• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Sejarah PT. NSK Secara Umum

4.1.3 Hasil Produk Dari PT. NSK

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

41

4. 1. 3 Hasil Produk dari PT. NSK

Hasil produk dari PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia adalah komponen “Bearing”. Berikut berupa contoh (sample) dari Bearing yang diproduksi.

Gambar 4. 3 Contoh Produk PT. NSK

4. 1. 4 Aplikasi Penggunaan Komponen Bearing

Aplikasi penggunaan komponen bearing yang diproduksi PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia kebanyakan pada peralatan elektronik, misalkan :

1. Peralatan kantor : Mesin Fax, Foto Copy, Printer, Hardisk pada Computer, dll.

2. Peralatan rumah tangga : Mesin Pemotong Rumput, AC, VCD, DVD, Peralatan Dokter Gigi, Kipas Angin, dll.

Untuk lebih jelasnya ditampilkan gambar visualisasi pada halaman lampiran.

4. 2. Komponen / Parts Untuk Bearing

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

42

1. Inner Ring 2. Outter Ring 3. Ball

4. Cage (Plastic Cage & Iron Cage) 5. Seal (Shield & Seal)

6. Grease

Gambar 4. 4 Komponen (parts) Untuk Bearing

4. 2. 1. Beberapa jenis material dari supplier : 1. SHIELD (Penutup Bearing dari Seng)

Supplier : PT. Sudo Indonesia (Local Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

BAGIAN- BAGIAN BEARING

ALUR BOLA (Raceway) BOLA

(ball)

SANGKAR BOLA (Cage) RING LUAR

(Outer ring)

RING DALAM (Inner ring)

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

43

2. SEAL (Penutup Bearing dari Karet)

Supplier : PT. Toyo Seal Indonesia (Local Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

3. BALL (Bola Baja)

Supplier : PT. AKS Indonesia (Local Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

4. PLASTIC CAGE (Sangkar Bola dari Plastik) Supplier : PT. AKS Indonesia (Local Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

5. IRON CAGE (Sangkar Bola dari Logam) Supplier : NSK Chugai Japan (Import Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

6. GREASE (Pelumas yang berupa Gemuk) Supplier : NSK Chugai Japan (Import Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, pada saat proses perakitan Bearing (Assembly).

7. INNER RING (Ring Dalam)

Supplier : NSK Chugai Japan (Import Supplier)

Supplier : NSK Chugai Japan (Import Supplier)

Kondisi : Diproses di PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia, dari

Proses produksi untuk perakitan Bearing adalah sebagai berikut :

RING LUAR

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

45

1. Perakitan pada Proses Assembly

Pada proses ini komponen yang dirakit antara lain : Outter Ring, Inner Ring, Ball dan Cage (Cage Plastik atau Cage Logam).

1. Supply Outter Ring kedalam dial loader.

2. Supply Inner Ring kedalam dial loader.

3. Ukur diameter Outter Ring dengan menggunakan measuring jaw.

4. Ukur diameter Inner Ring dengan menggunakan measuring jaw.

5. Atur ball supply pada system komputer.

6. Pengisian ball diantara Outter Ring dan Inner Ring.

7. Pengecekkan kondisi dari ball.

8. Pengisian Cage (sangkar bola).

9. Pengecekkan kondisi bearing setengah jadi.

10. Supply ke proses selanjutnya.

2. Perakitan Pada Proses Final

1. Pencucian bearing setengah jadi dengan menggunakan kerosene.

2. Pengisian Grease (pelumas) sesuai dengan ukurannya.

3. Pengecekkan kondisi Grease (Grease Weight).

4. Pemberian penutup (Shield / Seal).

5. Pengecekkan kondisi penutup (Shield / Seal).

6. Pemberian anti rust (Pelumas untuk mencegah karat).

7. Pengecekkan kondisi bearing secara visual.

8. Supply ke proses berikutnya.

3. Pengecekkan Quality dengan menggunakan Noise Tester.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

46

1. Supply bearing kedalam dial loader.

2. Atur Noise Tester Computer sesuai dengan spesifikasinya.

3. Lakukan pengecekkan noise bearing secara otomatis.

4. Lakukan pengecekkan ulang secara manual pada bearing yang disortir.

5. Hasil dari pengecekkan manual kalau hasilnya OK bisa dicampur dengan hasil pengecekkan otomatis yang OK dan apabila hasilnya NG langsung ditempatkan pada kotak box yang reject.

6. Penghitungan quantity sesuai dengan lot no. dan spesifikasinya.

7. Supply pada proses berikutnya.

4. Proses Packing

1. Cek dan input travel card sesuai dengan spesifikasinya.

2. Cetak label per travel card.

3. Taruh label dan dokumen pada bearing yang akan dipacking.

4. Packing kedalam karton box per travel card.

5. Tempelkan label pada carton box sesuai dengan posisinya.

6. Cek kondisi label dan travel card-nya dan lakukan penimbangan untuk mengechek kondisi dari quantity bearing.

7. Tulis pada check sheet tentang pengecekkan akhir.

8. Tempat hasil packing pada pallet sesuai dengan type-nya.

9. Double cek kondisi label dan travel card-nya.

10. Lakukan packing per pallet sesuai dengan type bearing-nya.

11. Berikan label pada setiap pallet sesuai dengan PO dan invoice-nya.

12. Pindahkan ke dalam gudang barang jadi.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

48

4. 3. 3. Data Hasil Sales (Penjualan)

Adapun untuk Sales selama 3 bulan (dari Januari 2007 sampai dengan Maret 2007) kondisi rencana dan actual produksi adalah sebagai berikut :

JAN-07 ~ MAR-07 SALES RESULT

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

51

4.3. 5. Pemilihan Sample Untuk Penelitian

Dari data tersebut diatas maka type produk yang paling banyak diproduksi adalah type produk 608 yaitu 15. 005. 340 pcs. (51,123 %). Untuk itu penulis mencoba meneliti dan menganalisa dari produk 608 dengan data – data sebagai berikut :

1. Data produksi yang digunakan adalah data pada bulan Januari 2007.

2. Type produknya adalah 608T1XGZZ1MC3ER-01 J2 PS2L5.

3. Prosesnya pada perakitan bearing (Assembly Process, Final Assembly Process).

4.3. 6. Kondisi Siklus Terhadap Komponen

Berdasarkan proses perakitan dan jenis mesin yang digunakan maka Cycle Time nya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3 Cycle Time Pada Mesin Yang Dipakai

NO. KOMPONEN PROSES Nama Mesin Cycle Time

1 Outter Ring Assembly process AU-Machine 2.5 Detik

2 Inner Ring Assembly process AU-Machine 2.5 Detik

3 Ball Assembly process AU-Machine 2.5 Detik

4 Plastic Cage Assembly process AU-Machine 2.5 Detik

5 Grease Final Process AG-Machine 2.3 Detik

6 Shield Final Process AG-Machine 2.3 Detik

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

52

Dari data tersebut diatas untuk mengetahui kondisi WIP awal pada tiap – tiap komponen, maka dapat dihitung berdasarkan WIP per proses, quantity dari tiap komponen tersebut dipakai dan cycle time dari mesin yang digunakan pada proses tersebut. Adapaun datanya adalah sebagai berikut : Manufacturing Indonesia adalah sistem kereta kosong dimana sistem pengendalian produksi dipenuhi dengan mengeluarkan berbagai jadwal produksi pada semua

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

53

proses baik proses pembuatan komponen maupun lini perakitan akhir sehingga proses terdahulu memasok komponen pada proses berikutnya. Dengan penerapan sistem ini masih terdapat jumlah WIP yang cukup tinggi. Dan data jumlah WIP awal dapat dilihat pada tabel 4.4.

Sistem pengendalian produksi yang diusulkan adalah sistem produksi tepat waktu dimana proses berikutnya akan mengambil komponen dari proses terdahulu atau lebih dikenal dengan sistem tarik. Sistem tarik yang dimaksudkan disini adalah Kanban. Sistem ini terutama diterapkan untuk mengurangi jumlah WIP yang cukup tinggi pada sistem kereta kosong. Pada sistem ini, hanya lini rakit akhir yang dapat mengetahui dengan tepat penetapan waktu yang diperlukan dan jumlah komponen yang dibutuhkan. Lini rakit akhir akan pergi ke proses terdahlu untuk mendapatkan komponen yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan dalam perakitan. Lalu proses terdahulu memproduksi suku cadang yang diambil oleh proses berikutnya. Dari uraian diatas maka dibutuhkan 2 jenis kanban.

Kanban pertama digunakan untuk mengambil komponen yang diperlukan pada waktu yang diperlukan, sedangkan kanban kedua digunakan sebagai perintah produksi untuk proses terdahulu agar memproduksi komponen yang diambil oleh proses berikutnya. Sehingga kanban yang diusulkan untuk mengendalikan persediaan di lantai produksi PT. NSK Bearing Manufacturing Indonesia adalah sistem kanban 2 kartu, yaitu :

1. Kanban Pengambilan ( Conveyance Kanban ) 2. Kanban Perintah Produksi ( Production Kanban )

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

54

Penggunaan sistem kanban 2 kartu ini akan memberikan pengendalian yang ketat terhadap persediaan di lantai produksi karena tidak ada kontainer yang dipindahkan maupun diisi tanpa adanya kanban pengambilan ( selanjutnya akan disebut C – Kanban ) dan kanban perintah produksi ( selanjutnya akan disebut P – Kanban ).

4. 4. 2 Kanban Perintah Produksi ( P – Kanban )

Kanban perintah produksi digunakan sebagai autorisasi untuk memproduksi atau merakit komponen-komponen yang diperlukan. Oleh karena itu, rancangan format P – Kanban yang diusulkan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5 Format P-Kanban yang akan diusulkan

No. Komponen 0701/P-KANBAN/003 Proses

Nama Komponen Plastic Cage

Tipe Kontainer Z-AU MACHINE-01

Kapasitas Kontainer 2633 pcs.

No. Keluaran 0701/SHIFT1/005

Press Cage

Format P – Kanban yang diusulkan terlihat pada gambar diatas. Keterangan dari masing-masing bagian P – Kanban adalah sebagai berikut :

1. No. Komponen menspesifikasikan nomor barang yang akan diproduksi atau dirakit.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

55

2. Nama komponen menspesifikasikan jenis barang yang akan diproduksi atau dirakit.

3. Tipe kontainer menspesifikasikan jenis kontainer yang akan memuat part tersebut.

4. Kapasitas kontainer menspesifikasikan jumlah barang yang bisa dimuat oleh kontainer tersebut.

5. No. keluaran menspesifikasikan nomor urutan kanban dari keseluruhan jumlah kanban yang ada untuk memenuhi permintaan tersebut.

6. Proses menspesifikasikan tempat / stasiun kerja yang memproduksi atau merakit bagian tersebut.

4. 4. 3 Kanban Pengambilan ( C – Kanban )

Kanban pengambilan digunakan sebagai autorisasi untuk memindahkan kontainer dari outbound buffer proses terdahulu ( sebelumnya ) ke inbound buffer proses berikutnya. Oleh karena itu, rancangan format C – Kanban yang diusulkan adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6 Format C-Kanban yang akan diusulkan

No. Komponen 0701/C-KANBAN/003 Proses

Sebelumnya

Nama Komponen Plastic Cage Cage Press

Tipe Kontainer Z-AU MACHINE-01 Proses Berikutnya

Kapasitas Kontainer 2633 pcs.

No. Keluaran 0701/SHIFT1/010

Cage Checker

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

56

Keterangan dari masing-masing bagian C – Kanban adalah sebagai berikut :

1. No. komponen menspesifikasikan nomor barang yang akan diambil. Untuk menghindari kesalahan pengambilan maka penggunaan nomor part yang sama tidak diperbolehkan.

2. Nama komponen menspesifikasikan jenis barang yang dibutuhkan oeh proses berikutnya.

3. Tipe kontainer menspesifikasikan jenis kontainer yang digunakan untuk mengangkut barang yang ada didalamnya.

4. Kapasitas kontainer menspesifikasikan jumlah barang yang bisa dimuat oleh kontainer tersebut.

5. No. keluaran menspesifikasikan nomor urutan kanban dari keseluruhan jumlah kanban yang ada. Proses terdahulu menspesifikasikan tempat /stasiun kerja yang membuat barang tersebut dan juga merupakan tempat pengembaliannya.

6. Proses terdahulu menspesifikasikan tempat atau stasiun kerja yang membuat barang tersebut dan juga merupakan tempat pengembaliannya.

7. Proses berikut menspesifikasikan tempat atau stasiun kerja yang membutuhkan barang tersebut dan kemana kontainer tersebut harus dibawa.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

57

4. 4. 4 Rancangan Aliran Kanban

4.4.4.1 Aliran Kanban Perintah Produksi

Kanban perintah produksi ( P- kanban ) akan beredar di stasiun kerja sebagai autorisasi untuk memproduksi part yang diminta oleh proses sebelumnya. Untuk itu P – Kanban akan berada pada stasiun-stasiun kerja berikut ini :

Tabel 4.7 Aliran P-Kanban Perintah Produksi

NO. JENIS PROSES NAMA MESIN

1 Innering & Outtering Supply AU - Machine

2 Matching Checker AU - Machine

3 Ball Hopper AU - Machine

4 Cage Press AU - Machine

5 Cage Checker AU - Machine

6 Grease Supply AG - Machine

7 Grease Checker AG - Machine

8 Shield Press AG - Machine

9 Shield Checker AG - Machine

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

58

4. 4. 4. 2 Aliran Kanban Pengambilan

Inner & Outter Supply

Matching Checker

Ball Hopper

Ball Checker

Cage Press

AU - MACHINE

Cage Checker

Grease Insertion GUDANG

BAHAN BAKU

Grease Checker

Shield Press

AG-MACHINE

Shield Checker

Gambar 4.9 Distribusi Material dari Gudang Bahan Baku

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

59

4. 4. 5 Perhitungan Jumlah Permintaan dan Kapasitas Kontainer Masing- Masing Komponen

Data kebutuhan komponen per unit dan permintaan komponen perbulan diperoleh dari data perusahaan yaitu data permintaan bulan Januari 2007 untuk produk type 608. Permintaan komponen per hari diperoleh dengan cara permintaan perbulan dibagi jumlah hari perakitan komponen pada bulan Januari 2007 yaitu 30 hari. Kapasitas kontainer (Q) disesuaikan dengan kondisi dan model kontainer dari supplier (Normal yang ada dipasaran) adalah seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.8 Kebutuhan Komponen Per Hari

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

71 BAB V

ANALISA DAN PEMBAHASAN

5. 1 Analisa Terhadap Rancangan Format Kanban

Dalam mengaplikasikan methoda kanban ditempat kerja rancangan format kanban akan sangat menentukan bentuk / pola pengendalian material di gudang.

Untuk mengendalikan persediaan di lini perakitan berupa barang dalam proses digunakan sistem tarik. Pada sistem ini proses berikutnya akan mengambil material dari proses terdahulu. Sistem tarik yang digunakan sebagai tanda untuk mengatur aliran material diantara stasiun kerja adalah sistem kanban. Sistem kanban akan berfungsi sebagai autorisasi untuk melakukan proses produksi dan juga sebagai autorisasi untuk mengambil komponen yang diperlukan pada waktu yang diperlukan.

Sehubungan dengan fungsi pertama maka jenis kartu kanban yang diusulkan adalah kanban perintah produksi ( P-Kanban ), sedangkan untuk memenuhi fungsi kedua diusulkan penggunaan kanban pengambilan ( C-Kanban ).

Dengan adanya sistem pengendalian menggunakan dua kartu kanban, maka dapat dilakukan pengendalian yang ketat terhadap persediaan di lini perakitan mengingat bahwa jumlah kartu P-Kanban akan membatasi jumlah maksimal kontainer di outbound buffer dan jumlah kartu C-Kanban akan membatasi jumlah maksimal kontainer di inbound buffer dari masing-masing stasiun kerja. Dengan adanya pembatasan jumlah kontainer di outbound buffer maupun inbound buffer maka jumlah barang dalam proses di lini perakitan dapat di minimasi. Sehingga persediaan barang / material dapat disesuaikan dengan kebutuhan produksi.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

72 5.2. Analisa Terhadap Aliran Kanban di Lini Perakitan

Format dari aliran kanban di lini perakitan terdiri dari dua macam aliran sesuai dengan jenis kartu kanban yang diusulkan. Jenisnya aliran kanban sebagai berikut :

1. Aliran kanban perintah produksi ( P-Kanban )

Aliran P-kanban terjadi di masing-masing stasiun kerja sesuai dengan kartu kanbannya. Jadi kartu hanya beredar di stasiun yang bersangkutan seperti tertera pada kartu P-kanban. Aliran P-kanban akan dimulai dari proses pensuplaian innering dan outtering sampai proses pengechekan shield.

Jumlah kartu kanban perintah produksi (P-kanban) yang dibutuhkan adalah sebanyak 68 kartu kanban.

2. Aliran kanban pengambilan ( C-Kanban )

Aliran C-kanban terjadi di masing-masing stasiun kerja sesuai dengan kartu kanbannnya. Jadi kartu hanya beredar di stasiun yang bersangkutan seperti tertera pada kartu C-kanban. Aliran C-kanban akan berawal dari proses Grinding 2 menuju stasiun kerja pensuplaian innering dan outtering.

Selanjutnya untuk bola, cage, grease dan shield dari gudang bahan baku sampai stasiun kerja masing - masing. Jumlah kartu kanban pengambilan (C-kanban) yang dibutuhkan adalah sebanyak 68 kartu kanban.

5.3. Analisa Terhadap Kapasitas Kontainer yang digunakan

Untuk menghitung kapasitas kontainer berdasarkan pada prosentase dari permintaan per hari pada perakitan bearing. Selain itu juga mempertimbangkan jenis kontainer dipasaran dan mudah untuk penyediaan jenis kontainer tersebut.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

73 Hasil perhitungan kapasitas kontainer dapat dilihat pada tabel 4.6. Dengan adanya batasan kapasitas kontainer maka persediaan barang dalam proses dapat dibuat seminimal mungkin dengan membatasi jumlah kartu kanban, baik kanban perintah produksi maupun kanban pengambilan.

5.4. Analisa Terhadap Perhitungan Jumlah Kanban

Untuk perhitungan jumlah kartu P-kanban dan C-kanban digunakan data hasil produksi pada bulan Januari 2007 yang telah dihitung sebelumnya yaitu 26.330 pcs / hari / line. Selain itu 1 hari kerja dihitung selama 24 jam yaitu dari pukul 06.00 shift 1 sampai dengan pukul 06.00 shift 1 hari berikutnya.

Dari hasil perhitungan didapat jumlah kartu kanban untuk P-Kanban adalah sebagai berikut : Inner Ring = 10 kartu kanban, Outter Ring = 10 kartu kanban, Ball = 20 kartu kanban, Cage = 10 kartu kanban, Grease = 3 kartu kanban dan Shield = 15 kartu kanban.

Sedangkan hasil perhitungan didapat jumlah kartu kanban untuk C-Kanban adalah sebagai berikut : Inner Ring = 10 kartu kanban, Outter Ring = 10 kartu kanban, Ball = 20 kartu kanban, Cage = 10 kartu kanban, Grease = 3 kartu kanban dan Shield = 15 kartu kanban.

5.5. Analisa Perhitungan Jumlah WIP Dari Usulan Penerapan Kanban Untuk menerapkan sistem kanban dengan memperhitungkan jumlah pemakaian kartu P-kanban dan C-kanban di masing-masing stasiun dan antar stasiun kerja akan membatasi jumlah kontainer di inbound buffer dan outbound buffer.

Untuk menghitung jumlah WIP akhir ( berdasarkan usulan penerapan kanban ),

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

74 jumlah kartu P-kanban dan C-kanban di masing-masing stasiun kerja akan dibandingkan, kemudian di pilih jumlah yang lebih besar dan kalau sama dipilih salah satunya. Jumlah tersebut akan dikalikan dengan kepastian kontainer dari komponen yang bersangkutan untuk mendapatkan jumlah WIP akhir seperti dapat dilihat pada tabel 4.9.

5.6. Analisa Terhadap Persentase Penurunan Jumlah WIP

Dari perhitungan penurunan jumlah WIP awal dan akhir ( usulan penerapan Kanban ) akan dibandingkan untuk melihat persentasi jumlah penurunan WIP dengan adanya penerapan sistem kanban pada lini perakitan roda. Persentase penurunan peroperasi di masing-masing stasiun kerja dapat dilihat pada tabel 4.10.

Presentase penurunan jumlah WIP terbesar adalah pada proses shield press sebesar 29.92%, dan terkecil pada proses ring supply dan cage press dengan 23.81%. Rata-rata penurunan jumlah WIP untuk lini perakitan roda adalah 25.85% pada tabel 4.11.

Dari hasil perhitungan diatas dapat membuktikan bahwa usul penerapan sistem ini akan menurunkan jumlah WIP di lini perakitan bearing yang pada akhirnya akan menurunkan biaya investasi dan meningkatkan laba perusahaan.

5.7. Analisa Penerapan Sistem Kanban Di Proses Produksi (Simulasi)

Tujuan utama dari penerapan sistem kanban adalah untuk memastikan bahwa output produksi sesuai dengan permintaan. Secara ideal, pengendalian produksi memastikan bahwa produk-produk dibuat sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan (required quntities), pada waktu yang tepat (right times), dengan kualitas terbaik (highest quality). Dengan demikian dengan menerapkan sistem kanban yang

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

75 benar maka akan didapatkan beberapa keuntungan diantara adalah sebagai berikut : 1. Mereduksi biaya dengan menghilangkan pemborosan terhadap stok

material yang berlebihan.

2. Mencoba untuk menciptakan tempat kerja yang dapat merespon secara cepat terhadap adanya perubahan

3. Mendukung metode-metode untuk mencapai dan memastikan pengendalian kualitas

4. Merancang tempat kerja berdasarkan rasa kemanusiaan, kepercayaan dan dukungan, dan membiarkan para pekerja mencapai potensi maksimalnya.

Untuk menerapkan dan melaksanakan sistem kanban secara baik dan berkesinambungan perlua dibuat suatu tata cara dan aturan sebagai berikut :

1. Perlunya dibentuk suatu regu kerja / team yang mendapat tanggung jawab dalam hal perencanaan dan pengendalian, dengan pengontrolan yang ketat..

2. Penekanan pada hal berproduksi untuk memenuhi permintaan saja sehingga tidak ada over produksi.

3. Adanya motivasi yang besar dan kuat untuk bersama-sama mengurangi persediaan dan memindahkan persediaan yang tidak diperlukan.

4. Sistem pencegahan dan perawatan mesin yang memadai untuk mengurangi breakdown.

5. Adanya Quality Control (QC) untuk mencegah terjadinya kecacatan produksi.

6. Mengurangi waktu set up dan menjaga agar mesin tetap stabil dalam produksi sesuai dengan schedule produksi.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

76 7. Perlu mengatur tata letak pabrik sehingga mampu menghubungi keseluruhan

operasi (tata ruang proses) sehingga tercipta aliran material yang tersinkronisasi.

8. Perencanaan dan jadwal produksi harus dibuat seragam, sehingga sehingga proses produksi bisa lancar dan stabil.

9. Membangun lingkungan kerja yang kooperatif dan kerjasama tim kerja yang solid karena banyaknya keputusan yang pengambilannya dilakukan oleh regu kerja dilantai produksi tersebut.

5.8. Antisipasi Dan Pencegahan Terhadap Abnormality

Walaupun sudah dibuat prosedure yang sedemikian rupa untuk kelacaran proses produksi, namun kadang faktor Manusia, Mesin, Material, Methode bisa menimbulkan abnormality yang datang secara tiba - tiba. Untuk itu perlu dibuat langkah – langkah sebagai berikut :

1. Bagaimana kalau ada supply material terlambat dari supplier ?

2. Bagaimana kalau mesinnya sering trouble / rusak sehingga schedule produksi bisa terlambat ?

3. Bagaimana kalau produk yang dihasilkan banyak NG / Cacat, sehingga hasil produksi yang standar bisa berkurang ?

Solusi Pencegahannya :

1. Untuk mencegah supply material terlambat dari supplier :

A. Material harus di chek dan moniator setiap hari secara ketat (Menggunakan daily chek list).

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

77 B. Diadakan pembicaraan khusus dengan supplier mengenai penerapan sistem

kanban dan dibuat kontrak kerja secara specifik (kalau ada keterlambatan supply material, NG material, jumlah material kurang, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini supplier harus bertanggung jawab.

C. Menjalankan prosedure kanban secara benar sesuai SOP / SOM.

2. Untuk mencegah mesin sering trouble / rusak sehingga proses produksi terganggu :

A. Melakukan preventive maintenance sesuai dengan schedule.

B. Menyiapkan 1 mesin sebagai cadangan, apabila ada kerusakan mesin yang serius maka dapat langsung dialihkan ke mesin cadangan.

C. Melaksanakan prosedure pengoperasian mesin secara benar sesuai SOP / SOM.

3. Untuk mencegah terjadinya NG produk / produk yang cacat, dengan quantity banyak :

A. Melakukan perbaikan quality secara berkesinambungan dengan kerja sama antara bagian Quality Control dengan bagian Produksi.

B. Melakukan periodical quality audit terhadap prosedure proses produksi.

C. Melaksanakan continous improvement dengan melibatkan operator sampai manager dengan menjalin kerja sama yang baik.

Pada Proses Perakitan Bearing Type 608 Di PT. NSK

78 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6. 1 Kesimpulan

Dari hasil penelian yang mencakup hasil pengolahan data dan analisa terhadap hasil pengolahan data, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Setelah menerapkan sistem kanban pada lini perakitan bearing maka WIP yang terjadi semakin menurun sebesar rata - rata 25,85 % dari methoda sebelumnya yang diterapkan.

2. Bentuk dari sistem kanban yang di usulkan untuk mengatur aliran material di lini produksi dalam rangka meminimasi jumlah barang dalam proses perakitan bearing menggunakan sistem kanban 2 kartu. Adapun fungsi dari masing – masing kartu kanban adalah sebagai berikut :

- Kanban Pengambilan (C-Kanban) yang berfungsi untuk membatasi

- Kanban Pengambilan (C-Kanban) yang berfungsi untuk membatasi

Dokumen terkait