• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Perundingan tentang MIDEC

3. MANUFACTURING INDUSTRY DEVELOPMENT CENTER (MIDEC)

3.1 Hasil Perundingan tentang MIDEC

ntuk memulihkan perekonomian yang hancur akibat perang dunia ke-2 didengungkan konsep perdagangan bebas. Pada saat itu masih berlaku sistem perdagangan dunia yang bersifat proteksionisme. Dalam hubungan ini, sementara itu, untuk memperlancar perdagangan dunia dibentuk General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947 dengan tujuan mengurangi hambatan tarif, pembatasan jumlah (seperti kuota perdagangan) dan subsidi. GATT saat itu belum berbentuk sebagai suatu organisasi, hanya sebagai wadah/sarana untuk melakukan perundingan-perundingan yang menghasilkan perjanjian-perjanjian. Pada tanggal 1 Januari 1995 dibentuk wadah organisasi terstruktur yaitu World Trade Organization (WTO) dengan keanggotaan awal terdiri dari 75 anggota GATT. Dengan berjalannya waktu keanggotaan WTO terus berkembang sehingga sampai dengan pada tahun 2007 sudah terdaftar 151 negara anggota.

Walaupun organisasi WTO telah terbentuk, namun untuk memufakati perjanjian guna membuat perdagangan bebas dunia berjalan terasa sangat lambat dan mengalami banyak sekali kendala. Permasalahan utama adalah kepentingan negara maju yang berbeda dengan kepentingan negara berkembang dan negara belum

U

berkembang, sehingga sulit mencapai titik temu dalam menentukan rumusan perdagangan bebas.

Sebagai akibatnya beberapa negara dalam suatu kawasan atau region membentuk suatu kerjasama ekonomi, khususnya perdagangan, yang merupakan kawasan perdagangan bebas atau Free trade Area (FTA). Sebagai contoh antara lain: Uni Eropa (UE), North Amerika Free trade Area (NAFTA), ASEAN Free trade Area (AFTA), SAPTA, Mercosur, dan lain sebagainya. Cakupan kerjasama ini adalah bagian dari kerjasama multilateral yang dikenal sebagai kerjasama regional.

Kerjasama kawasan atau regional ini pada kenyataannya tidak terbatas hanya antara negara dalam suatu kawasan tetapi juga dengan kelompok dari kawasan lain atau dengan negara lain yang jauh dari kawasannya. Kerjasama tersebut disebut juga kerjasama biregional atau bilateral. Salah satu kawasan regional yang aktif dalam mengadakan kerjasama perdagangan dengan negara-negara lain adalah Uni Eropa. Beberapa kerjasama perdagangan yang sudah dilaksanakan oleh UE antara lain dengan Meksiko, Chili, ACP, Central America dan Andean Community. Uni Eropa juga tengah menjajagi kerjasama dengan ASEAN minus three.

Selain itu pihak ASEAN akhir-akhir ini aktif melakukan kerjasama dengan negara-negara seperti;Cina, India, Korea dan Jepang. Sementara kerjasama yang masih dalam tahap penjajakan adalah dengan Australia New Zealand (ANZ). Khusus dengan Jepang walaupun telah membuat perjanjian dengan ASEAN, namun juga menjalin kerjasama secara bilateral dengan negara anggota ASEAN, seperti dengan Indonesia melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreemen (IJEPA)

Jepang juga aktif menjalin kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara baik mitra utamanya maupun dengan negara-negara-negara-negara yang dianggap potensial. Jepang sangat memerlukan kondisi pasar yang akomodatif untuk mengerakkan kembali perekonomiannya yang mengalami stagnasi sejak tahun 1990-an.

Negara-negara yang menjadi target Jepang untuk mengadakan perjanjian EPA adalah negara di Asia Timur seperti Korea, Cina serta Asia Tenggara, khususnya yang telah tergabung dalam ASEAN. Namun tidak menutup pula kerjasama dengan negara yang dianggap potensial maupun perjanjian dengan skema multilateral seperti Asian Pacific Economic Cooperation (APEC), Asia-Europe Meeting (ASEM), serta The Gulf Cooperation Council. Saat ini Jepang telah memasuki tahap pelaksanaan kerjasama EPA tersebut dengan beberapa negara seperti: Meksiko, Chili, Singapura, Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Selain itu saat ini Jepang juga

masih dalam proses negosiasi dengan Vietnam, India, Cina, Cambodia, Laos dan yang masih alot sejak tahun 2004 adalah dengan Korea Selatan. Yang masih dalam proses penjajakan untuk mengadakan EPA ialah Swiss, Brasil, Australia dan Selandia Baru.

Perundingan bilateral antara Indonesia dengan Jepang telah diselesaikan dan di dituangkan dalam perjanjian kerjasama bilateral di bidang ekonomi (Indonesia Jepang Economy Partnership Agreement–IJEPA) yang ditandatangani oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Jepang Mr. Shinzo Abe pada tanggal 20 Agustus 2007 di Jakarta. Sejak tanggal 1 Juli 2008 perjanjian tersebut secara resmi dilaksanakan oleh kedua negara.

Dalam perjanjian IJEPA terdapat 11 elemen yang disepakati yaitu:

1. Trade in Goods; 2. Rules of Origin; 3. Customs Procedures; 4. Investment;

5. Trade in Services;

6. Move of Natural Persons; 7. Energy and Mineral Resources; 8. Intellectual Property Right; 9. Government Procurement; 10. Competition Policy; 11. Cooperation;

Dari 11 elemen tersebut, yang sangat terkait dengan sektor Industri adalah: (1) Trade in Goods; (2) Rules of Origin; (3) Trade in Services dan (4) Cooperation.

Terkait dengan elemen Cooperation pihak Jepang menyatakan komitmennya untuk membantu pihak Indonesia meningkatkan kapasitas industrinya (capacity builiding) agar produk/jasa yang dihasilkan bisa memenuhi persyaratan mutu yang dituntut oleh pasar Jepang. Untuk meningkatkan kapasitas sektor industri ini, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan berupa: Basic study, Technical assistance/ Dispatch Expert, Training/TOT dan Seminar/workshop.

Khusus pada sektor industri diutamakan pengembangan industri manufaktur melalui Manufacturing Industry Development Center (MIDEC) dan difokuskan pada pengembangan produk-produk otomotif, elektronika, alat berat dan kontruksi, dan kegiatan sektor energi.

Dalam mengembangkan produk-produk di atas kegiatan MIDEC dengan capacity builidingnya dilakukan terhadap 13 sektor industri yang terdiri dari sektor industri penunjang (cross sectoral), sektor industri khusus (specific sector) dan sektor industri/kegiatan yang menciptakan lapangan kerja sebagai pemacu peningkatnya kesejahteraan. Sektor-sektor dimaksud adalah :

a) Sektor Industri Penunjang (Cross sectoral) mencakup : 1) Industri pengerjaan logam (metal working), 2) Industri Mould & Dies dan

3) Pengelasan (welding)

4) Konservasi energi (energy conservation) b) Sektor industri khusus (specific sector) mencakup ;

5) Industri Automotive, 6) Industri Electric/electronics, 7) Industri baja & produk baja, 8) Industri tekstil,

9) Industri bukan baja dan 10) Industri makanan & minuman,

11) Industri petrokimia & kimia oleo (petro & oleo chemical)

c) Sektor industri/kegiatan yang menciptakan lapangan kerja mencakup ; 12) Industri kecil dan menengah (small and medium-scale enterprises

(SMEs)),

13) Promosi investasi dan ekpor industri (investment & industrial export promotion),

Untuk mengembangkan kapasitas industri (capacity builiding) dibuat kegiatan tiap-tiap subsektor industri, sehingga keseluruhannya berjumlah 94 kegiatan yang merupakan bantuan dari pihak Jepang.