HASIL DAN PEMBAHASAN
13. PT Swadesi Tbk.
4.6. Hasil Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis diskriminan pada sub-bab sebelumnya, hasil pengujian terhadap hipotesis penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hasil Uji Hipotesis I
Pengujian terhadap Hipotesis I bertujuan untuk membuktikan bahwa variabel-variabel yang terdiri dari CAR, RORA, Profit Margin, ROA, BOPO dan LDR merupakan variabel pembeda dalam membedakan status tingkat kesehatan bank. Berdasarkan hasil pengujian diskriminan dengan metode stepwise, dapat diketahui bahwa variabel yang terbukti paling dominan dalam membedakan status tingkat kesehatan bank adalah ROA, RORA, dan CAR, sedangkan ketiga variabel lain yaitu LDR, BOPO, dan NPM tidak mampu membedakan status tingkat kesehatan bank. Berdasarkan hasil ini maka Hipotesis I diterima, yang berarti variabel-variabel yang terdiri dari ROA, RORA, dan CAR merupakan variabel pembeda dalam membedakan status tingkat kesehatan bank.
2. Hasil Uji Hipotesis II
Pengujian terhadap Hipotesis II bertujuan untuk membuktikan bahwa ROA merupakan variabel yang paling dominan dalam membedakan status tingkat kesehatan bank. Berdasarkan hasil pengujian diskriminan dengan metode
stepwise, dapat diketahui bahwa variabel ROA memiliki koefisien yang paling besar diantara kedua variabel dominan yang lain (RORA, dan CAR). Berdasarkan hasil ini maka Hipotesis II juga diterima, yang berarti ROA merupakan variabel yang paling dominan dalam membedakan status tingkat kesehatan bank.
4.7. Pembahasan
4.7.1. Pengaruh Masing-Masing Variabel Pembentuk Fungsi Diskriminan
Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4.4 di atas, model diskriminan yang terbentuk adalah sebagai berikut:
Z = -4,019 + 0,031LDR + 0,495BOPO + 1,113ROA + 0,346NPM – 0,688RORA + 1,548CAR
Penjelasan yang dapat diberikan berdasarkan fungsi diskriminan di atas adalah sebagai berikut:
1. Nilai konstanta diperoleh sebesar -4,019. Hal ini berarti apabila keenam variabel pembentuk fungsi diskriminan bernilai nol, maka besarnya tingkat kesehatan akan memiliki nilai dibawah nol, atau masuk kategori bank tidak sehat.
2. Koefisien Loan to Deposit Ratio (LDR) diperoleh sebesar 0,031. Hal ini dapat diartikan apabila rasio LDR naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh kenaikan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 0,031%.
3. Koefisien Biaya Operasional Dibanding Pendapatan Operasional (BOPO) diperoleh sebesar 0,495. Hal ini dapat diartikan apabila rasio BOPO naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka
akan diikuti oleh kenaikan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 0,495 %. Hasil pengujian terhadap BOPO menghasilkan koefisien positif. Adanya pengaruh positif ini diduga terjadi karena kenaikan terhadap biaya operasional perusahaan masih mampu diimbangi oleh peningkatan pendapatan operasional perusahaan. Hal ini mengakibatkan perusahaan tetap mampu menjaga tingkat kesehatannya dengan cara meningkatkan pendapatan operasionalnya, walaupun perusahaan mengalami peningkatan terhadap biaya operasional. Hal ini juga menunjukkan peningkatan biaya oleh perusahaan lebih disebabkan adanya peningkatan aktivitas operasi, dan terjadi bukan disebabkan karena besarnya beban administrasi dari kegiatan rutin perusahaan.
4. Koefisien Return on Asset (ROA) diperoleh sebesar 1,113. Hal ini dapat diartikan apabila rasio ROA naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh kenaikan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 1,113%.
5. Koefisien Profit Margin diperoleh sebesar 0,346. Hal ini dapat diartikan apabila rasio NPM naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh kenaikan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 0,346%.
6. Koefisien Return on Risked Aset (RORA) diperoleh sebesar -0,688. Hal ini dapat diartikan apabila rasio LDR naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka justru akan diikuti oleh penurunan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 0,688%. Hasil pengujian terhadap RORA menghasilkan koefisien negatif. Adanya pengaruh negatif ini menunjukkan fakta bahwa selama ini perusahaan banyak menanggung beban
kerugian yang berasal dari aset yang berisiko tinggi. Hal ini diduga disebabkan karena selama ini perbankan di Indonesia belum memiliki standar analisis investasi yang jelas, sehingga cenderung kurang berhati-hati dalam menanamkan aset-aset perusahaan, terutama aset yang memiliki kategori berisiko tinggi. Hal ini menyebabkan tingkat pengembalian dari aset dengan kategori berisiko lebih banyak digunakan untuk menutupi kerugian risiko, sehingga menghasilkan pengaruh berlawanan terhadap tingkat kesehatan perusahaan.
7. Koefisien Capital Adequacy Ratio (CAR) diperoleh sebesar 1,548. Hal ini dapat diartikan apabila rasio LDR naik sebesar satu satuan dengan asumsi kelima variabel lain nilainya tetap, maka akan diikuti oleh kenaikan bobot tingkat kesehatan perbankan sebesar 1,548%.
4.7.2. Variabel Dominan Dalam Menentukan Tingkat Kesehatan Bank
Berdasarkan fungsi diskriminan yang terbentuk dengan menggunakan
standardized function, dapat diketahui bahwa bobot untuk variabel CAR adalah sebesar 0,796, bobot untuk variabel RORA adalah sebesar -0,857, dan bobot untuk variabel ROA sebesar 1,012. Berdasarkan urutan atas kemampuan variabel sebagai diskriminan, urutan dari variabel tersebut dari dari atas ke bawah adalah: 1. Variabel ROA
2. Variabel CAR 3. Variabel RORA
Berdasarkan hasil tersebut, tampak bahwa ROA menjadi faktor yang paling dominan dalam menjelaskan perbedaan tingkat kesehatan perbankan di
Indonesia. ROA merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk melihat tingkat profitabilitas perusahaan. ROA juga menunjukkan tingkat efisiensi yang mampu diciptakan perusahaan, atas penggunaan sumber daya perusahaan (total aset) untuk menghasilkan laba. ROA menjadi faktor utama yang bisa menentukan tingkat kesehatan bank disebabkan semakin besar rasio ini menunjukkan tingginya profitabilitas perusahaan. Profitabilitas berhubungan secara langsung dengan ketersediaan dana yang dimiliki oleh perusahaan, yang berasal dari laba setelah pajak. Ketersediaan dana yang cukup ini menyebabkan kegiatan operasional perusahaan menjadi lancar, yang disebabkan perusahaan tidak mengalami kesulitan pendanaan, baik untuk modal kerja ataupun untuk kepentingan ekspansi. Hal ini yang menjadi dasar utama mengapa ROA menjadi faktor dominan dalam menjelaskan tingkat kesehatan perbankan di Indonesia.
Faktor dominan berikutnya adalah CAR, dimana rasio ini menempati urutan kedua setelah ROA dalam menjelaskan status tingkat kesehatan perbankan. CAR menunjukkan tingkat permodalan yang dimiliki oleh suatu bank. Permodalan yang cukup berkaitan dengan penyediaan modal sendiri yang diperlukan untuk menutup resiko yang mungkin timbul dari penanaman dana dalam aktiva-aktiva produktif yang mengandung resiko serta untuk membiayai penanaman dalam benda tetap dan inventaris. Semakin besar tingkat permodalan yang dimiliki menunjukkan tingkat risiko yang semakin kecil. Berdasarkan analisis diskriminan CAR menjadi faktor dominan dalam menjelaskan tingkat kesehatan perbankan karena risiko suatu bank juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat. Kepercayaan yang semakin tinggi pada suatu bank menyebabkan jumlah nasabah yang mampu diperoleh akan semakin tinggi, sehingga akan
menyebabkan peningkatan terhadap pendapatan bunga bank tersebut. Pendapatan yang tinggi akan diikuti oleh peningkatan kegiatan operasional, sehingga kemampuan bank tersebut dalam menghasilkan laba juga akan meningkat.
Faktor dominan terakhir dalam menjelaskan tingkat kesehatan perbankan di Indonesia adalah RORA. RORA berkaitan dengan aspek kualitas aktiva produktif, yang bisa dinilai dengan cara membandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Aktiva produktif berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan aktiva yang dimilikinya. RORA menjadi faktor dominan dalam menjelaskan tingkat kesehatan perbankan, hal ini menunjukkan fakta bahwa ketersediaan aktiva produktif sangat berpengaruh dalam kegiatan operasional perbankan terutama dalam menghasilkan keuntungan.