• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Hasil Pengamatan

1. Jumlah Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Pasien Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Jenis Kelamin Jumlah %

Laki-Laki 29 51,8

Perempuan 27 48,2

Total 56 100

Sumber data : Indeks Penyakit Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.1, jenis kelamin pasien dengan kasus asfiksia bayi baru lahir pada tahun 2015 – tahun 2016, pasien yang paling banyak dirawat adalah pasien dengan jenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 51,8 %.

2. Jumlah Pasien Berdasarkan Tahun Dirawat Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Jumlah Pasien Berdasarkan Tahun Dirawat Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Tahun Dirawat Jumlah %

2015 25 44,6

2016 31 55,4

Total 56 100

Sumber data : Indeks Penyakit Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.2, jumlah pasien pada kasus asfiksia bayi baru lahir dengan jumlah terbanyak berdasarkan tahun dirawat adalah tahun 2016, yaitu sebesar 55,4 %

3. Diagnosa Utama

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Diagnosa Utama Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Diagnose Utama Jumlah %

Asfiksia 33 58,9

Asfiksia Berat 11 19,6

Asfiksia Sedang 4 7,1

Asfiksia Ringan 8 14,3

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.3, diagnosa utama pada kasus asfiksia bayi baru lahir tahun 2015-2016, diagnosa utama yang banyak tertulis dalam DRM pasien adalah diagnose Asfiksia (P21), yaitu sebesar 58,9 %.

4. Kode Diagnosa

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Kode Diagnose Utama Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Kode Diagnosa Utama Jumlah %

P21.0 Asfiksia Berat 4 7,1

P21.1 Asfiksia Ringan dan Sedang 4 7,1

P21.9 Asfiksia Yang Tidak Spesifik 48 85,7

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.4, kode diagnose utama pada kasus asfiksia bayi baru lahir tahun 2015-2016, kode diagnosa utama yang banyak tertulis dalam DRM pasien adalah kode P21.9 Asfiksia yang tidak spesifik, yaitu sebesar 85,7 %.

5. Klasifiksai Asfiksia Berdasarkan APGAR Skor Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Klasifiksai Asfiksia Berdasarkan APGAR Skor Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Klasifikasi Jumlah %

Asfiksia Berat (APGAR Skor 0-3) 18 32,1

Asfiksia Sedang (APGAR Skor 4-6) 15 26,8

Total 56 100 Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.5, klasifikasi asfiksia berdasarkan APGAR skor , jumlah pasien yang terklasifikasi paling banyak adalah asfiksia ringan dengan APGAR skor 7-10, yaitu sebesar 41.1 %.

6. Berat Badan Lahir

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Berat Badan Lahir Pasien Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Berat badan lahir Jumlah %

Rendah (1000-2499 gram) 15 26,8

Normal (2500-4500 gram) 41 73,2

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.6, berat badan lahir pasien pada kasus asfiksia bayi baru lahir dimana pasien paling banyak lahir dengan berat badan normal (2500-4500 gram), yaitu sebesar 73,2 %

7. Jenis Persalinan

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Jenis Persalinan Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Jenis Persalinan Jumlah % Spontan 18 32,1 Vacume Extrasi 6 10,7 ILA 1 1,8 Sectio Caesarea 31 55,4 Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.7, jenis persalinan yang banyak dilakukan pada kasus asfiksia bayi baru lahir adalah jenis persalinan section caesarea, yaitu sebesar 55,4 %.

8. Ketuban Pecah

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Ketuban Pecah Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Ketuban Pecah Jumlah %

Spontan 30 53,6

Amniotomy 26 46,4

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.8, ketuban pecah yang dialami oleh ibu bayi pada kasus asiksia bayi baru lahir paling banyak melalui proses ketuban pecah secara spontan, yaitu sebesar 53,6 %.

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Diagnosa Kehamilan Ibu Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Diagnosa Kehamilan Ibu Jumlah %

Preterm 15 26,8

Aterm 39 69,6

Postterm 2 3,6

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.9, diagnosa kehamilan ibu pada kasus asfiksia bayi baru lahir yang paling banyak jumlahnya adalah diagnosa aterm, yaitu sebesar 39 %.

10. Riwayat Kehamilan Atau Persalinan Terdahulu Tabel 4.10

Distribusi Frekuensi Riwayat Kehamilan Atau Persalinan Terdahulu Pada Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir

Riwayat Kehamilan Atau Persalinan

Terdahulu Jumlah %

Gravida 1 Partus 0 Abortus 0 24 42,9

Gravida 2 Partus 1 Abortus 0 12 21,4

Gravida 2 Partus 0 Abortus 1 3 5,4

Gravida 2 Partus 2 Abortus 0 3 5,4

Gravida 3 Partus 1 Abortus 1 2 3,6

Gravida 3 Partus 1 Abortus 2 1 1,8

Gravida 3 Partus 2 Abortus 0 5 8,9

Riwayat Kehamilan Atau Persalinan

Terdahulu Jumlah %

Gravida 4 Partus 3 Abortus 0 2 3,6

Gravida 5 Partus 2 Abortus 2 1 1,8

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.10, riwayat kehamilan atau persalinan terdahulu pada kasus asfiksia bayi baru lahir yang berjumlah paling besar adalah Gravida 1 Partus 0 Abortus 0, yaitu sebesar 42,9 %.

11. Komplikasi Selama Kehamilan Atau Persalinan Tabel 4.11

Distribusi Frekuensi Komplikasi Selama Kehamilan Atau Persalinan Komplikasi Selama Kehamilan Atau

Persalinan Jumlah %

Tidak Ada Komplikasi 37 66,1

Plasenta Previa 2 3,6

Solutio Placenta 3 5,4

Ketuban Pecah Dini 9 16,1

Pre Eklamsi Berat 5 8,9

Perdarahan 0 0

Total 56 100

Sumber data : DRM Pasien Kasus Asfiksia Bayi Baru Lahir Tahun 2015 – Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.11, komplikasi selama kehamilan atau persalinan pada kasus asfiksia yang berjumlah paling banyak adalah tidak ada komplikasi, yaitu sebesar 66,1 %.

BAB V PEMBAHASAN 1. Jumlah Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Bersadarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan di rumah sakit Panti Wilasa Dr Cipto Semarang Tahun 2017 maka peneliti telah mengambil sebanyak 56 DRM pasien asfiksia bayi baru lahir. Jumlah pasien tersebut merupakan keseluruhan dari populasi kasus. Data yang diambil adalah data retrospektif yaitu, data yang sudah ada pada tahun 2015 – tahun 2016. [12] jenis kelamin adalah jenis kelamin yang dimiliki oleh seorang pasien dilihat dari identitas pasien.

Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa hampir 50 % lebih bayi baru lahir dengan asfiksia terjadi pada bayi dengan jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan. Jenis kelamin laki-laki berjumalah 29 pasien dengan persentase 51,8 %, sedangkan jenis kelamin perempuan berjumlah 27 pasien dengan persentase 48,2 %.

Jumlah pasien berdasarkan jenis kelamin ini tidak memengaruhi dalam kasus asfiksia. Penyakit asfiksia tidak hanya menyerang pasien dengan jenis kelamin tertentu. Namun berkaitan dengan epidemiologi, berdasarkan pengertiannya meliputi ciri dari distribusi status kesehatan, penyakit, atau kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, geografi, agama, Pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. [13]

Informasi mengenai jenis kelamin pasien peneliti dapat temukan di seluruh formilir dalam DRM sebab jenis kelamin masuk kedalam identitas

pasien yang telah dibuatkan label identitas sehingga seluruh formulir dalam DRM mengandung informasi terkait jenis kelamin pasien.

2. Jumlah Pasien Berdasarkan Tahun Dirawat

Tahun dirawat merupakan tahun dimana pasien masuk dirawat di rumah sakit untuk menerima perawatan.

Berdasarkan tabel 4.2, pasien yang dirawat paling banyak berada di tahun 2016 berjumlah 31 pasien dengan persentase 55,4 %, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 25 pasien dengan persentase 44,6 %. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa jumlah pasien dengan kasus asfiksia bayi baru lahir mengalami peningkatan pada tahun 2016 dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2015, peningkatannya sebesar 10,8 %.

Informasi mengenai tahun dirawat pasien peneliti dapat temukan di seluruh formilir dalam DRM sebab tahun dirawat masuk kedalam identitas pasien yang telah dibuatkan label identitas sehingga seluruh formulir dalam DRM mengandung informasi terkait tahun dirawat pasien.

3. Diagnosa Utama

Diagnosa utama adalah suatu diagnosis atau kondisi kesehatan yang menyebabkan pasien memperoleh perawatan atau pemeriksaan, yang ditegakkan pada akhir episode pelayanan dan bertanggung jawab atas kebutuhan sumber daya pengobatan.

Berdasarkan tabel 4.3, menunjukkan bahwa diganosa utama yang sering tertuliskan di RM 1 dan resum pasien adalah diagnosa Asfiksia dengan jumlah 33 DRM. Dibandingkan dengan diagnosa yang lebih spesifik yaitu asfiksia berat sebesar 19,6 %, asfiksia sedang, sebesar 7,1 %, dan asfiksia ringan sebesar 14,3 %, ditemukan lebih banyak diagnosa yang tertulis adalah diagnosa asfiksia, dengan persentase sebesar 58,9 %.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Mulastin (2014) yaitu mayoritas bayi baru lahir mengalami asfiksia ringan sebanyak 74,4 % lebih besar dibandingkan asfiksia sedang (21,0 %) dan asfiksia berat (4,5 %). Walaupun sebagian besar penelitian menyebutkan di negara berkembang, lebih kurang empat juta bayi baru lahir menderita Asfiksia sedang atau berat.[10]

Informasi diagnosa utama peneliti dapat temukan di formulir resume medis dan lembar masuk keluar. Pada kedua formulir tersebut sudah didesain isian sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (dokter) langsung mengisi diagnosa utama. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kedua formulir tersebut informasi yang ditulis sudah konsisten. Namun diagnosa yang tertulis hampir sebagian kurang spesifik hanya menuliskan Asfiksia tanpa menuliskan klasifikasinya berat, sedang, atau ringan.

4. Kode Diagnosa Utama

Kode diagnosa utama adalah kode diagnosa Asfiksia yang menjadi kode utama yang tertulis dalam lembar masuk keluar dan resume

medis. Kode Asfiksia menurut ICD 10, terdiri dari 3 kode yang dibedakan berdasarkan APGAR skor yaitu, P21.0 Asfiksia Berat, P21.1 Asfiksia Ringan dan Sedang, dan P21.9 Asfiksia yang tidak spesifik. [11]

Berdasarkan tabel 4.4, menunjukkan bahwa kode diagnosa utama yang paling banyak tertulis dalam DRM pasien adalah kode P21.9 (asfiksia yang tidak spesifik) berjumlah 48 dengan persentase 85,7 %. Sedangkan kode P21.0 dan P21.1 dengan jumlah kasus yang sama yaitu 4 kasus.

Informasi kode diagnosa utama peneliti dapat temukan di formulir resume medis dan lembar masuk keluar. Pada kedua formulir tersebut sudah didesain isian sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (dokter) langsung mengisi kode diagnosa utama sesuai dengan diagnosa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kedua formulir tersebut informasi yang ditulis sudah konsisten. Namun hampir sebagian kode diagnosa tidak sesuai dengan diagnosis yang dituliskan, tidak sesuai dengan yang ada pada ICD 10.

5. Klasifikasi Asfiksia Berdasarkan APGAR Skor

APGAR skor adalah metode sederhana untuk menilai kondisi bayi baru lahir. Klasifikasi asfiksia dapat ditentukan berdasarkan APGAR skor. Klasifikasinya adalah Asfiksia berat dengan APGAR skor 0-3, Asfiksia sedang dengan APGAR skor 4-6, dan Asfiksia ringan dengan APGAR skor 7-10. [3]

Bersadarkan tabel 4.5, menunjukkan bahwa klasifikasi asfiksia berdasarkan APGAR skor yang tertulis di dalam DRM terbanyak adalah

Asfiksia ringan dengan skor apgar 7-10, sebanyak 23 kasus. Sedangkan Asfiksia berat diurutan kedua sebanyak 18 kasus dan Asfiksia sedang sebanyak 15 kasus.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Mulastin (2014) yaitu mayoritas bayi baru lahir mengalami asfiksia ringan dengan APGAR skor 7-10 yaitu sebanyak 74,4 %, lebih besar dibandingkan asfiksia sedang dengan APGAR skor 4-6 (21,0 %) dan asfiksia berat dengan APGAR skor 3-0 (4,5 %). Walaupun banyak penelitian lain yang hasil penelitiannya sebagian besar jumlah APGAR skor 4-6 yaitu asfiksia sedang yang banyak kasusnya dibandingkan asfiksia ringan maupun berat. [14]

Informasi APGAR skor peneliti dapat temukan di formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi dan formulir pengkajian keperawatan bayi (0-28 hari). Pada kedua formulir tersebut sudah didesain isian APGAR skor sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung menuliskan APGAR skor pada bagian yang sudah disediakan.

6. Berat Badan Lahir

Berat badan lahir adalah berat badan yang didapat pada bayi baru lahir. Berat badan lahir terdiri dari berat badan lahir rendah (1000 gram – 2499 gram), berat badan lahir normal (2500 gram – 4500 gram), dan berat badan lahir berat (lebih dari 4500 gram).

Berdasarkan tabel 4.6, dapat diketahui bahwa dari 56 pasien bayi baru lahir sebanyak 41 bayi lahir dengan berat badan normal yaitu antara

2500 gram – 4500 gram, sedangkan ada sebanyak 15 bayi lahir dengan berat badan lahir rendah yaitu antara 1000 gram – 2499 gram.

Berat badan bayi lahir memiliki keterkaitan dengan kasus asfiksia, khususnya berat badan bayi lahir rendah. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah biasanya akibat dari adanya komplikasi pada ibu saat masa kehamilan maupun kelahiran. Berat badan lahir rendah sering terjadi pada persalinan preterem, maka organ dari alat pernafasan belum dalam keadaan sempurna. Komplikasi seperti ini akhirnya berpengaruh terahadap kasus asfiksia bayi baru lahir. Namun, bayi yang lahir dengan berat badan normal tidak menutup kemungkinan akan menegalami asfiksia, sebab berat badan bayi lahir normal juga berpotensi mengalami komplikasi yang datang dari banyak faktor seperti ketuban pecah dini, riwayat obstetric buruk atau riwayat persalinan dan kehamilan yang buruk, serta gangguan plasenta. [15]

Informasi Berat badan lahir peneliti dapat temukan di formulir pengkajian keperawatan bayi (0-28 hari). Pada formulir tersebut sudah didesain isian berat badan lahir sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung menuliskan berat badan bayi pada bagian yang sudah disediakan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan semua informasi sudah dapat di temukan dalam formulir tersebut. Informasi berat badan lahir juga bisa di temukan di formulir-formuir lain seperti resum medis, catatan perkembangan terintegritas, dan identifikasi bayi.

Jenis persalinan ada beberapa macam berdasarkan yang sudah didesain dalam formulir yang ada pada DRM bayi baru lahir yaitu persalinan spontan, vacume extraksi, ILA (Intrathecal Labor Analgesia), dan section caesarea. Pada persalinan normal bisa menyebabkan bayi mengalami sesak nafas sehingga tubuh mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini yang dapat menyebabkan bayi lahir mengalami asfiksia.

Berdasarkan tabel 4.7, jenis persalinan yang paling banyak tejadi pada kasus asfiksia bayi baru lahir adalah jenis section caesarea dengan jumlah 31 kasus, (55,4 %). Urutan kedua terbanyak ada jenis persalinan spontan yang berjumlah 18 kasus (32,1 %). Selanjutnya ada kasus vacume extraksi dengan 6 kasus (10,7 %) dan ILA (Intrathecal Labor

Analgesia) 1 kasus (1,8 %). Pada jenis persalinan section caesarea terdiri

dari atas banyak indikasi antara lain: preeklamsi berat, ketuban pecah dini, solution placenta, placenta previa, oligohidramnion, perdarahan, cefalophelvic, dan bekas section. Atas indikasi diatas maka kelahiran lewat sectio caesarea akan lebih aman bagi ibu, anak atau keduanya.

Menurut penelitian lain oleh fadhilah fanny, bahwa kejadian asfiksia bayi baru lahir dapat disebabkan oleh persalianan tindakan yaitu section caesarea. Hal ini dikarenakan anastesi pada section caesarea dapat memengaruhi aliran darah yaitu mengubah tekanan perfusi atau resistensi vaskuler baik langsung ataupun tidak langsung sehingga dapat menyebabkan kejadian asfiksia. [16]

Informasi jenis persalianan peneliti dapat temukan di formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi. Pada formulir tersebut sudah didesain checklist sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis

(perawat) langsung mencentang pilihan jenis persalianan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan semua informasi sudah dapat di temukan dalam formulir tersebut.

8. Ketuban Pecah

Ketuban pecah ada 2 jenis yaitu spontan dan amniotomy. Ketuban pecah Spontan bisa saja mengalami ketuban pecah dini yang dimana menurut sudut pandang medis secara garis besar 50 % persalinan preterm terjadi spontan, 30 % karena ketuban pecah dini dan sisanya 20 % dilahirkan atas indikasi ibu / janin. [17]

Berdasarkan tabel 4.8, ketuban pecah yang dialami oleh ibu bayi dengan kasus asfiksia paling banyak mengalami ketuban pecah secara spontan dengan jumlah 30 kasus (53,6 %). Ketuban pecah secara amniotomy hanya ada 26 kasus (46,4%).

Keterkaitan ketuban pecah dengan kasus asfiksia tidak dapat dikaitkan secara spesifik, namun bila ketuban pecah spontan dengan waktu yang lebih awal maka hal tersebut dapat menjadi faktor terjadinya asfiksia lahir, menurut penelitian lain oleh Winadharma dkk, ketuban pecah dini merupakan faktor risiko terjadinya asfiksia. Semakin lama KPD maka komplikasi yang terjadi semakin besar, berakibat risiko terjadinya asfiksia pada janin, juga semakin meningkat. [17]

Informasi Ketuban pecah peneliti dapat temukan di formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi. Pada formulir tersebut sudah didesain checklist sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung mencentang pilihan antara spontan dan amniotomy.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan semua informasi sudah dapat di temukan dalam formulir tersebut.

9. Diagnosa Kehamilan Ibu

Diagnosa kehamilan ibu terdiri dari 3 jenis yaitu preterm (usia kehamilan kurang bulan, usia kehamilan sebelum 37 minggu), aterm (usia kehamilan cukup bulan, usia kehamilan antara 37-42 minggu), dan postterm (usia kehamilan lebih dari 42 minggu). Risiko asfiksia bayi baru lahir terjadi pada kehamilan yang kurang bulan atau preterm dan lebih bulan atau postterm karena janin pada kehamilan preterm maupun postterm berisiko mengalami gangguan nafas.

Berdasarkan tabel 4.9, diganosa kehamilan ibu pada kasus asfiksia bayi baru lahir banyak terdiagnosa Aterm (cukup bulan), jumlahnya sebesar 39 kasus (69,6 %). Sedangkan yang terdiagnosa Preterm (kurang bulan) ada sebanyak 15 kasus (26,8 %) dan Postterm (lebih bulan) sebanyak 2 kasus (3,6 %).

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti diagnosa kehamilan ibu yang terbanyak adalah diagnosa aterm (cukup bulan). Diagnosa aterm menurut teori memang tidak memberi pengaruh risiko bayi lahir asfiksia namun bisa jadi bayi yang lahir dengan diagnosa kehamilan aterm mengalami asfiksia oleh karena faktor yang lain seperti lahir dengan persalinan section caesarea, riwayat kehamilan atau persalinan yang buruk (pernah mengalami abortus), dan komplikasi kehamilan atau persalinan. [18]

Menurut penelitian lain oleh Dian Hartatik, ada pengaruh diagnosa kehamilan ibu (umur kehamilan) dengan kejadian asfiksia. Diganosa yang preterm dan postterm lebih berpeluang melahirkan bayi asfiksia sebesar 2,9 kali dibandingkan yang tidak berpengaruh yaitu diagnosa aterm.

Bayi yang lahir preterm, organ-organ tubuhnya belum sempurna ini berisiko sistem pernapasan khususnya paru-paru bayi belum bekerja dengan optimal, otot pernapasan masih lemah sehingga tangis bayi

preterm terdengar lemah dan merintih akibatnya bayi bisa mengalami

asfiksia. Menurut teori dari jurnal Gaster kehamilan postterm bisa berisiko gawat janin sebab fungsi plasenta berada pada puncaknya yaitu kehamilan 38 minggu lalu mulai menurun tepatnya setelah 42 minggu. Rendahnya fungsi plasenta bisa berefek pada gangguan pernapasan janin dan gangguan sirkulasi bayi setelah lahir sehingga terjadi asfiksia. [18]

Informasi diagnosa kehamilan ibu peneliti dapat temukan di formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi. Pada formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi sudah didesain checklist sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung mencentang pilihan diagnosa kehamilan ibu. Namun peneliti juga menemukan beberapa DRM yang tidak terdapat informasi di formulir seharusnya, informasi tetap ada dalam DRM namun ditemukan di formulir catatan perkembangan terintegrasi.

Riwayat kehamilan atau persalinan terdahulu yang telah dialami oleh ibu yang melahirkan bayi dalam kasus asfiksia. Dari seluruh dokumen yang di Analisa informasinya yaitu sebanyak 56 DRM, ditemukan 11 kategori riwayat kehamilan atau persalinan terdahulu yaitu Gravida1 Partus0 Abortus0, Gravida2 Partus1 Abortus0, Gravida2 Partus0 Abortus1, Gravida2 Partus2 Abortus0, Gravida3 Partus1 Abortus1, Gravida3 Partus1 Abortus2, Gravida3 Partus2 Abortus0, Gravida4 Partus2 Abortus1, Gravida4 Partus3 Abortus0, dan Gravida5 Partus2 Abortus2. Gravida adalah kehamilan, partus adalah persalianan, dan abortus adalah kegagalan atau berhentinya kehamilan sebelum atau kurang dari 22 mingggu dan janin belum mencapai berat 500 gram.

Berdasarkan tabel 4.10, ibu dengan status Gravida 1 Partus 0 Abortus 0 terlihat menjadi jumlah kasus yang terbanyak yaitu sebesar 24 kasus dengan persentase 42,9 %, dibandingkan dengan riwayat kehamilan atau persalinan terdahulu lainnya.

Gravida 1 Partus 0 Abortus 0 bisa disebut juga paritas paling rendah atau paritas satu memperlihatkan ketidaksiapan ibu dalam menangani komplikasi yang terjadi dalam kehamilan, persalianan maupun nifas. Hal ini berisiko dikarenakan ibu belum siap secara medis maupun mental. Seperti menurut hasil penelitian oleh Syuul Adam dkk yang sejalan dengan penelitian ini, bahwa paritas 1 berisiko melahirkan bayi dengan asfiksia lebih besar dari pada paritas 2-3 lainnya. [19]

Informasi Riwayat kehamilan atau persalinan terdahulu peneliti dapat temukan di formulir assessmen pasien rawat inap neonatus dan bayi dan formulir pengkajian keperawatan bayi (0-28 hari). Pada kedua

formulir tersebut sudah didesain isian sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung mengisi G_P_A_ sesuai dengan riwayat ibu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kedua formulir tersebut informasi yang ditulis sudah konsisten.

11. Komplikasi Selama Kehamilan

Komplikasi selama kehamilan atau persalinan berdasarkan yang tercantum dalam formulir rekam medis pasien yang sudah didesain sesuai dengan kebutuhan, pada isi bagian komplikasi selama kehamilan atau persalinan terdapat 6 pilihan yaitu tidak ada komplikasi, plasenta previa, solution placenta, ketuban pecah dini, preeklamsi berat, dan perdarahan.

Berdasarkan tabel 4.11, komplikasi selama kehamilan atau persalianan yang terjadi pada kasus asfiksia bayi baru lahir sebagian besar tidak mengalami komplikasi selama kehamilan atau persalinan, sebanyak 37 kasus, namun tetap ada kasus yang mengalami komplikasi seperti, plasenta previa ada sebanyak 2 kasus, solution placenta ada sebanyak 3 kasus, ketuban pecah dini 9 kasus, preeklamsi berat sebanyak 5 kasus dan perdarahan tidak ada kasus yang terjadi.

Plasenta previa, solutio placenta, perdarahan, ketuban pecah dini, dan preeklamsi berat, dari Ke-lima komplikasi ini memengarui terjadinya risiko asfiksia bayi baru lahir. Menurut teori, Plasenta previa dan solutio placenta merupakan salah satu risiko asfiksia bayi baru lahir yang masuk dalam risiko asfiksia berdasarkan faktor plasenta. Hal ini juga berkaitan dengan komplikasi perdarahan, salah satu penyebab perdarahan adalah

faktor dari gangguan pada plasenta. Faktor placenta memengaruhi karena bila terjadi gangguan pada placenta seperti placenta previa atau solution placenta akan mengurangi pasokan nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin. Menurut Hidayat pada buku Ilmu Kesehatan Anak tahun 2008:128, menyebutkan bahwa Ketuban pecah dini dan preeklamsi berat dapat menjadi risiko asfiksia bayi baru lahir berdasarkan faktor ibu yang kehamilannya berisiko. [3]

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Agustin (2015), komplikasi kehamilan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap terjadinya asfiksia bayi baru lahir. Mayoritas responden yang melahirkan bayi asfiksia menunjukkan bahwa tidak memiliki komlikasi kehamilan. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian kaye (2003), menunjukkan bahwa asfiksia dipengaruhi komplikasi pada saat antenatal dan intrapartum.

Informasi komplikasi selama kehamilan atau persalianan peneliti dapat temukan di formulir pengkajian keperawatan bayi (0-28 hari). Pada formulir pengkajian keperawatan bayi (0-28 hari) sudah didesain checklist komplikasi sesuai kebutuhan sehingga tenaga medis (perawat) langsung

Dokumen terkait