya sekalian pas tail gate meeting..kurang lebih 30 menit lah.”

(Bapak AC)

“ Kira-kira setengah jam pas tail gate meeting.” (Bapak AD)

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tail gate meeting yang dilakukan hanya berkisar 10 menit. Dalam tail gate meeting pekerja diajak berdiskusi mengenai hazard yang ada pada seluruh pekerjaan yang akan mereka lakukan. Dalam tail gate meeting juga dibicarakan tindakan mitigasinya.

Dalam OEMS Wellwork and Completion (2010), dijelaskan tentang pre job meeting yang ditujukan untuk mempersiapkan dan mengulas SOP/JSA. Idealnya setiap pekerjaan yang akan dilakukan, harus diawali dengan pre job meeting. Akan tetapi di lapangan, pengawas dan kru kerja cenderung membahas JSA dalam tail gate meeting. Pre jobmeeting jarang dilakukan, kecuali jika company

service datang membantu pekerjaan di rig. Pre job meeting dilakukan kurang dari 10 menit.

g. Anggaran (Budgets LTA)

Event ini mencurigai bahwa kegagalan pre-job analysis disebabkan kurangnya dana yang dianggarkan untuk pelaksanaan pre-job analysis. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci, anggaran untuk pelaksanaan JSA tidak dianggarkan secara spesifik karena termasuk dalam anggaran program safety. Untuk masing-masing rig, dianggarkan 400 USD/ hari yang sudah termasuk kedalam ODR (Operation Daily Rate). Bapak WD menyatakan bahwa anggaran ini cukup untuk memenuhi kebutuhan paper work,

salah satunya membuat form JSA yang menjadi tanggung jawab masing-masing

business partner.

h. Ruang Lingkup (Scope LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang ruang lingkup analisis risiko. Dari hasil wawancara dengan para informan diketahui bahwa JSA dilaksanakan saat tail gate meeting. Pekerjaan yang dianalisis dan didiskusikan dalam meeting tersebut adalah seluruh pekerjaan yang akan dilaksanakan selama 12 jam. Hasil pengamatan lapangan juga menunjukkan hasil yang demikian. Ruang lingkup pekerjaan yang dibahas dan dianalisis dalam meeting singkat ini terlalu luas.

Berdasarkan hasil analisis formulir JSA, tidak ditemukan pembagian langkah kerja untuk pekerjaan yang dianalisis, padahal pembagian langkah-langkah

pekerjaan juga sudah diatur dalam pedoman perusahaan. Tujuannya agar hazard

pada setiap langkah pekerjaan dapat teridentifikasi dengan baik. Namun, hal ini tidak ditemukan dalam formulir JSA. Hasil analisis formulir JSA ini menunjukkan bahwa ruang lingkup pekerjaan yang dianalisis terlalu luas.

i. Kemampuan Menganalisis (Analytical Skill LTA)

Pada event ini akan dibahas tentang pengalaman dan kemampuan pengawas dan para pekerja yang terlibat dalam penilaian risiko. Berdasarkan hasil wawancara, Bapak A menyatakan bahwa para pekerja sudah mengetahui dan mengenal hazard dan mampu menentukan tindakan mitigasi untuk pekerjaan yang mereka hadapi. Hal ini disebabkan karena pekerja sudah biasa melaksanakan pekerjaan di rig. Bapak B memberikan informasi yang sama dengan Bapak A. Menurutnya kru pekerja adalah pekerja terampil, sudah memiliki sertifikat, dan sudah berpengalaman. Para pekerja sudah mampu mengenali hazard dari pekerjaan di rig, terlebih lagi pekerjaan yang mereka laksanakan adalah pekerjaan rutin.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci, informasi untuk

Analytical Skill LTA sama dengan informasi Authority LTA. Para pekerja memang ahli melakukan pekerjaaan di rig, namun mereka belum ahli untuk mengidentifikasi hazard di lokasi kerja. Menurut Bapak WD, rata-rata pekerja yang mengalami accident adalah pekerja yang sudah memiliki pengalaman tiga sampai empat tahun. Para pekerja yang berpengalaman tersebut dapat dikatakan

sudah mahir melakukan pekerjaan, namun belum mahir untuk menetukan hazard

walaupun mereka telah mendapatkan training.

Kurangnya keterampilan pekerja juga terbukti dalam formulir JSA. Terdapat ketidaktepatan dalam formulir JSA tersebut, baik pada pembagian langkah kerja, identifikasi hazard, dan penentuan tindakan mitigasi yang kurang tepat. Ketidaktepatan ini dapat menunjukan kurangnya keterampilan pekerja.

j. Pemilihan Hazard (Hazard Selection LTA)

Event ini akan mempertimbangkan apakah ada hazard yang tidak dicantumkan dalam menilai risiko, sehingga dapat memicu terjadinya masalah.

3) Identifikasi Hazard (Hazard Identification LTA)

Pada event ini akan dibahas mengenai kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi hazard. Berdasarkan hasil wawancara, Bapak C menyatakan bahwa ada tools yang membantu pekerja untuk mengidentifikasi

hazard, yaitu Hazard Identification Tools (Hazid Tools). Di dalam tools

tersebut ada sepuluh kategori hazard yang membantu pekerja mengidentifikasi hazard. Kemudian ia menambahkan bahwa, pengkategorian hazard tidak hanya pada hazid tools tapi juga ada dalam JSA, dan JSA lebih sering digunakan di lapangan.

Bapak D memberikan informasi yang sama, bahwa Hazid Tools dapat digunakan untuk mengidentifikasi hazard dan pengkategorian hazard juga

terdapat dalam formulir JSA. Namun, ia menyatakan bahwa mereka tidak langsung menuliskan hasil pre job meeting kedalam formulir JSA. Alasannya karena pekerjaan yang harus mereka selesaikan cukup banyak.

Bapak B walau tidak di wawancara khusus mengenai Hazard Identification LTA, ia memberikan pernyataan bahwa pelaksanaan pre job meeting hanya dilakukan namun tidak dituliskan dalam formulir JSA.

“Ya,, kalau dibilang, ya semuanya harus dibuat JSA. Tapi pekerjaan ni

banyak kali.. habis yang ini .. yang ini lagi.. rutin berurutan, kalau harus dimeetingkan banyak waktu.. ditulispun bisa berapa ratus langkah tu? Paling diomongin aja kayak pre job meeting.. tapi dituliskan itu loh.” (Bapak B)

Sama hal dengan para pengawas, pekerja mengetahui bahwa ada sepuluh kategori hazard berdasarkan hazid tools. Namun, para pekerja mengakui bahwa mereka jarang menggunakan tools tersebut di lokasi kerja.

“Bahaya tu kan banyak, ada tu perusahaan kasih toolsnya.. apa aja kategorinya ndak pula hafal do..”(Bapak AB)

“Bisa-bisa.. bahaya yang ditemukan bisa dikategorikan…adakan di tools hazids tu..tapi kalau kami di lapangan jarang pakai itu…biasanya pakai yang di JSA tu aja.”(Bapak AC)

Alat identifikasi hazard atau Hazard Identification Tools yang disediakan perusahaan dapat dijadikan sebagai metode untuk mengidentifikasi sumber energi, mengidentifikasi potensi hazard, dan dapat menambah kemampuan pekerja untuk mengenali hazard. Hazid Tools ini, dimasyarakatkan

perusahaan dalam bentuk kartu-kartu kecil dan dibagikan kepada pekerja, namun selama pengamatan lapangan tidak ditemukan para pekerja mengidentifikasi hazard menggunakan kartu-kartu kecil ini.

JSA Hazid dapat digunakan dalam pelaksanaan JSA. Pengkategorian

hazard dalam JSA Hazid sama dengan pengkategorian Hazid tools yang diperkenalkan perusahaan. Dalam buku OEMS Well Work and Completion

2010, JSA Hazid merupakan tools yang harus digunakan dalam pelaksanaan analisis keselamatan pekerjaan.

Informan utama dan informan pendukung sudah mengetahui bahwa perusahaan menyediakan tools untuk mengidentifikasi hazard, salah satunya adalah JSA Hazid. Dalam JSA Hazid juga tersedia sepuluh kategori hazard. Namun dalam pelaksanaannya, JSA Hazid tidak selalu digunakan.

Dokumen terkait