• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PENELITIAN

HASIL YANG DICAPAI DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Pengukuran Persentase Penyembuhan Luka

Tabel 5.1. Persentase penyembuhan luka (%) Kontrol

C. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas perasan buah kepel terhadap penyembuhan luka terbuka pada hewan coba tikus putih betina galur Sprague Dawley yang dibuat luka terbuka. Produksi perasan buah kepel dilakukan dengan cara buah dimasukan dalam mesin juicer sehingga diperoleh sari perasan, setelah itu dilakukan penyaringan dan dilanjutkan dengan pengenceran untuk menyesuaikan konsentrasi yang diinginkan dari penelitian ini. Percobaan uji aktivitas dibagi menjadi enam kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif dengan aquadest, kontrol positif dengan Povidon Iodium (Betadine), dan empat kelompok dari empat produk perasan buah kepel dengan konsentrasi masing-masing 20%, 40%, 60%, dan 80%.

Gambar 5.1. Perasan buah kepel dengan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80%

Percobaan uji aktivitas menggunakan konsentrasi uji terkecil yaitu 20%/4 cm2, kemudian konsentrasi ditingkatkan menjadi 40%/4 cm2, 60%/4 cm2, dan 80%/4 cm2 seperti terlihat pada Gambar 5.1. Variasi ini dibuat untuk menentukan konsentrasi berapa yang paling efektif dalam proses penyembuhan terhadap luka terbuka.

Berikut adalah gambar tikus yang sudah diberikan perlakuan sampai dengan hari ke-7 dengan perasan buah kepel :

Gambar 5.2. Luka tikus pada hari ke-7

Pada Gambar 5.2. luka tikus terlihat masih basah dan belum kering. Proses penyembuhan luka secara fisiologis terbagi dalam 4 tahap, yaitu fase inflamasi akut, destruksi, proliferasi dan maturasi. Respon jaringan yang rusak terhadap luka, jaringan yang rusak dan sel mast melepaskan histamin dan mediator lain, sehingga menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta meningkatnya penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menjadi merah dan hangat. Permeabilitas kapiler-kaliper darah meningkat dan cairan yang kaya akan protein mengalir kedalam spasium intersisial, menyebabkan edema lokal dan mungkin hilangnya fungsi di tempat tersebut. Leukosit, PMN dan makrofag mengadakan migrasi keluar dari kapiler dan masuk ke dalam daerah yang rusak sebagai reaksi terhadap agen kemotaktik yang dipacu oleh adanya cedera (Morisson, 2003). Pada tahap ini terjadi vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang masih utuh sehingga luka terlihat merah dan apabila dipegang terasa hangat.

Gambar 5.3. Luka tikus pada hari ke-14.

Gambar luka tikus pada hari ke-14 seperti terlihat pada Gambar 5.3. Pada gambar tersebut terlihat bahwa luka sudah mulai mengering dan tidak basah. Luka tidak terlihat begitu merah dan apabila dipegang tidak terasa hangat. Pada fase ini fibroblas membentuk kolagen dan jaringan ikat.

Di sini juga terjadi pembentukan kapiler baru yang dimulai saat terjadi peradangan (Harvey, 2005; Schultz, dkk., 2005).

Tanda-tanda yang dapat diamati dengan jelas pada fase ini adalah masih terjadi warna merah (velvety) dan adanya jaringan granulasi. Proses ini menandakan terjadinya kesembuhan yang dimulai dari adanya pertumbuhan kapiler dan pertumbuhan jaringan granula yang dimulai dari dasar luka. Proses granulasi berjalan seiring dengan proses reepitelisasi.

Sampai pada tahap akhir proses ini akan terjadi proses epitelisasi pada permukaan luka. Luka akan berkembang menjadi keropeng yang terdiri dari plasma dan prodeni yang bercampur dengan sel-sel mati.

Gambar 5.4. Luka tikus pada hari ke -21

Fase selanjutnya adalah fase pematangan atau fase diferensiasi atau fase resoptif atau fase remodeling yang dapat berlangsung pada hari ke 21 hari sampai lebih dari 2 bulan bahkan beberapa tahun setelah luka. Pada fase ini terjadi ikatan kolagen yang mengawetkan jaringan bekas luka dan proses epitelisasi yang melapisi kulit. Terkadang terjadi penonjolan jaringan pada bekas luka akibat Jar Scarr (keloid) yang berupa jaringan kuat dan tidak elastis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak buah kepel secara topikal pada luka tikus dapat memperpendek ketiga tahapan kesembuhan luka yang diuraikan diatas. Pada fase ini, kesembuhan luka paling baik terjadi pada kelompok tikus yang diberikan perasan buah kepel 60%.

Tabel 5.2. Pengukuran diameter luka

Kelompok Hari ke- 0 Hari ke- 1 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21

Kontrol Negatif 2 2.58 2.42 2.23 2.10

Kontrol Positif 2 2.42 2.18 1.82 1.42

Perasan 20% 2 2.84 2.63 2.50 2.24

Perasan 40% 2 2.5 2.36 2.17 1.87

Perasan 60% 2 2.92 2.59 2.28 1.84

Perasan 80% 2 2.72 2.56 2.21 1.89

Dari hari ke-1 sampai ke-7, hasil dari pengamatan luka menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Pada kelompok kontrol negatif dengan kelompok kontrol positif perbedaan mulai terlihat pada pengamatan hari ke-14 sampai hari ke-21, sedangkan pada kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan perasan buah kepel konsentrasi 40%, 60%, dan 80% perbedaan mulai terlihat pada pengamatan hari ke-21. Proses penyembuhan mulai terjadi dari hari kedua sampai hari kelima tetapi dengan tingkat penyembuhan yang berbeda-beda.

Pada hari keenam sampai hari kedua belas terjadi pembentukan jaringan yang pesat dengan tingkat penyembuhan yang berbeda-beda. Persentase penyembuhan luka diamati dari luas daerah luka. Diameter awal yang menjadi dasar perhitungan persentase penyembuhan luka adalah diameter satu hari setelah tikus dilukai, bukan pada saat hari tikus dilukai. Hal ini disebabkan ketidakstabilan luka hingga 24 jam setelah tikus dilukai.

Setelah 24 jam perlukaan terjadi perubahan sedikit dan selanjutnya stabil.

Aktivitas penyembuhan luka terbuka terendah dari perasan buah kepel pada konsentrasi 20%/4 cm2. Hal ini diduga karena tingkat kemurnian produk masih rendah dan masih mengandung air dalam prosentase yang cukup besar. Produk yang kurang murni masih mengandung senyawa-senyawa lain yang dapat menjadi pengganggu aktivitasnya. Disamping itu dengan adanya kandungan senyawa lain dan air yang masih tinggi, konsentrasi zat aktif menjadi lebih rendah dari perhitungan. Oleh karena itu perlu dilakukan proses pemurnian tingkat berikutnya seperti penggunaan ekstraksi atau fraksi.

Penelitian ini diamati bahwa perasan buah kepel konsentrasi 20%, 40%, dan 60%, dan 80% memperlihatkan adanya kemampuan epitelisasi.

Data dari Tabel 1 kemudian dihitung persen penurunan diameter luka pada kulit punggung tikus dapat dilihat pada Tabel 2. Adanya penurunan luka pada kelompok perlakuan karena kandungan kimia dari buah kepel seperti

flavanoid, saponin, dan sterol yang sudah terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan luka.

Tabel 5.3. Persentase penyembuhan luka (%) Kontrol

Hasil perhitungan persentase penyembuhan luka seperti dilihat pada Tabel 5.3. Persentase penyembuhan luka diamati dari luas daerah luka, ukuran luas luka yang dibuat adalah 4 cm2. Diameter awal yang menjadi dasar perhitungan persentase penyembuhan luka adalah diameter satu hari setelah tikus dilukai, bukan pada saat hari tikus dilukai. Hal ini disebabkan ketidakstabilan luka hingga 24 jam setelah tikus dilukai.

Setelah 24 jam perlukaan terjadi perubahan sedikit dan selanjutnya stabil.

Gambar 5.5. Persentase penyembuhan luka (%)

Tabel 5.4. Rerata persentase penyembuhan luka tiap kelompok (%)

33.57±6.92 65.22±4.69 37.61±3.76 44.31±9.01 59.84±7.95 52±6.47

Gambar 5.6. Rerata persentase penyembuhan luka (%)

Berikut hasil pengujian kenormalan dan homogenitas berdasarkan Kolmogrov-Smirnov dan uji Levene Statistic seperti yang dtercantum pada Tabel. 5.5 dibawah ini :

Tabel 5.5. Hasil Uji Distribusi Normal dengan Kolmogrov Smirnov

Persen Penyembuhan

Luka

N 30

Normal Parametersa Mean 48.7600

Std. Deviation 13.09985

Most Extreme Differences Absolute .151

Positive .151

Negative -.090

Kolmogorov-Smirnov Z .826

Asymp. Sig. (2-tailed) .502

Ho pada uji Kolmogrov ini adalah: Kelima data berdistribusi normal dan Ha: Kelima data tidak berdistribusi normal. Berdasarkan output diatas pada semua kelompok perlakuan baik pada kontrol negatif, kontrol positif, konsentrasi 20%, konsentrasi 40%, konsentrasi 60%, dan konsentrasi 80% mempunyai nilai Sig. sebesar 0.502 artinya Ho diterima dan Ha ditolak, hal ini menunjukkan keseluruhan data terdistribusi normal.

Tabel 5.6. Hasil Uji Homogenitas

Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.071 5 24 .401

Analisis dilanjutkan dengan uji homogenitas, untuk menguji apakah ada kesamaan varian persentase penyembuhan luka antara keenam kelompok perlakuan. Pengujian asumsi kesamaan varian dilakukan lewat uji F atau signifikansi. Ho: Tidak ada perbedaan varian persentase penyembuhan luka antara keenam kelompok perlakuan, Ha: Ada perbedaan varian persentase penyembuhan luka antara keenam kelompok perlakuan.

Pengambilan keputusan, jika Sig < 0,05, maka Ho ditolak, jika Sig > 0,05, maka Ho diterima. Pada Tabel 5.6 terlihat nilai Sig. 0.401 > 0.05, hal ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan varian persentase penyembuhan luka antara keenam kelompok perlakuan maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian homogen. Berdasarkan uji kenormalan dan kehomogenan diketahui data persentase penyembuhan tersebut terdistribusi normal dan homogen, maka telah memenuhi syarat untuk dilakukan uji menggunakan Anova.

Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Analysis of Variance (Anova). Anova merupakan lanjutan dari uji-t independen dimana kita memiliki dua kelompok percobaan atau lebih, yang digunakan untuk membandingkan mean dari dua kelompok atau lebih sampel independen

(bebas). Berikut hasil output uji Anova sepertti yang tercantum pada Tabel 4.4 dibawah ini :

Tabel 5.7. Hasil Uji Anova Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

Between

Groups 3894.176 5 778.835 17.269 .000

Hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut Ho: Tidak ada perbedaan signifikan rata-rata prosentase penyembuhan luka antar semua kelompok perlakuan, dan Ha: Ada perbedaan signifikan rata-rata prosentase penyembuhan luka antar semua kelompok perlakuan. Statistik uji-F yang digunakan dalam One Way ANOVA dihitung dengan rumus (k-1), uji F dilakukan dengan membandingkan nilai Fhitung (hasil output) dengan nilai Ftabel. Sedangkan derajat bebas yang digunakan dihitung dengan rumus (n-k), dimana k adalah jumlah kelompok sampel, dan n adalah jumlah sampel. F tabel (5,26) adalah 2.59

Hasil uji One Way ANOVA yang telah dilakukan mengindikasikan bahwa uji-F signifikan pada kelompok uji, ini ditunjukkan oleh nilai Fhitung sebesar 17.269 yang lebih besar daripada F(5.26) sebesar 2.59 (Fhitung > Ftabel), kemudian diperkuat dengan nilai Sig. 0.000 lebih kecil daripada nilai kritik α=0,05. Berdasarkan uji ANOVA diatas, dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak dimana terdapat perbedaan signifikan rata-rata prosentase penyembuhan luka antar semua kelompok perlakuan. Setelah Uji ANOVA dilakukan, dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD dengan hasil output seperti tercantum pada Tabel 5.8

Tabel 5.8. Hasil Uji Post Hoc Tukey HSD

Perlakuan Perlakuan Sig. Hipotesis Kesimpulan kontrol positif kontrol negatif .000 p < 0.05 Berbeda bermakna

konsentrasi 20% .000 p < 0.05 Berbeda bermakna konsentrasi 40% .001 p < 0.05 Berbeda bermakna konsentrasi 60% .799 p > 0.05 Tidak berbeda bermakna konsentrasi 80% .048 p < 0.05 Berbeda bermakna kontrol negatif kontrol positif .000 p < 0.05 Berbeda bermakna

konsentrasi 20% .929 p > 0.05 Tidak berbeda bermakna konsentrasi 40% .155 p > 0.05 Tidak berbeda bermakna konsentrasi 60% .000 p < 0.05 Berbeda bermakna konsentrasi 80% .003 p < 0.05 Berbeda bermakna

Tukey HSD digunakan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Hasil uji Tukey HSD pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan nyata pada kelompok kontrol negatif bila dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan perasan buah kepel konsentrasi 60% dan 80%. Adanya perbedaan bermakna tersebut menunjukkan bahwa povidon iodum (kontrol positif) dan perasan buah kepel konsentrasi 60% dan 80% mempunyai efek penyembuhan luka.

Dengan menggunakan parameter persen penyembuhan luka efektifitas perasan buah kepel konsentrasi 60% lebih baik bila dibandingkan dengan konsentrasi 80%. Berdasarkan Uji Post Hoc Tukey HSD diatas juga terlihat bahwa pada kelompok kontrol positif bila dibandingkan dengan kelompok perlakuan perasan buah kepel konsentrasi 60% mempunyai nilai Sig. >

0.05, hal ini menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna efektifitas penyembuhan luka antara perasan buah kepel konsentrasi 60% dengan

Betadine® (Povidon Iodine), maka dapat disimpulkan bahwa perasan buah kepel konsentrasi 60% mempunyai efektifitas yang sebanding dengan Betadine® (Povidon Iodine).

Adanya kandungan kimia seperti flavanoid dan saponin diduga dapat memberikan efek penyembuhan luka. Adapun mekanisme kerja dari flavonoid yaitu melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah, mengandung antiinflamasi, juga berfungsi sebagai antioksidan, dan membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan (Wahyuningsih,S., dkk, 2006). Saponin merupakan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan spesies tanaman yang berbeda, terutama tanaman dikotil dan berperan sebagai bagian dari sistem pertahanan tanaman tersebut.Golongan senyawa ini tersebar luas dalam tumbuhan tinggi.

Saponin seperti sabun membentuk lautan koloidal dalam air dan membentuk busa bila digojog, berasa pahit bila digigit. Saponin diketahui mempunyai efek sebagai antimikroba (Morrissey, J.P. and A.E. Osbourn.

1999).

Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, anti inflamasi, dan sebagai antibiotik. Flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus (Lenny, 2006). Beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba (sumber anti-bakteri dan anti virus), meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, kadar gula dalam darah, mengurangi penggumpalan darah, dan saponin juga mempengaruhi kolagen (tahap awal perbaikan jaringan) yaitu dengan menghambat produksi jaringan luka yang berlebihan. Saponin triterpenoid merupakan saponin yang mempunyai efek penyembuh luka. Berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut dan jaringan ikat (Kurniati. 2008). Kandungan tersebut yang menyebabkan

buah kepel memiliki kemampuan untuk mengurangi proses inflamasi dan mempercepat penyembuhan luka dibandingkan kelompok kontrol negatif.

Beberapa saponin bekerja sebagai antimikroba (sumber anti-bakteri dan anti virus), meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, kadar gula dalam darah, mengurangi penggumpalan darah, dan saponin juga mempengaruhi kolagen (tahap awal perbaikan jaringan) yaitu dengan menghambat produksi jaringan luka yang berlebihan. Saponin triterpenoid merupakan saponin yang mempunyai efek penyembuh luka. Berfungsi meningkatkan perbaikan dan penguatan sel-sel kulit, stimulasi pertumbuhan kuku, rambut dan jaringan ikat (Kurniati.

2008). Kandungan tersebut yang menyebabkan buah kepel memiliki kemampuan untuk mengurangi proses inflamasi dan mempercepat penyembuhan luka dibandingkan kelompok kontrol negatif, dimana inflamasi adalah sebuah tahap awal dari respon normal untuk luka atau adanya infeksi, akan tetapi ketika inflamasi menjadi lebih luas dan lama hal itu dapat memperlambat proses penyembuhan atau bisa menyebabkan luka yang lebih berbahaya (Setyoadi & Sartika, 2010).

Pada perasan buah kepel konsentrasi 80% terjadi penurunan efektifitas bila dibandingkan dengan perasan buah kepel konsentrasi 60%

hal ini terjadi karena kenaikan konsentrasi berdampak pada semakin pekatnya larutan disisi lain kemampuan absorpsi dari kulit terbatas, sehingga tidak semua senyawa yang terdapat dalam larutan bisa terabsorpsi secara optimal walaupun dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Peningkatan konsentrasi seharusnya meningkatkan respon sebanding dengan konsentrasi yang ditingkatkan, akan tetapi dipenelitian ini justru mengalami penurunan diantara konsentrasi 60% sampai 80%, hal ini bisa diakibatkan karena telah tercapainya konsentrasi dan respon optimal dimana dengan peningkatan dosis sudah tidak dapat lagi meningkatkan respon. Senyawa dalam bahan alam tidak tunggal tetapi masih berupa kumpulan senyawa hal ini bisa menyebabkan interaksi antar senyawa sehingga bisa menurunkan aktivitas.

BAB VI

Dokumen terkait