• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Kajian Teori

DATA DAN HASIL TEMUAN

A. Hasil Temuan

Dalam film Le Grand Voyage ini, mengajarkan kita arti sabar, tawakal, dakwah Dzatiyah, serta aqidah yang kuat dan banyak hal baik lainnya yang bisa dipetik dari film ini. Film ini memberikan contoh bahwa kita harus tetap berusaha selagi mampu untuk melaksanakan sesuatu yang baik. Film ini juga menggambarkan dakwah dzatiyah sang Ayah untuk melakukan perjalanan akbar ini. Seperti yang terdapat dalam film ini, walaupun sudah tua, sang Ayah merasa masih mampu untuk memenuhi rukun Islam nya, sehingga ia melakukan perjalanan haji, yang di temani oleh Reda putra-nya untuk melakukan perjalanan ke Mekah. Tak hanya itu, film ini mengajarkan kita agar tidak menjadi pribadi yang Suudzon terhadap orang lain. Hal ini terjadi saat ada seorang wanita tua yang memasuki mobil mereka di tengah jalan yang luas tapa ada rumah ataupun orang lain. Walaupun Reda berfikir hal itu sangat aneh, tetapi sang ayah tetap bersikeras untuk membawa wanita tua ini ke kota. Walaupun mengajarkan untuk tidak Suudzon kepada orang lain yang tidak dikenal, film ini juga mengajarkan untuk tidak terlalu percaya pada orang yang baru dikenal, seperti sang ayah yang memang kurang yakin dengan Mustapha yang membantunya di perbatasan Turki. Tetapi lain hal nya dengan Reda, ia terlena dengan ajakan Mustapha, hingga dibuat mabuk dan akhirnya uang sang ayah di curi oleh Mustapha. Setelah kejadian tersebut, hal baik yang harus ditiru

oleh umat Muslim adalah saat sang ayah tetap ingin memberi sedekah kepada seorang wanita di Suriah, walaupun uangnya sudah tak tersisa banyak, ia tidak segan untuk tetap bersedekah.

B. Data

Data-data yang dikumpulkan oleh Penulis ialah melalui cara observasi langsung pada Film serta berdasarkan potongan scene yang ada pada film Le Grand Voyage, sebagai berikut:

1. 00.03.26 – 00.04.10

Gambar 4.1

Sang Ibu : “Sedari tadi, Ayahmu mencarimu..”

Reda : “Mau apa dia sekarang?”

Sang Ibu : “Dia ingin bicara denganmu..”

Sang Ayah : “Hari ini, Ayah tadi menemui kakakmu di kantor polisi.”

Reda : “Siapa, Khalid?”

Sang Ayah : “Dia mabuk. Dia menorobos lampu merah da tak berhenti. SIM-nya di cabut. Kini Ayah sudah tua. Ayah tak tahu cara mengemudi dan tak bisa menunggu satu tahun lagi.

Ayah sudah mempertimbangkannya, kau akan mengantar Ayah ke Mekah. Ayah sudah mengurus visa untukmu buat ke Arab Saudi.

Kita pergi di hari Minggu, waktumu empat hari untuk bersiap-siap.”

Adegan awal menampilkan kondisi pertama pahlawan memutuskan untuk melakukan perjalanan akbar.

Pahlawan merupakan tokoh sentral dan utama yang banyak terlibat dalam peristiwa. Setelah situasi awal, kemudian dilanjutkan dengan fungsi pelaku.

2. 00.04.16 – 00.05.15

Gambar 4.2

Reda : “ Dia tidak bisa naik pesawat seperti yang lainnya?

Kuberi tahu kalian, aku tak bisa berdiri dan pergi begitu

saja. Aku punya ujian akhir, aku sudah gagal sekali. Ini kesempatanku yang terakhir!”

Sang Ibu : “..(sang ibu dan adiknya hanya menatap ke Reda)”

Dialog tersebut menunjukkan Reda sangat kesal karena sang Ayah meminta nya untuk mengantarnya ke Mekah karena ia ada ujian akhir dan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengikuti ujian tersebut.

Di kamarnya, Reda terlihat sangat cemas saat ada telepon yang masuk dari sang kekasih, sambil terus melihat peta yang telah di letakkan di ubin kamarnya. Dan pada akhirnya ia memilih untuk mengantar Sang Ayah walaupun dengan perasaan kesal.

3. 00.06.13 – 00.07.13

Gambar 4.3 Sang Ayah : “Mari kita pergi..”

Pada fungsi ini pahlawan meninggalkan rumah, memutuskan untuk pergi menyelesaikan tugas. Dalam cerita ini menggambarkan peristiwa keberangkatan Reda dan Sang Ayah menuju kota Mekah untuk mengantarkan Sang Ayah pergi Haji.

4. 00.09.52 – 00.10.20

Gambar 4.4

Sang Ayah : “Ayah harus shalat..”(sambil melihat ke jam tangannya)

Reda : “Sekarang?”

Sang Ayah : “Kau parkirlah di sana”

Reda : “Bersabarlah, kita sedang berada di pabean.”

Sang Ayah : “Lalu kenapa?”

Reda : “Ini bukan tempat untuk shalat”

Sang Ayah : “Kau percaya pada Allah?”

Reda : (hanya diam sambil menatap sang Ayah)

Melihat dialog tersebut, sang Ayah meminta Reda untuk parkir di halaman kosong karena sang Ayah ingin melaksanakan shalat, hal ini sangat menggambarkan kuatnya Aqidah sang Ayah karena tidak peduli ditempat manapun, jika sudah waktunya untuk melaksanakan shalat maka ia akan melakukannya. Walaupun menurut Reda tempat tersebut bukanlah tempat untuk melaksanakan shalat, karena keinginan Ayahnya tersebut akhirnya Reda tetap mengikuti keinginan Ayahnya tersebut.

5. 00.13.10 – 00.13.56

Reda :“Kenapa kita tidak singgah di Milan?

Mungkin aku tak akan pernah melihatnya.”

Sang Ayah : “Apa yang akan kau lakukan di Milan?”

Reda :“Entahlah..mengambil foto, melihat pemandangan, berkeliling kota.”

Sang Ayah :“Pikrimu kita ini wisatawan? Singgah di setiap kota yang kita lalui?”

Reda :“Setidaknya kita bisa singgah di Venesia.

Kota itu akan kita lalui. Selama satu jam, hanya satu jam saja.”

Sang Ayah : (hanya melihat kesal ke arah Reda)

Peristiwa ini menggambarkan bahwa Reda tidak bisa mengklaim keinginannya untuk singgah di Milan maupun Venesia. Dilihat dari percakapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sang Ayah tidak ingin singgah di setiap kota yang di lewatinya karena mereka bukan wisatawan, melaikan perjalanan ini merupakan perjalanan untuk ibadah haji.

6. 00.33.11 – 00.34.47

Gambar 4.6

Sang Ayah : “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Reda : “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan..”

Sang Ayah : “Apa?”

Reda : “Mengapa Ayah tak naik pesawat ke Mekah? Itu jauh lebih mudah..”

Sang Ayah : “Ketika air laut menguap ke langit, rasa asinnya hilang dan air tersebut murni

kembali. Air laut menguap naiknya ke kawanan awan. Saat mereka menguap, air akan menjadi tawar, murni kembali. Itulah sebabnya, lebih baik berangkat haji dengan berjalan kaki daripada menaiki kuda, lebih baik menaiki kuda daripada menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil daripada menaiki kapal, dan lebih baik menaiki kapal daripada berkendara dengan pesawat. Saat Ayah kecil dulu, almarhum kakekmu berangkat dengan menaiki seekor keledai. Ayah tak akan pernah melupakan hari itu. Beliau pria pemberai. Setiap hari Ayah mendaki menaiki puncak bukit, dari tempat itu Ayah bisa melihat cakrawala. Ayah ingin jadi orang pertama yang melihat beliau pulang. Ayah tetap berada disana sampai malam tiba. Terkadang, ayah bahkan jatuh tertidur di atas sana..sampai nenekmu datang mencari Ayah...”

Setelah melalui perjalanan panjang, Reda dan Sang Ayah sedang duduk di sebuah pendopo di Sofia, saat itu sangat bersalju. Saat terdiam, Reda akhirnya menanyakan kepada Sang Ayah alasannya untuk pergi Haji ke Mekah dengan menggunakan mobil, padahal saat itu pada tahun 2004, pesawat sudah ada. Saat itulah Sang Ayah menjelaskan alasannya tersebut.

7. 00.52.35 – 00.53.17

Gambar 4.7

Mustapha adalah seorang lelaki yang menolong Reda dan sang Ayah saat di perbatasan Turki. Ia menolong karena paspor Reda dan sang Ayah ditahan oleh petugas. Dari situlah Mustapha memulai aksinya untuk mencoba dekat dengan Reda dan meminta tumpangan sampai di kota. Ia selalu banyak bicara, Reda merasa senang karena mendapa

“teman” untuk bercengkrama, karena ia dan sang Ayah tidak banyak berkomunikasi. Hingga saat malam tiba mereka akhirnya menginap di sebuah hotel, Reda pergi ke suatu Klub bersama Mustapha, sedangkan sang Ayah istirahat di hotel. Reda dibuat mabuk oleh Mustapha, hingga ia di bawa pulang ke hotel tempatnya bersama sang Ayah ia masih dalam keadaan mabuk. Saat itu Mustapha melihat Reda sudah mulai tidak sadarkan diri dan sang Ayah terlelap tidur.

Saat itulah ia memulai aksinya untuk menyolong uang milik sang Ayah.

8. 01.00.56 – 01.01.30

Gambar 4.8

Reda : “Apa yang Ayah lakukan?! Kita hidup dengan makan roti lapis telur dan Ayah memberikan uang kita begitu saja! Maaf (sambil mengambil uang yang sudah dipegang oleh wanita tersebut)”

Sang Ayah : (Menampar Reda dan segera mengambil uang tersebut dari tangannya)

Reda : “Ayah bisa menyelesaikan perjalanan ini sendiri. Masa bodoh dengan perjalanan ibadah haji Ayah! Berikan pasporku. Berikan, kataku! (sambil lari ke arah mobil dan mengambil tas nya lalu pergi)”

Sang Ayah : (Hanya melihat ke arah Reda)

Reaksi Reda saat melihat Sang Ayah memberikan uang kepada seorang pengemis wanita membuatnya sangat marah. Karena menurutnya dia sudah makan telur setiap hari, dan uangnya baru saja dicuri oleh Mustafa saat di Turki.

9. 01.11.31 – 01.11.34

Gambar 4.9

Gambar 4.10

Reda dan sang Ayah berhenti di Damaskus untuk istirahat serta menginap di hotel sebelum melanjutkan perjalanannya lagi. Saat malam tiba Reda pergi dari hotel dan ternyata ia pergi ke klub malam. Saat itulah ia memikirkan kekasihnya yang ia tinggal tanpa kabar sebelum berangkat megantar sang Ayah. Reda mabuk, hingga saat ia kembali ke hotel ternyata ia membawa seorang wanita hingga kedepan pintu kamar nya. Dalam keaadaan mabuk tersebut ia sedang bermesraan dengan wanita tersebut, lalu sang Ayah terbangun dari tidurnya karena merasa berisik, saat ia membuka pintu disitulah ia melihat bahwa Reda sedang bermesraan dalam keadaan mabuk. Hal ini membuat

sang Ayah sangat marah. Sehingga ia memutuskan untuk pergi dari hotel tanpa Reda.

10. 01.11.37– 01.12.18

Gambar 4.11

Reda : (Mengejar Sang Ayah yang tengah berjalan kaki)

“Ayah! Ayah! Kumohon dengarkan aku dulu!

Maafkan aku. Maafkan aku, Ayah! Entah apa yang merasukiku. Aku bingung. Ayah, dengarkan aku. Aku mohon! Aku meminta Ayah memaafkanku. Aku bilang maafkan aku.

Dengarkan aku, Ayah. Bukankan mereka mengajari cara memberi maaf dalam agama Ayah?!”

Sang Ayah : (Setelah mendengar kata terakhir dari Reda, Sang Ayah yang sedang berjalan langsung berhenti dan akhirnya memasuki mobil lagi).

Reda melakukan kesalahan lagi, ia pergi ke klub malam sampai mabuk dan membawa seorang wanita dengannya ke depan kamar hotel. Sang Ayah penasaran karena diluar terdegar suara bising, saat melihat keluar ternyata itu Reda dalam keadaan mabuk tengah bermesraan dengan seorang wanita. Sang Ayah sangat marah hingga meninggalkan hotel dan tidak perduli dengan Reda. Reda pun terus membujuk Sang Ayah untuk memaafkannya.

Karena menurutnya ia pun tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya, ia merasa khilaf. Sang Ayah tetap tidak perduli dan terus berjalan hingga Reda mengatakan bahwa agama Islam (yang dianut oleh Sang Ayah) mengajarkan cara memberi maaf, pada saat itulah Sang Ayah akhirnya mau masuk ke dalam mobil untuk meneruskan perjalanan Haji nya dengan Reda.

11. 01.19.32 – 01.20.50

Gambar 4.12

Reda : “Kenapa pergi ke sana menjadi begitu penting? Mengapa Mekah begitu istimewa?”

Sang Ayah :“Kita sudah sampai sejauh ini dan kini kau baru tertarik menanyakannya? Mekah adalah kota suci yang utama bagi umat Islam.

Orang-orang datang dari segala penjuru dunia. Ia adalah warisan Nabi Ibrahim AS.

Haji itu penting, ia adalah rukun Islam yang kelima. Semua Muslim yang mampu harus melaksanakannya sebelum mereka meninggal..untuk mensucikan jiwa mereka.

Kita semua pasti mati nantinya. Kita hanyalah tamu di bumi ini. Satu-satunya yang Ayah takutkan ialah meninggal sebelum melaksanakan kewajiban. Dan tanpamu, Ayah takkan pernah bisa berhasil. Semoga Allah merahmatimu. Ayah banyak belajar dari perjalanan ini.”

Reda : (sambil tersenyum mendengar pemaparan sang Ayah) “Begitu juga aku..”

Sang Ayah : “Ayah mau sholat.”

Reda : (kembali melontarkan senyuman)

Saat berhenti untuk istirahat sejenak, sang Ayah tengah berwudhu (tayamum), lalu Reda menanyakan mengapa mekah begitu istimewa sehingga sang Ayah ingin pergi kesana. Lalu sang Ayah menjelaskan kepada nya betapa istimewa mekah serta melakukan ibadah Haji yang akan dilakukannya tersebut.

12. 01.27.15 – 01.27.50

Gambar 4.13

Ketidakhadiran sang Ayah diantara Jamaah lainnya membuat Reda khawatir, ia menuggu sang Ayah hingga larut malam. Akan tetapi, sang Ayah tak kunjung datang juga. Kekhawatiran Reda semakin dalam sampai ia bermimpi dan terbangun ketakutan.

13. 01.29.41 – 01.33.24

Gambar 4.14

Reda : “Aku mecari Ayahku.. minggir, minggir!”

Reda melakukan pencarian sang Ayah hingga mengikuti bus yang berangkat ke daerah tempat jamaah melakukan ibadah haji nya. Disana sangat ramai dengan orang-orang. Ia tidak bisa menemukan sang Ayah hingga ia ditangkap oleh petugas keamanan disana dan ia dibawa ke suatu tempat.

14. 01.38.58 – 01.39.38

Gambar 4.15

Reda : “Apa ini?” ia bertanya ke seorang petugas yang membawanya.

Tidak ada percakapan panjang dalam peristiwa ini.

Reda dibawa ke suatu ruangan oleh seorang petugas, disana ia melihat banyak jenazah yang telah ditutupi kain putih.

Seorang penjaga ruangan tersebut membawa Reda untuk mengecek satu persatu jenazah tersebut, karena mungkin ada Ayahnya di ruangan tersebut. Setelah melihat beberapa jenazah, kain ke-4 yang dibuka ternyata adalah sang Ayah.

Reda terdiam, ia terlihat sangat syok dan akhirnya ia menangis setelah melihat sang Ayah sudah tidak bernyawa lagi.

15. 01.38.58 - 01.39.38

Gambar 4.16

Pada peristiwa ini tidak ada percakapan. Reda menjual mobil nya, dan ia bergegas kembali pulang.

Sebelum menaiki taksi yang telah dihentikannya, Reda memberi uang kepada seorang pengemis wanita di dekatnya.

BAB V