HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.6 Hasil Pengukuran Lintasan Kedua pada Lokasi Ketiga
Setelah dilakukan proses akuisisi data langkah selanjutnya mengolah data dan menginterpretasikannya. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik dipole-dipole yang memiliki panjang lintasan 75 meter dengan target kedalaman yang ingin diketahui sekitar 18,75 meter di bawah permukaan tanah. Jarak spasi antar elektroda yang digunakan sebesar 5 meter. Lintasan ini terletak pada koordinat S 07 02.318 dan E 110 48.755 . Data lapangan yang diperoleh diolah dengan software Res2DINV dan menghasilkan gambar penampang bawah permukaan seperti pada gambar 4.6.
Gambar 4.6 Penampang Resistivitas Lintasan Kedua pada Lokasi Ketiga
Secara umum di bawah permukaan daerah penelitian terdiri dari beberapa lapisan dengan nilai resistivitas yang berbeda. Lapisan pertama adalah lapisan
paling atas yaitu lapisan tanah penutup yang memiliki interval resistivitas berkisar 0,225-20 m dengan kedalaman sekitar 0,8-17,9 meter di bawah permukaan tanah (warna biru). Pada lapisan ini diperkirakan terdapat beberapa aliran dan resapan air yang terjadi pada waktu hujan sehingga membentuk cekungan seperti mangkok yang dilapisi tanah, lempung dan lempung basah yang diprediksi bisa menahan air tanah dikala musim kering sehingga daerah tersebut tidak pernah kekeringan atau kekurangan air. Lapisan kedua adalah lapisan zona peralihan yaitu pada kedalaman cukup bervariasi sekitar 4-14 meter di bawah permukaan tanah (warna hijau) diprediksi terdapat kerikil, lempung halus, dan pasir. Lapisan ketiga adalah lapisan zona resistif yaitu berada pada kedalaman sekitar 4-17,9 meter di bawah permukaan tanah dengan interval resistivitas lebih dari 300 m diduga terdapat napal, kerikil dan batu gamping (warna ungu) yang sangat resistif. Sehingga menurut data geologi merupakan daerah aluvium atau alluvial yang terdiri dari lempung, napal, kerikil, pasir dan batu gamping.
4.2 Pembahasan
Pengukuran geolistrik dengan menggunakan aturan konfigurasi dipole-dipole, diperoleh hasil bahwa pada setiap lintasan penelitian terdapat beberapa lapisan dengan nilai resistivitas yang bervariasi dari tiap lapisan batuan tersebut.
Setelah dilakukan inversi maka diperoleh model penampang resistivitas 2D pada lintasan pengukuran. Kedalaman yang bisa terpetakan dengan panjang lintasan 75 meter adalah 17,9 meter di bawah permukaan tanah. Hasil inversi inilah yang menggambarkan struktur resistivitas listrik bawah permukaan pada
lintasan pengukuran. Penampang yang dihasilkan kemudian diinterpretasi untuk mengetahui sebaran air tanah di lokasi pengukuran. Dari penampang-penampang tersebut dapat dilakukan penafsiran jenis lapisan batuan penyusun pada setiap titik pengukuran berdasarkan sebaran kesamaan nilai resistivitasnya, yaitu dengan menentukan range (kisaran) kesamaan nilai resistivitasnya.
Pemetaan geologi daerah ini memperlihatkan bahwa stratigrafi daerah kabupaten grobogan dan sekitarnya tersusun dari berbagai variasi satuan litologi. Berbagai variasi tersebut meliputi formasi Ngimbang, formasi Kujung, formasi Tuban, formasi Kawengan dan formasi Lidah. Menurut jenis tanah yang terdapat pada tiap formasi, formasi Lidah merupakan lapisan tanah yang dapat menyimpan air tanah. Formasi Lidah terdiri dari pasir glaukonitan, batu gamping pasiran dan lempung. Pasir glaukonitan merupakan batuan yang berfungsi sebagai lapisan penyerap sehingga pasir glaukonitan bisa menyimpan air. Batu gamping pasiran dan lempung merupakan batuan yang bisa menyimpan air tetapi tidak mampu mengalirkan.
Menurut Juandi (2008), bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola distribusi resistivitas bawah permukaan tanah yaitu topografi, cuaca, kelembaban, kandungan mineral batuan, porositas batuan. Berdasarkan analisa pengamatan pada line pengukuran dapat diketahui apakah ada distribusi air bawah tanah merata atau tidak dalam tanah. Menurut Syamsurizalet al.(2013), nilai resistivitas 24,38-78,60 m diinterpretasikan lempung berpasir, nilai resistivitas 0,18-0,74m diinterpretasikan lempung basah, nilai resistivitas 1,17-8,83 m diinterpretasikan batu pasir, nilai resistivitas 122,11-160,07 m
diinterpretasikan kerikil, nilai resistivitas 8,34-12,04 m diinterpretasikan top soil, nilai resistivitas 754,02 m diinterpretasikan batuan lempung berpasir dan nilai resistivitas 1935,7m diinterpretasikan brangkal.
Nilai resistivitas yang terdapat pada gambar 4.1- 4.6 tampak bahwa daerah penyusun lapisan tanah/ batuan bawah permukaan yang memiliki interval resistivitas 100-200 m dapat diinterpretasikan sebagai daerah yang berpotensi memiliki air tanah. Dari keenam lintasan tersebut, maka daerah yang paling prospek mengandung air tanah adalah lintasan kedua pada lokasi ketiga.
Menurut Ishaq (2008), diperkirakan bawah permukaan daerah penelitian terdiri tiga lapisan dari nilai resistivitas yang berbeda. Lapisan tanah penutup memiliki interval 10-150m, zona konduktif memiliki interval resistivitas kurang dari 100 m (termasuk didalamnya baik pasir maupun lempung), sedangkan lapisan resistif memilki interval resistivitas lebih dari 100m yang terletak relatif paling bawah yang diduga sebagai basement. Untuk lapisan penutup terlihat interval resistivitasnya cukup panjang dan didominasi oleh lapisan yang resitif. Menurut Irjan (2012), berdasarkan warna pengisi lapisan dapat diinterpretasikan bahwa interval resistivitas antara 0-20 m diduga merupakan lapisan yang bersifat bukan akuifer karena kemungkinan didominasi oleh lempung. Lapisan ini dapat terisi air namun tidak dapat mengalir atau sering disebut sebagai akuiklud. Untuk lapisan yang berada pada interval resistivitas sebesar 20-200 m merupakan lapisan yang diduga adalah lapisan pembawa sifat air tanah dan lapisan ini diduga terdiri dari pasir tufan. Selanjutnya untuk lapisan yang memiliki nilai resistivitas 200-1000 m diduga merupakan lapisan yang mempunyai
porositas yang lebih rapat namun bisa terisi air (akuitard), dan diduga litologinya tersusun atas batu pasir gampingan. Untuk lapisan yang memiliki nilai resistivitas di atas 1000m diduga merupakan lapisan yang tidak terdapat air dan didominasi oleh batuan breksi yang bersifat kedap air (akuifuge) sebagai akibat pengendapan dari letusan gunung api di masa lampau.
Pada gambar 4.1-4.6 menunjukan bahwa lapisan dengan interval resistivitas 300-500 m diinterpretasikan merupakan lapisan napal, kerikil dan batu gamping. Lapisan tersebut merupakan lapisan yang kedap air, sehingga sangat sulit untuk terdapatnya air tanah. Lapisan dengan interval resistivitas 100-200 m diinterpretasikan sebagai kerikil, lempung halus, dan pasir. Lapisan ini memungkinkan terdapatnya air tanah sebab pada lapisan ini terdapat kerikil dan pasir yang memiliki pori-pori dan air tanah berada di antara pori-pori pasir dan kerikil tersebut, sehingga pada lapisan tersebut sangatlah berpotensi terdapat air tanah. Lapisan yang memiliki interval resistivitas 0,225-20 m diinterpretasikan terdapat lapisan tanah, lempung dan lempung basah. Pada lapisan ini kemungkinan sedikit sekali mengandung air tanah, karena lapisan ini merupakan lapisan kedap air.
Penelitian ini dilakukan setelah malam harinya turun hujan sehingga hasil penelitian kurang akurat. Hasil penelitian kurang akurat disebabkan karena keadaan tanah daerah penelitian basah. Apabila ingin melakukan penelitian dengan keadaan tanah daerah penelitian kering harus menunggu waktu lebih lama dan biaya lebih banyak untuk menyewa alat penelitian. Penelitian ini tetap dilakukan walaupun malam harinya turun hujan karena sudah mempersiapkan alat
dan siap melakukan penelitian. Bentangan lintasan penelitian ini kurang panjang sehingga kedalaman yang dicapai tidak maksimal yaitu 17,9 meter di bawah permukaan tanah dengan panjang lintasan 75 meter.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Simpulan
1. Lintasan yang paling berpotensi mengandung air tanah adalah lintasan kedua pada lokasi ketiga (E 110 48.755 ,S 07 02.318 ).
2. Kedalaman air tanah sumur galian adalah sekitar 4,62-17,9 m.
5.2 Saran
1. Daerah penelitian dan lintasan pengukuran harus lebih banyak lagi, ini dimaksudkan agar dapat dilakukan pemetaan sebaran air tanah di daerah penelitian.
2. Sebaiknya penelitian dilakukan pada musim kemarau untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
3. Untuk memperoleh kedalaman yang maksimal sebaiknya bentangan penelitian lebih panjang.