BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.2.1. Hasil pengamatan karang
Tut u p a n K a ra n g H idup
RJAL48 RJAL53 RJAL61 RJAL72 RJAL73
L O K A S I
2007 2009
Gambar 4. Histogram perbandingan antara persentase tutupan karang hidup antara tahun 2007 dan tahun 2009, di perairan Kepulauan Batangpele, kabupaten Rajaampat.
III.2.1. Hasil pengamatan karang
Dari hasil pengamatan pada 5 lokasi yang dilakukan di pesisir Kepulauan Batangpele terlihat bahwa rata-rata persentase tutupan karang hidup mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 hasil rata-rata persentase tutupan karang hidup 20,92%, sedangkan pada tahun 2009 naik menjadi 35,10%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tahun 2009 ini persentase tutupan karang hidup di pesisir Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat mengalami peningkatan sebesar 14,18%. Secara rinci persentase tutupan karang, kategori bentik dan kondisi abiotik diuraikan per masing-masing lokasi.
Stasiun RJAL48 (Baratdaya Desa Arborek, Pulau Gam)
Lokasi terletak di sebelah selatan, tepatnya di Pulau Yangelo, berseberangan dengan Tanjung Ngan (Desa Arborek), Pulau Gam. Morfologi pantai terdiri dari batuan cadas berupa tebing-tebing yang ditumbuhi semak belukar dan tumbuhan darat. Daerah pasang surut ± 100 m ke arah laut didominasi oleh karang mati dan patahan karang.
Karang tumbuh pada daerah reef flat dengan substrat karang mati, di kedalaman ± 3 m pertumbuhan karang didominasi oleh jenis; Porites lobata,
Porites lutea, Porites nigrescens dan karang lunak (soft coral) dari jenis
Sinularia spp., dan Sarcophyton spp. Sedangkan pada daerah reef edge didominasi oleh pertumbuhan karang bercabang dari jenis karang Acropora
palifera, Acropora spp dan Porites, spp.. Pertumbuhan karang dapat ditemukan sampai kedalaman ± 15 meter, dan lebih dalam lagi dilanjutkan hamparan pasir.
10 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
Dari hasil ”LIT”, diperoleh persentase tutupan karang hidup pada tahun 2007 (t0) sebesar 22,53% dan pada tahun 2009 (t1) naik menjadi 50,23%. Sedangkan patahan karang mati (rubble) tercatat pada tahun 2006 sebesar dicatat 59,07% dan sekarang pada tahun 2009 menjadi sebesar 14,50%, hal ini menunjukkan nilai yang lebih rendah (turun) jika dibandingkan dengan tahun sebelumnnya. Dapat disimpulkan bahwa akibat penurunan persentase tutupan patahan karang mati (rubble) berdampak terhadap kenaikan persentase tutupan Acropora dan Non-Acropora. Melihat persentase tutupan karang hidup terumbu karang di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lokasi ini termasuk dalam kategori "BAIK".
Stasiun RJAL53 (Tanjung Nbngkes, Desa Kabui, Waigeo Selatan).
Lokasi ini terletak di semenanjung yang berbatasan dengan Pulau Gam, tepatnya di Tanjung Nbngkes, di selatan P. Waigeo. Vegetasi pantai ditumbuhi oleh pohon kelapa yang diselingi oleh tumbuhan, mangrove dari jenis Rhizopora sp., kemudian diikuti oleh pasir putih ± 75 meter. Reef flat landai dengan substrat karang mati yang didominasi oleh pertumbuhan alga coklat dari jenis Sargasum sp. Mendekati ke arah “reef edge”, pertumbuhan karang yang mendominasi adalah suku Poritidae dari jenis Porites lobata,
Porites lutea, Porites cylindrica, Porites nigrescens dan Porites annae. Dilanjutkan pada lereng terumbu yang landai dan didominasi oleh pertumbuhan karang dari jenis Porites lutea dan Porites lobata. Batas pertumbuhan karang hidup sampai kedalaman ± 15 meter. Pada lokasi ini banyak ditemukan areal bekas ledakan bom ikan.
Pada awal pengamatan (baseline studi) tahun 2007 (t0) diperoleh persentase tutupan karang hidup sebesar 30,47% dan meningkat menjadi 44,80% pada tahun 2009 (t1). Hal ini menunjukkan bahwa di lokasi ini mengalami peningkatan persentase sebanyak 14,33%, walaupun tidak signifikan. Perolehan persentase tutupan karang hidup sebesar 44,80%, mengindikasikan kondisi karang hidup daerah ini dikategorikan ”SEDANG”.
Stasiun RJAL61, Depan Desa Manyaifuin, Waigeo Selatan
Morfologi pantai pasir berbatu yang ditumbuhi dengan hutan mangrove. Pertumbuhan karang pada reef flat yang landai didominasi oleh jenis karang Porites spp. Mendekati daerah reef edge dengan subtrat terdiri dari patahan karang mati dan pertumbuhan karang didominasi oleh karang jenis Favia sp., Pocillopora damicornis dan Fungia spp. Dilanjutkan ke arah “reef slope” dengan sudut kemiringan ± 40o pertumbuhan karang di dominasi oleh jenis karang; Porites cylindrica, Porites nigrescens,
Seriatopora hystrix, Echinopora lamellosa dan Merulina ampliata. Pertumbuhan karang hidup dijumpai sampai kedalaman ± 20 meter dan dilanjutkan dengan hamparan pasir. Pada lokasi ini juga ditemukan areal bekas ledakan bom ikan.
Dari hasil ”LIT” diperoleh persentase tutupan karang hidup pada lokasi ini dari waktu ke waktu mengalami peningkatan persentase tutupan karang hidup. Pada awal pengamatan tahun 2007 (t0) tutupan karang hidupnya sebesar 35,17% meningkat menjadi 41,50% pada tahun 2009 (t1) mengalami peningkatan sebanyak 6,33%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase tutupannya mengalami peningkatan walaupun tidak begitu
11 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
signifikan. Perolehan persentase tutupan karang hidup sebesar 41,50%, menunjukkan kondisi karang hidup dikategorikan ”SEDANG” (Gambar 5).
Gambar 5. Peta persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil monitoring dengan metode “LIT”, di perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
4. Stasiun RJAL72, Pulau Biansi
Lokasi pengamatan terletak di sebelah barat laut Pulau Biansi, salah satu pulau kecil yang terpisah jauh dari daratan utama di bagian Barat P. Waigeo. Morfologi pantai berbentuk landai dengan vegetasi pantai terdiri dari semak belukar dan pohon kelapa dengan pantai pasir putih dengan lebar sekitar 250 m. Rataan terumbu reef flat yang juga daerah pasang surut didominasi oleh patahan karang dan batu yang diselingi oleh pertumbuhan alge dari jenis Padina sp. dan Halimeda sp.. Mendekati daerah reef edge pertumbuhan karang didominasi oleh bentuk bercabang dari jenis
Porites cylindrica, Pocillopora damicornis dan Acropora spp.. Dilanjutkan dengan lereng terumbu yang mempunyai sudut kemiringan ± 15°, pertumbuhan karang di dominasi oleh Galaxea fascicularis, Hydnophora
rigida dan Porites lobata dengan substrat pasir bercampur karang mati. Pertumbuhan karang hidup ditemukan sampai kedalaman ± 15 meter, lebih dalam lagi dilanjutkan dengan hamparan pasir.
Persentase tutupan karang hidup ini dicatat paling terendah dari lokasi-lokasi lainnya yaitu 16,57%, dibandingkan dengan tahun 2007 (t0) mengalami peningkatan sebesar 8,70% dan didominasi oleh kategori
Non-Acropora sebesar 14,70%, sedangkan kategori Acropora hanya 1,87%. Persentase komponen dasar lainnya yang mempengaruhi besar kecilnya persentase tutupan karang hidup, diantaranya adalah patahan karang mati
12 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
(Rubble), 46,20% dan pasir (Sand) 16,63%. Di stasiun ini juga ditemukan bekas penangkapan ikan dengan bahan peledak. Meskipun dalam persentase tutupan karang hidupnya meningkat cukup signifikan, tetap saja tidak berpengaruh terhadap penilaian kategori. Perolehan persentase tutupan karang hidup hasil “LIT” (Line Intercept Transect) sebesar 16,57%, maka secara umum kondisi karang hidup di lokasi ini dikategorikan
”RUSAK”. (Gambar 6).
Gambar 6. Peta persentase tutupan karang hidup hasil monitoring dengan metode “LIT”, di perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
5. Stasiun RJAL73, Pulau Minyaifuin
Lokasi transek di sebelah utara Pulau Minyaifun, Morfologi pantai merupakan pantai berbatu bercampur pasir dengan vegetasi pantai terdiri dari semak belukar dan pohon kelapa yang diselingi oleh tumbuhan mangrove. Rataan terumbu reef flat dengan lebar ± 25 m didominasi oleh pertumbuhan lamun dari jenis Thallasia hemprichii dan Enhalus acoroides yang diselingi oleh bongkahan karang mati. Mendekati daerah reef edge (tubir), pertumbuhan karang didominasi oleh jenis karang Porites lutea,
Porites lobata, Porites cylindrica, dan Montipora spp.. Dilanjutkan dengan lereng terumbu yang mempunyai sudut kemiringan ± 30º, dan pertumbuhan karang yang mendominasi daerah ini adalah jenis Porites cylindrica dan
Porites lutea yang tumbuh secara homogen dan hanya sampai kedalaman ± 4 m, selebihnya patahan karang bercampur pasir.
13 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
tutupan karang hidupnya sebesar 8,57% meningkat menjadi 22,40% pada tahun 2009 (t1) dan mengalami peningkatan sebesar 13,83%. Meskipun dalam persentase tutupan karang hidupnya meningkat cukup signifikan, tetap saja tidak berpengaruh terhadap penilaian kategori. Perolehan persentase tutupan karang hidup hasil “LIT” (Line Intercept Transect) sebesar 22,40%, maka secara umum kondisi karang hidup di lokasi ini dikategorikan ”RUSAK”.
III.2.2. Hasil Analisa Karang
Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Kepulauan Batangpele, Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2009 ini (t1), berhasil dilakukan pengambilan data pada 5 stasiun penelitian yang sama seperti yang dilakukan pada penelitian tahun 2007 (t0).
Plot interval untuk masing-masing biota dan substrat berdasarkan waktu pemantauan dengan menggunakan interval kepercayaan 95% disajikan dalam Gambar 7.
Gambar 7. Plot interval masing-masing biota dan substrat berdasarkan waktu pemantuan (t0 dan t1) dengan kepercayaan 95%. Untuk melihat apakah ada perbedaan persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat antar waktu pengamatan (t0=tahun 2007 dan t1=2009) digunakan uji one way ANOVA, dimana data
14 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
ditransformasi ke dalam bentuk arcsin akar pangkat dua dari data (y’=arcsin√y) sebelum dilakukan pengujian.
Data Karang Mati (DC), Lumpur (SI), dan Batuan (Rock), tidak dilakukan uji karena tidak memenuhi prasyarat uji ANOVA, yaitu ada minimal pada satu tahun pengamatan yang tidak ditemukan kategori tersebut. Dari uji ANOVA diperoleh nilai p, atau nilai kritis untuk menolak Ho. Bila nilai p<0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan persentase tutupan untuk kategori tersebut antar dua waktu pengamatan yang berbeda (2007 dan 2009).
Tabel 1. Nilai p berdasarkan hasil uji one-way ANOVA terhadap persentase tutupan biota dan substrat (data ditransformasikan) ke dalam bentuk y’ = arcsin√y.
Kategori Nilai p
Karang hidup (LC) 0,011 *) Acropora (AC) 0,064 Non Acropora (NA) 0,001 *)
Karang mati (DC) Tidak diuji Karang mati dgn alga (DCA) 0,005 *)
Karang lunak (SC) 0,735 Sponge (SP) 0,206 Fleshy seaweed (FS) 0,477
Biota lain (OT) 0,135 Pecahan karang (R) 0,036 *)
Pasir (S) 0,318 Lumpur (SI) Tidak diuji Batuan (RK) Tidak diuji
Dari Tabel 1, terlihat bahwa hanya kategori Karang Hidup (LC),
Non-Acropora (NA), Karang Mati dengan Alga (DCA), dan Pecahan Karang (R) yang berbeda secara signifikan. Persentase tutupan LC, NA, dan DCA mengalami peningkatan yang signifikan, sedangkan persentase R mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2007 hingga 2009.
15 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
Secara umum, untuk karang hidup (LC= rerata±kesalahan baku), dari 5 stasiun yang diamati dalam selang waktu t0 (2007) dan t1 (2009) terlihat adanya peningkatan persentase tutupan antara t0 (20,92±5,57%) dan t1 (35,10±6,59%) (Gambar 8).
Gambar 8. Persentase tutupan karang hidup (LC) berdasarkan tahun pengamatan 2007 (t0) dan 2009 (t1) di perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
III.3. Megabentos
Pencatatan biota megabentos dilakukan bersamaan dengan transek LIT, dengan bidang pengamatan 2 x 70 m, seluas 140 m2. Biota bentik yang ditemukan dicatat jumlahnya. Pengamatan biota megabentos dilakukan di lokasi transek permanen sepanjang garis transek. Hasil pencacahan biota per transek disajikan dalam Gambar 9 dan Lampiran 3.
III.3.1. Hasil pengamatan Megabentos
Kelimpahan megabentos didominasi oleh 1 kelompok biota yaitu “mushroom coral” atau karang jamur yang terdiri dari Fungia spp. Kelimpahan kelompok “mushroom” dicatat sebanyak 341 individu dan hadir di semua stasiun. Jumlah individu tertinggi terdapat di stasiun RJAL53 yang terletak di Tanjung Nbngkes, Desa Kabui yaitu 161 individu, dan terendah di Stasiun RJAL73, (Pulau Minyaifun), yaitu 1 individu. Kelompok karang jamur ini juga ditemukan dalam jumlah individu yang menonjol di Barat daya Desa Arborek (RJAL48), didepan Desa Manyaifun (RJAL61) dan di Barat laut Pulau Biansi (RJAL72). Sedangkan “Banded Coral Shrimp”, hanya ditemukan pada satu lokasi yaitu RJAL72, (1 individu).
Kelimpahan bulu babi (Diadema setosum) dicatat hanya pada dua stasiun, dimana kelimpahan tertinggi dicatat di pesisir Pulau Biansi, di St. RJAL72 (10 individu) dan Pulau Minyaifun St. RJAL73 (7 individu). Nilai ini lebih tinggi dari yang dicatat dua tahun sebelumnya (t0). Untuk perairan
16 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
sekitar Pulau Biansi persentase tutupan karang hidup cukup rendahi 7,87% yang dicatat tahun 2007 (t0) menjadi 16,57% pada tahun 2009 (t1), masih didominasi oleh karang Non-Acropora, terutama dari jenis Fungia spp. Pada tahun 2007 (t0) megabentos di Pulau Biansi ini didominasi oleh karang jamur, namun pada pengamatan tahun 2009 (t1), didominasi oleh bulu babi. Populasi bulu babi pada Pulau Biansi ini dicatat sebanyak 10 individu. Kategori lain seperti DCA (karang mati yang sudah ditumbuhi alga) di Pulau Biansi cukup tinggi sebesar (56,27%), dan terdiri dari patahan karang bercabang maupun bongkahan karang mati (boulder). Di sela-sela karang mati ini ditemukan kelompok bulu babi (Diadema setosum) dalam jumlah tidak terlalu besar.
Untuk kelompok biota kima ukuran besar hanya ditemukan di 3 lokasi yaitu di RJAL48 (5 individu), RJAL53 (3 individu) dan RJAL61 (3 individu), sedangkan kima yang berukuran kecil ditemukan hanya pada st. RJAL48 dan st. RJAL72 masing-masing ditemukan (2 dan 1 individu). Sedangkan Biota lain seperti Acanthaster planci, Drupella cornus, bulu babi pensil (pencil sea urchin), lobster dan lola (Trochus niloticus), tidak ditemukan dalam pengamatan ini (2009) maupun pada pengamatan sebelumnya (2007).
Gambar 9. Peta kelimpahan biota megabentos hasil pengamatan dengan metode “Reef Check Benthos” di perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
17 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
III.3.2. Hasil Analisa Megabentos
Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Rajaampat Batangpele, pada tahun 2009 ini (t1), terdapat 5 stasiun yang lokasinya sama dengan lokasi pengamatan yang diambil pada 2007 (t0).
Rata-rata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos pada pengamatan tahun 2007 (t0) dan 2009 (t1), di perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat.
Untuk melihat apakah jumlah individu setiap kategori megabentos berbeda nyata untuk setiap waktu pengamatan (tahun 2007 dan 2009), maka dilakukan uji t berpasangan. Berdasarkan data yang ada, uji hanya bisa dilakukan pada “Coral Mushroom” (CMR), Diadema setosum, “Large Giant Clam”, “Small Giant Clam”, dan “Large Holothurian”, karena kategori yang lain pada satu waktu pengamatan (2007 atau 2009) tidak ditemukan sama sekali (Tabel 2). Hal ini tidak memenuhi prasyarat uji t berpasangan. Sebelum uji dilakukan, untuk memenuhi asumsi-asumsi yang diperlukan dalam penggunaan t berpasangan ini, data ditransformasikan terlebih dahulu menggunakan transformasi ‘logaritma natural’ (ln), sehingga datanya menjadi y’=ln (y+1).
Nilai p untuk setiap data jumlah individu/transek pada kategori megabentos yang diuji disajikan pada Tabel 3. Bila nilai p tersebut lebih kecil dari 5% (=0,05), maka Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan jumlah
Megabentos Rata-rata individu/transek 2007 2009 Acanthaster planci 0.4 0 CMR 62.4 68.2 Diadema setosum 1.8 3.4 Drupella cornus 0 0
Large Giant Clam 1.2 2.2
Small Giant Clam 1.4 0.6
Large Holoturian 2 1.2
Small Holoturian 0 0.4
Lobster 0 0
Pencil sea Urchin 0 0
18 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
individu/transek untuk kategori megabentos tersebut antara selang 2 waktu pengamatan yang berbeda (2007, dan 2009).
Dari Tabel 3 tersebut terlihat bahwa hanya kategori ‘Small Giant Clam’ yang berbeda nyata antara jumlah individu per transeknya. Kategori ini mengalami penurunan rata-rata jumlah individu antara t0 dan t1.
Tabel 3. Hasil uji t berpasangan terhadap data jumlah individu per transek megabentos (data ditransformasikan ke dalam bentuk y’=ln(y+1).
Kategori Nilai p
Acanthaster planci Tidak diuji
CMR 0,400
Diadema setosum 0,781
Drupella cornus Tidak diuji Large Giant clam 0,340 Small Giant clam 0,033 *) Large Holothurian 0,678 Small Holothurian Tidak diuji
Lobster Tidak diuji
Pencil sea urchin Tidak diuji
Trochus niloticus Tidak diuji
III.4. Ikan Karang
Seperti halnya dengan pengamatan karang, pemantauan ikan karang dilakukan bersamaan dengan kegiatan transek (LIT) oleh tim karang di lokasi transek permanen. Untuk ikan dilakukan pengamatan dengan metode ”Underwater Visual Census” (UVC), dimana ikan-ikan yang ada pada jarak 2,5 m di sebelah kiri dan sebelah kanan garis transek sepanjang 70 m dicatat jumlah jenis dan jumlah individunya. Luas bidang yang teramati per transeknya, yaitu (5 x 70 m) = 350 m2. Dari hasil transek yang dilakukan pada semua stasiun, ditemukan sebanyak 183 jenis ikan karang yang termasuk dalam 27 suku. Jumlah jenis yang dicatat dalam pengamatan ini lebih tinggi dibandingkan pengamatan 2007 (126 jenis), sedangkan dari jumlah suku relatif berimbang untuk kedua tahun pengamatan. Hasil sensus visual di semua stasiun permanen ditampilkan dalam Lampiran 4.
III.4.1. Hasil pengamatan ikan karang
Dari hasil pengamatan, jumlah total individu ikan karang di perairan Kepulauan Batangpele dicatat 3,103 individu, yang terdiri dari ikan major 1,963 individu, ikan target 1,057 individu dan ikan indikator 83 individu. Nilai perbandingna untuk ketiga kelompok tersebut adalah 24 : 13 : 1. Artinya dari 38 individu ikan karang yang ditemukan pada semua stasiun transek,
19 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
peluang untuk mendapatkan ikan major adalah sebanyak 24 individu, ikan target 15 individu dan ikan indikator 1 individu. Perbandingan antara ikan major, ikan target dan ikan indikator di setiap stasiun ditampilkan pada
Gambar 10.
Gambar 10. Peta perbandingan ikan major, ikan target dan ikan indikator hasil monitoring dengan metode “UVC” di perairan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
Dari hasil ”UVC”, Casio teres dari kelompok ikan target, merupakan jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan tertinggi dibandingkan dengan jenis ikan karang lainnya, yaitu sebanyak 285 individu. Dari kelompok ikan major, diwakili oleh Amblyglyphidodon curacao (200 individu). Pada pengamatan 2007 (t0), kedua jenis ini berada pada posisi 5 dan 8, dengan jumlah inidividu yang relatif rendah, yaitu < 30 individu. Dari tabel 4 juga terlihat bahwa kelimpahan individu ikan karang, didominasi oleh jenis-jenis ikan dari kelompok ikan major dibandingkan ikan target maupun ikan indikator. Sebelas besar jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan yang tertinggi di perairan pesisir Kepulauan Batangpele ditampilkan dalam Tabel 4.
Kelimpahan beberapa jenis ikan ekonomis penting yang diperoleh dari hasil ”UVC” di lokasi transek permanen seperti ikan kakap (termasuk kedalam suku Lutjanidae) yaitu 91 individu, ikan kerapu (termasuk dalam suku Serranidae) 179 individu, ikan ekor kuning (termasuk dalam suku Caesionidae) yaitu 589 individu. Ikan kepe-kepe (Butterfly fish; suku Chaetodontidae) yang merupakan ikan indikator untuk menilai kesehatan terumbu karang memiliki kelimpahan 90 individu. Kelimpahan masing-masing suku hasil monitoring disajikan dalam Tabel 5.
20 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
Tabel 4. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi jenis hasil monitoring dengan metode ”UVC” di perairan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
No. Jenis Jumlah individu
Rata‐rata
Ind/transek Kategori
1 Caesio teres 285 57,00 Target 2 Amblyglyphidodon curacao 200 40,00 Major 3 Caesio caerulaurea 200 40,00 Target 4 Chromis ternatensis 134 26,80 Major 5 Pomacentrus moluccensis 118 23,60 Major 6 Pomacentrus nigromanus 105 21,00 Major 7 Pseudanthias hutchii 90 18,00 Major 8 Chromis weberi 80 16,00 Major 9 Chromis viridis 62 12,40 Major 10 Odonus niger 55 11,00 Major 11 Pterocaesio tile 50 10,00 Target
Tabel 5. Kelimpahan individu ikan karang berdasarkan dominasi suku hasil monitoring dengan metode “UVC” di perairan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, 2009.
No. Suku Jumlah
individu Rata-rata Ind/transek 1 Pomacentridae 1183 236,6 2 Caesionidae 589 117,8 3 Apogonidae 242 48,4 4 Labridae 179 35,8 5 Serranidae 179 35,8 6 Scaridae 137 27,4 7 Lutjanidae 91 18,2 8 Chaetodontidae 90 18 9 Balistidae 77 15,4 10 Acanthuridae 74 14,8 11 Scolopsidae 52 10,4 12 Mullidae 43 8,6 13 Pomacanthidae 40 8 14 Siganidae 34 6,8 15 Carangidae 23 4,6
21 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
III.3.2. Hasil Analisa Ikan Karang
Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat pada tahun 2009 ini (t1), berhasil dilakukan pengambilan data pada semua stasiun penelitian yang dilakukan pada penelitian baseline tahun 2007, yaitu sebanyak 5 stasiun. Rata-rata jumlah individu per transek yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan disajikan pada Gambar 11 sedangkan rata-rata jumlah jenis disajikan pada
Gambar 12.
Gambar 11. Plot interval rata-rata jumlah individu ikan karang masing-masing stasiun di Perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, tahun 2007 dan tahun 2009.
16 Sauridae 14 2,8 17 Zanclidae 14 2,8 18 Holocentridae 12 2,4 19 Haemulidae 7 1,4 20 Nemipteridae 5 1 21 Bleniidae 4 0,8 22 Kyphosidae 4 0,8 23 Tetraodontidae 4 0,8 24 Cirrhitidae 3 0,6 25 Dasyatidae 1 0,2 26 Gobiidae 1 0,2 27 Muraenidae 1 0,2
22 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)
Gambar 12. Plot interval rata-rata jumlah jenis ikan karang pada masing-masing stasiun di Perairan Kepulauan Batangpele, Kabupaten Rajaampat, tahun 2007 dan tahun 2009.
Gambar 11 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah individu ikan karang pada tahun 2009 (t1) lebih besar dari tahun sebelumnya, 2007 (t0). Namun menurut hasil uji t berpasangan, rata-rata jumlah individu ikan karang tidak berbeda nyata antara tahun pengamatan, p = 0,167. Sebelum uji t berpasangan dilakukan, data telah ditransformasi dengan ‘logaritma natural’ (ln) untuk memenuhi prasyarat uji t berpasangan.
Pada Gambar 12 terlihat nilai rata-rata jumlah jenis pada tahun 2009 (t1) lebih besar dibandingkan pada tahun 2007 (t0). Namun menurut hasil uji t berpasangan, rata-rata jumlah jenis ikan tidak berbeda nyata antara tahun pengamatan, p = 0,204. Hal ini berarti selama tahun pengamatan tidak ditemukan perubahan jumlah individu dan jenis yang signifikan.
23 Reef Health Monitoring 2009 (Rajaampat-P. Batangpele)