BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Hasil Pengukuran Kondisi Termal Kamar Tidur C1 dan J2
Pengambilan data suhu dan kelembaban udara dilakukan selama 24 jam dan setiap 2 detik. Pengukuran dilakukan di kamar tidur C1 (Orientasi Barat) dan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) dengan ketinggian 50 cm setara dengan posisi orang tidur. Alat ukur diletakkan ditengah kamar tidur, dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6 Letak Titik Alat Ukur pada Kamar Tidur a. Kamar Tidur C1
b. Kamar Tidur J2 4.4.1 Hasil Pengukuran Suhu Udara Kamar Tidur C1
Pada saat pengukuran di hari pertama sampai hari keempat terjadi kendala pada alat ukur dan kesalahan teknis dilapangan sehingga tidak dapat mengukur suhu udara selama 24 jam. Hasil pengukuran suhu udara di kamar tidur C1 (Orientasi Barat) selama lima hari pengukuran sebagaimana pada Gambar 4.7.
(a) (b)
Gambar 4.7 Grafik Suhu Udara pada Kamar Tidur C1 (Orientasi Barat)
Rentang suhu udara di dalam kamar tidur C1 (Orientasi Barat) selama lima hari pengukuran adalah 28,80°C-35,60°C. Hasil pengukuran suhu udara pada kamar tidur C1 (Orientasi Barat) sebagai berikut :
Hari 1 : Pengukuran dilakukan dari pukul 06:56:38 – 06:42:00 WIB. Suhu udara maksimum adalah 32,70°C (pukul 15:31:30 WIB) dan suhu udara minimum adalah 28,80°C (pukul 06:56:38 WIB).
Hari 2 : Pengukuran dilakukan dari pukul 08:27:50 – 05:35:02 WIB. Suhu udara maksimum adalah 33,80°C (pukul 15:16:00 WIB) dan suhu udara minimum adalah 29,10°C (pukul 05:34:28 WIB).
Hari 3 : Pengukuran dilakukan dari pukul 06:49:30 – 16:16:58 WIB. Suhu udara maksimum adalah 34,70°C (pukul 16:10:14 WIB) dan suhu udara maksimum adalah 28,70°C (pukul 06:52:42 WIB).
Hari 4 : Pengukuran dilakukan dari pukul (06:00:00 – 15:36:30 WIB) dan pukul (19:24:04 – 06:00:00 WIB). Suhu udara maksimum adalah 34,30°C (pukul 12:56:56 WIB) dan suhu udara minimum 30,80°C (pukul 05:03:10 WIB).
Hari 5 : Pengukuran dilakukan dari pukul 08:27:06 – 06:00:00 WIB. Suhu udara maksimum adalah 35,6°C (pukul 16:21:06 WIB) dan suhu udara minimum adalah 29,5°C (pukul 05:26:08 WIB).
Pada Gambar 4.7 dapat dilihat hasil pengukuran selama lima hari menunjukkan suhu udara di dalam ruang kamar tidur C1 (Orientasi Barat) pada hari pertama (pukul 07:00-09:30 WIB) dan hari ke-tiga (pukul 07:00-09:00 WIB) berada pada zona nyaman tidur mengacu pada Miyazawa (1974).
4.4.2 Hasil Pengukuran Suhu Udara Kamar Tidur J2
Pada saat pengukuran di hari pertama sampai hari keempat terjadi kendala pada alat ukur dan kesalahan teknis dilapangan sehingga tidak dapat mengukur suhu udara selama 24 jam Hasil pengukuran suhu udara di kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) selama 5 hari pengukuran namun pada hari ke-dua terjadi kendala dialat ukur sehingga tidak dapat mengukur suhu kamar tidur J2, sebagaimana pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8 Grafik Suhu Udara pada Kamar Tidur J2 (Orientasi Selatan)
Rentang suhu udara di dalam kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) selama lima hari pengukuran adalah 28,40°C-34.50°C. Hasil pengukuran suhu udara pada kamar tidur J2 sebagai berikut :
Hari 1 : Pengukuran dilakukan dari pukul 06:57:12 – 12:36:42 WIB. Suhu udara maksimum adalah 29,80°C (pukul 12:35:07 WIB) dan suhu udara minimum adalah 28,40°C (pukul 08:34:25 WIB).
Hari 2 : Pengukuran tidak dapat dilakukan dikarenakan kendala pada alat ukur.
Hari 3 : Pengukuran dilakukan dari pukul 06:49:03 – 16:18:07 WIB. Suhu udara maksimum adalah 32,40°C (pukul 16:16:15 WIB) dan suhu udara minimum adalah 28,70°C (pukul 07:15:39 WIB).
Hari 4 : Pengukuran dilakukan dari pukul (pukul 06:00:00 – 12:00:22 WIB) dan (pukul 14:41:56 – 06:00:00 WIB). Suhu udara maksimum adalah 34,50°C (pukul 12:00:16 WIB) dan suhu udara minimum adalah 04:03:18 WIB).
Hari 5 : Pengukuran dilakukan dari pukul 08:23:34 – 06:00:00 WIB. Suhu udara maksimum adalah 33,50°C (pukul 16:24:10) dan suhu udara minimum adalah 29,20°C (pukul 05:29:18 WIB).
Pada Gambar 4.8 dapat dilihat hasil pengukuran selama lima hari menunjukkan suhu udara di dalam ruang kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) pada hari pertama (pukul 07:00-09:00 WIB) dan hari ke-tiga (pukul 07:00-11:00 WIB) berada pada zona nyaman tidur mengacu pada Miyazawa (1974).
4.5. Suhu Udara Berdasarkan Hasil Pengukuran dan Hasil Simulasi Ecotect Kedua Titik pada Hari Kelima (Kamis, 14 Juni 2018)
4.5.1 Hasil pengukuran kedua titik pada hari kelima
Hasil pengukuran pada hari lima pada kamar tidur C1 (Orientasi Barat), dan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) sebagaimana pada Gambar 4.9.
(a)
(b)
Gambar 4.9 Suhu udara pada hari kelima berdasarkan hasil pengukuran
Rentang suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) pada hari kelima adalah 29,20°C - 35,60°C, sedangkan rentang suhu udara kamar tidur J2 pada hari kelima adalah 29,50°C - 35,50°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) lebih tinggi daripada kamar tidur J2
(a) (b)
(Orientasi Selatan). Kamar tidur C1 (Orientasi Barat) memiliki suhu udara maksimal 35,60°C (pukul 16:21:06 WIB), sedangkan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) memiliki suhu udara maksimal 35,50°C (pukul 16:24:10 WIB).
Perbedaan suhu udara maksimum pada kamar tidur C1 (Orientasi Barat) dan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) adalah 0,1°C. Perbedaan suhu udara yang terjadi pada kedua kamar tidur yang berbeda orientasi tidak signifikan. Gambar 4.9a dapat dilihat pada hari kelima berada diluar batas zona nyaman tidur yang mengacu pada Miyazawa (1974).
4.5.2 Hasil simulasi ecotect kedua titik pada hari kelima
Hasil pengukuran pada hari lima pada kamar tidur C1 (Orientasi Barat), dan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) sebagaimana pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Suhu udara pada hari kelima berdasarkan simulasi ecotect Rentang suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) pada hari kelima
kelima adalah 28,80°C - 29,50°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) lebih tinggi daripada kamar tidur J2 (Orientasi Selatan). Selisih rentang suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) dan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) adalah 0,4°C – 0,6°C. Kamar tidur C1 (Orientasi Barat) memiliki suhu udara maksimum 29,90°C (pukul 01:00 WIB), sedangkan kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) memiliki suhu udara maksimal 29,50°C (pukul 01:00 WIB). Suhu udara minimum pada kamar tidur C1 adalah 29,30°C (pukul 04:00 WIB) sedangkan suhu udara minimum pada kamar tidur J2 adalah 28,80°C (pukul 04:00 WIB). Suhu udara berdasarkan hasil simulasi ecotect pada kamar tidur C1 dan pada kamar tidur J2 pada pukul 07:00-20:00 WIB dan pukul 00:00-02:00 WIB tidak memenuhi suhu ideal nyaman tidur mengacu pada Miyazawa (1974).
4.5.3 Perbandingan Suhu Udara Pengukuran dan Suhu Udara Simulasi Ecotect Kamar Tidur C1 dan J2
Perbandingan suhu udara pada kamar tidur obyek penelitian berdasarkan pengukuran dan simulasi software Ecotect, sebagaimana pada Gambar 4.11.
(a)
(b)
Gambar 4.11 Suhu udara dari hasil pengamatan simulasi software ecotect
Hasil pengukuran rentang suhu udara kamar tidur C1 adalah 29,20°C–
35,60°C sedangkan hasil simulasi ecotect rentang suhu udara pada kamar tidur C1 adalah 29,30°C–29,90°C. Suhu udara maksimum kamar tidur C1 adalah 35,50°C (pukul 16:21 WIB) sedangkan hasil simulasi ecotect suhu udara maksimum
6:00 7:00 8:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 19:00 20:00 21:00 22:00 23:00 0:00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00
Pengukuran Simulasi Ecotect
6:00 7:00 8:00 9:00 10:00 11:00 12:00 13:00 14:00 15:00 16:00 17:00 18:00 19:00 20:00 21:00 22:00 23:00 0:00 1:00 2:00 3:00 4:00 5:00 6:00
Pengukuran Simulasi Ecotect
adalah 29,90°C (pukul 01:00 WIB). Suhu udara pada kamar C1 adalah 29,20°C (pukul 05:29 WIB) sedangkan hassil simulasi ecotect suhu udara minimum adalah 29,30°C (pukul 04:00 WIB).
Hasil pengukuran rentang suhu udara pada kamar tidur J2 adalah 29,50°C–
35,50°C sedangkan hasil simulasi ecotect adalah 28,80°C–29,50°C. Suhu udara maksimum pada kamar tidur C1 adalah 35,50°C (pukul 16:21 WIB) sedangkan hasil simulasi ecotect adalah 29,50°C (pukul 01:00 WIB). Suhu udara minimum pada kamar tidur J2 adalah 29,50°C (pukul 05:26 WIB) sedangkan hasil simulasi ecotect adalah 28,80°C (pukul 04:00 WIB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pengukuran suhu udara dengan hasil simulasi ecotect sangat signifikan yaitu 0,1°C-5,9°C. Perbedaan ini disebabkan oleh radiasi matahari yang diterima bangunan.
BAB V KESIMPULAN
Hasil pengukuran kamar tidur C1 (Orientasi Barat) adalah 29,20°C–
35,60°C, sedangkan hasil simulasi ecotect 29,30°C–29,90°C. Rentang suhu udara pada kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) adalah 29,50°C–35,50°C sedangkan hasil simulasi ecotect 28,80°C–29,50°C. Perbedaan suhu udara pengukuran dengan hasil simulasi ecotect sangat signifikan yaitu 0,1°C-5,9°C.
Hasil pengukuran suhu udara maksimum pada kamar tidur C1 (Orientasi Barat) lebih tinggi yaitu 35,6°C dibandingkan suhu udara maksimum kamar tidur J2 (Orientasin Selatan) yaitu 35,5°C. Perbedaan suhu udara yang terjadi pada rumah tinggal objek studi tidak signifikan. Hasil simulasi ecotect menunjukkan suhu udara kamar tidur C1 (Orientasi Barat) lebih tinggi yaitu 29,90°C dibandingkan suhu udara pada kamar tidur J2 (Orientasi Selatan) yaitu 29,50°C.
Suhu udara kamar tidur C1, kamar tidur J2 serta hasil simulasi ecotect pada kamar C1 tidak memenuhi suhu ideal nyaman tidur, sedangkan hasil simulasi ecotect pada kamar tidur J2 pukul 03:00-06:00 WIB memenuhi suhu ideal nyaman tidur mengacu pada Miyazawa (1974). Hal ini sesuai dengan hasil studi Amelia (2013) bahwa kamar tidur yang berorientasi ke Barat memiliki suhu paling tidak nyaman dibandingkan orientasi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, K. P. (2013). Pengaruh Orientasi Bangunan terhadap Kenyamanan Termal pada Perumahan di Bandung, Obyek Studi: Rumah sudut tipe Camry Blok E dan Blok D, Grand Sharon Residence. Berkala Ilmiah Narasi Arsitektur, 1 (1).
ASHRAE (1989). Handbook of Fundamental ; American Society of Heating, Refrigerating and Airconditioning Engineers. Atlanta, Georgia, USA.
Badan Pusat Statistik (2017). Statistical Yearbook of Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik (2017). Iklim di Kota Medan. Diterima dari https://sumut.bps.go.id/subject/151/iklim.html#subjekViewTab4.
CIBSE (2011). CIBSEGuideA-environmental design, London: British Standard Institution. Available from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21806225.
Diem, A. F. (2004). Pengaruh Orientasi Bangunan terhadap Pengkondisian Termal dalam Ruangan pada Rumah Rakit Palembang. Berkala Ilmiah Narasi Arsitektur.
Hamdani, M., Bekkouche, S., Benouaz, T., & Cherier, M. (2012). Study and Effect of Orientation two Room of Buildings Located in Ghardaia, Algeria.
Energy Procedia 18 , 632 - 639.
Haruna, I. U, dkk (2014). Improvement of Thermal Comfort in Resindential Buildings. Berkala Ilmiah Narasi Arsitektur.
Hoppe, P. (1988), Comfort Requirement in Indoor Climate, Energy and Biuldings, vol. 11: 249-267, ASHRAE, USA.
Idealistina, F. (1991), Model. Termoregulasi Tubuh untuk Penentuan Besaran Kesan Termal Terbaik dalam kaitannya dengan Kinerja Manusia, disertasi doktor, Institut Teknologi Bandung.
Karyono, T. H. (2013). Kenyamanan Termal dalam Arsitektur Tropis. Dalam Arsitektur dan Kota Tropis Dunia Ketiga: Suatu Bahasan tentang Indonesia. PT Raja Grafindo.
Krenek R L. The Impact of Sleep Quality and Duration on College Student Adjustment and Health. Master's thesis. LA: Louisiana Tech University;
2006.
Lan L, Pan L, Lian ZW (2013). Experimental Study On Thermal Comfort Of Sleeping People At Different Air Temperature, Building and Environment.
Lippsmeier, Georg (1980), Bangunan Tropis, Erlangga, Jakarta.
Lippsmeier, Georg (1994), Bangunan Tropis, Erlangga, Jakarta.
Mangunwijaya Y.B. (1994). Pengantar Fisika Bangunan. Penerbit Djambatan.
Yogyakarta.
Mangunwijaya Y.B. (2000). Pengantar Fisika Bangunan. Penerbit Djambatan.
Yogyakarta.
Miyazawa M, Yanase T, Hanaoke T (1974). On the Ccorrelation Between the Seasonal Changes of Bed Climate and Sleep. Research 21, 99-106.
Nicola L. Barclay, Thalia C. Eley, Daniel J. Buysee, Fruhling V. Rijsdijk, Gregory. AM. Genetic and Environmental Influences on Different Components of the Pittsburgh Sleep Quality Index and their Overlap.
Genetic and Environmental Influences on the PSQI. 2010;Vol.33(5)
Satwiko Prasastro (2008), Fisika Bangunan. Yogyakarta : Andi
Soegijanto (1999). Bangunan di Indonesia dengan Iklim Tropis Lembab Ditinjau dari Aspek Fisika Bangunan. Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Bandung.
Szokolay S.V, et. Al (1973), Manual of Tropical Housing and Building, Bombay:
Orient Langman.
Wyndham, C. H. (1962). Thermal Confort in The Hot Humid Tropics of Australia. Occupational and Environmental Medicine, 20 (2), 110-117.