• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

5. Hasil Pengamatan Kualitas Air Kolam

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengukuran kualitas air yaitu suhu dan pH. Pengamatan suhu dan pH dilaksanakan setiap 7 hari sekali selama 35 hari penelitian, dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.20 dibawah ini.

Tabel 4.19

Hasil Pengukuran Suhu pada Masing-masing Perlakuan

No Perlakuan Ulangan

Hasil Pengukuran Suhu Air Kolam Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) Pengamatan Ke-

7 14 21 28 35 1 P0 (0%) 1 25°C 25°C 25°C 26°C 25°C 2 25°C 26°C 26°C 25°C 26°C 3 24°C 26°C 26°C 26°C 25°C Rata-rata 24,66°C 25,66°C 25,66°C 25,66°C 25,66°C 2 P1 (10%) 1 25°C 27°C 27°C 26°C 26°C 2 24°C 26°C 26°C 27°C 26°C 3 25°C 26°C 26°C 27°C 27°C Rata-rata 24,66°C 26,33°C 26,33°C 26,66°C 26,33°C 3 P2 (15%) 1 25°C 27°C 26°C 26°C 26°C 2 26°C 26°C 26°C 27°C 28°C 3 26°C 26°C 25°C 26°C 27°C Rata-rata 25,66°C 26,33°C 25,66°C 26,33°C 27°C 4 P3 (20%) 1 26°C 26°C 27°C 27°C 27°C 2 26°C 27°C 26°C 26°C 26°C 3 25°C 26°C 26°C 27°C 28°C Rata-rata 25,66°C 26,33°C 26,33°C 26,66°C 27°C

Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata suhu air kolam pada masing-masing perlakuan menunjukkan bahwa keadaan suhu air kolam relatif stabil berkisar 24,66°C sampai 27°C. Suhu ini juga merupakan kisaran suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus). Berikut ini adalah grafik hasil pengukuran suhu air kolam selama penelitian pada masing-masing perlakuan. 23 23,5 24 24,5 25 25,5 26 26,5 27 27,5 7 14 21 28 35 Suhu Hari Ke- (Pengamatan) P0 (0%) P1 (10%) P2 (15%) P3 (20%) Gambar 4.7

Grafik Rata-rata Pengukuran Suhu air Kolam Selama Penelitian

Pada grafik diatas menunjukkan bahwasannya rata-rata suhu air kolam dari awal penelitian hingga akhir penelitian pada masing-masing perlakuan tidak berbeda jauh dan masih dalam kisaran suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yaitu berkisar 24,66°C sampai 27°C.

Tabel 4.20

Hasil Pengukuran pH Air Kolam Pada Masing-Masing Perlakuan

No Perlakuan Ulangan

Hasil Pengukuran pH Air Kolam Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)

Pengamatan Ke- 7 14 21 28 35 1 P0 (0%) 1 7 8 8 7 8 2 6 7 7 7 8 3 6 6 7 6 7 Rata-rata 6,3 7 7,3 6,6 7,6 2 P1 (10%) 1 6 7 7 6 7 2 7 7 8 7 7 3 7 8 7 7 7 Rata-rata 6,6 7,3 7,3 6,6 7 3 P2 (15%) 1 6 7 7 6 7 2 6 6 7 7 8 3 7 7 8 7 7 Rata-rata 6,3 6,6 7,3 6,6 7,3 4 P3 (20%) 1 7 7 8 7 6 2 6 7 8 7 7 3 7 7 7 7 6 Rata-rata 6,6 7 7,6 7 6,3

Berdasarkan hasil pengukuran pH yang telah dilakukan selama penelitian 35 hari pada masing-masing kolam perlakuan menunjukkan bahwasannya keadaan pH air kolam selama penelitian merupakan kisaran yang masih dalam batas kelayakan untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yaitu berkisar 6 hingga 7,6. Berikut ini adalah grafik hasil pengukuran pH air kolam selama penelitian pada masing-masing perlakuan.

5 5,5 6 6,5 7 7,5 8 7 14 21 28 35 pH Hari Ke- (Pengamatan) P0 (0%) P1 (10%) P2 (15%) P3 (20%) Gambar 4.8

Grafik Rata-rata Pengukuran pH air Kolam Selama Penelitian

Pada grafik diatas menunjukkan bahwasannya rata-rata pH air kolam dari awal penelitian hingga akhir penelitian pada masing-masing perlakuan tidak berbeda jauh dan masih dalam kisaran pH yang optimal untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yaitu berkisar 6, dan 7.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan serta data hasil penelitian yang telah diperoleh tentang pengaruh pemberian ampas tempe pada pakan terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) pada masing-masing perlakuan adalah meningkat.

Pertumbuhan berat badan dipengaruhi oleh pakan yang diberikan selama pemeliharaan, tidak hanya sekedar cukup dan tepat waktu tetapi juga pakan tersebut harus memiliki kandungan nutrisi atau gizi yang cukup. Bila ikan budidaya mengkonsumsi pakan yang kandungan nutrisinya rendah maka terhambat, bahkan akan timbul gejala-gejala tertentu yang disebut kekurangan gizi

( malnutrition).35

Hasil penelitian tentang pengaruh pemberian ampas tempe pada pakan ikan terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) berdasarkan hasil analisis sidik ragam (ANSIRA) setiap 7 hari sekali selama 35 hari pada masing-masing perlakuan menunjukkan bahwa F hitung > F tabel, hal ini berarti penambahan ampas tempe pada pakan ikan lele sangkuriang (Clarias

gariepinus) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap berat pada ikan lele

sangkuriang (Clarias gariepinus). Pakan yang diberikan kepada ikan lele budidaya mempunyai peran penting. Namun, kadangkala pakan menjadi kendala dalam pembudidayaan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yaitu

35

M. Ghufran, Buku Pintar Pemeliharaan 14 Ikan Air Tawar Ekonomis, (Yogyakarta: Lily Publisher, 2010), H. 221.

disebabkan karena tingginya biaya pakan.36 Pakan yang diberikan kepada ikan budidaya harus dapat memacu pertumbuhan ikan. Ikan lele agar dapat tumbuh optimal membutuhkan pakan yang mengandung protein sekitar 30%. Akan tetapi, jika pakan tersebut digunakan sebagai makanan pokok, tanpa ditunjang makanan alami maka kadar proteinnya perlu dinaikkan sampai 40%. 37 Mengingat harga pakan merupakan biaya terbesar dalam budidaya ikan, terutama pakan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Untuk itu, pakan tambahan yang diberikan dalam penelitian ini adalah ampas tempe. Ampas tempe yang merupakan limbah industri tempe memiliki kandungan protein yang cukup tinggi untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang, mengingat bahwasannya lele akan tumbuh dengan baik apabila semua kebutuhan nutrisinya dapat terpenuhi secara maksimal. Akan tetapi, ampas tempe memiliki kelemahan sebagai bahan pakan tambahan alternatif yaitu kandungan serat kasar dan kandungan air yang tinggi. Kandungan serat kasar yang tinggi menyulitkan bahan pakan tersebut untuk dicerna, dan kandungan air yang tinggi dapat menyebabkan daya simpannya menjadi lebih pendek. Oleh karena itu untuk mengurangi masalah tersebut, diproses dengan cara dikeringkan dibawah sinar matahari dan ditumbuk halus untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan pakan tambahan alternatif pada pakan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus).

36

Muktiani, Budidaya Lele Sangkuriang Dengan Kolam Terpal, (Yogyakarta:Pustaka Baru Press, 2011), H.10.

37

Hasil perhitungan rata-rata berat ikan ulangan 1, 2, 3 pada masing-masing perlakuan berdasarkan uji lanjutan BNT (Beda Nyata Terkecil) pada hari ke-7 menunjukkan bahwasannya pada konsentrasi P1 (10%), P2 (15%), P3 (20%) tidak berbeda nyata, akan tetapi P1 (10%) berbeda nyata dengan P0 (0%). Konsentrasi P2 (15%) tidak berbeda nyata dengan P1 (10%) dan P3 (20%), akan tetapi berbeda nyata dengan P0 (0%). Konsentrasi P3 (20%) tidak berbeda nyata dengan P1 (10%) dan P2 (15%), akan tetapi berbeda nyata dengan P0 (0%), dan semua perlakuan berbeda dengan kontrol.

Pada hari ke-14 menunjukkan bahwasannya pada konsentrasi P1 (10%) dan P2 (15%) tidak berbeda nyata, akan tetapi P1 (10%) berbeda nyata dengan P0 (0%) dan P3 (20%). Konsentrasi P2 (15%) tidak berbeda nyata dengan P1 (10%) dan P3 (20%), akan tetapi P2 (15%) berbeda nyata dengan konsentrasi P0 (0%). P3 (15%) tidak berbeda nyata dengan P2 (15%) dan berbeda nyata dengan P1 dan P0, dan P0 (0%) berbeda nyata dengan semua perlakuan.

Pada hari ke-21 menunjukkan bahwasannya pada konsentrasi P1 (10%) tidak berbeda nyata dengan P2 (15%) dan berbeda nyata dengan P3 (20%) dan P0 (0%). Konsentrasi P2 (15%) tidak berbeda nyata dengan P1 (10%) akan tetapi berbeda nyata dengan P3 (20%) dan P0 (0%). Konsentrasi P3 (20%) berbeda nyata dengan P2 (15%), P1 (10%), dan P0 (0%) dan semua perlakuan berbeda nyata dengan perlakuan kontrol.

Pada hari ke-28 menunjukkan bahwasannya pada konsentrasi P0 (0%), P1 (10%), P2 (15%) dan P3 (20%) berbeda nyata antara perlakuan satu dengan perlakuan lainnya.

Pada hari ke-35 menunjukkan bahwasannya pada konsentrasi P1 (10%) tidak berbeda nyata dengan P2 (15%) akan tetapi berbeda nyata dengan P3 (20%) dan P0 (0%). Konsentrasi P2 (15%) tidak berbeda nyata dengan P1 (10%), akan tetapi berbeda nyata dengan perlakuan P3 (20%) dan P0 (0%). Konsentrasi P3 (20%) berbeda nyata dengan P0 (0%), P1 (10%), P2 (15%), dan semua perlakuan berbeda nyata dengan kontrol.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa rata-rata hasil berat ikan selama 35 hari pada perlakuan P0 sebesar 27,33 gram, pada perlakuan P1 sebesar 33,33 gram, pada perlakuan P2 sebesar 35 gram, dan pada perlakuan P3 sebesar 39,66 gram. Berkaitan dengan pertumbuhan harian ikan yang berfungsi untuk menghitung persentase pertumbuhan berat ikan per hari. Berdasarkan hasil penelitian laju pertumbuhan harian ikan pada hari ke-7 menunjukkan bahwasannya laju pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan P2, yaitu 42,8% dan nilai laju pertumbuhan harian terendah pada perlakuan P0 yaitu 9,4%. Pada hari ke-14 laju pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan P3, yaitu 104,7% dan nilai laju pertumbuhan harian terendah pada perlakuan P0 yaitu 28%. Pada hari ke-21 laju pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan P3, yaitu 171% dan nilai laju pertumbuhan harian terendah pada perlakuan P0 yaitu 38%. Pada hari ke-28 laju pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan P3, yaitu 242,8% dan nilai laju

pertumbuhan harian terendah pada perlakuan P0 yaitu 52%. Pada hari ke-35 laju pertumbuhan harian tertinggi pada perlakuan P3, yaitu 238% dan nilai laju pertumbuhan harian terendah pada perlakuan P0 yaitu 61,8%, dengan demikian dapat dikatakan bahwasannya pakan pada perlakuan P3 adalah pakan yang paling baik karena nilai laju pertumbuhannya paling tinggi diantara pakan yang lain.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan berat tertinggi pada perlakuan P3 (ampas tempe 20%) dan pertumbuhan berat terendah pada perlakuan P0 (ampas tempe 0% + pellet 100%). Rendahnya pertumbuhan berat pada perlakuan P0 yaitu pakan tanpa penambahan ampas tempe diduga karena dipengaruhi oleh faktor kandungan nutrisi dalam pakan, yang mana kandungan nutrisi dalam pakan berpengaruh pada pertumbuhan ikan lele sangkuriang, yang berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwasannya perlakuan P3 memperoleh pertumbuhan berat tertinggi diantara perlakuan yang lain mengingat kandungan nutrisi ampas tempe cukup baik digunakan dalam proses pertumbuhan ikan lele sangkuriang. Kandungan nutrisi ampas tempe terdiri dari air 82,57 persen, protein 12,63 persen, lemak 9,71 persen, TDN 83,18 persen dan abu 8,60 persen.38

Menurut Setyorini (2007) ampas tempe mempunyai kandungan bahan kering 90,71%, 14,53% protein kasar, 52,91 TDN, 54,16% SK dan masing-masing atas dasar BK. Sedangkan menurut Direktorat Gizi cit Nurrichana et al

38

Adiwinarti, R et al. Performans Domba yang diberi Pakan Tambahan Limbah Tempe pada Aras yang Berbeda Animal Production. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, 2001.

(2002) komposisi kimia kulit ari kedelai terdiri dari 37,74% SK, 34,9% protein, 0,23% Ca, 0,58% Fosfor dan zat-zat lain 26,06%.39

Kandungan nutrisi dalam pakan sangat penting berperan dalam pertumbuhan ikan lele sangkuriang, dimana ikan lele sangkuriang akan tumbuh dengan baik apabila semua kebutuhan nutrisinya dapat terpenuhi secara maksimal. Misalnya kandungan atau kebutuhan protein tersedia dalam pakan dalam komposisi dan jumlah yang memadai. Protein unsur yang paling penting dalam pakan. Di dalam protein terkandung sejumlah asam amino yang sangat diperlukan untuk penyusunan tubuh dan pertumbuhan ikan. Secara garis besar, fungsi utama protein dalam tubuh ikan adalah: sebagai sumber energi bagi ikan, berperan dalam pertumbuhan maupun pembentukkan jaringan tubuh, mengganti jaringan tubuh yang rusak, komponen utama dalam pembentukkan enzim dan hormon.40 Pada perlakuan P3 dengan penambahan ampas tempe 20%, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwasannya pada perlakuan tersebut adalah perlakuan yang memperoleh berat paling tinggi diantara perlakuan yang lain, mengingat masih cukup baiknya kandungan protein yang ada dalam ampas tempe tersebut yang dapat berperan dalam pertumbuhan ikan lele sangkuriang.

Dengan pengolahan pakan yang tepat, ikan lele sangkuriang dapat tumbuh lebih cepat dan konversi pakan (FCR) bisa lebih rendah. Hasil pengamatan nilai

39

Sulastri siti. Pengaruh Penggunaan Ampas Tempe Dalam Ransum Terhadap Kecernaan Nutrien Domba Lokal Jantan. (Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta 2008).

40

Mahyuddin Kholish, Paduan Lengkap Agribisnis Lele, (Jakarta: Penebar Swadaya, 2008), H. 91.

konversi pakan (FCR) ikan lele sangkuriang selama penelitian pada setiap perlakuan menunjukkan bahwasannya nilai konversi pakan dari perlakuan P3 sebesar 274 merupakan nilai terendah diantara perlakuan yang lain, hal ini menunjukkan bahwa P3 merupakan perlakuan terbaik daripada perlakuan lainnya. Sesuai dengan pernyataan Effendi, bahwa semakin rendah nilai konversi pakan semakin sedikit pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan. Artinya, semakin efisien pakan tersebut diubah menjadi daging.41

Penggunaan pakan oleh ikan menunjukkan nilai persentase pakan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ikan. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya efisiensi pakan adalah jenis sumber nutrisi dan jumlah dari masing-masing komponen sumber nutrisi dalam pakan tersebut. Jumlah dan kualitas pakan yang diberikan kepada ikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. 42

Hasil perhitungan efisiensi pemberian pakan masing-masing perlakuan menunjukkan bahwasannya ampas tempe dalam pakan memiliki efisiensi pakan yang cukup baik bagi ikan lele sangkuriang. Efisiensi pakan adalah nilai perbandingan antara pertambahan berat dengan pakan yang dikonsumsi yang

41

Effendie, Metode Biologi Perikanan, (Bogor, Yayasan Dewi Sri, 1979), dikutip oleh

Medinawati dkk, “Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap dan Kelangsungan Hidup Benih

Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)”, Media Libang Sulteng, 2011, Vol IV No 2, (Desember, 2011), h. 86.

42

Arief Muhammad,dkk. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik Berbeda Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Ikan Lele Sangkuriang. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Vol 6 No 1.

dinyatakan dalam persen.43 Efisiensi Penggunaan pakan menunjukkan nilai pakan yang dapat merubah menjadi pertambahan pada berat ikan. Efisiensi pakan dapat dilihat dari beberapa faktor dimana salah satunya adalah rasio konversi pakan. Menurut Hariati (1989) bahwa tingkat efisiensi penggunaan pakan yang terbaik akan dicapai pada nilai perhitungan konversi pakan terendah. Pada perlakuan P3 merupakan perlakuan dengan nilai konversi pakan terendah, merupakan kondisi kualitas pakan lebih baik daripada perlakuan yang lain. Kondisi kualitas pakan yang baik mengakibatkan energi yang diperoleh pada ikan lele sangkuriang lebih banyak untuk pertumbuhan, sehingga ikan dengan pemberian pakan yang sedikit laju pertumbuhan meningkat.44

Berdasarkan penjelasan diatas bahwasannya tingkat efisiensi penggunaan pakan yang terbaik akan dicapai pada nilai perhitungan konversi pakan terendah. Hasil rata-rata perhitungan nilai konversi pakan pada masing-masing perlakuan berbeda, dimana perhitungan nilai konversi pakan terendah terdapat pada perlakuan P3 (pellet+ ampas tempe 20%) yaitu 274, hal tersebut menunjukkan bahwasannya pada perlakuan P3 sesuai dengan kebutuhan nilai sehingga pencernaan dan penyerapan pakan yang dicampur dengan ampas tempe efektif diserap untuk meningkatkan berat ikan dan persentase pakan yang diubah menjadi daging meningkat. Sedangkan perlakuan P0 (tanpa penambahan ampas tempe)

43

Hariyadi,dkk. 2005. Evaluasi Efisiensi Pakan dan Efisiensi Protein Pada Ikan Karper Rumput (Ctenopharyngodon Idella Val) Yang diberi Pakan dengan Kadar Karbohidrat dan Energi Yang Berbeda. Fakultas Biologi Unseod. Purwokerto.

44

Arief Muhammad,dkk. 2014, Pengaruh Pemberian Probiotik Berbeda Pada Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Ikan Lele Sangkuriang, Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Vol 6 No 1.

adalah perlakuan dengan perhitungan nilai konversi pakan tertinggi, hal ini menunjukkan bahwasannya P0 tidak sesuai dengan kebutuhan nilai atau sumber nutrisi dalam pakan tersebut, karena kualitas pakan yang diberikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan.

Pembahasan mengenai pertumbuhan panjang mutlak yang diperoleh dari hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwasannya perhitungan rata-rata pertumbuhan panjang mutlak adalah P0 4,66 cm, P1 5,66 cm, P2 6 cm dan P3 6,66 cm. Pertumbuhan panjang yang paling tinggi adalah pada perlakuan P3 (pellet+ ampas tempe 20%), kemungkinan karena pakan ini mengandung protein yang paling tinggi dibandingkan pakan lain. Ikan yang mengkonsumsi pakan yang kandungan protein nya tinggi maka akan cepat tumbuh baik itu berat maupun panjang.45

Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya pakan pada perlakuan P3 (pellet+ ampas tempe 20%) menghasilkan laju pertumbuhan yang tertinggi. Hal ini karena pakan ini mempunyai keseimbangan energi dan protein yang memenuhi kebutuhan ikan, sehingga lemak dan karbohidrat yang dikonsumsi dapat dimanfaatkan dalam sintesis tubuh ikan.46Kebutuhan protein yang optimal dipengaruhi oleh penggunaan protein untuk energi, komposisi asam amino, kecernaan pakan, serta imbangan energi protein. Apabila kandungan protein

45

Sudjiharo. 1999. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates Calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung, Departemen Jenderal Perikanan Balai Budidaya Laut Lampung 65 h.

46

Jaya Berian, dkk. 2013. Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Kakap Putih (Lates Calcarifer, Bloch) dengan Pemberian Pakan yang Berbeda, Maspari Journal. Vol 5 No 1.

terlalu tinggi, hanya sebagian yang akan diserap dan digunakan untuk membentuk ataupun memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, sementara sisanya akan diubah menjadi energi.47

Semua molekul organik dalam makanan dapat dimanfaatkan dalam respirasi selular untuk membuat ATP. Selain glukosa, protein dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, namun harus dicerna terlebih dahulu menjadi asam amino penyusunnya. Kemudian asam amino tersebut digunakan oleh organisme tersebut untuk membangun protein baru. Jika asam amino dalam tubuh berlebihan maka diubah oleh enzim menjadi intermediat pada glikolisis atau siklus asam sitrat. Namun sebelum asam amino memasuki glikolisis atau siklus asam sitrat, gugus asam aminonya harus dibuang melalui proses yang disebut deaminase yang kemudian zat buangan bernitrogen ini disekresikan dari hewan dalam bentuk amonia, urea atau produk-produk sisa lainnya. Begitu juga lemak, setelah lemak dicerna menjadi gliserol dan asam lemak, gliserol diubah menjadi gliseraldehida-3-fosfat (suatu intermediat pada glikolisis). Urutan metabolik yang disebut oksidasi beta menguraikan asam lemak menjadi fragmen berkarbon dua yang memasuki siklus asam sitrat sebagai asetil KoA. NADH dan FADH2 juga dihasilkan selama oksidasi beta. Molekul-molekul tersebut dapat memasuki rantai

47

Buwono, Kebutuhan Asam Amino Esensial dalam Ransum Ikan, (Yogyakarta:

Kanisius, 2000), dikutip oleh Kiki Haetami, “Konsumsi dan Efesiensi Pakan dari Ikan Jambal Siam yang Diberi Pakan dengan Tingkat Energi Protein Berbeda”, Jurnal Akuatika, Vol III, No 2 (September 2012), H.155.

transfor elektron sehingga lebih banyak lagi ATP yang dihasilkan.48 Jadi jika asupan karbohidrat kurang dalam pakan, maka ikan akan menggunakan protein sebagai sumber energi untuk keperluan metabolisme bagi tubuhnya. Sehingga hal ini akan membatasi fungsi protein yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan ikan.

Menurut Usman dkk, bahwa kecernaan protein dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sumber protein, ukuran partikel, perlakuan sebelum dan setelah pembuatan pakan, jenis dan ukuran ikan, jumlah konsumsi pakan, suhu, dan komponen nonprotein dalam pakan.49

Menurut Lovell, penyusunan ransum ikan perlu diperhartikan keseimbangan antara protein dan energi. Pakan yang kandungan energinya rendah dapat menyebabkan ikan menggunakan sebagian protein sebagai sumber energi untuk metabolisme, sehingga bagian protein berkurang. Sebaliknya jika energi pakan terlalu tinggi dapat membatasi jumlah pakan yang dimakan. Keadaan ini dapat membatasi jumlah protein pakan yang dimakan ikan, akibatnya pakan relatif rendah.50

Sesuai dengan pendapat Cowey dan Sargent yang menyimpulkan, bahwa kandungan energi makanan yang rendah menyebabkan sebagian besar protein makanan akan digunakan sebagai sumber energi untuk keperluan metabolisme.

48

Campbell.Et.al, Biologi Jilid 1, (Jakarta: Erlangga, 2010). H.194-195.

49 Usman dkk, “Pengaruh Kadar Protein dan Lemak Pakan Terhadap dan Komposisi

Badan Ikan Kerapu Macan (Ephnihelus fuscogullotus), 2010, dikutip oleh Muhammad Marzuqi dan Dewi Nasbha Anjusary, “Kecernaan Nutrien Pakan dengan Kadar Protein dan Lemak

Berbeda pada Juvenil Ikan Kerapu Pasir (Epinephelus coralicola), Jurnal Ilmi dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol 5, No 2, Desember 2013, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, H. 311- 323.

50

Lovell, Nutrition and Fedding Of Fish, (New York: Van Nostrand Reinhold, 1988), dikutip oleh Taufik Budi Pramono, Dyahruri Sanjayasari dan Hary Tjahja Soedibya, “Optimasi

Pakan dengan Level Protein dan Energi Protein untuk Calon Induk Ikan Senggaringan”, Jurnal

Jadi pakan harus mempunyai rasio tertentu yang dapat menyediakan energi nonprotein dalam jumlah yang cukup sehingga protein pakan sebagian besar digunakan untuk proses pertumbuhan.51

Selain kandungan nutrisi pakan lengkap, dalam artian seluruh zat gizi telah dikandung oleh pakan, komposisi pakan juga harus berimbang. Pakan yang tidak seimbang atau salah satu komponennya berlebihan dapat juga menimbulkan masalah. Oleh karena itu, sebelum membuat pakan, nutrisi yang dibutuhkan ikan budidaya perlu diketahui dahulu.52

Pembahasan mengenai kualitas air yang dalam penelitian ini juga merupakan parameter penunjang yang diamati dan juga merupakan gambaran dari kesuburan suatu perairan. Walaupun beberapa jenis ikan dapat hidup dalam kondisi air yang minimum. Salah satu ikan yang dapat hidup dan tumbuh pada kualitas air yang minimum adalah ikan lele sangkuriang. Lele termasuk ikan yang dapat hidup dalam lingkungan atau air dalam kondisi apapun. Lele sangkuriang memiliki daya tahan yang relatif tinggi terhadap kondisi yang kurang baik. Namun demikian, diperlukan suatu kondisi lingkungan yang ideal agar lele sangkuriang dapat tumbuh dengan baik. Lele sangkuriang dapat hidup di dalam air bersuhu antara 20-35°C, dengan suhu optimal untuk pertumbuhan antara 25-29°C. Tingkat keasaman air (pH) dimana lele sangkuriang dapat hidup adalah

51

M. Ghufran, Buku Pintar Pemeliharaan 14 Ikan Air Tawar Ekonomis, (Yogyakarta: Lily Publisher, 2010), H. 224.

52

antara 6-9, pH air paling optimal untuk pertumbuhannya adalah 6,5- 7,2.53 Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian diperoleh rata-rata suhu dan pH air secara berturut-turut berkisar 25,2-26,6°C dan 6,7-6,9. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut masih dalam batas kelayakan untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus).

Dengan demikian berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan mengenai pemberian ampas tempe pada pakan untuk meningkatkan pertumbuhan berat maupun panjang ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) dapat direkomendasikan sebagai alternatif pakan tambahan yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat maupun petani budidaya ikan lele sangkuriang (Clarias

gariepinus) dengan beberapa kelebihan yaitu membantu para pabrik tempe dalam

pengendalian limbah padat hasil industri pembuatan tempe yang dikenal dengan ampas tempe. Hasil penelitian juga membantu para petani untuk menekan biaya kebutuhan pakan berupa pellet karena mengingat harga pakan semakin mahal di pasaran, dan penggunaan ampas tempe dapat direkomendasikan sebagai pakan alternatif tambahan pakan mengingat kandungan protein yang cukup untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus).

53

Warisno, dan Kres Dahana, Meraup Untuk dari Beternak Lele Sangkuriang, 2009, (Yogyakarta: Lily Publisher), H. 8.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh serta analisis data yang telah dilakukan tentang pengaruh pemberian ampas tempe pada pakan untuk meningkatkan berat badan ikan lele sangkuriang menunjukkan:

1. Pengaruh pemberian ampas tempe pada pakan ikan lele sangkuriang berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan ikan lele sangkuriang. 2. Perlakuan P3 (20%) merupakan perlakuan dengan persentasi pemberian

ampas tempe yang paling tinggi yaitu 20% menghasilkan berat badan mencapai rerata 40 gram.

3. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang yaitu rata-rata suhu dan pH air secara berturut-turut berkisar 25,2-26,6°C dan 6,7-6,9.

B. Saran

1. Penggunaan ampas tempe dapat dijadikan pakan tambahan alternatif pada pakan untuk mengurangi biaya produksi dan mengingat kandungan protein yang cukup pada ampas tempe untuk pertumbuhan ikan lele sangkuriang

(Clarias gariepinus).

Dokumen terkait