• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian

4.2.2. Hasil Pengujian Asumsi Klasik

4.2.2.4. Uji Autokorelasi

Sumber : Output SPSS, diolah Penulis, 2012

Dari gambar scatterplot di atas, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tidak membentuk pola tertentu atau tidak teratur, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini mengindikasikan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi variabel dependen (devidend payout ratio) berdasarkan masukan variabel independen yang terdiri dari investment opportunity set, return on investment dan net profit margin.

4.2.2.4Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada

periode saat ini (t) dengan kesalahan pengganggu sebelumnya (t-1). Jika terjadi korelasi, maka terdapat autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual atau kesalahan pengganggu tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Jika terjadi autokorelasi dalam model regresi berarti koefisien korelasi yang diperoleh menjadi tidak akurat, sehingga model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah dalam autokorelasi diantaranya adalah dengan Uji Durbin Watson. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokeralsi adalah sebagai berikut:

1) angka D-W di bawah –2 berarti ada autokorelasi positif, 2) angka D-W di antara -2 sampai +2, berarti tidak ada

autokorelasi, dan

3) angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.4

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

dimensi on0 1 ,468a ,219 ,138 ,32850 1,538 a. Predictors: (Constant), NPM, ROI, EPS

b. Dependent Variable: DPR

Hasil uji autokorelasi diatas menunjukkan bahwa tidak terjadi autokorelasi antar kesalahan pengganggu antar periode. Hal tersebut dilihat dari nilai Durbin-Watson (D-W) sebesar 1,538. Angka D-W berada diantara -2 dan 2, yang mengartikan bahwa angka DW lebih besar dari -2 dan lebih kecil dari 2. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa tidak ada autokorelasi positif maupun negatif.

4.2.3 Analisis Regresi

Analisis statistik selanjutnya adalah análisis regresi dengan SPSS 18.0. Analisis regresinya yaitu analisis koefisien regresi, analisis koefisien korelasi dan determinasi, dan melakukan pengujian hipótesis.

4.2.3.1 Persamaan Regresi

Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linear, dilakukan beberapa tahapan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, melalui pengaruh investment opportunity set (X1), return on investment (X2) dan net

profit margin (X3) terhadap devidend payout ratio (Y). Hasil

Tabel 4.5

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,171 ,104 1,645 ,111 EPS 3,839E-6 ,000 ,055 ,269 ,790 ROI 1,323 ,623 ,432 2,125 ,042 NPM -,006 ,051 -,021 -,128 ,899 a. Dependent Variable: DPR

Sumber : Output SPSS, diolah Penulis, 2012

Model regresi berdasarkan hasil analisis regresi diatas adalah sebagai berikut:

Y= 0,171 + 3,839 X1 + 1,323 X2 - 0,006 X3 + e

Model regresi diatas dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

a. Konstanta (B) sebesar 0,171, menjelaskan bahwa devidend payout ratio (DPR) dalam penelitian sebesar 17% jika

variabel investment opportunity set (IOS), return on investment (ROI) dan net profit margin (NPM) bernilai 0.

Namun signifikansi konstanta 0,111 > 0,05 sehingga disimpulkan tidak berpengaruh secara signifikan.

b. Koefisien X1 = 3,839, ini menunjukkan apabila terjadi perubahan variabel IOS sebesar 1 satuan akan meningkatkan DPR sebesar 3,839 atau 383,9% dengan asumsi variabel independen lainnya tetap atau sama dengan nol. Signifikansi hasil pengolahan data untuk variabel IOS berada di atas

derajat kepercayaan yang digunakan yaitu 0,79 > 0,05 (lebih besar dari α=5%) disimpulkan bahwa IOS tidak berpengaruh positip terhadap DPR

c. .Koefisien X2 =1,323, ini menunjukkan bahwa apabila terjadi perubahan ROI sebesar 1 satuan akan meningkatkan DPR sebesar 1,323 atau 132,2% dengan asumsi variabel independen lainnya tetap atau sama dengan nol. Signifikansi hasil pengolahan data untuk variabel IOS berada di atas derajat kepercayaan yang digunakan yaitu 0,042 < 0,05 (lebih kecil dari α=5%) disimpulkan bahwa ROI berpengaruh positip terhadap DPR

d. Koefisien X3 = 0,006, ini menunjukkan bahwa apabila terjadi perubahan NPM sebesar 1 satuan akan meningkatkan DPR sebesar 0,0060 atau 0,6% dengan asumsi variabel independen lainnya tetap atau sama dengan nol. Signifikansi hasil pengolahan data untuk variabel NPM berada di atas derajat kepercayaan yang digunakan yaitu 0,899 > 0,05 (lebih besar dari α=5%). Karena konstanta bernilai negatif maka disimpulkan bahwa NPM tidak berpengaruh terhadap DPR. Karena tidak ada pengaruh antara kedua variabel maka besarnya koefisien regresi variabel NPM tidak memiliki makna apapun dan tidak dapat diinterprestasikan.

4.2.3.2 Analisis Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi

Nilai koefisien korelasi (R) menunjukkan seberapa besar korelasi atau hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel dependen. Koefisien korelasi dikatakan kuat jika nilai R berada diatas 0,5 dan mendekati 1. Koefisien determinasi (R square) menunjukkan seberapa besar variabel independen

menjelaskan variabel dependen. Nilai R square adalah nol sampai dengan satu. Apabila nilai R square semakin mendekati satu, maka variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Sebaliknya, semakin kecil nilai R square, maka kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen semakin terbatas. Oleh karena itu, digunakan nilai adjusted Rsquare untuk mengevaluasi model regresi terbaik.

Tabel 4.6

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson

dimensi on0 1 ,468a ,219 ,138 ,32850 1,538 a. Predictors: (Constant), NPM, ROI, EPS

b. Dependent Variable: DPR

Sumber : Output SPSS, diolah Penulis, 2012

Pada model summary di atas, angka R sebesar 0,468 menunjukkan bahwa terdapat korelasi atau hubungan yang kuat antara DPR dengan IOS, ROI, dan NPM yaitu sebesar 46,8% yang berada dibawah 0,5 (50%). Angka adjusted R.Square atau koefisien

determinasi adalah 0,138. Angka ini mengindikasikan bahwa 13,8% variasi atau perubahan dalam DPR dapat dijelaskan oleh variasi variable IOS, ROI dan NPM. Sedangkan sisanya (86,2%) dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Standar Error of Estimate (SEE) adalah 0,3285, semakin besar SEE akan membuat model regresi kurang tepat dalam memprediksi variabel dependen. Menurut penelitian Natalia Purwanti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi devidend payout ratio secara parsial adalah posisi kas dan setara, rasio solvabilitas (debt equity ratio) dan rasio profitabilitas (return on investment). Sementara current ratio dan holding tidak menjadi

faktor-faktor penting pada devidend payout ratio.

4.2.3.3. Pengujian Hipotesis

4.2.3.3.1 Uji Signifikansi Simultan F

Secara simultan, pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F (F test). Uji F dilakukan untuk menguji apakah variabel-variabel independen berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Adapun hipotesis untuk uji F adalah :

H1 : IOS, ROI, dan NPM berpengaruh signifikan terhadap DPR.

1) jika Fhitung < Ftabel pada α 0,05, maka H1 ditolak, dan 2) jika Fhitung > Ftabel pada α 0,05, maka H1 diterima.

Setelah uji F dilakukan, maka diperoleh nilai F hitung dan nilai signifikansi seperti dibawah ini.

Tabel 4.7

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression ,876 3 ,292 2,707 ,064a

Residual 3,129 29 ,108

Total 4,006 32

a. Predictors: (Constant), NPM, ROI, EPS b. Dependent Variable: DPR

Sumber : Output SPSS, diolah Penulis, 2012

Dari hasil uji ANOVA atau F test, diperoleh F hitung sebesar 2,707 dengan tingkat signifikansi 0,064, sedangkan F tabel sebesar 2,90 dengan signifikansi 0,05 yang berarti H1 ditolak. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa IOS, ROI dan NPM secara simultan tidak signifikan terhadap DPR perusahaan karena F hitung < F tabel (2,707 < 2,90 ) dan signifikansi penelitian > 0,05 ( 0,064 > α=0,05).

4.2.3.3.2 Uji Signifikansi Parsial (t)

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen secara

parsial. Dalam uji t digunakan hipotesis seperti yang terlihat berikut ini.

H0 : b1,b2,b3, = 0, artinya IOS. ROI dan NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap DPR secara parsial pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Ha : b1,b2,b3,b4 ≠ 0, artinya IOS, ROI dan NPM berpengaruh signifikan terhadap DPR secara parsial pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta dan setiap variabel independennya dengan kriteria sebagai berikut :

1. H0 diterima dan Ha ditolak jika t hitung < t tabeluntuk α = 5%, dan

2. Ha diterima dan H0 ditolak jika t hitung > t tabeluntuk α = 5%.

Tabel 4.8

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients Standardized Coefficients

T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,171 ,104 1,645 ,111 EPS 3,839E-6 ,000 ,055 ,269 ,790 ROI 1,323 ,623 ,432 2,125 ,042 NPM -,006 ,051 -,021 -,128 ,899 a. Dependent Variable: DPR

Dari uji t yang telah dilakukan, diperoleh nilai t tabel sebesar 2,042. Dari hasil uji t yang disajikan pada tabel 4.11 dapat diketahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut :

a. Investment Opportunity Set (IOS) diasosiasikan dalam nilai

Earning Per Share (EPS) mempunyai nilai signifikansi 0,790

yang berarti nilai ini lebih besar dari 0,05. Nilai t hitung diperoleh sebesar 0,269 yang bermakna nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 2,042. Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, artinya secara parsial IOS tidak berpengaruh signifikan terhadap Devidend Payout Ratio (DPR).

b. Return on Investment (ROI) mempunyai nilai signifikansi 0,042

yang berarti nilai ini lebih kecil dari 0,05. Nilai t hitung diperoleh sebesar 2,125 yang bermakna nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel sebesar 2,042. Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, artinya secara parsial ROI berpengaruh signifikan terhadap Devidend Payout Ratio (DPR).

c. Net Profit Margin (NPM) mempunyai nilai signifikansi 0,899

yang berarti nilai ini lebih besar dari 0,05. Nilai t hitung diperoleh -0,128 yang bermakna nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel sebesar 2,042. Berdasarkan nilai tersebut

disimpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, artinya secara parsial NPM tidak berpengaruh signifikan terhadap Devidend Payout Ratio (DPR).

4.3 Pembahasan

Berdasarkan dari hipotesis pertama menyatakan bahwa investment opportunity set (IOS) berpengaruh signifikan terhadap devidend payout ratio

(DPR). Dalam penelitian ini diperoleh hasil bukti empiris bahwa hipotesis pertama tidak terbukti. Ini dikarenakan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,790 > α=0,05) atau nilai t hitung lebih kecil dibandingkan dengan t tabel (0,269 < 2,042). Karena hipotesis pertama tidak terbukti maka dapat disimpulkan bahwa IOS tidak akan berdampak signifikan pada tingkat ukuran pembayaran deviden.

Kesimpulan ini sejalan dengan hasil penelitian Sri Sugiarti (2010) juga menyimpulkan bahwa investment opportunity set (IOS) memiliki hubungan negatif terhadap kebijakan deviden perusahaan yang diproksikan dalama devidend payout ratio (DPR). Semakin cepat pertumbuhan perusahaan akan semakin besar

jumlah dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Makin besar kesempatan untuk memperoleh keuntungan maka makin besar bagian dari pendapatan dana yang ditahan. Hal ini berarti semakin rendah DPR yang disajikan. Perusahaan bertumbuh (perusahaan dengan level IOS tinggi) cenderung tidak mendanai proyek-proyeknya dengan pendanaan eksternal (hutang) dan ada juga mendanainya dari sumber internal (laba ditahan). Meskipun demikian perusahaan juga sedikit meningkatkan porsi pembayaran deviden atas laba yang dihasilkan

perusahaan. Hal ini yang menyebabkan hubungan antara IOS dengan DPR berbanding terbalik dan berpengaruh negatif terhadap DPR.

Hipotesis kedua menyatakan bahwa return on investment (ROI) berpengaruh signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR). Dalam penelitian ini diperoleh hasil bukti empiris bahwa hipotesis kedua terbukti dan dapat diinterprestasikan. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,042 < α=0,05) atau nilai t hitung lebih besar daripada t tabel (2,125 > 2,042). Maka disimpulkan bahwa perolehan laba dari pemanfaatan aset atau yang lebih dikenal dengan return on investment (ROI) berpengaruh signifikan terhadap devidend payout

ratio (DPR).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian dari Rini D. Hadiwijaya (2009) yang menyimpulkan bahwa return on investment (ROI) sebagai variabel bebas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR). Penelitian Suwendra Kumar (2007) juga menyimpulkan bahwa ROI berpengaruh positif terhadap DPR. ROI memiliki tingkat pengaruh yang dominan terhadap kebijakan pembayaran dividen. Pernyataan ini didukung oleh hasil kedua peneliti terdahulu disertai dengan hasil penelitian dari penulis. Hal ini terjadi karena kondisi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI mulai stabil akibat krisis ekonomi yang terjadi sehingga laba yang dihasilkan dengan menggunakan modal sendiri lebih baik dialokasikan untuk stabilitas perusahaan di pasar saham dunia dan selebihnya bisa digunakan untuk dibagikan sebagai dividen.

Hipotesis ketiga menyatakan bahwa net profit margin (NPM) berpengaruh signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR). Berdasarkan dari nilai signifikansi 0,899 lebih besar dari 0,05 (0,899 > α=0,05) atau nilai t hitung lebih kecil dari t tabel ( -0,128 < 2,042 ). Nilai t hitung yang bertanda negatif tentu saja hasilnya akan tidak berdampak signifikan terhadap variabel dependen. Maka disimpulkan bahwa net profit margin (NPM) tidak berpengaruh signifikan pada devidend payout ratio (DPR).

Hasil penelitian Rini Pebriani Utami (2009) dan Rini D. Hadiwijaya (2009) juga menyimpulkan yang sama bahwa net profit margin (NPM) tidak berpengaruh signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR). Namun menurut pernyataan Suhartono (2004) menyatakan bahwa Earning Volatility berkaitan dengan rasio dividen yang mana inti dari Earning Volatility apabila tingkat keuntungan perusahaan semakin stabil maka perusahaan dapat memprediksi keuntungan-keuntungan di masa yang akan datang dengan ketepatan yang tinggi. Pemanfaatan aset produktif dan bahan baku secara efektif dan efisien juga akan meningkatkan total penjualan perusahaan. Peningkatan penjualan akan sebanding dengan peningkatan laba dan ini akan menarik hasrat investor untuk menanamkan modal pribadi. Karena kondisi ini merupakan peluang yang baik di masa mendatang bagi perusahaan sebagai operator dan pemilik modal sebagai investor.

Informasi yang disampaikan melalui perubahan kebijakan deviden, mencerminkan kinerja pendapatan di masa lalu dan masa depan. Perusahaan yang menghilangkan dividen telah mengalami pertumbuhan negatif sekurang-kurangnya tiga tahun sebelum penghilangan dividen tersebut, dimana penurunan

pendapatan yang terbesar terjadi pada tahun sebelum penghilangan dividen. Pendapatan yang negatif akan menghilangkan dividen, dan berdampak pada pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang.

Hipotesis keempat menyatakan bahwa investment opportunity set (IOS), return on investment (ROI), dan net profit margin (NPM) berpengaruh secara

simultan terhadap devidend payout ratio (DPR) perusahaan. Berdasarkan nilai signifikansi 0,064 lebih besar dari 0,05. Jika membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel diketahui bahwa nilai F hitung (2,707) lebih kecil dari F tabel (2,90). Jadi dapat disimpulkan bahwa IOS, ROI dan NPM secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap DPR.

Hasil penelitian Rini D. Hadiwijaya (2009) menghasilkan f hitung (3,823) lebih besar f tabel (2,60) dan menyimpulkan bahwa secara simultan variabel independen (NPM, ROI, dan cash ratio) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (DPR).

Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,468 menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara DPR (Y) dengan IOS (X1), ROI (X2) dan NPM (X3)mempunyai hubungan yang cukup korelatif karena berada di bawah 0,5 (50%) yaitu: 46,8%. Nilai koefisien determinasi yang sudah disesuaikan (Adjusted R Square) sebesar 0,138 atau 13,8%. Angka ini mengindikasikan bahwa variasi dari ketiga variabel independen (IOS, ROI dan NPM) hanya mampu menjelaskan variasi variabel dependen (likuiditas) sebesar 13,8% dan sisanya 86,2% (100% - 13,8%) dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. Hal ini merupakan referensi bagi penelitian mendatang untuk menemukan

variabel-variabel tersebut. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi variabel dependen (DPR) sesuai penelitian Natalia Purwanti (2008) yaitu posisi kas dan setara kas, debt equity ratio dan return on investment menjadi variabel-variabel

independen yang berpengaruh dominan terhadap DPR. Sementara hasil penelitian dari Ade Fatma Lubis, return on investment dan tax rate menjadi faktor-faktor penting yang mempengaruhi DPR dan net rofit margin, cash ratio dan debt equity ratio tidak berpengaruh signifikan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pengujian data dalam penelitian yang berjudul “ Pengaruh Investment Opportunity Set, Return on Investment dan Net Profit Margin terhadap Devidend Payout Ratio yang Terdaftar di BEI periode

2008-2010 “ maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Investment opportunity set (IOS) secara parsial tidak berpengaruh

signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

2. Return on investment (ROI) secara parsial berpengaruh signifikan

terhadap devidend payout ratio (DPR) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

3. Net profit margin (NPM) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap devidend payout ratio (DPR) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

4. Investment opportunity set (IOS), return on investment (ROI), dan net profit margin (NPM) secara simultan tidak berpengaruh signifikan

terhadap devidend payout ratio (DPR) perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

5.2Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa batasan masalah baik dari jumlah sampel yang digunakan, periode penelitian, maupun faktor-faktor yang diteliti. Adapun keterbatasan penelitian ini adalah :

1. Sampel penelitian ini relatif kecil, dikarenakan kriteria pengambilan sampel yang ditentukan penulis tidak tersaji secara lengkap dan terperinci pada sumber data yang ada. Sehingga hanya beberapa sampel yang layak untuk dijadikan populasi penelitian.

2. Ruang lingkup penelitian ini bergerak pada perusahaan bidang manufaktur tanpa disertai perusahaan keuangan (perbankan). Ini dikarenakan berbeda penyajian laporan keuangan antara perusahanan yang non keuangan (manufaktur) dengan perusahaan keuangan.

3. Emiten perusahaan yang terdaftar di BEI tidak memuat nilai deviden payout ratio sehingga membuat data yang akan diuji menjadi terbatas.

5.3 Saran

Setiap hasil penelitian pasti memiliki kekurangan dan kelebihan dan keterbatasan penelitian ini akan disempurnakan kembali oleh penelitian mendatang. Hasil penelitian akan menjadi titik klimaks yang real dan dapat dijadikan sebagai solusi terbaik untuk menemukan jawab setiap permasalahan yang ada. Tentunya hasil penelitian memiliki kekurangan-kekuranga. Adapun saran dari penulis adalah :

1. Penelitian mendatang perlu memperbesar sampel agar hasil penelitian dapat digeneralisir dengan cara membagi perusahaan yang terdaftar di BEI ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok perusahaan keuangan dan kelompok perusahaan non keuangan.

2. Tahun pengamatan yang panjang akan memperkecil jumlah sampel karena banyak perusahaan yang tidak menyajikan data secara lengkap dan terperinci. Maka disarankan penelitian mendatang hanya mengambil tahun pengamatan dalam jenjang minimal dua tahun.

3. Selain memperluas sampel penelitian, penelitian mendatang diharapkan untuk menggunakan data time series yang terbaru sehingga hasilnya juga akan lebih akurat dan terkini.

4. Nilai koefisien determinasi yang sudah disesuaikan (Adjusted R Square) sebesar 13,8%. Angka ini mengindikasikan bahwa variasi dari ketiga variabel independen (IOS, ROI dan NPM) hanya mampu menjelaskan variasi variabel dependen (likuiditas) sebesar 13,8% dan sisanya 86,2% (100% - 13,8%) dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. Disarankan penelitian mendatang menggunakan variabel-variabel independen lain seperti posisi kas dan setara kas, debt equity ratio,tax rate dan return on inevestment untuk melihat pengaruh dominan terhadap deviden payout ratio .

DAFTAR PUSTAKA

Arifin Zainal. 2005. “Teori Keuangan dan Pasar Modal” Edisi Pertama, Penerbit Ekonisia, Yogyakarta.

Blocher,Chen dan Lin, 2001. “Manajemen Biaya Dengan Penekanan Strategik” Buku Dua, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Brigham dan Houston, 2001. “Manajemen Keuangan” Edisi Kedelapan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Ghozali, Imam, 2005. ”Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS” Edisi Ketiga, BP Universitas Diponegoro, Semarang.

Gitosudarmo, Indriyo, 2002. “Manajemen Keuangan” BPFE, Yogyakarta. Hanafi M. Muhammad dan Abdul Halim, 2005. “Analisis Laporan Keuangan”

Edisi Kedua Cetakan Pertama, UUP AMP YKPN, Yogyakarta.

Imam Subekti dan I.W. Kusuma, 2000. “Asosiasi Antara Set Kesempatan Investasi Dengan Kebijakan Pendanaan dan Deviden Perusahaan serta Implikasinya Pa Perubahan Harga Saham “ Makalah Seminar

Jumingan, 2006. “Analisis Laporan Keuangan”, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta. , IAI.

Kasmir, 2009. “Analisis Laporan Keuangan”, Penerbit Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Mulyadi, 2007. “Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen” Penerbit Salemba Empa,. Jakarta.

Munawir, S, 2004. “Analisis Laporan Keuanga” Edisi Keempat, Cetakan Ketigabelas, Liberty, Yogyakarta.

Rejeki, Sutari Sri, 2011. “Pengaruh Debt To Equty Ratio, Net Profit Margin,

Asset Growth, Firm Size dan Current Ratio Terhadap Devidend Payout Ratio Pada Perusahaan Non Financial yang Terdaftar di BEI Pada Tahun 2005 s.d 2009.” Skripsi Akuntansi

Rochaety, eti dkk, 2009.“Metodologi Penelitian Bisnis Dengan Aplikasi SPSS” Edisi Revisi, Penerbit Mitra Wacana Medi,. Jakarta.

, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Sjahrial, Dermawan, 2009. Manajemen Keuangan” Edisi Ketiga, Penerbit Mitra Wacana Media, Jakarta.

Utami, Rini Pebriani, 2009. “Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Deviden Pada Sektor Industri Manufaktur yang Terdaftar di BEI Pada Tahun 2003 s.d 2007”, Jurnal Akuntansi

http://etd.eprints.ums.ac.id/2687/

, Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/4323

Lampiran i Data Populasi Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

I II III I II III I II III

1 AALI PT Astra Agro Lestari Tbk

2 ADES PT Ades Waters Indonesia Tbk

3 ADMG PT Polychem Indonesia Tbk

4 AISA PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk

5 AKKU PT Aneka Kemasindo Utama Tbk

6 AKPI PT Argha Karya Prima Industry Tbk

7 AKRA PT AKR Corporindo Tbk

8 ALMI PT Alumindo Light Metal Industry Tbk

9 AMFG PT Asahimas Flat Glass Tbk

10 ANTM PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk

11 APEX PT Apexindo Pratama Duta Tbk

12 APLI PT Asiaplast Industries Tbk

13 AQUA PT Aqua Golden Mississippi Tbk

14 ARGO PT Argo Pantes Tbk

15 ARNA PT Arwana Citramulia Tbk

16 ASGR PT Astra-Graphia Tbk

17 ASII PT Astra International Tbk

18 ATPK PT ATPK Resources Tbk

19 AUTO PT Astra Otoparts Tbk

20 BATA PT Sepatu Bata Tbk 1

21 BIMA PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk

22 BISI PT Bisi International Tbk

23 BRAM PT Indo Kordsa Tbk

24 BRNA PT Berlina Tbk

25 BRPT PT Barito Pacific Tbk

26 BTON PT Betonjaya Manunggal Tbk

27 BUDI PT Budi Acid Jaya Tbk

28 BUMI PT Bumi Resources Tbk

29 CEKA PT Cahaya Kalbar Tbk

30 CLPI PT Colorpak Indonesia Tbk

31 CNKO PT Central Korporindo Internasional Tbk

32 CNTX PT Century Textile Industry (CENTEX) Tbk

33 CPDW PT Cipendawa Agroindustri Tbk

34 CPIN PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk

35 CPRO PT Central Proteinaprima Tbk

36 CTBN PT Citra Tubindo Tbk

37 CTTH PT Citatah Industri Marmer Tbk

38 DAVO PT Davomas Abadi Tbk

39 DLTA PT Delta Djakarta Tbk

40 DOID PT Delta Dunia Petroindo Tbk

SAMPEL

KRITERIA KRITERIA KRITERIA

NO EMITEN NAMA PERUSAHAAN

Lampiran i (Lanjutan)

I II III I II III I II III

41 DPNS PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk

42 DSFI PT Dharma Samudra Fishing Industries Tbk

43 DVLA PT Darya-Varia Laboratoria Tbk

44 DYNA PT Dynaplast Tbk

45 EKAD PT Ekadharma International Tbk

46 ELSA PT Elnusa Tbk

47 ENRG PT Energi Mega Persada Tbk

48 ERTX PT Eratex Djaja Tbk

49 ESTI PT Ever Shine Textile Industry Tbk

Dokumen terkait