TUGAS KHUSUS
5.4 Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan mengenai analisa oil content dengan metode sokletasi berupa rekap data dilakukannya analisa oil content:
Tabel 5.3 Hasil Analisa Oil Content Kebun Eksternal Tanggal
Analisa Sumber Buah Kriteria T.Tanam Varietas
% OER 5-Apr-12 KDU Matang 1993 21,87 KDU Under Ripe 1993 18,74 KDU Over Ripe 1993 12,33 Rata-rata 17,65 5-Apr-12
Makmur Jaya Ripe 1993 19,68
Makmur Jaya Under Ripe 1993 25,12 Makmur Jaya Over Ripe 1993 10,31 Makmur Jaya Under Ripe 2008 23,64 Makmur Jaya Over Ripe 2008 15,59
Makmur Jaya Ripe 2008 17,93
Rata-rata 18,71 5-Apr-12 Limpah Ripe 2008 25,14 Limpah Over Ripe 2008 19,59 Limpah Under Ripe 13,21 Rata-rata 19,31 5-Apr-12 Bina Warga 2007 33,66 Bina Warga 2007 28,5 Bina Warga 2009 12,44 Rata-rata 24,87
Rata-rata Buah Eksternal 20,13
Tabel 5.4 Rekap Hasil Analisa Oil Content Kebun Eksternal
Analisa Ke- Sumber Buah
% OER
36 1
Makmur Jaya 20,10
PT Mandiri Kapital Jaya 17,08
PRYE 16,29 PT. GY Plantation 16,79 Rata - rata 17,57 2 KDU 17,65 Makmur Jaya 18,71 Limpah 19,31 Bina Warga 24,87 Rata - rata 20,13 Rata - rata Makmur Jaya 19,41
PT Mandiri Kapital Jaya 17,08 Koperasi Duta Usaha 17,65 Limpah Sejahtera 19,31
Bina Warga 24,87
PRYE 16,29
PT. GY Plantation 16,79 Rata - rata Buah Eksternal 18,77
Tabel 5.5 Rekap Hasil Analisa Oil Content Kebun Internal
Analisa Ke- Estate
Rata-rata OER (%) 1 MUTE 27,15 KNDE 29,76 BSRE 21,78 SJYE 23,26 MSJE 25,78 Rata-rata 25,55 2 MUTE 25,52 KNDE 32,75 BSRE 27,94 SJYE 28,34 MSJE 27,24 Rata-rata 28,36 3 MUTE 22,49 KNDE 28,64 BSRE 25,61 SJYE 17,14 MSJE 26,06 Rata-rata 23,99
37 Berdasarkan data yang diperoleh dari analisa oil content yang dilakukan di PT. Gunajaya Karya Gemilang OER (Oil Ekstraktion Rate) atau hasil ekstraksi yang diperoleh dari 100% TBS kelapa sawit masih rendah dan masih berada di bawah standar yang ditetapkan oleh perusahaan, baik itu dari kebun internal maupun dari kebun eksternal.
5.5 Pembahasan
Kelapa sawit memiliki berbagai macam jenis. Berdasarkan ketebalan cangkangnya, kelapa dibagi menjadi 3, yaitu Dura, Pisifera dan Tenera. Adapun kriteria dari masing-masing jenis tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Dura
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar. Tipe ini memiliki ciri-ciri daging buah (mesocarp) tipis, cangkang tebal (2-8 mm), inti (endosperm) besar. Persentase daging buah 35% - 60% dengan rendemen minyak 17% - 18%.
2. Pisifera
Tipe ini memiliki ciri-ciri daging buahnya tebal, tidak mempunyai cangkang. Intinya kecil sekali bila dibandingkan tipe dura ataupun tenera. Perbandingan daging buah terhadap buahnya tinggi dan kandungan minyaknya tinggi.
3. Tenera
Tenera adalah persilangan antara induk dura dengan pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul karena melengkapi kekurangan masing-masing induk. Sifat tipe tenera merupakan kombinasi sifat khas dari kedua induknya. Tipe ini mempunyai tebal cangkang 0,5-4 mm. Perbandingan daging buah terhadap buah 60%-90%, rendemen minyak 22%-24% . (Setyamidjaja, 2006)
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan melalui analisa oil content dengan metode sokletasi, hasil ekstraksi minyak yang diperoleh dari 100% bahan baku adalah 18,77 (kebun eksternal) dan 23,99 (kebun internal). Perusahaan PT. Gunajaya Gemilang menetapkan standar sebesar 25% dengan target kerja sebesar 26%. Namun, realisasi dilapangan ternyata masih rendah dan di bawah standar yang telah ditetapkan.
Hasil ekstraksi yang rendah tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : 1. Jenis buah
38 2. Tingkat kematangan buah
3. Tingkat kecepatan buah yang masuk ke pabrik.
PT. Gunajaya Karya Gemilang mendapat pasokan bahan baku tidak hanya dari kebun sendiri, namun juga berasal dari kebun luar dimana perusahaan membeli kelapa sawit dari perusahaan lain. Buah dari kebun sendiri langsung masuk keproses pengolahan, Sedangkan buah dari kebun luar melewati tahap grading terlebih dahulu. Buah yang berasal dari kebun luar sebagian besar berasal dari jenis dura. Kelapa sawit jenis dura memiliki cangkang yang tebal dengan daging buah yang tipis. Minyak kelapa sawit diperoleh dari hasil ekstraksi daging buah kelapa sawit, jika daging buahnya tipis maka persentase minyak yang dihasilkan juga akan sedikit (18,77%).
Kriteria kematangan buah merupakan faktor yang penting sebagai penentu kualitas dan kuantitas minyak kelapa sawit yang dihasilkan. Penentuan kriteria matang panen sangat penting dilakukan, agar pemanen memotong tandan buah yang tepat. Secara teori, tandan yang ideal untuk dipanen ialah pada saat kandungan minyak maksimal dalam daging buah dan kandungan asam lemak bebas yang serendah mungkin. Kriteria matang panen bergantung pada berat tandan, yaitu untuk berat tandan lebih dari 10 kg sebanyak 2 brondolan/kg dan untuk berat tandan kurang dari 10 kg sebanyak 1 brondolan/kg. (Ketaren, 1986)
Pengetahuan mengenai derajat kematangan buah mempunyai arti penting sebab jumlah dan mutu yang akan diperoleh sangat ditentukan faktor ini. Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan ALB minyak sawit yang dihasilkan. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung ALB dalam persentase tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya, jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, selain kadar ALB nya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah. (Ketaren, 1986)
Derajat kematangan buah tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas minyak yang dihasilkan, tetapi juga akan berpengaruh pada jumlah minyak yang dihasilkan. Adapun derajat kematangan buah kelapa sawit dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.6 Rendemen, kadar ALB minyak dengan derajat kematangan Fraksi Buah Rendemen (%) ALB
(%)
0 16 1,6
1 21,4 1,7
2 22,1 1,8
39
4 22,2 2,6
5 21,9 3,8
(Setyamidjaja, 2006)
Persentase kandungan minyak yang masih di bawah standar pada buah yang berasal dari kebun internal (23,99%) disebabkan karena buah yang diolah masih banyak yang mentah dan kurang matang. Sehingga persentase minyak yang diekstraksi akan rendah.
Tingkat kecepatan buah yang masuk ke prabrik juga sangat berpengaruh terhadap jumlah minyak diperoleh dari hasil ekstraksi kelapa sawit. Persentase ekstraksi minyak yang kecil dikarenakan keterlambatan buah yang masuk ke pabrik, sehingga waktu pengolahannya pun juga akan terlambat. TBS kelapa sawit, setelah dipanen harus segera diolah dan tidak boleh lewat dari 8 jam dari pemanenan. Karena akan meningkatkan ALB dan menurunkan rendemen minyak.
Realisasinya, buah yang telambat masuk ke pabrik tersebut kebanyakan adalah yang berasal dari kebun eksternal. Dari pemanenan, buah masih harus mengalami perjalanan menuju pabrik. Sesampainya di pabrik pun buah juga masih menunggu untuk masuk ke pabrik. Hal ini lah yang menyebabkan kandungan minyak yang dihasilkan akan berkurang.
Untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut, dapat dilakukan dengan memperketat proses grading kelapa sawit dan mengurangi pasokan buah dari kebun eksternal.
5.6 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Persentase ekstraksi minyak kelapa sawit di PT. Gunajaya karya Gemilang masih di bawah standar dan di bawah target kerja yang telah ditetapkan, yaitu 18,77 untuk kebun eksternal dan 23, 99 untuk kebun internal.
2. Hasil ekstraksi yang rendah pada buah yang berasal dari kebun eksternal disebabkan karena banyak buah yang berasal dari jenis dura.
3. Hasil ekstraksi minyak kelapa sawit yang rendah pada buah yang berasal dari kebun internal dikarenakan masih adanya buah mentah dan kurang matang yang ikut terolah.
4. Keterlambatan buah yang masuk ke pabrik menyebabkan ekstraksi minyak dari kelapa sawit tidak maksimal.
40 BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil praktek kerja lapangan di PT. Gunajaya Karya Gemilang wilayah 6 adalah antara teori yang diperoleh selama proses belajar di kampus Politeknik Ketapang tidak selamanya sama dengan penerapannya dilapangan. Hal ini dikarenakan tiap perusahaan memiliki standar yang telah ditetapkan dan perusahaan juga bekerja sesuai dengan SOP (Standar Operating Prosedure) yang ada diperusahaan tersebut.
6.2 Saran
Selama praktek kerja lapangan, mahasiswa harus mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di PT. Gunajaya Karya Gemilang. Selain itu, mahasiswa juga harus menggali ilmu dan pengetahuan sebanyak-sebanyaknya agar dapat membandingkan antara teori yang diperoleh selama ini dengan keadaan di lapangan. Sehingga mahasiswa akan lebih mudah ketika menyelesaikan laporan PKL yang menjadi syarat kelulusan.