• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENGUKURAN

Dalam dokumen Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (Halaman 38-134)

HASIL PENGUKURAN

Hasil Pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Tahun 2020 dijabarkan ke dalam 2 Bagian, yaitu Hasil Pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Secara Nasional dan Hasil Pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan dari masing-masing Provinsi.

NASIONAL

Hasil pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Tahun 2020 menunjukan adanya peningkatan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Nasional sebesar 6,58 poin, yakni dari 61,06 pada 2019 menjadi 67,64 pada tahun 2020. Hal ini menunjukan adanya peningkatan kinerja pembangunan ketenagakerjaan yang tinggi dalam kurun 2019-2020.

Pada tahun ini delapan dari sembilan indikator utama mengalami peningkatan indeks. Hanya indikator Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja yang mengalami penurunan indeks sebesar 0,30. Sementara itu peningkatan nilai indeks terbesar adalah Pelatihan dan Kompetensi Kerja (2,16), dan indikator utama yang indeksnya masih naik tapi terkecil peningkatannya adalah Kesempatan Kerja (0,04). Meskipun demikian, indikator Kesempatan Kerja ini pada tahun-tahun sebelumnya telah sering mencapai indeks di atas 10, sementara Indikator Pelatihan dan Kompetensi Kerja baru mencapainya di tahun ini. Namun demikian, khusus untuk kedua indikator utama ini nilai sebesar itu belum mencapai bobot maksimalnya karena berdasarkan Kepmen 206 Tahun 2017 maksimalnya adalah 15 bukan 10 seperti indikator utama lainnya.

Nilai indeks indikator Pelatihan dan Kompetensi Kerja mengalami peningkatan yang cukup tinggi karena naiknya sub indikator tingkat lulusan pelatihan dan tingkat lembaga pelatihan yang terakreditasi. Indikator lainnya yang peningkatannya cukup tinggi adalah Kondisi Lingkungan Kerja yang naik sebesar 1,90 poin. Hal ini dipicu oleh peningkatan tingkat penerapan SMK3, berkurangnya kasus kecelakaan kerja dan bertambahnya tingkat kepatuhan wajib lapor ketenagakerjaan di perusahaan. Sedangkan untuk indikator Jaminan Sosial Tenaga Kerja peningkatannya terutama disebabkan oleh naiknya tingkat pekerja penerima upah dan pekerja bukan penerima upah yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan aktif, walaupun tingkat perusahaan yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan juga mengalami peningkatan.

Grafik 4. 1 Perbandingan Nilai Indikator Utama Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Nasional Tahun 2019-2020

Indikator Utama Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja mengalami penurunan nilai indeks karena turunnya proporsi upah riil rata-rata pekerja penerima upah per jam terhadap UMP Per Jam walaupun secara umum besaran upah dan UMP nya mengalami peningkatan. Sementara itu indikator lain yang sub indikatornya cukup banyak mengalami penurunan adalah Kesempatan Kerja, walaupun nilai indikator utamanya masih mengalami peningkatan. Dari kelima sub indikator hanya persentase tenaga kerja formal yang mengalami peningkatan, namun sub indikator inilah yang bobotnya yang paling tinggi sehingga indikator utama Kesempatan Kerja nilai indeksnya masih sedikit meningkat.

Penentuan bobot indikator menjadi penting artinya dalam mendorong arah tujuan ketenagakerjaan yang ingin dicapai. Dalam pengukuran IPK ini telah diintegrasikan dengan konsep pembangunan dunia TPB/SDGs khususnya pada tujuan ke 8 berupa Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Yang salah satu targetnya adalah pada tahun 2030, mencapai ketenagakerjaan secara penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi seluruh perempuan dan laki-laki, termasuk untuk kaum muda dan orang dengan disabilitas, juga kesetaraan upah bagi pekerjaan yang mempunyai nilai yang sama.

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

21

Tabel 4. 1 Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Nasional Tahun 2019-2020

Indikator Utama & Sub Indikator 2019 Indeks 2020 Grafik

Perencanaan Tenaga Kerja 8.17 8.63

Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi 8.17 8.63

Penduduk dan Tenaga Kerja 6.29 6.68

Persentase NEET (15-24 tahun) 1.00 1.03

Persentase Anak Yang Bekerja (10-17 tahun) 1.60 1.60

Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) 2.52 2.55

Persentase Setengah Pengangguran 1.17 1.51

Kesempatan Kerja 10.00 10.03

Persentase Tenaga Kerja Formal 3.60 3.87

Proporsi LPINP 2.29 2.26

Proporsi LPINP Laki-laki 1.89 1.79

Proporsi LPINP Perempuan 1.44 1.34

Proporsi LPIP 0.78 0.78

Pelatihan dan Kompetensi Kerja 8.10 10.26

Tingkat Kapasitas Pelatihan Kerja 2.95 2.84

Tingkat Lulusan Pelatihan Kerja 3.84 5.25

Tingkat Lembaga Latihan yang Terakreditasi 1.30 2.17

Produktivitas Tenaga Kerja 4.33 5.08

Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja 3.58 3.70

Laju Pertumbuhan PDRB per Tenaga Kerja 0.75 1.38

Hubungan Industrial 3.52 3.63

Tingkat PP Yang Disahkan 0.69 0.90

Tingkat PKB Yang Didaftarkan 0.18 0.21

Tingkat LKS Bipartit di Perusahaan 1.00 0.62

Tingkat Perselisihan Hubungan Industrial 1.64 1.89

Kondisi Lingkungan Kerja 3.34 5.24

Tingkat Penerapan SMK3 di Perusahaan 0.94 2.05

Tingkat Kecelakaan Kerja 1.79 2.45

Tingkat Kepatuhan Wajib Lapor Ketenagakerjaan di

Perusahaan 0.61 0.74

Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja 8.88 8.59

Proporsi Upah Rata-rata Per Jam terhadap UMP Per Jam 8.88 8.59

Jaminan Sosial Tenaga Kerja 8.44 9.51

Tingkat Perusahaan yang Menjadi Peserta BPJS

Ketenagakerjaan 3.56 3.90

Tingkat Pekerja Penerima Upah dan Pekerja Bukan Penerima Upah yang Terdaftar sebagai Peserta BPJS

Ketenagakerjaan Aktif 4.89 5.61

Indonesia 61.06 67.64

Peningkatan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan secara nasional tidak lepas dari keberhasilan provinsi-provinsi di Indonesia dalam meningkatkan nilai indeksnya. Nilai Indeks tertinggi pada Tahun 2020 diraih oleh Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 78,29. Peringkat Kedua ditempati oleh Provinsi Kalimantan Timur dengan Indeks sebesar 77,21. Sementara itu Provinsi Bali menempati peringkat Ketiga dengan Indeks sebesar 75,38.

Tabel 4. 2 Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Menurut Provinsi, Tahun 2020

Provinsi IPK Peringkat Status

DKI Jakarta 78.29 1 Menengah Atas

Kalimantan Timur 77.21 2 Menengah Atas

Bali 75.38 3 Menengah Atas

D I Yogyakarta 74.77 4 Menengah Atas

Kalimantan Tengah 74.06 5 Menengah Atas

Sumatera Barat 73.96 6 Menengah Atas

Kalimantan Utara 72.65 7 Menengah Atas

Sulawesi Selatan 72.06 8 Menengah Atas

Papua Barat 71.30 9 Menengah Atas

Sulawesi Utara 71.03 10 Menengah Atas

Kalimantan Selatan 70.22 11 Menengah Atas

Riau 68.88 12 Menengah Atas

Jawa Timur 68.74 13 Menengah Atas

Jawa Tengah 68.46 14 Menengah Atas

Bangka-Belitung 68.09 15 Menengah Atas

Sumatera Selatan 67.63 16 Menengah Atas

Aceh 67.52 17 Menengah Atas

Papua 67.51 18 Menengah Atas

Maluku Utara 67.29 19 Menengah Atas

Maluku 67.15 20 Menengah Atas

Sumatera Utara 66.90 21 Menengah Atas

Kalimantan Barat 66.80 22 Menengah Atas

Sulawesi Tenggara 66.46 23 Menengah Atas

Gorontalo 65.55 24 Menengah Bawah

Kepulauan Riau 65.07 25 Menengah Bawah

Jambi 64.86 26 Menengah Bawah

Banten 64.09 27 Menengah Bawah

Sulawesi Tengah 63.73 28 Menengah Bawah

Bengkulu 63.64 29 Menengah Bawah

Jawa Barat 63.15 30 Menengah Bawah

Sulawesi Barat 60.24 31 Menengah Bawah

Nusa Tenggara Timur 57.77 32 Menengah Bawah

Lampung 55.00 33 Menengah Bawah

Nusa Tenggara Barat 54.23 34 Menengah Bawah

Indonesia 67.64 Menengah Atas

Secara keseluruhan dari 34 provinsi, pada tahun ini hampir seluruh provinsi mengalami peningkatan Indeks yaitu sebanyak 32 provinsi. Hanya 2 provinsi saja yang mengalami penurunan Indeks, yaitu provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Riau. Berikutnya, ada 16 Provinsi yang mengalami peningkatan peringkat dan 17 provinsi mengalami penurunan peringkat, sedangkan 1 provinsi peringkatnya tidak berubah yaitu Provinsi Lampung. Hanya 1 provinsi yang mengalami penurunan status, namun sebaliknya ada 18 provinsi yang mengalami peningkatan Status, yaitu 17 provinsi berstatus Menengah Bawah naik menjadi Menengah Atas dan ada 1 provinsi berstatus Rendah naik menjadi Menengah Bawah. Selebihnya sebanyak 15 provinsi Statusnya tetap, yaitu 6 provinsi tetap berada di status Menengah Atas dan 9 provinsi tetap di status Menengah Bawah.

Jumlah Provinsi yang Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan berstatus Menengah Atas atau berpredikat Baik meningkat sebanyak 16 provinsi, yakni dari semula

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

23

hanya 7 Provinsi menjadi 23 Provinsi. Provinsi Kepulauan Riau yang pada tahun sebelumnya berstatus Menengah Atas turun menjadi berstatus Menengah Bawah. Jumlah provinsi yang berstatus Rendah berkurang, dari semula ada 1 provinsi pada tahun 2019 menjadi tidak ada yang berstatus Rendah pada Tahun 2020. Hal ini karena Provinsi Nusa Tenggara Timur statusnya naik dari berstatus Rendah menjadi Menengah Bawah.

Penghargaan berdasarkan 9 Indikator Utama diberikan pada 7 provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta terbaik pada Indikator Utama Perencanaan Tenaga Kerja. Provinsi Bali meraih penghargaan terbaik pada Indikator Utama Penduduk dan Tenaga Kerja. Provinsi DKI Jakarta meraih penghargaan terbaik pada Indikator Utama Kesempatan Kerja dan Indikator Utama Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Provinsi Sumatera Barat sebagai provinsi terbaik pada Indikator Utama Pelatihan dan Kompetensi Kerja serta Indikator Utama Hubungan Industrial. Provinsi Maluku Utara terbaik pada Indikator Utama Kondisi Lingkungan Kerja. Berikutnya, Provinsi Kepulauan Riau sebagai provinsi terbaik pada Indikator Utama Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja.

Tabel 4. 3 Provinsi Dengan Nilai Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Terbaik Tahun 2020

No Indikator Utama Provinsi Indeks

1 Perencanaan Tenaga Kerja D I Yogyakarta 9.68

2 Penduduk dan Tenaga Kerja Bali 8.85

3 Kesempatan Kerja DKI Jakarta 14.77

4 Pelatihan dan Kompetensi Kerja Sumatera Barat 14.28

5 Produktivitas Tenaga Kerja Jambi 7.53

6 Hubungan Industrial Sumatera Barat 7.10

7 Kondisi Lingkungan Kerja Maluku Utara 8.96

8 Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja Kepulauan Riau 10.00 9 Jaminan Sosial Tenaga Kerja DKI Jakarta 10.00 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang ditindaklanjuti dengan Permenaker Nomor 28 Tahun 2016, maka urusan Pemerintahan Daerah di Bidang Ketenagakerjaan telah dipetakan berdasarkan intensitas dan beban kerja urusan bidang ketenagakerjaan di daerah yang bersangkutan. Konsekuensinya, ada Provinsi yang memiliki tingkat intensitas dan beban kerja ketenagakerjaan dengan kategori Besar, Sedang, dan Kecil, untuk itu pemberian penghargaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan sejak Tahun 2017 juga melihat hasil pemetaan urusan tersebut. Dengan demikian, diberikan penghargaan kepada 3 provinsi dengan indeks tertinggi pada masing-masing kategori. Selain itu, diberikan juga penghargaan kepada provinsi yang memiliki indeks dengan akselerasi terbaik atau provinsi yang mengalami peningkatan indeks signifikan selama 2 tahun terakhir. Data selanjutnya dari Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan secara nasional dapat dilihat pada rangkaian gambar berikut.

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

24

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.1. Capaian Indeks Pembangunan

dan Perkembangan Nilainya

Gambar 4.1. Capaian Indeks Pembangunan

dan Perkembangan Nilainya

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

25

Ketenagakerjaan Provinsi Tahun 2020

Tahun 2011-2020

Ketenagakerjaan Provinsi Tahun 2020

Tahun 2011-2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

26

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.2. Capaian Indikator Perencanaan Tenaga Kerja

Tahun 2011

Gambar 4.2. Capaian Indikator Perencanaan Tenaga Kerja

Tahun 2011

Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

-2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

27

Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

-2020

Gambar 4.2. Capaian Indikator Perencanaan Tenaga Kerja

Tahun 2011

Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

-2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

28

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.3. Capaian Indikator Penduduk dan Tenaga Kerja

Tahun

2011-Gambar 4.3. Capaian Indikator Penduduk dan Tenaga Kerja

Tahun 2011- Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

29

Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

2020

28

Gambar 4.3. Capaian Indikator Penduduk dan Tenaga Kerja

Tahun 2011-

29

Provinsi Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya

2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

30

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.4. Capaian Indikator Kesempatan Kerja Tahun

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

31

2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

31

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

32

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.5. Capaian Indikator Pelatihan dan Kompetensi Kerja

Tahun 2011

Gambar 4.5. Capaian Indikator Pelatihan dan Kompetensi Kerja

Tahun 2011

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

33

Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

-2020

33

Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

-2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

34

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.6. Capaian Indikator Produktivitas Tenaga Kerja

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

35

Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

34

Gambar 4.6. Capaian Indikator Produktivitas Tenaga Kerja

35

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

36

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.7. Capaian Indikator Hubungan Industrial Tahun 2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

37

dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

37

dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

38

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.8. Capaian Indikator Kondisi Lingkungan Kerja Tahun

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

39

2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

38

Gambar 4.8. Capaian Indikator Kondisi Lingkungan Kerja Tahun

39

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

40

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

41

40

Gambar 4.9. Capaian Indikator Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja

41

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

42

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

Gambar 4.10. Capaian Indikator Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

43

Tahun 2020 dan Perkembangan Nilainya Tahun 2011-2020

42

Sejak dimulainya pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan hingga saat ini dari kesembilan indikator utama belum ada yang mencapai nilai indeks penuh. Hal ini menunjukkan masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus dilakukan mengingat masalah ketenagakerjaan berada di muara dari berbagai permasalahan yang ada dari hulu hingga hilirnya. Permasalahan seperti pendidikan, kondisi keluarga dan lingkungan, kemudahan berinvestasi, bahkan pertumbuhan ekonomi global yang tumbuh melambat di beberapa negara turut berpotensi mempengaruhi kondisi ketenagakerjaan di dalam negeri. Diperlukan komitmen yang kuat dari berbagai pihak agar isu ketenagakerjaan berada pada titik sentral dari pembangunan negara secara keseluruhan. Ketenagakerjaan adalah masalah hajat hidup orang banyak dan pada akhirnya menjadi cermin tingkat kemajuan pembangunan negara. Untuk itu, selain dari komitmen juga diperlukan upaya perencanaan, monitoring dan evaluasi dan dilanjutkan dengan pengkajian yang konsisten dan berkelanjutan sehingga seluruh provinsi dapat meningkatkan indeksnya menjadi berstatus Baik.

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

45

PROVINSI

Hasil Pengukuran Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Tahun 2020 memberikan gambaran lengkap mengenai kinerja pembangunan ketenagakerjaan setiap Provinsi yang disorot menggunakan 9 Indikator Utama dan 25 Sub Indikator.

Di regional Sumatera, mayoritas provinsi telah mencapai status “Menengah Atas” dengan Indeks berkisar antara 55,00-73,96. Indeks tertinggi di regional Sumatera ini diperoleh Provinsi Sumatera Barat dan Indeks Terendah diperoleh Provinsi Lampung. Di regional Sumatera, semua provinsi telah mencapai nilai IPK di atas 60,00 kecuali Provinsi Lampung. Di regional Jawa, Indeks berkisar diantara 63,15-78,29. Mayoritas provinsi telah mencapai status “Menengah Atas” dengan Indeks yaitu Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sisanya sebanyak 2 Provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat dan Banten masih berstatus “Menengah Bawah”.

Di regional Kalimantan, semua provinsi telah mencapai status “Menengah Atas” dengan Indeks diatas 66,00. Nilai Indeks di regional ini tinggi karena terdapat 4 provinsi yang mencapai indeks diatas 70,00. Hanya Kalimantan Barat yang memperoleh indeks di bawah 70,00.

Di regional Sulawesi, 3 Provinsi telah mencapai status “Menengah Atas”, sedangkan 3 sisanya berstatus “Menengah Bawah”. 2 Provinsi telah mencapai Indeks di atas 70,00 yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Di regional ini, hanya Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki intensitas dan beban kerja urusan bidang ketenagakerjaan Besar. Sisanya memiliki intensitas dan beban kerja urusan bidang ketenagakerjaan Sedang atau Kecil.

Di regional Balnusa, terdapat 1 Provinsi yang mendapatkan status pembangunan ketenagakerjaan “Menengah Atas” dan 2 provinsi dengan status pembangunan ketenagakerjaan “Menengah Bawah”. Dengan indeks di atas 75, Provinsi Bali masuk Ranking 3 Besar, sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan indeks di bawah 60,00 berada di ranking di bawah 30.

Di regional Maluku dan Papua, status pembangunan ketenagakerjaan seluruh provinsi adalah “Menengah Atas” dengan Indeks berkisar antara 67,15-71,30. Indeks tertinggi di regional ini diperoleh Provinsi Papua Barat dan Indeks Terendah diperoleh Provinsi Maluku. Di regional ini, hanya Provinsi Papua Barat yang memiliki intensitas dan beban kerja urusan bidang ketenagakerjaan Kecil. Sisanya memiliki intensitas dan beban kerja urusan bidang ketenagakerjaan Sedang.

Berikut diuraikan secara lengkap dan rinci hasil Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Tahun 2020 untuk 34 Provinsi.

Provinsi Aceh

Kinerja Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh Tahun 2020 yang diukur menggunakan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan menunjukan hasil sebagai berikut:

 Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh berada di peringkat ke-17 dari 34 provinsi. Atau dari peringkat ke-9 dari 17 provinsi dengan urusan ketenagakerjaan sedang.

 Dari 9 Indikator Utama yang diukur, ada 7 diantaranya masuk kategori baik (>=5), sedangkan 2 Indikator Utama lainnya masuk kategori belum baik (< 5).

 Indikator Utama yang masuk kategori baik adalah Perencanaan Tenaga Kerja, Penduduk dan Tenaga Kerja, Kesempatan Kerja, Pelatihan dan Kompetensi Kerja, Kondisi Lingkungan Kerja, Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

 Indikator Utama yang memiliki indeks tertinggi adalah Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebesar 10,00. Sedangkan Indikator Utama yang memiliki indeks terendah adalah Produktivitas Tenaga Kerja.

 Dengan Indeks Komposit sebesar 67,52 kinerja pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Aceh pada tahun 2020 dalam Status Menengah Atas dan naik dibandingkan dengan status pada tahun sebelumnya.  Pada tahun ini Provinsi Aceh nilai

indeksnya naik dan peringkatnya meningkat dari peringkat ke-28 menjadi peringkat ke-17. Status Pembangunan Ktenagakerjaannya mengalami peningkatan dari Menengah Bawah ke Menengah Atas.

 Di regional Pulau Sumatera, Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh di urutan ke-5 dari 10 provinsi.

Grafik 4. 2 Perbandingan Nilai Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh dan Nasional Tahun 2020

*) Dikonversi dari bobot 15 menjadi 10

Grafik 4. 3 Capaian Indikator Utama Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh Tahun 2020

Grafik 4. 4 Status Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh Tahun 2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

47

Tabel 4. 4 Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Aceh Tahun 2019-2020

2019 2020 Grafik 2019 2020 Perencanaan Tenaga Kerja 8,80 8,80

Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi 8,80 8,80 88,00 88,00

Penduduk dan Tenaga Kerja 5,33 5,38

Persentase NEET (15-24 tahun) 0,91 0,89 23,21 23,53 Persentase Anak Yang Bekerja (10-17 tahun) 1,66 1,78 6,76 4,35 Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) 2,16 2,20 6,36 6,20 Persentase Setengah Pengangguran 0,60 0,51 38,02 12,45

Kesempatan Kerja 10,20 7,69

Persentase Tenaga Kerja Formal 3,56 3,96 40,77 43,10 Proporsi LPINP 2,30 2,13 42,86 46,01 Proporsi LPINP Laki-laki 1,79 0,67 41,17 68,71 Proporsi LPINP Perempuan 1,62 - 45,48 106,63 Proporsi LPIP 0,93 0,94 84,53 84,34

Pelatihan dan Kompetensi Kerja 10,55 13,79

Tingkat Kapasitas Pelatihan Kerja 4,50 4,50 10,06 10,08 Tingkat Lulusan Pelatihan Kerja 3,05 6,00 5,09 10,05 Tingkat Lembaga Latihan yang Terakreditasi 3,00 3,29 66,67 73,12

Produktivitas Tenaga Kerja 3,89 4,09

Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja 2,68 2,76 58,00 59,00 Laju Pertumbuhan PDRB per Tenaga Kerja 1,21 1,33 3,09 3,40

Hubungan Industrial 3,15 4,53

Tingkat PP Yang Disahkan 0,32 0,53 10,68 17,83 Tingkat PKB Yang Didaftarkan 0,09 0,19 3,76 7,57 Tingkat LKS Bipartit di Perusahaan 1,44 1,44 71,91 71,91 Tingkat Perselisihan Hubungan Industrial 1,30 2,37 4,81 0,53

Kondisi Lingkungan Kerja 2,48 7,00

Tingkat Penerapan SMK3 di Perusahaan - 4,00 2,16 65,09 Tingkat Kecelakaan Kerja 2,08 2,61 0,31 0,13 Tingkat Kepatuhan Wajib Lapor Ketenagakerjaan

di Perusahaan 0,39 0,39 9,80 9,80

Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja 6,33 6,23

Proporsi Upah Rata-rata Per Jam terhadap UMP

Per Jam 6,33 6,23 75,99 74,71

Jaminan Sosial Tenaga Kerja 4,39 10,00

Tingkat Perusahaan yang Menjadi Peserta BPJS

Ketenagakerjaan 1,48 4,00 5,55 43,77 Tingkat Pekerja Penerima Upah dan Pekerja

Bukan Penerima Upah yang Terdaftar sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan Aktif

2,91 6,00 9,70 22,78

Provinsi Aceh 55,11 67,52

Provinsi Sumatera Utara

Kinerja Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020 yang diukur menggunakan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan menunjukan hasil sebagai berikut:  Indeks Pembangunan

Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara berada di peringkat ke-20 dari 34 provinsi. Atau dari peringkat ke-5 dari 9 provinsi dengan urusan ketenagakerjaan besar.

 Dari 9 Indikator Utama yang diukur, ada 8 diantaranya masuk kategori baik (>=5), sedangkan 1 Indikator Utama lainnya masuk kategori belum baik (< 5).

 Indikator Utama yang masuk kategori baik adalah Perencanaan Tenaga Kerja, Penduduk dan Tenaga Kerja, Kesempatan Kerja, Pelatihan dan Kompetensi Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, Kondisi Lingkungan Kerja, Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

 Indikator Utama yang memiliki indeks tertinggi adalah Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebesar 10,00. Sedangkan Indikator Utama yang memiliki indeks terendah adalah Hubungan Industrial.

 Dengan Indeks Komposit sebesar 66,90 kinerja pembangunan ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2020 dalam Status Menengah Atas dan naik dibandingkan dengan status pada tahun sebelumnya.

 Pada tahun ini Provinsi Sumatera Utara nilai indeksnya naik dan peringkatnya meningkat dari peringkat 32 menjadi peringkat ke-20. Status Pembangunan Ketenagakerjaan-nya mengalami peningkatan dari Menengah Bawah ke Menengah Atas.

 Di regional Pulau Sumatera, Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara di urutan ke-6 dari 10 provinsi.

Grafik 4. 5 Perbandingan Nilai Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara dan Nasional Tahun 2020

*) Dikonversi dari bobot 15 menjadi 10

Grafik 4. 6 Capaian Indikator Utama Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020

Grafik 4. 7 Status Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2020

Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan

49

Tabel 4. 5 Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara Tahun

2019-2020

2019 2020 Grafik 2019 2020 Perencanaan Tenaga Kerja 5,30 6,60

Perencanaan Tenaga Kerja Provinsi 5,30 6,60 53,03 66,00

Penduduk dan Tenaga Kerja 5,97 6,50

Persentase NEET (15-24 tahun) 1,15 1,16 18,69 18,56 Persentase Anak Yang Bekerja (10-17 tahun) 1,34 1,48 13,28 10,41 Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) 2,36 2,40 5,56 5,41 Persentase Setengah Pengangguran 1,12 1,47 31,92 7,66

Kesempatan Kerja 10,77 11,30

Persentase Tenaga Kerja Formal 3,99 4,26 43,28 44,84 Proporsi LPINP 2,26 2,32 43,59 42,41 Proporsi LPINP Laki-laki 1,83 1,95 40,33 37,38 Proporsi LPINP Perempuan 1,53 1,46 47,72 49,22 Proporsi LPIP 1,17 1,30 80,55 78,27

Pelatihan dan Kompetensi Kerja 3,56 7,81

Tingkat Kapasitas Pelatihan Kerja 1,36 1,13 3,03 2,50 Tingkat Lulusan Pelatihan Kerja 1,59 6,00 2,65 14,01 Tingkat Lembaga Latihan yang Terakreditasi 0,61 0,69 13,55 15,24

Produktivitas Tenaga Kerja 4,10 6,83

Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja 4,10 4,46 76,00 80,00 Laju Pertumbuhan PDRB per Tenaga Kerja - 2,37 (0,49) 5,96

Hubungan Industrial 3,79 4,23

Tingkat PP Yang Disahkan 0,42 1,15 14,04 38,24 Tingkat PKB Yang Didaftarkan 0,11 0,29 4,26 11,62 Tingkat LKS Bipartit di Perusahaan 1,49 0,92 74,65 45,85 Tingkat Perselisihan Hubungan Industrial 1,77 1,88 2,92 2,50

Kondisi Lingkungan Kerja 2,07 5,25

Tingkat Penerapan SMK3 di Perusahaan 1,68 3,05 14,37 23,58 Tingkat Kecelakaan Kerja 0,02 1,93 0,99 0,36 Tingkat Kepatuhan Wajib Lapor Ketenagakerjaan

di Perusahaan 0,37 0,27 9,15 6,71

Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja 8,46 8,39

Proporsi Upah Rata-rata Per Jam terhadap UMP

Per Jam 8,46 8,39 101,54 100,62

Jaminan Sosial Tenaga Kerja 8,09 10,00

Tingkat Perusahaan yang Menjadi Peserta BPJS

Ketenagakerjaan 4,00 4,00 30,81 31,70 Tingkat Pekerja Penerima Upah dan Pekerja

Bukan Penerima Upah yang Terdaftar sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan Aktif

4,09 6,00 13,64 28,53

Provinsi Sumatera Utara 52,11 66,90

Provinsi Sumatera Barat

Kinerja Pembangunan Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020 yang diukur menggunakan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan menunjukan hasil sebagai berikut:

 Indeks Pembangunan

Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Barat berada di peringkat ke-6 dari 34 provinsi. Atau dari peringkat ke-5 dari 17 provinsi dengan urusan ketenagakerjaan sedang.

 Dari 9 Indikator Utama yang diukur, ada 8 diantaranya masuk kategori baik (>=5), sedangkan 1 Indikator Utama lainnya masuk kategori belum baik (<5).

 Indikator Utama yang masuk kategori baik adalah Perencanaan Tenaga Kerja, Penduduk dan Tenaga Kerja, Kesempatan Kerja, Pelatihan dan Kompetensi Kerja, Hubungan Industrial, Kondisi Lingkungan Kerja, Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

 Indikator Utama yang memiliki indeks

Dalam dokumen Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (Halaman 38-134)

Dokumen terkait