Zona
Kota Bukittinggi dan Padang Panjang 0-3Mbps 1
Tahun 3-5 Mbps 1
Sewa Bandwidth Kanal 2.00 Mbps >5 Mbps 1
Occupancy Threshold 80% Biaya Sewa per Bulan xxxx
Biaya Sewa per Tahun xxxx
faktor koreksi penyewaan bandwidth
Bukittinggi dan Padang Panjang
2012 Zone-2
Gambar3. Tampilan Hasil Perhitungan Tarif Sewa saluran siaran
Pada kotak result diatas, merupakan kotak pemilihan jenis zona, dan faktor koreksi penyewaan bandwidth yang bisa disesuaikan dengan skema bisnis masing-masing operator.
a. Zona
Merupakan kolom pemilihan zona layanan yang akan dihitung. b. Kota
Merupakan kolom pemilihan zona layanan yang akan dihitung. c. Tahun
Merupakan kolom pemilihan tahun yang akan ditampilkan pada kolom biaya sewa.
d. Sewa Bandwidth kanal
Merupakan kolom input kapasitas (bandwidth) layanan sewa saluran siaran yang ingin disewa.
e. Occupancy threshold
Merupakan kolom untuk mengatur threshold okupansi multipleksing, dikarenakan harus ada bandwidth yang dikosongkan (tidak dipergunakan) untuk cadangan dan QoS yang tidak bisa dikomersilkan. Sehingga biaya yang seharusnya untuk kapasitas ini akan ditransfer ke bandwidth yang komersil (bisa dijual).
Pada kolom berwarna merah, akan ditampilkan besaran sewa bandwidth multipleksing (ditampilkan contoh besaran biaya sewa dalam angka).
Tabel 2. Contoh Tampilan Harga Sewa Saluran Siaran per tahun Sewa Pertahun No Area Layanan 2012 2013 2014 2015 2016 1 Banda Aceh xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 2 Sabang xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 3 Meulaboh xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 4 Tapaktuan xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 5 Singkil xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 6 sinabang xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 7 Singli xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 8 Takengon xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 9 Lhokseumawe xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx
Harga sewa per 4 Mbps untuk pemakaian 3-5 Mbps
Tabel 3. Contoh Tampilan Harga Sewa Saluran Siaran per bulan
Sewa Perbulan No Area Layanan 2012 2013 2014 2015 2016 1 Banda Aceh xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 2 Sabang xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 3 Meulaboh xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 4 Tapaktuan xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 5 Singkil xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 6 sinabang xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 7 Singli xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 8 Takengon xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx 9 Lhokseumawe xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx
Harga sewa per 4 Mbps untuk pemakaian 3-5 Mbps
Detil dari tabel di setiap sheet: 5.1 Sheet Masterfiles
Sheet ini merupakan sheet yang berisi sheet input yang akan menjadi acuan bagi sheet lainnya, seperti tahun, kurs dolar, dan form control untuk skenario redundansi.
Sheet ini ditujukan untuk membantu mempermudah penyusunan sheet lainnya, terutama pada kolom tahun, maka hanya perlu mengganti tahun pada sheet masterfiles, maka tahun-tahun di sheet lain akan secara otomatis menyesuaikan.
Harga kurs dolar juga akan sangat membantu dikarenakan banyaknya harga perangkat yang memiliki harga referensi dalam dolar.
5.2 Sheet Configuration and Formulation
Gambar 4. Konfigurasi Infrastruktur Multipleksing
Dalam sheet ini akan ditampilkan konfigurasi infrastruktur multipleksing yang akan menjadi acuan dalam perancangan dan identifikasi elemen infrastruktur yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan sewa saluran siaran.
Gambar5. Konfigurasi Infrastruktur Multipleksing 2
Secara umum, infrastruktur multipleksing terdiri dari elemen multiplekser yang berfungsi sebagai aggregator dari beberapa
channel penyelenggara konten, dan juga pemancar untuk mengirimkan konten ke pelanggan (end-user).
Selain konfigurasi, sheet ini menampilkan kerangka pikir model costing tarif sewa saluran siaran sebagai berikut:
Gambar 6. Kerangka Pikir Perhitungan Tarif Sewa Saluran Siaran
Seperti dijelaskan pada kerangka diatas, maka prinsip costing tarif sewa saluran siaran adalah untuk menghitung replacement price, yakni untuk mengganti investasi dan biaya operasi yang dilakukan oleh penyelenggara dengan mempertimbangkan Depresiasi, Return on Capital, Operating Cost dan Overhead Cost.
Dalam sheet ini dipaparkan juga pembagian zona wilayah dan wilayah layanan yang akan dijadikan acuan untuk sheet-sheet selanjutnya yang berisi tentang perhitungan biaya sewa pada suatu daerah layanan, karena sesuai dengan amanat Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2011, Pasal 8 ayat 1 bahwa:
“Wilayah penyelenggaraan program siaran adalah wilayah
layanan”
Dan pada Pasal 8 ayat 2 yang menerangkan bahwa:
“Wilayah penyelenggaraan penyiaran multipleksing adalah zona
layanan”
Sehingga besaran biaya sewa kapasitas multipleksing akan sangat tergantung kepada kondisi zona wilayah dan wilayah layanan penyelenggara multipleksing.
5.3 Sheet 1 : Parameter Biaya
a. Tabel 1.a : Daftar Harga Perangkat dan Instalasi
Tabel 4. Daftar Harga Perangkat dan Instalasi
Komponen jaringan multiplex Umur
Ekonomis unit price
installed unit (Quantity)
Installed +
redundancy Total harga
1 Network Monitoring and Control (NMC) xx
Building xx xx
Monitoring and controlling xx xx
2 Head end (relay station) xx
-Head end
SDI router xx xx xx xx xx
SDI Audio/Video Source xx xx xx xx xx
Conditional Access System (CAS) xx xx xx xx xx
GPS Clock Synchronization xx xx xx xx xx
MPEG-4 Encoder xx xx xx xx xx
Multiplexer xx xx xx xx xx
MPEG Redundancy switch xx xx xx xx xx
Management/Monitoring System & Redundancy controlxx xx xx xx xx
Rack & cable xx xx xx xx xx
Others xx xx xx xx xx 3 Transmitter Main Unit xx xx xx xx xx Power Amplifier xx xx xx xx xx Feeder xx xx xx xx xx Antenna xx xx xx xx xx
Service, packing and shipment xx xx xx xx xx
Tabel ini merupakan tabel input untuk daftar harga setiap elemen perangkat infrastrukturmaupun harga instalasi setiap perangkat infrastrukturpada saat penyelenggara multipleksing membangun infrastruktur multipleksing. Harga yang dimasukkan kedalam model perhitungan harus merupakan harga yang wajar berada di pasar, dan merupakan harga yang disekarangkan.
Elemen infrastruktur yang ditampilkan pada tabel diatas mengacu kepada konfigurasi infrastruktur multipleksing yang dipaparkan pada sheet “Configuration and Formulation”. Secara tipikal, elemen infrastruktur yang diperlukan untuk penyelenggaraan multipleksing adalah sama untuk seluruh penyelenggara, yang akan membedakan antara penyelenggara satu dengan yang lainnya, terutama ketika berbeda wilayah pelayanan adalah pada jumlah tower, dan juga perangkat pemancar yang dipasang.
Semakin luas wilayah, maka akan diperlukan semakin banyak tower untuk melayani pelanggan end-user, dan semakin besar tingkat kepadatan penduduk, maka semakin diperlukan daya pemancar yang lebih besar yang akan berpengaruh terhadap biaya investasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara.
b. Tabel 1.b : Estimasi Kenaikan/Penurunan Harga Perangkat dan Instalasi
Tabel 5. Estimasi Kenaikan/Penurunan Harga Perangkat dan Instalasi
Perubahan dalam pembelian perangkat tahun 2011-2015 (%) Perubahan biaya instalasi perangkat tahun 2011-2015 (unit) Biaya operasional & pemeliharaan tahun 2011 Perubahan biaya operasional & pemeliharaan tahun 2011 - 2015 1 Network Monitoring and Control (NMC)
Building xxxx xxxx xxxx xxxx
Monitoring and controlling xxxx xxxx xxxx xxxx
2 Stasiun Relay (building+tower)
mast (tower), including power and cooling systemxxxx xxxx xxxx xxxx
building xxxx xxxx xxxx xxxx
2 Head end (relay station) Head end
SDI router xxxx xxxx xxxx xxxx
SDI Audio/Video Source xxxx xxxx xxxx xxxx
Conditional Access System (CAS) xxxx xxxx xxxx xxxx
GPS Clock Synchronization xxxx xxxx xxxx xxxx
MPEG-4 Encoder xxxx xxxx xxxx xxxx
Multiplexer xxxx xxxx xxxx xxxx
MPEG Redundancy switch xxxx xxxx xxxx xxxx
Management/Monitoring System & Redundancy controlxxxx xxxx xxxx xxxx
Rack & cable xxxx xxxx xxxx xxxx
Others xxxx xxxx xxxx xxxx DVB Transmitter Main Unit xxxx xxxx xxxx xxxx Power Amplifier xxxx xxxx xxxx xxxx Feeder xxxx xxxx xxxx xxxx Antenna xxxx xxxx xxxx xxxx
Service, packing and shipment xxxx xxxx xxxx xxxx
Tabel tersebut merupakan tabel input untuk estimasi kenaikan maupun penurunan terhadap harga perangkat maupun instalasi infrastruktur multipleksing, dikarenakan akan dilakukan proyeksi biaya penyelenggaraan selama 5 tahun ke depan dari tahun awal perhitungan.
Tabel ini diikutsertakan dalam perhitungan dikarenakan kecenderungan kenaikan atau penurunan harga perangkat elektronik yang dipergunakan oleh penyelenggara penyiaran.
Kecenderungan kenaikan dan penurunan nilai dari biaya kapital, biaya instalasi dan biaya operasional dilakukan karena dengan menggunakan metode forward-looking, akan dilakukan peramalan beban biaya-biaya di atas untuk tahun-tahun mendatang sesuai dengan periode yang telah ditetapkan.
5.4 Sheet 2 : Tower Lease and Power Plan a. Estimasi Biaya Sewa Tower Televisi
Tabel 6. Estimasi Biaya Sewa Tower Televisi
Kategori Kota Sewa Tower (per tahun) Building
1 Jakarta xxxx xxxx
2 Surabaya xxxx xxxx
3 Bandung, Jogjakarta, Semarang xxxx xxxx
4 Cirebon, Garut, Sumedang, Sukabumi, Tegal, Purwokerto, Madiun, Jember xxxx xxxx
5 luar Jawa average xxxx xxxx
Tabel ini merupakan tabel input untuk estimasi biaya sewa tower televisi pertahun dan harga bangunan pada setiap lokasi penyelenggaraan multipleksing, dalam perhitungan besaran tarif sewa bandwidth, penyelenggara dapat mengisi tabel diatas sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan untuk mendapatkan harga yang wajar dan sesuai dengan investasi yang dilakukan.
Jika tower merupakan salah satu bagian dari investasi penyelenggara, maka nilai ekonomis tower harus dihitung dengan metode yang sama dengan investasi perangkat yang lainnya, yakni dengan mencari nilai annualisasinya dengan dimasukkan ke perhitungan beban investasi penyelenggara.
b. Estimasi Harga Pemancar
Tabel 7. Estimasi Harga Pemancar
Kategori Daya Pancar Harga Dolar Harga Rupiah
1 1 kW xxxx xxxx
2 2 kW xxxx xxxx
3 5 kW xxxx xxxx
4 10 kW xxxx xxxx
5 15 kW xxxx xxxx
Tabel ini merupakan tabel input untuk estimasi harga pemancar yang dibangun oleh penyelenggara. Dalam perhitungan yang dilakukan, penyelenggara akan mengisi besaran daya pancar yang dibangun, dan juga besaran nilai investasinya supaya hasil perhitungan biaya akan merepresentasikan besaran nilai investasi infrastruktur.
Tabel 8. Tabel estimasi biaya sewa tower, bangunan, dan daya pancar per daerah asumsi kategori daerah harga sewa tower bangunan total sewa tower per Zona
total bangunan
per zona Daya Pancar harga pemancar
1 2 3 4 5 6 8 9
Propinsi Nangroe Aceh Darussalam
1 Banda Aceh 5 xxxx xxxx - - 2 kW xxxx 2 Sabang 5 xxxx xxxx 5 kW xxxx 3 Meulaboh 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 4 Tapaktuan 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 5 Singkil 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 6 sinabang 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 7 Singli 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 8 Takengon 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 9 Lhokseumawe 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 10 Kotacane 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 11 Langsa 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 12 Bireun 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx 13 Jantho 5 xxxx xxxx 2 kW xxxx Zona Layanan 1
Tabel diatas diperlukan untuk perhitungan biaya sewa setiap daerah, sebagai tabel input biaya sewa infrastruktur tower, bangunan, dan juga besaran biaya yang diperlukan untuk pembelian perangkat pemancar yang disesuaikan dengan kondisi terrain setiap daerah yang memerlukan besar daya pancar yang berbeda-beda.
5.5 Sheet 3 : Perhitungan Biaya per tahun
Proses perhitungan biaya infrastruktur untuk infrastruktur multipleksing selama periode yang telah ditetapkan adalah sama (selama 5 tahun), yakni terdapat pada sheet 3.1. Perhitungan Biaya 2012 – 3.5. Perhitungan Biaya 2016.
Tabel perhitungan biaya mengandung data-data tentang biaya-biaya Capex dan Opex, termasuk untuk setiap kategori perangkat infrastruktur:
1) Umur ekonomis;
2) Harga beli unit (untuk tahun awal perhitungan);
3) Perkiraan perubahan tahunan dalam harga beli untuk periode yang dicakup model;
4) Beban biaya instalasi;
5) Perkiraan perubahan tahunan dalam beban biaya instalasi untuk periode yang dicakup model;
6) Beban biaya operasional dan perawatan unit pada tahun awal perhitungan;
7) Perkiraan perubahan tahunan dalam beban biaya operasional dan perawatan untuk perioda yang dicakup model.
Dalam perhitungan tarif sewa saluran siaran ini diasumsikan tanggal dimulainya layanan untuk infrastruktur pertama adalah per tanggal
1 januari pada tahun awal, dan akan diperhitungkan nilai Long Run Incremental Cost ke beberapa tahun kedepan (5 tahun).
Dalam persoalan shett-sheet ini, perhitungan-perhitungannya menyangkut sebagai berikut:
1) Kolom D, E, F menerangkan network elemen yang terlibat dalam perancangan infrastruktur multipleksing. Network elemen yang dihitung harus merupakan seluruh network elemen yang diperlukan dan dibangun penyelenggara dalam kepentingan pengadaan layanan sewa saluran siaran;
2) Kolom G memperlihatkan tanggal dimulainya layanan untuk setiap kelompok peralatan;
3) Kolom H menghitung jumlah bulan dimulai dari 1 januari sampai tanggal dimulainya layanan. Periode ini penting untuk tujuan perhitungan selanjutnya mengenai harga beli dan biaya lainnya yang selalu berbeda setiap waktunya;
4) Kolom I menghitung umur dari aset dalam bulan. Gambaran ini akan memungkinkan sisa umur aset secara ekonomis dapat dihitung dan digunakan dalam perhitungan penyusutan ekonomis;
5) Kolom J menyatakan kembali umur ekonomis dari setiap elemen infrastruktur;
6) Kolom K menghitung nilai dari penambahan aset dengan menilai pertambahan unit aset di tahun sebelumnya dan mengalikannya dengan nilai aset untuk tahun yang dibahas;
7) Kolom L menghitung nilai penambahan aset dalam hal MEA (Modern Equivalen Asset). Perhitungan ini menggunakan nilai aset tambahan kolom M dan menerapkan tren harga MEA dalam kolom Q yang disesuaikan untuk waktu yang telah lewat sejak ditetapkannya harga awal unit;
8) Kolom O menyatakan kembali biaya instalasi unit untuk elemen infrastruktur dikalikan dengan volume pada kolom K;
9) Kolom P merubah biaya instalasi unit menjadi nilai yang terkini dengan menggunakan tren biaya untuk biaya instalasi pada kolom R, disesuaikan untuk waktu yang telah dilalui ditetapkannya biaya awal instalasi;
10) Kolom Q, R menyatakan kembali perubahan tahunan untuk harga perangkat dan biaya instalasi;
11) Kolom S menyatakan jumlah bulan terhadap mana setiap elemen infrastruktur disusutkan, kolom T, U, dan V menghitung jumlah bulan penyusutan yang akan dimasukkan untuk setiap
tipe dan kelompok dari elemen infrastruktur dan tahun yang dibicarakan;
12) Kolom W menyatakan biaya capex dan instalasi diawal periode (awal tahun yang dihitung) yang telah ditambahkan tren pada kolom Q dan R;
13) Kolom X menyatakan biaya capex dan instalasi diakhir periode (awal tahun yang dihitung) yang telah ditambahkan tren pada kolom Q dan R;
14) Kolom Y menyatakan nilai sisa dari aset diawal periode yang berdasarkan jumlah bulan tersisa di awal periode yang dihitung dibandingkan dengan total bulan yang dari umur perangkat; 15) Kolom Z menyatakan nilai sisa dari aset diakhir periode yang
berdasarkan jumlah bulan tersisa di akhir periode yang dihitung dibandingkan dengan total bulan yang dari umur perangkat; 16) Kolom AA merupakan Penyusutan yang akan dibebankan selama
1 (satu) tahun berdasarkan biaya capex dan instalasi yang telah di-tren-kan dibagi umur aset;
17) Kolom AB merupakan rata-rata nilai sisa aset, yakni rata-rata antara nilai aset di awal tahun dengan nilai aset di akhir tahun; 18) Kolom AD merupakan persentase biaya operasional dan
maintenance terhadap biaya capex;
19) Kolom AE merupakan tren kenaikan biaya operasional; 20) Kolom AF merupakan biaya operasional.
5.6 Sheet 4 : Weighted Average Cost of Capital (WACC) Tabel 9. Tabel Input dan Perhitungan WACC
No Uraian Value
1 Rf Risk free rate xxxx%
2 Dp Corporate debt premium xxxx%
3 Id Interest of Debt xxxx%
4 Ba Asset Beta xxxx
5 Rm - Rf Market Risk premium xxxx%
6 Debt % - xxxx%
7 Equity % - xxxx%
8 Tc Corporate tax rate xxxx%
Rd Cost of debt xxxx%
Bc Company Beta xxxx
Re Cost of equity xxxx%
Post Tax WACC - xxxx%
Pre Tax WACC - xxxx%
WACC diperlukan untuk menentukan nilai capital dari asset yang dibangun oleh operator. Dalam perhitungan biaya dan tarif sewa saluran siaran ini, nilai WACC yang digunakan adalah WACC pre tax
Pengalokasian biaya modal dilakukan dengan menggunakan formula WACC sebagai berikut :
E D E r E D D r T WACC pre tax Debt post tax Equity post tax
c + + + − = ) 1 (
( )
Dimana:• r Debt post tax : (Risk free rate + debt risk premium) * (1 – Tc)
• r Equity post tax : Risk free rate + (Beta * market risk premium)
• Tc : Marginal tax rate
• D : Market value of debt
• E : Market value of equity
Sumber data untuk variabel risk free rate, debt risk premium, beta, market risk premium, marginal tax rate, market value of debt, dan market value of equity menggunakan data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Dalam hal Bank Indonesia hanya menerbitkan data yang digunakan dalam menghitung variabel di atas, maka besaran variabel yang digunakan merupakan hasil perhitungan dengan menggunakan data tersebut.
Data/informasi yang terkait dengan perhitungan nilai WACC adalah data yang mensupport untuk perhitungan di atas, diantaranya adalah Market value of Debt (D), Market value of Equity ( E ), dan faktor Beta.
5.7 Sheet 5 : Economic Costing
Sheet ini merupakan resume hasil perhitungan biaya sewa saluran siaran, yang berisi mengenai perhitungan biaya secara ekonomi (economic costing).
Sheet ini terdiri dari beberapa tabel-tabel, yakni:
a. Tabel penambahan aset pertahun, penambahan instalasi pertahun dan biaya operasional setiap tahun
Tabel ini menambahkan semua kelompok biaya untuk setiap elemen infrastruktur disetiap tahunnya yang dikaitkan dengan tren kenaikan/penurunan yang terjadi, seperti yang telah dihitung dalam berbagai sheet yang secara kolektif membentuk perhitungan biaya infrastruktur. Perhitungan biaya mempertimbangkan biaya setiap elemen infrastruktur di setiap tahun untuk:
1) Tambahan Aset; 2) Instalasi;
b. Tabel Akumulasi
Tabel ini menyusun kembali data di tabel penambahan aset pertahun, penambahan instalasi pertahun dan biaya operasional setiap tahun dalam kondisi kumulatif terhadap periode yang dicakup oleh model.
c. Tabel Penyusutan
Tabel ini menambahkan seluruh kelompok beban penyusutan untuk setiap elemen infrastruktur (berdasar pada nilai MEA dan beban biaya instalasi) untuk setiap tahun, seperti yang telah dihitung. Hasilnya adalah beban penyusutan berdasarkan elemen
infrastruktur untuk setiap tahun.
d. Tabel Nilai Sisa Produksi dari asset diawal periode
Tabel ini menambahkan semua kelompok nilai sisa produksi dari aset diawal tahun untuk setiap elemen infrastruktur di setiap tahunnya, seperti yang telah dihitung dalam berbagai sheet. e. Tabel Pengembalian Investasi atas aset pertahun (ROCE)
Tabel ini menghitung pengembalian aset untuk setiap tahunnya. Hal ini dilakukan dengan mengalikan nilai sisa produksi aset diawal periode dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC) di sheet WACC. Hasilnya mewakili pengembalian yang dibutuhkan dari
kapital yang digunakan untuk menghasilkan level aset yang terlibat. f. Tabel Biaya capex per tahun (Tabel Penyusutan + Tabel
Pengembalian atas investasi)
Tabel ini menghitung biaya jasa tahunan yang berhubungan dengan capex (atau biaya tahunan capex) dengan menambahkan
penyusutan dan pengembalian aset.
g. Tabel Beban Biaya capex + opex tahunan
Tabel ini menghitung beban biaya tahunan total dari infrastruktur, seperti yang dimodelkan, dengan menambah capex tahunan ke dalam pengeluaran operasional (opex) untuk setiap elemen infrastruktur untuk setiap tahun.
5.8 Sheet 6 : Corporate Margin
Tabel ini menyatakan kembali input Corporate Margin (Mark-up) atau yang terdiri dari biaya umum, % PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) seperti BHP frekuensi dan BHP penyelenggara. Nilai mark-up merupakan prosentase yang digunakan sebagai
tambahan atas biaya layanan (services costing) agar menjadi services pricing. Biaya mark-up ini merupakan biaya commont cost yang dialokasikan pada biaya sewa saluran siaran. Biaya mark-up diperoleh dengan menggunakan data historis laporan keuangan dengan memisahkan biaya common cost untuk multipleksing (network cost) dan biaya retail.
Tabel 10. Tabel input Corporate Margin
% Sumber
Common Cost 10,00% Assumption
BHP Frekuensi 2,00% Assumption
BHP Penyelenggara 0,00% Postel
12,00% Total Corporate Margin
5.9 Sheet Bitrate Result
Tabel 11. Contoh Tabel Parameter Teknis Konfigurasi Multipleksing
Channel Bandwidth 8 MHz
Inter Carrier Spacing 2.232 Hz
Signal Bandwidth 7,61 MHz Targeted Duration 25 us GI Duration 112,00 us Frame Duration 24,30 ms FFT size 4K GI size 1/4 Pilot Pattern PP1 Preamble P1 0,93% Guard Interval 25,00% All Pilots 12,05% Total Overhead 37,98% P1 duration 224 us P2 duration 2.240 us Data Duration 21.840 us Frame Duration 24.304 us Technical Parameter
Sheet ini merupakan sheet ringkasan dari perhitungan bitrate yang bisa dihasilkan oleh sistem multipleksing DVB T-2 dengan konfigurasi infrastruktur yang telah dipilih pada sheet “result”.
Konfigurasi infrastruktur ini akan berpengaruh terhadap bitrate total sebuah multiplekser yang bisa disewakan kepada penyewa.
Ada beberapa parameter yang sangat mempengaruhi bitrate yang bisa dihasilkan oleh suatu multiplekser seperti yang ditampilkan pada sheet diatas. Semakin besar bitrate yang bisa dihasilkan oleh suatu multipleksing, maka semakin banyak kapasitas yang bisa disewa oleh penyewa (penyelenggara konten).
Tabel 12. Tabel Hasil Perhitungan Bitrate dan Carrier to Noise Ratio (C/N) Modulation Bitrate C/N 1 QPSK - 1/2 4,67 Mbps 1,0 dB 2 QPSK - 3/5 5,62 Mbps 2,3 dB 3 QPSK - 2/3 6,28 Mbps 3,1 dB 4 QPSK - 3/4 7,03 Mbps 4,1 dB 5 QPSK - 4/5 7,50 Mbps 4,7 dB 6 QPSK - 5/6 7,83 Mbps 5,2 dB 7 16QAM - 1/2 9,39 Mbps 6,0 dB 8 16QAM - 3/5 11,28 Mbps 7,6 dB 9 16QAM - 2/3 12,55 Mbps 8,9 dB 10 64QAM - 1/2 14,06 Mbps 9,9 dB 11 16QAM - 3/4 14,11 Mbps 10,0 dB 12 16QAM - 4/5 15,05 Mbps 10,8 dB 13 16QAM - 5/6 15,67 Mbps 11,4 dB 14 64QAM - 3/5 16,89 Mbps 12,0 dB 15 256QAM - 1/2 18,78 Mbps 13,2 dB 16 64QAM - 2/3 18,83 Mbps 13,5 dB 17 64QAM - 3/4 21,14 Mbps 15,1 dB 18 64QAM - 4/5 22,56 Mbps 16,1 dB 19 256QAM - 3/5 22,56 Mbps 16,1 dB 20 64QAM - 5/6 23,55 Mbps 16,8 dB 21 256QAM - 2/3 25,06 Mbps 17,8 dB 22 256QAM - 3/4 28,22 Mbps 20,0 dB 23 256QAM - 4/5 30,11 Mbps 21,3 dB 24 256QAM - 5/6 31,38 Mbps 22,0 dB
5.10 Sheet Basic Calculation Bitrate
Sheet ini merupakan sheet perhitungan detil basic konfigurasi multiplekser DVB T-2 dengan konfigurasi yang telah diatur pada sheet “result”.
Tabel 13. Contoh perhitungan detil konfigurasi multiplekser DVB T-2 Channel BW 8,0 MHz Elementary Period 7/64 us
Target 25 ms
FFT size 4K Symbol Duration (Tu) 4.096 T GI size 1/4 us GI Duration (∆g) 1.024 T Pilot Pattern PP1 Full Symbol Duration 5.120 T
Carrier spacing 1/TU (Hz) 2.232 Hz Symbol Duration (us) 448 us
Sub-carriers (per symbol) 3.409 GI Duration (us) 112 us
Signal Bandwidth 7,61 MHz Full Symbol Duration (us) 560 us
5.11 Sheet Bitrate Calculation
Sheet ini merupakan sheet lanjutan perhitungan untuk konfigurasi multiplekser DVB T-2, dimana output akhir dari sheet ini adalah sudah berupa bitrate yang bisa dihasilkan dengan konfigurasi yang telah dipilih oleh penyelenggara.
Tabel 14. Contoh Hasil Perhitungan Bitrate untuk setiap konfigurasi multiplekser
n° Constel-lation Code rate
Brut Spectral Efficiency Brut Bitrate w/o Overhead Net Bitrate w Overhead