• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5) Pengaruh Ukuran Perusahaan (X Terhadap Persistensi Laba

4.5 Hasil Pengujian Variabel Moderating .1 Hasil Pengujian Model III

Variabel moderasi dalam penelitian ini adalah penerapan IFRS 6 atas pengaruh penghindaran pajak dan kewajiban pajak tangguhan terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan discretionary accrual.

Tabel 4.20

Hasil Pengujian Asumsi Klasik

Variabel Multikolinearitas Heteroskedastisitas Tolerance VIF

Penghindaran Pajak 0.018 55.589 0.451

Kewajiban Pajak Tangguhan 0.026 38.753 0.753

IFRS 6 0.018 56.283 0.647

Ukuran Perusahaan 0.474 2.225 0.877

Leverage 0.449 2.108 0.692

IFRS 6 * Penghindaran Pajak 0.009 108.268 0.362 IFRS 6 * Kewajiban Pajak

Tangguhan

0.006 160.246 0.820

Signifikansi Kolmogrov Smirnov 0.200

Durbin Watson 1.710

Tabel 4.20 menunjukkan bahwa model III memenuhi semua uji asumsi klasik. Pengujian normalitas terpenuhi diperlihatkan dengan nilai residual probabilitas (asymp.sig 2-tailed) adalah 0.200 lebih besar dari sig-α (0.05). Tidak terdapat gejala heteroskedastisitas dimana semua nilai sig-p variabel lebih besar dari 0.05. Model III juga tidak mengandung gejala autokorelasi sebab nilai DW berada diantara 1.6 - 2.4. Terdapat gejala multikolinearitas dalam model III sebab dalam model ini terdapat variabel interaksi. Gejala ini selalu ada dalam model

a. Predictors: (Constant), InteraksiII, LSIZE, LTA, LDER, LDTL, LIFRS, InteraksiI

b. Dependent Variable: LDA

Tabel 4.21 memperlihatkan bahwa nilai adjusted R-Square 0.326 (32.6%).

Nilai adjusted R-square ini meningkat dibandingkan dengan adjusted R-square

model I (32.6%). Hal ini yang menjadi salah satu landasan dalam pengambilan kesimpulan bahwa penerapan IFRS 6 memperkuat hubungan penghindaran pajak terhadap discretionary accrual. Variabel Dependen : Discretionary Accrual

Tabel 4.22 menunjukkan hasil pengolahan data interaksi diantara variabel moderasi terhadap penghindaran pajak dan kewajiban pajak tangguhan. Hasil regresi model III menghasilkan persamaan sebagai berikut.

Y = -1.047 + 1.764 Penghindaran Pajak – 2.090 Kewajiban Pajak Tangguhan + 0.900 IFRS 6 – 0.566 Leverage – 0.336 Ukuran Perusahaan - 1,097 IFRS 6*Penghindaran Pajak + 1,449 IFRS 6*Kewajiban Pajak Tangguhan.

Hasil regresi model III menunjukkan bahwa variabel IFRS 6 merupakan variabel moderating atas penghindaran pajak terhadap discretionary accrual.

Sementara IFRS 6 bukan variabel moderating atas kewajiban pajak tangguhan terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan discretionary accrual. Penerapan IFRS 6 memperkuat pengaruh penghindaran pajak terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan discretionary accrual. Hal ini disimpulkan dari nilai signifikansi interaksi IFRS 6 dengan penghindaran pajak yaitu 0.045 < 0.05.

Sementara IFRS 6 tidak memperkuat maupun memperlemah pengaruh kewajiban pajak tangguhan terhadap discretionary accrual. Hal ini dilihat dari nilai signifikansi sebelum dan sesudah interaksi kewajiban pajak tangguhan terhadap discretionary accrual yaitu lebih besar dari 0.05.

4.5.2 Hasil Pengujian Model IV

Variabel moderasi dalam penelitian ini adalah penerapan IFRS 6 atas pengaruh penghindaran pajak dan kewajiban pajak tangguhan terhadap persistensi laba.

Tabel 4.23

Hasil Pengujian Asumsi Klasik

Variabel Multikolinearitas Heteroskedastisitas Tolerance VIF

Penghindaran Pajak 0.023 44.348 0.592

Kewajiban Pajak Tangguhan 0.024 41.050 0.854

IFRS 6 0.017 60.110 0.873

Ukuran Perusahaan 0.389 2.571 0.209

Leverage 0.447 2.235 0.409

IFRS 6 * Penghindaran Pajak 0.009 106.017 0.974 IFRS 6 * Kewajiban Pajak

Tangguhan

0.006 170.906 0.975

Signifikansi Kolmogrov Smirnov 0.200

Durbin Watson 1.897

Tabel 4.23 menunjukkan bahwa model IV memenuhi semua uji asumsi klasik. Pengujian normalitas terpenuhi diperlihatkan dengan nilai residual probabilitas (asymp.sig 2-tailed) adalah 0.200 lebih besar dari sig-α (0.05). Tidak terdapat gejala heteroskedastisitas dimana semua nilai sig-p variabel lebih besar dari 0.05. Model IV juga tidak mengandung gejala autokorelasi sebab nilai DW berada diantara 1.6 - 2.4. Terdapat gejala multikolinearitas dalam model IV sebab dalam model ini terdapat variabel interaksi. Gejala ini selalu ada dalam model variabel moderating.

Tabel 4.24

Hasil Uji Determinasi Model IV Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), Penghindaran Pajak, Kewajiban Pajak

Tangguhan, IFRS 6, Ukuran Perusahaan, Leverage, InteraksiI, InteraksiII b. Dependent Variable: Persistensi Laba

Tabel 4.24 memperlihatkan bahwa nilai adjusted R-Square 0.270 (27%). IFRS6*Def_TaxLiability 1,498 1,076 2,490 1,392 ,174 Variabel Dependen : Persistensi Laba

Tabel 4.25 menunjukkan hasil pengolahan data interaksi diantara variabel moderasi terhadap penghindaran pajak dan kewajiban pajak tangguhan. Hasil regresi model IV menghasilkan persamaan sebagai berikut.

Y = 0.231 + 1.251 Penghindaran Pajak – 1.811 Kewajiban Pajak Tangguhan + 1.705 IFRS 6 – 1.265 Ukuran Perusahaan + 0.313 Leverage -0.833 IFRS 6*Penghindaran Pajak + 1.498 IFRS 6*Kewajiban Pajak Tangguhan.

Hasil regresi model IV menunjukkan bahwa variabel IFRS 6 bukan variabel moderating yang memperlemah maupun memperkuat pengaruh baik penghindaran pajak maupun kewajiban pajak tangguhan terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan persistensi laba. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan signifikansi penghindaran pajak pada model II yaitu 0.182 (tidak signifikan) dan pada model IV yaitu 0.165 (tidak signifikan). Sama halnya dengan nilai signifikansi kewajiban pajak tangguhan model II yaitu 0.979 (tidak signifikan) dan pada model IV yaitu 0.174 (tidak signifikan). Hal ini juga dapat dilihat dari nilai signifikansi interaksi IFRS 6 dengan penghindaran pajak yaitu 0.245 (tidak signifikan) dan nilai interaksi IFRS 6 dengan kewajiban pajak tangguhan yaitu 0.174 (tidak signifikan).

4.6 Pembahasan

4.6.1 Pengaruh Penghindaran Pajak Terhadap Kualitas Laba

Hasil analisis regresi model I memperlihatkan bahwa penghindaran pajak berpengaruh signifikan dan positif terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan discretionary accrual. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Larastomo dkk. (2016) dan Wang dan Chen (2012) yang membuktikan bahwa penghindaran pajak berpengaruh terhadap discretionary accrual. Wang dan Chen (2012)

menemukan hubungan positif antara manajemen laba dan penghindaran pajak (tax avoidance) dengan menambahkan variabel business performance. Wang dan Chen (2012) membuktikan bahwa upaya perusahaan menghindari pajak akan mendorong praktek manajemen laba. Hal ini sejalan dengan penelitian Putri dkk.

(2016) membuktikan secara empiris bahwa perusahaan manufaktur di Indonesia menggunakan penghindaran pajak sebagai alasan untuk melakukan earnings management. Hal ini sesuai dengan hipotesis dalam Watt dan Zimmerman (1986) yaitu political cost hypothesis. Perusahaan melakukan manajemen laba guna meminimalisasi biaya politik. Biaya politik terjadi akibat adanya konflik diantara perusahaan dan pemerintah seperti pajak dan akan mempengaruhi kinerja keuangan. Beban pajak yang besar akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan pada khusunya arus kas dan laba. Hal ini mendorong manajemen untuk melakukan penghindaran pajak dengan mengatur laba sedemikian rupa.

Sementara hasil regresi model II menunjukkan bahwa penghindaran pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Persada dan Martani (2010) yang membuktikan bahwa book tax gap berpengaruh terhadap persistensi laba. Perencanaan pajak yang dilakukan perusahaan mengurangi transparansi perusahaan, meningkatkan ketidakpastian investor terhadap profitabilitas ke depan, dan meningkatkan informasi asimetri (Balakhrisnan et al, 2014). Perencanaan pajak yang agresif mengurangi transparansi perusahaan dan mengurangi kualitas akrual sehingga sulit untuk meramalkan kinerja keuangan perusahaan di masa mendatang. Penghindaran

pajak yang dilakukan perusahaan merupakan upaya perusahaan dalam menghemat beban pajak yang harus dibayar kepada kas negara. Mekanisme penghindaran pajak yang dilakukan oleh sebuah perusahaan akan berbeda-beda setiap tahunnya tergantung dengan ketentuan undang-undang perpajakan yang berubah-ubah dan insetif pajak yang diberikan negara.

4.6.2 Kewajiban Pajak Tangguhan Terhadap Kualitas Laba

Hasil regresi hipotesis I, II, III, maupun IV menunjukkan bahwa kewajiban pajak tangguhan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba perusahaan minyak dan gas bumi yang terdapat di Indonesia, Malaysia, Singapore Exchange. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Wijayanti (2015) yang membuktikan bahwa beban pajak tangguhan tidak berpengaruh signfikan terhadap discretionary accrual maupun terhadap persistensi laba. Hal ini berbeda dengan penelitian Martani dan Wijaya (2011) yang membuktikan bahwa kewajiban pajak tangguhan berpengaruh positif terhadap discretionary accrual. Martani dan Wijaya (2011) melakukan penelitian terhadap manajemen laba atas penurunan tarif pajak sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2008. Hal ini juga tidak sejalan dengan Yulianti (2005) dan Kusumastuti dan Muqudim (2015) yang membuktikan bahwa beban pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil pengujian mungkin disebabkan oleh keterbatasan manajemen dalam mempengaruhi beban pajak tangguhan. Standar akuntansi keuangan dan peraturan perpajakan berbeda dalam beberapa hal. Peraturan pajak sedikit memberikan kesempatan manajemen dalam melakukan pengaturan laba. Selama tahun

pengamatan peneliti mengasumsikan bahwa perusahaan minyak dan gas bumi lebih memanfaatkan aktiva pajak tangguhan sebagai akibat dari kompensasi kerugian.

4.6.3 Penerapan IFRS 6 Terhadap Kualitas Laba

Hasil regresi model I, II, III, dan IV menunjukkan bahwa penerapan IFRS 6 tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba baik discretionary accrual maupun persistensi laba. Hasil ini sejalan dengan penelitian Besten (2012) dan Shobriati (2016) yang membuktikan bahwa penerapan IFRS secara umum tidak mempengaruhi kualitas laba. Hal ini didukung oleh penelitian Houqe et al. (2011).

Hasil penelitian Houqe et al. (2011) menyebutkan bahwa IFRS sendiri tidak dapat meningkatkan kualitas laba apabila tidak adanya perlindungan investor. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Rosdini (2014) yang membuktikan bahwa penerapan IFRS 6 pada perusahaan pertambangan dan energi di Australia mengurangi konservatisme. Zhou et al. (2015) juga melakukan penelitian terhadap relevansi nilai sebelum dan sesudah penerapan AASB 6 yang merupakan adopsi dari IFRS 6. Penerapan AASB 6 mempengaruhi relevansi nilai laporan keuangan. Pengungkapan terhadap beban eksplorasi dan evaluasi membantu investor dalam menilai kinerja keuangan perusahaan ekstraktif.

IFRS sendiri adalah standar akuntansi yang mengatur hal-hal pokok sedangkan pemakai diberikan kewenangan untuk menginterpretasikan standar dalam prosedur dan kebijakan detail, sementara IFRS 6 mengatur secara jelas

bahwa beban eksplorasi dan evaluasi harus diakui sebagai aset (rule based).

Pemakai tidak diberikan kesempatan untuk menggunakan metode lain seperti successfull effort atau full cost dalam pengakuan beban eksplorasi dan evaluasi.

Hal ini membatasi manajemen dalam melakukan pengaturan transaksi yang berasal dari aktivitas eksplorasi.

4.6.4 Variabel Kontrol (Leverage, Ukuran Perusahaan) Terhadap Kualitas Laba

Hasil analisis regresi model I dan III dimana kualitas laba diproksikan dengan discretionary accrual menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba. Hasil ini sejalan dengan Anggraeni (2013) yang melakukan penelitian pengaruh ukuran perusahaan, struktur kepemilikan manajerial, dan tata kelola perusahaan terhadap manajemen laba. Hal ini berbeda dengan Watt dan Zimmerman (1978) dalam Handayani dan Rachadi (2009) menyebutkan bahwa ukuran perusahaan sebagai proksi political cost dianggap sangat sensitif terhadap pelaporan keuangan. Perusahaan berukuran besar lebih banyak melakukan transfer political cost dalam politic process, dimana proses politik ini mempengaruhi pemilihan prosedur akuntansi. Pandangan lain menyatakan bahwa perusahaan dengan ukuran besar akan lebih berhati-hati melakukan manipulasi laba karena perusahaan besar dan sedang mendapat perhatian lebih dari para analis keuangan dan pemerintah terutama dalam hal pajak.

Hasil regresi model I menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap discretionary accrual. Sementara leverage pada model III berpengaruh signifikan dan negatif terhadap discretionary accrual. Hasil ini sesuai dengan penelitian Ummah dan Subroto (2013) dan Purwanti (2010).

Perusahaan yang memiliki hutang terikat kontrak utang atau debt convenant yang di dalamnya mengatur sanksi yang akan diberikan apabila perusahaan melakukan pelanggaran terhadap perjanjian utang. Utang menyebabkan perusahaan harus membayar biaya tetap (beban bunga) dan pengeluaran atas utang pokok. Utang mempengaruhi laba perusahaan, laba perusahaan menjadi rendah. Laba yang rendah mempengaruhi keputusan kreditor, kepercayaan kreditor sehingga diasumsikan bahwa perusahaan melanggar perjanjian. Biaya yang harus dikeluarkan untuk sanksi ini besar sehingga untuk menghindari hal ini perusahaan cenderung mengelola labanya. Watt dan Zimmerman (1986) dalam Wijaya dan Christiawan (2014) menyatakan berdasarkan debt convenant hypothesis, perusahaan yang mendekati pelanggaran utang cenderung akan memindahkan pendapatan periode mendatang menjadi pendapatan periode berjalan.

Hasil regresi model II menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan persistensi laba. Hasil ini sejalan dengan penelitian Nuraini (2014) yang membuktikan secara empiris bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap persistensi laba. Hasil regresi leverage terhadap persistensi

laba ini berbanding terbalik dengan Fanani (2010) dan Putri (2016) yang membuktikan bahwa tingkat utang (leverage) berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Hasil ini sejalan dengan Nuraini (2014). Subramanyam dan Wild (2012) dalam Nuraini (2014) menyebutkan bahwa pengaruh tingkat utang terhadap laba masa depan tidak dapat dibuktikan pengaruhnya apabila kondisi keuangan perusahaan biasa-biasa saja. Sementara pengaruh ukuran perusahaan terhadap persistensi laba adalah negatif dimana semakin besar perusahaa maka laba akan semakin tidak persisten. Perusahaan besar memiliki prospek yang baik dalam jangka panjang dan akan mudah diprediksi akan tetapi perusahaan juga akan menghadapi political cost yang tidak terduga di masa depan sehingga laba sulit diprediksi di masa mendatang.

4.6.5 Pengaruh Penerapan IFRS 6 Sebagai Moderasi atas Pengaruh Penghindaran Pajak dan Kewajiban Pajak Tangguhan Terhadap Kualitas Laba

Hasil regresi model III menunjukkan bahwa penerapan IFRS 6 pada perusahaan minyak dan gas bumi yang terdapat di Indonesia, Malaysia, Singapore Exchange memoderasi pengaruh penghindaran pajak terhadap discretionary accrual. IFRS 6 diadopsi penuh dalam standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Beban eksplorasi dan evaluasi diakui sebagai aset sampai akhirnya dapat dibuktikan kelayakan teknis dan komersial atas penambangan sumber daya mineral. Hal ini hampir sama dengan pengakuan di dalam metode full cost. Pengakuan beban eksplorasi dan evaluasi sebagai aset

memberikan kesempatan bagi manajemen untuk menangguhkan beban. Hal ini mungkin digunakan manajemen untuk menghindari pajak. Sementara hasil regresi model IV menunjukkan bahwa IFRS 6 tidak memoderasi pengaruh kewajiban pajak tangguhan terhadap kualitas laba baik terhadap discretionary accrual maupun persistensi laba. Selama masa pengamatan, mungkin sampel lebih menggunakan deferred tax asset dalam laporan keuangan. Aset pajak tangguhan merupakan jumlah pajak yang terpulihkan pada periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian. Selama masa pengamatan, beberapa sampel mengalami kerugian yang di dalam peraturan perpajakan diberikan kompensasi untuk tidak membayar pajak pada periode berikutnya sejumlah kerugian yang telah diakui atau dibatasi waktu.

Kompensasi kerugian akan diakui sebagai aset pajak tangguhan dan pendapatan pada tahun kerugian terjadi.

BAB V

Dokumen terkait