BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1 LINGKUNGAN FISIK PESISIR DAN
III.2.1. Hasil pengamatan karang
Hasil pengamatan di keenam lokasi transek menunjukkan adanya peningkatan persentase tutupan karang. Cepat atau lambatnya pertumbuhan tersebut bergantung dari letak geografis dan kondisi perairan. Secara umum persentase tutupan rata-rata karang hidup pada pengamatan 2010 sebesar 32,04 %. Nilai ini menggambarkan kondisi terumbu karang masuk kategori ”sedang”. Persentase tutupan tidak selalu berkorelasi dengan keragaman jenis. Dari seluruh lokasi pengamatan diperoleh 62 jenis yang termasuk kedalam 11 suku (Lampiran 2). Selengkapnya hasil pengamatan dibahas per lokasi pengamatan.
Stasiun NIAL01 (Tuhaemberua)
Pengamatan karang dilakukan pada posisi yang sama dengan pengamatan sebelumnya, yaitu di lereng terumbu dengan kemiringan sekitar 45° dan kedalaman sekitar 9 m. Dasar perairan terdiri dari pecahan karang mati (rubble) dan “turf alga”. Karang batu di sekitar perairan didominasi oleh jenis Heliopora coerulea dan Porites sp. Dari hasil transek permanen dicatat persentase tutupan karang hidup sebesar 33,20%, lebih tinggi dibandingkan hasil pengamatan 2009 (22,77%). Peningkatan terjadi pada kelompok
Non-Acropora, sedangkan Acropora tidak berbeda signifikan. Nilai persentase tutupan yang dicatat pada pengamatan ini menunjukkan kondisi karang berada dalam kategori “sedang”. Fluktuasi seperti ini menunjukkan dinamika yang terjadi baik oleh faktor manusia maupun oleh alam sendiri. Selanjutnya karang batu didominasi oleh jenis Heliopora coerulea yang menunjukkan kondisi lingkungan yang kurang baik demikian juga dengan kondisi substrat yang kurang mendukung. Peningkatan pada persentase tutupan pasir yang dicatat sebesar 48,63%, menunjukkan bahwa pada musim-musim tertentu ombak cukup kuat di daerah ini.
9
Stasiun NIAL02 (Tuhaemberua)
Lokasi pengamatan berada di sekitar teluk yang dilakukan pada kedalaman 7,5 m, dengan lereng terumbu yang landai yaitu sekitar 20°. Dasar perairan didominasi oleh turf alga dan pecahan karang mati (rubble). Karang mati ditutupi alga (DCA) yang dicatat pada stasiun ini adalah yang terendah (0,77%), dibandingkan stasiun lainnya. Sedangkan tutupan Sponge dan Fleshy Seaweed (FS), masing-masing adalah 5,40% dan 5,87%. Kehadiran kategori “DCA” pada ekosistem terumbu karang dapat menghambat karang untuk berkembang, terutama untuk karang anakan.
Persentase tutupan karang hidup yang dicatat pada stasiun ini adalah yang rendah (4,77%) dibandingkan kelima stasiun lainnya. Kategori abiotik hanya diwakili ole h pecahan karang (Rubble) yang dicatat sebesar 82.43%. Namun demikian, proses regenerasi masih terlihat dengan dijumpai beberapa karang anakan (rekrutmen) yang didominasi oleh jenis Acropora sp., Montipora sp. dan Pocillopora verrucosa.
Stasiun NIAL03 (Tuhaemberua)
Pengamatan dilakukan di Desa Tuhamberua. Profil pantai di lokasi ini terdiri dari karang yang terangkat akibat peristiwa gempa tahun 2005 dan sekarang telah ditumbuhi oleh tumbuhan pantai. Panjang rataan terumbu sekitar 100 m ke arah laut dengan kemiringan lereng terumbu ± 45o. Pengamatan dilakukan pada kedalaman 7 m.
Dasar perairan terdiri dari pecahan karang mati (rubble) dan “DCA”. Dari hasil pengamatan diperoleh persentase tutupan karang hidup tercatat sebesar 47.93% dan hanya didominasi oleh jenis-jenis karang dari kelompok Non-Acropora. Nilai tutupan ini lebih rendah dibandingkan hasil pengamatan 2009 (54,20 %). Karang batu yang dominan pada sasiun ini adalah jenis
Heliopora coerulea dan Porites cylindrica. Tingginya nilai dari kedua jenis ini menggambarkan rendahnya keragaman karang di lokasi ini. Karang anakan seperti Acropora sp. dan Porites sp.yang berukuran kurang dari 5 cm mulai terlihat namun dalam jumlah yang sedikit. Kondisi karang di stasiun ini masuk dalam kategori “sedang”.
Stasiun NIAL04 (Lahewa)
Pengamatan dilakukan di Pulau Senau yang merupakan perairan tenang dan terlindung. Pantai berbatu dari karang yang terangkat akibat gempa yang ditumbuhi tumbuhan pantai dan sebagian pohon mangrove. Dasar perairan terdiri dari pecahan karang mati (rubble), “DCA” dan pasir lumpuran. Panjang rataan terubu sekitar 25 m dari pantai dengan kemiringan yang cukup landai yaitu sekitar 15o. Karang batu yang dijumpai didominasi oleh bentuk pertumbuhan ”sub-massive” yaitu dari jenis Porites
cylindrica, pertumbuhan mengerak (encrusting) dari jenis Montipora sp. dan bentuk pertumbuhan seperti daun (foliosa) dari jenis Turbinaria frondens. Karang jenis Porites sp. banyak dijumpai di lokasi ini.
Dari hasil pengamatan diperoleh persentase tutupan karang hidup sebesar 33,20 %, yang terdiri dari 33,03% kelompok Non-Acropora dan 0,17% Acropora. Nilai tutupan karang hidup ini lebih rendah 4,33% dari hasil
10
pengamatan 2009 (37,53%). Nilai persentase tutupan dari kelompok abiotik diwakili oleh pasir (sand) dan patahan karang (rubble), masing-masing 23,17% dan 4,17%. Sedangkan dari kelompok bentik lain, “DCA” memiliki persentase tutupan yang tertinggi yaitu 35,80%. Kondisi karang di stasiun ini masuk dalam kategori “sedang”. Persentase tutupan karang dan kategori bentik lainnya disajikan dalam Gambar 3 dan persentase tutupan karang hidup pada masing-masing stasiun disajikan dalam Gambar 4.
Gambar 3 . Peta persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias, 2010.
11
Gambar 4. Peta persentase tutupan karang hidup hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias, 2010.
Stasiun NIAL05 (Lahewa)
Pantai terdiri dari bongkahan-bongkahan karang yang terangkat pada saat gempa, sebagian sudah ditumbuhi oleh tumbuhan pantai. Panjang rataan terumbu sekitar 150 m ke arah laut. Pengamatan dilakukan di kedalaman 8 m. Lereng terumbu landai yaitu sekitar 30°. Dasar perairan terdiri dari bongkahan yang keras dan terdapat banyak karang anakan yang baru tumbuh. Kondisi substrat seperti ini sangat baik untuk penempelan larva karang. Pertumbuhan karang masih dijumpai hingga kedalaman 13 m.
Dari seluruh lokasi pengamatan, di lokasi ini dicatat persentase tutupan
Acropora yang paling tinggi yaitu sebesar 15,70%, lebih tinggi dibandingkan pengamatan 2009 (13,80%), hal ini berarti terjadi peningkatan sebesar 1,90%. Pada saat pengamatan, kondisi perairan cukup jernih dengan jarak pandang 14 m. Karang Acropora cukup beragam di lokasi ini dan didominasi oleh jenis Porites annae, Porites rus, Porites lobata, Pocillopora verrucosa. Jika kondisi seperti ini dapat terus bertahan, maka kemungkinan karang akan pulih secara alami.
Hasil pengamatan pada tahun sebelumnya dicatat tutupan karang idup sebesar 36,07% (2009) meningkatan menjadi 48,00% (2010) atau ada peningkatan sebesar 11,93%. Kondisi karang hidup stasiun ini masuk dalam kategori “sedang”. Peningkatan persentae tutupan karang dapat terjadi bila pemanfaatan terumbu karang dan lingkungan sekitar berada dalam kondisi yang alami. Artinya tidak ada penggunaan bahan peledak ataupun racun dalam penangkapan ikan atau biota lain, tidak ada pembongkaran karang
12
untuk bahan bangunan, pengrusakan lingkungan sekitar (pembongkaran hutan untuk pemukiman atau perkebunan).
Stasiun NIAL06 (Lahewa)
Daerah pantai merupakan pantai berbatu yang merupakan bongkahan karang yang terangkat akibat gempa tahun 2005. Bongkahan karang tersebut sudah ditumbuhi oleh tumbuhan pantai dan semak belukar. Pengamatan karang dilakukan pada kedalaman 6 m di daerah lereng terumbu dengan kemiringan sekitar 25°. Dasar perairan terdiri dari bongkahan karang mati dan sebagian berpasir. Karang batu yang dijumpai didominasi oleh Porites lobata, Porites annae dan Porites rus. Bongkahan karang dari jenis Porites lobata lebih dominan, meskipun kondisinya terbalik bahkan bergeser dari substratnya, namun karang tersebut masih hidup.
Dari hasil pengamatan diperoleh persentase tutupan karang hidup sebesar 25,13 % sedikit lebih rendah dibandingkan pengamatan 2009 (25,30%). Pertumbuhan karang batu didominasi oleh kelompok Non-
Acropora dengan nilai persentase tutupan sebesar 24,97% sedangkan kelompok Acropora hanya 0,17%. Pada stasiun ini kehadiran jenis-jenis karang kurang beragama (bervariasi). Persentase tutupan dari kelompok kategori bentik, karang mati ditutupi alga (DCA) memiliki persentase yang tertinggi (40,40%). Sedangkan untuk kelompok abiotik, didominasi oleh kategori pasir (sand)yaitu sebesar 28,77%. Untuk kategori lain memiliki nilai perentase tutupan< 5%. Kondisi karang di stasiun masuk dalam kat5egori “sedang”. Persentase tutupan karang dan kategori bentik lainnya di setiap stasiun mulai dari tahun 2004 hingga 2010 ditampilkan dalam bentuk histogram Gambar 5, 6, 7, 8, 9 dan Gambar 10. Sedangkan persente tutupan karang hidup (LC) antar waktu pengamatan isajikan pada Gambar11.
Gambar 5. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2004.
13
Gambar 6. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2005.
Gambar 7. Histogram persentase tutupan tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2007.
14
Gambar 8. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2008.
Gambar 9. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2009.
15
Gambar 10. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat hasil “monitoring” dengan metode “LIT” di perairan Kabupaten Nias, 2010.
Gambar 11. Histogram persentase tutupan karang hidup hasil studi “baseline” (2004) dan “monitoring” (2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010) dengan metode “LIT” di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias.
16
Dari Gambar diatas terlihat bahwa persentase tutupan karang hidup (LC) tertinggi pada masing-masing stasiun hanya terdapat pada tahun pengamatan baseline 2004 (t0). Tsunami Aceh (2004) dan gempa bumi (2005) yang melanda Pulau Nias, sangat berpengaruh terhadap nilai persentase tutupan karang hidup terlebih lagi merusak ekosistem terumbu karang disekitar perairan terebut, dimana hampir semua terumbu karang di Nias Utara terangkat kepermukaan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, terumbu karang kembali mengalami peningkatan nilai persentase tutupannya.
III.2.2. Hasil Analisa Karang
Pengamatan kondisi terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Nias tahun 2010 (t5) mencakup 6 stasiun permanen seperti pada penelitian baseline tahun 2004 (t0). Plot interval untuk masing-masing biota dan substrat berdasarkan waktu pemantauan dengan menggunakan interval kepercayaan 95 % disajikan dalam Gambar 12.
Gambar 12. Plot interval biota dan substrat pada pengamatan t0, t1 , t2, t3, t4 dan t5 (tahun 2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010) dengan interval kepercayaan 95% di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias.
Untuk melihat apakah ada perbedaan persentase tutupan untuk masing-masing kategori biota dan substrat antar waktu pengamatan (t0=tahun 2004, t1=2005, t2=2007, t3=2008, t4=2009 dan t5=2010) digunakan uji “one-way ANOVA’, di mana data ditransformasi ke dalam bentuk arcsin akar pangkat dua dari data (y’=arcsin√y) sebelum dilakukan pengujian. Dari pengujian tersebut diperoleh nilai p, atau nilai kritis untuk menolak Ho. Bila nilai p<0,05 pada Tabel 2, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan persentase tutupan yang signifikan untuk kategori tersebut antar enam waktu pengamatan yang berbeda (2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010).
17
Tabel 2. Nilai p berdasarkan hasil uji one-way ANOVA terhadap persentase tutupan biota dan substrat (data ditransformasikan ke dalam bentuk y’ =arcsiny√y).
Kategori Nilai p
Karang hidup (LC) 0,012 *)
Acropora (AC) 0,558
Non Acropora (NA) 0,013 *) Karang mati (DC) Tidak diuji Karang mati dengan alga (DCA) 0,005*) Karang lunak (SC) Tidak diuji
Sponge (SP) 0,079
Fleshy seaweed (FS) 0,517
Biota lain (OT) 0,727
Pecahan karang (R) 0,020 *)
Pasir (S) 0,983
Lumpur (SI) Tidak diuji
Batuan (RK) Tidak diuji
Tanda *) berarti Ho ditolak
Dari Tabel 2 diketahui bahwa data Karang Mati (DC), Karang Lunak (SC), Lumpur (SI), dan Batuan (RK) tidak dilakukan uji karena terdapat populasi data yang memiliki variansi nol, sehingga tidak memenuhi prasyarat uji “one-way ANOVA”. Perbedaan yang signifikan ditemukan pada perbandingan persentase tutupan Karang hidup (LC), Non Acropora (NA), dan Pecahan Karang (R). Berdasarkan uji lanjut Tukey dengan signifikansi 0,05, perbedaan persentase tutupan “LC” tidak ditemukan pada tahun 2010 (t5) dan tahun baseline 2004 (t0). Perbedaan yang signifikan ditemukan pada t0 vs t1; t0 vs t2; dan t0 vs t3. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi karang hidup (LC) mengalami penurunan yang signifikan antara tahun 2004 dan 2005, kemudian berangsur-angsur pulih kembali ke kondisi semula tahun 2004. Pemulihan mulai tampak pada tahun 2009 (t4), dan semakin terlihat pada tahun 2010 (t5). Pulihnya karang hidup ini merupakan kontirbusi dari jenis-jenis Non-Acropora, karena untuk jenis Acropora, pemulihan seperti ini tidak teramati. Dari t0 hingga t5, persentase tutupan Acropora (AC) tidak berbeda signifikan.
Pola pemulihan tutupan karang hidup (LC) ini berkebalikan dengan “DCA”. Berdasarkan uji Tukey, persentase tutupan “DCA” antara tahun 2010 (t5) dan 2004 (t0) tidak berbeda signifikan, dan rata-ratanya lebih kecil dibandingkan rata-rata persentase tutupan “DCA” pada tahun pengamatan yang lainnya. Perubahan persentase tutupan pecahan karang (R) tidak
18
menunjukkan pola yang khas selama pemantauan kondisi kesehatan karang di perairan Kabupaten Nias ini. Perbedaan yang signifikan hanya ditemukan pada tahun 2009 (t4) dan 2010 (t5).
Gambar 13 menampilkan pola perubahan tutupan karang hidup (LC) selama enam tahun pemantauan, yaitu t0(2004), t1(2005), t2(2007), t3(2008), t4(2009) dan t5 (2010). Nilai rerata+kesalahan baku “LC” pada saat t0 sebesar (48,31 ± 3,59%), t1 sebesar (21,39 ± 4,12%), t2 sebesar (17,20 ± 4,30%), t3 sebesar (19,82 ± 5,75%), t4 sebesar (29,83 ± 7,01) dan t5 sebesar (32,04 ± 6,59%). Gambar ini cukup menjelaskan bagaimana proses pemulihan karang hidup dari tahun ke tahun di Kabupaten Nias.
Gambar 13. Plot interval berdasarkan nilai rerata karang hidup pada masing-masing waktu pengamatan, di Perairan Pulau Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias.
III.3. MEGABENTOS
Pengamatan terhadap megabentos dilakukan hanya pada beberapa biota yang mempunyai nilai ekonomis penting dan beberapa sebagai biota indikator bagi kesehatan terumbu karang. Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Kabupaten Nias, pada tahun 2010 ini (t5), merupakan kegiatan “monitoring” dan dapat dilaksanakan pengambilan data di ke enam stasiun yaitu dari stasiun NIAL01 sampai NIAL06.
III.3.1. Hasil Pengamatan Megabentos
Dari hasil “Reef Check Benthos” (RCB) dicatat sebanyak 6 jenis megabentos dengan jumlah sebanyak 399 individu. Achantaster planci, jenis yang dijadikan indikator kesehatan terumbu karang hanya dicatat sebanyak 2 individu. Kondisi ini masih aman bagi ekosistem terumbu karang. Bila dilihat dari jumlah individu, Diadema setosum merupakan jenis yang memiliki jumlah individu tertinggi, yaitu 243 individu dan diikuti Fungia sp. (CMR) yang dicatat sebanyak 141 individu. Kelimpahan tertinggi Diadema
19
NIAL05 (6 individu). Sedangkan bila dilihat dari kehadiran jenis, Fungia sp. merupakan jenis yang hadir disemua stasiun transek dan Acantaster planci hanya hadir sekali dari 6 stasiun yang diamati yaitu pasa NIAL03. Fluktuasi kehadiran Diadema setosum dari tahun ke tahun dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan karang, selain itu biota ini merupakan predator bagi juvenil karang.
Untuk biota yang mempunyai nilai ekonomis penting seperti “Large Giant Clam” hanya dicatat sebanyak 4 individu, “Small Giant Clam” (7 individu) dan “Large Holothurian” (2 individu). Rendahnya jumlah individu dari jenis-jenis tersebut selain karena faktor alam seperti substrat, juga lebih disebabkan oleh eksplotasi yang berlebihan. Sedangkan kategori megabentos lainnya tidak ditemukan dalam pengamatan ini. Hasil “Reef Check Benthoa” selengkapnya di masing-masing stasiun transek permanen disajikan pada Gambar 14.
Gambar 14. Peta kelimpahan megabenthos hasil “monitoring” dengan metode “Reef Check” di perairan Lahewa Tuhaemberua, Kabupaten Nias, 2010.
III.3.2. Hasil Analisa Megabentos
Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Nias Lahewa, pada tahun 2009 ini (t4), terdapat 6 stasiun yang lokasinya sama dengan lokasi pengamatan yang diambil pada 2004 (t0), 2005 (t1), 2007 (t2), 2008 (t3), 2009 (t4) dan 2010 (t5).
Rata-rata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan disajikan pada Tabel 3.
20
Tabel 3. Rerata jumlah individu per transek untuk setiap kategori megabentos yang dijumpai pada masing-masing waktu pengamatan.
Kelompok Jumlah rata-rata individu/transek
2004 2005 2007 2008 2009 2010
Acanthaster planci 7,83 0,83 0,17 0,17 0,17 0,33
CMR 44,50 5,00 4,00 8,33 6.33 35,92
Diadema setosum 22,50 0,00 16,17 31,00 19.17 40,50
Drupella sp. 0,00 0,00 0,00 0,50 0.00 0,00 Large Giant clam 4,17 0,00 0,00 0,83 1.67 0,67 Small Giant clam 0,67 0,00 2,33 0,33 0.00 1,17 Large Holothurian 3,67 0,00 0,00 0,33 0.17 0,33 Small Holothurian 0,00 0,00 0,33 0,00 0,00 0,00
Lobster 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Pencil sea urchin 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0.00
Trochus sp. 0,00 0,00 0,17 0,00 0,00 0,00
Untuk melihat apakah jumlah individu setiap kategori megabentos berbeda atau tidak untuk setiap waktu pengamatan (tahun 2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010), maka dilakukan uji menggunakan “one-way ANOVA”. Sebelum uji dilakukan, untuk memenuhi asumsi-asumsi yang diperlukan dalam penggunaan “one-way ANOVA” ini, data ditransformasikan terlebih dahulu menggunakan transformasi akar pangkat dua (square root), sehingga datanya menjadi y’=(y+0,5). Berdasarkan data yang ada, uji hanya bisa dilakukan untuk Acanthaster plancii dan “Coral Mushroom” (CMR) karena kategori megabentos yang lainnya memiliki populasi dengan variansi nol, sehingga tidak memenuhi prasyarat uji ANOVA.
Nilai p untuk setiap data jumlah individu pada kategori megabentos yang diuji disajikan pada Tabel 4. Bila nilai p tersebut lebih kecil dari 5% (=0,05), maka Ho ditolak, yang berarti ada perbedaan jumlah individu/transek untuk kategori megabentos tersebut antara selang enam waktu pengamatan yang berbeda (2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010).
21
Tabel 4. Hasil uji one-way ANOVA terhadap data jumlah individu/ transek megabentos (data ditransformasikan ke dalam bentuk y’=ln(y+1).
Kategori Nilai p (y’=ln(y+1))
Acanthaster plancii 0,009 *)
CMR 0,002 *)
Diadema setosum Tidak diuji
Drupella sp. Tidak diuji Large Giant clam Tidak diuji Small Giant clam Tidak diuji Large Holothurian Tidak diuji Small Holothurian Tidak diuji
Lobster Tidak diuji
Pencil sea urchin Tidak diuji
Trochus sp. Tidak diuji
Dari Tabel 4 tersebut terlihat bahwa perbedaan yang nyata antara jumlah individu per transeknya untuk megabentos yang diamati terjadi untuk kategori Acanthaster planci dan “CMR”. Dari uji perbandingan Tukey dengan signifikansi 0,05 terlihat bahwa jumlah individu untuk Acanthaster plancii, menurun secara signifikan dari t0 ke t1, dan relatif sama antara t1, t2, t3, t4 dan t5. Sama halnya dengan Acanthaster plancii, kategori “CMR” menurun secara signifikan dari t0 ke t1, dan relatif sama antara t1, t2, t3, t4 dan t5.