• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengamatan karang dengan mentoda LIT (Line Inter- Inter-cept Transect)

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. S ISTEM I NFORMASI G EOGRAFIS (SIG)

2. Hasil pengamatan karang dengan mentoda LIT (Line Inter- Inter-cept Transect)

Lokasi pengamatan dengan mengunakan me-toda LIT disajikan pada Gambar 6 dan Lampiran 2. Dari pengamatan terumbu karang dengan metode LIT di 16 stasiun transek permanen menunjukkan bahwa tak satu pun stasiun yang terumbu karangnya masuk dalam kategori “sangat baik”.

Hanya ada 6 stasiun dikategorikan “baik”,

sedang-kan sisanya yaitu 9 stasiun dikategorisedang-kan “sedang” dan hanya 1 stasiun yang masuk dalam kategori “jelek”. Secara umum kondisi karang di lokasi tran-sek relatif baik. Nilai persentase tutupan karang

18% 19% 16% 3% 9% 2% 9% 2% 14% 7% 1% 0% 0% Acropora Non Acropora DCA DC Soft Coral Sponge Fleshy Seaweed Other Biota Rubble Sand Silt Rock TA

hidup berkisar antara 17,03% - 70,10% dengan per-sentase tutupan tertinggi terdapat di stasiun 139 (70,10%) dan yang terndah di stasiun NTNL-164 (17,03%). Secara rinci persentase tutupan karang bentik dan kondisi abiotik diuraikan per masing-masing stasiun. Persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratnya di masing-masing stasiun transek permanen yang dila-kukan dengan metode LIT ditampilkan pada Gam-bar 7, 8a dan 8b, 9a dan 9b.

Gambar 6. Peta lokasi pengamatan terumbu karang dengan metoda LIT di perairn Natuna.

Gambar 7. Histogram persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substratnya di masing-masing sta-siun transek permanen di Natuna yang dilakukan dengan metode LIT.

Deskripsi lokasi transek permanen

Pengamatan kondisi karang, biota bentik lainnya dan katagori abiotik dilakukan dengan menggunakan me-toda LIT. Diskripsi masing-masing stasiun pengamatan diuraikan sebagai berikut :

ST. NTNL 139 (Desa Cemaga bagaian selatan)

Pantai berpasir putih dengan vegetasi darat didomi-nasi oleh pohon kelapa. Pada saat pengamatan, air agak keruh dan berombak. Panjang rataan terumbu sekitar

0% 20% 40% 60% 80% 100% Rock Silt Sand Rubble Ot her Biot a Fleshy Seaweed Sponge Sof t Coral DC DCA Non Acropora Acropora

600m ke arah laut dengan lereng terumbu yang landai

yaitu sekitar 20o. Pertumbuhan karang ditemukan pada

kedalaman 3 – 8 m, setelah itu pasir mendominasi. K a r a n g d e n g a n b e n t u k p e r t u m b u h a n b r a n c h i n g (bercabang) didominasi oleh jenis Acropora sp dan

P o r i t es n i g r es c e ns. Dari hasil LIT diperoleh persentase

tutupan karang hidup sebesar 70,10%. kondisi karang seperti ini dikategorikan baik. Dari semua lokasi, daerah ini memiliki tutupan karang yang paling tinggi. Sebaran karang batu hasil LIT disajikan dalam Lampiran 3.

ST. NTNL 141 (Pulai Jantai)

Pengamatan dilakukan di Pulau Jantai yang terma-suk dalam wilayah desa Cemaga. Rataan terumbu ber-pasir dengan perairan agak keruh. Memiliki lereng

te-rumbu yang landai dengan kemiringan sekitar 15o -20o.

Pertumbuhan karang ditemukan pada kedalaman 2 – 5m. Karang dengan bentuk pertumbu han bercabang (branching) didominasi oleh jenis Acropora sp., Porites

rus dan Porites cylindrica. Dari hasil LIT diperoleh

per-sentase tutupan karang hidup sebesar 63,00%.

ST. NTNL144 (Perbatasan Ranai dan Desa Cemaga)

Pantai berpasir dengan sedikit lumpur. Vegetasi tumbuhan darat didominasi oleh pohon kelapa. Lokasi ini memiliki rataan terumbu yang cukup luas yaitu seki-tar 3500 meter. Lereng terumbu landai dengan

kemirin-gan sekitar 15o. Substrat didominasi oleh rubble yang

banyak ditumbuhi oleh Coraline alge. Pertumbuhan karang ditemukan pada kedalaman 2 – 5m dan didomi-nasi oleh jenis Acropora. Dari hasil LIT diperoleh per-sentase tutupan karang hidup sebesar 33,03%.

ST. NTNL145 (Perbatasan Ranai dan Sepempang)

Lokasi ini memiliki rataan terumbu yang landai den-gan panjang sekitar 500 m. Substrat tersusun dari karang mati, pasir serta rubble. Kemiringan lereng

te-rumbu tergolong landai yaitu sekitar15o. Pohon kelapa

pada lokasi ini cukup dominan dibandingkan tumbuhan lainnya. Pertumbuhan karang didominasi oleh Porites spp dan montipora spp. Dengan hasil LIT yang hanya sebesar 32,33%, maka pertumbuhan karang hidup pada lokasi ini masuk dalam kategori “sedang”.

ST. NTNL146 (Desa Sepempang)

Pantai berbatu dengan vegetasi pohon kelapa cukup dominan. Reef flat landai dengan panjang sekitar 800 m, substrat dasar didominasi oleh karang mati dan didomi-nasi oleh Favia spp., Montipora spp. serta makroalga dari jenis Padina sp. Mendekati tubir banyak ditemukan karang massive yang mati. Kemiringan reef slope

berk-isar antara 30-45o. Pertumbuhan karang hidup dominasi

oleh Acripora cerealis, Porites lutea dan Montipora

fo-l io s a serta banyak juga ditemukan boulder dengan

di-ameter 0,5 – 1m yang diselingi oleh padina sp. Pertum-buhan karang ditemukan sampai kedalaman 6 m dan di-lanjutkan rataan pasir lumpuran. Biota lain yang banyak ditemukan adalah Sinularia sp dan Diadema sp. Tutupan karang hidup pada lokasi ini memiliki nilai persentase yang tidak jauh berbeda dengan stasiun lainnya yaitu 33,07%.

ST. NTNL148 (Desa Kelanga)

Pantai didominasi oleh hamparan pasir putih yang ditumbuhi oleh pohon kelapa. Reef flat landai dengan panjang sekitar 1 km dengan substrat dasar karang mati. Pada lokasi ini tidak ditemukan rampart.

Pertumbu-han karang massive pada daerah tepi didominasi oleh

Porites lutea, favia spp., dan mendekati tubir didominasi

oleh Porites cylindrica dan Goniopora columna.

Kemirin-gan reef slope berkisar antara 30-50o dan didominasi

oleh boulder dengan diameter 1-2 m yang diselingi oleh

D i pl o as tr ea h el i o po ra dan Porites lutea dan diikuti oleh

A c r op o ra b r u eg ge mmani serta Porites rus. Batas

per-tumbuhan karang sampai kedalaman 6 meter yang di-dominasi oleh Goniopora lobata dan Platygyra lamellina, dan selanjutnya berupa hamparan pasir lumpuran. Tutu-pan karang hidup hasil LIT yaitu sebesar 46,90%. Biota lain yang banyak ditemukan adalah Anemon dan

Holoth-h u ri a e du l i s.

ST. NTNL150 (Desa pengadah)

Lokasi pengamatan terletak di Desa Pengadah yang memiliki pantai pasir putih dengan vegetasi tumbuhan darat seperti pohon Kelapa. Rataan terumbuh (reef flat) tergolong landai dengan dasar karang mati. Pertumbu-han karang massive dari jenis Porites lutea dengan di-ameter antara 0,5-1 m banyak ditemukan, diikuti juga oleh Acropora Hyacinctus dan Acropora divaricata serta macroalgae dari jenis Padina sp dan Halimeda sp. Mendekati reef slope dengan sudut kemiringan antara 15

-25o pertumbuhan karang massive didominasi oleh jenis

yang sama dengan diameter yang lebih besar yaitu seki-tar 1-2 m dan diselingi oleh Echinophyllia aspera dan

H e l i o po r a c oe r ul ea serta pertumbuhan bercabang dari

jenis Acropora formosa dan Pocillopora verrucosa. Ba-tas pertumbuhan karang sampai kedalaman 15 m dan banyak ditemukan Juncella sp. Lebih dari 15 m berupa hamparan pasir. Biota pasir yang banyak dijumpai adalah Trochus niloticus dan Fungia spp. Dari hasil LIT diperoleh tutupan karang hidup sebesar 34,63%.

Gambar 8. Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kategori abiotik hasil LIT Natuna.

ST. NTNL152A (Desa pengadah)

Lokasi pengamatan juga masih terletak di Desa Pengadah yang memiliki pantai berpasir putih ditumbuhi oleh pohon kelapa. Rataan terumbu didominasi oleh pasir hingga jarak sekitar 600 m. Mendekati tubir per-tumbuhan karang didominasi oleh Acropora nobilis dan

Porites cylindric a yang diselingi oleh soft corala. Reef

slope memiliki sudut kemiringan antara 30-50o.

Pertum-buhan karang didominsi oleh Acropora loripes, A.

Cere-a l i s dan A. Aspera sampai dengan kedalaman 9 m.

Per-sentase tutupan karan hidup hasil LIT yaitu sebesar 62.00%, dan tergolong dalam kategori “baik”. Pada ke-dalam lebih dari 10 meter substrat didominasi oleh ham-paran pasir. # # # # # # # # # # # # # # # # CEMAGA SEDANAU TIMUR SUNGAI ULU SEDANAU BARAT

TAPAUHARAPAN JAYA

PULAU TIGA BATU UBI JAYA UPT. V NATUNA SP.3 / SEDARAT B

GUNUNG PUTRI SP. 2 RANAI CERUK KELARIK PENGADAH KELANGA KELARIK UTARA SEDANAU BARAT TANJUNG SEPEMPANG AIR LENGIT SEDANAU TIMUR HARAPAN JAYA KELARIK BARAT SUNGAI ULU P. Salor P. Sabai P. Sedua P. Buton P. Bunga P. Panda P. Senua P. Pasir P. Komang P. Selinu P. Saluan P. Kemudi P. Jantai P. Sedanau P. Panjang P. Bunguran P. semarung P. Serungus P. Samarago P. Batubilis Laut Natuna

Laut Cina Selatan

3°50' 3°50' 4°00' 4°00' 4°10' 4°10' 107°50' 107°50' 108°00' 108°00' 108°10' 108°10' 108°20' 108°20' 108°30' 108°30' 108°40' 108°40' Legenda : TUTUPAN LIFEFORM PER STASIUN LIT DI UTARA NATUNA U Darat Hutan Mangrove Fringing Reef Patch Reef Acropora Non acropora Dca Dc Soft coral Sponge Fleshy seaweed Other biota Rubble Sand Silt Rock

ST. NTNL154 (Desa pengadah)

Pengamatan yang dilakukan pada lokasi ini memiliki pantai yang substratnya terdiri dari batuan sedimen, batu dan pasir sepanjang 25 m yang diselingi oleh dasar karang mati. Reef slope landai dengan sudut antara

20-25o yang didominasi oleh Millepora sp., Acropora

hya-c in hya-ct us dan Pocillopora spp. dan diselingi oleh soft

coral. Persentase tutupan karang hidup yang ditemukan yaitu sebesar 62,77%.

ST. NTNL155 (Desa pengadah)

Pantai pasir putih dengan vegetasi pohon kelapa. Rataan terumbu landai dengan panjang sekitar 800 m, memiliki substrat dengan dasar karang mati yang di-dominasi oleh Acropora microphthalma, diselingi oleh soft coral dari jenis Sinularia sp. Tubir dan reef slope landai, didominasi oleh Acropora spp. Pertumbuhan karang sampai kedalaman 6 m dan dilanjutkan dengan rataan pasir. Persentase tutupan karang hidup yang ditemukan sebesar 60,67%.

ST. NTNL157 (Desa Klarik Utara)

Pantai pasir putih dengan vegetasi pohon kelapa, reef flat landai hingga tubir dengan panjang sekitar 1 km. Substrat dasar berupa karang mati didominasi oleh

A c r op o ra a s pe r a dan A. Nobilis yang diselingi oleh

Sinu-l a ri a sp. Mendekati tubir pertumbuhan soft coral

didomi-nasi oleh Sinularia sp. dan Sarcophyton sp. yang disel-ingi Echinopora horrida dan Fungia spp. Kemiringan reef

slope berkisar 25-40o dan didominasi oleh soft coral dari

jenis Sinularia sp. Sedangkan hard coralnya didominasi oleh Hydnopora rigida dan Acropora loripes yang disel-ingi oleh Gorgonian dari jenis Isis sp. Batas pertumbu-han karang sampai kedalaman 10 m dan banyak

ditemu-kan Juncella sp. Pada kedalaman lebih dari 10 m sub-strat didominasi oleh hamparan pasir. Persentase tutu-pan karang hidup yang ditemukan sebesar 36,87%.

ST. NTNL159 (Desa Klarik Utara)

Pengamatan yang dilakukan di lokasi ini memiliki pantai yang ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Rataan terumbu landai dengan panjang sekitar 800 m dan ban-yak ditumbuhi oleh Acropora nobilis dan Sinularia sp. Substrat dasar adalah karang mati dan mendekati tubir banyak ditemukan Diploastrea heliopora dan Porites

l u te a dengan diameter antara1-1,5 m. Kemiringan reef

slope adalah sekitar 30-45o. Pertumbuhan karang pada

daerah ini didominasi oleh Echinopora horrida, Porites

c yli n dr ic a dan Favia spp. yang diselingi soft coral dari

jenis Sinularia sp. Persentase tutupan karang hidup adalah sebesar 69,23%. Pada lokasi ini pertumbuhan karang hidup masih ditemukan sampai kedalaman 10 m serta banyak ditumbuhi oleh Juncella sp. Dan pada ke-dalaman lebih dari 10 meter didominasi oleh hamparan pasir bercampur lumpur.

ST. NTNL161 (Desa Klarik)

Lokasi ini memiliki pantai berpasir putih dengan vegetasi pohon kelapa. Rataan terumbu landai dengan lebar sekitar 700 m. Substrat dasar adalah karang mati dan didominasi oleh Sargassum sp., Acropora

gemmif-e r a serta Acropora humilis. Mendekati tubir

pertumbu-han karang Acropora didominasi oleh Acropora

divari-c a ta dan Acropora nasuta. Reef slope pada lokasi ini

tergolong landai dengan kemiringan sekitar 10-15o.

Per-tumbuhan karang didominasi oleh Porites lutea dan

Lo-b o ph y l l i a c o ry mLo-b o s a dengan diameter antara 1-1,5 m,

yang diselingi oleh Sargassum sp. Pertumbuhan karang hanya ditemukan sampai pada kedalaman 4 m dan

dilan-jutkan dengan rataan pasir lumpuran. Persentase tutu-pan karang hidup adalah sebesar 39,20%.

ST. NTNL164 (Desa Klarik)

Lokasi pengamatan dekat dengan dermaga fery dan pemukiman penduduk. Lereng terumbu landai dengan

kemiringan sekitar 200. Mendekati tubir pertumbuhan

karang didominasi oleh Porites lutea dan Goniopora

col-u mn a dengan diameter 1-2 m. Macro Alga (Fleshy

Sea-weed) didominasi oleh Sargassum sp., dengan persen-tase tutupan mencapai 26,93. Pertumbuhan karang hanya ditemukan sampai kedalaman 3 m setelah itu di-lanjutkan dengan rataan pasir yang diselingi oleh

Jun-c el la sp. Persentase tutupan karang hidup adalah

sebe-sar 17,03%. Pada lokasi ini persentase tutupan pasir tercatat sangat dominan yaitu 33.37% diikuti fleshy sea-weed (26,93%). Diantara semua lokasi yang diamati,

ST. NTNL165 (Desa Klarik Barat)

Pantai berpasir putih dengan vegetasi pohon kelapa yang tumbuhan dominan. Panjang rataan terumbu berk-isar 100 m ke arah laut. Bentuk Pertumbuhan karang tabulate didominasi oleh jenis Acropora hyacinctus dan untuk pertumbuhan bercabang diwakili oleh Pocillopora

v e rruc os a. Mendekati tubir kemiringan bertambah

men-jadi 25o dan karang tumbuh lebih bervariasi. Bentuk

per-tumbuhan seperti bongkahan (massive) didominasi oleh jenis Porites lutea dengan diameter 1-2 m. Acropora

Hy ac in ct us dan A. Cytherea juga mudah ditemukan.

Pada substrat yang terdiri dari karang mati, ditumbuhi oleh soft coral dari jenis Sinularia sp. dan Gorgonian dari jenis Isis sp. (patah tulang). Pertumbuhan karang masih ditemukan sampai kedalaman 15 m, dan didomi-nasi oleh jenis Acropora spp. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup sebesar 43,30%.

ST. NTNL167 (Desa Klarik Barat)

Pantai berupa batuan yang ditumbuhi oleh semak belukar. Rataan terumbu landai dengan lebar sekitar

100 m Reef slope memiliki kemiringan antara 15-25o.

Pertumbuhan karang didominasi oleh Acropora

Hyacinc-tus, Acropora nobilis dan Porites lutea yang diselingi

oleh soft coral dari jenis Sinularia sp. dan Gorgonian dari jenis Isis sp. Sampai dengan kedalaman 20 m masih ditemukan karang terutama Porites lutea, Acropora

as-p e r a dan Acropora formosa dan lebih dari 20 m

didomi-nasi oleh rataan pasir yang diselingi oleh Juncella sp. Pada lokasi ini banyak juga ditemukan bulu babi dari jenis Diadema sp yang biasa menempati karang mati. Dari hasil LIT diperoleh persentase tutupan karang hidup sebesar 25.00%.

Gambar 9. Persentase tutupan karang hidup LIT di Natuna.

Dari hasil LIT yang dilakukan di 16 stasiun transek permanen, nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon dan nilai indeks kemerataan Pielou disajikan dalam Ta-bel 2.

Tabel 2. Nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon (H’) yang dihitung menggunakan ln (=log e) dan Indeks kemer-ataan Pielou (J’) untuk karang batu di masing-masing stasiun transek permanen dengan metode LIT.

Dari Tabel 2 tersebut terlihat bahwa stasiun NTNL-164 memiliki keragaman jenis karang yang rendah den-gan kemerataan jenis yang rendah pula. Jenis Porites

S t a s iu n H’ J ’ NTNL139 3.263 0.941 NTNL141 3.319 0.941 NTNL144 3.120 0.909 NTNL145 3.130 0.920 NTNL146 3.505 0.938 NTNL148 3.239 0.904 NTNL150 2.860 0.900 NTNL152A 3.543 0.925 NTNL154 3.638 0.921 NTNL155 3.396 0.927 NTNL157 3.557 0.958 NTNL159 3.696 0.935 NTNL161 3.460 0.951 NTNL164 2.495 0.900 NTNL165 3.112 0.883 NTNL167 3.209 0.934

lutea pada stasiun NTNL-164 ini terlihat lebih dominan dibanding jenis lainnya.

Berdasarkan nilai kemiripan Bray-Curtis (Bray-Curtis Similarity) yang dihitung dari jumlah kehadiran masing-masing jenis karang batu (yang telah ditransfor-masikan ke dalam bentuk fourth root atau √√y) di setiap stasiun transek permane, dengan menggunakan program PRIMER v5 dilakukan analisa pengelompokan (cluster analysis) dengan menggunakan metode rerata kelompok (group average) sehingga dihasilkan dendrogram seperti pada Gambar 10. Selain itu juga dilakukan analisa multi-variat non-metric multidimensional scaling (MDS) di-mana hasilnya disajikan pada Gambar 11.

Dari Gambar 10 tersebut terlihat bahwa kemiripan antar stasiun sangat rendah, yaitu kurang dari 50%. Ke-miripan yang tertinggi terjadi antar stasiun NTNL-157 dan NTNL-159 dengan nilai kemiripan 47,95%. Stasiun NTNL-139, NTNL-141 dan NTNL-144 merupakan kelom-pok stasiun dengan nilai kemiripan terendah (Gambar 10 dan Gambar11).

Gambar 10. Dendrogram analisa pengelompokan stasiun tran-sek permanen di Natuna berdasarkan jumlah ke-hadiran masing-masing jenis karang batu (yang telah ditranformasikan ke dalam bentuk √√y).

Gambar 11. MDS untuk stasiun transek permanen di Natuna berdasarkan berdasarkan jumlah kehadiran masing -masing jenis karang batu (yang telah ditranforma-sikan ke dalam bentuk √√y).

NTNL157 NTNL159 NTNL146 NTNL150 NTNL167 NTNL154 NTNL165 NTNL155 NTNL152A NTNL148 NTNL161 NTNL145 NTNL164 NTNL139 NTNL144 NTNL141 100 80 60 40 20 Similarity NTNL139 NTNL141 NTNL144 NTNL145 NTNL146 NTNL148 NTNL150 NTNL152A NTNL154 NTNL155 NTNL157 NTNL159 NTNL161 NTNL164 NTNL165 NTNL167 Stress: 0.2

C. M

EGABENTOS

Seperti yang diuraikan dalam metode penarikan sampel dan analisa data, metode “Reef check” (yang dimodifikasi) yang dilakukan pada stasiun transek per-manen dalam penelitian ini hanya mencatat beberapa jenis megabentos yang bernilai ekonomis penting atau-pun yang bisa dijadikan indikator dalam menilai kondisi kesehatan terumbu karang.

Hasil “reef check” selengkapnya di masing-masing stasiun transek permanen bisa dilihat pada Gambar 12. Beberapa jenis mungkin tidak ditemukan pada saat pen-gamatan berlangsung karena luas penpen-gamatan yang

di-batasi (luasan bidang pengamatan = 140 m2/transek),

sehingga tidak menutup kemungkinan akan ditemukan pada lokasi di luar transek.

Gambar 12. Kelimpahan megabentos di masing-masing stasiun LIT di perairan Natuna.

Dari hasil “Reef check” tersebut, selama penga-matan tak ditemukan satu pun Acanthaster planci, yang merupakan hewan pemakan polip karang. Selain itu juga tak ditemukan Lobster, dan Pencil sea urchin. Se-dangkan Karang jamur (CMR=Coral Mushrom) ditemu-kan dalam jumlah yang berlimpah yaitu 47857 individu/ ha. Tingginya kelimpahan CMR terutama ditemukan pada stasiun NTNL-159, NTNL-157, dan juga stasiun NTNL-155, NTNL-148 serta NTNL-139 (Tabel 3).

Bulu babi (Diadema setosum) ditemukan dengan kelimpahan sebesar 11357 individu/ha. Sedangkan Kima (Giant clam) ditemukan dalam jumlah sedang, di-mana untuk yang berukuran besar (panjang >20 cm) ke-limpahannya sebesar 66 individu/ha, dan yang beru-kuran kecil (panjang < 20 cm) sebesar 4786 individu/ha. Selama pengamatan dilakukan, tripang (holothurian) yang berukuran besar (diameter >20) dijumpai dengan kelimpahan 71 individu/ha.

Tabel 3. Kelimpahan megabentos di lokasi pengamatan (Jumlah individu per ha).

Dokumen terkait